A Life

Published by Putrizh on

    Langit cerah menghiasi suasana siang ini. Aishana, seorang ibu muda tersebut sangat bangga ketika memandang anak semata wayangnya dari ambang pintu rumah, berjalan memakai toga tanda telah lulus dari jenjang SMA. Kala itu Aishana memang menikah diusia muda, maka dari itu wajahnya tak akan jauh beda dengan Rayna–anaknya. Bak kakak adik, mereka sangat akur, Aishana selalu mendukung apapun yang akan dilakukan oleh anak gadisnya tersebut.

    Rayna tumbuh menjadi gadis yang cerdas, ia menjadi juara kelas berturut-turut. Mata lebar dengan bulu mata yang lentik nan lebat itu menjadi turunan genetik dari ibunya. Dulu, Aishana juga selalu menjadi langganan juara kelas, hingga kini anaknya pun mengikuti jejaknya.

“Rayna… ” panggil Aishana

“Ibu, kenapa nangis?” tanya Rayna yang melihat genangan air terbendung di mata sang ibu, dengan cepat pula Aishana menghapusnya,

“Enggak sayang, ayok masuk,udah ibu masakkin” uluran tangan hangat itu meraih punggung Rayna dengan lembut

“Ibu inget ayah ya?” Rayna kembali bertanya karena melihat raut wajah ibunya yang sepertinya sangat sedih

“Besok kita ke makamnya ya” ujar Aishana dengan lembut, sembari meraih tangan anaknya untuk diusap sayang, dan Rayna hanya mengangguk kecil dengan senyuman.

    Ayah Rayna sudah meninggal dari tiga tahun yang lalu, diakibatkan oleh kecelakaan maut yang masih membekas dalam lubuk Aishana. Kala itu Aishana sedang mengandung anak kedua, dan gegara kecelakaan itu, ia harus ikhlas nan lapang dada ketika dokter mengatakan bahwa anaknya telah tiada, sekaligus Driawan–suaminya.

Tak mau bersedih di hari bahagia Rayna, Aishana tetap memaksakan senyumannya. Ia harus kuat menjadi orang tua tunggal demi anak semata wayangnya ini.

***

    Pagi ini kedua wanita itu akan mengunjungi makam pria yang menjadi cinta pertama Rayna. Ia tidak akan pernah melupakan sosok ayah Driawan. Ayah yang selalu menjadi pahlawannya sejak kecil. Kini hanya do’a yang mampu menemani ayah tercintanya tersebut.

Raut wajah Aishana belum berubah sejak kemarin, Rayna terlalu mengkhawatirkan hal tersebut, takut ibunya mengalami sakit jika dari kemarin tidak mau makan apapun.

“Makan dulu ya” ucap Rayna,

    Aishana hanya menggeleng pelan sembari tetap tersenyum teduh pada putrinya. Hati Rayna dapat menebak keadaan sang ibu, pasti sedang tidak baik-baik saja.

    Akhirnya mereka langsung berangkat ke makam Driawan, sebenarnya pun Rayna tak tega dengan kondisi ibunya, namun Aishana tetap bersikeras untuk pergi. Dengan menaiki motor peninggalan ayahnya, Rayna membonceng sang ibu. Kerudung hitam lebar milik gadis itu berayun mengikuti alunan angin di jalanan, udara pagi menyapa lembut wajah cantiknya.

    Dengan menenteng sekeranjang bunga mawar merah, Aishana berjalan terlebih dulu, lalu diikuti Rayna di belakangnya. Setelah berjalan agak jauh, mereka sampai tepat di depan makam Driawan. Seutas senyum Aishana gambarkan. Dalam hatinya ia ingin mengadu, kenapa Driawan lebih dulu meninggalkannya seorang diri mengurus Rayna.

    Lantunan do’a keluar dari lisan ibu dan anak tersebut. Dengan lembut Rayna menaburkan kelopak-kelopak bunga ke atas makam ayahnya,membuat Aishana kembali mengingat sesuatu yang ia pendam sejak minggu lalu.

“Sayang” lirih Aishana, tentu Rayna masih dapat mendengarnya

“Maafin ibu ya” lanjut Aishana

“Kenapa bu?” tanya Rayna dengan tatapan heran

“Ibu sayang banget sama kamu nak” ujar sang ibu

“Rayna lebih sayang, Rayna nggak bisa hidup tanpa ibu. Jadi, ibu jangan tinggalin Rayna yah” celetuk Rayna, tentu saja membuat air mata Aishana mengucur pilu

“Maaf sayang” bisik Aishana sembari mendekap sang putri.

    Mereka memutuskan untuk pulang, dan Aishana meminta untuk mampir ke toko boneka sebentar. Sebenarnya Rayna terheran, bonaka? Buat apa?

    Namun dengan gegas Rayna menjalankan motornya ke toko boneka, dan membeli sebuah boneka beruang warna merah muda. Aishana tersenyum gemas.

“Buat kamu sayang, nih” sambil menyodorkan boneka tersebut, Rayna tergelak kaget, bukankah ia sudah besar?

“Beneran?”

“Iya sayang,buat kenang-kenangan” ujar Aishana.

    Namun, saat mereka berjalan keluar toko, tiba-tiba Aishana sudah tidak berdaya. Alam bawah sadar telah datang. Rayna menangis keras saat memangku sang ibu yang tak sadarkan diri. Orang-orang di sekitar toko pun ikut membantu Rayna untuk membawa sang ibu ke rumah sakit.

    Di rumah sakit, Rayna senantiasa mengenggam tangan sang ibu setelah ia mendengar penjelasan dokter. Jantung sang ibu bermasalah, karena sudah terlalu larut, penyakit tersebut kian parah, dan selama ini Aishana menyembunyikan hal besar tersebut dari Rayna.

    Sang ibu membutuhkan donoran jantung se segera mungkin. Jika tidak, nyawanya tak akan tertolong. Hal tersebut yang membuat Rayna berpikir keras, ia tak mau kehilangan sang ibu, tetapi ia juga tidak punya uang sebanyak itu untuk mencari donoran jantung.

“Ibu,maafin Reyna” lirih Rayna dengan isak tangisnya

“Reyna bakal berusaha,Reyna nggak bisa hidup tanpa ibu, jadi Rayna harus melakukan ini. Lebih baik Rayna yang pergi” ujar Rayna.

    Keputusan itu telah dibuat olehnya, tiga jam lagi operasi akan dimulai. Jika Aishana kehilangan raga Rayna, namun jantung Rayna akan senantiasa memompa dan menemani kehidupan Aishana.

    Tiga jam berlalu, brankar Rayna didorong sejajar dengan sang ibu ,melihat wajah pucat sang ibu, Rayna kembali menitikkan air matanya. Ia tak bisa membayangkan, akan semarah apa ibunya setelah mengetahui semua ini.

    Lampu telah menyala, ruangan gelap nan dingin itu menjadi saksi pengorbanan anak kepada sang ibu. Hingga akhir nafasnya, Rayna menyebut nama Driawan dan Aishana, hingga maut itu telah datang menjemput. Ia akan senantiasa tersenyum, ia sudah berhasil menjaga sang ibu. Ia akan segera bertemu sang ayah, dan menunggu Aishana di syurga.

Categories: Cerpen

Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
Lihat Semua Komentar

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!