750 Pesan Cinta Ari
139.3
52
1K

Bagaimana rasanya jika setiap pagi ada sepucuk surat tanpa nama, nyaris tanpa kata-kata? Hingga suatu hari muncul seseorang yang Almeera kira pengirim surat. Namun kejutan sesungguhnya adalah saat prom night. Seperti apakah?

 

Matahari pagi bersinar hangat. Lembut menyapa kulit. Burung bersenandung mengiringi derap langkah kaki remaja berseragam putih abu dengan mencangklong ransel di bahu.  Tawa riang menghias koridor dan lapangan parkir SMA Terpadu yang terletak di tepi kota hujan.  Senyum ramah menghias di bibir mereka kala saling sapa.

Seorang gadis berambut panjang terurai dihias penjepit rambut kecil baru saja memarkirkan motor matik berwarna biru metalik.  Almeera, nama gadis itu.

“Meer,” sapa Naina, gadis cantik berambut pendek menepuk bahu Almeera.

“Ya.” jawab Almeera sambil merapikan rambut dan poninya yang berantakan usai menaruh helm diatas spion motor matik biru metalik kesayangannya. 

“Sudah tahu belum?” tanya Naina.

“Apa?” Almeera balik bertanya dan menatap sahabatnya dengan kebingungan.

“Kabarnya hari ini ada guru pengganti bu Aini yang cuti melahirkan.” jawab Naina antusias.

“O.” Almeera bergegas menuju kelas meninggalkan Naina yang tertegun dengan jawaban yang di luar ekspektasinya.

” hanya o aja? Kamu gak tanya gitu siapa penggantinya? Gak kepo gitu?” Naina mempercepat langkahnya mensejajarkan dengan langkah Almeera.

“Gak. Nanti juga tahu.”  sahut Almeera acuh.

“Hadeh. Sesantai itukah kamu?” Naina menggelengkan kepalanya saat Almeera mengedikkan bahunya acuh.

“Hei, ayo! Malah bengong di situ,” Almeera menarik lengan Naina yang masih terbengong.

“Ish, pelan-pelan atuh. Nanti nyungsep gimana?” gerutu Naina.

“Katanya mau lihat guru baru kita.”

“Iya, tapi gak gini juga kali!” protes Naina. 

Almeera menatap tajam  sahabatnya dan terus menatap tidak memperhatikan jalan.

“Meera lihat ke depan!” seru Naina.

Bruk!

Naina meringis mendengar benturan keras.

Kepala Almeera membentur sesuatu yang amat keras sehingga menjadi perhatian  siswa-siswa yang sedang lalu lalang di koridor berhenti.

“Aduh! Kenapa harus ada videotron  di sini sih?” Diusapnya kening mulus yang tampak sedikit memerah. Almeera belum menyadari jika semua tatapan tertuju padanya.

Sontak suasana koridor ramai dengan tawa geli mendengar perkataan Almeera.

“Itu sudah ada sejak Neng Meera masuk sini.” tunjuk Iyan, salah satu satpam SMA Taruna pada sebuah videotron yang terletak di bunderan koridor.

Almeera meringis dan memilin ujung rambut hitamnya, wajah manisnya bersemu merah.

Sakitnya gak seberapa, malunya setengah hati, eh setengah mati. Gerutu Almeera dalam hati.

Naina terkikik geli melihat tingkah sahabatnya.

“Hehehe, iya, Pak. Kami kelas dulu, mari… Pak,” pamit Almeera dengan senyum masam menahan nyeri dan malu. Masih dengan senyum geli, Pak Iyan menggangguk.

Sepanjang koridor sekolah Naina terus menggerutu tak jelas. Sementara Almaira hanya memasang wajah datar.

“Cie, gandengan kaya truk tronton.” Andi bersorak meledek. Spontan kedua gadis itu membulatkan matanya dan Almeera melepas tangan Naina.

“Diam kamu!” sinis Almeera dan Naina bersamaan.

“Kompak nih ye.” Andi terkikik geli.

“Eh, itu merah habis nyium apa tuh?” selidik Andi saat kening Almeera memerah.

“Kepo.” ketus Almeera.

“Doi habis nyium videotron yang di bunderan koridor itu lho, Ndi.”  jelas Naina dan di sambut gelak tawa Andi yang menambah kekesalan Almeera.

“Ada-ada  aja kamu, Meer,” celetuk Andi di sela gelak tawanya.

***

“Selamat pagi!” sapa Nanda, guru mapel Bahasa Inggris.

“Pagi, Pak.” balas seisi kelas.

Nanda memasuki ruang kelas bersama seorang pria muda berkemeja hitam bercelana krem dengan sebuah map berwarna biru di tangan.

“Siapa dia?”

“Wah, gantengnya.”

“Pak, kenalin dong.”

Bak suara dengungan lebah, ragam  komentar membuat suasana kelas riuh ramai.

“Tenang, gaes. Di larang keroyokan,” Anita berusaha menengahi.

“Huuuuu!!!” sorak seisi kelas menanggapi gaya Anita, gadis cantik nan genit. Nanda dan pria muda itu tersenyum.

Almeera menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan sahabatnya, Naina.

“Nain, itu guru baru yang kamu maksud tadi pagi?” bisik Almeera.

Naina mengangguk. Manik matanya lekat menatap objek di hadapannya. “Ganteng kan?”

Almeera menghela napas.

“Kamu kok bisa tahu kalo itu dia?”

Naina menoleh dan mengerjapkan kedua mata beningnya.

“Katanya gak kepo, gak mau tahu. Nanti juga tahu. Sekarang kok kepo?” cibir Naina.

“Gak mau jelasin? Aku ra popo.” ujar Almeera dramatis dan menggeser duduknya beberapa centimeter dari Naina. Lewat sudut matanya gadis menatap wajah Almeera yang sudah di tekuk.

***

Tiga hari sebelumnya Naina ditugaskan mengambil beberapa contoh buku antologi milik guru mapel Bahasa Indonesia di ruang guru. Tanpa sengaja melewati tiga orang duduk di sofa khusus tamu. Dua diantaranya Nanda dan Aini. Satu orang pria muda tampak serius dan antusias mendengar penjelasan Nanda.

Siapa dia? Akrab betul dengan Pak Nanda dan Bu Aini. Eh, wajahnya tampan juga. Mungkin dia salah satu alumni sekolah ini yang sedang berkunjung. Pikir Naina.

Namun Naina salah.

“Beliau yang akan menggantikan saya di sisa dua puluh hari semester genap ini, Pak.” ujar Aini tanpa keraguan.

“Baiklah. Senin besok anda sudah bisa masuk ke kelas X IPA.” Nanda mengulurkan tangannya dan menjabat tangan pemuda itu.

“Saya berusaha semaksimal mungkin. Semoga saya betah.”

“Pasti betah.” pungkas Nanda.

Seusai pemuda tersebut keluar ruangan, Nanda menghampari Naina yang masih memilih beberapa buku sesuai daftar yang diberikan Anin. Naina menghentikan kegiatannya sejenak.

“Tolong rahasiakan ini. Biar jadi kejutan manis buat mereka.” lirih Nanda. Otak Naina bekerja dengan cepat dan merespon perkataan Nanda dengan anggukan kepala.

 Nanda tersenyum penuh arti, diacungkan jempolnya “Sampai ketemu hari senin.”

“Curang!” seru Almeera memecah kesunyian kelas. Naina meletakan jari telunjukannya di bibir.

Nanda dan pemuda keren itu mengernyitkan dahinya saat mendengar lengkingan suara Almeera.

“Apa yang curang, Ameer?” tanya Nanda.

“Ameer siapa, Pak?” tanya Eko

“Itu… yang di sebelah Nana.” jawab Nanda jari telunjuk tepat menunjuk ke arah Almeera.

“Naina, Pak. Bukan Nana.” protes Naina. Nanda mengganggukkan kepalanya.

“Dia Almeera, Pak.  Kalo siang. Ameer kalo malam.” Timpal Andi yang di sambut gelak tawa kecuali gadis berambut panjang dan sahabatnya.

Hadeh, si bapak. Geram Almeera dalam hati.

Plak!

Almeera menepuk keningnya dan…

“Aduh!” teriak Almeera saat menepuk keningnya. Dia lupa jika benjol dan kemerahan keningnya belum hilang.

“Masih sakit ya?” bisik Naina. Almeera menipiskan bibirnya dan menggeleng pelan.

“Maaf, Pak. Nama saya bukan Ameer.” protes Almeera.

Nanda mengangkat satu alisnya.

“Iya. Itu di papan namamu terlihat jelas hurufnya,” jelas Nanda dengan acuhnya.

“Lantas mengapa saya di panggil Ameer, Bapake?” Almeera meremas geram kedua sisi rok abu abunya.

Enggan menjawab kekesalan Almeera, Nanda segera mengalihkan perhatian seisi kelas.

“Kelas ini milik anda. Silakan di lanjut sesi perkenalannya.” pamit Nanda. Sebelum keluar ruangan dia sempat tersenyum mengejek pada Almeera. Almeera membulatkan manik mata cokelatnya.

Pemuda itu membuka spidol, lalu menuliskan sebuah nama di papan putih.

“Baiklah. Perkenalkan nama saya Hariyadi. Kalian bisa memanggil saya Hari atau Yadi. Di sini saya mengganti posisi  bu Aini yang sedang cuti melahirkan selama dua puluh hari ke depan sampai kenaikan kelas. Mohon kerjasamanya,”

“Ada yang mau bertanya?”

“Panggil ayang, boleh?” tanya Anita seraya mengedipkan sebelah matanya. Hariyadi tersenyum simpul.

“Itu di larang.” tegas Hariyadi. Seisi kelas berkoor mencibir Anita.

“Pak, minta no whatsapp, boleh?” Lily, siswi manis namun genit selevel Anita.

“Ada di grup kelas.” Singkat dan tegas bernada dingin membuat Lily tak berani berkata.

***

“Apa ini?”

Almeera bermonolog saat menatap amplop biru  muda berada di dalam laci mejanya. Di bolak balik kedua sisi amplop tersebut, berharap ada petunjuk pengirim dan tujuan. Nihil.

“Ini masih pagi, Meer.” tegur Naina dan Andi nyaris bersamaan. Naina dan Andi masuk bersama-sama. Melihat Almeera memegang amplop berwarna biru dengan raut kebingungan.

“Ini,” Almeera menyodorkan amplop biru muda di hadapan Andi dan Naina.

“Menurut kalian,  ini ditujukan ke siapa ya?”

“Hmm… Mencurigakan,” Andi mengamati dengan serius. Di elus dagunya yang licin.

“Kelamaan. Kenapa gak buka aja?” celetuk Naina.

“Ah, benar juga.” Andi merebut amplop biru dari tangan Almeera.

“Eeh, jangan di…”

Srek!

“…buka.” 

Terlambat. Amplop itu terbuka dengan gusar Andi mengguncang amplop itu.

Pluk… Pluk… Pluk…

Tiga kertas  origami yang di potong membentuk hati berwarna kuning, biru, cokelat berhamburan di atas meja. Almeera memungut satu kertas berwarna biru dan membalikannya.

“Hai,” ucap Almeera.

“Hai?” Andi dan Naina mengerutkan dahinya.

“Di sini di tulis seperti itu,” Almeera memberikan potongan kertas itu.

“Di dua kertas ini juga sama.” Ujar Almeera.

“Hanya itu?”

“Seperti yang kalian lihat.” ucap Almeera santai.

“Kamu gak curiga gitu?” selidik Andi.

“Benar tuh apa yang di bilang Andi.”

Almeera mengedikkan kedua bahunya.

“Paling juga ada yang iseng.” jawab Almeera asal.

“Penggemar rahasia maksudmu?” tanya Naina gemas dengan sahabatnya yang sangat santuy.

“Bisa jadi.” Almeera dengan acuh menjawab pertanyaan sahabatnya.

“Sok ngartis.” Cebik Andi.

“Lha, buktinya kalian kepo sama itu surat.”

“Dih, lupakan deh.”

Gadis tergelak dengan ekspresi yang ditunjukan Andi dan Naina.

Derap suara pantofel menghentikan derai tawa Almeera, begitu pun kegiatan seisi kelas yang tak teratur berhenti. Semua duduk rapi di bangku masing-masing. Sudah tiga hari sosok guru pengganti itu mengawali kegiatan belajar di pagi hari. Wajah tampan nan ramah di hias senyum simpul, manik mata legam nan teduh  membuat mata siswi-siswi mleyot dan baper.  Hal itu pula membuat siswa kelas XIPA insecure.

“Pak, mau jadi pacarku ya?” celetuk Anita

“Sama aku aja, Pak.” seru Lily tak mau kalah.

Hariyadi hanya menanggapi dengan senyum terbaiknya.

Almeera dan Naina dengan kompak menepuk kening. Jengah dengan tingkah Anita dan Lily yang setiap Hariyadi masuk selalu mengatakan hal yang sama.

“Mulai deh.” ucap Almeera dan Naina bersamaan.

“Iri? Bilang, bos!” sentak keduanya.

Naina hendak membalas perkataan Anita dan Lily namun urung. Almeera memberi kode.

Berhentilah. Gumam Almeera dalam hati.

Ish, ini anak. Geram Naina dalam hati.

“Sudah! Sudah! Mari kita awali pagi ini dengan hal yang baik. Agar sepanjang hari suasana hati kita selalu baik.” Hariyadi melerai adu mulut antara dua kubu ciwi ciwi.

Sudut matanya menangkap objek potongan kertas origami warna warni di atas meja Almeera. Memandang gadis yang tampak tenang meski sedang emosi.

***

Setiap pagi Almeera mendapatkan sebuah amplop yang terkadang warna biru, terkadang putih, terkadang berukuran kecil dan terkadang berukuran sedang. Isinya masih sama. Potongan kertas origami yang di bentuk mulai dari kotak sampai bentuk hati. Jumlahnya pun bertambah satu setiap hari. Terkadang ada tulisan perkata, terkadang polos. Lebih sering satu kata yang tertulis di satu potongan kertas.

Almeera bukan gadis yang tidak memiliki rasa takut dan cemas.Di hadapan Naina dan Andi, bersikap sok tenang.  Apalagi amplop dan potongan kertas tak bernama. Dia gadis biasa. Ketakutan sempat menghantui tidur malamnya.

Terlintas dalam benak Almeera adalah hari ini potongan kertas origami. Bisa saja besok dan besok yang di kirim potongan lain. Bagaimana dong? Membayangkannya saja membuat Almeera bergidik ngeri.

Hari pertama PAS (penilaian akhir semester). Almeera pikir tak ada lagi amplop yang mampir di meja ujiannya. Namun dia salah. Di atas meja dengan nomer ujiannya ada sebuah amplop berwarna merah muda tergeletak manis.

Almeera menghela napas panjang berusaha tenang. Karena tak ingin fokusnya terbagi dengan kecemasannya. Amplop merah muda itu, ia masukkan ke dalam ransel miliknya. Segera Almeera mengerjakan soal ujian.

“Meer, ke kantin yuk,” ajak Naina. Di rangkul bahu sahabatnya. Almeera mengangguk lesu.

“Kamu sakit, Meer?”

Almeera menggeleng pelan.

“Lantas?”

Almeera memberikan amplop itu kepada Naina.

“Ini? Lagi?”

Almeera hanya mengangguk.

“Boleh aku buka?”

Lagi-lagi Almeera hanya menggangguk.

Naina tersenyum saat membaca kata per kata dalam secarik kertas berwarna biru muda bertaburan potangan kertas origami bentuk hati.

Almeera mengernyitkan dahinya “Hei, kenapa kamu tersenyum?”

“Ini… Baca sendiri.” Naina mengembalikan lagi kertas itu kepada sahabatnya.

“Selamat menempuh ujian PAS. Semoga dipermudah dalam menjawab semua soal ujian.”

“Manisnya…” Naina mulai membayangkan jika di posisi Almeera dan surat itu dari pengagum rahasia yang ternyata orang yang dia suka selama ini.

“Korban drama,” ketus Almeera membuyarkan lamunan Naina.

“Yah, ambyar deh.”

***

Senja yang indah

Langit jingga berhias kawanan burung

Mengantar surya keperaduan

 

“Pakeet!” teriak kurir salah satu ekspedisi membuyarkan konsentrasi Almeera.

Paket? Siapa yang belanja online. Mama? Kayanya gak deh. Papa juga bukan. Almeera meletakan pulpen dan bindernya di atas meja. Bergegas menghampiri kurir.

“Iya, Bang. Paket atas nama siapa, ya?”

“Atas nama Almeera.”

“Dari?”

“Di sini tertulis Ari.”

“Ari?”

Almeera mencoba mengingat kembali nama itu. Namun tak berhasil. Nama yang tak pernah ada dalam lingkaran pertemanannya.

“ Paket apa ini? Sesuatu yang menyeramkan tidak ya? Ah, pusing.” Almeera bermonolog frustasi. Di banting tubuh langsingnya ke atas kasur super empuk.

Pikirannya berkelana pada beberapa surat yang mampir di meja sekolahnya. Jika di minggu pertama Almeera menganggap itu dari penggemar rahasia dan bersikap tenang. Akan tetapi semakin hari timbul rasa curiga. Terlebih datangnya paket dari orang bernama Ari.

“Siapa Ari?”

“Ada berapa nama Ari di sekolah ya?”

“Masa iya langsung tanya ini itu,”

Almeera terus bergumam hingga kantuk pun datang menjemputnya ke dalam mimpi.

***

Menatapmu dari jauh
Caraku membunuh gelora rindu

By: A

Hai, kau yang di sana
Aku bisikan rindu bersama angin malam

Ku kirim kerlip bintang

Tuk terangi mimpimu

By: A

 

Haryadi menutup binder hitam miliknya. Disandarkan punggungnya pada selasar balkon kamarnya. Kerlip ribuan bintang bertabur di kelamnya malam. Ingatannya membawanya saat pertama menginjakan kaki di sekolah itu. Sosok gadis yang menabrak videotron.

“Tak sabar kembali ke sekolah itu,” gumam Hariyadi.

“Astaga!” pekik Hariyadi saat dirinya berbalik ada seseorang berdiri dihadapannya dengan muka datar.

“Kau ini mengagetkan saja,” Hariyadi mengurut dada pelan.

“Salah kakak juga,”

“Eh?” Hariyadi menunjuk dadanya sendiri.

“Iya, kakak asyik menghitung bintang di atas sana.” Tunjuk sang adik.

Hariyadi melenggang masuk dan duduk di tepi ranjang. Menelisik sang adik dari ujung kepala hingga kaki.

“Aku bukan hantu ya,” ketus sang adik. Haryadi tergelak mendengar nada bicara adik.

“Besok aku nebeng sama kakak,”

Haryadi mengangguk “Siap,”

“Itu kakinya napak gak tuh?” goda Haryadi.

“Aku bilang… Aku bukan hantu.”

Brak!

Haryadi semakin terbahak melihat adiknya kesal.

“Besok hari baru, semangat baru, satu tahun penuh bakal ada cerita dan keseruan baru.”

***

 

“Yeay! Sekelas lagi sama Almeera!” teriak Naina saat membaca pengumuman yang di tempel di mading lorong kelas XI IPA.

“Kita sekelas lagi, yes!” seru Andi girang.

“Jiah, sekelas lagi sama kalian.” Sinis Anita. Dikibaskan rambut panjangnya. Melenggang masuk kelas.

“Ish, sok cantik lo!” geram Naina. Ingin rasanya melintir ujung rambut ciwi itu, maki Naina dalam hati.

“Eits, sabar, sis. Satu tahun ke depan masih lama,” cegah Andi.

“ Hirup pelan-pelan, buang pelan-pelan.”

Naina mengikuti arahan Andi. Perlahan emosinya mereda.

“Sudah tenang?”

Naina mengangguk.  Sesaat kemudian dia tengok kanan kiri mencari sahabatnya. Sesekali mata cantiknya menatap jam di pergelangan tangannya.

“Ada apa?” tanya Andi.

“Almeera, Ndi,” Naina mulai gelisah.

“Mungkin sedikit terlambat. Kita masuk dulu, yuk.”

Lapangan parkir SMA Taruna mulai dipadati berbagai kendaraan beroda dua milik para siswa dan staff pengajar.

Usai parkir cantik, Almeera bergegas menuju kelas barunya.

“Sial! Sial! Pake acara bangun kesiangan pula.” Almeera bersungut seorang diri.

“Kan, jadi gak tahu kelasnya di mana,” lanjut Almeera bermonolog. 

Almeera setengah berlari menuju kelas mengabaikan Iyan, satpam sekolah yang sedang menebar senyum ramah menyapa seluruh civitas SMA Taruna.

“Jalannya hati-hati, Neng. Videotronnya masih betah di situ.”goda Iyan. Almeera  meringis, lalu menghentikan langkah kakinya dan berbalik “Hatur nuhun, Bapak. Terimakasih, tararenkyu, kamsahida,”

“Awas, Neng!” teriak Iyan saat Almeera kembali berbalik menuju kelas.

“Ups!” Almeera menutup mulutnya karena terkejut. Gadis itu mengerjapkan matanya, meneliti objek yang berdiri tepat dihadapannya dengan tatapan kepo.

Wah, ada mahluk ganteng. Tapi kok gak asing ya? Seperti seseorang. Almeera terpaku menatap sosok ganteng itu.

“Apa lihat-lihat? Terpesona ya sama gue?” tanyanya dengan nada jumawa dan sorot mata dingin.

Almeera tersentak dengan pertanyaan absurd lawan bicaranya.

“Sopan sedikit dengan teman barumu,” tegur Hariyadi. Kemunculan Hariyadi menambah keterkejutan Almeera.

“Almeera, ayo masuk kelas.” lanjut Hariyadi sembari menggiring siswa asing.

Apa yang sama dari mereka ya? tanya Almeera dalam hati.

“Almeera,”

Suara bariton Hariyadi membuyarkan semua tanya dalam benak gadis manis itu.

“I-iya, Pak. Sa- ya cari kelas dulu,” Almeera menjawab dengan gugup.

“Ngapain cari kelas. Kelasmu di sini,” Haryadi melambaikan tangannya.

“Hah? Eh, Oh… Iya.” Almeera tersenyum kikuk.

Almeera mengedarkan pandanganya, senyumnya terbit saat Naina melambaikan tangannya dan memberi isyarat untuk duduk di sebelahnya.

“Syukurlah, kamu masuk hari ini.” ucap Naina lega.

“Iya. Tadi telat bangun. Aku bersyukur kita bareng lagi.” Lirih Almeera.

”Itu siapa yang di depan?” tanya Naina penasaran.

 Almeera menggeleng pelan. “Entah, tadi papasan dengannya di depan videotron.”

“Tatapannya dingin, sok galak dan over percaya diri.”

“Oh ya?” Naina membulatkan matanya tak percaya.

Almeera baru saja hendak menjawab pertanyaan sahabatnya. Suara derap sepatu  terdengar menghampiri mejanya. Aroma citrus menguar menghampiri indera penciumannya.

Menimbulkan sensasi getaran aneh dalam dada.

“Sudah bisa di mulaikah acara perkenalan hari ini?” Hariyadi mencondongkan badannya tepat di wajah Almeera. Menatap bola mata cokelat milik Almeera.

Sebuah kehangatan mengalir dalam dada Hariyadi.  Mata yang cantik menyempurnakan wajahmu yang manis. Ucap Hariyadi dalam hati.

Untuk sesaat Almeera tak mampu berkata. Napasnya serasa berhenti. Detak jantung berdegup kencang.

“Si-si-silakan, Pak.” Almeera segera memutus kontak mata mereka. ‘Duh, jantungku tak aman kalau begini caranya.’ Hariyadi menyunggingkan senyum terbaiknya.

“Baiklah, selama satu tahun  ke depan saya minta kerjasama kalian semua. Karena saya adalah wali kelas kalian. Dan yang di depan kalian semua adalah siswa pindahan dari Bandung. Silakan perkenalan dirimu.” ujar Hariyadi tanpa bergeser barang satu centimeter dari meja Almeera membuat si empunya salah tingkah. Sesekali ekor matanya menangkap pantulan wajah Almeera yang salah tingkah.

“Hai,  semuanya. Salam kenal. Nama saya adalah Hariyanto. Biasa di panggil Ari.”

Naina dan Almeera saling memandang mendengar nama yang baru saja disebut.

“Jangan-jangan dia pelakunya?” bisik Naina di telinga Almeera.

***

Almeera duduk di tepi danau belakang sekolah. Menatap lurus pantulan langit di atas air danau yang jernih. Sudah sekian hari surat itu masih dia terima. Entah berapa box yang terpakai untuk menyimpan surat-surat itu. Pendekatannya dengan Ari pun berjalan lancar seolah tanpa kendala yang berarti. Harapannya satu yaitu suatu hari  Ari membuat pengakuan tentang surat di meja belajarnya. Atau tentang kado sweet seventeen yang berada di depan pintu rumahnya.

Almeera menghela napas panjang. Sampai kapan si dia berhenti mengirimi surat yang setiap pagi amplopnya berbeda warna.

Dari kejauhan seseorang mengamati Almeera yang tengah tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Perlahan menghampiri gadis manis itu dan berdiri tak jauh dari punggung gadis itu. Hidung Almeera menangkap sebuah aroma yang sangat dikenalnya menghampiri indera penciumannya. Aroma parfum yang membuat jantungnya berdegup kencang membuat konser mini di dalam dada.

“Ini aroma parfum Pak Yadi.” gumam Almeera seorang diri.

“wanginya segar, membuat siapa pun yang mencium wanginya merasa segar,”

“Pantas saja Pak Yadi terlihat segar sepanjang hari.”

Almeera tak menyadari jika di balik punggungnya ada pria yang dia maksud.

Tes… Tes…

Bulir hujan satu per satu turun dan menguap bersama udara yang panas.

“ Ah, ternyata hujan turun padahal matahari masih tersenyum galak.”

Tak lama setelahnya awan mendung  menutup langit dengan sempurna dan menumpahkan isinya.

Almeera berbalik hendak berlari menuju kelas. Urung dia lakukan, saat sebuah payung mekar di atas kepalanya dan sosok yang dia sangka hanya aroma parfumnya saja, berdiri nyata di hadapannya lengkap dengan payung di tangan dan senyum yang menghias wajahnya.

“Hai,” sapa Hariyadi.

“Bapak?” Almeera mengerjapkan matanya dengan lucu.

“Kebetulan lewat.” jawab Hariyadi berbohong. Helaan napas lega lolos terdengar dari Almeera.

***

Hari demi hari berlalu dengan cepat secepat angin menjatuhkan daun kering. Almeera dan seluruh siswa SMA Taruna  mengikuti ujian nasional. Hari ini adalah hari terakhir pelaksanaan ujian nasional. Di bawah komando Ari, anak- anak XII mengadakan pertemuan terakhir sebelum acara promnight sesungguhnya.

Ari menghampiri Almeera yang sedang bersenda gurau dengan Naina.

“Sorry, guys. Gue pinjam Almeeranya sebentar ya?”

Almeera mengerutkan dahinya “Ada apa?”

“Ikut aku sebentar, ada yang mau aku omongin.”

Almeera paham dan mengikuti langkah kaki Ari menuju taman.

Ari menarik napas seolah yang akan dibicarakan masalah berat. Almeera duduk terdiam mengamati sikap Ari.

“Begini, aku tahu kamu mendekati aku tidak tulus. Tetapi karena sebuah surat yang terus menerus datang setiap pagi. Betul?”

Almeera tertegun dengan apa yang diucapkan Ari. meski berat akhirnya keluar juga kata-kata itu.

“Jujurly itu bukan aku yang kirim,”

Dahi Almeera berkerut “Maksudnya?”

Ari menghela napas yang entah sudah berapa kali. “Itu orang lain.”

“Siapa?” tanya Almeera gusar

“Nanti juga kamu tahu,” jawab Ari tersirat.

Almeera mencengkram lengan Ari erat. “Bukankah tulisan tangan itu nyaris sama dengan tulisanmu?”. Ari melepas cengkraman Almeera. “Nyaris sama bukan berarti sama persis, Meer.” lirih Ari.

“Katakan siapa dia, Ri?”

“Sorry, hanya itu yang bisa aku jawab.

***

Beberapa jam sebelum pelaksanaan hari  terakhir ujian nasional. Tanpa sengaja Ari masuk ke dalam kamar kakaknya yakni Hariyadi. Maksud hati ingin pinjam pulpen dan pensil. Urung dilakukan saat matanya menatap tumpukan kertas origami warna warni yang sudah terpotong  mulai dari bentuk oval sampai hati. Secarik kertas bertuliskan angka-angka yang berurutan.

“749 hari?” gumam Ari. Sepertinya potongan kertas itu aku pernah lihat di kelas. Ari membulatkan kedua matanya saat menyadari ada sesuatu.

“Sedang apa, dek?” tanya Hariyadi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Mengapa kakak gak jujur?” Ari menyodorkan secarik kertas dan kertas origami aneka bentuk. Hariyadi meneguk ludahnya kasar.

“Itu…” lidah Hariyadi mendadak kelu tak mampu berkata. Ari menatap tajam.

“Besok saat prom night kakak akan jujur, ok?”

***

Haryadi mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut sekolah dan ruang kelas.  Seolah memutar sebuah film. Seluruh  adegan interaksi terekam jelas dalam ingatannya.

“Sudah siap, bro?” Nanda menepuk lembut bahu  Hariyadi.  Hariyadi mengangguk perlahan.

Acara prom night bukan sekedar acara kelulusan biasa. Banyak aksi yang di tampilkan. Kelas XII IPA menampilkan cover drama musikal milik Un1ty. Dipertengahan penampilan mereka  tiba-tiba musik berhenti. Berganti lampu sorot.

“Meer, aku takut.” bisik Naina sembari meremas tangan sahabatanya. Almeera menepuk dengan lembut, “Tenanglah.”

” Ratusan Cinta Di Pagi Hari.” sebuah suara menggema.

“Kayanya kenal deh suara ini.” seru Anita.

Detak jantung Almeera berdetak dengan kencang.

“Ratusan cinta di pagi hari…

Ratusan pagi

Ku nikmati senyum ceriamu

Riuh tawamu

Kala bersama mereka

Tanpa segan tanganmu terulur

Jemari lentikmu menggenggam

Menyalurkan kekuatan pada hati nan rapuh

 

Di bawah pendar surya yang kian memudar

Kau berlari

Menyongsong jingga di ujung senja

Di antara rinai hujan

Kau menari

Di iring harmoni bulir hujan

Manik mata cokelat selalu berbinar

Sudut bibir senantiasa di tarik

Melengkung sempurna

Menghangatkan ruang hati yang membeku…”

Di bawah lampu sorot, Hariyadi menghampiri Almeera yang berpenampilan sederhana dengan dress berwarna soft pink. Ditekuk sebelah kaki dan diulurkan tangannya ke depan Almeera “Hai… Maukah kau disisiku?  Berjalan beriringan menyongsong jingga. Menari bersama di bawah bulir hujan. Warnai hari-hari kita dengan ribuan warna.”

Almeera menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ada keharuan di dalam dada.Ada bulir air mata antara haru dan marah.

“Aku bertanya boleh?” suara Almeera terdengar parau dan bergetar.

“Bertanyalah dan aku akan menjawab.” ujar Hariyadi dengan posisi berlutut.

“Apakah semua… ” Almeera tercekat. Airmatanya mengalir. Naina mengusap lembut punggung Almeera.

“Iya. Semua amplop, potongan kertas origami yang mencapai ratusan itu. Pelakunya adalah saya Ari atau Hariyadi.”

Almeera semakin terisak dengan jawaban Hariyadi.

“Maaf, jika saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat kau menabrak videotron itu.”

“Maukah menerima cinta pertamaku?”

Almeera menundukan kepalanya makin dalam.

“Terima!”

“Terima!”

“Maaf, pak. Jika saya harus…” Almeera menghentikan sejenak ucapannya.

Hariyadi menatap penuh cemas.

“Saya harus… ” Almeera menggigit bibir bawahnya.

“Saya harus menerima Bapak apa adanya…”

“Jadi, saya di terima?”

Almeera mengangguk malu.

***

Tamat

 

 

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-fareast-language:EN-US;}

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!