Abu dan Kenangan Tentangmu
110.3
105
672

Zaka, Randi, dan Risa yang merupakan sahabat dekat. hingga pada hari kepergian Risa, Randi dan Zaka tak percaya semua itu nyata. Zaka yang menolak kepergian Risa, mendapat keajaiban untuk menelusuri momen indah tentang Risa. Hingga ia menerima kenyataan dan sadar bahwa dengan terus hidup, maka ia bisa mengenang Risa sepuasnya.

No comments found.

Abu dan Kenangan Tentangmu

 1

            Mataku merasa lelah terus mencoba memeras sisa air mata yang sekiranya masih tersisa, namun nyatanya tak ada. Sisa kesedihan yang tersisa, menepi menjadi sudut hitam yang melingkari kelopak mata. Jika menangis merupakan jelmaan dari sekian kesedihan yang terlampau sakit untuk dirasakan, maka bisakah aku kembali menangis lebih lama? Sebab aku terlalu sedih untuk tidak menangis lagi.

            Desakan peziarah cepat berkurang seiring dengan barisan orang-orang yang melangkahkan dirinya jauh dari atmosfer pemakaman yang kental dengan kesedihan. Mereka tak pernah terlalu dalam bercengkrama dengan manusia yang di tanah ini telah kehilangan kesempatan hidupnya. Jadi untuk apa mereka berlama-lama berdiri disamping nisan dan berdoa? Mereka terlalu tidak merasakan apa-apa selain hanya membebani diri mereka dengan kewajiban mengasihani keluarga duka.

            Langit kini menangis menggantikanku. Riuh rintik hujan menggantikan tangis yang tak bersuara. Tetes hujan kerap menyelinap masuk ke sela mata, namun mataku tak berkedip dan tidak pedih karenanya. Bayangan terakhir tentang dirinya cukup untuk melumas pandanganku agar terbuka dan terjaga hingga lama. Risa, diantara semua hal yang tidak bisa kita bicarakan, aku menunggumu. Sedikitpun tak rela jika kali ini, kau pergi dan hilang dari pandanganku.

            Semakin deras hujan, semakin deras duka menerpaku. Kesadaranku sedikit terpulihkan ketika seseorang menepuk pundak lemasku, meletakkan payung di atasku.

            “Aku tahu kau sudah bersiap untuk ini, Zak.” Hembusan nafas Randi terdengar getir,  “Disini dingin. Ayolah, berhenti meratap sekarang dan pulang. Aku yakin Risa tak tahan melihatmu semenyedihkan ini hanya karena kehilangan dirinya.”

            “Tutup mulutmu. Aku tak yakin kotoran macam apa yang mulutmu lahap kemarin malam, tapi aku yakin, bajingan sepertimu tak punya hak bicara apapun tentang Risa.”

            Randi menatapku dengan sudut matanya. Giginya bergemeletuk dipukul kalimatku. “Jaga mulutmu sialan!”

            “Katakan itu pada dirimu sendiri.”

            Seketika tangan besarnya mencengkeram kerah baju dan menarik tubuhku tepat ke hadapannya. Garis urat yang mengakar di dahinya terlihat mengejang seiring emosi yang timbul dari gertakan giginya dan menyemburkan banyak serapah. “Jangan biarkan aku memukul kacaunya wajahmu, Zak! Kau tahu aku tidak pandai mengendalikan diri, bukan?!”

            “Jika tidak salah, itulah yang merenggut hidup Risa, kan?” Aku menyeringai, “Karena kau tidak pernah bisa mengendalikan dirimu.” Remasan tangannya semakin terasa menekan leherku dari depan. “Sihir hitam apa yang kau berikan pada Risa, sampai ia begitu menyukaimu?”

            BUKK!!!

            Darah segar menetes dari hidungku.

            “Kau,” Tangannya masih terkepal ke arahku. “Tak akan pernah mengerti, sebesar apa aku benci pada diriku! Aku lebih tahu segala hal tentang diriku, termasuk betapa bajingannya aku. Maka, tutup mulutmu dan diamlah!”

            Aku yakin pada diriku sendiri, meski pandanganku setengah kabur setelah dihantam sepatah luapan yang Randi berikan, aku melihat hujan sedang merendam wajahnya yang memuntahkan tangis. Dan ketika itu aku sadar, bahwa masing-masing kami mulai hidup dalam sebongkah papan di tengah lautan penyesalan, berharap untuk diselamatkan.

            “Sudah selesai?” Ucap seseorang datar. Entahlah siapa, mataku berat, pandanganku kabur, wajahku pedih. Tak bisa melihat apapun selain genangan air tanah yang berkali-kali menjadi lahan terjun ribuan rintik hujan. “Ikut kami pulang, atau tetap disini? Hujan semakin deras. Akan konyol jika kalian mati kehujanan, bukan?” Ia tertawa.

            Aku mengenal suaranya. Tawa yang renyah meski tidak serenyah leluconnya, siapapun pasti tahu. Itu Toni. “Oi, Randi, jangan diam terus mematung di situ! Tarik bocah ini agar mau bangun. Kita pulang, tak ada lagi yang bisa kita lakukan di sini selain berdoa, dan hujan telah mendengar semua doa kita.”  Sesaat terdengar suara Guntur di langit sana, “Kalian dengar? mungkin itu tanda doa kita dikabulkan!”

            “Mungkin saja tanda bencana” Aku berusaha bangkit, menelisik tatapan heran Toni padaku. “Kau tahu, Randi tak pernah berdoa.”

            Setengah bangun, aku menepis lengan Randi, “Aku bisa sendiri, Sial.”

            “Jangan mulai lagi. Pukulan selanjutnya mungkin akan membunuhmu, kau tahu itu.” Wajahnya tak lagi merah, dan api terlihat padam dari hatinya, menyisakan apa yang seharusnya tersisa dalam dirinya, duka, atau bisa apa saja.

            Senyumku kecut. Sisa amis darahku tersisa di sudut perasa. “Seharusnya kau pun tahu aku tak pernah takut pada hal semacam itu.”

            “Hei, Boys! Cepat lah!” Ujar Toni gemetaran. “Aku semakin percaya julukan tentang kalian yang katanya merupakan si Beruang dari Kutub.”

            Kota ini memang sudah dingin sejak dulu, ditambah hujan deras juga terpaan angin, tak heran jika hanya sedikit orang yang mampu berlama-lama kedinginan, seperti kami. Tepatnya, sepertiku.

            “Kurasa yang lebih cocok dengan hal itu bukan aku, Bung. Lihat, dibanding denganku, Randi jauh lebih mirip seperti beruang.”

            “Dengan ini, berarti sudah dua.” Randi menunjukkan dua kepal tangannya padaku.

            “Maksudmu?”

            “Ya, semakin kau membuatku kesal, itu berarti kau sedang menabung sekepal tinjuku.”

            “Dasar beruang sialan. Bisakah kau tidak mengandalkan pukulanmu itu?” Aku sedikit mempercepat langkahku, mual rasanya terlalu dekat dengan orang seperti Randi, terlebih jika ia sedang keras kepala seperti ini. Meski, ya, aku juga terkadang keras kepala. Tapi bukannya aneh, jika lelaki tidak punya sifat keras kepala?

            “Tiga!”

            “Hei, haruskah ku panggil Bibi Fon untuk menjahit mulut kalian yang tak bisa diam dan kekanak-kanakan itu, heh?” Toni berbicara kencang sekali hingga mulutnya berbusa.

            “Siapa itu Fon, Bung? Pacar barumu?

            “Kau bergurau, heh? Cepat sekali selera humormu membaik, Beruang.”

            Randi tak membalas, ikut mempercepat langkahnya, tak ingin ketinggalan.

            “Aku ingat tentang Bibi Fon” Kataku. “Dulu dia pernah membuat dongeng tentang Dunia Kenangan. Itu dongeng kesukaan Risa.”

            Toni tertawa kencang. “Tentu saja. Risa memang suka hal-hal berbumbu khayalan. Risa sangat percaya tentang tiga Benda kenangan yang menjadi syarat masuk menuju Dunia Kenangan. Kurang satu benda, artinya tidak bisa kembali. Dasar Bodoh.”

            “Jangan menghina kebodohan, bung. Sebab kebahagiaan kerap lahir darinya.” Randi menirukan gaya penceramah ketika mengucapkan kalimatnya.

            Aku mengeluarkan rokok, lalu membuangnya seketika.

            “Kenapa dibuang?” Tanya Randi.

            “Kau mau?”

            “Tidak, pasti basah.”

            “Jika tahu jawabannya, untuk apa bertanya, bodoh.”

            “Empat!”

            “Aku tak menyangka hal sepele seperti tadi membuatku kesal.” Delikan mataku menyasar pada Randi. “Ah, maaf, aku lupa kalau beruang memang salah satu makhluk yang berkepribadian kacau.”

            “Lima!” Randi lebih dulu menuyusul Toni, masuk ke mobil sedan abu-abu dan duduk di kursi bagian belakang. Melihatku duduk di sampingnya, Randi kembali berceloteh. “Kelihatannya aku terlalu baik. Lihat, wajahmu saja sudah membuatku kesal. Entah sudah berapa tabungan tinjumu jika aku ikut menghitung berapa kali aku kesal ketika melihat wajahmu.”

            “Oh, begitu pula denganku, Beruang!”

            “Cih, meski kau kesal dengan itu, jangan harap bisa sukses memukulku.”

            “Diam bocah-bocah.” Suara mesin yang baru saja dinyalakan membuat mobil sedikit bergetar. Di depan, Toni sudah bersiap melajukan kendaraan. “Jujur saja, aku lebih suka kalian tetap menangis dan bersedih seperti tadi. setidaknya itu mencegah kupingku hancur karena mendengar kalian terus bercicit, berisik.”

            Sepanjang jalan, tak ada lagi obrolan ketus atau bising telinga. Hening. Aku menatap ke luar jendela, menyajari pandanganku dengan serangkaian indahnya sisi jalan yang tengah disiram hujan. Tak berbeda denganku, Randi juga tak banyak bertingkah sepanjang jalan. Tetap diam bersandar ke pintu jendela mobil, kalut dengan pikirannya sendiri.

            Aku ingat ketika Toni bergurau tentang hujan dan guntur. Katanya, hujan mungkin telah mendengar doa-doa kita, dan guntur telah mengabulkannya. Sekali lagi, aku mengerti jika itu hanya gurauan belaka. Namun, jika seandainya semua itu nyata adanya, aku takkan segan mengutuk hujan dan guntur bersamaan selama Risa belum hadir lagi di sisiku. Sebab mereka belum mengabulkan doaku yang satu itu.

            Ya. Aku berdoa agar Risa kembali.

 

***

 

2

 

            Selain jam dinding yang setia mendecak tiap jarum itu bergerak, gagang pintu kamar yang kubuka menjadi satu-satunya sumber suara yang ada di rumahku. Tak lama setelah mengunjungi keluarga Risa yang tengah berkabung, aku dan Randi lekas pulang dengan menumpang kendaraan milik Toni.

            Ibu Risa menghampiriku setelah kembali dari kamar lantai dua rumah duka. Menuruni tangga perlahan, tampak langkahnya lemas dan tak bertenaga. Kehilangan putri tercinta tak pernah menjanjikan apapun selain kepahitan hidup bagi seorang ibu sepertinya, sakitnya penderitaan, dan beratnya kehilangan.

            Aku lekas berdiri. Meski dengan pakaian kotor dan basah, wajah kacau dengan noda darah, aku tak peduli kini. Jika penampilan merupakan representasi hati dan kepribadian diri, maka biarkan aku mengabadikan kacaunya hatiku lewat penampilanku kini.

            Aku menatap tepat pada kotak kayu yang baru saja diberikan Ibu Risa padaku. Selama aku mengenal Risa, kotak ini belum pernah kulihat sebelumnya. Ibu Risa hanya mengangguk hati-hati ketika aku bertanya apakah aku bisa membuka kotak berwarna gelap di tanganku.

            “Kotak itu tak sengaja Ibu temukan di belakang lemari pakaian milik Risa, dan Ibu rasa, kotak milik Risa ini memang ditujukan untukmu, Zaka.” Ia tersenyum getir. “Lebih baik kamu simpan. Ibu yakin Risa juga menginginkan itu.”

            Di perjalanan pulang, pandanganku tak pernah lepas dari kotak kayu di pangkuanku. Meski hujan tak sebesar tadi, udara dinginnya tetap jahil menggelitik pori-pori.

            “Ibu Risa memberikan kotak itu lebih dulu padaku tadi.” Randi mengancingi jas hitamnya dan berdeham pelan. “Namun setelah melihat isinya, aku yakin itu pasti milikmu. Sebab aku tak pernah memberikan apapun untuk Risa selain cinta dan perlindungan”

            Mendengar kalimat itu, hembusan napasku menjadi lebih berat beberapa saat. “Dan dengan cinta itu kau membuatnya sakit.”

            “Itu kesalahanku, tapi aku selalu tulus menjadi bahu sandarannya. Aku selalu menawarkan tubuh yang sanggup melindunginya ketika ia membutuhkan itu.”

            “Semua memang salahmu, termasuk ketika kau tidak bisa melindungi Risa di saat-saat terakhirnya. Padahal kau ada di sana.” Pandanganku teralihkan dari kotak di pangkuanku. Di sisi jalan, tiga orang anak bermain bersama, mengingatkanku pada masa-masa yang lalu ketika risa masih bisa tertawa sebebas itu. “Kenapa tidak kau saja yang mati menggantikan Risa, sialan.”

            “Percayalah, aku juga menginginkan hal yang sama jika hal itu bisa mengembalikan Risa.” Kepalan tangannya memukul-mukul pahanya sendiri. “Aku lebih baik mati daripada hidup dengan penyesalan seperti ini.”

            Bahkan setelah aku sampai di rumah dan membersihkan diri, obrolan itu masih terputar jelas di kepalaku. Bukankah aku terlalu egois? Mengharapkan Randi mati agar Risa bisa tetap di sini. Kepalaku semakin sakit. Siapa yang seharusnya disalahkan? Aku dengan pikiranku, atau semesta dengan serangkai jenakanya?

            Cukup lama aku berusaha memejam mata hingga membuat mataku pegal karena tak kunjung tertidur juga. Gawai kunyalakan demi melihat gambar Risa satu demi satu. Rekaman video lama  menampilkan Risa dengan gaun ulang tahun. Waktu itu umurnya menginjak tujuh belas tahun. Kami mengadakan pesta meriah di rumah Risa. Sebagian teman sekolah turut menghadiri. Sesak rasanya membayangkan tahun-tahun berikutnya tanpa merayakan hari ulang tahunnya lagi. Kenapa kau harus pergi secepat ini, Risa?

            Seketika aku teringat dengan kotak kayu milik Risa. Aku sempat membukanya sekali, ketika Ibu Risa membawakan kotak itu padaku beberapa jam yang lalu di rumah duka. Tapi ketika itu aku tidak menemukan satu benda pun sama sekali di dalamnya, kosong. Diatas meja belajarku yang remang, kotak itu kini kuraih. Punggungku nyaman berada di sandaran bangku yang kududuki.

            Atap kotak kayu itu kubuka perlahan. Bagaimana pun, isinya tidak berubah sama sekali, atau mungkin memang tidak akan ada yang bisa berubah karena sejak awal memang tidak ada apapun di dalam kotak ini. Kosong. Untuk apa Risa menyembunyikan kotak ini jika tidak ada apapun di dalamnya. Bukankah itu mengherankan? Begitu pun denganku. Aku terus menyelidik tiap sisi kotak kayu ini.

            Jika dipikiran kembali, dasar dari kotak kayu bagian dalamnya terlihat terlalu dangkal. Seperti menyisakan ruang lain di lapisan bawahnya. Dan benar tebakanku, di sisi luar bagian bawah kotak itu, kutemukan semacam benang pendek. Meski harus ditarik dengan perlahan dan hati-hati, laci kotak rahasia itu berhasil kubuka. Besarnya hampir setengah dari besar kotak itu sendiri.

            Sebuah pensil dengan motif beruang berwarna pink serta satu cetakan foto kutemukan di dalamnya. Segurat senyum hadir di bibirku. Aku ingat dengan baik setiap cerita yang berada di balik kedua benda ini. Masa-masa indah yang tak akan pernah bisa terulang kembali. Risa, jika dengan memutar kenang tentangmu mampu membawa hadirmu kembali secara utuh di sisiku, maka aku akan mengenangmu selamanya.

            Terkutuklah gemintang yang merampas kecantikanmu. Risa, kembalilah. Agar gemintang menjadi eksepsi dari segala kutuk yang lahir dari segala kepedihanku.

            Terkutuklah rembulan yang mencuri segala tentangmu. Risa, kembalilah. Agar rembulan menjadi eksepsi dari segala kutuk yang lahir dari kepergianmu.

            Kuraih pensil itu dari kotak kayu. Hal mengejutkan terjadi kemudian karena dengan cara yang tidak disengaja dan secara tiba-tiba, pensil yang kupegang patah tepat di tengah. Ketika kedua sisi pensil yang patah jatuh menyentuh permukaan meja, suara detak jarum jam seketika berhenti dan kesiur angin bertiup seolah ingin menerbangkanku.

            Beberapa saat berlalu dan kesiur angin pun menghilang. Pemandangan sekitarku berubah total. Satu hal yang tidak berubah adalah aku yang masih duduk di kursi. Tak butuh waktu lama bagiku untuk mengenali semua yang ku lihat saat ini. Berpasang meja dan kursi sekolah, papan tulis yang penuh coretan, serta bunyi bel tanda pergantian jam. Ini sekolah dasarku dulu. Mengapa aku bisa ada di sini? Bukannya aku sedang berada di kamarku?

            Belum habis keherananku, murid-murid kelas yang kusadari juga ada di sekitarku mulai beranjak keluar kelas. Sepertinya bel barusan pertanda pergantian jam istirahat. Meski ini sekolahku, anehnya aku hanya bisa mengenali beberapa murid saja. Itu karena ruangan ini bukan kelasku dulu. Aku lekas memperhatikan telapak tanganku yang tetap utuh dengan ukurannya yang semula. Awalnya kupikir tubuhku ikut kembali ke masa lalu, menyusut menjadi seukuran anak sekolah dasar. untungnya tidak demikian. Aku tetap menjadi diriku seperti beberapa menit lalu.

            “Hentikan! Itu pensil punyaku!” Seorang gadis terlihat berusaha merebut kembali tempat pensilnya dari murid laki-laki di depannya.

            Sepertinya aku tidak asing dengan kejadian ini. Gadis itu, aku mengenalnya. Risa. Ya, itu Risa! Risa kecil! Astaga! Detak jantungku berdegup secepat yang ia bisa. Napasku menderu. Meski gemetaran, kakiku spontan mengambil langkah untuk berjalan menghampiri gadis itu.

            “Risa!” Ujarku kencang. Lenganku basah karena berulang kali mengusap air mata.

            “Hahaha! Ambil semua alat tulisnya!” Seru seorang murid lelaki bertubuh tinggi kepada teman lelaki di belakangnya, sementata ia menahan Risa kecil dengan kedua tangannya yang mencengkeram pundaknya. Risa kecil tak cukup kuat untuk melawan, hanya teriakan-teriakan yang berhasil lolos dari sela-sela cengkeraman si murid lelaki. Aku kenal anak ini, ia Randi, Randi kecil.

            “Wah semuanya barang jelek!” Seru anak yang lain.

            “Jelas, lah. Orang yang tidak punya ayah biasanya tidak punya uang.” Ucap anak lelaki di sebelahnya.

            “Hei, jaga bicaramu bocah!” ujarku lekas setelah mendengar kalimat anak lelaki barusan. Tapi mereka tidak terlihat bisa mendengarku. Aku bahkan mencoba meninju mereka dengan kepalan tanganku, namun tidak berhasil. Tinjuku seperti menembus asap.

            Risa kecil terus memberontak hingga akhirnya ia merasa sia-sia saja melawan. Ia menangis. Randi kecil yang sejak tadi menahannya mulai melepas cengkeraman tangannya dan berbalik arah, mengajak anak lelaki lainnya pergi. “Sial. Ayo pergi, bawa saja semua alat tulis itu.”

            Randi berjalan keluar dari kelas diiringi teman lelaki lainnya. Mereka mengacung-acungkan alat tulis yang mereka curi dari Risa kecil. Isakan terdengar lemah di sudut kelas ini, Risa kecil memungut tempat pensil miliknya yang dilempar begitu saja setelah isinya di rampok oleh Randi dan teman-temannya.

            “Percuma saja,” Seseorang di belakangku berbisik pelan di samping telingaku ketika aku hendak memeluk gadis itu. Terkejut, sontak aku berbalik dan menemukan sosok Risa yang terlihat seumuran denganku berdiri di depanku sambil tersenyum. “Risa kecil itu takkan bisa mendengarmu, Zaka!” ujarnya manis.

            “Ri-Risa?!” Perasaanku campur aduk. “Lalu bagaimana kau bisa bicara padaku?”

            Risa tertawa kecil. “Sebab ini kenangan berhargaku tentangmu, Zaka.” Ia menghampiriku dan membantuku bangkit.          

            Aku memeluknya erat seakan tak ada lagi kesempatan untuk memeluknya esok hari. ”Aku rindu, Risa!” Kataku diakhiri beberapa isakan haru.

            “Haha … sudahlah, lagi pula aku belum ingin pergi sekarang.” Risa menepuk rambut belakangku lembut. “Lihat! Di sana, kamu datang!”

            Risa melepas pelukanku dan menunjuk ke arah pintu kelas yang sedikit terbuka. Dari celah pintu itu, terlihat seorang anak lelaki dengan rambut rancung mengintip ke dalam kelas. Perlahan, anak lelaki itu berjalan masuk menghampiri gadis yang masih terisak di lantai kelas. Melihat ada seseorang yang masuk ke dalam kelas dan melihatnya menangis, gadis itu segera mengusap air matanya.

            “Hei,” ujar anak lelaki itu berdiri di depan Risa kecil. “Maaf karena aku tidak bisa menolongmu tadi.”

            Anak lelaki itu adalah aku saat masih duduk di sekolah dasar. Saat itu, aku memang dianggap satu geng dengan Randi hanya karena aku selalu ikut bersama mereka. Aku termasuk murid yang pintar di kelas, karena itulah kemanapun Randi pergi, aku selalu dipaksa ikut dengan kelompok gengnya. Katanya, anak yang pintar harus dilindungi, kecuali jika mereka cengeng. Dan aku tidak cengeng.

            Meskipun aneh rasanya melihat diriku sendiri ketika masih kecil, ingatan ini justru adalah awal pertemanan antara aku dan Risa.

            “Tidak perlu, ini hanya masalah kecil.” Ujar Risa kecil sembari mengusap sisa air matanya.

            “Bukan masalah kecil jika ka uterus dijahili setiap hari. Lagian, kok bisa tahan sih. Kalau aku, sepertinya lebih memilih pindah sekolah.”

            Risa kecil bangkit berdiri. “Aku juga ingin pindah sekolah, tapi tidak mungkin. Pindah sekolah butuh uang.” Tangannya menepuk-nepuk debu yang menempel di seragamnya. “Seperti kata temanmu, orang yang tidak punya ayah, tidak punya uang. Dan aku tidak punya ayah.”

            Wajah Zaka kecil terlihat memerah. “Kalau begitu, aku akan membuatmu merasa tidak ingin pindah sekolah lagi.”

            “Maksudmu?”

            “Aku akan menjadi temanmu di sekolah ini.” Zaka kecil meraih lengan Risa kecil dan memberinya sebuah pensil dengan motif beruang berwarna merah jambu.”Kamu tidak punya pensil, kan?”

            Risa kecil menatap pensil ditangannya, diikuti tetesan di sudut matanya yang berjatuhan. “Ini untukku?” Ia kembali mengusap air matanya.

            “Biar tidak dicuri lagi, jangan simpan di tempat pensil mu itu.”

            Risa kecil tersenyum, matanya menyipit, dan matanya masih meneteskan air mata. “Terimakasih … terimakasih … terimakasih … namaku—”

            “Aku tahu namamu. Namaku Zaka. Panggil saja aku sesukamu.” Zaka kecil menghentak-hentakkan ujung sepatunya ke lantai, gugup. “Kenapa, sih, masih menangis? Sakit?”

            “Aku … tidak … tahu… “ Risa kecil terus menutup wajahnya menggunakan lengannya.

            “Coba angkat saja kepalamu ke atas, siapa tahu air matamu masuk kembali. Jika keluar terus, bisa-bisa mati dehidrasi!” Zaka kecil terlihat mengintip dari bawah, ingin melihat apakah air mata Risa kecil betulan tidak keluar lagi.

            Perlahan, suara-suara di sekitarku meredup. pemandangan kelas berubah cepat seperti gorden yang ditarik dan menampilkan pemandangan yang baru. Sekelilingku menjadi putih terang. Tak ada apapun, hanya warna putih.

            “Kau tahu, kau orang pertama yang memenangkan hatiku saat itu, Zaka.”

            “Kemana perginya kilas ingatan tadi?” Kataku heran.

            “Ini Dunia Kenangan, Zaka. Bukan sekedar kilas balik.

            “Maksudmu, Dunia Kenangan yang pernah diceritakan Nenek Fon? Ternyata itu nyata, ya”

            Risa mendongak, tersenyum. “Ya … indah bukan?”

            “Aku tak peduli hal-hal indah selain dirimu.” Tegasku.

            Risa tertawa, “Randi pasti akan menghajarmu jika tahu kau mengatakan itu padaku.” Ia mengalihkan pandangannya. “Meski sudah mati, aku tetap pacarnya Randi, tahu.”

            Hening sejenak. Di sini sangat sunyi. Benar-benar bentuk harfiah dari ‘dunia milik berdua’, tidak ada siapa-siapa termasuk alam semesta.

            “Aku tak percaya kau masih menyimpan pensil itu.” Kataku.

            “Bagiku itu berharga.” Risa menatapku, “Pensil itu menjadi saksi bagaimana kisah persahabatan kita dimulai, Zaka.

            “Ah, soal pensil, pensil berhargamu itu baru saja kupatahkan, tidak sengaja. Maaf soal itu.”

            “Justru itu yang membawamu ke Dunia Kenangan ini, Zaka. Kau melakukan kontak dengan Benda Kenangan.”

            Aku melirik, “Bagaimana bisa hal tidak masuk akal seperti itu terjadi?”

            “Zaka, kau mencintaiku, bukan?”

            Sesaat, kami saling hanyut dalam tatapan yang berada di titik temu. “Perasaanmu yang kuat itu menjadikan semua ini nyata, Zaka. Cinta selalu menggandeng keajaiban.”

            “Juga diekori kutukan.” Kataku, seketika mengingat Risa tak bisa menghembuskan napasnya lagi. “Dan Risa, kau telahmengutukku dengan kepergianmu.”

            Risa tidak berkata apa-apa, hanya memandang ke atas sana. “Kamu masih membawa kotak itu?” Ia menatapku.

            “Tentu.”

            Aku menunjukkan kotak kayu itu kepadanya. Risa menarik benang pendek di bagian luar kotak itu dan membuka ‘ruang kotak rahasia’. Di sana hanya tersisa sebuah foto. Tanpa ragu. Risa meraih foto itu dan memberikannya padaku.

            “Pegang saja, biar kita ke Dunia Kenangan selanjutnya.” Risa meyakinkanku.

            Tak ada sedikitpun ragu yang menghalangiku untuk menyentuh foto itu. Sedetik kemudian, bunga api terpercik beberapa kali sebelum akhirnya menghasilkan api yang membakar keseluruhan foto itu.

            Sekali lagi, kesiur angin memburu tubuhku. Namun kini aku tidak sendirian. Risa menggenggam tanganku dan ikut menyelami Dunia Kenangan ini bersama-sama.

 

***

 3

 

            Aku mengenali tempat ini. Dunia Kenangan mengantarkan Aku dan Risa menuju pemandangan rumah sakit. Bau obat tercium hingga ke sudut ruangan. Kesibukan merajalela di lorong-lorong, di ruangan, bahkan di halaman.

            Aku ingat kenangan ini.

            Setahun setelah dikabarkan Risa mengidap kanker, dokter memutuskan untuk menerapkan pengobatan kemoterapi dini secara bertahap untuk Risa. Meski tidak diwajibkan, keluarga Risa menyetujui pengobatan itu.

            Tak lama lagi ujian kelulusan akan diadakan. Ketika itu aku baru mendengar kabar dari Toni mengenai Risa. Sore harinya, sepulang sekolah, aku mengunjungi rumah sakit tempat Risa menginap.

            Aku ingat betapa kesal aku kala itu karena Risa terus membicarakan Randi. Apakah Randi menepati janjinya untuk tidak terlibat perkelahian lagi, apakah Randi belajar dengan baik, apakah Randi mencarinya, bahkan ia menyuruhku untuk menyembunyikan fakta penyakit ini dari Randi.

            Sejak masuk sekolah menengah pertama, Randi berubah seratus delapan puluh derajat. Sikap berandalnya tentu masih sangat memenuhi sekujur nadi. Selama darahnya masih mengalir, selama itu pula berkelahi akan dikatakannya sebagai jalan takdir.

            Meski begitu, sikapnya pada Risa tak seperti sifatnya pada saat di sekolah dasar dahulu. Randi menjadi lebih bersahabat, tak pernah mengganggu, bahkan berterus terang ingin berteman dengan Risa.

            Sejak sekolah dasar sebenarnya aku tahu alasan mengapa Randi giat menjahili Risa, dan selalu berhenti tepat ketika Risa mulai menangis. Itu karena, anak lelaki—meski tidak semua—cenderung menggangu gadis yang disukainya. Dan inilah yang kutakutkan setelah waktu berjalan, persahabatan antara Aku, Randi, Dan Risa terjalin.

            Ketika perasaan kuat tentang persabahatan perlahan kalah oleh persaingan perebutan perasaan, persahabatan kami memulai masa kritis. Randi menyukai Risa. Begitu pula sebaliknya. Tiada hari kulewatkan sejak waktu itu, tanpa memiliki sebutir benci pada diriku sendiri, pada perasaan ini. Bagaimana aku bisa terus menjaga pertemanan ini tanpa harus membunuh perasaanku pada Risa?

            Risa dan Randi resmi berpacaran setahun lalu, saat Risa pertama kali dikabarkan mengisap kanker.

            Hari ini, Risa resmi menjalani kemoterapi dini. Candaan renyah mengisi celah kekhatiran di antara Aku dan Risa.

            “Kau tahu aku akan selalu berada di belakangmu untuk setia mendukungmu.” Ucapku kala itu. “Bahkan jika rambutmu tak tersisa lagi nanti, aku takkan berharap apapun lagi selain mengharapkan kesembuhanmu dan rambutku yang ikut tidak tumbuh sepertimu.”

            Risa hanya tertawa terbahak mendengar kalimatku, “Maksudmu kau berharap menjadi botak sepertiku nanti? Bagaimana bisa? Ayolah, Zak. Kau tidak akan menjalani kemoterapi. Berhenti bercanda.”

            “Aku tidak bercanda, aku akan mencukurnya tiap kali rambutku tumbuh satu senti.” Kataku tegas. “Akan kubuktikan sekarang!” Seketika, aku keluar ruangan, meninggalkan barang bawaanku di kamar rumah sakit.

            Beberapa jam kemudian, aku kembali menemui Risa di kamar inapnya dengan keadaan kepala yang polos. Aku ingat berapa lama Risa terbahak hingga tersedak air liurnya sendiri.

            Tak lama kemudian Toni ikut bergabung. Kami berpose beberapa kali dengan kamera milik Toni. Risa meminta foto itu dicetak, dan aku tidak pernah tahu alasannya. Tapi mendengarnya saja, cukup membuatku senang. Dan sekarang aku tahu, foto itulah yang Risa simpan di kotak rahasianya.

            Seminggu kemudian, Risa mengalami kecelakaan tabrak lari oleh pengguna sepeda motor dan meninggal sesaat setelah tiba di rumah sakit. Namun, Randi, yang berada tak jauh dari lokasi kejadian, selalu berkata bahwa itu bukan kecelakaan, melainkan aksi pembunuhan.

            Semua berawal sejak Randi tahu kabar tentang penyakit Risa. Randi dilanda ketakutan akan kehilangan Risa. Ia jadi semakin sering berkelahi, kegiatan malamnya bertambah liar. Hingga suatu malam Risa mendapat kabar jika perkelahian besar yang akan terjadi di gudang sekolah, ternyata melibatkan Randi, pacarnya. Risa merasa khawatir dan memutuskan membujuk Randi ke gudang sekolah agar Randi menepati kembali janjinya untuk tidak berkelahi. Namun, setibanya di sana, Risa terhantam mulut sepeda motor yang kencang mengarah padanya.

            Polisi, tak bisa berbuat banyak. Hasil akhir tetap mengatakan Risa meninggal akibat kecelakaan. Sejak itu Randi semakin gila berkelahi. Bahkan kabarnya, ia mendirikan kelompok Geng di pelosok kota bersama Toni.

 

***

 4

            Tampilan pemandangan kenangan di sekitarku berangsung menghilang hingga menyisakan aku, Risa, dan pemandangan putih penuh. Di sebelahku, Risa tampak menangis. Kenangan itu memang menyedihkan, terutama bagiku. Melihat kenangan ketika Risa meninggal, terasa seperti mengundang kembali kutukan di hidupku. Menyakitkan.

            “Kenapa kau begitu menyukai Randi?” Tanyaku memecah suasana.

            Risa tertawa kecil, ia memijat telapak tangan kiri dengan tangan kanannya. “Entahlah, Aku hanya merasakan itu tanpa pernah tahu alasannya.”

            Hening sejenak.

            “Kenapa, ya, perempuan yang baik selalu memilih pilihan yang tidak tepat.” Aku berdeham, “Maafkan aku. Tapi, menurutku, mencintai Randi merupakan pilihan yang tidak tepat.”

            Mengetahui alur pembicaraanku, Risa kembali tertawa. “Kau tahu, Zaka. Terkadang sesuatu yang tidak tepat bagi sebagian orang, justru merupakan sesuatu yang paling mampu membuatmu jatuh cinta.”

            “Setidaknya jika kau bersamaku, kau tidak akan mati!” Emosiku meluap, tak bisa lagi kutahan. “Tidak bisakan sekali saja kau memihak pada perasaanku, Risa?”

            “Sebaiknya kau kembali, Zaka. Dunia Kenangan tidak pernah bertahan lama.” Risa menghampiriku dan mengulurkan tangannya. “Kau tidak punya Benda Kenangan yang ketiga untuk meneruskan kenangan dan kembali ke dunia nyata, Zaka.”

            “Jawab dulu pertanyaanku, sialan! Kau tak tahu betapa aku membenci diriku sendiri karena memiliki perasaan ini, Risa! Tolong, Jangan pergi lagi—“ suaraku tercekat di ujungnya. 

            Risa memelukku meski tubuhnya tidak hangat. “Aku, akan selalu ada sebagai bagian dari kenanganmu, Zaka. Selama kau hidup, selama itu juga aku hidup dalam ingatanmu. Maka teruslah hidup dan berbahagia, karena dengan begitu kau bisa mengenangku selamanya.”

            Perlahan, kesiur angin membawaku ke Dunia Kenangan selanjutnya. Disini kesadaranku seolah melambat, dan tampaknya aku melihat banyak ingatan secara bersamaan. Lintasan kenangan kali ini terlihat berbeda. Lebih cepat, detail, dan mencakup segalanya. Ini semua adalah kenangan Risa tentangku, dan kenanganku tentang Risa. Semuanya berputar di sekelilingku, dicerna oleh kedamaian yang terasa sesak di dadaku. Lalu semua kembali memudar, menyisakan kesiur angin yang menerpaku. Risa tidak lagi bisa kulihat di manapun di sudut mataku. Namun aku mendengar sedikit suaranya perlahan memudar, “Zaka, terimakasih.”

            Hening.

            Cahaya remang di atas meja kembali menemaniku. Sunyinya kamar seolah menusuk gendang telinga, dan detak jarum jam menjadi satu-satunya benda yang bersuara.

            Kotak kayu di depanku tak lagi berisi apapun, kosong. Hanya ada dua patahan pensil kayu dengan corak beruang merah jambu, dan sisa abu foto. Aku tak bisa mengatakan apa-apa. Kejadian barusan seolah membunuh nalarku.

            Manusia dan waktu layaknya api dan kayu. Api, seiring waktu, akan semakin membesar dan membesar. Melahap kayu hingga menyisakan abu. Manusia, seiring waktu, akan semakin banyak mengalami berbagai pengalaman hidup. Melahap waktu hingga menyisakan sejumput kenangan tentang itu.

            Maka, jika aku mati dan berhenti melahap waktu, siapa yang akan menggantikanku mengenang rindu tentangmu?

            Jika kau pergi dengan setangkai bahagia yang kau petik dari dunia, kenapa aku egois memaksamu kembali dalam permintaan doa?

            Kini, biarkan aku mencoba garis yang baru. Memulai hidup tanpa harus membenci perasaanku. Dan terus hidup untuk selamanya mengenangmu.

           

           

Suka 105

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!