AKSARADANA
26.6
11
191

Aksa Wardhana dan Danatri Wardhani, dua saudara kembar yang memiliki misi memerdekakan literasi di Indonesia. Lewat organisasi misterius berisi mereka berdua, Aksa dan Dana memperjuangkan nasib rakyat dan hak para penulis/pegiat literasi dengan cara mereka sendiri. Cara yang tidak akan terpikir oleh orang lain.

Seorang perempuan muda berwajah cantik dengan kulit putih bersih sedang duduk di atas kursi—di panggung kecil berlatar backdrop bertuliskan Dirgahayu Republik Indonesia. Kaki kanannya di angkat dan menumpu badan gitar. Ia setengah memeluk gitar itu seraya jari jemarinya lentik memetik senar. Harmonisasi indah tercipta dari petikan pelan yang semakin lama semakin cepat dan penuh semangat. Dari mulutnya—yang seksi dengan polesan lipstick merah merona—terdengar lantunan lagu Kebyar-kebyar karya Gombloh.

Beberapa meter di depannya, sebuah tripod berdiri. Di puncaknya bertengger ponsel dengan kamera depan menyala. Menampilkan sosoknya dalam posisi pengambilan video dan pencahayaan yang pas. Perempuan muda itu sedang live TikTok. Penontonnya ratusan ribu. Lengkap dengan likes mencapai satu juta, komentar yang tidak surut, dan berbagai macam gift bergambar yang diberikan penonton secara sukarela.

Penonton semakin heboh saat perempuan muda itu memekikkan puisi di tengah lagu, sebelum menyambungnya dengan lirik, “Kusingsingkan lengan. Rawe-rawe rantas. Malang-malang tuntas … denganmu.” Masih satu hari menjelang peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78, tetapi perayaan kecil-kecilan itu sukses meski tanpa panggung megah dan sorotan kamera stasiun televisi.

Total empat jam perempuan muda itu menghibur penontonnya tanpa jeda. Entah sudah berapa pundi-pundi rupiah yang ia hasilkan hari itu. Tepat saat sesi live akan berakhir, kekecewaan penonton mulai dilayangkan di komentar. Sebagian besar enggan berpisah dengan idolanya. Sebagian yang lain mengapresiasi waktu yang sudah diberikan panutannya itu. Seorang anak muda yang cantik dan berbakat.

“Itu tadi lagu penutup sore hari ini, Genks! Jangan lupa order novel terbaruku, promo cuma sampai besok, ya.” Perempuan muda itu mengacungkan sebuah novel berjudul ‘Hati Paling Merdeka’ ke depan kamera. Penulisnya adalah Aksaradana.

See you on the next live, dan sekali lagi mari kita pekikkan bersama … Dirgahayu Republik Indonesia!” Perempuan muda itu lalu memencet tombol untuk mematikan live.

Ia menyandarkan gitar di dinding dan melakukan peregangan tangan, kaki, dan punggung. Diraihnya botol minuman dan diteguk isinya sampai tandas.

“Ah, akhirnya selesai juga,” gumamnya.

Dari balik barisan MacBook di ruangan yang sama, tepuk tangan seseorang membahana. Semakin lama semakin kencang. “Bravo! Bravo! Live lo kali ini sukses besar,” ucapnya.

Perempuan muda itu tersenyum tipis. “Memangnya pernah gagal?”

Seorang pria muda berwajah mirip dengan perempuan muda tadi bangkit dari kursi. Ia mengangguk-angguk sambil alisnya terangkat sebelah. “Well, harus gue akui itu. Gak cuma jago jual pesona, tapi berasa ada ganja mengalir di darah dan jiwa lo. Semacam … candu!”

Mereka tertawa.

“Danatri Wardhani memang terlahir berkharisma. Ibarat cerita dongeng, gue ini putri cantik yang bisa menyihir rakyat agar tunduk dan mengikuti apa kata gue.” Dana—panggilan perempuan muda itu—menyombongkan diri sambil mengedikkan bahu.

Pria muda memeluknya erat, lalu mencium rambut Dana. “Gak sia-sia lo jadi kembaran gue,” selorohnya sambil terkekeh.

Dana mendorong kembarannya. Merapikan kebaya putih yang terlipat gara-gara tergencet badan pria itu. “Yang ada lo yang beruntung jadi kembaran gue, Sa!” Dana mengibaskan tangannya. “Udah deh, mending cek dulu eksposur live barusan! Sekalian itu tuh, berapa yang udah ikutan pre order novel kita,” perintahnya.

Aksa Wardhana nama pria muda itu. Kembaran yang lahir lima belas menit lebih awal dari Dana. Menurut orangtua mereka, Dana adalah kakak meskipun lahir belakangan. Itulah mengapa Aksa menurut padanya. Ia bergegas menduduki kembali kursinya dan mengotak-atik salah satu MacBook.

“Sini deh! Lihat ini!”

Dana mendekati Aksa. Menarik kursi terdekat agar bisa duduk.

“Eksposur lo tinggi banget nih. Akumulasi dengan beberapa live terakhir, harusnya sih cukup untuk menyukseskan proyek kita. Sementara … pre order novel per sore ini,” Aksa mengotak-atik menu lain untuk mengecek data penjualan yang masuk, “hampir sepuluh ribu eksemplar. Wah, kayaknya kita butuh buka lagi untuk batch selanjutnya.”

Dana tersenyum lebar. Matanya berbinar. Refleks ia memeluk Aksa sekali lagi sambil menepuk-nepuk punggung adik kembarnya. Pencapaian ini berkat kolaborasi mereka yang apik selama ini.

“Sa, proyek terdekat kita apa sih? Yang kira-kira masih berhubungan sama peryaaan kemerdekaan.”

“Masih sama. Sampai akhir tahun nanti, kita ada pengadaan perpustakaan di pelosok Aceh, Sumba, Kepulauan Talaud, sama dua lagi di Jawa. Harusnya keuangan kita cukup buat lima itu. Asal lo jagain aja pengikut lo biar mau kirim saweran terus-terusan.”

“Itu doang?” Dana tampak termenung.

“Giat literasi, kan, jalan terus dari masing-masing pengurus organisasi daerah. Kerja sama dengan FLP dan perpustakaan nasional juga lancar. Satu lagi, Oktober nanti lo diundang ke Ubud Writers & Readers Festival.”

Dana menghela napas. Semua itu sudah didengarnya sejak kemarin-kemarin. Ada hal lain yang sebenarnya sedang mengganjal di hatinya.

“Sa, lo gak capek jadi pejuang literasi begini terus-terusan?”

Aksa menghentikan ketikannya di MacBook. Kini menatap kakak kembarnya.

“Kalau bukan kita, siapa lagi, Dan?”

“Sampai kapan?”

“Sampai gue sama lo udah gak mampu lagi ngatasi ini semua. Gak bertenaga alias mati mungkin?” Aksa menggeser kursinya mendekati Dana, ia menggenggam tangan kembarannya. “Dan, kita ini belum sepenuhnya merdeka. Masih banyak yang buta aksara di luar sana. Minat baca rendah. Belum lagi akses bacaan yang gak jelas di beberapa daerah.”

“Tapi gue pengin sesekali jadi orang di balik layar kayak lo, Sa. Gak perlu capek ngurus followers yang banyak maunya. Belum lagi yang tabiatnya keras, susah banget dipengaruhi. Terus buku itu … orang tahunya itu karya gue doang, Sa.”

Aksa tersenyum.

So what? Kenapa kalau orang tahunya itu karya lo? Dana, kita udah gak mungkin tukar posisi. Kita terlahir untuk bekerja sama dan saling melengkapi. Biarkan lo jadi pusat perhatian, karena Indonesia butuh penggerak dunia literasi yang mumpuni. Dan lo salah satu yang terbaik di negeri ini.”

Dana menghela napas lagi. Tangannya meloloskan diri dari genggaman Aksa. Ia lalu meremas keduanya, gelisah.

“Kenapa gak rekrut orang aja buat urus ini semua? Banyak kok pejuang literasi yang berpengaruh. Karyanya dikenal di mana-mana.”

Aksa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung bagaimana caranya meyakinkan Dana yang suasana hatinya gampang berubah.

“Gak bisa, Dan. Mereka juga sudah berjuang. Kalau lo nyerah, artinya akan ada satu influencer literasi yang gugur. Bayangin aja, gimana jadinya kalau jutaan pengikut lo ikutan nyerah juga?”

“Sastra dan literasi bakal makin gak eksis, Sa.”

“Nah, itu lo paham! Jangan menyerah sebab Indonesia belum benar-benar merdeka. Merdeka dari penjajah mungkin sudah, tetapi merdeka hati dan jiwa? Belum seratus persen.”

Dana mengangguk. Wajahnya masih diliputi kesedihan. Entah mengapa perasaannya kelabu hari itu. Padahal besok perayaan kemerdekaan yang seharusnya disambut dengan sukacita.

Usia mereka berdua baru dua puluh lima, tetapi sudah banyak yang mereka perjuangkan sebagai anak muda, terutama berkontribusi membangkitkan literasi Indonesia. Menurut Aksa, jalur ninja untuk mengajak lebih banyak orang adalah lewat jalur content creator. Untuk itulah, Dana membangun citra sebagai seorang penulis yang juga jago bikin konten.

“Percaya sama gue. Gak banyak penulis multitalenta kayak lo. Gak cuma karyanya bisa dinikmati, tetapi konten-konten lo juga, apalagi bakat lo yang bisa nyanyi, nari … ah, semua itu paket komplit tahu!”

Dana adalah Dana. Meskipun secara nyata memiliki kelebihan-kelebihan yang disebutkan saudara kembaranya, ia masihlah perempuan muda yang memiliki perasaan. Ketidakpercayaan diri kerap kali hinggap secara tiba-tiba. Mengacaukan fokusnya.

Aksa mengetikkan sebaris kata kunci di MacBook-nya. Ia lalu menunjukkan hasil pencariannya kepada Dana. “Look at this! Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Gila, kan?”

Dana paham itu semua. Data-data itu bukannya tidak pernah ia coba telusuri sendiri. Demi mendukung itu saja, ia dan kembarannya rela menghabiskan masa muda untuk berpikir dan berpikir. Apa yang bisa mereka kontribusikan untuk mendukung minat baca yang rendah. Lewat organisasi yang dijalankan secara misterius, mereka mulai mengumpulkan data. Mencari tahu, siapa saja yang bertanggung jawab dan bisa mereka jadikan partner untuk bekerja sama.

Maraknya literasi digital juga mereka manfaatkan untuk menjaring lebih banyak penulis pemula. Lewat karya, mereka juga menembus penerbit-penerbit besar untuk memuluskan program kerja. Lewat karya pula, mereka lebih dikenal oleh penulis kenamaan lainnya sehingga komunitas pegiat literasi di Indonesia semakin masif. Hanya saja, selama ini Dana-lah yang dikenal, tidak dengan Aksa. Orang tahunya Dana anak tunggal, sementara Aksa tidak lebih dari sekadar admin yang diperbantukan.

“Pekerjaan rumah kita—sebagai bangsa Indonesia—masih jauh. Memang bukan tugas utama kita, tetapi setidaknya keberadaan organisasi kita bisa memperlancar mimpi itu ke depannya. Bayangkan, berapa perpustakaan sudah kita bangun? Berapa penulis yang sudah kita sokong pendanaan untuk menerbitkan dan menyebarluaskan karya mereka? Belum lagi endorse gratisan dari lo. Itu semua gak mungkin terjadi kalau kita gak kerja keras. Kalau lo gak kerja super keras demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Boro-boro mau berharap ke orang lain.”

Dana mafhum dengan semua yang dikatakan Aksa.

“Itulah kenapa gue tetap mau lo yang di depan publik,” tambah Aksa.

Dana mengangguk. Lelahnya sirna begitu melihat sorot semangat muncul di mata kembarannya. Mereka hanya berjuang di satu bidang, bukan ikutan perang seperti zaman dahulu. Seharusnya lelah yang mereka rasakan tidak sebanding dengan apa yang pendahulu mereka perjuangkan sehingga mereka bisa menikmati hasilnya.

Fine! Gue paham dengan tugas gue sebagai tokoh publik. Terus lo gimana? Gak bisa dong lo mikir kalau selama ini hanya bantu gue sebagai orang di balik layar? Ingat, tugas utama lo lebih gila lagi. Maling! Lo itu maling duit orang, Sa!”

Aksa terkekeh. Matanya dipalingkan dari Dana dan kembali fokus ke layar MacBook-nya. Senyumnya merekah. Tatapannya tajam.

“Lo salah, Dan! Gue memang maling, tapi bukan maling duit sembarang orang. Mereka-mereka itu penjahat literasi. Kita yang berkarya, kok, malah mereka yang menikmati hasilnya. Cuih!”

“Pembajak aksara, maksud lo?”

Aksa mengangguk mantap. Tangannya menggerakkan kursor untuk membuka folder berisi fail-fail yang ia kelola selama ini. Rahasia misterius di balik berdirinya organisasi yang tidak akan pernah mau Aksa bubarkan itu.

“Berkat gue, ratusan pembajak buku-buku gulung tikar. Berkat cara gue, mereka kapok dan bersumpah gak mengulanginya lagi. Bedebah seperti mereka gak layak lo tangisi hanya karena duitnya gue rampas. Toh, duit-duit itu hasil mereka melakukan kejahatan. Lebih mending kita yang pegang. Duit mereka bisa jadi dana pengembangan literasi di Indonesia. Lebih cepat daripada menunggu dana cair dari birokrasi pemerintah.”

Semangat Dana terpantik lagi. Mendengar semua alasan kembarannya, ditambah ingatannya akan semua keluhan penulis yang karyanya dibajak, Dana paham bahwa ia tidak boleh menyerah. Perjuangan mereka berdua adalah perjuangan ribuan orang atau bahkan jutaan orang di luar sana.

“Oke, gue paham. Sorry kalau gue sempat demotivasi,” ucap Dana.

Aksa hanya mengangguk dan mencubit pipi kembarannya.

“Eh, tadi sebelum live, lo sempat bilang malam ini bakal membuat gebrakan baru untuk memberantas pembajak aksara. Apa memangnya?” Dana teringat sesuatu yang belum disampaikan oleh Aksa.

Aksa bergerak untuk membuka fail lainnya. Begitu terbuka, Aksa menyerongkan layar MacBook agar terlihat lebih jelas oleh Dana. Terpampang sebuah tabel dan peta kasar yang dibuat manual oleh Aksa. Berisi informasi pembajak aksara yang ia kumpulkan dari laporan orang, hasil penelusuran beberapa media sosial dan marketplace, bahkan yang mengejutkan, Aksa berhasil membobol informasi salah satu dalang pembajak aksara terbesar di Indonesia.

Zaman sekarang—dengan kemajuan teknologi dan rendahnya literasi masyarakat—ada saja oknum yang mudah memanfaatkan keadaan. Bukan lagi motor yang dimaling. Bukan juga penipuan pinjaman online atau penipuan berkedok hadiah. Dari dulu mereka memang punya dalang. Kali ini, Aksa berhasil membongkar, bahwa kejahatan literasi juga ada dalangnya. Sudah mirip perusahaan franchise atau MLM. Menggelikan!

“Ini si borokokok satu ini ternyata jadi dalang dari banyak penjual buku bajakan. Dia rekrut anak buah di beberapa kota dan melancarkan aksi plagiarisme. Sampai dibelain beli mesin fotokopi untuk melancarkan aksi. Berapa ratus juta kerugian yang dialami penulis-penulis kita? Kalau dibiarkan, kemerdekaan penulis hanya jadi mimpi belaka. Biang kerok seperti mereka harus dibasmi.”

Dana menggigit bibir bawahnya. Matanya menatap nyalang ke arah layar. Pikirannya berkelana.

“Jadi, lo malam ini bakal teror dia seperti yang lo lakuin ke penjahat lainnya?”

Aksa menggeleng.

“Gue udah coba ngobrol sama teman yang kerja di marketplace, mereka pun belum menemukan strategi yang tepat untuk memberantas para biang kerok. Si borokokok pun pernah gue teror via pesan sampai telepon, tapi dia bergeming. Gue tahu bisnisnya masih terus berjalan. Gertakan gue dianggapnya angin lalu.”

“Jadi, lo bakal ngapain malam ini?”

“Tunggu!”

Aksa menghilang ke ruangan lain. Sepuluh menit kemudian, ia kembali dengan setelah pakaian berbeda. Ia mengenakan celana dan kemeja cokelat—warnanya senada dengan seragam pramuka—dengan desain yang memudahkan tubuhnya bergerak. Ia memakai sepatu olahraga berwarna gelap. Tangannya menenteng sebuah topeng. Di depan Dana, ia memakai topeng itu. Terlihatlah wajah Joker dengan senyum mengerikan, tetapi seluruh wajahnya tertutup pola batik khas Pekalongan.

“Joker? Kenapa pakai batik?”

“Biar ada sentuhan kearifan lokal,” jawab Aksa sambil cengengesan.

“Kenapa gak sekalian topeng wayang?”

Aksa menggeleng. “Apa yang akan gue lakukan malam ini akan menodai nama baik di wayang. Lebih baik gue pakai topeng Joker.”

“Memangnya lo bakal ngapain, Sa?” Dana mulai menampakkan kecemasan di wajahnya. Ia terus memandang lekat saudara kembarnya.

Aksa mengeluarkan dua buah senjata dari kantong kain yang dibawanya. Sebilah kerambit—senjata tradisional Minangkabau yang dipakai di masa peperangan—dan sebuah belati dari tulang kasuari—senjata tradisional Indonesia Timur atau Papua yang terbuat dari tulang burung kasuari yang dihias dengan bulu-bulu menjuntai di ujung pangkalnya.

“Gila lo! Buat apa senjata-senjata itu?”

“Buat kasih pelajaran si borokokok dan antek-anteknya.”

“Kenapa gak dipenjarain aja sih?”

“Lo pikir, selama ini ada kasus yang memperkarakan para pembajak aksara? Kayaknya nol. Gue harus pakai cara gue sendiri.”

 

***

 

Aksa dengan pakaian superhero kombinasi baju pramuka dan topeng Joker-nya tiba di depan sebuah ruko. Kondisi pertokoan di sebelahnya amat sepi. Sepertinya sengaja diambil ruko ini sebagai tempat produksi buku-buku palsu agar memudahkan pergerakan si borokokok dan antek-anteknya.

Di ujung barat ruko, ada pintu yang sepertinya dikunci dari dalam. Aksa bukan semalam menyiapkan aksinya, ia sudah memperhitungkan apa yang ada di hadapannya. Dengan lihai, Aksa memanipulasi kunci hingga pintu dapat dibuka. Pelan sekali, Aksa membuka dan masuk ke dalam ruko.

Baru masuk, ia sudah dikagetkan dengan tumpulan ribuan buku-buku palsu yang ia sinyalir akan didistribusikan ke beberapa kota di Indonesia. Bajingan memang si borokokok! Di ruangan lainnya ada beberapa mesin fotokopi dan alat penjilidan yang biasa digunakan oleh produsen buku-buku asli. Mafia satu ini memang bermodal! Aksa mendengus dari balik topengnya.

Menurut informasi, seharusnya yang tinggal di situ hanya empat pegawainya. Aksa hanya perlu melumpuhkan mereka berempat sebelum melakukan aksi utamanya.

Dari balik persembunyian, Aksa bisa melihat dua pegawai sedang berjaga. Sepertinya mereka masih terjaga dan sedang bermain catur. Dua lainnya mungkin tidur di kamar. Tanpa pikir panjang, Aksa melempar petasan gas untuk mengelabuhi kedua pegawai tadi.

Asap memenuhi ruangan itu. Membuat kedua pegawai kaget dan loncat dari kursi mereka. Tatapan mereka mengedar, mencari sumber masalah. Hanya saja, asap keburu menyakiti pengelihatan mereka. Namun, mereka sempat berteriak.

Teriakan itu membuat seorang pegawai keluar dari salah satu ruangan kamar. Dari gerakannya, sepertinya terbangun begitu temannya memekik. Ia masih mengucek-ucek mata, tetapi gerakan Aksa lebih cepat. Aksa memukul tengkuknya hingga pingsan.

Asap mulai memudar. Kedua pegawai tadi mulai menyadari ada penyusup. Mereka merangsek maju begitu melihat temannya terkapar. Aksa buru-buru melayangkan tinju ke ulu hati salah seorang. Ia mengaduh. Aksa menambahkan pukulan sikutnya ke tengkuk orang yang sama. Pria itu pun rubuh.

Giliran pria satu lagi. Ia melayangkan tendangan ke arah Aksa, tetapi meleset. Aksa buru-buru meninju pipi kanan pria itu. Tak mau memberi jeda, Aksa tinju pipi kiri pria itu. Saat posisi mereka berhadapan, Aksa mengangkat lututnya dan mendaratkannya di perut lawannya. Pria itu tepar tanpa perlawanan sengit.

Aksa segera mengambil suntikan dari dalam tas. Ia membuka bungkus suntikan dan memasukkan obat bius ke dalamnya. Ia menyuntik ketiga pria tadi dengan obat bius. Setelah memastikan ketiganya benar-benar tidak akan bergerak, Aksa menyeret mereka—bergantian—keluar dari ruko. Meletakkan mereka di sudut ruko seberang yang sedikit tertutup. Aksa kembali ke ruko si borokokok.

Aksa menemukan satu pegawai tersisa masih asyik tidur pulas di kasurnya. Sepertinya telinganya bermasalah, sehingga tidak mendengar temannya berteriak. Aksa sudah siap menyuntikkan obat bius ketika pria itu terbangun oleh gerakan Aksa yang menyenggol lengannya. Pria itu loncat dari tidur. Ia kaget.

Meskipun molor, rupanya pria itu langsung sadar jika di hadapannya sedang ada penyusup. Pria itu melakukan perlawanan. Keduanya terlibat pergumulan, saling adu jotos. Setelah berjuang selama hampir lima menit, Aksa berhasil melumpuhkan pria itu. Sayangnya, kejutan datang.

“Heh, siapa itu?”

Aksa kaget dengan kemunculan pria tambun dan botak dari ruangan lain. Mata pria itu memelotot melihat anak buahnya terkapar. Ternyata, si borokokok sedang menginap di ruko. Wah, ini di luar perkiraan.

“Gue orang yang akan memberantas penjahat receh macam lo!” gertak Aksa.

“Berani-beraninya bikin ulah di tempat gue! Cuih!”

“Dasar pembajak aksara tolot!” teriak Aksa saking gemasnya. Kedua tangannya bergerak di dalam saku celana. Tangan kanannya memegang kerambit, sementara yang kiri mencengkeram belati.

“Apa mau lo? Mau maling lo, ya?” teriak si borokokok.

“Enggak. Gue mau bakar bisnis haram lo!”

“Bangke! Lo pasti orang yang ngancem gue di telepon. Sialan, gue gak takut sama gertakan lo!” Si borokokok memelototkan matanya lebih lebar. Wajahnya merah padam. Dalam situasi ini, sepertinya si borokokok sadar bahwa pegawainya yang lain juga sudah terkapar.

“Kenapa? Takut?” tanya Aksa dengan nada mengejek. Ia sengaja memancing kemarahan si borokokok sembari pelan-pelan melangkah ke depan.

Tanpa disadari Aksa, si borokokok ternyata menyiapkan pistol di belakang tubuhnya. Diselipkan ke bokongnya yang besar. Demi menghindari todongan pistol, Aksa refleks menarik kedua senjatanya keluar. Sekali hentak, Aksa melempar kerambitnya ke arah si borokokok. Meleset, tetapi cukup untuk mengalihkan perhatian.

Begitu si borokokok lengah, Aksa merangsek ke depan. Menendang pria itu sampai terjengkang. Pistol sempat jatuh, tetapi cepat diraih kembali. Aksa mencoba menhalau si borokokok agar tidak menarik pelatuknya. Mereka saling mencengkeram. Tubuhnya yang gendut ternyata menyimpan tenaga ekstra. Si borokokok berhasil membalikkan keadaan, dari awalnya ia di bawah, sekarang Aksa-lah yang dibanting hingga terlentang.

Saat si borokokok siap menarik pelatuk, Aksa kalap. Dengan tenaga tersisa, ia mendorong tubuh gendut pria itu dan menusukkan belati ke lehernya. Si borokokok memekik kesakitan. Pistol terlepas dari genggamannya dan langsung ditendang oleh Aksa agar terlempar jauh. Si borokokok megap-megap karena jalur pernapasannya terganggu.

Aksa menatapnya lekat-lekat. Pandangannya kosong. Ia tidak menyangka harus menghabisi si borokokok, alih-alih hanya meneror secara fisik. Namun, dendam kesumat membuat hatinya kebas. Ia tidak akan mengasihani penjahat itu. Tanpa pikir panjang, Aksa menyeret satu pegawai tersisa tadi keluar dari ruko. Membiarkan si borokokok menghembuskan napas terakhirnya sendirian.

Aksa pergi ke mobil sewaannya, mengeluarkan sejerigen bensin, membawanya masuk ke dalam ruko, menumpahkan isinya ke seluruh penjuru ruangan, lalu membakarnya.

Melihat api berkobar, Aksa menjambak rambutnya. Ia bergegas meninggalkan ruko itu terbakar, dengan keselamatan empat pegawai yang sudah terjamin. Ketika mereka sadar, mereka hanya akan melihat puing-puing ruko dan mayat bosnya yang sudah gosong.

 

***

 

“Gila lo! Sadis amat sampai harus bunuh orang,” pekik Dana setelah mendengar penuturan cerita kembarannya. Ia menatap Aksa yang pakaian dan wajahnya lecek setelah bergulat dengan penjahat.

Aksa malah terkekeh tanpa melihat ke arah Dana. Topeng dan senjata—belati yang menancap di leher si borokokok sempat dicabut dan dibawanya pulang agar tidak meninggalkan jejak—ia lemparkan ke lantai begitu saja. Ia lalu bergerak ke arah MacBook. Membuka aplikasi pemutar lagu, menyambungkannya ke speaker, lalu memutar sebuah lagu klasik berjudul ‘Asmaradana’.

Dana melihatnya takjub. Kembarannya seperti tidak ada takutnya. Ia baru sadar, Aksa menyimpan sisi gelap yang mencengangkan.

Asmaradana melantun indah. Aksa masih terkekeh sambil melangkah mendekati kembarannya. Ia tarik tubuh Dana ke pelukannya. Melingkarkan lengan kanan Dana ke pinggangnya, lalu menggamit tangan kiri Dana ke atas.

“Mari berdansa! Kita rayakan kebebasan malam ini,” ucap Aksa.

Dana menatap mata kembarannya. Ia masih bingung, tetapi tubuhnya sudah bergoyang mengikuti tempo lagu. Mereka berdanda, berputar-putar, saling memeluk. Aska juga mencium rambut kembarannya. Ia tersenyum. Dana akhirnya ikut tersenyum. Kemudian keduanya tertawa terbahak-bahak.

“Kita ini jahat, ya?” tanya Dana.

“Enggak. Kita hanya membela kebenaran. Pejuang kemerdekaan zaman sekarang.”

“Bicaramu sudah seperti Robin Hoed!”

“Kita memang Robin Hoed menurut versi kita sendiri.”

Mereka berdua tertawa. Tubuh mereka terus bergoyang dan mengikuti alunan lagu Asmaradana. Semakin lama, semakin khidmat. Di saat mereka sedang berdansa, ribuan pesan ancaman sedang menghampiri ponsel para pembajak aksara di seluruh penjuru negeri. Aksa-lah yang mengaturnya. Tugas mereka masih banyak dan panjang.

 

#lovrinzpublisher #lovrinzwacaku

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!