Angka Sembilan untuk Rissa
74.1
18
557

Rissa disumpahin mantan kesembilannya! Sejak itu, kesialan terus menyerangnya saat ia bersinggungan dengan angka sembilan. Dan ketika seorang cowok misterius menemuinya di kantin, semuanya menjadi semakin runyam.

No comments found.

“Gue sumpahin! Angka sembilan lo nggak bakal dapetin keberuntungan kalau semua cowok cuma lo anggap mainan!”

Seluruh siswa kaget. Puluhan pasang mata melotot ke arah Garu. Semua tampak tegang, kecuali Rissa. Cewek yang disumpahi itu malah terkekeh remeh sebelum meninggalkan Garu di tepi lapangan basket. Langkah kakinya mantap, badannya tegap, dagunya terangkat. Rissa berjalan bak ratu yang memiliki mahkota berlian.

Cewek kelas sebelas IPA tiga itu memang layak berlagak penuh kuasa. Dia cerdas, cantik, dan berbakat. Rissa benar-benar definisi gadis sempurna! Dari kelas sepuluh, posisinya sebagai pemegang juara paralel belum pernah tergantikan. Tak hanya itu, ditunjang dengan paras cantik alami, kulit seputih susu, serta kelincahan jemarinya menekan tuts piano, membuat Rissa seperti bintang yang bersinar terang di sekolah. Namun sayang, segala kelebihan itu malah ia salah gunakan.

Dia sengaja menggoda siswa-siswa keren di sekolah hanya untuk main-main dan hiburan di tengah padatnya waktu belajar. Tak heran, nama Clarissa Ayudia sudah terkenal sebagai playgirl nomor satu di sekolah. Hanya butuh lima bulan saja, dia sudah mematahkan sembilan hati cowok. 

“Sumpah, lo udah gila, Ris!” Tika mengejar ketertinggalan. Cewek berambut bob sebahu itu berusaha menyamai langkah Rissa.

“Bosen gue sama dia. Orangnya nggak asik,” celetuk Rissa enteng.

“Baru seminggu aja lo udah bilang bosen?!” protes Tika keras, mengundang perhatian beberapa siswa yang berlalu lalang di sekitar mereka. “Padahal dulu lo bilangnya mau sama cowok dingin dan misterius. Sekarang udah jadian malah dibilang nggak asik, sampai disumpahin lagi.”

“Terus gue harus takut gitu kalau disumpahin Garu?” Rissa mengangkat sebelah alisnya.

Tika memastikan, “Lo tau, kan, silsilah keluarga Garu?”

“Keluarga peramal.” Rissa berdecak, lalu melanjutkan ucapannya, “Tapi gue nggak percaya. Lo pikir kita hidup di zaman penjajahan Belanda?”

“Aduuuh, kenapa lo masih nggak percaya, sih? Padahal lo udah lihat buktinya sendiri bulan lalu.” Tika sebal dengan sifat Rissa yang keras kepala.

Rissa teringat kembali waktu itu. Ketika dia tengah memainkan piano di ruang musik bersama Tika, tiba-tiba dia mendengarkan suara pukulan berkali-kali di depan pintu. Suara itu pasti sangat keras, sampai-sampai bisa menimpa melodi piano yang dia mainkan. Rissa langsung menghentikan latihannya saat itu juga.

Dia kesal. Kegiatan sakralnya itu diganggu oleh suara ribut-tibut di luar. Cewek itu pun beranjak dari bangku piano, dan berlari menuju kaca satu arah yang berada di atas dinding ruangan. Tika mengikutinya dengan rasa penasaran. Kaca satu arah ini membuat mereka leluasa mencari tahu apa sumber keributan yang mereka dengar barusan.

“Mampus lo, Ru!” Sebuah pukulan mendarat tepat di rahang laki-laki dingin, tetapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan melawan.

“Itu Garu si tukang ramal, kan?” tanya Rissa pada Tika yang jauh lebih update tentang masalah cowok.

Tika mengangguk.

Di depan Garu, ada dua cowok sebaya yang menyeringai puas selepas memukuli Garu sampai tergeletak di atas ubin.

Gue nggak terima kalau lo ngadu ke guru piket soal kita merokok di toilet,” geram cowok yang berbadan bongsor mirip preman jalanan.

Garu menarik sudut bibirnya. “Gue sumpahin tangan lo patah biar sadar kalau merokok di toilet itu salah.”

Selepas bel pulang berbunyi, Rissa dan Tika mendengar kabar ada siswa yang tertimpa barbel di ruang gimnastik sekolah. Kerumunan teman-temannya di lokasi kejadian membuat mereka berdua ikut mendekat, penasaran siapa yang bernasib nahas itu. Saat berhasil melihat dua korban akibat kecerobohannya sendiri, Rissa dan Tika melongo tak percaya. Mereka berdua seketika saling tukar pandang, menyaksikan dua laki-laki yang memukuli Garu itu kini patah tulang dan perlu segera diselamatkan.

“Mujarab bener omongan Garu,” gumam Tika takjub, matanya kosong sambil menggeleng-geleng tak percaya, mengingat sumpah Garu yang tak sengaja ia dengar tadi.

“Keren, ya,” komentar Rissa. “Jadi pengen ngerasain punya pacar dingin dan misterius kayak Garu, deh.”

“Cowok mulu.” Tika geregetan.

Kurang lebih seperti itu yang terekam dalam otak Rissa tentang Garu. Ada perasaan was-was dalam hati kecil Rissa saat mengingat peristiwa itu. Sepanjang koridor menuju kelas, telinganya seolah ditusuk-tusuk oleh suara Garu yang berulang kali diucapkan. Tentang sumpah untuknya, tentang kesialan, dan tentang angka sembilan!

 

***

 

Tidak butuh waktu lama, sekolah dihebohkan dengan berita Garu nyumpahin Rissa gara-gara diputusin. Sebagian besar bertanya-tanya, kenapa harus berkaitan dengan angka sembilan? Namun, sebagian yang lain berasumsi jika itu adalah nomor yang dibenci Garu setelah menjadi mantan kesembilan Rissa.

Ke mana pun cewek itu berjalan, seluruh murid memusatkan perhatian ke arah Rissa. Apa lantas, dia risi? Jelas tidak! Rissa memang ingin diperlakukan spesial dan menjadi pusat perhatian. Apalagi tindakannya di tepi lapangan basket waktu itu membuatnya merasa hebat sekaliSo powerful!

Seperti pagi ini, Rissa pergi ke kantin bersama Tika saat jam istirahat pertama. Hampir seluruh siswa yang berpapasan dengannya selalu memandangnya berbeda—dalam hal baik. Namun, dia tidak peduli. Kakinya terus bergerak maju, lalu berbelok ke sebuah gerai kecil sebelum ia berjalan ke kantin.

“Tungguin gue bentar, Tik,” pinta Rissa.

Minuman yang dibuat di gerai ini sangat enak. Jadi tidak heran kalau murid-murid rela mengantre lama demi segelas susu yang diblender dengan berbagai macam campuran. Terpaksa, Rissa harus menunggu antrean di paling belakang karena baru saja datang.

“Tujuh, delapan, sembilan,” hitungnya. “Oke. Berarti gue nomor sembilan.”

Cewek berambut gelombang itu menunggu cukup lama, sebab meracik susu juga membutuhkan waktu. Dia tidak keberatan jika memang itu alasannya. Namun, yang paling menyebalkan adalah melihat drama di setiap orang yang mengantre. Ada yang merengek meminta diskon, ada yang request ini itu di gelasnya, bahkan ada pula siswa yang merayu si Teteh penjual. Rissa kesal, waktunya terbuang dua puluh lima menit gara-gara mereka.

Kakinya maju satu demi satu langkah. Saat sudah gilirannya memesan, Teteh penjual berkata, “Maaf, Kak. Semua menu racik sudah habis. Cuma tinggal susu original. Kakak, mau?”

Rissa melongo. Dia tidak mungkin memesan susu original sebab dia tidak suka susu, beda cerita jika susu itu sudah diracik, apalagi rasa coklat. Dia pasti akan menghabiskannya. Terus buat apa gue berdiri di sini dari tadi?! protes Rissa dalam hati.

Dengan langkah berat, Rissa menemui Tika di samping gerai. “Ke kantin aja, yuk, Tik.”

“Mana susu lo? Kehabisan?” Tika malah tertawa.

“Iya. Padahal gue baru antrean nomor sembilan,” dengus Rissa.

“Sembilan?” Tika tersentak. “Kayaknya sumpah Garu udah mulai bereaksi, deh.”

“Halah, cuma kebetulan doang.” Rissa mengibaskan telapak tangannya di udara.

Hal yang disebut kebetulan itu ternyata mulai menghujani Rissa. Hari Minggu, tanggal sembilan, kakinya tertimpa pot berdiameter tiga puluh senti saat membantu merapikan halaman depan rumah. Di lain kesempatan, waktu praktik olahraga basket, Rissa mendapat rompi bernomor punggung sembilan dan beberapa kali kepalanya menjadi korban bola warna oranye. Tidak cukup sekali atau dua kali, kalau dihitung benar-benar pasti jumlahnya lebih dari sepuluh kali.

“Pusing banget gue.” Rissa mengurut pelipisnya setelah menggantikan sementara fungsi ring bola basket. Bisa-bisanya bola itu suka sekali melesat ke arahnya.

“Kan, gue udah bilang. Lo malah nantangin pakai rompi angka sembilan. Ngeyel, sih, kalau dibilangin.” Tika terbahak.

Rissa kesal. “Ah, Garu cuma omong kosong. Gue bakal buktiin sekarang. Ayo kita duduk di bangku nomor sembilan!”

Selesai praktik olahraga, keduanya mampir ke kantin sebentar untuk mengisi tenaga. Rissa menuju ke bangku kesembilan, di sebelah kedai siomay. Tika mengikut, enggan melarang karena Rissa bersikukuh ingin membuktikan jika serentetan kesialannya dengan angka sembilan hanyalah kebetulan.

“Asli, kepala gue pusing banget. Tolong pesenin gue boba, dong, Tik. Nggak kuat jalan gue,” keluh Rissa beralasan. Padahal dari lapangan basket ke kantin, dia jalan kaki bareng Tika.

“Iya, deh.” Tika sedikit dongkol karena disuruh-suruh. Namun, dia juga kasihan jika teringat kepala Rissa yang terkena lemparan meleset bola basket berulang kali. Akhirnya cewek itu beranjak pergi ke kedai minuman.

Rissa menunggu sendirian di bangku nomor sembilan. Kepalanya menunduk, matanya terpejam. Dia berusaha rileks agar sakitnya tidak berasa. Walaupun tidak seratus persen ampuh, tetapi caranya ini cukup membantu.

“Apa aku boleh gabung?” tanya seorang cowok kepada Rissa.

Mendengar suara lembut dan sopan itu, Rissa berusaha mendongakkan kepala. Melihat cowok tinggi berdiri tegak di depannya, dengan bibir merah mudanya tersenyum simpul.

Rissa kaget setengah mati.

Hatinya tiba-tiba berdetak sangat kencang, seolah sebentar lagi akan pecah. Rissa masih tak berkedip menatap cowok itu. Dia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

 Nggak mungkin, kan, dia ada di sini?

 

***

 

Ketakutan itu hadir kembali. Seperti hantu, rasa sakit itu menggentayangi Rissa lagi. Dia tidak berdaya. Hati dan pikirannya kini kembali diserang rasa bersalah masa lalu.

Sial! Semua ini gara-gara cowok yang menghampirinya di bangku nomor sembilan kemarin. Andai waktu bisa diulang, Rissa tidak akan pernah memilih duduk di bangku nomor sembilan. Ini sudah bukan kesialan lagi, melainkan bencana besar!

“Boleh kenalan? Namaku Farhan.” Cowok itu menyodorkan tangannya ke arah Rissa di hari kedua.

Tubuh Rissa tegang seketika. Tangannya gemetar. Kepalanya menunduk menatap ubin. Ketakutan, trauma masa lalu, dan rasa bersalah menerornya. Entah kenapa cowok ini seperti bola basket tempo hari yang selalu saja mendekat ke arahnya. Seolah ada magnet di dalam dirinya untuk cowok yang sangat ingin dia hindari ini.

“Rissa?” Bisikan Tika yang ada di belakang, membuyarkan lamunannya. “Lo diajak kenalan cowok, tuh.”

Rissa mendongakkan kepala, menarik napas dalam, dan mengumpulkan semua nyali yang ada. “Sorry, gue buru-buru.” Rissa langsung menghindar.

Tika tercengang melihat Rissa berjalan tergesa melewati Farhan tanpa membalas perkenalan cowok itu. Padahal setahunya, Rissa sangat membutuhkan cowok kesepuluh. Ya, sepertinya sumpah dari Garu telah bekerja sepenuhnya. Beberapa hari terakhir, Rissa dihindari oleh cowok-cowok keren di sekolahnya. Citranya perlahan meredup. Popularitasnya berangsur turun. Berita tentang dirinya memang menyebar, tetapi bukan berita sensasional seperti yang diinginkan. Rissa udah nggak laku lagi, kurang lebih seperti itulah gosip terbaru tentang dirinya.

“Ris, kenapa lo nggak mau kenalan sama dia?” tanya Tika setelah berhasil menyusul Rissa. “Bukannya ini kesempatan?”

“Maksud lo?” Rissa melirik bingung.

“Di saat cowok-cowok lain ngehindar, kenapa lo malah nolak cowok yang mau deketin lo? Bukannya lo pengen memperbaiki image?” celoteh Tika panjang.

“Gue nggak bisa sama dia.” Rissa menunduk, tangannya gemetar kembali.

“Karena?” Tika kepo.

Rissa tak menjawab. Sebenarnya bukan tidak mau, tapi tidak mampu. Perasaannya kacau balau. Mentalnya terguncang. Hatinya sakit seperti ditikam belati. Namun, semua kondisi ini tidak dapat terelakkan.

Setiap jam istirahat Farhan selalu menemui Rissa. Walaupun sudah bersembunyi di tempat paling pelosok sekolah, cowok itu masih bisa menemukannya. Dan lagi-lagi, sisi tergelap dalam hatinya bergejolak. Bertemu dengan Farhan adalah kesialan bertubi-tubi bagi Rissa, dan sembilan hari berikutnya, kesialan itu menjelma jadi malaikat maut.

“Duduk,” ujar Pak Maman. Tangannya menunjuk kursi di depannya. Laki-laki berusia empat puluhan itu adalah guru matematika kelas sebelas.  

Rissa memahami isyarat itu. Dia melungguh, lalu bertanya, “Ada perlu apa Bapak memanggil saya ke sini?”

Pria buncit itu meletakkan selembar kertas di atas meja. Tanpa disuruh, Rissa melihat isi kertas tersebut.

“Nilai ujian matematikamu sembilan puluh sembilan, Rissa.” Pak Maman menatap siswinya bangga.

Bukannya senang dengan nilai setinggi itu, Rissa malah panik. Baginya, satu angka sembilan saja sudah merusak kehidupannya akhir-akhir ini. Tapi semoga saja dua angka sembilan itu tidak membuat kesialan ganda.

“Kamu saya ajukan untuk mewakili sekolah dalam olimpiade MIPA tingkat provinsi dua bulan lagi,” terang Pak Maman.

Rissa merasa ada yang janggal. “Kalau ini adalah olimpiade MIPA, berarti saya harus mencari teman untuk mengerjakan bagian IPA-nya, Pak?

Pak Maman menggeleng. “Saya sudah menyiapkan teman tim yang sangat cocok denganmu. Dia murid baru yang ternyata pemenang olimpiade sains tingkat provinsi.”

Semangat Rissa berkobar-kobar sesudah mendengar jawaban Pak Maman. Jika memang teman timnya nanti adalah pemenang olimpiade sains, maka mereka akan menjadi tim yang tak terkalahkan. Cewek itu penasaran sekali.

“Namanya siapa, Pak?” tanya Rissa tidak sabar mengetahuinya.

“Farhan, anak sebelas IPA satu.”

Tubuh Rissa lemas seketika. Baru saja dia terbang setinggi langit, Pak Maman menariknya jatuh hingga ke inti bumi. Efek dua angka sembilan tadi sangatlah dahsyat. Saking dahsyatnya, Rissa tak mampu berucap apa pun lagi. Bibirnya bergetar. Kenapa harus cowok itu, ya, Tuhan?! pekik batin Rissa ingin menangis saat itu juga.

“Saya yang akan membimbing kalian langsung,” tegas Pak Maman. “Nanti temui saya di perpustakaan setelah pulang sekolah.”

“Ha-hari ini, Pak?” tanya Rissa tergagap.

“Iya. Saya sudah memberi tahu Farhan kemarin,” balas Pak Maman mantap.

Rissa tidak tahu harus berbuat apa. Muka Pak Maman kelewat angker. Jelas, dia tidak berani menolak. Lagi pula olimpiade ini cukup bergengsi. Tidak semua sekolah diundang secara khusus menuju tingkat provinsi, biasanya harus melewati babak penyisihan tingkat kota terlebih dulu. Akhirnya, dengan berat hati Rissa kembali ke kelas sembari menggerutu di sepanjang lorong.

“Gue harus gimana, Tik,” rengek Rissa pada teman sebangkunya setelah menceritakan kenapa dia dipanggil ke ruangan Pak Maman pagi tadi.

“Ya mau gimana lagi.” Tika menggaruk kepala bagian belakang, bingung harus mengomentari bagaimana. “Lagian kenapa, sih, sama Farhan? Pinter, ganteng, ramah, baik lagi!”

“Gue nggak mau ketemu sama Farhan, Tik. Gue takut,” desis Rissa. “Gue heran, deh. Kenapa dia pengen banget deketin gue, ya?”

“Siapa yang bakal nolak cewek kayak lo, Ris,” jawab Tika. “Lagian, dia anak baru. Mana tau dia label playgirl lo.”

Rissa menggusah napas, bukan itu jawaban yang ingin ia dengar.

Percakapan pun berakhir. Perhatiannya balik lagi ke papan tulis. Bu Vina sedang menjelaskan materi sistem pemerintahan pusat. Pelajaran pendidikan kewarganegaraan selalu saja membosankan bagi murid-murid, padahal materinya bisa membangun rasa nasionalisme dan patriotisme. Tapi mereka tidak peduli. Banyak yang mengobrol, bahkan tertidur. Untung saja Bu Vina supersabar. Nyawa mereka pasti diampuni, kemudian bisa pulang dengan selamat dan bahagia.

Sayang, itu tidak berlaku bagi Rissa. Jam pulang sekolah yang semestinya menebar kegembiraan, justru jadi awal proses penyiksaan baginya. Dia menyeret kaki malas, mengarah ke perpustakaan.

“Hai.”

Rissa sadar sapaan itu untuknya. Dia menengok ke sumber suara, sosok laki-laki tinggi kurus berjalan seirama dengannya. Farhan!

Badan Rissa yang semula lemas, mendadak tegang. Langkahnya tertahan. Napasnya memburu. Namun, dia berusaha seperti tidak terjadi apa-apa. Ya, dia berusaha baik-baik saja dan sekuat tenaga melawan ketakutannya. Karena sering bertemu dengan Farhan, dia sedikit demi sedikit mulai mampu mengontrol rasa takutnya.

“Kamu mau ke perpustakaan juga?” tanya Farhan dengan senyum manisnya.

Rissa membalas senyum itu dengan tetap diam. Kemudian lanjut melangkahkan kakinya, Farhan mengekor. Andai saja Rissa bisa bersikap ke Farhan layaknya ke cowok-cowok lain, pasti dia tak sungkan untuk berdecak sinis atau bahkan mengusirnya. Tetapi cowok ini beda.

Langkah mereka berhenti di bangku panjang yang berada dalam perpustakaan. Pak Maman duduk tegap di kursi paling ujung. Awalnya, dia fokus mengerjakan sesuatu di laptop. Tapi kedatangan Rissa dan Farhan mengambil alih perhatiannya.

“Duduk,” ujar Pak Maman kepada dua muridnya itu. Tanpa diperintah dua kali, Rissa dan Farhan duduk bersebelahan dan berhadapan dengan guru matematika itu.

“Sebelum belajar pada siang ini, saya ingin kalian saling memperkenalkan diri supaya tim ini lebih kompak,” ujar Pak Maman.

Rissa menenggak ludah. Selama ini dia sengaja menyembunyikan identitasnya dari Farhan karena Rissa tidak mau cowok itu mengetahui banyak hal tentang dirinya.

“Kami sudah saling mengenal, Pak,” jawab Farhan santun.

Rissa menoleh ke Farhan dengan pandangan tidak percaya.

“Namanya Clarissa Ayudia, dari kelas sebelas IPA tiga. Dia adalah murid paling pintar dalam matematika di angkatan kami. Jago bermain piano, dan pernah mendapatkan penghargaan musik di tingkat Jabodetabek. Sekarang dia sudah tobat menjadi playgirl karena telah disumpahi Garu, mantannya yang kesembilan.” Paparan Farhan menyebabkan Rissa syok.

Informasi yang menarik, Farhan.” Pak Maman tertawa kecil mendengarnya, lalu pandangannya beralih pada Rissa. Sekarang giliranmu.”

Rissa mematung. Dia tak tahu informasi banyak tentang teman satu timnya itu. Namun, dia tetap mencoba berkata, “Namanya Farhan, dia anak baru dari kelas sebelas IPA satu yang pernah juara dalam olimpiade sains tingkat provinsi.”

Hanya itu yang Rissa tahu, semua informasi yang telah disampaikan Pak Maman tadi pagi.

“Sepertinya kalian sudah saling mengenal cukup baik sebagai awalan,” ucap Pak Maman. “Sekarang kita mulai belajarnya.”

Bimbingan materi dengan Pak Maman terasa lambat bagi Rissa. Pasalnya, dia sama sekali merasa tidak nyaman dengan kegiatan ini. Farhan membuat jantungnya terus berdebar, rasa was-was menyelimuti perasaannya.

Lebih mengejutkannya lagi, Pak Maman menyatakan bahwa keduanya akan belajar mandiri setiap hari dan wajib terlapor. Dia hanya membimbing mereka setiap hari Rabu sepulang sekolah. Lagi pula, bagi Pak Maman kecerdasaan mereka begitu spektakuler, mampu untuk belajar sendiri tanpa dibimbing secara intensif.

Hal itu membuat Rissa makin tersiksa.

 

***

 

Sepuluh hari berlalu dan Rissa seperti sengaja dikirim Tuhan ke neraka. Bel pulang sekolah yang berdering kini berubah seperti bunyi terompet sangkakala yang mengawali kehancuran dunia bagi Rissa. Pertanda dia harus menghabiskan satu atau dua jam belajar bersama Farhan di perpustakaan. Setiap hari bertemu Farhan membuat hatinya selalu berantakan. Tak jarang juga tangannya keder. Sampai-sampai dia berusaha menyembunyikan itu dari Farhan. Perasaan takut Rissa selalu hadir di setiap pertemuan mereka.

Akan tetapi, semakin sering dia bertemu dengan Farhan, rasa takut itu tanpa disadari dapat terkontrol. Pelan-pelan, dia mengatakan kepada dirinya sendiri jika Farhan bukanlah orang di masa lalunya. Berkali-kali, Rissa meyakinkan dirinya sendiri, Farhan tidak ada hubungan apa-apa dengan peristiwa mengerikan itu. Dia mencoba sekuat tenaga untuk hanya fokus dengan materi olimpiade. Dan itu cukup membantu. Napasnya perlahan berembus normal. Tanpa disadari, Rissa masih bisa bertahan meski sepuluh hari belajar bersama Farhan.

Saat jam istirahat di kantin, cowok itu berdiri di depan bangku Rissa sambil menggenggam dua gelas susu racik rasa coklat. “Aku boleh gabung?” tanyanya kepada Rissa.

“Bo-boleh.” Rissa mengangguk. Respon baik itu menimbulkan pertanyaan Tika yang duduk di sampingnya.

“Ada apa, nih? Udah nggak alergi lagi?” bisik Tika tepat di kuping Rissa.

Cewek berambut gelombang itu mengangguk tanpa berkata apa pun.

Farhan duduk di kursi yang berhadapan dengan Rissa. Salah satu susu racik coklat yang dipegangnya, disodorkan pada cewek itu. “Ini buat kamu.”

“Ma-makasih.” Rissa tersenyum, agak bingung. Beberapa hari terakhir, Farhan selalu memberi makanan atau minuman kesukaannya. Dari mana dia bisa tau?

“Aduh, sorry. Kayaknya gue harus ke toilet dulu, deh.” Tika bangkit dari bangku sambil memegangi rok bagian depan. “Udah kebelet bangetbyeee.” Cewek itu mangkir.

“Tika!” sentak Rissa. Dia mendesah pasrah, sekarang di bangku itu hanya ada Farhan.

Beberapa menit awal, sempat terjadi keheningan sejenak. Lalu, Farhan yang memulai percakapan, “Eh, Ris. Gimana kalau nanti siang kita belajar di kedai boba di jalan Dewi Sartika? Di sana lumayan tenang, enak buat belajar.”

Rissa mengernyitkan dahi sebelum menerima. “Boleh, sih, tapi gue mau tanya sesuatu dulu.”

“Apa?”

“Kenapa lo bisa tau semua tentang gue, bahkan sampai makanan atau minuman favorit gue?” tanya Rissa pada akhirnya. “Kemarin lo kasih gue siomay, sekarang susu racik coklat, terus nanti mau ngajak minum boba. Itu semua kesukaan gue.”

“Berita tentang kamu sangat mudah didapat, Ris. Kamu murid populer. Banyak yang tau tentang dirimu di sekolah ini,” jawab Farhan ringan.

“Gue udah nggak terlalu populer, kok.” Rissa tersenyum getir.

“Karena kena kutukan Garu?” tebak Farhan.

Rissa mengangguk kecil. Semua yang diucapkan Farhan tepat sekali. “Dan lo adalah salah satunya.”

“Aku kenapa?”

Rissa enggan menjawab. Wajahnya kembali murung sebab kepalanya sedang terisi penuh memori tentang seseorang di masa lalunya. Dia jadi membayangkan jika yang di depannya saat ini adalah orang itu. Tapi itu tidak mungkin.

“Kamu kenapa nangis, Ris?” Pertanyaan Farhan menyadarkannya kembali. Dia segera mengusap air mata yang menetes tanpa ia sadari.

“Gue nggak papa.”

 

***

 

Suasana kedai boba di jalan Dewi Sartika tentram sekali. Meskipun banyak pengunjung yang membeli boba di sini, tapi sangat jarang ada yang ingin duduk menikmati suasana. Mereka menunggu bobanya siap, lalu pergi. Jadi pilihan Farhan sangat tepat jika mereka belajar olimpiade di tempat ini.

Sejak hari itu, kunjungan pertama mereka, Rissa merasa berjodoh dengan tempat ini. Dia selalu setuju ajakan Farhan untuk kembali, setiap hari, sampai cowok penjaga kedai itu hafal dengan nama dan pesanan mereka.

“Atas nama Kak Farhan, es boba durian satu dan boba coffee satu?” tebak cowok penjaga kedai saat melihat Rissa dan Farhan di depan meja kasir.

“Iya, Kak,” jawab Farhan.

“Kalian romantis banget, ya. Pasti baru jadian,” celetuk cowok penjaga kasir itu renyah.

Rissa dan Farhan saling beradu tatap.

“Farhan bukan pacar gue,” tampik Rissa spontan. Lagi-lagi, otaknya menampilkan kenangan masa lalu yang persis dialaminya beberapa detik lalu.

Sesudah mendapatkan boba mereka, Rissa dan Farhan duduk di bangku dekat pintu masuk, di tepi jendela dan menatap ke jalan. Cowok bermata belok itu mengeluarkan setumpuk latihan soal serta kotak pensil. Sementara Rissa masih menopang dagu dengan kedua tangan, memperhatikan lalu lintas jalan yang ramai lancar.

“Kenapa lo deketin gue, sih, Han?” tanya Rissa tiba-tiba.

Farhan tersentak. “Karena kita satu tim buat olimpiade, kan?”

“Sebelum itu. Saat lo menemui gue di meja kantin nomor sembilan.” Rissa menoleh, memandang Farhan dengan mata datar. Namun, dia tidak kuat terus-terusan melihat Farhan, kecuali ia sanggup menahan perihnya. Akhirnya, cewek itu beralih memperhatikan jalan lagi.

Farhan bergeming. Bagaimana cara menjawabnya? Satu menit, dua menit, lima menit, tidak ada obrolan lagi di antara keduanya. Cowok itu tidak bisa menjawab.

“Asal lo tau aja, lo adalah kesialan gue yang paling gede,” ucap Rissa memecah keheningan. Dia kembali teringat tentang sumpah Garu.

“Maaf.” Satu kata yang keluar dari mulut Farhan begitu tulus dan penuh rasa bersalah. Padahal dia tidak tahu apa yang membuat Rissa mengatakan hal itu.

“Tapi di sisi lain, gue malah bersyukur bisa ketemu sama lo. Gue jadi berani natap, dan ngadepin kenangan buruk masa lalu gue. Makasih banyak, ya, Han.” Rissa sendu.

“Aku nggak paham sama semua yang kamu bicarakan, Ris.” Farhan bingung.

Rissa menyentuh telapak tangan Farhan yang masih mencekal setumpuk lembar soal latihan. Cowok itu terkejut karena belum pernah merasakan hangatnya tangan seorang gadis. Ini adalah pertama kalinya.

“Gue janji bakal cerita suatu hari nanti.” Rissa menarik bibirnya ke kanan dan kiri.

Bermula dengan pertemuan pertama yang penuh kekacauan dalam hatinya, kini perasaan Rissa berubah lebih tenang. Setidaknya, dia tak begitu takut lagi dengan Farhan, meski rasa bersalah di masa lalunya masih melekat kuat.

Kedekatan Rissa dan Farhan pun mulai terendus akun gosip sekolah. Berita mereka berdua saling PDKT demi menjalin chemistry sebagai patner olimpiade meledak seketika. Gosip Rissa udah nggak laku lagi terpatahkan. Ini kesempatan emas bagi Rissa untuk mengambil kembali popularitasnya. Dia pun memutuskan untuk mewujudkan kesempatan ini menjadi nyata.

“Farhan,” ucap Rissa lembut, memulai pembicaraan sesudah mereka selesai belajar di perpustakaan sekolah.

“Iya?” Cowok berhidung agak mancung itu memalingkan muka ke arah Rissa.

“Gue mau ngomong sesuatu,” lanjut Rissa ragu.

“Iya, Ris. Ada apa?” Farhan mulai fokus.

“Gue …” Cewek itu gugup.

Farhan masih menunggu Rissa menuntaskan ucapannya dengan terus menatap gadis itu lekat.

“Gue suka sama lo, Han. Dan … dan lo mau nggak jadi pacar gue?”

Tenggorokan Farhan tercekat. Napasnya tersendat. Dia syok berat. Selama tujuh belas tahun hidup, dia belum pernah berpacaran sama sekali.

“Iya gue emang playgirl, sih, suka gonta-ganti cowok. Tapi gue janji nggak bakalan ninggalin lo.” Perkataan ini adalah jurus jitunya ketika mengungkapkan rasa ke sembilan mantannya. Namun, kali ini Rissa merasa ada yang berbeda, seperti benar-benar yakin dengan ucapannya. Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang asal terucap saja.

“Kamu yakin mau pacaran sama aku?” Farhan menanyai.

“Yakin, kok. Emang kenapa?” Rissa meminta penjelasan.

“Sebenarnya aku juga suka sama kamu, tapi aku nggak tau harus ngapain.” Farhan menunduk lesu.

Rissa memandang cowok itu penuh harap. “Kalau lo juga suka sama gue, apa salahnya kita pacaran?”

Farhan menghela napas. “Nggak ada yang salah, kok.”

“Berarti kita resmi pacaran?” Rissa mulai semringah.

Farhan mengangguk, kemudian tersenyum lebar. Dengan cepat, Rissa memeluk cowok itu riang. Awalnya Farhan ragu-ragu membalas karena masih canggung. Akan tetapi, perasaan cintanya tidak dapat dibendung. Dia balik merangkul Rissa semakin erat dan nyaman.

 

***

 

Hubungan Rissa dan Farhan berjalan aman. Diam-diam, para siswa saling menebak kapan mereka akan putus. Namun, semua tebakan mereka salah. Dan berkat hubungan mereka inilah, semangat mereka mengikuti olimpiade bertambah. Tim mereka berhasil menyabet juara pertama dalam olimpiade.

Sepasang kekasih itu berjalan sejajar menyusuri lorong. Semenjak jadian dengan Farhan kurang lebih sebulan lalu, bahkan ketika persiapan olimpiade dimulai dua bulan sebelumnya, Rissa sudah tidak banyak menghabiskan waktu dengan Tika. Jam istirahat pertama dan kedua serta sepulang sekolah selalu ia habiskan bersama Farhan. Namun, Tika memahami itu. Dia membaur dengan teman cewek lainnya untuk menggosip dan bertukar cerita. Rissa dan Tika saling mengobrol hanya saat keduanya di kelas.

Seperti istirahat kedua hari ini, Rissa mengajak Farhan ke taman belakang. Duduk di bangku kayu, meneduh di bawah pohon bungur.

“Nggak kerasa udah tiga puluh delapan hari lebih dua belas jam kita pacaran,” Farhan mengawali pembicaraan.

“Wah! Ini pacaran terlama gue,” timpal Rissa. “Aneh, kenapa bareng lo bisa seawet ini, ya?” Cengir Rissa saat Farhan hanya menggeleng-geleng heran. “O, iya, pertanyaan gue belum lo jawab. Sebenernya kenapa, sih, lo ngedeketin gue?”

Rissa menatap Farhan dalam, penasaran dengan jawaban Farhan.

Tapi Farhan malah tampak kebingungan. Seperti sebelum-sebelumnya, dia tidak bisa menjawab. Ini adalah pertanyaan paling sulit baginya, bahkan soal-soal sains setara olimpiade lebih gampang daripada pertanyaan dari Rissa barusan.

“Kenapa, Han?” tagih Rissa.

“Jujur, aku bingung,” jawab Farhan lirih.

“Bingung? Kenapa?” Rissa tidak menyangka akan mendapatkan jawaban itu.

“Aku nggak ada alasan buat deketin kamu, Ris,” desah Farhan lirih. “Seperti ada yang berbisik di telingaku. Suara kecil yang menyuruhku buat deketin kamu.”

Rissa bingung. Penjelasan itu tidak bisa ia mengerti. “Maksudnya? Suara kecil?”

“Hati dan instingku juga berkata jika kamu adalah orang baik dan akan cocok sama aku,” sambung Farhan membuat Rissa makin kebingungan.

“Oke, gue nyerah. Gue nggak paham lo ngomong apa, Han. Tapi, apa pun alasan lo, yang penting kita udah jadian sekarang.” Rissa tersenyum kecil, meraih tangan Farhan untuk menenangkan.

 

***

 

Seperti halnya remaja-remaja lain yang berpacaran, Farhan selalu mengantar Rissa pulang ke rumah. Walau cowok ini hanya menaiki motor matic berwarna biru terang yang jauh dari kesan maskulin, Rissa tidak gengsi. Dia senang dibonceng Farhan, sebab cowok itu sering mengajaknya pergi ke suatu tempat untuk bersenang-senang sebelum pulang ke rumah. Siang ini, sepasang kekasih itu mengunjungi Pondok Indah Mall. Mulai dari bermain mesin capit boneka, berburu es krim gelato, dan berakhir di restoran sederhana yang menyajikan makanan khas Jepang.

“Kamu suka, Ris?” Farhan menatap Rissa sedang melahap ramen daging sapi.

“Suka banget,” jawab Rissa rada menggumam, sebab mulutnya sedang mengunyah.

Cowok berkulit kuning langsat ini tersenyum lebar, memandang Rissa sedu. “Maaf, jika aku hanyalah kesialan bagimu. Tapi bagiku, kamu adalah keberuntungan yang tidak mungkin kutinggalkan.”

Mendengar ucapan Farhan, Rissa berhenti melahap ramen yang tersisa sepertiga porsi. “Lo ngomong apaan, sih? Gue nggak pernah nganggep lo sebagai kesialan, kok.”

“Kamu pernah ngomong begitu di kedai boba waktu itu, dan kamu janji akan bercerita sesuatu kepadaku. Kamu nggak lupa, kan?” Farhan mengingatkan kejadian saat mereka masih awal-awal bertemu.

Rissa tertegun. Dia baru mengingatnya. “Iya, gue masih inget, kok.”

Farhan tidak menanggapi.

Keduanya bungkam beberapa menit. Kemudian Rissa berkata, “Mungkin, sudah saatnya lo tau semuanya tentang gue, Han.”

Cewek itu menarik napas dalam. Berusaha tenang, tetapi gagal. Mana mungkin dia merasa baik-baik saja ketika ingatan tentang masa lalunya dipaksa kembali berputar, seperti luka kering yang harus dibedah kembali. Nyeri, rasanya sakit sekali. Kenangan masa lalu bersama Rino, sahabat dan mungkin cinta pertama Rissa yang telah sirna lima tahun lalu.

“Rino bukan pacarku,” bela Rissa kecil saat disoraki berpacaran dengan bocah laki-laki berusia dua belas tahun. “Iya, kan, No?”

Ketika berpaling, Rissa kecil tidak menemukan orang yang dimaksud di sebelahnya. Matanya menyorot ke segala arah, lalu menemukan sosok yang dicari sedang bermain bola dengan anak laki-laki sebayanya. Sementara dia dan gadis-gadis kecil lain hanya menonton dari pinggir lapangan.

“Rino, semangat!” pekik Rissa kecil ketika Rino menggiring bola.

“Ciye … perhatian banget, sih,” goda Amel.

“Iya. Dari tadi lihatin Rino terus. Kamu suka, ya?” tanya Dian.

Dua gadis cilik di sebelahnya membuat pipi Rissa kecil menghangat. “Enggak, kok.”

“Terus kenapa kalian kemana-mana selalu barengan?” Dian menyudutkan.

“Rino, kan, anak si mbok,” jawab Rissa kecil pelan, takut merendahkan.

Yup! Persahabatan keduanya tercipta karena hubungan keluarga mereka. Saat umur Rissa lima tahun, mamanya membawa seorang wanita tua dan bocah laki-laki dekil dari sebuah panti sosial. Mama mengagumi sifat sopan wanita tua itu, juga anak laki-lakinya yang berumur lima tahun sangat mandiri. Karena itulah, mama berniat mengajak ibu dan anak itu ke rumah untuk bantu-bantu. Mereka biasa dipanggil Mbok Yanti dan Rino. Sejak itu, Rissa kecil diperkenalkan dengan Rino, dan mereka klop.

“Kita sudah kelas enam, Rissa. Jadi wajar saja kamu suka laki-laki,” terang Dian.

“Tapi aku sama Rino cuma sahabatan,” balas Rissa kecil polos.

“Aku tidak yakin,” sahut Amel. “Suatu hari nanti kamu pasti menyukainya.”

Rissa kecil memilih tidak membuka mulut. Dia berpaling, menatap sahabat laki-lakinya bermain di tengah lapangan. Matanya belok, hidungnya agak mancung, bibirnya tipis berwarna merah muda. Sungguh memesona. Rissa kecil diam-diam mengagumi fisik Rino. Mungkin dia sedikit tertarik, atau ini yang disebut suka?

Air mata Rissa terus mengalir membasahi pipi. Kepalanya menunduk, kedua tangannya meremas rok sekuat tenaga. Kenangan itu sangat menyanyat hatinya. Farhan merasa tidak enak. Dia menyuruh pacarnya untuk berhenti bercerita karena dia tidak ingin melihat cewek itu terus-terusan menangis.

“Udah, Ris. Aku tidak mau kamu menangis lama-lama,” ujar Farhan, walau sebenarnya dia belum menangkap apa yang membuat Rissa mengatakan jika dia adalah kesialan.

“Gara-gara gue, semuanya berubah,” kata Rissa lagi.

Farhan tidak menuntut Rissa untuk melanjutkan. Namun, mimik mukanya yang penuh tanda tanya membuat Rissa ingin terus bercerita.

“Gue membunuh sahabat gue sendiri.” Satu kalimat itu membuat Farhan tercekat.

“Gi-gimana maksudnya?” Farhan syok.

“Rino sudah meninggal dunia, Han. Gue-lah pembunuhnya!” pekik Rissa.

“Mustahil.” Farhan menggeleng tak percaya.

“Gue bisa buktiin.”

 

***

 

Besoknya, sepulang sekolah, Rissa memenuhi ucapannya. Dia mengajak Farhan ke makam Rino untuk membuktikan jika dia benar-benar membunuh sahabatnya. Sesampainya di pemakaman umum, lalu berjalan menuju ke batu nisan Rino, Farhan merasa ada yang aneh. Dia berusaha menempis pikiran itu. Akan tetapi, jantungnya berdetak sangat cepat saat Rissa berhenti di sebuah nisan berwarna putih pudar.

“Kita udah sampai.” Cewek itu mulai meneteskan air matanya.

Satu kalimat yang muncul dari mulut Rissa membuat Farhan terkejut sepenuhnya. “Kamu yakin, Ris?”

Rissa mengangguk, kemudian menoleh kepada cowok di sampingnya. “Kenapa, Han?”

“Ini makam saudara kembarku, Ris. Bunda sering mengajakku ke sini,” Farhan membaca nama yang terukir di batu itu, “Farkan Karino Putra.”

Pernyataan itu menghantam perasaan Rissa. Matanya terbelalak, mulutnya menganga, kepalanya menggeleng tidak percaya. Selama mengenal Rino tujuh tahun, dia tidak pernah mendengar jika sahabatnya itu memiliki saudara kembar. Setahu Rissa, kehidupan Rino sebelum berada di panti sosial jauh lebih sengsara. Mbok Yanti dan anak laki-laki itu bertahan menjadi gelandangan di bawah jembatan. Hanya berdua, tidak ada sosok ayah apalagi saudara kembar.

“Lo nggak usah mengada-ada, Han.” Rissa tersenyum pahit.

“Aku serius, Ris.” Farhan berjengkeng menghadap makam Rino. “Namanya Farkan. Kami dipisahkan sejak berumur lima hari.”

“Nggak mungkin, Han.” Rissa masih menyangkal.

“Kata Bunda,” Farhan melanjutkan tanpa memedulikan sanggahan Rissa, “Ayah kami kabur dari rumah saat Ibu mengandung kami. Karena itulah, Ibu nggak bisa melunasi biaya persalinan rumah sakit. Bunda yang bekerja sebagai dokter waktu itu, ingin sekali punya anak laki-laki, tapi dia belum menikah. Umurnya juga sudah empat puluh tahun lebih, jadi kemungkinannya menikah sangat kecil. Akhirnya Bunda membantu melunasi sisa biaya persalinan dan mengadopsiku sebagai imbalannya.”

Rissa bergeming. Dia tidak tahu harus menanggapi apa.

“Awalnya, hubungan Bunda dan Ibu terputus karena Ibu nggak punya handphone. Tapi Bunda berhasil menemukannya saat Ibu dan Farkan dibawa ke panti sosial, dan hubungan mereka terjalin lagi,” sambung Farhan. “Bunda senang saat tahu Ibu dan Farkan dibawa ke rumah orang baik. Awalnya, kata Ibu hidup mereka sangat enak. Farkan punya banyak teman dan seorang sahabat baik. Tapi setelah kematian Farkan, Ibu jadi berubah. Ibu tidak terlalu sering mengabari Bunda lagi.”

Rissa tidak menyangka petualangannya mencari sosok pengganti Rino malah berakhir di saudara kembar sahabatnya. Kini, pertanyaan besarnya terjawab tuntas. Kenapa keduanya sangat mirip? Dan kenapa Farhan tiba-tiba mendekatinya? Ya! Mereka saudara kembar. Ikatan batin keduanya pasti kuat sekali.

 “Pantes lo selalu ngingetin gue sama Rino,” desis Rissa kecil. “Apalagi tentang tragedi kematian Rino. Gue menyesal.”

Farhan mendongakkan kepala, menatap wajah Rissa yang mulai sendu. “Kata Ibu, Farkan meninggal karena dibunuh si pemilik rumah. Apa benar itu kamu yang melakukannya?”

“Iya.” Rissa mengangguk lemah.

Farhan bergegas bangkit. Menatap Rissa yang sudah mengalirkan air matanya. “Kenapa kamu tega, Rissa?! Apa alasanmu?”

Masa lalu kelam pun akhirnya terbongkar. Rissa tidak akan pernah melupakan kejadian itu, bahkan hingga hal terkecil sekalipun.

Rissa kecil dan Rino pulang dari lapangan sepak bola menaiki sepeda keranjang milik kakak perempuan Rissa. Sebagai anak laki-laki, Rino yang akan membonceng. Sedangkan Rissa kecil hanya duduk diam di jok belakang sepeda. Mbok Yanti pernah berpesan kepada bocah laki-laki itu untuk selalu menjaga Rissa kecil hingga dewasa nanti. Sebab hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membalas budi keluarga Rissa yang sudah menampung mereka.

“Jangan ngebut, Rino,” pekik Rissa kecil. Rambutnya berkibar diterpa angin.

Rino bersemangat mengayuh sepeda, menyusuri tepi jalan yang ramai kendaraan. Karena hembusan angin sangat kencang, pita rambut Rissa kecil pun terbang.

“Pitaku!” pekik Rissa kecil, kemudian sepeda dihentikan.

“Dimana, Ris?” Rino turun dari sepeda, menengok kanan-kiri.

Di sana.” Rissa kecil menunjuk sehelai pita merah marun di tengah jalan.

“Tunggu, ya.” Cowok berkulit kuning langsat itu mengambil ancang-ancang.

Rissa kecil khawatir. Saat sahabatnya berlari ke tengah jalan, terdengar suara klakson motor kencang sekali. Seorang wanita berhijab mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Kaki Rino bergerak lincah dan cekatan, memungut pita di tengah jalan dan berhasil sampai seberang dalam kondisi baik-baik saja.

“Aku dapat,” sorak Rino girang.

Anak laki-laki itu tidak mengerti jantung Rissa kecil hampir copot melihat kejadian tadi. Rino nyaris tertabrak!

“Kamu bikin takut aja, ih,” omel Rissa kecil, melampiaskan kekhawatirannya. “Ayo cepat ke sini. Lari sekarang juga!”

Tanpa pikir panjang, Rino mengikuti perintah itu. Kakinya bergerak secepat cheetah menuju Rissa kecil. Akan tetapi, sebuah mobil tiba-tiba muncul dari ujung jalan, terus maju tanpa mengerem keempat rodanya. Sayang, keberuntungan Rino sudah habis. Tubuh kurusnya diseruduk mobil itu sangat brutal. Dia terpelanting hingga beberapa meter. Kemudian, terkapar lemah di atas aspal dengan darah segar mengalir dari kepalanya.

Detik berikutnya, jalanan sudah dipenuhi warga sekitar. Rissa kecil terdiam sejenak, batinnya terkoyak. Dia bergegas lari ke gerombolan yang mengelilingi Rino. Gadis kecil itu menatap sahabatnya terkulai lemas sambil menggenggam pita merah marun kesayangannya.

“Rino …” rintih Rissa kecil ketakutan.

Penyelamatan segera dilakukan. Salah satu warga memanggil ambulan, satunya lagi membopong tubuh Rino yang tak sadarkan diri. Rissa kecil juga diajak ke rumah sakit untuk dimintai keterangan. Lima belas menit selajutnya, orang tua Rissa dan Mbok Yanti datang.

Rissa kecil bisa melihat kepanikan ketiga orang itu. Karena dia hanya menunggu di bangku panjang depan ruangan, Rissa kecil tidak tahu apa yang tengah terjadi di dalam sana. Anak perempuan itu mendengarkan tangis Mbok Yanti pecah. Selang beberapa detik, papa keluar dari ruangan. Duduk di sebelah Rissa kecil, lalu merangkul gadis mungil itu.

Papa menengok kepada putrinya. “Kamu tidak papa, kan, Sayang?”

“Tidak papa, Pa,” desis Rissa kecil. “Kalau Rino kondisinya gimana? Tadi kata bapak-bapak yang gendong dia, Rino masih belum sadar.”

Papa menghela napas, kemudian tersenyum. “Dia sudah pergi ke surga mendahului kita semua, Sayang.

Rissa kecil melongo, menatap papanya penuh pertanyaan. “Rino meninggal, Pa? Kenapa?”

“Kepalanya terbentur aspal sangat keras. Pembuluh darah di otaknya pecah,” jelas papa pelan. “Kamu jangan lupa doakan dia, ya.”

Sejak itu, hari-hari Rissa kecil menjadi sepi. Kegiatannya tidak lagi asyik. Kesedihannya larut hingga berminggu-minggu. Dia memutuskan untuk lebih banyak berdiam diri. Walau papa mama sering menghibur dan menenangkan, hatinya tak kunjung sembuh dari keterpurukan. Sebab Mbok Yanti menyalahkan Rissa kecil atas kematian Rino.

“Gara-gara mengambil pita kamu, anak saya jadi meninggal,” kata Mbok Yanti geram.

Wanita tua itu merasa tertekan setiap melihat Rissa kecil. Dia akan selalu teringat tentang Rino yang meninggal karena mengambil pita merah marun Rissa kecil. Sebab itulah, dia memilih untuk hengkang dari rumah dan kembali ke panti sosial.

Mendengar runtutan tragedi kematian Rino, Farhan hanya bisa mematung. Matanya menyorot cewek di depannya. Tangis Rissa sangat hebat. Mukanya basah kuyup, hidungnya merah, bibirnya melengkung ke bawah. Farhan tidak pernah mengira bisa melihat cewek yang selama ini tampil kuat, dingin, dan arogan berada di titik paling rapuh.

Cowok itu memeluk erat tubuh Rissa. Perasaannya campur aduk. Sebelum kebenaran terungkap, Farhan sangat membenci pembunuh saudara kembarnya. Meskipun tidak pernah bertemu dan mengobrol, bagi Farhan saudara itu adalah segalanya. Dia punya mimpi untuk bersatu dengan Farkan. Namun, impian itu harus dilenyapkan oleh kenyataan. Dan cewek yang dia cintai itulah penyebabnya.

“Mungkin benar, Farkan jadi korban tabrak lari gara-gara mengambil pitamu,” Farhan membuka percakapan. “Tapi menurutku, kamu tidak salah.”

“Gue salah, Han. Harusnya gue sendiri yang ngambil pita itu, bukan Rino!” Rissa terbenam dalam dada Farhan.

“Menurutku, Farkan ingin melindungimu, Ris. Dia hanya menuruti pesan Ibu,” tutur Farhan lembut.

Rissa tidak mampu menjawab lagi. Isak tangisnya makin menjadi-jadi. Farhan memeluk cewek berambut gelombang itu penuh kasih, tidak peduli seragamnya menjadi basah karena air mata Rissa. Dia tidak mungkin membenci gadis penyebab kematian saudara kembarnya ini.

“Tanamkan dalam hatimu, kamu tidak bersalah. Kamu tidak perlu merasa bersalah akan kematian Farkan,” bisik Farhan kecil. “Maafkan diri kamu sendiri, Ris.”

“Tapi gue—”

“Enggak! Kamu nggak salah,” Farhan memotong pembicaraan Rissa, dia bisa menebak jika cewek itu akan menyalahkan dirinya sendiri. Lagi.

 Selama ini dugaan Farhan salah besar. Pikirannya terlalu liar ketika Mbok Yanti bilang Rino meninggal karena dibunuh. Menurutnya, Rissa tidak bersalah. Cewek itu tidak berhak untuk terus menyalahkan dirinya sendiri. Karena itu, setiap hari Farhan memberinya sugesti positif supaya mental Rissa pulih. “Maafkan dirimu sendiri, Rissa. Kematian Farkan murni kecelakaan, bukan karenamu,” ucap Farhan hampir setiap kali mereka bertemu.

Dan berhasil. Cewek itu mulai memaafkan dirinya sendiri dan menerima kenyataan.

 

***

 

Seperti hari-hari di akhir pekan sebelumnya, Rissa mengajak Farhan mengunjungi kedai boba di jalan Dewi Sartika. Mereka sepakat untuk datang pukul sembilan pagi. Namun, Rissa tiba lima belas menit lebih awal dari perjanjian. Cewek itu duduk di bangku depan jendela dan menatap jalan seraya menunggu kedatangan kekasihnya.

Akan tetapi, cowok yang ditunggunya itu tak kunjung menampakkan diri. Padahal jarum jam sudah menunjuk ke angka sembilan. Rissa heran, tak biasanya Farhan datang terlambat. Mungkin kejebak macet, batinnya tetap mencoba tenang.

Pada saat yang bersamaan, di jalan yang berjarak tiga blok dari kedai boba, sebuah motor matic melaju dengan kecepatan seratus kilometer per jam. Meliuk-liuk menyerobot jalan kendaraan lain. Para pengendara berteriak tidak terima, tetapi cowok yang menaiki motor matic itu tidak menghiraukan. Dia harus sampai di kedai boba secepat mungkin. Karena kecerobohannya sendiri, motornya menubruk mobil yang mengerem dadakan di depannya. Dia terjatuh, tetapi sebuah motor lain dengan kecepatan tinggi datang dari belakang. Kecelakaan beruntun pun dimulai.

Berita itu menyebar cepat di media sosial. Rissa panik, kecemasannya menanjak drastis. Farhan belum juga muncul. Ditelepon pun, ponselnya tidak aktif. Rissa hanya butuh kabar, setidaknya untuk membuatnya berpikir jernih.

“Kecelakaan terjadi tepat pukul sembilan pagi. Diduga, kecelakaan ini disebabkan oleh seorang pengendara motor ugal-ugalan berusia sekitar tujuh belas hingga dua puluh tahun. Satu korban tewas di tempat,” Rissa membaca hot news di media sosial berulang kali. Memastikan jika matanya tidak salah melihat informasi.

Kemudian, cewek berkulit putih itu menyadari sesuatu. “Jam sembilan tepat? Apa ini sumpah Garu buat gue? Kalau iya, berarti …”

Bibirnya bergetar hebat. Pikirannya kacau balau. Sejak seminggu lalu, dia sudah tidak lagi mendapatkan kesialan di angka sembilan. Dia kira, semua sudah berakhir. Nyatanya tidak! Rissa percaya bahwa kecelakaan beruntun ini berkaitan dengan dirinya dan kesialannya.

“Farhan!” Rissa histeris.

Cewek itu berlari keluar kedai. Menaiki motornya dan melesat menuju lokasi kejadian. Air matanya tumpah. Hatinya hancur berkeping-keping. Tragedi kematian Rino kembali hadir dalam benaknya. Dan kini, hal itu terjadi pada saudara kembar Rino. Lagi-lagi, semua karena Rissa. Andai saja dia tetap sepakat dan bersabar untuk bertemu Farhan pukul sepuluh pagi, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.

Setibanya di lokasi kejadian, pandangannya dipenuhi oleh puluhan orang berseliweran. Sebagian besar sibuk membantu. Beberapa yang lain malah merekam dengan ponselnya. Tiga polisi yang berdiri di tengah jalan, mengatur lalu lintas dan menandai TKP. Rissa berhenti di pinggir jalan, memarkirkan motor, lalu berlari menuju kerumunan.

Tubuhnya lemas seketika. Harapannya telah sirna. Di tengah kerumunan itu, Rissa melihat motor matic remuk yang berwarna biru terang. Sudah jelas! Itu motor pacarnya. Selain model motor Farhan jarang dimiliki kebanyakan orang, plat nomor yang tertempel di bumper depan sangat tidak asing bagi Rissa.

“Itu motor Farhan.” Rissa menutup mulutnya yang menganga.

Menguping dari pembicaraan warga di sampingnya, Rissa bisa menyimpulkan jika pengendara motor itulah yang meninggal dunia. Dunianya hancur untuk yang kedua kali. Cewek itu berjalan mundur pelan-pelan. Hatinya mencelus. Tatapannya tidak fokus. Perasaan bersalah balik menyerangnya. Tubuhnya yang mulai lemas, menyebabkan dirinya tidak sanggup menahan dorongan-dorongan di antara padatnya orang berkumpul. Rissa pun terjatuh, tetapi dia tidak mampu bangkit. Hanya bisa menitikkan air mata sembari menyesali perbuatannya.

“Jangan di sini! Kamu menghalangi jalan!” Samar-samar, Rissa mendengar teriakan itu. Tangannya ditarik keluar dari kerumunan. Namun, dia tidak peduli siapa itu, sebab di dalam otaknya saat ini hanyalah kematian Farhan dan rasa bersalahnya.

“Kenapa kamu ada di sini, Ris?!”

Cewek itu mendongak. Orang yang menariknya dari kerumunan adalah cowok yang sedang dia khawatirkan. Masih berdiri tegak dalam kondisi sehat tanpa luka segores pun. Air mata Rissa keluar lebih deras lagi. Tangannya segera memeluk badan cowok itu erat, seakan ini pelukan terakhirnya.

“Gue takut banget lo kenapa-kenapa, Farhan. Gue tadi lihat motor lo rusak parah. Kenapa lo nggak ngabarin gue, sih?! Ditelepon juga nggak bisa!” omel Rissa, menumpahkan segala emosinya.

Farhan membalas pelukan Rissa. “Maaf, aku sudah bikin kamu khawatir, Rissa. Aku kasihan, penjaga kedai boba yang suka menggoda kita itu menjadi korban kecelakaan ini. Dia meninggal dunia. Aku cepat-cepat turun dari motor buat menolong dia dan nggak kepikiran kasih kabar ke kamu.

“Tapi kata orang-orang, korban yang meninggal adalah pemilik motor matic warna biru. Bukan penjaga kedai boba,” elak Rissa.

“Mereka salah. Aku masih hidup, kok.” Farhan mengelus rambut cewek di dekapannya. “ Aku nggak papa, Ris.”

Rissa menatap Farhan penuh tanya. “Terus kenapa motor lo jadi kayak gitu?”

“Motorku ditabrak mobil yang menghindari kecelakaan beruntun ini,” jelas Farhan.

Rissa lega dan bahagia karena dugaannya salah. Farhan masih hidup. Dia tidak membunuh siapa pun. Hari itu juga Rissa yakin bahwa sumpah angka sembilan Garu sudah tidak berlaku lagi. Ya, karena dia sudah tidak ingin menganggap cowok adalah mainan. Dia kini cuma mau Farhan, nggak ada yang lain. Titik!

 

***

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!