Asa untuk Asmaraloka
38.5
7
294

Kematian terlihat didepan matanya. Tinta merah tak jarang keluar dari dengkungan batuk. Tangisan pilu terdengar menggema di sepanjang ruang. Wanita dengan seragam putih itu menyerngit dan berharap asmaraloka bisa terhindar dari lara yang terus membayang.

No comments found.

Asa untuk Asmaraloka

 

Selebaran brosur bewarna biru itu diberikan kepadanya. Dengan senyum mahasiswi berseragam putih itu mengangguk dan melangkah menjauh. Selebaran dengan tulisan besar bewarna merah bertuliskan tiga huruf. T,B, dan C.

“Selamat pagi pak dokter!” sapa beberapa orang wanita seragam putih menunduk sopan padanya. Seorang pria yang membawa jas putih di tangannya.

“Ya selamat pagi juga,” jawab pria itu dengan senyum di wajahnya.

Lalu lalang segera memenuhi gedung dengan warna putih itu. Beberapa orang dengan seragam putih segera berjaga di posisi yang ditentukan. Sedangkan yang lainnya mulai melayani orang-orang yang datang. Pria tadi segera melangkah menuju ruangannya. Membuka pintu bewarna coklat aroma lavender segera menyambut penciumannya.

“Selamat pagi dokter!” sapa seorang wanita berseragam putih yang sedang memeriksa beberapa berkas ditangannya.

“Selamat pagi juga perawat Lisa,” jawab dokter itu tersenyum dan mulai duduk di kursinya.

Perawat tadi hanya mengangguk dan mulai menyerahkan beberapa berkas ditangannya pada sang dokter. Dokter itu mulai membaca beberapa berkas yang berisi data pasien yang tengah mereka hadapi.

“Semakin banyak yang positif ya,” ucap sang dokter menghela nafas sambil meneliti berkas didepannya.

“Ya dokter.”

Suara kertas mengisi ruangan dengan aroma lavender itu. Sang perawat hanya menatap dokter didepannya yang tampak fokus. Pikirannya mulai melambung dan keluar dari tubuhnya memikirkan angka-angka yang terus naik.

Suara helaan nafas sang dokter segera menarik kesadarannya. Dengan ragu perawat muda itu memandang wajah sang dokter yang penuh dengan kecemasan.

“Ada masalah dokter?” tanya Lisa ragu. Dokter muda dengan nama Angga itu hanya menggeleng dan kembali memeriksa data pasien didepannya. Lisa hanya mengangguk dan menunggu sang dokter selesai dengan berkasnya. Kembali melamun gadis itu menatap sudut ruangan yang penuh dengan tanaman hijau.

“Lisa.”

“Ya dokter?”

“Menurutmu kenapa angka-angka ini terus naik?” tanya Angga menunjukkan sebuah grafik dengan kurva naik.

“Mungkin saja dokter jika pasien terus lalaidan tidak peduli dengan ucapan kita,” jawab Lisa memperhatikan kertas ditangan Angga. Angga sekilas mengangguk dan mengambil kertas lainnya.

“Kebanyakan dari mereka adalah pasien-

Suara ketukan di pintu memutus ucapan Angga membuat dokter muda itu menatap kearah pintu dan mempersilahkan siapaun yang ada disana untuk masuk. Pintu besi putih itu terbuka dan menampilkan wajah panik seorang perawat. Dengan langkah tergesa-gesa perawat itu berlari menuju meja sang dokter.

“Ada apa?” tanya Angga berdiri mengetahui situasi genting yang akan datang.

“Pasien di kamar 2A mendadak batuk darah dok,” ucap perawat itu sambil menetralkan nafasnya. Angga yang mendengar itu segera meminta sang perawat untuk mengantarnya diikuti oleh Lisa yang menutup pintu ruangan sang dokter.

Dalam perjalan yang terasa cepat itu lalu lalang pasien tampak ramai. Beberapa bahkan terdengar batuk dan bersuara serak. Lisa menatap pasien-pasien yang semakin banyak sambil mengeratkan masker medis diwajahnya.

Angga yang sudah rapi dengan seragam dokter serta masker medis di wajahnya memasuki ruang pasien 2A. Suara hiteris dan heboh segera memasuki pendengaraanya. Beberapa orang didalam ruangan yang melihat sang dokter segera berlari kearahnya.

“Dokter! Kenapa tiba-tiba ayah saya batuk darah!” tanya seorang remaja menghentikan jalan Angga.

Dokter muda itu hanya menjawab seadanya dan segera mendekat kearah pasien.

“Apa pasien minum obat dengan teratur?” tanya Angga menatap orang-orang dalam ruangan.

“Teratur dok selama masa pengobatan. Hanya saja ayah berhenti minum obat seminggu yang lalu,” jawab remaja tadi.

“Alasannya? Bukankah tahap pengobatan pasien selama 6 bulan?” tanya Angga sambil memeriksa pasien didepannya. Lisa dan salah seorang perawat yang berada dibelakangnya sudah bersiap dengan beberapa alat yang diperlukan.

“Ayah bilang keluhannya sudah hilang. Jadi ayah berhenti minum obat,” jawab remaja itu.

Angga kembali menghela nafas dan membiarkan Lisa dan perawat lainnya mengambil sample darah pasien. Dokter muda itu berbalik menatap remaja didepannya.

“Apa kamu tau penyakit apa yang dialami ayahmu?” tanya Angga.

“T-tbc kan dok?”

“Ya. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri yang bersifat tahan asam dan butuh waktu jangka panjang dalam penyembuhannya,” jelas Angga.

“Lalu apa ayah bisa sembuh?”

“Saya akan jawab iya jika ayahmu meminum rutin obatnya. Tapi ayahmu lalai bahkan tidak meminum obatnya,”

“Tapi ayah bilang ia tidak merasakan apa-apa,” ucap remaja itu.

“Nak. Meski ayahmu tidak merasakan apa-apa bukan berarti beliau sudah sembuh. Butuh pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan bahwa bakteri itu tidak ada dalam tubuh ayahmu,” jelas Angga.

Remaja itu hanya diam dan menunduk. Raut wajah penyesalan memenuhi wajahnya. Matanya beralih menatap sang ayah yang tampak pucat diatas ranjang rumah sakit.

“Lalu apa langkah selanjutnya dokter?” tanya remaja itu.

Angga menatap Lisa yang sudah selesai dengan sample darah dan sputum pasien dan perawat lainnya yang mulai memasangkan infus pada sang pasien. Dokter muda itu menenangkan remaja didepannya dan menjelaskan hal yang sederhana. Remaja itu harus menunggu kembali hasil laboratorium untuk darah dan sputum sang ayah untuk memastikan kembali tingkat penyakit TBC sang ayah. Dokter itu segera pamit dari ruang pasien diikuti Lisa.

Perawat disamping Lisa segera membawa sample darah serta sputum itu menuju laboratorium sedangkan Lisa mengikuti kembali langkah Angga menuju ruangannya.

“Apakah pasiennya selalu seperti itu dokter?” tanya Lisa menutup pintu ruangan.

“Ya. Kebanyakan dari mereka menganggap jika keluhan sudah hilang mereka bisa berhenti minum obat. Nyatanya tidak semudah itu untuk menyelesaikannya,” jawab Angga bersandar pada kursinya.

“Contoh sederhananya saat pasien berobat ke Puskesmas dan mendapat antibiotik dari dokter. Saat keluhan sudah hilang dihari ketiga atau keempat dan obat belum habis. Pasien tidak meminum antibiotiknya sampai habis sesuai anjuran dokter. Itu salah besar!” tambah Angga.

“Antibiotik harus dihabiskan untuk mencegah bakteri yang sama kebal terhadap obat jika infeksi yang sama kembali terjadi kan dokter?” tambah Lisa.

“Benar. Obat antibiotik yang diresepkan dan tidak habis memicu terjadinya resistensi antibiotik pada tubuh. Meski sudah merasa sehat, bisa saja bakteri yang menginfeksi tubuh masih belum sepenuhnya mati. Sisa bakteri yang masih hidup ini bisa kembali bermutasi dan menginfeksi ulang,” tambah Angga.

Lisa mendekat dan membaca data pasien sebelumnya. Pasien yang baru saja mendapatkan penyakit TBC dengan riwayat pengobatan terbilang baru.

“Apakah pasien ini akan resisten terhadap obat dokter?” tanya Lisa.

“Ya. Pasien bisa saja resisten terhadap bakteriosid, Rimfampisin, dan Isoniazid.”

Lisa kembali terdiam dan menyerahkan berkas ditangannya kepada Angga. Dokter itu kembali menganalisa data pasien didepannya sedangkan Lisa segera keluar ruangan menuju tugas berikutnya. Perawat muda itu mulai berjalan menuju laboratorium hendak mengambil beberapa hasil uji pasien.

“Hei Lisa!” panggil seorang perawat yang tengah menggunakan seragam laboratorium dari dalam laboratorium.

“Oh Iwan. Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Lisa mendekat.

“Mengambil sample sputum pasien. Beberapa analis didalam ruangan tengah cuti jadi aku membantu pasien mengantar dan menerima sample sputumnya,” jawab Iwan sedangkan Lisa hanya mengangguk.

“Apa ada pesan dari dokter Angga?” tanya Iwan setelah menerima beberapa kotak berisi sputum pasien.

“Tidak. Aku hanya mengambil hasil uji pasien yang baru datang tadi. Apa sudah selesai?” tanya Lisa.

“Ya itu tengah dikerjakan. Apa pasiennya darurat?” tanya Iwan.

“Lumayan. Pasien lalai dan berakhir dengan kondisi menurun.”

“Lagi?! Apa mereka tidak takut dengan gejala lainnya,” tanya Iwan kesal.

“Jika terus begini kurasa angka pasien Tb di negera kita akan semakin tinggi,” ucap Lisa. Iwan hanya bisa mengangguk sebagai responnya.

Tak lama perawat muda itu mendapatkan kertas dari Iwan dan kembali berjalan menuju ruangan Angga. Ditengah jalan gadis itu menatap seorang anak yang tengah duduk diantara ramainya pasien lainnya. Dengan wajah yang pucat sambil sesekali batuk.

“Apa anak itu pasien?” batin Lisa.

Saat sampai didepan pintu ruangan Angga perawat muda itu kembali mengetuk pintu ruangan dan saat mendengar sahutan Angga perawat muda itu mulai membuka pintu.

“Jadi bagaimana hasilnya?” tanya Angga.

“Hasil tes IGRA menunjukkan adanya lokasi lain dari bakteri dokter,” jawab Lisa menyampaikan jawaban dari analis laboratorium.

“Untuk tes lainnya masih belum?” tanya Angga dan dijawab gelengan kepala oleh Lisa.

“Baik Lisa. Silahkan istirahat! Ini sudah jam makan siang bukan?” ucap Angga dan perawat muda itu hanya mengangguk dan segera pamit keluar.

Menuju kantin yang berada diluar rumah sakit Lisa kembali berpapasan dengan Iwan. Pemuda itu dengan suara yang tinggi segera menghampiri Lisa dna mengajaknya makan bersama.

“Apa yang kamu pikirkan Lisa?” tanya Iwan memecah lamunan Lisa.

“Hanya tentang pasien tadi.”

“Kamu suka ya sama pasien tadi?” tanya Iwan terkejut. Lisa yang mendegar itu segera mencubit telinga Iwan membuat pemuda itu mengaduh kesakitan dan meminta ampun.

“Jadi? Apa yang mengusikmu?”

“Kenapa banyak diantara pasien yang dengan santai  berhenti minum obat. Apa mereka tidak takut dengan gelaja lanjutannya?” tanya Lisa sambil mengaduk bakso didalam piringnya. Iwan yang mendengarnya hanya menghela nafas dan kembali memakan baksonya.

“Bahkan angka-angka dalam data pasien itu semakin meningkat,” tambah Lisa.

“Lalu kita harus bagaimana? Kita hanya perawat Lisa,” jawab Iwan.

“Lalu kamu akan lepas tangan begitu? Bahkan angka TBC di negara kita masih tinggi tidakkah kamu ingin menguranginya?!”

Iwan hanya diam dan tak menanggapi perkataan Lisa. Lalu lalang di kantin tak menghentikan pertanyaan yang terus berputar dikepala Lisa.

“Lalu apa yang akan kamu lakukan Lisa?” tanya seseorang duduk didepan keduanya.

“Eh dokter Angga!” seru Iwan kaget saat dokter yang jadi idola itu duduk di depannya.

Angga hanya menatap kedua perawat didepannya tersenyum. Mata coklatnya beralih menatap Lisa yang tetap diam menyambung makanannya. Merasa ditatap gadis itu menatap sang dokter.

“Ya dokter?”

“Jadi apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Angga sedangkan Lisa hanya diam.

“Mungkin… Kembali melakukan penyuluhan?” ucap Lisa ragu.

“Ha? Penyuluhan?”

“Ya. Kita bisa melakukannya saat pasien baru datang atau kita bisa melakukannya saat acara penting,” tambah Lisa.

“Kebanyakan dari mereka pasti akan menolak,” jawab Iwan.

“Saya setuju dengan Iwan. Penyuluhan memang ide yang bagus tapi harus dengan cara yang lebih kreatif agar masyarakat tertarik mendengarnya,” tambah Angga.

Lisa kembali terdiam dan sibuk dengan pikirannya. Pembicaraan hari itu berakhir dengan kekosongan. Dalam perjalan pulang menuju kosnya Lisa menatap keramaian komplek di sore hari.

“Negara ini memang indah. Tapi bayangan akan angka kematian terhadap suatu penyakit juga tinggi,” batin Lisa menatap tawa riang anak-anak di sebuah taman.

Beberapa ibu-ibu komplek tampak sibuk bergosip sedangkan para bapak-bapak terlihat sibuk berbincang. Mata hitam gadis itu beralih menatap beberapa rumah yang sudah mengibarkan bendera merah putih.

“Sebentar lagi hari kemerdekaan ya,” batin Lisa kembali berjalan di cerahnya lentera senja. Terdengar suara beberapa anak yang tengah sibuk membincangkan lomba dan upacara.

Mendengar hal itu membuat langkah Lisa terhenti saat sebuah  ide muncul. Dengan senyum diwajahnya gadis itu mempercepat langkahnya dan mulai menyusun beberapa rencana yang ada.

Hari baru kembali datang dan terlihat Iwan tengah menunggu Lisa di depan kosnya. Meski bosan pemuda itu tetap menunggu dengan sabar hingga suara langkah kaki memecah lamunannya. Mata coklat gelapnya menatap Lisa yang sibuk dengan beberapa kertas.

“Ha? Untuk apa semua ini?” tanya Iwan turun dari motornya dan membantu Lisa.

Dengan mata berbinar Lisa menjawab pertanyaan Iwan, menjelaskan segela rencana yang didapatnya dan berhasil membuat Iwan terdiam.

“Kamu mendapatkan semua rencana ini hanya semalaman?” tanya Iwan tidak percaya.

“Ya. Bagaimana menurutmu?” tanya Lisa.

“Kurasa bagus. Kita bisa minta pendapat dokter Angga,” jawab Iwan mulai melajukan motornya.

Rencana itu mulai menyebar menuju insan lainnya. Angga yang menjadi pendengar untuk rencana Lisa itu juga terdiam. Menatap wajah Lisa yang berbinar saat menjelaskan membuat fokus sang dokter sedkit terpecah.

“Jadi bagaimana dokter?” tanya Lisa.

“Saya rasa bisa kita coba,” jawab Angga membuat kedua perawat didepannya berseu bahagia.

“Dan kita perlu bantuan yang lainnya. Ayo!” ucap Angga mengajak keduanya.

Air mata langit kembali turun, dari mulut ke mulut dan kepala ke kepala rencana yang terdengar cukup aneh itu mulai menyebar. Aneh? Kenapa mereka menganggap rencana itu aneh? Karena mereka berpikir bahwa Lisa hanya akan membuang-buang waktu.

“Tapi jika dokter Angga setuju. Kita bisa mencobanya,” suara diskusi beberapa perawat terdengar.

“Ya. Aku juga ingin melihat hasilnya, mungkin saja jumlah kematian akibat penyakit ini bisa berkurang.”

Awal bulan mereka buka dengan berbagai aktivitas baru disamping melayani beberapa pasien yang terus datang. Lisa dengan semangat menggebu memulai proyek besarnya. Waktu terus berlalu dan hari yang ditunggu tiba. Iwan dengan komputer ditangannya mendekati Lisa yang sibuk dengan beberapa kertas.

“Sudah selesai?” tanya gadis itu menatap Iwan yang mengangguk.

“Kita bisa memulainya besok,” jawab Iwan diangguki oleh Lisa.

Hari penting pun datang. Hari kemerdekaan negara Indonesia yang ke 77 tahun dirayakan dengan khitmad di kota hujan itu. Upacara dilaksanakan dengan tertib. Namun saat upacara berakhir para peserta upacara diminta untuk tidak meninggalkan lapangan menimbulkan tanda tanya besar bagi mereka.

Salah seorang peserta upacara dengan seragam putih maju dan mencapai mikropon.

“Selamat pagi bapak dan ibu semua. Izinkan saya mengambil waktu sebentar. Perkenalkan saya Lisa Future, saya merupakan perawat dari Rumah Sakit Umum Etter. Saya disini ingin membangkitkan kepeduliaan bapak dan ibu sekalian terhadap penyakit TBC. Penyakit dengan kasus tertinggi di negara tercinta kita. Indonesia.” Suara Lisa terdengar lantang dan tegas membuat semua perhatian disana terpusat padanya.

“Karena itu saya dan pihak rumah sakit akan mengadakan pameran tentang TBC. Saya harap bapak dan ibu sekalian dapat meramaikan pameran yang berlangsung selama 3 minggu ini. Jika bukan kita siapa lagi yang akan peduli dengan negeri ini. Mari kita mencegah kematian yang mungkin saja bisa membayangi keluarga kita. Dan marilah kita bebaskan negeri ini dari TBC! Hanya itu yang dapat saya sampaikan. Terimakasih atas perhatiannya,” ucap Lisa mengakhiri pidato singkatnya.

Waktu terus berlalu pameran yang diadakan pihak rumah sakit itu ramai dan penuh dengan antusias warga. Beberapa dokter yang ada disana menjawab pertanyaan dan keraguan beberapa pasien.

“Apa TBC ini penyakit mematikan?” tanya seorang peserta pameran saat sesi tanya jawab dibuka.

“TBC adalah penyakit dengan tingkat kematian tertinggi nomor tiga di Indonesia setelah penyakit jantung dan penyakit pernafasan akut bu. Tapi penyakit ini bisa disembuhkan jika pasien rutin berobat dan teratur dalam pemeriksaan,” Jelas dokter Angga.

“Apa ada gejalanya dokter?” tanya seorang ibu muda.

“Ada. Gejala utama batuk terus-menerus dan berdahak selama tiga minggu/lebih. Gejala tambahan yang sering dijumpai, meliputi dahak bercampur darah/ batuk darah, demam selama 3 minggu atau lebih, sesak nafas dan nyeri dada, penurunan nafsu makan, berat badan turun, rasa kurang enak badan (malaise, lemah) dan berkeringat dimalam hari walaupun tidak melakukan apa-apa,” jelas Dokter Angga.

“Lalu apa TBC ini selalu terjadi pada paru-paru dokter?” tanya seorang remaja yang siap dengan catatannya.

“Tidak selalu. Tuberculosis paru adalah penyakit radang parenkim paru karena infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis. Tuberculosis paru termasuk suatu pneumonia, yaitu pneumonia yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Tuberculosis paru mencakup 80% dari keseluruhan penyakit tuberculosis sedangkan 20% selebihnya merupakan Tuberculosis ekstrapulmonar,” jawab Angga tersenyum.

“Apa itu Tuberculosis ekstrapulmonar?”

“Disebut juga TB ekstra paru, atau TB di luar paru. Adalah kondisi di mana infeksi bakteri M. tuberculosis telah menyebar ke jaringan dan organ tubuh selain paru-paru. Organ yang dapat terinfeksi bakteri penyebab TBC adalah kelenjar limpa, selaput otak, sendi, ginjal, tulang, kulit, bahkan alat kelamin,”

“Wow… Banyak sekali macamnya. Sebentar dokter saya harus mencatatnya!” seru remaja tadi dan Angga hanya menanggapi dengan senyum santai sambil kembali menjelaskan.

Beberapa perawat juga mengajak para peserta berkeliling sambil menjelaskan gambar dan alat peraga. Bahkan beberapa peserta terdiri dari anak-anak yang terus bersuara dengan sejuta tanya.

Dikejauhan Iwan dan Lisa memandang keramaian pameran dengan tersenyum. “Apa ini akan berhasil?”

“Kita memang tidak bisa langsung mengurangi angka-angka yang ada. Tapi setidaknya dengan langkah dan kesadaran kecil ini kita bisa membantu mengurangi angka-angka baru yang akan muncul. Setidaknya inilah wujud cinta tanah air kita. Mencegah mereka kehilangan keluarga mereka,” jawab Lisa tersenyum.

“Dan mimpi kita agar negeri tercinta kita lebih baik,” tambah pemuda itu tersenyum.

 

—————————————————————-

Note

Sputum : nama lain dari dahak.

Tes IGRA : Tes IGRA merupakan tes darah yang dilakukan untuk melihat keberadaan bakteri penyebab tuberkulosis dalam tubuh seseorang. IGRA merupakan pemeriksaan lanjutan yang biasanya dilakukan setelah dokter mengenali adanya tanda-tanda yang dicurigai sebagai gejala khas TBC.

—————————————————————-

 

#lovrinzpublisher

#lovrinzwacaku

#Mimpiku untuk Indonesia

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!