Awal dan Akhir
27.63
9
203

semua kisah cinta selalu ada awal dan akhir. seperti kisah cinta mereka, bahkan mungkin kisah cintamu atau kisah cintaku? kisah cinta yang berawal di bangku SMA. akankah berakhir bahagia? Atau berakhir bencana? ini kisah Awal dan Akhir. Yang mungkin, pernah kamu rasakan. Atau justru, masih kamu pendam.

  • aku baca tulisan ini kok gak mau dijeda sampe selesai, nagih bacanya kak, keren!!!

  • Keren tulisannya, kak titaaa 😍😍
    Memang first love susah buat dilupain ya, kak..

  • Segala sesuatu yang ujungnya penyesalan, pasti selalu di akhir.

    Betul begitu, bukan?

    Karena kalau di awal, itu disebutnya      sori, aku tidak akan mengatakan pendaftaran, peng-awal-an.

    Yang terjadi padaku dan sekitar 202, 8 juta penduduk di tahun 1997 saat itu, adalah pernah mengalami masa pertama, masa awalan. Untuk lebih spefisik di kasusku, yaitu pertama kalinya jatuh cinta pada pandangan pertama.

    Aku kelas 1 SMA kala itu, dan pernah mengagumi sosok beberapa kakak kelas semenjak kelas 2 SMP dulu. Cinta monyet mungkin, istilahnya. Dan rasa sukaku, rata-rata berawal, karena memang cukup lama berteman. Atau kenal sebelumnya. Karena bagaimana mungkin, kita bisa menyukai seseorang kalau tidak tahu satu sama lain?

    Namun dia berbeda.

    Bukan cinta pertama, tapi aku langsung cinta saat pertama kali menatapnya.

    Aku tidak serta merta tahu namanya begitu saja. Perlu perjuangan justru, untuk tahu siapa orang yang tiba-tiba membuatku jatuh cinta. Bahkan sampai membuat hatiku berubah haluan dari Lee Missen personel Code Red, salah satu boyband dari Inggris di sekitaran tahun 90-an akhir. Tertambat pada dia.

    Pertemuan pertama kami, aku lupa hari apa, bulan kapan, bahkan tanggal berapa. Yang jelas, aku bersama seorang teman perempuan berdiri di samping bangunan mushala. Jam istirahat hampir berakhir, dan aku kesal karena tidak bisa jajan, karena uang bekalku ketinggalan di rumah.

    Kami mengobrol, dan temanku sedang makan bala-bala panas, becek dengan minyak, memakai saos, dan asap masih mengepul-ngepul dari plastik isi bala-bala yang digenggamnya. Kenapa harus sedetail itu, soal bala-bala? Karena ini bagian penting, untuk satu hipotesa, yaitu :

    a.      Apakah aku akan meminta bala-bala itu sedikit meski menjatuhkan harga diriku?

    b.      Apakah aku akan meminjam uang untuk membeli bala-bala?

    c.       Apakah aku akan memalingkan muka supaya aku tidak makin lapar?

    Jawaban dari hipotesa, jatuh pada opsi C.

    Lalu kupalingkan muka. Melihat-lihat sekitar mushala, yang seberang depannya lab biologi, samping kanan adalah pedestrian lalu toilet khusus anak perempuan.

    Dari ujung pedestrian, kulihat sosok anak laki-laki sedang berjalan tergesa-gesa ke arah kami. Begitu pandangan kami saling beradu, dia menatapku dengan sinis. Matanya itu, membuatku yang sedang lapar, jadi emosi.

    Dia terus berjalan sambil terus menatapku, yang pasti aku tatap balik. Dikiranya aku takut? Mentang-mentang dia ganteng, lalu boleh seenaknya merendahkan orang dengan mendelik dan menatap dari atas kepala sampai kaki?

    Sampai posisi kami sejajar, meski dia di seberang sana dekat toilet perempuan, mata kami masih belum berpaling. Tiba-tiba ….

    Dia terjatuh. Kakinya terantuk paralon air yang menyambung dari mushala ke toilet anak perempuan. Aku terkejut, dia terkejut, temanku masih memakan bala-bala.

    Di situ aku tertawa tertahan, suaranya seperti buang angin tertahan. Pasti dia tersadar aku tertawa. Temanku yang makan bala-bala juga berhenti, “Kamu ngetawain apa?” tanyanya bingung.

    Tapi aku tidak mengindahkan pertanyaan temanku. Karena perhatianku, sedang tertuju pada si anak laki-laki itu. Lalu dia berdiri, menepuk-nepuk celana abu-abunya yang kotor. Setelah itu, menoleh kepadaku.

    Kupikir dia akan membuang mukanya ke arah lain, karena jelas apa yang terjadi pada dia itu cukup memalukan.

    Dia malah mengernyitkan hidungnya sembari tersenyum.

    Kemudian, setengah berlari dia menuju ke arah perpustakaan. Di situ rasanya aku seperti tertohok. Ada sesuatu yang menghujam ke batin, benak, bahkan pikiranku untuk beberapa saat. Rekaman kejadian itu aku ingat betul-betul, kupatri sosoknya di otakku.

    TUHAN.

    Sepertinya aku jatuh cinta.

     

    ***

     

    Entah berapa purnama, aku masih belum menemukan sosok dia lagi. Andai kisah cinta pertamaku di SMA itu seperti di cerita cinta remaja, kami berpapasan dan saling jatuh cinta, lalu secara kebetulan bertemu lagi dan kutahu namanya. Setelah itu kami lebih dekat, merasakan efek kupu-kupu acap kali bersamanya. Oh tidak semudah itu, Pulgoso.

    Ada sejumlah 1079 murid, digenapkan dengan aku menjadi 1080 dari kelas 1, 2, dan 3. Aku tidak tahu persentase berapa jumlah murid perempuan atau laki-lakinya. Bagaimana bisa aku tahu nama dia, sedangkan di sekolah itu begitu banyak murid laki-laki?

    Sialnya, temanku yang makan bala-bala, tidak memerhatikan, jadi dia tidak melihat anak laki-laki yang membuatku jatuh cinta itu.

    Informasiku hanya sesosok anak laki-laki yang tidak terlalu tinggi, kurus, rambut bergelombang, hidung mancung, berkulit putih, dan berseragam putih abu-abu. Dan kalau mengernyitkan hidungnya itu begitu lucu.

    Apa yang kujelaskan sepertinya tidak cukup detail. Karena itu sama sekali tidak menjadi petunjuk yang akurat, setiap kali aku meminta bantuan teman lain untuk mencari anak laki-laki yang seolah lenyap begitu saja, setelah pertemuan pertama kami.

    Berapa banyak anak laki-laki yang mengernyitkan hidungnya di saat bersin, bingung, bahkan mengalami sinus akut? Sudahlah, aku malas menghitungnya.

    Sampai saat itu, di akhir catur wulan ke 3. Setelah keluar dari perpustakaan, dan aku berjalan hingga di lab biologi. Aku hendak berbelok ke kiri lab, tapi dari arah lurusanku ada sosok anak laki-laki mendekat.

    Bukan, itu bukan dia. Itu kakak kelas satu tingkatku, dan kami cukup akrab karena berteman semenjak SD dulu.

    Aku berhenti dan melambaikan tangan pada dia. “Hai, Dre!” sapaku.

    “Hooi …!” sapanya. Ketika kami saling berhadapan, dia mengacak-acak rambutku. “Kok keluar kelas di jam pelajaran. Awas kamu, yah!”

    “Nggak ih, ini pinjem buku Geografi dari perpus, wew!”

    “Oooh …, kirain mau bolos.”

    “Bolos gimana, orang ini udah di dalem sekolah. Ketahuan mabal sih, cari mati.”

    Aku membereskan lagi rambut ikal bergelombangku yang diacak-acak oleh Andre. Meski tidak akan membuat perubahan yang signifikan, tapi sedikitnya rambutku tidak akan Ter.La.Lu acak-acakan.

    “Hai!” sosok itu menepuk bahu kiri Andre dari belakang.

    “Ke mana?” tanya Andre.

    “Kantin,” jawabnya singkat.

    Dia memapasiku dan kami saling bertatapan sekilas, entahlah mungkin 3-4 detik. Tubuhku mendadak dingin, aku benar-benar tercengang melihatnya. Refleks sampai aku membalikkan badan untuk memastikan. Dia menoleh ke belakang, lalu tersenyum padaku.

    Astaga, itu benar dia!

    Tanganku langsung mencengkram lengan Andre.

    “Dia itu siapa? Namanya siapa? Kamu kenal? Kelas berapa?” berondongku.

    Andre menatapku bingung. “Itu Syawal, anak kelas 2-3.”

    “Oh ….”

    Apalagi yang harus aku katakan selain dua huruf O dan H, karena aku dalam kondisi lega sangat. Bersyukur malah. Rasanya seperti lepas dari beban konstipasi, terbebas dari himpitan pekerjaan rumah yang selesai pada waktunya. Merdeka pokoknya.

    “Kenapa emang?” selidik Andre sambil menatap padaku lekat-lekat. “Kamu suka dia? Memang kalian saling kenal?”

    “Justru nggak.”

    “Nggak apanya? Kamu nggak suka? Atau nggak kenal?”

    “Aku suka sama dia, tapi aku nggak kenal.”

    Aku harus menunggu Andre berhenti tertawa keras setelah mendengar pengakuanku. Kulirik jam tangan, sudah lewat dari 10 menit aku meninggalkan kelas.

    “Kamu cari kecengan yang lain aja, jangan si Syawal,” kata Andre.

    Mendadak meruntuhkan pilar-pilar cinta yang mau kubangun jadi istana.

    “Emang kenapa?” sungutku sebal.

    “Dia itu nggak mikirin cinta-cintaan. Anaknya cuma mikirin pelajaran, kutu buku. Udah cari yang lain aja, daripada kamu nanti sakit hati sendiri.”

    “Hm … gitu yah?”

    “Ya udah, nanti aku salamin ke dia. Tapi nggak janji yah, dia nanti balas salamnya apa nggak.”

    Aku mengangguk-angguk. “Makasih ya, Dre.”

    Kalau dianalogikan perasaanku pada Syawal, seperti menggarap sawah, capek-capek aku mencangkul tanah, memberi air, berpanas-panasan sambil menanam tandur, ternyata aku malah menanam di tanah perkebunan, bukan di sawah. Sudah pasti, aku takkan mendapat hasil padi. Belum apa-apa, hatiku yang masih kuncup, sudah terpotek-potek karena nasihat Andre.

    TUHAN.

    Apa harus setragis ini, awalanku jatuh cinta?

     

    ***

     

    Bukan Lastika Gayatri namanya, kalau tidak bermain cantik dan berjuang keras untuk mendapatkan perhatian dari Syawal Hafidzan. Aku tidak memiliki kecenderungan untuk bersikap manis, manja, seperti anak perempuan kebanyakan. Lagipula, sepertinya Syawal kurang suka dengan perempuan agresif dan menempel seperti perangko.

    Tapi masalahnya, permainan cantikku tidak pernah kesampaian. Perjuanganku langsung terhempas, ketika aku hendak melemparkan jurus pendekatan, yang lebih dahsyat dari sayatan hitten mitsurugi nya Rurouni Kenshin.

    Justru aku selalu kaku dan diam, setiap kali berpapasan dengan Syawal. Padahal banyak momen aku bisa mengawali pembicaraan. Bukan hanya saling tatap-tatapan dan melempar senyum.

    Mau sampai kapan begini? Sampai dia lulus sekolah? Huhuhuhu….

    Kami memang jadi lebih sering bertemu, setelah kali kedua pertemuan saat itu.

    Sempat aku berpikir, apakah ini yang namanya jodoh? Apa memang Tuhan ternyata merestui hubunganku dan Syawal yang mungkin akan dibina, semenjak usia remaja kami?

    “Tahu nggak, aku jadi lebih sering ketemu Syawal, dong. Seneng banget tahu,” bisikku pada Andre.

    Suatu hari di sekitar pukul 9.30 pagi. Aku lupa hari apa, tapi aku tidak lupa membawa uang bekal sekolahku. Hanya saja, memang aku selalu nongkrong dulu sebentar di mushala. Karena seringkali aku bertemu Syawal, di mushala, di sekitar jam 9.30 pagi. Kami duduk berdampingan di teras mushala. Andre sedang memakai sepatu dan menalikan talinya.

    “Iya, aku juga jadi sering ketemu kamu. Kan kita kebagian giliran pagi,” balas Andre dingin.

    “Oh, gitu ya?”

    Ternyata, dari kelas 2-1 sampai kelas 2-3, giliran sekolah pagi selama satu catur wulan. Jadi itu sebabnya, sebelum ini, aku tidak pernah bertemu Syawal, karena dia sekolah siang. Dan aku sekolah pagi.

    Baiklah, kita skip masalah perjodohan atau restu Tuhan karena terpatahkan lagi, dugaanku tersebut.

    “Tuh, Syawal,” bisik Andre. Dia beranjak berdiri dan merapikan seragamnya.

    “Baru beres Dhuha, Dre?” tanya Syawal.

    Aduh, suaranya membuat hatiku celekat-celekit tidak karuan. Rasanya lebih merdu dari kicauan burung pipit di pagi hari. Lebih indah dibanding lengkingan Milijenko Matijevic ketika menyanyikan lagu She’s Gone.

    “Yoi. Duluan ke kantin yah,” ucap Andre.

    “Iya.” Syawal mengangguk sopan.

    Andre meninggalkanku begitu saja, membiarkanku duduk membeku dan syok karena tidak tahu harus berbuat apa di situasi itu. Hendak pura-pura menalikan sepatu, tapi sepatuku sudah terpasang dengan benar. Aku kebingungan sendiri. Syawal duduk di teras tidak jauh dariku. Kulirik dengan ekor mata. Jantungku berdetak lebih kencang.

    “Lastika?” panggilnya tiba-tiba.

    Aku menoleh dan entahlah, mungkin hanya Tuhan yang tahu, betapa malunya aku dipanggil oleh dia. “Iyah?”

    “Enggak ke kantin?”

    “Ah … iya ini mau.”

    “Met jajan, yah?”

    Aku beranjak berdiri dan mengangguk kaku. Iya, sudah pasti kaki gemetar, tangan tremor, karena itu awal dia menyapaku. Padahal aku sudah membombardir dengan titip salam pada Andre. Juga kakak kelas anak rohis (rohani islam), yang sengaja aku dekati demi kelancaran pedekate pada Syawal. Aku hampir putus asa.

    Rupanya dia mau mengenaliku juga.

    TUHAN.

    Inikah awal untukku dan dia?

     

    ***

     

    Dari awalan menyapa, hubungan kami pun berjalan lancar. Lebih dikhususkan lancar menyapa. Waktu paling menyiksa adalah hari Sabtu, karena aku harus menunggu lewati hari Minggu, hanya untuk mendapatkan sapaan Syawal.

    Tapi tetap, tidak ada perkembangan berarti.

    Berapa banyak anak laki-laki lain yang menyatakan cinta padaku, semua kutolak mentah-mentah. Aku saja tidak mengerti, kenapa mereka mesti suka padaku? Apa karena rambutku yang acak-acakan? Atau karena aku kelihatan paling jomblo dan available, lalu bakal mudah masuk dalam jebakan mereka?

    Sampai guru di bagian administrasi menasihatiku, lebih baik aku cari pacar lain. Karena Syawal itu termasuk murid paling terpandai satu angkatan sekolah. Sudah pasti, motivasi Syawal adalah belajar, bukan membuang waktunya demi kenangan cinta monyet. 

    Apalagi aku monyetnya. Oh, tidak.

    Sudah memasuki pertengahan tahun 1998, meski moneter, harga bala-bala dari 250 rupiah jadi 500 satuannya, masa aku harus berhenti berjuang?

    Dengan bekal nasihat dari guru administrasi yang masuk dari kuping kanan dan keluar dari kuping kiriku, alamat dan nomor telepon Syawal, aku tetap pada pendirianku. Maju terus, pantang malu.

    Yang penting, aku harus menabung uang receh, meski negaraku mengalami krisis. Karena uang receh, adalah jembatanku untuk melancarkan hubungan, di saat aku memberanikan diri untuk menelepon Syawal, melalui telepon umum koin.

    “Lastika!” suara itu memanggil dari belakang.

    Aku yang baru saja keluar dari toilet, terkaget-kaget. Itu Syawal.

    Dia berlari kecil menghampiriku. Kedua tangannya memegang erat tali tas ransel yang mengait pada kedua bahunya.

    “Tika aja,” kataku pelan.

    “Oh iya. Halo, Tika!” ulangnya dengan suara ceria.

    “Hai, Syawal.”

    “Awal aja,” balasnya. Dia menatap dan menyunggingkan senyum. “Panggilan aku Awal. Aku kira panggilan kamu ‘Akhir’.”

    Alisku bertaut karena bingung. “Kok akhir?”

    “Kan nama kamu Lastika, last itu bahasa inggris akhir, kan?”

    Memang benar, aku anak bungsu. Anggota terakhir di keluargaku. Hal itu tentu bukan yang pertama dipikirkan oleh Papa dan Mama saat memberiku nama Lastika. Karena setahuku dari mereka, arti namaku adalah wanita pelopor yang selalu berjuang.

    “Iya sih,” balasku.

    “Kamu hari Minggu ke sekolah? Ada pertandingan basket antar sekolah, kan?”

    “Aku nggak tahu. Emang kamu mau ke sekolah?”

    “Nggak tahu. Tapi kalau kamu mau dateng, aku juga dateng aja,” sahutnya enteng.

    Tanpa menyadari bahwa perkataannya itu, memberi efek imajinasi berlebih di benakku tiba-tiba. Hari Minggu mendatang, kami pun bertemu di sekolah. Duduk berdampingan, menonton basket, lalu dia tidak sengaja menyentuh tanganku. Kami pun berpegangan tangan dengan erat. Hari-hariku pun akan semakin indah setelah itu.

    “Hei!” dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku. “Janjian aja, nanti kamu telepon aku ke rumah, kalau hari Minggu ke sekolah.”

    “Telepon kamu?” suaraku seperti tercekik.

    Jangan-jangan dia tahu, aku secara sengaja mengecek data keluarganya pada guru administrasi. Bahkan sampai memohon-mohon, bahkan aku sampai mau mengkopi berkas, membelikan makan siang ke warung nasi, dan mendata anak-anak yang sudah bayar SPP.

    Perjuangan gerilyaku, sia-siakah? Apa aku tertangkap basah sekarang?

    “Oh iya, kamu nggak tahu nomor telepon rumah aku, ya?” katanya.

    Ya, Tuhan. Syukurlah.

    Syawal mengambil pulpen dan buku notes kecil dari saku kemejanya. Bergegas dia menulis dan merobek kertas, lalu dia serahkan padaku.

    “Ini nomor telepon aku, ya? Nanti kamu telepon aja.”

    “I-iya … makasih, ya?”

    “Duluan, kamu hati-hati pulangnya.”

    “Kamu juga, yah.”

    Lalu kami saling melambaikan tangan, dia bergegas pergi meninggalkanku melongo seorang diri. Aku yang sudah capek-capek mencari cara untuk tahu di mana rumahnya, siapa nama orangtuanya, nomor telepon rumahnya, sekarang dia memberikan dengan cuma-cuma.

    TUHAN.

    Kenapa nasibku begini amat.

     

    ***

     

    Keinginanku untuk bisa merasakan efek kupu-kupu ketika berduaan dengan Syawal di pertandingan basket antar sekolah, berubah menjadi serangan diare mendadak. Khayalan yang selama tiga malam aku bayangkan, musnah sudah.

    Namun, semenjak saat itu kami benar-benar mengobrol banyak. Awalnya, membicarakan obat diare yang tokcer. Menyebalkan memang, dan menjadi memori memalukan sebetulnya.

    Tapi itu menjadi berkah.

    Hubunganku justru lebih dekat di jalur telepon. Meski aku harus berdiri lama-lama, hingga kesemutan di boks telepon koin, agar satu langkah, dua langkah, berlangkah-langkah lebih kenal dekat dengan Syawal.

    Dia sangat komunikatif di telepon, daripada di sekolah. Kebiasaan kami di sekolah memang hanya saling menyapa saja. Meski aku punya panggilan baru, ‘Akhir’. Ah tidak apa-apa, aku cukup bersabar sampai tiba waktunya dia memanggilku, ‘Sayang’.

    “Cengar-cengir sendiri!” suara anak perempuan yang hampir membentakku itu mengagetkanku.

    Aku yang sedang duduk menulis di buku diari di depan pintu kelas, menoleh padanya. Itu kakak kelas. Buru-buru aku berdiri dan mengangguk, sambil tersenyum sopan kepadanya.

    “Kamu itu pacarnya si Syawal?” tanyanya tiba-tiba.

    Aku menggeleng. “Bukan, Teteh. Aku cuma temen,” jawabku takut-takut.

    “Tapi si Syawal nggak pernah tuh, deket sama cewek mana pun selain kamu.”

    Anak perempuan yang badannya jauh lebih tinggi dan sepertinya berat badannya pun dua kali lebih besar dariku itu, terasa mengintimidatif.

    “Maaf, Teteh. Enggak ada apa-apa, cuma teman sama Awal,” balasku lemah.

    “Jangan pura-pura gitu. Nanti aku bilang ke Syawal biar kalian cepat jadian. Daripada dia keburu disamber orang,” katanya sambil terkekeh-kekeh menyebalkan. “Aku kan temen sekelas dia. Makanya kamu mesti minta restu sama aku dulu.”

    “Iya, Teh. Maaf … aku nggak niat mau macam-macam kok.”

    “Baguslah.”

     

    ***

     

    Aku tahu, pertemuan dengan kakak kelas yang entah-siapa-namanya-nggak-penting itu memang membawa pertanda buruk. Mungkin dia iri, mungkin dia sengaja memang jail, sampai akhirnya berakibat fatal. Setiap kali Syawal bertemu denganku, dia dan teman satu genk-nya berteriak-teriak meledekku dan Syawal.

    Berkali-kali aku sering dipanggil kakak kelas ESN2P (Entah –Siapa-Namanya-Nggak-Penting) ke kelasnya. Lalu dia menarik Syawal hingga saling berhadapan denganku di depan kelas. Sama sekali tidak membuat nyaman tingkah si ESN2P dan teman-temannya. Setelah kusadari beberapa tahun selepas lulus SMA, itu namanya bullying. Istilah keren di masa sekolah saat itu, digencet.

    Syawal jadi menjauh, aku juga segan untuk menyapanya. Aku tidak pernah lagi berani menghubunginya lewat telepon. Hubungan kami yang tadinya mulai menghangat, malah jadi beku.

    Keadaan diperparah setelah Syawal naik ke kelas tiga, dia sekolah pagi dan aku sekolah siang. Mana mungkin aku menelepon dia malam-malam juga. Karena boks telepon koin letaknya agak jauh dari rumah, mana angker, gelap pula jalannya. Ah, aku tidak sanggup. Meski demi cinta, aku tidak mau berkorban keluar malam. Bisa-bisa bertemu makhluk gaib.

    Nilai-nilaiku anjlok. Aku jadi malas melakukan apa-apa. Rasanya hidupku hampa. Tidak ada lagi yang membuatku semangat untuk melangkahkah kaki ke sekolah. Meski ejekan-ejekan dari teman sekelas Syawal yang menyebalkan itu sudah berhenti, karena kelas tiga sudah terbagi jadi IPA dan IPS, tetap saja, akibat jangka panjangnya, hubungan pertemananku dan Syawal ikut berhenti.

    Kuseret langkah sambil menundukkan pandangan ke jalan berkerikil, batinku sibuk meratapi nasib. Dalam waktu 4 bulan ke depan, Syawal akan lulus sekolah. Yang membuatku nelangsa, selama duduk di kelas dua, aku tidak akan pernah merasakan sekolah pagi dan bisa bertemu Syawal lebih sering.

    Karena di atas bangunan tiga kelas, akan dibangun kelas baru. Otomatis, kelas satu dan kelas tiga, tetap sekolah pagi sementara. Kenapa sih, harus dibangun kelas baru segala? Kenapa tidak nanti saja aku menginjak kelas tiga? Ah, benar-benar, masa SMA ku ini kacau balau. Pacar tidak punya, gebetan pun malah perang dingin denganku.

    TUHAN.

    Huhuhu….

    GREP!

    Seseorang memegang bahuku dari samping. Aku berhenti.

    “Akhir?” panggilnya lemah.

    Aku menoleh, dan melihat Syawal sudah berdiri di sampingku. Matanya menatap dengan khawatir. Atau dia menahan sakit perut, ya? Meringis-ringis begitu raut wajahnya.

    “eh, Awal,” sapaku pelan.

    “Kamu sakit?”

    Aku menggeleng.

    “Nggak punya uang?”

    “Punya ih!” balasku sengit.

    Dia tertawa.

    Demi apa, tapi aku benar-benar lega mendengar tawanya lagi. Suaranya renyah, lebih renyah dari wafer yang lapisannya konon sampai ratusan itu. Saking senangnya, air mataku meleleh tanpa bisa ditahan.

    Lalu dia menatapku kaget. “Kok nangis? Kamu kenapa?”

    Aku menggeleng dan mengusap air mata dari pipi dengan cepat. Tidak berharap dia akan mengusap dengan tangannya sendiri. Itu terlalu vulgar, di jalan menuju ke sekolah, juga di depan murid-murid lain.

    “Aku kirain kamu benci sama aku. Nggak mau temenan lagi,” sahutku jujur.

    Yah, seandainya kamu nggak mau temenan, bagaimana kalau kita pacaran? Batinku gemas.

    “Maafin, ya? Aku tahu kamu pasti nggak suka diledekin gitu. Makanya aku ngejauh, kasian kamunya. Tapi aku sama genk si Ela udah beda kelas kok.” Dia tersenyum. “Tenang aja.”

    “Iya, syukurlah.”

    “Ayo, semangat. Cepat sana masuk kelas.”

    Itu kali pertama aku benar-benar tersenyum bahagia, setelah berbulan-bulan kami seperti perang dingin. “Makasih ya, Awal.”

    Syawal tiba-tiba menjawil pipiku dengan lembut. “Iya.”

    Dia langsung berlari menjauh, mengejar angkutan kota yang siap berangkat di pinggir jalan. Kupegang pipiku tidak percaya.

    TUHAN.

    Apa aku bisa melaminating pipi ini, supaya bekas sentuhan tangannya tidak hilang?

     

    ***

     

    Aku terbuai, dengan percakapan kami yang cukup intens 10 sampai 15 menit setiap malam, setiap harinya. Karena akhirnya di rumah, ayahku memasang telepon. Meski aku harus ikut iuran tiap bulan, dengan uang receh yang biasa aku pakai di telepon umum. Tidak apa, yang penting aku bahagia.

    Sampai tiba waktunya Syawal lulus sekolah, dan aku tersadar, bahwa hal itu pasti terjadi. Aku, Syawal, dan semua murid yang ada di sekolah, akan mengakhiri masa pendidikannya. Tahun berikutnya aku kelas tiga, curiga masih jomblo juga. Hiks.

    Hari itu, hari terakhir Pekan Olah Raga Kelas. Anak-anak sudah bebas dari ujian dan bebas berkegiatan apa saja, selama itu bukan tindakan meresahkan dan melanggar aturan.

    Lebih dari 3 minggu aku tidak bertemu Syawal, karena dia sudah disibukkan untuk masuk ke universitas dan urusan kelulusan sekolah. Namun hari itu kami bertemu, karena memang sudah janjian di pelataran parkir motor.

    Kenapa kami janjian di situ? Karena ada atap penutupnya, ada dudukan yang cukup panjang, jadi aku tidak perlu berdiri atau berjongkok sambil menunggu di sana.

    Syawal berlari kecil menghampiriku setelah keluar dari lobi sekolah.

    “Hai!” sapa kami berbarengan.

    Hari itu Syawal lebih ganteng dari biasanya. Karena memakai kemeja polos berwarna biru muda, dan celana denim berwarna hitam. Di tangannya ada map berwarna biru tua, yang dia kempit di lengan kirinya. Memang bertambah tampannya, mirip aparat desa.

    “Aku punya kejutan,” kata Syawal berseri-seri.

    “Apa itu?”

    “Aku lulus UMPTN di Semarang.”

    “Wuaa …!! Aku tahu kamu bisa!”

    “Iya, aku nggak nyangka.”

    “Jauh juga ya, dipikir-pikir?”

    Meski aku kelihatan senang, aku tidak menyembunyikan kesedihanku. Kami akan semakin jauh dan berkelok-kelok rintangannya. Rentang jarak di antara kami, sepanjang dua butir pil anti mabuk darat, dan masih bisa muntah dalam kasus-kasus tertentu selama di perjalanan. Sungguh berat.

    Mana mungkin aku bisa bertemu setiap hari. Setahun sekali pun belum tentu.

    “Tapi ada kereta jalur baru ke sana, kok,” katanya.

    Seolah-olah dia seperti membaca pikiranku.

    Aku terkekeh pelan. “Seenggaknya, kalau naek kereta lebih seru, yah?”

    “Iya.”

    Kuulurkan tanganku. “Sukses yah, di sana. Jangan lupa kabar-kabarin aku kalau sempat. Jangan lupain aku, yah?”

    Itu kali pertama dia meraih tanganku dan kami berjabat tangan. Lalu jari-jarinya menggenggam tanganku. Syawal mendekat, dan mengecup dahiku. “Nggak akan pernah lupain kamu, Akhir.”

     

    ***

     

    Kugosok-gosok dahi dengan pelan dan mengingat lagi di mana tepatnya Syawal mengecupnya 10 tahun yang lalu. Apakah dekat alis, atau lebih dekat ke pelipis, pokoknya sekitar itu dan kenangannya mulai terkikis.

    Perasaanku menegang, saat waktu menunjukan pukul 8 malam lewat 3 menit, menyerempet ke 45 detik. Aku duduk menunggu di tepi panggung tengah mal, membiarkan orang berlalu-lalang membereskan kursi-kursi setelah acara talkshow selesai.

    Di tangan, tergenggam buku novelku, yang sengaja memang kusiapkan. Untuk seseorang yang berjanji menemuiku pukul 8 di mal ini. Di kota tempat dia menghabiskan waktunya 10 tahun terakhir, Semarang.

    Iya, Syawal.

    Tuhan mempertemukan kami lagi, beberapa waktu lalu melalui sosial media. Satu dekade hampir memusnahkan harapanku pada Syawal, karena semenjak kelulusan sekolah, tidak pernah lagi ada kontak antara kami. Sampai tiga hari lalu.

    Kronologisnya:

    a.      Syawal melihat undangan talkshow untuk umum di laman sosial medianya. Dia melihat namaku sebagai penulis.

    b. Lalu dia mengontak penerbitku memberikan nomor teleponnya, dari marketing menghubungi editor, setelah itu editor menghubungiku, dan aku hubungi Syawal.

    c.     Dengan alasan bahwa Syawal adalah kakak laki-lakiku yang hilang 10 tahun lalu, itu menjadi trending di penerbitanku. Padahal itu hanya akal-akalan dia bisa menghubungiku dengan cepat.

    d.      Pintar juga dia.

    Aku melihat sosok seorang laki-laki menghampiriku dari kejauhan. Dia memakai sweater berwarna hitam, celana hitam, langkahnya semakin dipercepat setelah melihatku.

    Lagi-lagi ….

    Dia terjatuh, kakinya terantuk kabel menjulur yang sedang digulung oleh panitia penyelenggara acara talkshow.

    “Ya, ampun! Awal …!” pekikku.

    Aku turun dari tepi panggung, berlari menghampirinya. Dia berdiri, lalu kami saling berhadapan. Dia tersenyum-senyum sambil mengernyitkan hidungnya.

    De ja vu, ya?” ujar Awal.

    Aku tersenyum tanpa melepaskan tatapanku pada sosoknya.

    Tidak ada perubahan yang berarti. Dia masih dia yang dulu, meski sekarang kelihatan lebih dewasa. Luapan rindu, seperti serangan banjir bandang di hatiku.

    “Malu …,” bisiknya sambil terkekeh.

    “Apa kabar?” sapaku dengan suara tercekat.

    Dia menyodorkan tangannya. “Kabar baik, Akhir. Kamu gimana?”

    Kami saling berjabat tangan. Tangannya terasa dingin. Aku tahu, dia juga pasti merasakan tanganku dingin. Apa karena dia juga tegang, setelah sekian lama tak bertemu?

    “Dingin banget, ya, tangan aku?” selorohnya setelah kami melepaskan jabatan tangan. “Di luar hujan, aku buru-buru ke sini begitu beres kerja. Maaf, nggak sempat lihat kamu talkshow.”

    “Nggak apa-apa.”

    “Hebat, teman aku jadi penulis terkenal.”

    Ketika dia menyebut kata ‘teman’, ada perasaan sakit di dadaku.

    “Aku mau beli bandeng presto buat mamaku, bisa anter, kan?” sahutku segera membelokkan pembicaraan.

    “Oh iya, ayo. Takut keburu tutup, yah?” dia melirik jam tangannya.

    Selepas dari mal, kami pergi membeli bandeng presto, berkeliling kota sebentar dan menikmati nasi goreng babat di langganan Syawal. Sampai dia mengajakku ke sebuah tempat cukup jauh dari pusat kota. Jalanannya menanjak, seperti ke arah bukit. Lalu kami berhenti di tepi jalan yang sepi. Pemandangannya adalah kerlap-kerlip lampu Kota Semarang.

    “Kalau aku lagi putus asa, aku sering merenung di sini,” katanya.

    Kami berdiri berdampingan, memerhatikan pemandangan kota seperti taburan berlian di bawah sana. Udaranya hampir mirip di Bandung Utara, dingin juga lembab.

    “Cukup ekstrim yah, kamu cari tempat menyepi. Nggak takut uka-uka gitu?” tanyaku.

    “Nggak. Sampai kamu bilang begitu barusan.”

    Kami sama-sama saling menatap, dan tertawa pelan.

    “Jahat, padahal aku suka di sini. Kok aku jadi takut,” tambahnya.

    “Sori, sori …,” aku masih terkekeh. “Old habbit. Aku nggak suka tempat creepy.”

    “Mau balik ke hotel sekarang?”

    “Boleh deh.”

    Aku balik kanan hendak kembali ke motor. Tiba-tiba dia mencekal lenganku.

    “Akhir, aku mau ngomong sesuatu.”

    “Ngomong tentang apa?”

    “Aku sama kamu.”

    Aku tidak mengatakan apa-apa. Hanya menunggu apa yang mau dia katakan.

    Syawal menarik napas dan mengembuskannya berat. “Aku minta maaf, karena selama ini aku ingkar janji. Aku hilang gitu aja di hidup kamu.”

    “Udah 10 tahun berlalu, it’s okay. Kita punya jalan hidup masing-masing. Dan aku senang, kamu udah settle di sini, kamu sehat, itu cukup buat aku.”

    Preeet …

    Bukan, itu bukan suara buang angin. Tapi ejekan suara hatiku yang protes berat, karena aku bersikap sok bjiaksana. Padahal aku ingin memaki-maki dia, aku ingin meluapkan emosiku, dan menanyakan, kenapa dia tidak menghubungiku. Barang satu kali pun.

    Memangnya di Semarang tidak ada telepon koin atau layanan telepon SLJJ.

    “Aku merasa ada hal yang belum selesai. Aku tahu      .”

    “Kita cuma teman,” potongku.

    “Aku suka sama kamu. Tapi rasanya nggak adil, buat kamu nunggu aku, sedangkan aku sibuk dengan cita-cita aku sendiri.”

    “Jadi kamu memutuskan, hilang gitu aja. Dan sekarang momen yang tepat, buat kamu mengakhiri semua, gitu yah?”

    “Aku selalu merasa, setiap ada awal, ada akhir di situ. Kamu bakal selalu ada di hati aku. Aku Awal dan kamu Akhir, kan?”

    “Ini nggak lucu sama sekali,” sahutku meradang. “Aku suka sama kamu sejak lama. Aku yang salah, manfaatin pertemanan kita, karena aku simpan perasaan buat kamu.”

    “Terus?”

    “Cukup adil lah, ya? Aku suka kamu di saat kamu ada.” Kutahan air mataku dengan susah payah. “Dan kamu suka aku, di saat aku nggak ada.”

    Dia mengangguk-angguk mengiyakan. “Oke. Kita udah sama-sama bikin pengakuan.”

    “Udah, yuk. Aku mesti balik ke hotel, nggak enak sama panitia yang bikin acara,” tukasku.

    Dia mengangguk mengiyakan. Lalu kami sama-sama naik motor, dan dia memacu motornya dengan pelan. Aku menangis sepanjang perjalanan ke hotel. Begini mungkin rasanya jadi ayam penyet. Ya sudah digoreng, lalu ditumbuk-tumbuk dicampur bumbu-bumbu, sudah begitu disajikan setengah tercabik-cabik.

    “Jangan nangis,” serunya setengah berteriak. “Kita berhenti dulu aja, ya?”

    “Nggak mau! Jangan!”

    “Terus aku harus gimana? Tolonglah, aku nggak mau nyakitin kamu terus.”

    “Aku nggak apa-apa!” teriakku putus asa.

    Syawal menarik tanganku, memegangnya dengan erat. “Aku pingin kamu bahagia. Aku minta maaf.”

    “Meskipun kamu suka sama aku, nggak akan bisa mengubah keadaan, kita selalu jadi teman, kan?”

    Syawal makin mempererat genggaman tangannya. “Iya, selalu jadi  teman.”

    “Oke. Aku terima kita jadi teman.” Aku mengangguk, lalu mengusapkan air mataku pada punggung sweater-nya. “Sori, aku takut jatuh dari motor. Nggak apa-apa aku lap air mata sama ingus ke jaket kamu, yah?”

    “Hahahaha…, iya nggak apa-apa.”

    Itu pertama kali, kuberanikan diri untuk memeluknya dari belakang. Untuk awal dan akhir sepertinya. Tidak apa-apa, yang penting memori malam ini, akan kusimpan baik-baik. Akan kujadikan kisah cinta pada alter ego tokoh-tokoh novelku, kelak.

     

    ***

     

    Begitu sampai di hotel, kami turun dan berjalan berdampingan hingga depan hotel. Ah, pasti wajahku berantakan. Rambutku pun pasti acak-acakan, meski sekarang sudah aku smoothing, tapi tetap saja, hempasan angin di atas motor, tidak akan membuat rambutku seindah gadis iklan sampo rambut.

    Syawal menyerahkan plastik isi bandeng presto padaku.

    “Jangan lupa ikannya kasih air. Nanti keburu mati.”

     Aku terkekeh. “Lebih enak dikasih minyak panas. Biar tinggal makan nanti.”

    “Boleh, boleh….”

    Kami sama-sama diam. Hampir saja lupa, bergegas aku ambil buku novel dari dalam tas. Dan kuberikan pada Syawal. Buku itu, sudah aku bungkus dengan kertas kado.

    “Nanti dibaca ya,” pintaku.

    Dia mengangguk. “Pasti.”

    “Ya udah kalau gitu, aku masuk dulu. Makasih buat malem ini.” Kusodorkan tanganku. “Friends forever?”

    Dia tidak menerima uluran tanganku, tapi menghamburkan pelukannya. Aku bisa merasakan rambutnya menyentuh pipiku. Meski dia baru pulang dari kantor, pasti belum mandi, tapi tidak bau sama sekali. Syukurlah.

    “Inget, ya? Di mana ada Awal di situ ada Akhir. Ada kamu sama aku, sampai kapan pun,” bisiknya.

    Take care, Awal.”

    You too, Lastika. My Akhir.”

    Kami pun berpisah. Awal pertemuan kami, memang akan selalu dibarengi oleh akhir. Namun, aku tidak merasakan adanya penyesalan. Meski konon katanya, sesal selalu datang di akhir. Namun itu adalah jalanku, untuk mengawali kehidupan baru.

    Syawal akan mengerti, aku pun sudah merelakannya. Meski dalam perjalanan hidup kami, sama-sama menyimpan cinta. Tapi sudah, dia akan menjadi kenangan yang paling terindah, di masa SMA ku yang cukup tragis sebetulnya.

    Semoga dia bisa datang ke Bandung bulan depan, karena di dalam buku novel yang kuberikan padanya. Terselip undangan pernikahanku.

    Contact Us

    error: Eitsss Tidak Boleh!!!