Bayangan dalam Cermin
11.25
0
90

Seorang gadis melihat bayangan dirinya di dalam cermin sedang bergerak tidak sama dengan yang sedang dia lakukan. Siapa sebenarnya sosok gadis dalam cermin tersebut?

No comments found.

Bayangan dalam Cermin

 

Kau tampak muram, wajahmu tak menunjukkan kebahagiaan seorang Fresh Graduate yang baru saja mendapatkan gelar sarjana. Sorot matamu kosong, kau bahkan tak ingin mengabadikan dirimu yang tengah memakai toga kehormatan yang kau dapatkan dari hasil bersusah payah selama bertahun-tahun. Bukan hanya kehilangan materi, kau juga kehilangan waktu dan tenagamu. Di akhir masa almamatermu, kau kehilangan dirimu. Kau berakhir hancur dan topeng mereka telah terbuka lebar, nyata tanpa kepalsuan lagi.

“Pak, kenapa nama saya tidak dipanggil?” ucapmu pada salah satu panitia. “Saya tadi sudah di atas panggung,” tambahmu lagi. Kau turun dari atas panggung sambil membawa sebuah ijazah di tanganmu. Kau bahkan berjalan di atas panggung tanpa disebutkan nama seperti teman-temanmu yang lainnya.

“Hah? Koq bisa?” ucap panitia wisuda kebingungan. Dia justru balik bertanya kepadamu.

“Tadi datang terlambat mungkin,” jawab salah seorang panitia wisuda sok tahu dengan nada memuakkan.

“Pak, saya sudah datang dari pagi, bahkan saat kursi wisudawan masih banyak yang kosong,” jawabmu menggebu-gebu menahan emosi. “Ijazah yang saya terima pun salah, ini bukan atas nama saya!” katamu dengan nada tinggi. Kau sangat meledak-ledak, kau hampir saja menjerit. Kau pun melempar ijazah yang kau pegang di depan para panitia. Kau tentu saja emosi, kau marah mendengar tanggapan salah seorang panitia yang menghakimimu datang terlambat saat wisuda.

“Atas nama siapa, ya? Sebentar, sebentar akan kami cek terlebih dahulu ke panitia bagian ijazah,” jelas seorang panitia. Kau lihat pula banyak panitia yang berbisik-bisik bertanya kau dari fakultas apa.

“Fakultas Sastra,” jawabmu singkat. Tak lama kemudian, datang Kepala Tata Usaha Fakultas Sastra yang bertanggung jawab atas ijazah wisudawan fakultasmu.

“Saira, kamu mendaftar wisuda daring?” tanyanya sok tahu.

“Tidak, saya mendaftar wisuda luring,” jawabmu singkat.

“Ijazahmu berkode wisuda daring, lihat saja ini,” ucap ibu Kepala Tata Usaha santai.

“Saya tidak mendaftar wisuda sebagai wisudawan daring, saya mendaftar wisuda luring!” jelasmu padanya. “Saya masih menyimpan semua bukti pendaftarannya kalau tidak percaya. Seketika saja, kau yang berada di depan pintu keluar dikerumuni panitia dan orang-orang yang saat itu tengah terlibat dalam prosesi wisuda.  

Setelah kerusuhan itu, akhirnya kau dipanggil di atas panggung, awalnya kau tak ingin karena kau akan tampak seperti wisudawan yang datang terlambat. Pemanggilan nama wisudawan didasarkan oleh urutan program studi. Kau dan teman-temanmu akan dipanggil dan dipindahkan kuncir toga dari kiri ke kanan secara berurutan sesuai dengan Nomor Induk Mahasiswa. Kau tak rela jikalau kau dipanggil di akhir acara, sementara kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Namun, salah seorang panitia membujukmu, dia seorang perempuan—ibu paruh baya, kebetulan kau cukup mengenalnya. Karena menghargai ibu itu, akhirnya kau mau dipanggil ke panggung untuk dipindahkan kuncir togamu.

Momen kau meraih gelar Sarjana Sastra yang begitu kau harapkan berakhir dengan kekecewaan. Kau pun tak menerima ucapan maaf dari panitia yang bertanggung jawab atas sortir ijazah wisudawan. Saat kau wisuda, kondisi di negeri ini memang sedang kacau balau. Pandemi yang disebabkan oleh virus dari Tiongkok sudah membuat negerimu terbatas melakukan pertemuan-pertemuan atapun membuat acara yang menimbulkan kerumunan. Akan tetapi, kampusmu nekat melakukan wisuda luring separuh daring. Hal itulah yang membuat kekacauan, para panitia wisuda yang tidak profesional membuat data mahasiswa yang mengikuti wisuda luring dan daring tidak benar. Setelah hari itu berlalu, kau mengetahui fakta bahwa, bukan hanya kau yang mengalami hal menyakitkan itu. Ada banyak mahasiswa dari program studi lain seperti ilmu politik yang tidak dipanggil namanya ketika prosesi wisuda, sama halnya sepertimu.

Walaupun kau tidak sendirian, kau tetap saja kecewa atas perlakuan yang dilakukan oleh kampusmu. Kau sudah melakukan yang terbaik, kau juga telah mengikuti semua prosedur pendaftaran wisuda dengan benar. Namun, kau mendapatkan sebuah kekecewaan di akhir masa kuliahmu. Insiden saat wisuda itu, bukanlah kejadian pertama yang membuatmu merasa kecewa. Sebelumnya kau juga pernah merasakan kecewa dan tidak habis pikir pada tempat yang kau percayai untuk mencari ilmu pengetahuan.

Tahun lalu kau melihat salah seorang kakak tingkatmu yang sedang menangis tersedu-sedu. Di dalam bola matanya memancarkan sebuah kepedihan berbalut kekecewaan yang mendalam. Kau tidak terlalu akrab dengannya, pun kau tak mau bertanya karena merasa segan terhadapnya. Kau bertanya dengan salah seorang temanmu yang dekat dengan kakak tingkatmu itu. Dia menjelaskan padamu bahwa dia kecewa karena dia tidak dinobatkan sebagai wisudawan terbaik, padahal dia Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)-nya lebih tinggi dari orang yang dinobatkan sebagai wisudawan terbaik di Fakulas Sastra. Temanmu itu menceritakan percakapan singkat seolah-olah kakak tingkat sedang berbicara dengan Dekan Fakultas.

“Pak, mengapa bukan saya yang terpilih sebagai wisudawan terbaik?” tanya kakak tingkatmu dengan nada penasaran.

“Kau seharusnya bersyukur saja, sudah untung bisa lulus,” ucap Dekan Fakultas Sastra santai.

Kau mendengar kutipan percakapan singkat yang sungguh memuakkan. Kau bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa seorang pimpinan Fakultas menanggapi pertanyaan mahasiswa yang masuk akal karena IPK-nya memang lebih tinggi dari mahasiswa yang dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dijawab dengan begitu menyakitkan? Tidak bisakah Beliau menjawabnya dengan baik dan manusiawi? Sebagaimana mahasiswa itu adalah anaknya sendiri. Bukankah itu yang mereka inginkan selama ini? Bukankah mereka selalu berkoar-koar bahwa para anak didik mereka harus menghormati mereka layaknya orang tua sendiri? Akan tetapi, kenyataannya itu hanya berlaku sepihak, jikalau diperlakukan sebagai seorang anak, kalian sama saja dengan anak tiri. Diperlakukan tidak adil, kalian tak memiliki hak untuk bersuara. Kalian dibungkam, kalian bagai tahanan, di dalam penjara berbalut sistem pendidikan.

***

Empat tahun yang lalu, kau sangat berharap menjadi mahasiswa di universitas negeri ternama yang berada di kota gudeg. Namun, kau tak berhasil, kau kecewa dan memutuskan untuk melupakan mimpi masa remajamu. Kau masuk ke universitas swasta, bukan karena kau benar-benar tidak lulus seleksi universitas negeri. Kau berhasil lulus di pilihan ketiga, di universitas negeri tempat kau dibesarkan.

“Nak, kamu daftar ulang saja di universitas yang menerimamu,” ucap ibumu dengan nada lembut.

“Tidak mau, Bu,” jawabmu singkat.

            Saat memilih prodi dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) kau tidak berpikir panjang. Kau hanya memilih sebagai formalitas saja untuk pilihan kedua dan ketiga. Namun, kenyataan sungguh tak terduga, setelah pengumuman tiba, ternyata kau lulus di pilihan ketiga. Kau menimbang-nimbang apa yang harus kau pilih di kala itu. Akhirnya, kau tetap menjadi dirimu sendiri, kau menginginkan prodi yang berada di pilihan pertama.

            Kau membuat keputusan gegabah, bahkan kau tidak mencoba ujian mandiri di universitas negeri yang kau impikan. Rasa kecewa dan kesedihan ditolak dua kali dalam seleksi SNMPTN dan SBMPTN membuatmu sakit sekali. Tentu saja, itu sungguh menyakitkan bagi seseorang sepertimu. Di sekolahmu, kau adalah juara kelas, kau pun pernah menjadi juara umum angkatan. Kau merasa tak berdaya mengetahui teman sekelasmu yang berhasil lulus di universitas negeri terkenal dengan jurusan yang mentereng. Kau tahu betul temanmu itu, dia tak pernah masuk 10 besar, bahkan dia peringkat kedua dari belakang. Jiwa ambisiusmu terkoyak-koyak, kau merasa seleksi itu sungguh tak masuk akal, sedangkan kau dan teman-temanmu yang langganan juara satu sampai dengan tiga hanya bisa gigit jari melihat mereka yang menjadi mahasiswa universitas negeri tanpa harus berdarah-darah belajar untuk SBMPTN.

Kekecewaan yang menusuk-nusuk, hingga hatimu tak dapat kau kendalikan, membuatmu mengambil keputusan yang ceroboh. Kala itu, kau sudah melihat teman-temanmu memamerkan almamater baru mereka yang baru saja mereka dapatkan setelah daftar ulang. Beranda Facebook-mu dipenuhi oleh almamater bercorak dan beragam warna, warna kuning, biru tua, coklat muda, sungguh warna-warna yang menyilaukan matamu. Tak lupa pula, dihiasi oleh foto-foto temanmu yang baru saja meraih baju kebesaran mereka sebagai seorang abdi militer ataupun sekolah kedinasan.

            Kau menilai bahwa dirimu telah gagal sebagai seorang pelajar, pun gagal dalam pembelajaran. Kau selama ini merasa seseorang yang cerdas, ternyata  bukan apa-apa. Kau layaknya katak di dalam tempurung. Penghargaan demi penghargaan yang kau terima selama ini tidak ada gunanya. Kau adalah kegagalan, kegagalan berkecambuk di dalam jiwamu. Kau mulai mengurung diri di kamar, kau tak ingin bertemu siapa pun, kau bahkan ingin mengakhiri hidupmu. Selama bertahun-tahun kau menghabiskan waktumu dengan belajar tiada henti, tetapi beginikah yang kau dapatkan? Kegagalan yang merobek sanubarimu, mencincang habis jiwamu, membunuh mimpi-mimpimu. Kau hanyalah cangkang kosong yang bermimpi tinggi, tanpa tahu bahwa dunia ini sungguh luas. Kau menyadari, kau bukanlah siapa-siapa. Predikat juara kelas yang kau dapatkan sejak duduk di bangku sekolah dasar adalah kesia-siaan.

***

            Sikapmu mulai seperti orang tak waras. Hal itu membuat orang tuamu bingung dan khawatir. Mereka pun bertanya padamu tentang kampus yang kau inginkan untuk melanjutkan studi. Mereka juga menawarkanmu untuk belajar kembali untuk persiapan SBMPTN di tahun depan. Namun, kau tak ingin tes SBMPTN lagi, kau merasa sudah gagal. Kau telah mencabik-cabik impian itu. Kau berkata pada orang tuamu untuk melanjutkan kuliah di universitas swasta di ibu kota. Kampus itu sungguh asing bagi orang tuamu, sebab mereka belum pernah mendengar nama kampus itu.

“Mau kuliah di mana?” tanya ayahmu penasaran.

“Aku ingin kuliah di Universitas A ,” jawabmu. Kau menemukan kampus itu dari hasil pencarian di internet.

“Di mana itu? Ayah belum pernah mendengarnya,” jawab ayahmu bingung.

“Di Jakarta, Yah,” ucapmu sambil menatapnya seraya menerka-nerka kau akan mendapat izin atau tidak.

“Kampus swasta? Kalau mau kuliah di Jakarta, kau bisa kuliah di Universitas B atau Universitas C,” ucap ayahmu. Anak teman Ayah banyak yang kuliah di sana, kampus swasta terkenal di Jakarta, pasti suasananya baik untuk belajar,” tambahnya lagi.

“Di sana ada jurusan yang kumau atau tidak, Yah?” tanyamu penasaran, kau cukup antusias mendengar saran ayahmu.

“Ayah belum tahu, Ayah cari tahu dulu ya,” ucap ayahmu sambil mengelus rambut panjangmu.

“Baik, Ayah,” jawabmu antusias dan bersemangat.

            Tak lama setelah percakapan singkat itu, ayahmu datang memberikan kabar. Bukan kabar baik yang seperti kau harapkan. Ayahmu berkata bahwa di kedua universitas swasta itu tak ada jurusan yang kau inginkan. Kau kecewa, lalu kau membujuk ayahmu untuk kuliah di kampus swasta yang kau cari secara random di google. Ayahmu seakan tak rela kau kuliah di universitas swasta yang tak dia ketahui kredibilitasnya. Tentu saja, karena semua anggota keluargamu kuliah di universitas negeri. Bukan karena ayahmu alergi dengan hal yang berbau swasta, tetapi dia berharap kau dididik di tempat yang tepat. Kau mulai kecewa dengan segala sesuatu. Ayahmu bersikeras meracunimu tentang Universitas B yang sangat mentereng, kampus para artis terkenal di ibukota katanya. Namun, kau tetap tak termakan bujuk rayunya. Kau tetap menginginkan kampus yang kau pilih, tepatnya karena tidak ada pilihan lain. Kau memilihnya karena jurusan yang kau inginkan terdapat di kampus itu, sedangkan di kampus lain sama sekali tidak ada. Setelah melewati lika-liku panjang seperti sinetron di televisi, kau akhirnya diizinkan kuliah di kampus swasta yang kau pilih.

 

***

            Kau menatap sebuah cermin yang besar di hadapanmu. Kau memang kerap kali bercermin, berlama-lama di depannya, seperti yang dilakukan kebanyakan perempuan lainnya. Kali ini kau ketakutan menghadap cermin besar yang berada tepat di depanmu. Kau mulai mengamati cermin itu, bayanganmu terpancar di sana. Kau yang menderita miopi segera mengambil kacamata minusmu agar dapat melihat dengan jelas.  

            Tiba-tiba bayanganmu dalam cermin bergerak, sementara kau diam saja. Ternyata ada yang tidak beres dengan cermin itu. Kau memperhatikan gadis dalam cermin itu berlarian, kau seperti sedang menyaksikan sebuah adegan di dalam cermin yang pelakunya dirimu sendiri. Gadis dalam cermin itu menangis, dia memegang sebuah buku tebal berwarna hitam pekat. Setelah itu, dia mencoret-coretnya dengan pena. Dia terus menerus melakukan hal itu. Kau masih menatap keheranan. Tak lama dia berjalan ke sana ke mari, hingga dia menemukan sebuah gua gelap gulita. Gadis dalam bayangan itu masuk ke dalamnya. Dia tak kembali, hingga beberapa menit kemudian dia keluar.

Gadis itu menangis, kali ini semakin terisak. Dia tampak lebih menyedihkan dibandingkan sebelum memasuki gua hitam kelam itu. Kali ini, dia sudah tak membawa buku tebal di tangannya, tetapi sebuah topi toga dan map yang terlihat seperti map ijazah. Map ijazah itu berwarna hijau pekat. Dia mengamatinya seraya menangis tersedu-sedu.

Tak lama, sebuah cahaya hadir bersamaan dengan seorang laki-laki yang berjalan ke arah gadis itu. Rambut laki-laki itu tampak sudah memutih, tubuhnya memancarkan cahaya yang sungguh menyilaukan. Gadis itu menyipitkan matanya, dan menutup pandangannya dengan tangan kanannya. Sesosok laki-laki itu semakin mendekat. Wajahnya sungguh tak asing bagimu, dia ternyata adalah ayahmu. Dia menatap gadis yang sedang menangis itu, lalu menghapus air mata si gadis dengan tangannya.  

“Sudahlah, berhentilah menangis,” ucapnya pelan.

“Ayah,” ujar gadis itu seraya terkejut.

Kemudian dia duduk bersila di depan gadis itu. “Nak, kau tak seharusnya berada di gua gelap itu sejak awal. Bukankah ayah sudah memintamu untuk tidak memasuki gua itu? Ayah melarangmu sebab ayah tahu bahwa itu bukanlah tempat untukmu. Gua itu gelap anakku, hitam kelam, penuh kebusukan,” jelasnya. “Pergilah menuju ke pintu di ujung sana, di sana sungguh indah, bunga-bunga bermekaran, kicau burung saling bersahutan, ada pula aliran sungai yang jernih, kau dapat meneguk airnya,” tambahnya lagi.

Gadis itu menatap sebuah pintu berwarna keemasan di ujung sana, pintu itu terkunci rapat sepertinya. “Pintu itu mungkin akan sulit kau buka, sebab hanya orang yang ingin berusaha hingga berdarah-darah yang dapat membukanya. Jika kau berusaha dengan keras, niscaya kau bisa membukanya. Pintu itu akan terbuka untukmu,” jelasnya panjang lebar.

            “Baik, Yah. Aku akan berusaha membuka pintu itu,” jawab gadis itu bersemangat.

Dia menyentuh rambut gadis itu dengan lengan kanannya, lalu memeluk gadis itu. Gadis itu tersenyum dalam pelukan yang hangat. Tak lama, laki-laki itu menghilang dalam cahaya yang menyilaukan.

            Tiba-tiba suara bising terdengar nyaring di telingamu. Kau mematikan alarm di handphone-mu yang memekakkan telinga dengan cepat. Kau terbangun, “Wah, ternyata aku bermimpi,” ucapmu pelan. “Ayah! Aku didatangi Ayah di dalam mimpi?” ucapmu lagi. Seketika kau lemas, lalu kau berkata dalam kepiluanmu “Maafkan aku, Ayah. Maafkan aku karena tidak mendengarkan nasihatmu di masa lalu. Aku sadar, bahwa tak semestinya aku berada di sana, sebab tempat itu memang bukanlah untukku,” ujarmu lagi. Kau tak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang telah di surga. Kau memang bermimpi, tetapi kejadian itu seperti nyata. Kau memeluk guling di sampingmu, mengingat kembali pelukan dalam mimpimu. “Ayah, aku rindu,” ucapmu lirih, air matamu pun jatuh membasahi guling yang kau peluk.  

 

***

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!