Berpikir seperti ini hari terakhir
41.3
10
310

Gadis yang berprofesi sebagai pelukis jalanan itu mempersiapkan harinya dengan rencana dan keinginan yang sudah dipikirkan matang-matang.

No comments found.

Lihat, bantalku belum sempat mengering akibat air liur yang membasahinya di sepanjang malam. Bau itu tak perlu kau hiraukan dulu, karena sangat tak sebanding dengan apa yang sudahku rencanakan matang-matang kemarin. Yaitu, hari ini aku harus memaksimalkan diri dengan bahagia dan tertawa. Aku pun mulai menjalankan poin pertamanya, bangun tidur. Lalu bersyukur atas nafas yang kiniku hirup bebas, gratis tanpa memikirkan biaya. Kemudian memandang diriku selama kurang lebih lima menit melalui cermin yang berada di lemari baju. Ah, cantiknya, tubuh sehat dan badan yang kuat.

 

Membuka jendela, adalah agenda kedua setelahnya, agar udara segar dapat masuk, dan cahaya mentari pagi menyorotku bagai bintang yang akan menampilkan sebuah maha karya luar biasa. Melihat diluar banyak rumput liar dan bunga yang hidup bersama, indahnya.

 

Agar di hari spesial ini aku dapat lebih produktif, hamparan air jernih dalam bak mandi tersebutlah tujuanku. Membuat waktu untuk diriku sendiri disana, inspirasi sungguh mudah aku dapatkan hanya dengan bermeditasi di dalam. Diam, rasakan, maka pikiran akan dipenuhi segala macam imajinasi. Dan jangan terlalu lama, sebab nanti keriput. Perlu diingat juga, terkadang aku selalu membawa buku kosong untuk mencatatnya, agar tak hanya berlalu sia-sia bagai angin di padang pasir.

 

Sekarang, tinggal kosongnya perutku yang diberi makan asupan gizi yang sudah rapih terpampang sajiannya di meja makan oleh ibu tersayang. Tidak terlalu banyak pekerjaan rumah pagi ini, jadi aku bisa memintanya untuk mendaratkan suapan pertama padaku menggunakan lengan lembutnya. “Suapi aku,” dia yang wajahnya dipahat oleh seniman agung pun mengangguk sembari tersenyum dan mengarahkan sendok yang sudah mengeruk nasi dari piring sebelumnya ke mulutku.

 

“Sudah besar, masih manja saja” ucapnya sambil mengelus rambutku yang belum sempat mengering.

 

“Aku berpikir bagai ini hari terakhir, jadi aku ingin merasakannya di sisa-sisa hidup ini. Tak apa kan? Karena setidaknya, ibu tak akan menyesal” jawabku yang mengandung pernyataan dan pertanyaan sekaligus.

 

Ia terpaku, mulutnya mengangga lebar di ruang terang, “kamu ini, bicara apa?”

 

“Aku hanya ingin, hari ini bisa bahagia dan tertawa. Dan jika benar ini hari terakhirku di dunia, aku tak akan menyesali apapun. Karena semua sudah ku dapatkan. Dan jika kesempatan masihku dapatkan, maka setiap nafas yang kuhirup tidaklah sia-sia, sebab telah kugunakan secara maksimal”

 

“Kalau begitu, bukankah kamu seharusnya berdiam diri saja dirumah? Menghabiskan waktu bersamaku dan para adikmu?”

 

“Aku akan tetap bersiap, dan memberikan kesan baik pada semua orang dulu. Lalu setelah itu aku akan pulang sebelum petang datang, agar bisa berkumpul bersama kalian”

 

“Kamu tidak takut?”

 

“Jangan terlalu mengkhawatirkanku ibu, aku senang dan bersyukur dilahirkan oleh rahimmu, dibesarkan oleh keluarga utuh, meskipun memang masalah yang menerpa sangat terjal dan curam. Tapi aku tahu, kita bisa selalu melewatinya. Jadi, untuk apa bersedih, ibu aku harap kau tertawa”

 

“Baik. Kau benar. Aku akan menyiapkan pakaian terbaikmu kali ini,”

 

“Terima kasih, ibu” satu kecupan aku daratkan di keningnya. Perasaan cemas, bimbang, seolah menjauhiku seketika. Dan makanan yang masih cukup banyak itu aku habiskan.

 

Perut sudah kenyang, tapi hati ini penasaran, pakaian seperti apa yang sedang disiapkan untukku yang bekerja sebagai seniman jalanan. Rupanya, saat ku buka pintu dia sudah berdiri dengan gaun putih cantik di pegangnya.

 

“Pakai ini, tak apa bila kau menodainya dengan cat saat melukis. Ibu ingin, warna-warni hidupmu tertera disana.”

 

Tak menjawab, hanya pelukan eratku yang mendekapnya. Ternyata, hal terindah seperti ini, bisa ku dapatkan lebih dulu jika menerapkannya sedari lama. Tapi tidak apa, ini lebih dari cukup.

 

“Ibu, aku pergi dulu ya!”

 

“Hati-hati di jalan, nak” lagi dan lagi, kecupan kasih sayang diterima oleh pipiku. Betapa menyenangkannya, jika kita benar-benar tahu hari akhir kita, yang mungkin saja tak lagi ada esok. Maka setiap hari yang dilewati akan penuh dengan kehati-hatian, dan memanfaatkan waktu untuk hal lebih bermakna. Dibanding menyitanya guna tertidur dan menggulir-gulirkan papan di media sosial cuma untuk tak tertinggal berita terbaru.

 

Gaun ini sangat pas, bila di pasangkan sandal flat berwarna putih tulang. Ketika aku menundukkan badan ke bawah meja rias, tiba-tiba aku teringat akan buku harian, “Waktunya mengecek daftar keinginan!” kataku, riang sekali.

 

“Menyeruput kopi di kafe pinggir jalan, melukis wajah pria tak dikenali, mendapatkan cinta dan berdansa!” tak banyak, hanya kemauan sederhana yang dengan membayangkannya saja bisa membuat bahagia. “Tapi siapa? Dengan satu hari ini bagaimana bisa aku mendapatkan cinta? Ah, sudahlah mungkin aku memang ditakdirkan untuk menjalani hidup dengan cinta dari keluarga, bukan pria sebaya.”

 

Semua alat lukis yang kini dibawa, adalah barang baru hasil membeli lusa kemarin, guna menarik perhatian para pengguna jalan, aku membawa serta satu dus piringan hitam. Piringan tersebut aku temukan di toko loak milik sepupuku, teganya, siapa yang membuang barang langka. Hm, mungkin rumahnya penuh barang-barang, sehingga harus menjual barang kenangan. Untukku sendiri, sangat sulit, aku lebih memilih menumpukan barang kenangan, daripada harus membuangnya. Bagiku, memori dalam ingatan dapat berjalan ketika melihatnya. Jadi, aku begitu menyayangi barang-barangnya. Seperti tas berwarna merah muda dan motif kupu-kupu di depannya, yang selalu aku bawa sewaktu taman kanak-kanak.

 

Tak mau hari ini membosankan, aku pergi keluar dengan mengayuh sepeda. Dua rodanya bulat sempurna, keranjangnya juga begitu luas untuk ku pakai menaruh perlengkapan. Keadaan di setikar pun seolah merelakan diriku keluar kompleks, tatapan-tatapan ceria dari para tetangga juga ikut mengiringi aku pergi. Andai, setiap hari berjalan begini, pasti tak ada orang yang menyesali hidupnya.

Tak banyak yang menarik, dari lurusnya jalan trotoar dan bunga Lily yang ditebar. Tapi, tiba-tiba saja ada sebuah mobil jeep kecil yang melintas diantara kanvas-kanvas yang kututupi terpal semalam, alangkah terkejutnya aku yang baru sampai melihat, cipratan air hujan membasahi satu karya lukisku. Ingin marah, tapi aku tahan, sebab pengemudi itu terlihat bertanggung jawab atas tindakannya. Ia menapakkan kaki kanannya lebih dulu, setelan jasnya terlihat rapih. Dan barulah terpancar lekukan indah dari bibirnya, ia berjalan membungkuk sambil mengucapkan maaf, “maafkan aku, aku tidak mengetahui jikalau jalanan ini berlubang”

 

“Ya. Santai saja, mungkin petugas perbaikan sedang dalam perjalanan.”

 

Hening sejenak, ia kembali bercakap waktu melihat satu persatu karyaku, “kau seniman yang handal,”

 

“Terima kasih!” siapa yang tidak senang, bila dipuji dan dikagumi.

 

“Hm, kau punya waktu luang? Aku ingin kau melukis diriku…” Katanya, sambil perlahan mendekatiku.

 

“Bagaimana ini, padahal aku ingin meminum kopi. Haruskah aku merubah jam lukisku lebih pagi? Dan merelakan waktu mencicipi kopi?… Tidak-tidak! Ini hari terakhirmu, santap lagi roti kering dan seduhan kopi lagi, ingat nikmati!” aku bergumam, untuk berpikir teliti, “aku tidak bisa” lirihku menjawabnya.

 

“Mengapa? Kau masih marah akibat kejadian tadi, kalau begitu aku akan kembali lagi dan memberikanmu gantinya”

 

“Tidak usah. Lagi pula, aku tidak marah. Aku hanya ingin menghirup aroma dari roti kering dan mengaduk kopi di kafe itu sebelum bekerja,”

 

“Kalau begitu, kenapa kau tidak sekalian melukisku disana?”

 

“Pria ini, memaksa. Atau kah keberuntungan yang tak terduga, dari keinginan yang kutuliskan dibuku harian?”

 

“Nona, maaf aku mengerti. Aku pergi dulu ya,” mungkin dia menyerah, aku terlalu lama

 

“Baiklah, mari”

 

Dia sepertinya gembira, dan mulai bertanya-tanya padaku sewaktu berada di dalam kafe. “Sudah berapa lama kau bekerja sebagai seniman?” dia sama sekali tak merendahkanku sebagai pelukis jalanan.

 

“Semenjak putus sekolah.”

 

“Kau pandai, kuat dan berbakat. Mengapa tak mencoba sesuatu yang lebih besar? Kebetulan aku mempunyai galeri seni, letaknya tak jauh dari kota ini”

 

“Tidak.” Sedikit risih sebenarnya, aku pun menghampiri barista untuk menghindarinya, “kopi dan roti, seperti biasa!”

 

Senang hati, barista itu membuatnya, selagi menunggu, dia mengingatkan lagi satu hal padaku, “kapan kau akan mulai melukis ku?”

 

“Oh, ya. Sekarang” penuh percaya diri aku mengatakannya.

 

Dia duduk menghadap kaca jendela, sambil merapikan jas hitamnya. “Begini?”

 

“Ya,” aku mengangguk dan mulai menyadari, “mengapa keinginanku tiba-tiba terkabul? Apakah ini benar-benar hari terakhirku? Bagaimana jika benar dan dia menjadi potret akhir karyaku?”

 

Polesan-polesan cat air itu menyatu dengan kanvas, membentuk oval wajahnya, dan sedikit runcing di bagian dagunya. Karena dirinya menghadap kaca, aku tambahkan aksen bom berjatuhan diluar jendela. Dia terlihat tampan.

 

Hidanganku tiba, saat lukisan tersebut belum ku selesaikan. Dia yang tadi ikut memesan pun berbarengan menyantapnya, “kau belajar dari mana melukis dengan indah seperti ini?”

 

“Otodidak, aku hanya meniru apa yang dilakukan oleh pamanku, dulu”

 

“Wah, lalu siapa dan apa yang pertama kau lukis?”

 

“Sederhana, hanya pemandangan indah depan rumah”

 

“Aku ingin tahu lebih dalam tentang dirimu…”

 

Hampir saja tersedak aku mendengarnya, masalahnya dia bukanlah tipeku, jadi aku kurang merasakan adanya cinta disini. Namun ketika dia mengucapkan, “aku belum pernah sebahagia ini, apakah kau mau menerimaku, bisa kah kau menyenangkanku? Walau ini adalah hari terakhirku”

 

“Mengapa ini bisa menjadi hari terakhirmu?” aku agak terkejut dengan pernyataannya, apakah dia bisa membaca pikiranku?”

 

“Mobil yang tadiku bawa kencang akibat diagnosa dokter yang menyatakan hidupku tak lama lagi, beberapa minggu yang lalu. Aku selalu berpikir, hariku sia-sia selama ini. Jadi aku berniat untuk mencelakai diri saja, harta yang bergelimang tak mampu membuatku senang”

 

Terharu, merasa kasihan itu yang ku rasakan sekarang. “Kalau begitu, sama denganku. Tapi, aku sama sekali tak di diagnosa seperti itu, aku baru saja menerapkan setiap hari adalah hari terakhir, jadi akan ku pergunakan dengan maksimal. Kau mempunyai uang, kau bisa mencari cara lain untuk membahagiakan diri, bukan dengan cara melukai. Kau pikir, dengan kau melukai, dosamu akan ter hapuskan? Lalu untuk apa pula hasil kerja kerasmu, kau tak menikmatinya.”

 

“Kau benar, aku tidak menikmati itu semua”

 

“Banyak sisa waktu, pergunakan dengan bijaksana”

 

“Kalau begitu, maukah kamu yang menemaniku?”

 

Aku terpana, tersenyum malu-malu, “ya.” Singkatku, tak ada salahnya, menyenangkan seseorang.

 

“Ya sudah, mari kita pergi setelah kau menyelesaikan lukisan itu. Aku akan mengajakmu melihat galeri dan berdansa di aula.”

 

“Tunggu, bagaimana bisa ini semua terjadi? Oh, tidak. Aku sedang mimpi?” bertanya-tanya akan mengapa keinginanku terkabulkan.

 

Untuk mempercepatnya, aku menyelesaikan lukisan, dia sangat menyukainya dan berkata bahwa akan memajangnya di galeri. “Kau tahu? Ini seperti kisah cinta pandangan pertama, boleh tidak kau merasakan cintanya.”

 

“Hm,” sebenarnya aku ingin berkata bahwa aku sama sekali tak tertarik padanya. Namun kembali lagi, tak ada salahnya berpura-pura.

 

Ia menjabat tanganku, aku mengikuti alunannya menari-nari saat gerimis turun. Dia masuk lagi ke dalam kafe, mengambil payung merah agar tidak basah. Ia juga melindungi diriku dari genangan air yang terlindas kendaraan. Kemudian menaiki mobilnya, sesampainya di galeri itu rupanya sedang diadakan sebuah pameran. Sengaja atau tidak, aku tidak tahu maksudnya, karya yang baru saja ku lukis dipajangnya ditengah-tengah. Kerumunan orang mulai mendekati kami berdua, salah satu dari mereka melemparkan pertanyaan padanya, “siapa dia?”

 

“Dia istriku, yang sering ku ceritakan karena sifatnya malu-malu, dia baru saja melukis diriku,”

 

Tidak mau ambil pusing, aku ikuti saja permainannya, “hehe”

 

“Cantik sekali, kamu turunan bidadari?”

 

“Jangan menggodanya, dia milikku!”

 

“Santai saja, aku tahu porsiku. Tapi nyonya, mengapa kamu baru pertama kali hadir disini?”

 

“Aku,”

 

“Dia pemalu, sudah kubilang kan?”

 

“Kau ini pencemburu!”

 

“Karena dia milikku,”

 

Perasaanku bergejolak, “uh dia menghormatiku. Tapi mengapa dia bilang dia sering bercerita tentang istrinya? Apakah benar istrinya berada dirumah?” gumamku sedikit waspada, aku bukanlah wanita perebut suami orang seperti yang marak terjadi kini.

 

Tak lama setelah perjamuan yang melelahkan bertemu dengan para tamu yang mana mereka adalah orang asing bagiku, acara dansa yang kutunggu-tunggu dimulai. Aula yang semula terang menjadi gelap menyisakan sorot cahaya di tengah, “kemari,” ucapnya menggenggam telapak tanganku dengan lembut.

 

Seperti yang selalu ku bayangkan, tentang adegan perempuan berdansa mengenakan pakaian terbaiknya, karena telah menemukan pria tepat lebih dari harapannya. Dan pria yang tulus mengenakan wewangian. Sempurna, alangkah indahnya jika aku benar-benar merasakan cinta. Sebab, yang dapat aku terima adalah perlakuan manis dan pujiannya.

 

Tak terasa, petang datang. Kepanikan menerjang, aku harus pulang. “Aku harus pulang, orang tuaku pasti menungguku dirumah.”

 

“Secepat itu?”

 

“Ya, aku permisi dulu”

 

“Tidak, tunggu! Namamu, kita belum berkenalan.” Untung saja, ucapnya tak membocorkan rahasianya sendiri, karena saat itu tamu mulai sibuk melihat karya-karya.

 

“Sofia!”

 

“Tunggu, jangan pulang dulu. Biar aku mengantarmu,”

 

“Baiklah,” hari ini rasanya berjalan mulus sesuai harapanku, dimana aku puas tertawa dan bahagia meskipun tak merasakan cinta dari pria, karena dia tak sebaya denganku. Mulai dari umur dan kekayaannya.

 

Aneh, kali ini ia terdiam, atau mungkin karena terlalu memperhatikan jalan dan untuk mencairkan suasana, aku bertanya, “apakah kamu sudah cukup bahagia?”

 

“Lebih dari cukup, terima kasih. Dan maafkan aku, tadi berbohong dan tak sengaja menjadikanmu sebagai istri di hadapan teman-temanku. Kau menjadikan hariku berwarna,”

 

“Sama-sama, senang bila bisa membantu.”

 

“Bisakah aku menemuimu lagi, Sofia? 

 

“Boleh saja, jika esok aku masih ada”

Semoga teman-teman suka dan terhibur ya!

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!