Better with Me
16
2
124

Bukan sesuatu yang diharapkan memang, tapi hubungan kita sudah terlanjur menyimpang dari jalan yang seharusnya. Maka dengan ini ku putus tali yang merajut kita bersama dan dengan ini pula ku harap kau menyesal atas apa yang pernah kamu lakukan padaku, padanya dan pada mereka di luar sana.

No comments found.

Malam ini cahaya rembulan nampak malu-malu memunculkan rona terangnya. Dia memilih bersembunyi dibalik awan gelap nan pekat dalam kesunyian malam selasa. Ribuan bintang-bintang yang memayungi kota Bandar Lampung bahkan tidak mampu menerangi jalanan sepi di komplek perumahannya. 

Suasana komplek perumahan yang sepi ditambah angin sepoisepoi yang menerpa wajah halus Elaine, praktis membuat gadis itu menghirup nafas dalam-dalam. 

Pikirannya sedang berkecamuk malam ini. Di bawah sinar bulan yang tak begitu terang, Elaine serasa ingin berteriak keras-keras kalau dirinya sedang merasa begitu kecewa. 

Bukan kehilangan sosok yang berharga memang. Tapi rasa sesal ini terus menghantuinya bahkan menjadi penanda, bahwa dirinya bukan lagi Elaine yang polos dan suci. 

Dahulu. Ia ingat betul, ketika hujan melanda daerah Kota Bandar Lampung dengan begitu derasnya. Elaine berdiri di tengah-tengah rintik hujan itu sambil tersenyum senang karena berhasil mengecoh sahabatnya. 

Bastian. Pria itu selalu berhasil membuatnya tertawa disaat dirinya tengah dalam kondisi begitu terpuruk. Seperti sebuah matahari yang datang ketika mendung menyelimuti langit, Bastian selalu datang menghalau rasa gelisah yang tengah dirasakannya. 

Sudah 6 bulan tepatnya berlalu. Seharusnya Elaine tak merasa serindu ini pada Bastian. Tapi entah kenapa, pria itu meninggalkan jejak rindu dengan kenangan indah dalam benaknya. Padahal jika diingat-ingat, dia sudah punya Alex yang jelas-jelas ber-notabene sebagai pacarnya. 

Memori beberapa tahun lalu kembali memenuhi kepalanya seperti memenuhi benaknya begitu saja. 

“Kamu mau kemana El? Jam segini udah rapi,” tanya sang Ibunda pada putri bungsunya yang sudah rapi-rapi padahal beliau ingat betul bahwa Elaine adalah anak pemalas. Jika tidak ada kepentingan maka ia tidak akan mandi pagi dan hanya akan mencuci mukanya. 

“Mau ke Gramedia, Bun. Pergi bareng Bastian, kok!” jawabnya dengan suara lantang dari arah teras rumah. 

Di balik pagar hitam setinggi satu meter yang membatasi halaman rumahnya dengan jalanan komplek, sudah bertengger apik motor sport warna hitam beserta pemiliknya–Bastian.

Gadis itu buru-buru merampungkan ikatan tali sepatunya saat mendengar suara kakak laki-laki nomor duanya yang berteriak menyerukan titipan martabak manis rasa kacang coklat. 

“Dek, gua titip martabak kacang coklat ya!” teriak Vano dari kamarnya. 

“Sorry, gua udah jalan!” sambar Elaine dengan cepat agar pemuda itu tak terus-terusan menyuruh-nyuruh orang seenaknya. 

“Eh! Elaine, jangan pelit!” teriaknya protes, tetapi gadis itu lebih memilih menulikan pendengarannya dan berpamitan pada Bunda lalu menghampiri Bastian yang masih setia menunggunya di luar sana. 

“Maaf lama, Tian.” Pria itu hanya mengangguk samar dan menyodorkan satu helm miliknya yang dia letakkan di stang motor. 

Tanpa banyak protes dan bicara panjang lebar, keduanya kini fokus pada jalanan kota Tanjungkarang yang mulai ramai dipadati para pengendara lain. 

Sampai di tempat tujuan pun mereka tak banyak bicara. Seperti sama-sama nyaman pada keheningan yang mereka ciptakan agar keduanya terasa begitu melekat tanpa harus membuka suara. 

“El, lo mau beli buku apa?” tanya Bastian setelah daritadi melihat Elaine hanya berputar-putar di rak novel namun tak ada satupun buku yang disentuhnya. 

“Hehe … harusnya lo ngertilah, kalau gua gak pilih buku ya berarti gua cuma mau nebeng. Katanya lo mau ke Gramed karena disuruh Kak Vera beli buku resep, kan?” Bastian mengangguk samar. 

“Owh, yaudah. Gua tinggal ya,” kata Bastian sembari berjalan meninggalkan posisi gadis itu berada sekarang. 

“Iya, nanti malem jangan lupa ke rumah!” balas gadis itu malu-malu. 

Bastian itu sahabatnya sejak kecil, mereka tumbuh bersama dari usia balita. Jadi jangan heran jika keduanya dapat memahami sikap masing-masing dan tak jarang selalu bersama sepanjang hari karena rumah mereka juga berdekatan. 

Bahkan karena saking dekatnya, banyak rumor yang mengatakan kalau Elaine juga Bastian sudah berpacaran sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tapi keduanya membantah rumor tersebut dan mulai saling membatasi interaksi keduanya di sekolah. 

“Oiya, El!” Gadis itu kembali menoleh hanya untuk menyaksikan Bastian kembali berjalan mendatanginya lalu secara tiba-tiba mengecup dahinya begitu saja. Tak peduli pandangan orang-orang di sekitar mereka sudah melayangkan tatapan tajam mengintimidasi. 

“Apaan sih, Tian?!” protes Elaine tak terima. Dahinya langsung digosok dengan kuat menggunakan telapak tangannya agar tak meninggalkan jejak basah di sana. 

“Hati-hati, jangan sore-sore pulangnya!” pesan pria itu, setelah mendapat anggukan lucu dari sang gadis barulah ia meninggalkan Elaine dengan wajah memerah bak kepiting rebus. 

Sekarang nafas Elaine terasa tercekat. Mengingat perkataan Bastian beberapa hari lalu cukup membuat pendiriannya goyah tapi entah kenapa rasa yang sama juga ia tunjukan pada Alex– kekasihnya. 

“Putus sama Alex, gua gak mau lihat lo disakiti lagi. Cukup gua yang menderita lihat Alex jalan sama cewek lain, lo jangan bodoh-bodoh amat!” 

Perkataan Bastian waktu itu benar-benar membuat hatinya sesak. Apalagi saat ia lihat bukti nyata itu dengan mata kepalanya sendiri. 

Elaine sangat mencintai Alex, dia sampai tidak bisa membedakan apa laki-laki itu berbohong atau jujur. Semua ekspresi yang ditunjukkan kepadanya selalu sama–tulus. Memang terkadang, cinta membuat siapapun buta tapi perbedaan cinta dengan bodoh itu sangat tipis. Fakta bahwa dirinya juga mengalami kekerasan dari hubungan dengan Alex memang tidak bisa dipungkiri lagi. 

Elaine memang bodoh. Minggu lalu Alex datang dan mengajaknya bermain sampai kelepasan namun kini ia sudah tak terlihat lagi batang hidungnya saat Elaine mengungkapkan bahwa dirinya tengah hamil. 

Sekarang Elaine menyesali ucapan Bastian beberapa waktu lalu. Alex memang orang bejat, tapi kenapa Elaine tak bisa memutuskan hubungan dengannya. Seperti ada tali tambang yang mengikat seluruh tubuhnya untuk terus berada di dekat pria brengsek itu. 

Dan dengan tangan yang bergetar, Elaine mencoba meraih ponsel miliknya yang berada di atas meja di hadapannya. 

Jari-jarinya bergerak lihai, mendial nomor seseorang yang cukup ia kenal dan dapat dikatakan dekat dengannya. 

Ya … semenjak berpacaran dengan Alex, dirinya mulai dimusuhi banyak sahabat-sahabatnya. Alasanya sepele, yaitu mereka tidak suka dengan hubungan yang dijalani oleh Elaine dan Alex. 

Itu juga yang menjadi alasan mengapa dia stres akhir-akhir ini. Menanggung beban lahir dan batin ternyata memang merugikan. Sudah berkali-kali ia mencoba bunuh diri, tapi akhirnya ia memutuskan untuk urung karena ingat masih ada keluarga yang berharap padanya. 

Meski berita tentang kehamilannya sudah diketahui Alex sang pacar tapi keluarganya sendiri tidak mengetahui apa-apa dikarenakan Elaine yang semakin menutup diri. 

Sebuah pesan teks diketik rapi dalam aplikasi room chatnya. Pesan yang akan ditujukan kepada Yara–teman tak terduga yang malah menjadi sahabat pereda kecewa. 

Me : Yaraa, lagi sibuk gak?

Beberapa menit menunggu, pesan singkatnya kemudian berbalas dari Yara. 

Yara bestie : No, kenapa Laine? 

Tangan gadis itu kembali mengetikkan beberapa kata, menyampaikan maksudnya mengechat gadis tersebut. 

Me : Aku mau ketemuan boleh? Dimana aja yang kamu bisa, sekarang tapi

Dahinya mengernyit karena pesannya tak dibalas-balas selang bermenit-menit lamanya padahal status nomor gadis itu sedang online. 

Me : Yara? Sibuk ya, yaudah deh. Gak usah, maaf ya ganggu

Tak berselang lama, suara ketukan pintu dari arah luar kamar terdengar menggema memasuki gendang telinganya. 

“Nak, ini ada Yara. Temen kamu itu, mau ketemu katanya.” Bunda berteriak kencang dari luar sambil terus menggedor pintu kamarnya. 

“Iya Bund, sebentar!” sahutnya. 

Bergegas. Elaine langsung turun ke lantai bawah tepatnya menuju ruang tamu untuk menyambut kedatangan sahabat barunya itu. 

“Yara, gua kira lo gak mau,” kata Elaine lega. Wajahnya terlihat begitu ceria dengan senyuman sumringah saat melihat kehadiran Yara di dekatnya. 

“Mau ngobrol apa?” tanya Yara, gadis itu berjalan mendekat lalu merangkul Elaine agar tak lagi merasa gundah. 

“Kamar aja yuk!”

Keduanya berlarian menuju lantai dua untuk mengobrol panjang di balkon kamar Elaine. Setelah menyajikan beberapa camilan beserta minumannya, kedua gadis itu mulai berbincang serius tentang masalah yang sedang dihadapi Elaine sekarang. 

“Jadi?” Yara menuntut penjelasan atas panggilan dari Elaine sebelumnya untuk datang dan menemani gadis itu berbicara. 

“Gua hamil …,” cicit Elaine begitu lirih. Nada ketakutan juga kekhawatiran terpancar jelas dari caranya berbicara. 

What the–? Sama Alex? Kelepasan?” Wajah syok Yara sempat membuatnya ketakutan. Takut jika dirinya malah akan dijauhi lagi dan takut jika kabar buruk ini menyebar luas juga memalukan nama keluarga. 

“Maaf, Ra … tapi please jangan jauhin gua ya!” lirih Elaine memohon. Dia begitu kalut dengan semua perasaan ini. Dia terlalu takut tapi beban yang ditanggungnya benar-benar begitu berat hingga dirinya tak lagi bisa berjalan walaupun merangkak seinci pun. 

Tanpa disangka-sangka, Yara justru memeluk erat tubuhnya sambil menangis sesegukan di bahu Elaine. Mata gadis itu jadi terasa memanas, ia merasakan ada tangan yang kembali terulur untuk membantunya bangkit dari parit dalam ini. 

“Yang k-uat ya, Laine … hiks. Ja-ngan patah se-mangat, okey?” ujarnya sesegukan dalam rengkuhan Elaine. Kontan Elaine terkekeh pelan mendengarnya. Rasa hangat itu terasa menjalar di relung dadanya, tak seperti hari-hari biasa yang dulunya ia jalani dengan rasa hambar. 

“Dimana Bastian? Lo kan akrab sama dia, apa dia juga tahu soal ini?” tanya Yara, raut kebingungan juga penasaran bercampur rata di wajah cantiknya. 

“Dia … enggak tahu, Ra.”

“Mending telepon dia sekarang, suruh dia ke sini buat nemenin lo,” perintah Yara terdengar begitu tegas. Matanya juga menyiratkan rasa percaya juga tegas kepada Elaine. 

“Oke, tapi gua gak tau dia masih marah enggak sama gua.”

“Yang penting dicoba dulu, Elaine!”

Gadis itu pasrah. Tangannya kembali mengutak-atik ponsel dan mendial nomor Bastian di dalam sana. Setelah deringan mulai terdengar, Elaine tiba-tiba tak bisa bernafas dengan baik karena pikirannya yang kembali dipenuhi oleh bayangan buruk. 

“Gak diangkat,” serunya kecewa padahal tahu jika deringannya baru berbunyi sebanyak lima kali. 

“Matiin, dan telepon lagi.” Belum sempat mematikan panggilan, telepon itu justru terhubung dengan suara serak khas Bastian di seberang sana. Sepertinya dia baru bangun tidur. Padahal ini masih jam 7 malam. 

“Kenapa Laine?” tanyanya, nada hangat serta ramah selalu eksis ditunjukkan pada Elaine sejak awal mereka kenal. 

“Anu … bisa ke rumah gak? Aku mau curhat.” Awalnya tak ada sahutan yang jelas dari seberang sana tapi kemudian suara dengkuran halus juga beberapa teriakan anak kecil terdengar memenuhi ruangan Bastian. 

Sorry, sorry. Lo bilang apa tadi?” tanya Bastian memastikan. 

Elaine jadi tergugu karena suara serak Baatian bertambah dengan intonasi lembut bercampur nada rendah. 

Sementara di tempat Bastian berada, pria itu kebingungan karena Elaine tak kunjung bersuara. Sebetulnya tadi suara Elaine terdengar jelas dan tidak putus-putus hanya saja beberapa keponakan Bastian yang sengaja dititipkan di rumahnya mendadak berisik dan Bastian tidak bisa fokus pada ucapan Elaine. 

“Laine? El? Lo gakpapa, kan? Kenapa tadi?” 

Di tempat Elaine berada sekarang, Yara sudah mencak-mencak gemas akan sikap Elaine yang kelewat lamban. Padahal yang dia ajak bicara saat ini adalah sahabat lamanya. Sahabat yang sudah berada di sisinya lebih dari 13 tahun. 

“Elaine! Ngomong aja, suruh Bastian ke sini.” Yara berbisik dengan perlahan agar Bastian tak mendengar suaranya. Paling tidak, suaranya tak masuk ke dalam panggilan. 

“Tian, bisa ke rumah gak?” Elaine kini kembali mengulang permintaannya setelah Yara mengancamnya dengan sebatang sapu. 

“Hm … kenapa?” Di seberang sana, Bastian jelas-jelas kebingungan karena tiba-tiba sekali Elaine menyuruhnya ke rumah. 

“Mau curhat. Udah lama gak ngobrol bareng, gua kangen.” Itu bukan suara Elaine melainkan suara Yara, dia begitu gemas melihat Elaine yang hanya menggigit kuku-kukunya dan seolah tak punya mulut hingga tidak bisa berbicara. 

“Iya, lima belas menit gua sampe.” Panggilan langsung Yara putus sepihak. Dia bergegas mengambil semua barang-barang yang dibawanya dan melempar asal ponsel milik Elaine ke kasur gadis itu. 

“Laine, gua pulang ya. Udah di telepon Bokap!” pamitnya begitu mendadak. 

“Tapi, kapan lo teleponan sama om Hendri?” Elaine ikut-ikutan panik melihat sahabatnya bergerak begitu semberono ketika mengambil barang-barangnya yang diletakkan secara asal-asalan. 

“Barusan, udah ya gua duluan. Bye, Princess!”

Bruk! 

Pintu kamar ditutup dengan dibanting dari arah luar. Bunda sempat mengecek keadaan dengan bertanya namun Yara berhasil mengelabui wanita paruh baya itu dan kembali ke rumahnya tanpa banyak rintangan. 

Kini tinggal Elaine yang harus dilanda gelisah. Apa reaksi Bastian saat ia ilang bahwa dirinya tengah mengandung sekarang? Apalagi ini anak dari hubungannya dengan Alex. 

Tepat lima belas menit menunggu. Suara deruman motor dari arah halaman rumah terdengar hingga kamarnya yang berada di lantai dua. Itu Bastian. 

Elaine segera berlari menyambut pria itu di teras rumah dengan senyum sumringah yang dibuat-buat. 

“Lama banget!” cibir Elaine sambil menjulurkan lidahnya. 

Terdengar suara Bastian terkekeh ringan. “Yang penting sampai dengan selamat,” katanya. 

Elaine kembali fokus pada pesan Yara sebelum pulang tadi, katanya. “Ajak Bastian ngobrol, tanya gimana pendapat dia tentang lo yang selama ini mulai berubah.”

“Yuk, kamar!” ajak Elaine tanpa basa-basi. Keduanya kini berjalan santai melewati ruang keluarga yang ramai dengan para penghuni televisi penggila tayangan on the spot. Ada Ayah, Kak Vano, juga Kak Gilang. Sementara Bunda masih asik di dapur entah melakukan apa. 

“Om, gimana kabarnya sekeluarga?” sapa Bastian saat melihat sosok Ayah Elaine sedang terkekeh menyaksikan video lucu dalam tayangan televisi trans7 tersebut. 

“Eh, Bastian! Ya ampun, udah lama gak keliatan. Puji Tuhan, Om baik Tante juga baik. Kalau mereka gak usah ditanya pasti baik! Kamu sendiri gimana, keluarga sehat semua kan?” balas Ayah Elaine. 

“Baik Om. Puji Tuhan sekeluarga sehat semua.”

“Wuih, mau main bekel tah di kamar?” tanya Kak Vano iseng. Dia masih suka mengejek Bastian main bekel sejak kecil. 

“Kak, ish … lo mah!” protes Elaine. Justru Elaine yang sangsi setiap Vano menyinggung masa kecil mereka dan reaksi Bastian pasti akan selalu terbahak. 

“Ayo, Tian!” Jemari Elaine langsung menggamit lengan kekar sahabatnya pergi dari ruang keluarga agar tak semakin lama dan tak memperpanjang bahan bully-an kedua kakaknya itu. 

Setelah sampai di kamar Elaine, Bastian praktis membaringkan tubuhnya yang begitu terasa lelah setelah seharian menjaga keponakannya di rumah hari ini. 

Elaine menutup pintu rapat-rapat agar suaranya nanti takkan terdengar hingga lantai bawah. 

Baru saja mendudukkan diri di sofa dekat kasur, Bastian langsung mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. 

“Kenapa? Kenapa kalau lagi susah yang dicari gua? Padahal kalau lo dengerin apa kata gua beberapa waktu lalu, lo pasti gak bakal nyesel! Sekarang masalahnya apa coba?” cecar Bastian begitu menohok. 

Elaine jadi sungkan berbicara. Ia hanya bisa tertunduk lemas karena tak sanggup menatap mata elang Bastian yang kini menatapnya dengan pandangan tajam. 

“G-gua … enggak apa-apa k-ok, Yan … lo ke-napa ngomong gi-tu sih ke gua?”

Secara mendadak, dadanya yang semula dapat mengatur nafas kini terasa menyempit dan tak bisa digunakan untuk bernafas dengan baik. Seakan-akan ada benda tak kasat mata yang menghimpit paru-parunya hingga dirinya tak mampu menarik dan menghembuskan nafas. 

“Tian … lo tau, gua sebenarnya kecewa sama diri gua sendiri. Terlebih karena gua udah ngejauhin lo yang jelas-jelas adalah sahabat gua dari kecil … hiks … tapi Bas, perasaan ini juga aneh. Kaya tiba-tiba aja datang padahal kalau dipikir-pikir gak ada satupun hal yang gua suka dari dia,” tutur Elaine panjang lebar. 

Berkali-kali tangannya memukul-mukuli dadanya yang semakin terasa sesak, dan membiarkan air matanya menetea deras tanpa mau dicegah. 

Bastian masih setia memandangnya dengan tatapan tajam di seberang sana. Seakan-akan dirinya tak lagi mau memaafkan kesalahan Elaine karena dampak yang begitu besar sudah terjadi. 

“Lo— hamil, kan?” Bastian bertanya dengan nada ragu-ragu. Tapi pandangannya berubah melembut saat itu juga. 

“I-iya … darimana lo tau?” jawab Elaine kebingungan. Tangannya masih bergerak-gerak memukuli dadanya yang semakin terasa terhimpit. Bahkan sekarang nafasnya sudah kelewat sesak. 

Bastian yang melihat itu buru-buru menghampiri Elaine dan memeluknya erat-erat. Telapak tangannya yang besar juga ikut mengelus pundak gadis itu agar lebih tenang. 

“Jangan nangis, Laine. Lo jelek kalau nangis tau!” selorohnya bernada canda. 

Walaupun rasa tenang menyelimuti dirinya, tapi Elaine masih merasa bodoh. Harus dia tidak menerima Alex, harusnya dia menuruti kata Bastian, harusnya, harusnya, harusnya dan harusnya. Semua sekarang berubah menjadi penghakiman dalam kepalanya. 

“Bastian, gua ini munafik ya? Gimana bisa coba gua kasih tubuh gua ke dia secara cuma-cuma? Otak gua kemana sih, ya?” racaunya menyesal. Iya, dia kecewa namun sayangnya sebuah penyesalan selalu datang di akhir bukan di awal. 

“Lo tahu konsekuensinya, jadi lo harus tanggung akibatnya.”

“Akhir-akhir ini gua sering lihat hal aneh. Ada kain putih yang menggantung di balkon gua, ada gumpalan darah deket kasur gua, dan yang terakhir masih ada sampai sekarang. Itu!” Elaine berujar menunjuk pada suatu benda berwarna putih yang tergantung di dekat pintu masuk kamarnya. 

Bastian reflek berdiri dan meraih benda itu. Jika dicium dari aromanya, ini bukanlah kain biasa. Ada harum bunga melati di dalamnya, dan tekstur kain itu seperti ada segumpal tanah. Bahkan nama Elaine terukir lengkap di luar kain itu. 

What the hell!

____*+*____

Suara deruman motor kembali terdengar dari pekarangan rumah Elaine. Dan pelakunya sudah pasti Bastian, secara mendadak pria itu turun dari kamar Elaine kemudian bergegas pergi dengan motornya. 

“Tian .. jangan marah! Please maafin gua. Tian! Lo mau kemana?” Elaine berusaha sekuat tenaga mencegah Bastian pergi. Ia takut jika ternyata Bastian jadi tambah benci kepadanya. 

“Lo ngapain?” tanya Bastian yang kaget, Tiba-tiba saja Elaine sudah duduk manis di jok motornya. 

“Mau ikut, lo gak boleh pergi.” Terdengar helaan nafas yang cukup panjang dari Bastian. Pria itu seperti jengah tapi juga tak bisa marah dengan sikap kekanak-kanakan Elaine. Mengingat dirinya juga sedang hamil saat ini. 

Tangan gadis itu langsung memeluk erat pinggang Bastian. Tak peduli jika pria itu sedang salting diperlakukan sedemikian rupa olehnya. 

“Yaudah ikut, bilang Ayah Bunda belum?” tanya Bastian. Elaine mengangguk, meskipun laki-laki itu tahu jika gadisnya sedang membual. 

Tanpa mau berlama-lama, Bastian segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Menembus jalanan kota Bandar Lampung yang sudah sedikit lenggang dari kendaraan beroda empat. 

“Kita mau kemana?” tanya Elaine. Ia sadar jika Bastian tidak kembali ke rumahnya, melainkan ke markas Alex- kekasihnya. 

Bastian tak menjawab, ia lebih memilih bungkam saat amarahnha tengah meluap-luap daripada harus bersuara. Yang ada nantinya dia malah terlihat memaki Elaine. 

Bermenit-menit waktu terkuras, motor sport berwarna hitam itu akhirnya sampai di depan sebuah bangunan layaknya rumah tingkat tanpa penghuni seperti rumah hantu. Namun bedanya dengan rumah hantu adalah beberapa motor juga terparkir di halamannya. 

“ALEX!” Pekikan Bastian terdengar menggema di rumah yang begitu lebar ini. Suaranya yang lantang juga memicu tanda tanya juga pandangan tak suka dari arah teman-temannya Alex. 

“Owh, Elaine? Gimana bayinya, sehat?” Sapaan hangat itu berbanding terbalik dengan wajah yang ditunjukkan Alex pada dirinya. 

Bugh! 

Satu bogeman mentah mendarat di perutnya. Dan tanpa aba-aba dirinya langsung tersungkur begitu saja oleh Bastian. 

“Apa ini? Main tangan, datang-datang cari ribut?” ujarnya begitu santai. 

“Lo kelewatan banget, pelet orang cuma biar dapet main dengan puas? Lo pikir lo dewa?!” sentak Bastian kesal. Helm yang tadi belum sempat ia taruh, ia lemparkan begitu saja hingga mengenai wajah Alex tanpa diduga. 

“Bagus ya? Cari mati lo di sini?” tantang Alex, ia sangat tak terima dirinya dijatuhkan karena lawan seorang pecundang. 

“Jelasin dulu sama Elaine kenapa dia mau-mauan disetubuhi sama lo!”

“Owh, Laine. Gua kira lo ngerti,” balas Alex cuek. Matanya menyiratkan pandangan jijik terhadapnya. 

“Jadi selama ini gua di pelet? Wah, hebat banget.” Monolognya terhenti saat melihat sesosok gadis seumuran dirinya yang juga sedang berbadan dua menghampiri Alex. Gadis itu langsung memeluk erat tangan Alex begitu posesif. 

“Wah, main jalang dia!” Tanpa mau memperpanjang urusan lagi, Bastian langsung menghajar wajah Alex hingga babak belur tak peduli jika ada wanita hamil yang tengah berusaha melerai keduanya. 

Sementara di tempat Elaine berdiri, ia hanya asik memandang ke arah perut perempuan itu tanpa mau peduli pada nasib Alex. 

“Dia hamil karena Alex juga?” gumamnya penuh nada tanya. 

Ketika kesadarannya kembali, Elaine sudah melihat wajah Alex yang babak belur dan tak lagi bisa bernafas baik. Sementara teman-temannya Alex bersiap di posisi akan menyerang Bastian saat itu juga. 

“Bastian, stop!” teriak Elaine. Ia berlari menghampiri keduanya dan melerai sekuat tenaga, membantu wanita itu untuk memisahkan keduanya. 

“Diam Elaine. This bastard need to be tought a lessons!” balas Bastian. Tak peduli jika nantinya Alex akan mati, yang penting sekarang ia harus memberi pria itu pelajaran. 

I said stop. Are you deaf?!” sentak Elaine, tangannya berusaha menggapai tubuh Bastian yang bergerak liar untuk segera menjauh. 

Tapi karena pria itu tak kunjung berhenti. Elaine kembali harus berteriak membentaknya agar Bastian mau mengalah. 

BASTIAN ARE YOU DEAF?!” 

SHUT THE FU*K UP ELAINE!” Laki-laki itu akhirnya menyerah. Ia melepaskan korbannya dan berjalan menjauh untuk kembali mengontrol emosinya sendiri. 

“Dengerin gua, ngepelet orang gak bikin lo kelihatan keren. Manfaatin semua wanita kaya jalang gak bikin lo berkuasa atas tanah di bumi ini. Selingkuh sana sini gak bikin lo kelihatan suhu, paham gak?!” Bastian kembali melayangkan bogeman mentah yang tak dapat dihindari Alex. 

“Siapa yang tahu? Bisa aja gara-gara sering gonta-ganti cewek gua dapet predikat? Lagian emang pada dasarnya Elaine jalang!”

Plak! 

Satu tamparan keras mendarat di pipi Alex saat itu juga. Elaine pelakunya dan saat Alex hendak meraih rambutnya untuk dijambak, Bastian terlebih dahulu membawanya dalam pertarungan sengit. 

Kini tinggal Elaine dan wanita itu yang tersisa. Keduanya sama-sama malas memisahkan pria itu. 

“Udah berapa bulan? Kayaknya sebentar lagi ngelahirin ya?” Elaine menyinggung dengan nada tajam. 

“Iya nih, nanti kalau lahiran bakal jadi kakak dari anak lo.” Senyum seringai ditunjukkan oleh gadis itu. 

Setelah diingat-ingat, gadis ini sebenarnya teman SMA Elaine. Tapi namanya … oh iya, Lilia. 

“Lilia kan? Gak sabar pengen lihat seberapa hancurnya lo saat ditinggalkan semua orang,” ujar Elaine. 

Sorot mata tajam dilontarkan begitu saja kepada Elaine. Lilia seperti tidak terima akan kenyataan yang diterimanya akhir-akhir ini. Bahwa dia juga telah kehilangan banyak orang terdekatnya. 

Bit*hes!” desis Elaine. Darah Lilia seakan mendidih di dalam sana. Dan dengan gerakan cepat, ia berusaha menerkam wajah Elaine dengan kuku-kukunya yang tajam. 

Tapi belum sempat mengenai Elaine yang terkejut, sebuah tangan besar lebih dahulu mencekik lehernya hingga ia kesulitan bernafas. 

“Jangan pernah lo sentuh Elaine! Seinci aja dia lecet gua pastiin nyawa lo yang jadi tukarannya.”

____*+*____

Di malam ini, suasana gelap mencekam khas hari selasa kliwon tak berasa bagi mereka. 

Tepat setelah Alex bersuju meminta maaf di depan kedua orang tua Elaine. Kini Bastian dan dirinya duduk bersantai di balkon kamar sambil menikmati pemandangan indah di langit sana. 

Meski sebelumnya rumah ini diwarnai dengan isak tangis dan makian terhadap Alex namun kini kembali normal karena Bastian berkata. “Saya yang akan tanggungjawab Om. Dia sama aja seperti sampah masyarakat, meminta dia bertanggungjawab juga gak membuat masa depan Elaine menjadi lebih baik.”

Senyum getir yang tadinya terus-terusan Elaine ciptakan kini berhasil sirna dan bergantikan senyum merona karena Bastian. 

Thanks, ya Tian … lo memang selalu bisa diandalkan. Lo selalu buat gua percaya dan lo selalu datang tepat waktu.” Elaine berujar dengan menutup mata. 

“Janji, habis ini lo gak bakal buat hal bodoh lagi.” Bastian mengacungkan jari kelingking miliknya untuk dibalas Elaine. 

Gadis itu terkekeh sebentar baru setelahnya membalas uluran jari kelingking itu dan menyatukannya dalam genggaman. 

“Trimakasih untuk kamu yang selalu berdiri di belakang ku untuk tetap membantu agar tubuh dan raga ini tak jatuh hingga tumbang karena masalah berat tersebut. Trimakasih, Bastian.”

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!