Bye Ezza!
47
6
364

Pertemuan pertama bisa saja membuat benih cinta muncul dengan sendirinya. Seperti itulah pertemuan antara Dyra dan Ezza. Ezza tertarik dengan Dyra sejak pertemuan pertama mereka. Namun, itu hanyalah manis di awal. Setelah hubungan dimulai, ada beberapa hal yang membuat Dyra tidak nyaman sehingga ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Ezza.

Sewaktu kecil aku pernah membayangkan bahwa masa-masa SMA itu sangatlah menyenangkan. Ternyata, itu hanya sebatas bayang-bayang. yang sebenarnya terjadi adalah banyak hal lain yang bahkan membuatku diam saja tanpa tahu harus melakukan apa. Hal itu dimulai  sejak aku menginjakkan kaki di  SMA Tunas Bangsa, salah satu sekolah favorit di Jakarta.

Hari pertama masuk sekolah sangatlah berat bagiku, aku harus beradaptasi dengan teman-teman baru, guru-guru baru, dan lingkungan yang baru. Setelah sampai di sekolah, aku menuju papan pengumuman yang terletak di lorong kelas X IPA. Tentunya aku penasaran dengan kelas baruku. Sesampainya disana aku melihat banyak orang yang berkerumun memperhatikan papan pengumuman itu, demi mengetahui kelas baru yang akan mereka tempati. Aku memilih mencari tempat duduk sementara dan menunggu kerumunan orang-orang itu mereda hingga aku bisa dengan aman melihat pengumuman kelas itu. Aku benar-benar malu maju kesana.

Beberapa menit berlalu, kerumunan itu berangsur-angsur mereda. Aku melangkah menuju papan pengumuman dan membacanya, ternyata aku masuk ke kelas X IPA 1. Aku senang walaupun  sebenarnya cukup takut dengan persaingan di kelas itu. Tapi bagaimanapun juga aku harus tetap menjalaninya. Setelah mengetahui kelasku, aku berbalik hendak menuju ke ruangan  kelas.

Tiba-tiba, “brukkkkkk!!!!” aku tidak sengaja menabrak seorang cowok  berbadan tinggi dengan kulit kuning langsat dan mata sipit yang ada dibelakangku, “maaf gue gak sengaja.” Kataku meminta maaf kepadanya dengan tulus. “iyaaa … nggak apa-apa, anak baru juga ya?” Ujarnya. Aku membalas dengan senyuman yang menandakan iya, kemudian aku beranjak pergi meninggalkan cowok itu di lorong.

Hari berganti hari, lama kelamaan aku semakin bisa berbaur dengan teman-teman kelasku. Terutama Angel, teman terdekat sekaligus sebangku denganku. Angel adalah seorang yang imut, dengan pipi yang tembem, hidung pesek, dan berkacamata. Dia sangat cerdas, aktif serta percaya diri. Aku sering sekali membicarakan tentang banyak hal dengannya, bahkan tak jarang juga aku mengerjakan PR dibantu olehnya. 

Pada hari itu, aku sedang duduk di taman sekolah sendirian. Terdengar notifikasi ponselku berbunyi yang menandakan ada pesan yang masuk. Aku lalu membuka ponselku, ternyata notifikasi itu berisi sapaan dari nomor yang  tidak dikenal

Hi, gw Ezza

“Ezza? Ezza siapa ya,” aku mengklik foto profil di sebelah deretan nomor kontaknya. Oh, wajah itu. Cowok yang pernah menabrakku di awal masuk.

Halo Ezza.

Balasku singkat. Aku adalah orang yang dingin seperti salju dan hanya orang tertentu saja yang bisa mencairkanku. Aku tidak meneruskan chat itu karena aku tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Dyra, save kontak gw ya.

Dan aku hanya membalasnya dengan tanda jempol.

Aku kemudian berjalan menuju ruang kelas, tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang sedang membuntutiku. Aku kemudian menoleh ke belakang. Namun tidak ada orang-orang yang terlihat mengikutiku. Mereka sibuk dengan diri mereka masing-masing. “Ahh mungkin cuma perasaan gue doang” pikirku. Sesampainya di kelas, aku langsung menempati bangkuku. Tak lama setelahnya, Angel datang membawa makanan yang banyak, ia sepertinya datang dari kantin. “Kebiasaan bet penghuni kantin ini” ujarku.

“Eits, gapapa. Gue suka makan, dan gue gak takut gendut. Orang bilang kalo gendut itu tandanya bahagia lho, jadi ya gue bahagia.” Ujarnya sambil menderaikan tawa.

Yaaa terserahlah dia, memang badannya cukup berisi. Berdebat dengan orang cerewet sepertinya hanya akan menghabiskan waktu, dia tetap saja tidak mau kalah. Aku kembali melanjutkan pembicaraan yang lebih serius. Aku menceritakan tentang orang yang bernama Ezza itu. “Ni, tadi kan aku duduk di taman, eh ponselku bunyi, terus ada pesan masuk dari nomor yang gak dikenal. Aku baca terus nanya siapa, eh dijawab katanya namanya Ezza, terus dia minta aku save nomornya”. Angel tertawa mendengar ceritaku, lalu ia terlihat seperti memikirkan sesuatu.

“Ezza, kayaknya dia anak IPS 3 deh, pernah dengar nama dia di sana soalnya.” Ujar Angel. Lalu, Aku menjawab “Ehmm, maybe, I don’t know, yang jelas gue pernah tabrakan ama dia dulu pas hari petama masuk sekolah”,

 “Serius lo?” Angel terlihat cukup terkejut, aku hanya tersenyum menjawabnya.

Bel tanda pulang sekolah pun berbunyi, aku kemudian berjalan menuju gerbang untuk menunggu jemputan. Tiba-tiba, seorang cowok yang menggunakan motor Nmax mendekat dan menyapaku. “Gue anterin ya?”. Dia membuka helmnya dan, ya itu Ezza.

“Ga perlu” balasku dengan cuek.

“ya udah, kalo gitu gue bakal nemenin lo nungguin jemputan ya.” Katanya dengan inisiatif yang menurutku tak perlu. Aku kemudian menoleh kesal, memperlihatkan bahwa aku risih dia disini. Setiap hari, dia terus saja melakukan hal yang sama.

Hingga pada suatu hari ketika aku menunggu jemputan, aku membuka ponselku dan sial, supirku tidak bisa menjemput karena ada masalah yang terjadi dengan  mobil dirumah. Aku kemudian terlihat kebingungan.

“Kenapa? Jemputan lo gabisa ya hari ini? Kan udah puluhan kali gue bilang, yuk gue anterin, lagian rumah kita satu arah.” What? Dia tau rumahku, darimana sih? Sepertinya dia memang mencari tahu tentangku. Atau dia selalu membuntutiku setiap hari. Aku terus saja menolak. Dia tidak berhenti untuk merayuku ikut pulang bersamanya. Hingga mau tidak mau aku ikut dengannya. Dengan mempertimbangkan lamanya dia sudah menemaniku menunggu setiap hari kurasa menolaknya kali ini adalah hal yang tidak baik. Toh juga dia terlihat seperti anak baik-baik.

Di perjalanan menuju rumah, dia selalu mengajakku berbicara. Aku terus saja mempertahankan kecuekkanku dengan menjawab ketika ia bertanya saja. Wangi parfum yang ia kenakan sebenarnya cukup candu di hidungku. Aku menyukai … parfumnya. Bahkan sampai di rumah pun aroma parfum itu masih menempel dan membuatku terus saja mengingatnya, entahlah apa yang terjadi dengan diriku.

Keesokan harinya, bibi mengetuk pintu dan masuk ke kamarku.

“Non ada cowok yang menjemputmu. Pacarmu yaaa?” Bibi menggodaku, aku langsung menjawab

“Aduh bi, aku nggak punya pacar. Lagian, aku juga tidak memiliki janji apapun dengan orang. Bagaimana bisa ada yang menjemput aku?” ujarku.

“Kalo non tidak mempercayai bibi, lihat saja kedepan sana”. Aku menjawab bibi dengan tersenyum kemudian beranjak menuju jendela depan untuk mengintip cowok  yang dikatakan oleh bibi.

Ternyata itu Ezza, untuk apa dia kemari lagi? Aku sudah berusaha untuk terus bersikap cuek dengannya. Namun, dia tidak pernah menyerah untuk mendekatiku. Aku keluar dan menegurnya

“Ngapain lo ke sini?” kataku.

“Gue tahu mobil lo masih di perbaiki, yuk ke sekolahnya bareng gue aja.” Aku semakin tidak nyaman. Menolaknya juga terkesan tidak baik. Setidaknya, dia sudah repot-repot datang kerumah. Akhirnya aku ikut bersamanya.

Sesampainya di sekolah, siswa-siswi lain melihatku bersama Ezza dengan wajah yang terheran-heran. Setelah dari parkiran, aku langsung ke kelas. Dan benar saja, Angel sudah menungguku datang. Aku lalu di sidang olehnya karena telah datang sekolah bersama Ezza. Aku lalu menjelaskan segalanya. Dari penjelasanku, Angel menarik kesimpulan, “Doski suka banget tuh kayaknya sama lo Ra.” Ada ekspresi jail dari cara Angel menggodaku.

Lalu aku mengatakan, “Biarin aja deh, biar dia aja yang suka sendiri”.

“Yakin lo? I think bentar lagi ada yang bakalan ikut suka nih.” Katanya lagi.

“Duhh gak kok.” Aku kembali menolak perkataan Angel, namun anehnya pipiku memerah seperti udang rebus. Apakah aku benar-benar menyukainya? secepat inikah?

Setelah kejadian hari itu, Ezza selalu menghubungiku via chat setiap harinya. Jika hari minggu tiba, aku malah menginginkan hari senin segera hadir, agar aku bisa pergi sekolah dan bertemu dengannya. Aduh, apa sih yang ada di pikiranku ini?

Aku, Angel dan Ezza ikut tergabung ke dalam OSIS hingga naik kelas XI. Karena Angel tahu tentang aku dan Ezza dari dulu. Hanya ia saja yang tidak terheran heran seperti teman-teman lainnya ketika melihatku bersama Ezza. Ia pernah mengatakan “Sejauh ini Ezza terpantau cukup baik.”

Walaupun memang di mata teman-teman yang lain  Ezza adalah orang yang tidak baik. Aku bahkan pernah berkata kepada Angel “Kalo di luar dia dinilai nggak baik, seenggaknya pas bareng gue dia selalu baik kok. Kalo dia masih nggak baik, gue akan berusaha untuk mengubahnya”. Setiap apapun kegiatan OSIS, selagi aku ikut, dia juga akan ikut. layaknya orang berpacaran yang selalu menuruti keinginan pacarnya. Pacaran? Ahh itu masih jauh dari hubunganku dengannya.

Ulang tahunku mendekat, 2 hari lagi aku akan menginjak usia 17 tahun, aku sedang sibuk mempersiapkan pesta untuk acara tersebut. Belakangan ini aku sudah jarang berkomunikasi dengan Ezza, di sekolah juga jarang bertemu. Aku terlalu sibuk, selain untuk pesta ini, kemarin aku juga  mengikuti lomba story telling yang membuatku harus terus latihan.  Benar-benar aku tidak mendapat kabar apapun darinya. Aku juga heran, berbulan-bulan dekat, tidak biasanya dia seperti ini.

Hari itupun tiba. Aku mengundang banyak teman-teman sekolahku, termasuk Ezza. Namun, aku tidak bertemu dan memberikan langsung undangan kepadanya, aku menitipkan undangan itu ke salah satu teman cowoknya. Dia juga tidak aktif berhari-hari. Aku bingung, sebenarnya dia pergi kemana. Tanpa kabar, benar-benar hilang.

Teman-temanku mulai berdatangan dengan tampilan yang fashionable. Dengan dress code white and blue dalam acara ini, karena aku menyukai warna biru. Ini adalah salah satu birthday party special bagiku. Setelah ini, aku akan membuat KTP dan sebagainya. Aku sudah bukan anak-anak lagi. Aku sudah remaja, dan hampir menginjak dewasa.

Setelah waktunya tiba, aku sudah harus potong kue. Namun, Ezza belum terlihat. Dimana dia? Angel pun tidak tahu. Dengan terpaksa aku harus memotong kue tanpanya agar tidak mengecewakan teman-temanku yang lain. Sebelumnya, I make a wish, aku membuat harapan untuk diriku kedepannya sembari menutup mata. Setelah selesai aku lalu memotong kue, lalu melihat ke arah depan. Aku terkejut. “Ezza”… aku terpesona, ntahlah dia juga memandangku begitu. Dia terlihat sangat tampan dengan kemeja hitam yang ia kenakan. Style-nya memang tidak bisa diragukan. Dia sangat pandai dalam hal mix and match pakaian. Dia berjalan mendekatiku sembari membawa sebuah buket bunga dan kado kecil, entahlah apa isi kado itu. Awalnya dia berbasa basi dan meminta maaf tentang 2 hari ini. Lalu ia berkata,” I wanna tell you something” tiba-tiba, hatiku deg-degan…. tanganku gemetar, aku benar-benar gugup. Apa yang akan ia katakan?

 “Kita udah lama kenal, kita juga udah dekat banget, sebelumnya aku mau nanya sama kamu, do you wanna be my girlfriend?” seketika hening, aku benar-benar tidak tau mau bilang apa.

Aku lalu menarik buket bunga yang ada di tangannya, dan menjawab “yes, I do”, seluruh tamu undangan yang hadir lalu memberikan tepukan tangan yang sangat riuh. Angel dari belakang berbisik menggodaku, “Ciee 17 tahun jadi pacar orang nih ciee”. Pipi merahku tidak bisa tersembunyikan.

Aku terus menjalani kehidupanku yang baru, yaa sebagai pacarnya. Dia selalu membuatku seakan jatuh cinta setiap harinya. Dia adalah orang yang romantis, aku selalu datang dan pulang sekolah bersamanya. Tentu saja ia akan terus melindungiku dalam segala hal. Sekalipun ada kegiatan di sekolah, kami selalu bersama.

Waktu terasa berjalan sangat cepat, 1 bulan sudah aku dan Ezza resmi berpacaran. Ia yang terus saja mengikutiku kemanapun membuat aku merasa sangat diistimewakan. Aku bahkan sudah jarang bersama Angel, tentunya karena ada Ezza yang selalu ada setiap saat. Sekalipun banyak orang menjauhiku, aku tidak peduli, aku tidak akan pernah kesepian karenanya.

Hari itu, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mood-nya sedang sangat tidak baik, dia sangat sensitif. Aku berusaha untuk menenangkannya. Namun, sayangnya dia malah membentakku. Hatiku sakit, tidak biasanya Ezza yang aku kenal dengan kelembutan, tiba-tiba membentakku seakan aku biang dari permasalahannya. Aku lalu berlari sambil menangis entah kemana. Aku langsung izin untuk pulang kerumah, aku mengurung diri di kamar. Aku sangat shock dengan sikapnya tadi.

Aku tiba-tiba merindukan Angel, sudah lama aku tidak curhat dengannya. Aku sudah pindah ke bangku belakang karena Ezza menyuruhku, ia tidak mau aku dekat dengan cowok lain. Kebetulan di bangku depan tempatku bersama Angel, itu dikelilingi oleh deretan cowok. Oleh kerena itu, di kelaspun aku sudah jarang berbincang dengannya. Aku terus menangis sendirian, hingga tidak mau mengaktifkan ponselku, bahkan izin dari sekolah beberapa hari.

Bibi masuk dan membukakan gorden kamarku, terlihat matahari yang sudah terbit menyilaukan mataku. Aku dibangunkan untuk sekolah hari ini. Aku sudah merasa lebih baik dari beberapa hari kemarin, aku lalu bergegas untuk mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Sesampainya di sekolah, terlihat Ezza mendekatiku. Aku kemudian langsung berbalik, dia mengejarku dan menghentikan langkahku. Aku takut melihat wajahnya. Aku trauma di bentak. dia kemudian meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Entahlah hatiku langsung menerima begitu saja permintaan maafnya. Aku kemudian ditemani ke kelas. Sesampainya disana, Angel terlihat sedang sibuk bersama teman-teman yang lain. Aku tidak enak jika harus mengganggunya, aku kemudian langsung menuju bangku belakang. Setelah kelas selesai, aku keluar dan terlihat Ezza sudah menungguku di depan kelas. Aku lalu pulang bersamanya.

Malam itu, aku diajak dinner di luar oleh Ezza sebagai tanda permintaan maafnya. Aku lalu pergi bersamanya, dia menjemputku menggunakan mobil baru yang ia beli tempo hari dengan alasan ia tidak mau membiarkan aku kepanasan lagi. Tiba-tiba, ponselku berdering. Kevin, teman kelasku menelpon untuk menanyakan terkait dengan tugas kelompok yang harus di kumpul besok. Aku lalu menjelaskan tugas tersebut. Setelah telpon ditutup, Ezza bertanya,

“Siapa tuh?”

Lalu aku menjawab “itu teman kelasku, Kevin. Ia bertanya tentang tugas kelompok yang harus dikumpul besok”,

“Emang gak bisa nanya ke orang lain? Harus gitu dia nanya nya ke kamu? Modus banget deh dia, mungkin dia suka sama kamu, ini gabisa di biarin”, dia langsung berkata dengan nada yang cukup tinggi dan menuduh Kevin. Aku tidak terima dengan itu, aku langsung menjawab perkataannya.

“Ezza, aku harus bertanggung jawab dengan kelompokkku, Kevin itu teman kelasku dan mana mungkin dia menyukaiku, udah deh gausah cemburuan, kamu kenapa sih?”, lalu ia membentakku lagi,

“Alah, sudahlah diam!, akan ada saatnya nanti aku bakalan kasi dia pelajaran”, seketika aku takut, hatiku remuk kembali, ingin menangis rasanya. Aku langsung diam, menu dinner-pun aku makan dengan terpaksa. Aku tidak berkata apapun hingga sampai rumah, aku masuk ke kamar dan menangis lagi. Aku heran, kenapa Ezza berubah, dia tidak seperti dulu, kenapa sekarang dia sangat cemburuan. Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggerogoti pikiranku hingga aku ketiduran.

Keesokan harinya ia menjemputku lagi, aku terus saja mengikutinya, aku diam saja, tidak berkata apapun kecuali ia bertanya beberapa hal, entahlah aku menjadi tunduk dengannya. Bahkan di sekolahpun, dia terus saja mengikuti kemanapun aku pergi, ia tidak membiarkanku untuk berbincang dengan cowok manapun. Dia juga sering datang ke rumah belakangan ini.

Kelasku cukup aktif dalam berbagai kegiatan, kali ini kami memenangkan beberapa lomba dan berencana untuk pergi jalan-jalan bersama. Namun, Ezza tidak membiarkanku ikut, ia menahanku. Aku tidak bisa berkata apapun, aku terus saja tertekan, menangis dalam diam, hingga membuat mentalku jatuh. Aku butuh teman curhat, aku butuh Angel. Semakin kesini, Ezza semakin tidak baik.

Aku berjalan menuju ke kelas, terlihat Angel sedang duduk sendirian di taman, aku lalu menghampirinya dan hendak berbincang, menceritakan semua hal yang terjadi. Entah darimana, Ezza tiba-tiba datang dan menarikku dengan keras, aku tidak dibolehkan untuk berbincang dengan Angel dan harus mengikutinya. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Kini, aku sendirian.

Semakin lama, ia semakin membuatku tidak nyaman dengan rasa cemburunya yang berlebihan. Namun, aku terus saja berusaha untuk kuat dan meyakini bahwa itu semua adalah caranya menjagaku. Aku hanya dibiarkan untuk bermain dengan beberapa orang di luar kelasku, entah apa alasannya.

Setelah istirahat aku cukup telat masuk kelas, aku lalu duduk dan tidak sengaja mendengar teman-temanku membicarakanku. Tentunya aku marah dan tidak terima, pada saat bel pulang aku langsung menangis, Ezza yang melihatnya malah memarahiku, aku jadi takut untuk mengungkapkan yang sebenarnya, aku lalu berkata “nggak papa”. Namun ternyata, ia mendengar kabar lain dari salah satu teman kelasku, ia langsung menghubungi orang-orang yang membuatku menangis, lalu ia menantangnya. Benar saja, keesokan harinya mereka berkelahi di kelasku, aku menangis hingga guru tahu dan kami semua masuk ke ruangan BP. Hari itu benar-benar sial, keluar dari sana Ezza malah memarahiku, dia terus marah sampai aku tidak mau pulang diantarnya.

Aku benar-benar tidak tahan dengan sikapnya. Dia seenaknya saja sedangan aku? Terus ditekan dengan peraturan-peraturan yang dibuatnya. Aku sangat dirugikan, namun tetap saja, di dalam diriku aku masih yakin bahwa masih bisa mengubahnya.

Hari-hari selanjutnya kami kembali membaik. Bertepatan dengan ulang tahun sekolah, kami mengadakan acara yang cukup besar dan mengundang teman-teman lain dari luar sekolah. Hari  itu aku mengajak mereka berbincang dan berfoto bersama. Ezza lalu datang dan menarikku lagi. Ia mengira salah satu dari temanku itu menyukaiku, sangat lawak. Padahal nyatanya kami hanya teman biasa. Aku bahkan tidak mau merespon orang lain, bukan hanya karenanya, tapi juga karena aku memang tidak mau begitu. Tapi tetap saja, ia cemburu. Terlalu cemburu, dan aku benar-benar tertekan dengan sikapnya. Hingga hari itu aku langsung mengatakan. “Aku tidak tahan dengan sikapmu yang overposesif kayak gini, aku capek harus ditekan dengan aturan-aturanmu yang orang tuaku saja tidak pernah begini, bahkan orangtuaku saja tidak pernah sekalipun membentakku. Tapi kamu? berbulan bulan sudah kita menjalani hubungan ini, hanya satu bulan kamu mempertahankan kebaikan yang pura-pura kamu buat itu. Selebihnya ternyata kamu telah memperlihatkan sikap aslimu kepadaku. Ternyata begini, kamu ternyata begini. Aku benar-benar tidak menyangkanya Ezza.  Aku sudah berkali-kali sakit hati, dan aku bangkit sendiri hanya karena aku masih yakin bahwa aku masih bisa mengubahmu. Ternyata, sial, aku tidak bisa mengubah orang sepertimu. Aku benar-benar kecewa. Memang dari dulu aku diam saja, tapi sekarang aku sadar bahwa hubungan ini tidak baik dilanjutkan, aku mau kita putus. Terimakasih untuk segalanya.”

Wajah Ezza memerah, dia sangat marah. Dia lalu berbicara dengan nada tinggi. “Aku melakukan semua ini itu karena aku mencintaimu, aku tidak mau kamu dengan orang lain, kamu hanya milikku”.

Aku terus menjawab “aku hanya milikmu?, kamu siapa hah, seenaknya kamu berkata begitu, kita hanya pacaran. Jujur, awalnya aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu. Namun asal kamu tahu, lama kelamaan sikapmu membuat perasaan itu hilang. Sudahlah, kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi, I want back home, bye.

Aku lalu meninggalkannya pergi, ia terlihat meluapkan kemarahan dengan menendang benda-benda yang ada di sekitarnya. Terserahlah aku tidak mau mengurusi orang seperti itu lagi. Sekarang aku harus mencari Angel dan meminta maaf kepadanya. Aku melihatnya ada di dekat lab, aku langsung berlari dan memeluknya sambil menangis. “Angel, huhuhuhu… maaf yaa”. Angel yang kebingungan langsung menenangkanku sambil mengelus pundakku. “Ada apa, Ra? Cerita dong!”.

“Sebelumnya gue mau minta maaf, berbulan bulan gue menjauh, tapi jujur itu bukan mauku, Ezza yang melarang untuk dekat sama lo atau siapapun.”

Aku langsung mengatakannya kepada Angel, lalu Angel berkata “Iyaa Dyra, gapapa, keliatan kok. Gue juga mau ngomong kalo dia ternyata tidak baik buat elo. Tapi gue takut, elo bakal ngira gue mau merusak hubungan elo dengan cowok itu.”

“Gue sebenarnya udah sadar Ngel, tapi gue diam aja. Gue berkali kali dibentak, yang bahkan orang tua gue aja gak pernah ngelakuin itu ke gue. Gue dibatasi dengan aturan-aturan yang nggak masuk akal. Namun, gue terus bertahan karena gue masih yakin bahwa gue bisa mengubahnya dia jadi baik lagi, ternyata benar kata orang bahwa ‘seseorang gak akan bisa mengubah orang lain kecuali orang itu yang mau mengubah dirinya sendiri’, dan yaa Ezza, gue gak bisa ngubah dia. Dia ternyata bukan orang yang baik.” Ujarku.

Lalu Angel berkata, “benar Ra, syukurlah elo udah ninggalin dia”.

“Tapi, gue takut kalo dia masih ngincar gue, Ngel.” kataku. Angel lalu mengatakan “Chill, ada gue disini, gue bakalan selalu ada buat lo, udah lupain dia… nanti bakalan ada yang lebih baik kok dari itu. Liat aja ntar…”

SELESAI

 

 

 

 

 

 

 

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!