Calon Kandidat Penerus Kerajaan
5.1
1
39

Raja memberitahu akan turun tahta. Akan mewariskan kerajaannya pada putranya yang masih belia. Mereka ditugaskan untuk membantu masyarakat untuk beternak dan berkebun. Siapa yang berhasil melakukannya?

No comments found.

Alkisah, di sebuah kerajaan bawah naungan pelangi. Ada Raja yang penuh bijaksana, ramah, dan tidak sombong. Sehingga para pengikutnya sangat bersikap segan padanya.

Di usia yang semakin senja dan tidak perkasa lagi seperti dulu. Ia akan memberikan tahta kepemimpinan kepada salah satu dari ketiga putra kembarnya, di usia belia. Meski kembar namun watak mereka tidak sama. Jadi, Raja akan memberikan sebuah tantangan kepemimpinan bagi mereka.

Acara sambutan penyerahan tahta dilakukan di depan kerajaan yang sangat luas dan elegan. Dihadiri oleh ratusan ribu warga setempat. Tepuk tangan menggema ke seantero kekuasannya.

“Terimakasih yang telah hadir dalam acara penting ini. Harapan kami kerajaan akan semakin makmur, ketika sang Raja kecil ini yang memegang kekuasaan.”

Kericuhan terjadi seperti semua warga tidak menyetujui pengangkatan raja kecil. Sebab ketiganya masih anak-anak. Dan menyakini belum mampu menjadi pemimpin. Sehingga mereka saling berbisik kepada orang yang berada di sebelah.

“Tenang saya tau keresahan kalian. Tidak semudah itu saya memberikan tahta ini kepada anak yang tidak siap. Sejatinya pemberian tantangan wajib dilakukan. Ini semata-mata untuk bertanggungjawab.”

Zadni, Zidni, dan Zudna berada di samping ayahandanya yang didampingi ibunda Ratu.

“Kalian semua bisa jadi saksi. Bila ketiganya gagal melakukan tantangan. Saya akan memilih kalangan bawah untuk meneruskan tahta ini.”

“Ayahanda kok merendahkan kita. Zadni siap untuk melakukan tantangan itu.”

“Zidni dan Zudna, apa kalian siap melakukannya? Bila kalian ragu Ayahanda tidak akan marah.”

Zidni mengangguk.

“Ayahanda, aku ini masih kecil. Biar kakak-kakak saja yang melaksanakannya. Zudna ingin banyak belajar dulu dari keduanya.”

“Baiklah, Nak. Calon kandidat pemimpin kerajaan yaitu Zadni dan Zidni,” ucap raja dengan tepuk tangan yang meriah.

“Tugas mereka yaitu terjun ke perkampungan masyarakat untuk membantu perkebunan dan perternakan warga. Selama seminggu ke depan.”

Sang Raja mengetahui kesenangan kedua putranya. Zadni suka sekali berkebun dan Zidni suka sekali berternak. Namun tantangannya kesenangan mereka ditukar. Anak yang berusia sepuluh tahun dengan perbedaan waktu yang tidak jauh, yaitu satu menit. Salah satu anak keberatan, namun kesepakatan tidak bisa diubah.

***

Di pagi hari yang cerah, Zadni dan Zidni dibangunkan oleh pelayan untuk sarapan, sebelum tantangan yang diberikan dimulai. Seperti biasanya Zidni menyapa sahabat-sahabatnya di kandang. Ada si poni kuda kecil, si Embul dan si Embal, sepasang kambing jinak. Lalu Zadni, sepertinya ia kurang ceria tidak seperti bunga-bunga yang indah. Biasanya ia bersantai di depan bunga cantik sambil menyiram tanaman. Hari ini, Zadni malah menyuruh pelayan untuk mengurus tanamannya.

“Seriuskah itu Ayahanda kita harus menginap di pemukiman warga. Dan harus melepaskan semua kekayaan ini,” keluh Zadni.

“Kenapa ada masalah? Bila hatimu berat tak masalah untuk menyerah. Tantangan ini bertujuan kepada orang yang mencintai dunia. Dimana pun kalian tinggal masih menapaki tanah.”

“Aku Zadni tidak pantang menyerah demi kemenangan.”

Zidni memang anak yang pendiam dibandingkan kakaknya Zadni yang tegas dengan pendiriannya. Para pelayan telah mengemas pakaian masing-masing dengan tas jinjing, bukan koper. Dan segala fasilitas yang dimilikinya, seperti uang, emas, dan baju mewah telah diamankan oleh Raja.

“Kalian lakukanlah tantangan ini dengan baik. Percaya diri dan patuhi orang tua asuh kalian. Berdoa pada Tuhan demi kelancaran tugas yang diberikan,” ucap Ratu dengan bijak kepada kedua putranya.

“Selama beberapa hari ini, Zadni akan diasuh oleh Pak Wius, pemilik peternakan sapi yang makmur dan bijaksana. Sedangkan Zidni akan diasuh oleh Pak Hunis, pemilik perkebunan sayur mayur yang shalih dan tegas.”

“Baiklah Ayahanda, Ibunda. Zidni pamit aku minta doa yang terbaik dari kalian.”

“Tentu saja, Nak. Doa kami menyertaimu,” ucap Ibunda Ratu. “Zadni apa kamu tidak akan pamit?”

Zadni malah tertunduk lemah. Memang dalam hatinya keberatan. Bila harus tinggal dengan orang-orang miskin. Keduanya telah dijemput oleh orang tua asuh di depan.

Zadni bersama Pak Wius menggunakan delman untuk kendaraannya. Sedangkan Zidni bersama Pak Hunis menggunakan gerobak dorong. Keduanya melambaikan tangan pada seluruh penghuni kerajaan.

***

Setelah sampai di rumahnya Pak Wius yang kediamannya terletak di kaki bukit. Dengan kondisi rumah yang sederhana. Di belakang ada kadang yang luas dengan ratusan ekor sapi, yang sedang memakan rumput hijau.

Zadni menutup hidung, sebab bau kotorannya tercium sampai ke depan. Pak Wius akan memperkenalkan kepada Zadni tentang tantangan yang akan dilakukan. Namun ia malah keluh kesah, minta istirahat dulu.

“Aku mau istirahat dulu, capek. Jangan dulu diajak kerja. Beri minum cepat!”

Istrinya Pak Wius keluar dari rumah. Ketika telah mendengar debatan dari luar. Ia pun membawa barang bawaan ke dalam. Lalu menyuguhkan air teh hangat untuk calon raja.

“Silakan, Tuan. Di sini hanya seadanya saja. Kami pun akan melayani sesuai kemampuan yang dipunya.”

“Ya, iya lah. Namanya juga orang kampung!”

Pak Wius menggelengkan kepala, Zadni memang anak yang tidak sopan. Tapi Raja telah memerintah untuk tidak memanjakan. Bila tidak menuruti wajib untuk dipukul.

“Sudah minumnya, Tuan? Bisa kita dimulai saya akan memberitahu larangan dan tantangan sebelum menuju ke kandang.”

“Apaan lagi, ribet banget sih!”

“Begini, Tuan. Raja berpesan untuk melakukan kegiatan sesuai kebiasaan kami di sini. Sehingga kita mulai kerja sama selama seminggu ke depan.”

“Ya sudah, terserah. Jangan sekarang ya kerjanya. Tubuh Zadni pegal butuh istirahat.”

“Lebih cepat lebih baik, Tuan. Kita berkeliling saja dulu, untuk pengenalan lingkungan dan bisa ngajak sapi main dulu,” ucap Pak Wius tersenyum. “Ayo, saya ajak ke kandang! Kalau Tuan tidak sudah segaran.”

Keesokan harinya Zadni mulai sibuk. Pagi harinya harus membersihkan kandang, memberi pakan. Siangnya diajak berjemur ke tengah lapang. Sorenya diberi pakan lagi. Dan dua kali sekali dalam seminggu harus mengambil rumput ke atas bukit.

“Silakan, Tuan coba untuk membersihkan kandangnya, supaya sapinya betah.”

“Tuan harus memasukkan kotoran ke karung dulu. Nanti ini akan dijadikan pupuk dan diserahkan pada Pak Husni,” ucap pegawainya yang mendampingi Zadni.

Setelah selesai, lantainya harus digosok. Zadni melakukannya sambil tangan di hidung. Lalu dibantu oleh pegawainya yang menyirami oleh keran.

“Kerjanya yang cepat ya, Tuan. Nanti sapinya ngamuk kalau telat dikasih pakan.”

Lalu diajarkan memberi pakan, yang dilakukan dua kali setiap harinya. Selepasnya bisa bermain dengan sapi, memerah susunya atau membantu sapi melahirkan.

“Sabar dong, Pak. Emangnya gampang ngelakuin ini!”

Siang harinya, Zadni harus menggiring sapi ke tengah lapang untuk berjemur. Agar sapi bisa bermain dan lebih sehat. Tentunya biar susu dan daging yang dihasilkan berkualitas.”

“Manja bener tuh sapi!”

“Binatang harus dimanjakan tiap hari, Tuan. Supaya mereka merasa nyaman. Kan kita yang membutuhkan dari dagingnya untuk dimakan. Susunya agar kita lebih sehat untuk pertumbuhan.”

“Ya, iya. Terserah, sudah bereskan tugasnya!”

“Tuan, boleh istirahat. Tapi jangan lupa sore hari giringkan lagi ke kandang dan langsung beri pakan. Lusanya Tuan harus mengambil rumput. Dan untuk besok Tuan harus mengerjakan sendiri tanpa pendampingan.”

“Hah, yang bener saja,” keluh Zadni tapi bila hadiahnya kedudukan sebagai raja ia harus melakukannya. “Ya, iya. Zadni bisa kok!”

Seminggu sudah berlalu, tugas yang diberikan telah terlaksana. Pak Wuis punya penilaian yang akan dilaporkan kepada Raja.

***

Di sisi lain, ada Zidni yang tinggal di perkampungan padat, tapi di belakang ada tanah yang lapang. Melimpah ruah tanaman-tanaman dan sayur mayur. Ada pula sawah yang luas.

“Tuan, di perkampungan kami penduduknya banyak. Tapi semuanya di sini menyediakan tanah sebagai tanaman. Adapun sawah yang membentang luas.”

“Wah, keren warganya akur dan tidak pernah huru-hara kan, Pak?”

“Tentu saja tidak, Tuan. Kami di sini bila musim panen bergotong royong, sebagian mereka jual dan sebagian lagi bagi-bagi pada tetangga.”

“Boleh ajak Zidni keliling?”

“Boleh banget, Tuan. Kebetulan kita ada sayuran yang dipanen. Kemungkinan tiga hari lagi matangnya.”

“Wah, beruntung banget bisa ikutan panen.”

Zidni dengan Pak Husni beserta para petani yang tengah istirahat duduk di saung. Ia akan memberikan tantangan dan larangan yang mesti dilakukan.

Pagi harinya harus memberi pupuk kandang, supaya subur. Kemudian menyirami. Siang harinya memantau tanaman seluruhnya, bila ada hama langsung basmi. Sore sampai malam bebas, tapi biasanya selalu berkumpul sambil bercengkrama dengan petani lainnya. Bila panen tiba para tetangga antusias membantu.

“Jadi, Tuan. Mesti melakukan aktivitas kami seperti biasanya. Bila Tuan tidak sanggup dengan pekerjaan ini, bisa bicara terus terang dari sekarang.”

“Zidni siap kok melakukannya. Apalagi bersama petani dan tetangga bisa berbaur. Biasanya di kerajaan tidak bisa melakukan pekerjaan secara bersama-sama. Semuanya punya pekerjaan masing-masing.”

“Bila bekerja secara bergotong royong pasti akan lebih mudah, Tuan,” celetuk salah satu petani yang duduk di sebelah Zidni.

Hari-hari dilakukan oleh Zidni dengan semangat. Ia melakukan dengan baik sambil belajar yang belum tahu. Pada saat panen juga, ia senang mengeluarkan wotel dari tanah.

“Tuhan Maha Baik, telah mengeluarkan tanaman ini dari tanah untuk dikonsumsi untuk diambil manfaatnya. Zidni hanya tahu makan saja, tidak tahu prosesnya.”

“Benar, Tuan. Bersyukur bisa memakan wortel ini yang baik untuk kesehatan. Tuan nanti kita ada perayaan setelah panen. Ibu-ibu akan memasak hasil dan semuanya bisa menikmati.”

“Wah, seru sekali! Ayo, kita lanjutkan lagi harus dapat banyak nih supaya kebagian semua.”

Setiap hari Zidni mengerjakan tugas, ia menuruti apa yang ditugaskan oleh Pak Husni. Tak terasa seminggu telah berlalu. Pak Husni pun telah ada penilaian untuk dilaporkan kepada Raja.

Sebulan kemudian, akan diumumkan kandidat penerus kerjaan. Siapa yang akan resmi menjadi Raja kecil?

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!