Carpe Diem
6.63
0
53

Di zaman yang serba cepat bagaimana Kana dan kakaknya dapat memanfaatkan waktu dengan keluarga dan impiannya. Bisakah “tuntutan” tugas anak sekolah dan hobi dapat menjamin masa depan? Benarkah masa depan perlu dipikirkan dulu atau dengan bukti nyata yang terlihat? Bagaimana cara menikmati hari ini karena waktu tidak terulang kembali?

No comments found.

Perhatian: cerita ini akan disampaikan dalam bentuk dialog seperti dalam naskah drama. Namun, isinya tetap cerita pendek karena saya tidak menampilkan banyak babak dan permasalahan. Selamat membaca dan bisa tinggalkan jejak. Terima kasih.

 

Tokoh: Kana, ka Irka, mama, ayah, budeh, pakdeh, ka Mira, dan Uti.

Tempat: kamar, dapur, depan rumah, dan ruang tamu.

 

Di kamar

[Kana remaja awal yang suka mencoba hal baru dan hobi mengusili kakaknya, ka Irka. Walau terpaut usia 4 tahun Kana dan ka Irka masih tetap berantem layaknya kakak-adik. Kana dan ka Irka baru saja menyelesaikan sekolah daringnya langsung menuju kamar kembali. Kana sibuk dengan bermain ponsel sambil berbaring di atas tempat tidurnya. Sedangkan ka Irka sibuk merapikan catatan pembelajaran daringnya hari itu. Ka Irka sebagai gadis remaja akhir sedang berjibaku dengan permasalahan hidupnya seperti ujian, praktik, memilih jurusan dan perguruan tinggi, serta mencari cara untuk mendapat uang jajan tambahan. Berbeda dengan ka Irka yang mempersiapkan masa depannya, Kana masa bodo dengan semua rancangan impian itu. Baginya hidup itu hanya hari ini dan hidup harus dilakukan dengan bermain. Kana yang kebingung memilih pakaian untuk kontes busananya menanyakan pendapat ka Irka yang duduk di depan meja tulisnya.]

 

Kana: “kayaknya lebih cocok gaya rambut ini deh, terus warnanya merah muda!”

 

La lala la la lala lala~ (Kana bernyanyi)

 

Kana: “bagusnya gaun atau langsung setelan pakaiannya ya? Kak, pilih gaun atau set pakaian?” (menatap ka Irka dengan penuh harap).

Irka: “gaun aja, bagus kayaknya.” (melihat sekilas ke arah Kana yang berbaring di atas kasur tingkat).

Kana: “emang keliatan dari situ? Ini lihat dulu.” (Kana menghampiri kak Irka dan memberikan ponselnya).

Irka: “astaga ini anak ya. Mana sini biar cepet selesai!” (ka Irka mengabil ponsel Kana dan memandang deretan kostum di layarnya). 

 

Kana: “Halo, salam kenal! Nama aku Kana. Ini adalah keseharianku selesai belajar, bermain permainan merancang busana. Kata mama permainan ini juga ada waktu mama kecil, tapi medianya saja yang berbeda. Kalau sekarang aku main permainannya di ponsel pintar gini, ternyata dulu itu bentuknya kertas-kertas dengan berbagai bentuk pakaian. Waktu awal aku mendengar cerita mama ini kaget banget karena nggak nyangka ternyata ada. Sekarang aku paham kenapa permainan ini bertahan lama karena memang menyenangkan untuk menata busana. Berkat permainan ini juga aku tertarik dengan dunia fasion, mungkin nanti bisa saja hobi ini jadi lebih profesional. Fasion di dunia nyata juga terus berkembang terutama untuk fasion muslim kasual, formal, dan bahkan pakaian olahraga. See?” (monolog)

 

Ka Irka: “Temanya kan ini bagusnya pakai gaun ini aja karena bisa mix and match dengan aksesoris lain. Setnya bagus, tapi agak kaku kalo buat tema ini. Nah, udah kan puas?” (ka Irka kembali mengerjakan pada tugasnya setelah memberikan ponsel Kana).

 

Kana: “cita-citaku yang kedua berkaitan denan fasion, sedangkan cita-cita pertama ku adalah menjadi guru bahasa. Kalau aku pikir-pikir sih memang tidak ada hubungan langsung ya antara bahasa dan fasion. Lihat nanti sajalah karena sepertinya aku harus tahu kemampuan yang lebih unggul apa di antara bidang itu. Sekarang aku masih belajar di SMP Tumbuh 01 dan belajar dengan sistem jarak jauh. Sejujurnya aku lebih suka belajar seperti ini, sih. Oh, bukan soal cara belajarnya ya, tetapi lebih ke proses perjalanan aku ke sekolah. Kalau melihat peta jaraknya hanya 8 km saja, tetapi kalau kalian melintasi rute ini berasa seabad! Rasanya aku menua di jalan berlipat-lipat karena macetnya seperti ular. Bagusnya aku nggak sendiri karena ada kakak aku yang juga sekolah di sana. Beruntungnya lagi bus sekolah banyak yang beroperasi sehingga kami bisa duduk nyaman.”

 

Bunga.. bunga indah~ aku pilih biru~ merah~ semua yang cerah~ na na nana~ (Kana bernyanyi)

 

Ka Irka: “Na, diem dong, berisik banget mainnya. Kalau mau lanjut main di luar aja.” (kesal dengan tingkah Kana yang semakin ribut di dalam kamar. Ka Irka melemparkan pensil ke Kana).

 

Kana: “Kakak aku ini memang cepat marah kalau waktu belajarnya di ganggu, tetapi aku justru makin usil ke kakak karena sifatnya ini. Perbedaan umur kami hanya empat tahun, tetapi kata orang-orang kami kayak kembar karena saring bertengkar. Padahal dari sifat kami benar-benar berbeda seperti langit dan bumi, kak Irka orangnya serius dan terjadwal dalam melakukan sesuatu, mungkin sedikit perfectionist. Ya, mungkin itu juga hasil dari pandangan keluarga aku ke kakak sebagai sulung. Sedangkan aku orangnya lebih fleksibel dan spontan dalam mengerjakan tugas apapun. Seharusnya kami punya dunia masing-masing, tetapi sayangnya kalau aku dan ka Irka di satu tempat aku jamin kami bakal perang.  Oh, kami bisa diam sejenak, itu terjadi di dalam kendaraan umum saat ke sekolah. Mungkin tenaga kami untuk berperang bisa kami alihkan untuk belajar di sekolah.” (monolog)

 

Ka Irka: “Kana, kamu diam saja di sana!” 

Kana: “jangan belajar mulu, Kak. Tadi udah kan PJJ. Main dululah sebentar, Kak.” 

Ka Irka: “ih, tadi kan belajar bareng-bareng, sekarang belajar sendiri. Aku mau benerin catatan, nih, jadi diem-diem aja mainnya.”

Kana: “lah, kerajinan.” ( tetap bermain sambil menghadap punggung ka Irka yang masih membara untuk belajar.)

Ka Irka: “tanah liat.” (berbicara dengan nada ketus).

Kana: “wah pura-pura. Nih inget lagi, bentuk dasar ‘rajin’ kata sifat. Kemudian, disandingkan konfiks ‘ke- dan -an’ berubah jadi kata benda yang artinya perihal rajin. Pura-pura kan ka Irka?” (meletakkan ponsel di kasur dan turun ke lantai sambil menjelaskan dengan lugas)

Ka Irka: “pinter! Nah, sana ke luar sana.” (Ucap ka Irka tanpa melihat Kana yang masih mengatur nafas setelah berbicara panjang lebar).

Kana: “lah, aku bukan tong kosong nyaring bunyinya.” (kembali ke kasur dan bermain)

 

Na na~ solo~ (Kana bernyanyi)

 

Ka Irka: “ssst, keluar sana!”

Kana: “ka, nggak bosen belajar mulu?” 

Ka Irka: “nggaklah, malah seru tahu karena bisa menemukan banyak hal baru!”

Kana: “hah?! Kayaknya ka Irka beneran sakit, dah. Banyakin main, Kak, masih ada waktu. Jangan belajar mulu.”

Ka Irka: “nggak, aku mau nyiapin masa depan aku biar lebih tenang mulai dari sekarang. Setelah kelulusan tahun ini bakal ada tes bakat dan penempatan sesuai minat. Aku mau jawab dengan sungguh-sungguh!” (Ka Irka membalikkan badannya dan menatap penuh semangat. Bahkan tangan kanan yang masih memang pulpen itu sudah mengepal dengan kuat.)

Kana: “Hah… Perkataan macam apa itu? Lebih horor dari ujian dadakan. Kak Irka ini memang orangnya super serius.” (Kana mengubah posisi duduk ke arahnya dan akhirnya menjeda permainan yang tadi dimainkan.) “serius, Kak?” (menghampiri ka Irka)

Ka Irka: “seratus persen.” Jawabnya singkat dan padat.

 

Kana: “Sejujurnya aku bingung kenapa kakak aku yang satu ini rajin banget. Rasanya tiada hari baginya untuk tidak membuka buku atau mengikuti lokakarya. Kenapa buru-buru banget? Bukannya masih ada hari esok. Kalau bisa dilakukan besok, kenapa harus sekarang? Entahlah aku jadi ikutan pusing kalau terus memikirkannya begitu.” (monolog)

 

Kana: “ka Irka kan di masa ini juga bisa main dan sedikit santai, Ka. Nikmati masa muda!”

Ka Irka: “ihhh, udah tua ya.”

Kana: “ya Allah… Sabar.. sabar.. orang sabar rezekinya lancar. Aaamiin.”

Ka Irka: “becanda kali. Yaaa, cuma ini yang bisa aku lakuin sekarang. Mau kerja sambilan juga belum bisa karena mau ujian.”

Kana: “tapi kan bisa sedikit santai juga, lo.”

Ka Irka: “aku juga sempet mikir sih, waktu kan nggak bisa terulang lagi. Mama sama ayah juga pasti menua.”

Kana: “nggak, ka Irka dan aku juga karena kita menua bareng!”

Ka Irka: “sungguh pintar adikku ini.” (Ka Irka meremas kertas catatan lama dan melemparkannya ke arah Kana).

Kana: “yaudah, ayo main!”

Ka Irka: “ini anak, ya, udah dibilangin lo tadi.”

Kana: “sehari aja, Kak. Apa kelamaan? Limabelas menit dah.” (Kana menghitung waktu dengan sepuluh arinya dan mengambil tangan ka Irka untuk lima jari lainnya.)

 

[Di tengah percakapan kami terdengar suara mama memanggil dari balik dapur. Itu tandanya waktu makan siang dan kami harus menyiapkan makanan yang sudah dimasak itu ke meja makan. Bos besar memanggil. Tanpa ba-bi-bu lagi Kana dan ka Irka segera menuju dapur. Ini nih… walau kami sering tidak akur, tetapi kalau dengar titah bos besar harus segera menghadap. Aku langsung izin berhenti dari permainan dan menyimpan gawai di atas meja dan ka Irka masih sibuk menutup catatannya agar tidak tertiup angin dari jendela.]

 

Mama: “kak Irka… De Kana… Cepat ke dapur! Tolong bantu tata makanannya.”

 

***

 

Di dapur

[Kana kembali membahas permasalahan di kamar tadi bersama ka Irka kepada mama ketika selesai makan siang bersama. Kana dan mama masih duduk di meja makan yang sudah kosong. Sedangkan ka Irka masih mengelap piring yang sudah dibersihkan dan menatanya di dalam rak piring. Mama yang mendengar cerita Kana kakak-beradik ini memahami dengan baik permasalahannya. Kemudian mama mengusulkan untuk mengajak keluarganya berlibur ke rumah budeh dan pakdeh untuk bermain bersama Uti, keponakan mereka.]

 

Kana: “ma, ka Irka nggak mau diajak main, belajar mulu dia!” (menunjuk ka Irka)

Ka Irka: “wah, liat kelakuannya nih!” (Ka Irka tampak kesal dengan aduan itu berusaha mengejar Kana).

Kana: “eits ada mama di sini.. ada mama…” (Kana menatap ka Irka sambil tawa.)

Mama: “ka Irka, belajar boleh dan bahkan bagus kalau kamu serius. Namun, tetap perhatikan adikmu ini yang minta main bareng ya. Kasian dia main sendirian.” (Jawab mama sambil mengelus kepala Kana)

Kana: “eh? Lo? Eiuw, Ma. Maksudnya Kana nggak begitu. Ih jijik.”

Mama: “husss, sama kakak sendiri masa jijik.”

Ka Irka: “sebentar lagi ujian, Ma, Irka mau rapikan catatan dulu, terus lanjut ngisi blog Irka, dan lanjut baca buku lagi.” (ka Irka yang selesai merapikan piring ikut duduk di samping mama)

Mama: “justru karena mau ujian, ka Irka. Mama tahu kamu sudah belajar dengan giat, nah, sekarang istirahatkan dulu pikirannya. Main sama adik kamu ini.” (memeluk kedua anaknya)

Ka Irka: “begitu, Ma?”

Mama: “iya begitu, Kak, dan de Kana juga jangan main gawai mulu, kan PJJ juga natap gawai. Matanya diistirahatkan.”

Kana: “kana juga?”

Mama: “iya, benar. InsyaAllah akhir pekan kita ke rumah Uti ya, main di sana tanpa bawa buku dan gawai.”

Ka Irka dan Kana: “hah??!”

 

Di depan rumah

[Ka Mira dan Uti tampak di depan rumah. Ka Mira yang sedang menyuapi Uti melihat kedatangan kami dan memberitahukan budeh serta pakde di dalam rumah. Mama, ayah, dan ka Irka setelah menurunkan barang dan menyapa ka Mira serta Uti langsung masuk]

 

Ka Mira: “sudah sampai tamu jauhnya.”

 

[Kana berlari menuju  keponakan kecilnya yang sedang sarapan di depan rumah. Namanya Uti dan dia baru berusia 9 bulan. Masa-masa yang super menggemaskan karena Uti sudah mulai mencoba mpasi dan aktif mengoceh. Tampaknya pagi ini ia sarapan dengan nasi tim ati dan wortel karena warna makanannya seperti butiran pasir di pantai sedikit cokelat, kuning, dan ada putihnya juga.]

 

Kana: “assalamualaikum ka Mira dan Uti~ ututu lagi makan apa, de?”

Ka Mira: “waalaikumussalam, Kana. Iya nih lagi makan nasi tim, tante.”

Uti: “uwah! Ah!”

Kana: “MasyaAllah lahapnya, pinternya anak salehah ini keponakan siapa sih? Mana senyumnya sayang?”

Uti: “brr bah bah.”

 

[Tiba-tiba saja Uti menyemburkan makan yang ada di mulutnya ke arah mukaku. Astaga cuma minta senyum ternyata malah dikasih makanannya. Sontak aku dan ka Mira kaget dan tertawa melihat tingkah lucu Uti. Ka Mira memberikan tisu di sampingnya kepada Kana untuk mengelap makanan di wajahnny. Mama keluar dan memanggil Kana untuk menyapa budeh dan pakde.]

 

Mama: “de Kana kamu jangan ganggu Uti makan. Sini salim dulu sama budeh dan pakde di dalam.”

Kana: “dah Uti~ tante masuk dulu ya udah dipanggil uwa. Permisi ka Mira, Kana masuk dulu ya.”

 

Di ruang tamu

[Ka Irka, mama, dan ayah sudah di dalam ruang tamu bersama budeh dan pakdeh sambil bercengkrama. Aku yang baru datang langsung menuju tempat budeh dan pakde duduk untuk memberikan salam. Di ruang tamu yang masih penuh kue lebaran mereka berdiskusi ringan tentang masalah mereka di rumah, yaitu tentang masa kini dan masa depan yang belum terlihat]

 

Kana: “Terakhir kami berkunjung ke rumah ini sudah setahun lalu, tepatnya saat liburan panjang. Di waktu yang singkat itu tampaknya budeh dan pakde sudah banyak berubah. Tampak garis halus di wajah beliau semakin banyak dan walau terlihat ceria ada rasa lelah juga di sana. Wajah ini sama seperti wajah mama dan ayah yang terkadang aku lihat di rumah. Tidak terasa memang waktu berlalu begitu cepat. Secepat itu juga perubahan ini terjadi.” (monolog)

 

Kana: “assalamualaikum budeh dan pakdeh sehat?”

Pakde: “assalaikumussalam alhamdulillah sehat banget ini. Nih, nanti coba kue buatan budehmu.” (sambil mengelus kepala Kana dengan lembut dan menunjuk jajaran toples kue dari kaca di hadapannya).

Kana: “yaampun kue akar kelapa? Hebat banget budeh bisa tahu Kana mau makan ini pas lebaran tahun lalu, tapi sayang nggak kesampaian. Biasanya ada akar kelapa, ada juga biji ketapang, Budeh.”

Budeh: “iya, udah habis biji ketapangnya kemarin. Yaudah makan aja kuenya ini yang banyak ya, Kana.” (Budeh mengambil beberapa toples kue akar kelapa yang ada di depannya dan memberikannya kepadaku.)

Ka Irka: “de, baru dateng kok ngerampok makanannya.” (Irka yang melihatku dari bangku merah di pojok ruangan.)

Kana: “nggak ngerampok, kan dikasih langsung sama budeh.”

Ayah: “de, duduk di sini.” (Ayah memanggil Kana dan menunjuk bangku kosong di samping ka Irka.) 

Budeh: “gimana sekolah online-nya? Enak?”

Kana: “Kana suka sekolah daring jadi nggak kena macet di jalan, tapi nggak sukanya karena nggak punya uang jajan tambahan, Budeh.”

Pakdeh: “oooh memang di rumah masih jajan juga?”

Ka Irka: “nggak sih, Pakde. Di rumah mama buat jajanan macam-macem, Pakdeh.” (menjawab sambil mengambil minuman di depannya).

Budeh: “nah itu uang jajannya udah jadi jajanan. Nggak usah dicari-cari lagi uangnya, bener kan?”

Kana: “tapi Kana jadi nggak bisa nabung kalo nggak ada uang jajannya, Budeh.” Jawabku pelan.

Ka Irka: “kana mau beli apa emangnya?” (ka Irka yang kebingungan mendengar pernyataan Kana)

Kana: “album perdana ONEUS!” (jawab Kana dengan penuh semangat dan berdebar jatungnya kalau mengingat boy group asal Korea Selatan ini.)

Ka Irka: “eiii, belajar dulu kamu tuh.” Jawab ka Irka dengan nada meremehkan.

Kana: “bosen tahu belajar mulu, emangnya Kana itu ka Irka yang betah lama-lama di depan buku?” (membuang muka dari ka Irka).

 

Kana: “Kenapa sih kalau nggak suka ya nggak usah bilang begitu. Kesel deh kan ini kesukaanku dan aku nggak menyusahkan orang. Setidaknya ini yang ada di pikiranku. Mau beli albumnya juga pakai uang tabungan sendiri, bukan minta ke ka Irka. Cuman selama pandemi dan sekolah daring uang jajannya jadi nggak ada.” (monolog)

 

Mama: “udah, baru datang ke sini berantem lagi?” 

Ka Irka dan Kana: “maafkan kami” (menunduk)

Pakdeh: “iya, nih cicip dulu kue lainnya. Jangan berantem dulu ya. Nanti main aja sama Uti.”

Kana: “baik pakdeh.” (membuka toples kue akar kelapa di dekapannya).

Budeh: “zaman sekarang banyak cara buat nambah uang jajan juga, tapi jangan tinggalkan ibadah dan belajar.”

Ka Irka: “nambah uang jajan? Gimana tuh, Budeh?”

Budeh: “bisa sambil jualan atau dari hobi kalian masing-masing. Sebentar ya, ini cocoknya Mira yang jelasin. (memangil Mira di depan rumah).

 

[Ka Mira yang selesai menyuapi Uti ikut berdiskusi bersama. Sambil menggendong Uti di pelukannya ka Mira menjelaskan berbagai cara yang bisa kami lakukan untuk mendapat uang jajan tambahan.]

 

Ka Mira: “ka Irka dan de Kana kesukaannya apa?”

Ka Irka: “buku, Kak. Irka sering beli buku dari uang jajan yang dikasih ayah.”

Kana: “Kana sukanya main. Sekarang lagi suka permainan merancang busana, Kak.”

Ka Mira: “kalau sudah tau apa yang disuka InsyaAllah lebih mudah melakukannya. Misalnya ka Irka bisa mengulas buku dan menggunggahnya di blog, media sosial, atau ikut lomba dari penerbit. Kalau de Kana bisa juga mengulas permainannya atau ikut lomba yang serupa. Bisa juga de Kana coba hal baru seperti lomba merancang busana?”

Kana: “hah? Lomba merancang ya? Bisa begitu?”

Ka Mira: “bisa aja. De Kana udah terbiasa sama busana dan padu-padankannya. Dicoba aja, de.”

Ka Irka: “Irka udah coba bahas beberapa buku karena tugas dari guru. Dari situ Irka ketagihan mengulas buku lainnya, tapi belum pernah diunggah ke media sosial.”

Ka Mira: “sekarang dicoba aja, Ka. Kalau misalnya mau dibuat suara juga bisa, sekarang ada podcast yang membahas buku-buku juga.”

Ka Irka: “bener juga, Kak!”

Ka Mira: “tapi itu semua nggak instan bisa dapat uang jajan. Ka Irka dan de Kana mungkin bisa dapat rezeki yang lain daripada uang.”

Kana: “apa tuh?”

Ka Mira: “bisa aja dikasih kelas gratis, buku-buku, kupon belanja, atau hanya berupa pencantuman nama akun media sosial kalian. Itu semua bisa membantu orang-orang menemukan akun kalian dan bisa lebih dikenal umum.”

Kana: “Yah, nggak asik, Kak. Nanti lama dong Kana beli albumnya.”

Ka Mira: “dicoba dulu, de. Siapa tau ada lomba yang hadiahnya album ONEUS.”

Pakdeh: “rezeki nggak akan ke mana, tapi kalo kita nggak bertindak ya susah.”

Ayah: “nikmatin aja semua prosesnya dan lakukan yang terbaik.”

 

[Liburan kami di rumah Uti diawali dengan semangat yang sangat menggebu. Diskusi kami terus berlanjut, ka Mira menjelaskan langkah-langkah awal yang sekiranya bisa kami lakukan tanpa mengganggu proses belajar. Ternyata menyenangkan juga berdiskusi seperti ini. Mari nikmati liburan dan waktu ini dengan bergembira.]

 

***

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!