Chef Derana
10.13
0
81

Dhika mencintai Maia, tetapi Maia tidak. Dhika berjuang keras setiap hari, setiap saat, selalu merayu dan memberi perhatian lebih padanya. Hingga Maia jatuh cinta. Dhika menembaknya dengan cara yang antimainstream. Mereka berpacaran. Mereka bertengkar karena rahasia Maia. Akhirnya Maia memberi tahu rahasia yang ia sembunyikan. Mereka pun kembali bersama-sama.

No comments found.

“Kentangnya berapa, Pak?”

 

“15, Mbak.”

 

“Waduh, boleh kurang gak? Saya beli banyak loh.”

 

“Nggak bisa, Mbak, udah harga pas.”

 

“13 deh….”

 

“Mbaknya mau beli berapa?”

 

“3 kg.”

 

“14, dah.”

 

“Kita tetanggaan lho, Pak, saya murid di SMK Bintang Kecil. Nanti pasti langganan di sini.”

 

“Ini untuk kepentingan sekolah?”

 

“Iya, Pak.”

 

“Ya udah deh, saya kasih 12. Kebetulan anak saya sekolah di situ juga.”

 

“Wah, makasih banyak!”

 

“Iya, saya juga gak mau uang iurannya tambah besar.”

 

Gadis yang baru saja menawar harga kentang adalah Maia. Dia siswi SMK kelas 11, dengan jurusan Tata Boga. Tentu Maia tidak sendiri, ia ditemani Dhika, teman sekelasnya yang sedari tadi berdiri di belakang Maia.

 

“Makasih, Pak!”

 

“Yoo!”

 

“Udah?” tanya Dhika.

 

“Iya, udah. Yuk, balik.”

 

Maia dan Dhika berjalan ke parkiran. Dari raut wajah Dhika, terlihat jelas dia cemberut.

 

“Dhika, kamu kenapa?”

 

“Kesel. Ini bukan salah kita, tapi kita juga yang harus tanggung jawab. Harusnya biar anak itu aja yang beli.”

 

“Huss, gak boleh ngomong gitu. Seenggaknya kita tau kan, kalo dia butuh belajar lagi.”

 

“Ya tapi ini kan, nyusahin namanya!”

 

“Lagipula ini uang mereka, lho. Padahal aku udah bilang gak usah, tapi mereka tetep maksa buat ganti.”

 

“Ya kalo gitu kasihlah ongkos jalan.”

 

“Tunggu sini.” Maia memasuki sebuah warung dan membeli sesuatu.

 

“Apaan?”

 

“Ini peller. Buat bantu adek kita.”

 

“Oh, boleh juga tuh.”

 

Sebagai senior, Maia harus bisa membimbing adik-adiknya, setidaknya ilmu-ilmu dasar memasak. Anak-anak kelas 10 dibagi menjadi beberapa kelompok berisi lima orang, dan setiap kelompok punya dua kakak pembimbing.

 

Sayangnya, salah satu adik bimbingan Maia dan Dhika masih sangat awam di dapur. Saat belajar mengupas kentang, dia mengupasnya terlalu tebal, hingga mereka harus membeli stok kentang lagi.

 

“Itu berat gak? Sini, aku yang bawain.” Dhika mengambil alih kantong berisi kentang-kentang.

 

“Idih, udah deket baru nawarin! Dari tadi aku keberatan malah asik ngedumel sendiri. Dasar gak peka!”

 

“Ya maap, aku kan bukan pacar kamu. Jalan sama Maia enak juga ya, jago nawar. Kamu mau gak jadi Ibu dari anak-anakku?”

 

“Ini ceritanya lamaran?”

 

“Kagak. Nanti aku punya anak, kamu jadi Ibunya. Aku pergi.”

 

“Kalo gitu aku gak sudi, anjir.”

 

Lalu Maia dan Dhika tertawa terbahak-bahak. Keakraban mereka sudah tumbuh sejak kelas 10. Kadang orang-orang menyebutnya sebagai pasangan suami istri. Padahal, mereka sendiri tidak ada niatan ke sana. Mungkin?

 

“Berarti kalo dilamar mau?”

 

“Maap, kamu terlalu freak.”

 

▼△▼△▼△▼△

 

“Nah, jadi kamu bisa kupas kentang pakai peller. Gampang ‘kan?”

 

“Iya, Kak. Gampang!” jawab adik kelas itu.

 

“Kalau sudah, dicuci, terus iris tipis-tipis. Sama kayak ngupas. Ngerti?”

 

“Ngerti, Kak.”

 

Dhika mengamati Maia dari kejauhan. Hampir setiap hari Dhika menggoda Maia, itu bukan tanpa alasan. Dhika mencintai Maia, sudah sejak lama. Dhika merasa Maia memiliki sesuatu yang spesial. Namun sayangnya, Maia selalu menganggap gombalannya hanya candaan.

 

“Heh! Ngelamun aja. Bantuin gih!” Maia menepuk pundak Dhika.

 

“Hah? Oh, Maia.” Dhika tersadar dari lamunannya seperti orang yang habis dihipnotis.

 

“Ngelamunin apa siiih? Kayaknya serius amat.”

 

“Kamu.”

 

“Ah, mulai lagi nih orang.”

 

“Mai, kamu tuh cantik. Tapi kenapa jomblo?”

 

Maia mengambil lap dari apronnya lalu menampar pipi Dhika. “Cantik, cantik, cantik. Udah basiii! Kalo mau ngegombal, yang inovatif gitu kek. Diulang mulu lama-lama jadi gimbal.”

 

“Oh, basi, ya? Gak pernah diangetin, sih.” Dhika merentangkan kedua tangannya, bersedia memeluk tubuh Maia. Namun, bukan pelukan yang ia dapat, malah pipinya ditampar untuk yang kedua kalinya.

 

“Jangan tampar, cium aja.”

 

“Cieeee….” Adik-adik bimbingan mereka bersiul seketika.

 

“Cium, cium, cium!”

 

“Eh eh ehhh, bocah, jangan ngada-ngada. Kakak gak bakal nyium ini mahluk.”

 

“Pasti Kakak gak mau nyium Kak Dhika karena takut Kak Dhika jadi kodok, ya?” tebak adik berambut pirang.

 

“Eh, kalo begitu, berarti sebelumnya udah pernah ciuman?” tambah teman lainnya.

 

“Cieee!!”

 

Maia tertawa miring sambil berjalan ke meja kerja. Maia mengambil sebuah pisau dan membantingnya ke meja hingga menimbulkan bunyi keras.

 

“Kalian… CEPET SELESAIIN MASAKANNYA!!”

 

“MAAF KAK!!”

 

Mereka pun langsung kembali ke pekerjaannya masing-masing. Sementara Maia, diam sejenak di tempatnya lalu pergi ke luar. Untuk pertama kalinya Dhika melihat Maia seserius ini.

 

Dhika mengikuti Maia ke taman belakang. Maia terlihat sedih sambil bersandar di tembok.

 

“Mai? Kamu marah?”

 

“Nggak kok. Cuma aku rasa yang tadi itu ada benernya juga.”

 

“Maksudnya, kamu pernah ciuman sama kodok?”

 

“Bukan itu, Dhika….”

 

“Terus apanya yang bener?”

 

“Ucapan kamu. Padahal aku udah 17 tahun hidup di dunia, tapi sama sekali belum ngerasain yang namanya cinta.”

 

“O-oh gitu ya. Gimana kalo–“

 

“KAK!! PANCINYA BOLONG!”

 

“Dhika kampret, bukannya diawasin!” Maia segera berlari ke dapur.

 

▼△▼△▼△▼△

 

Di hari berikutnya, Maia duduk di taman belakang sambil menulis. Itu sudah kebiasaan Maia sejak dulu. Di waktu senggang, dia akan membuka bukunya dan menuliskan sesuatu yang isinya rahasia. Hanya Maia yang tahu.

 

Kemudian, Dhika datang dan duduk di hadapan Maia, sambil meletakkan dagunya di atas telapak tangan. Imut sekali. Dua menit berlalu, Maia belum menyadari kehadirannya. Dhika nyaman sekali memandangi wajah Maia, seperti sedang memakan Ice Cream. Dingin tapi manis.

 

“Eh, buset! Ngagetin aja! Ngapain di sini?” Maia langsung menutup bukunya.

 

“Ngeliatin kamu. Serius banget, ngapain sih?”

 

“Bukan urusanmu.”

 

“Soal pembicaraan kita kemarin, aku mau lanjutin sekarang.”

 

“Hm.”

 

“Kamu mau gak jadi pacar aku?”

 

“Hah?” Maia menempelkan punggung tangannya di kening Dhika.

 

“Aku sehat, kok. Jadi jawaban kamu apa?”

 

“Apa gimana?”

 

“Aku diterima, ‘kan?”

 

“Nggak.”

 

“Kenapa?”

 

“Memangnya atas dasar apa kamu bilang itu ke aku?”

 

“Karena aku suka sama kamu.” Dhika mengatakan yang sejujurnya.

 

“Sayangnya aku nggak suka.”

 

“Tapi aku ganteng!”

 

“Kok maksa? Udah ya, aku gak mau kamu berkorban jadi pacar aku, cuma karena aku gak punya pengalaman cinta.”

 

“Tapi aku serius!”

 

“Kalo gitu, kamu harus buat aku jatuh cinta.”

 

“Oke, itu gampang!”

 

Sejak hari itu, Dhika berusaha semaksimal mungkin agar Maia jatuh cinta padanya.

 

Di gerbang sekolah.

 

“Hai cewek, kenalan yuk.” Dhika menyisir rambutnya dengan jari.

 

Maia mengerutkan keningnya. “Maap, saya amnesia.”

 

“Waduh, amnesia ya? Kenalin, saya tunangan kamu.”

 

Di kantin.

 

Dhika datang membawa rantang. “Menu kita hari ini Matah Chili Chicken Rice with Cabbage.”

 

“Tinggal bilang lalapan ayam kenapa susah banget….”

 

“Biar keren, Mai.”

 

Di kelas.

 

“Anak-anak, coba beritahu Ibu, apa itu Fusion Food?” tanya Ibu guru.

 

Dhika mengangkat tangannya.

 

“Iya, Dhika?”

 

Fusion Food adalah perpaduan makanan yang terdiri dari dua budaya yang berbeda. Kalau Dhika dan Maia adalah perpaduan hati dari dua insan yang saling menyayangi.”

 

“Cieee! Pasangan berulah lagi. Yang jomblo harap budeg.”

 

“Ekhem! Ekhem!”

 

Di toilet.

 

“Maia, bawain gayung dong.”

 

“Cari sendiri, di gudang banyak.”

 

“Ih, tapi aku gak pake celana.”

 

“Ya masa aku anterin ke situ…!”

 

Sudah dua hari perjuangan Dhika demi meluluhkan hati Maia. Namun dia sama sekali tidak luluh. Hingga Dhika terpaksa memakai jurus terakhir.

 

“Maia, ayo kita nonton.” Dhika memberikan tiket bioskop.

 

Berbeda dari sebelumnya, kini Maia menunjukkan ekspresi menggembirakan. Mata membesar, bibir tersenyum, dan dia menerima tiket itu dengan senang hati.

 

“Serius, kamu ajak aku nonton?”

 

“Iya.”

 

“Yeaaay!!” Maia lompat-lompat kegirangan sampai Dhika salah tingkah.

 

“Kamu seneng?”

 

Maia mengangguk.

 

“Syukurlah.” Dhika mengusap-ngusap kepala Maia dengan lembut.

 

Maia merasa gugup, dia mundur sedikit dari tangan Dhika.

 

“Besok pagi aku jemput, ya?”

 

“Eh, jangan! Emm, kita ketemuan aja di bioskopnya. Aku mau ke tempat lain dulu soalnya.”

 

“Oh, iya. Hati-hati, ya. See you.”

 

▼△▼△▼△▼△

 

Dhika berlari hingga napasnya tersengal-sengal. Dia menangkupkan kedua tangannya sebagai permintaan maaf.

 

“M-maaf, tadi… macet. Aku….”

 

“Iya, gak papa. Yuk, duduk dulu, kamu pasti capek.”

 

Maia dan Dhika duduk di sofa sembari menunggu gilirannya menonton.

 

Maia memberikannya sebotol air. “Nih, minum.”

 

“Makasih.” Dhika menghabiskan minumannya.

 

“Kamu udah selesai urusannya? Katanya mau ke tempat lain?”

 

“Udah. Sebenernya aku juga baru dateng beberapa menit yang lalu.”

 

“Maaf bikin kamu nunggu ya.”

 

“Nggak masalah.”

 

“Pintu teater satu telah dibuka. Bagi anda yang telah memiliki karcis dipersilahkan untuk memasuki ruangan teater satu.”

 

“Ah, itu giliran kita. Ayo.” Dhika menggandeng tangan Maia, membawanya ke ruangan teater satu.

 

Setelah menunjukkan karcis ke penjaga, Dhika dan Maia memasuki ruangan dan duduk di paling belakang.

 

“Kenapa duduk di belakang?” tanya Maia.

 

“Kamu gak suka?”

 

Maia menyengir. “Suka kok, tapi kukira kita duduk di bawah sana.”

 

“Itu tempat keluarga sama anak-anaknya,” Dhika mengambil tangan Maia dan menggenggamnya, “kalo di sini, tempat pasangan kekasih.”

 

Jantung Maia berdebar-debar mendapat perlakuan manis dari Dhika. Inikah yang namanya cinta?

 

Jeg! Lampu ruangan sudah dimatikan.

 

“Tolong matikan bunyi telefon genggam anda. Jangan berbicara selama film diputar. Pintu darurat terletak di bagian depan ruangan. Jangan merekam film yang sedang diputar. Selamat menonton.”

 

“Btw, Dhik, kita nonton apaan?” bisik Maia.

 

“Lah, kamu gak liat di tiket?”

 

Maia menggeleng.

 

“Liat aja.”

 

“Film horor?!”

 

“Sssst!”

 

▼△▼△▼△▼△

 

Dhika kira Maia akan histeris seperti perempuan pada umumnya hingga dia bisa melancarkan aksi modusnya sebagai laki-laki. Namun kenyataanya, Maia terlihat senang, bahkan sempat-sempatnya dia tertawa di saat orang lain menutup mata.

 

“Filmnya seru, ya,” kata Maia.

 

“Hm.” Dhika tidak bersemangat.

 

“Makasih ya, udah ajak aku ke sini.”

 

“Hm, ya, sama-sama.”

 

“Kamu keren, bisa tau genre favorit aku.”

 

Kali ini mata Dhika terbuka lebar, dia salah tingkah. “Iya ‘kan? Udah kubilang, aku tuh hebat dalam memahami kamu.”

 

“Aku takut kamu kepikiran yang lain-lain pas kita duduk di belakang.”

 

“Y-yang kayak gitu nggak mungkinlah!”

 

Maia tersenyum. “Iya, aku percaya kok. Yuk, nyari makan. Kayaknya kamu lesu.”

 

Mereka pergi ke warung mie ayam dekat bioskop.

 

“Pak, pesen 2 mangkok,” ucap Dhika.

 

“Mas sama mbaknya ini habis dari bioskop Cineplex, ya?” tanya Pak penjual.

 

“Iya.”

 

“Kebetulan di sini ada promo, makan gratis kalau habis dari Cineplex. Tapi, ini khusus pasangan.”

 

“Ooh, boleh juga, Pak.”

 

“Oke, porsi pasangan, siap.”

 

“Eh, tapi kan–“

 

Dhika mengedipkan matanya. “Gratis, loh.”

 

Tak lama setelah Maia dan Dhika duduk, pesanan mereka pun tiba. Mereka melongo kebingungan.

 

“Pak, ini gak salah?” tanya Maia.

 

“Nggak kok, Mbak. Memang porsi pasangannya begitu. Kalau mau beli yang biasa, gak jadi gratis. Selamat menikmati.”

 

“I-ini bercanda, ‘kan?” Maia tersenyum kaku.

 

“Kayaknya sih nggak.” Dhika terkekeh pelan.

 

Mereka mematung bersama. Bagaimana tidak, menu pasangan yang mereka pesan adalah satu mangkuk besar yang porsinya untuk dua orang. Masalahnya, HANYA ADA SATU MANGKUK!

 

“Ahaha… kamu makan aja deh, aku gak laper.” Maia menggeser mangkuknya ke hadapan Dhika.

 

Dhika mengambil sendok dan garpu, mengambilnya lalu diarahkan ke mulut Maia. Dhika membuka sedikit mulutnya, mengisyaratkan Maia untuk membuka mulut.

 

Maia menggeleng, tapi Dhika terus memaksanya. Mau tak mau, Maia membuka mulutnya dan menerima satu suapan mie ayam tersebut.

 

“Gimana rasanya? Enak?” tanya Dhika.

 

Maia mengangguk pelan sambil menelan makanannya. “Maaf. Sekarang kamu jadi makan mie sisaan aku.”

 

“Nggak kok, aku nggak papa. Kalo kamu jijik sama aku, aku bisa tunggu kamu sampe kenyang. Aku gak jijik sama kamu.”

 

Pipi Maia merona, dia merasa diistimewakan. Saat ini, Dhika terlihat bersinar di mata Maia.

 

Dhika mengambil lagi mienya, hendak menyuapi Maia. Namun, Maia menolak.

 

“A-aku bisa sendiri, Dhik.”

 

“Oke.”

 

Maia mengambil alih mangkuk tersebut dan mulai melahapnya. Dhika memandangi Maia tanpa kedip, membuatnya semakin grogi.

 

“Kamu jangan gitu. Liatnya biasa aja!”

 

“Kamu mau aku turutin?”

 

“He’em.”

 

“Boleh, tapi kamu juga turutin permintaan aku.” Dhika tersenyum jahil.

 

“Eh, gak jadi deh. Liatin aja terus, sampe kosong ini mangkuk.”

 

“Dih… jilat ludah sendiri!”

 

“Biarin. Daripada jilat ludahmu.”

 

“Astaga, segitu jijiknya sama aku, ya.”

 

▼△▼△▼△▼△

 

“Makasih,” Maia turun dari motor Dhika, “hati-hati pulangnya.”

 

“Emm, ini kamu gak ada niatan ngajak aku ke dalem gitu? Kasih minum kek, atau apa?”

 

Maia menggeleng. “Nggak tuh.”

 

Dhika mematikan motornya lalu turun dari motor.

 

“Eeh, mau ngapain?”

 

“Aku mau mampir.”

 

“J-jangan! Gak boleh!” Maia merentangkan tangannya di depan pintu.

 

“Kenapa nggak?”

 

“Ya gak boleh!”

 

“Aku mau numpang ke kamar mandi.”

 

“Tetep nggak boleh!”

 

Dhika mengerutkan alisnya. “Apa jangan-jangan kamu pelihara jin?”

 

“Yang kayak gitu gak mungkinlah!!”

 

“Terus kenapa aku gak boleh masuk?”

 

“Karena… emm… karena… baju-baju aku berantakan! Ahaha, iya, baju-baju aku, terutama baju dalem. Kamu gak mau kan, liat penampakan daleman cewek bertebaran.”

 

“Tapi di toko udah sering liat yang begitu.”

 

“Yang itu beda!! Itu masih bersih dari pabrik!”

 

“Kalo punyamu udah jamuran gitu?”

 

Wajah Maia memerah bak kepiting rebus. Dia merasa malu dan marah.

 

“Cukup. Pulang sana!!” Maia mendorong Dhika kembali ke motornya.

 

“Aduh duh duh duh, iya iya. Aku pulang sekarang nih ya.” Dhika menyalakan mesin motor.

 

Maia berdiri di depan pagar untuk memastikan Dhika benar-benar pergi. Namun sebelum pergi, Dhika mengecup dua jarinya, lalu ditempelkannya ke kening Maia sampai ia terkejut.

 

“Maaf aku udah bikin kamu marah. See you.” Dan Dhika pun melaju kencang, meninggalkan asap knalpot.

 

Maia memegangi kening, tapi raut wajahnya tidak bahagia. Dia pun masuk ke rumah dengan langkah lemas.

 

▼△▼△▼△▼△

 

Good morning, baby,” ucap Dhika.

 

Lagi-lagi wajah Maia memerah, ia ingat kejadian kemarin saat Dhika menciumnya secara tidak langsung. “Good morning,” lirih Maia.

 

“Hari ini Maia sama kayak biasanya, tetep cantik!”

 

Bagi Maia, Dhika pun juga begitu. Hari ini Dhika tetap konyol seperti biasanya, seolah kemarin tidak terjadi apa-apa.

 

“Makasih.”

 

“Oh ya, yang kemarin itu, aku minta maaf banget. Aku yang salah, mungkin kamu emang punya rahasia pribadi, tapi aku malah gak mikir ke sana. Sebagai permintaan maaf, ini aku bawain jus jeruk kesukaan kamu.”

 

Maia menerima jus itu. “Nggak papa kok, yang penting sekarang kamu udah tau apa yang gak boleh kamu lakuin ke aku. Dan, makasih jusnya.”

 

Hari-hari setelah kencan berjalan seperti biasa. Hanya saja, pembelajaran membuat mereka jauh. Terlalu banyak praktek, sedangkan Maia dan Dhika beda kelompok.

 

Jika dilihat lebih dekat, Maia adalah siswi paling ahli di kitchen. Masakannya sudah seperti chef profesional. Selain itu, Maia selalu “gercep” jika ada kecelakaan di dapur. Akhirnya Dhika sadar, itulah yang membuatnya jatuh hati padanya.

 

Di waktu senggang, Maia selalu disibukkan dengan mengajar adik-adik kelas 10. Adik-adik itu berkembang pesat. Selain jago memasak, Maia juga ahli dalam mengajar.

 

Entah Maia sadar atau tidak, Dhika selalu memantaunya diam-diam. Ia rindu, tapi sulit bertemu. Hingga akhirnya Dhika temukan cara terbaik.

 

▼△▼△▼△▼△

 

Maia merasa sedih ketika ia sadar bahwa Dhika tak lagi memantaunya. Padahal ia senang jika seseorang menjaganya. Sudah tiga hari lamanya Dhika sibuk berkeliling kelas sambil membagi-bagikan kue cokelat. Dan kini, dia malah mengumpulkan pasukan dari berbagai kelas entah dia pergi ke mana.

 

“Dhika mau perang kali, ya.”

 

“Diberitahukan kepada Maia Derana, kelas XI Salad, harap datang ke aula. Ada kecelakaan fatal. Sekali lagi, diberitahukan kepada Maia Derana, kelas XI Salad, harap datang ke aula. Ada kecelakaan fatal. Terima kasih.”

 

Suara toa itu membuat Maia gelisah. Segera ia berlari menuju aula, dengan jantung berdebar.

 

“Ada apa ini? Apa jangan-jangan Dhika berantem…?”

 

Maia membuka pintu aula, membantingnya hingga semua orang menoleh ke arahnya. Hari ini semua murid memakai seragam merah maroon, warna itu membuat Maia sedikit pangling mencari sosok Dhika. Hingga ia temukan sosok Dhika terbaring di lantai.

 

“Dhika!!” Maia menghampirinya. Air mata Maia menetes, ia takut kehilangan Dhika.

 

“Kalian, cepat ambil tandu!” titahnya pada orang-orang di sekeliling.

 

“Jangan pergi,” lirih Maia di tengah tangisannya.

 

Maia menghapus air matanya yang tak berhenti turun. “Bertahanlah, Dhika.”

 

“Kak Maia,” panggil seorang adik kelas.

 

“Hm?” Maia menjawab tanpa menoleh.

 

“Sebenarnya… Kak Dhika mau bikin kejutan buat Kakak, tapi pas lagi masang pita, Kak Dhika kepeleset.”

 

Maia mendongak ke atasnya, ada pita berwarna pink yang belum terpasang rapi. Tangisnya semakin kencang. Ia memeluk sosok Dhika yang masih pingsan.

 

“Bodoh. Kamu bodoh! Aku gak butuh hiasan ini. Kamu gak mikir, gimana perasaan aku kalo kamu gak ada di sini!!”

 

“Aku mikir kok.”

 

Maia kaget tiba-tiba ada sebuah tangan lembut membelai kepalanya. Terlebih lagi Dhika yang langsung duduk di hadapannya.

 

“Dhika…?”

 

Maia lebih bingung lagi saat semua orang melingkari mereka sambil memegang ponsel. Di saat yang bersamaan, lagu “I Love You 3000” diputar pada ponsel mereka yang sudah nyala sendernya. Mereka membentuk barisan melingkar, hingga suasananya berubah.

 

“Terima kasih, kamu udah sayang sama aku.” Dhika memegang tangan Maia, membantunya berdiri.

 

“Apa-apaan kamu ini….”

 

Seseorang mendatangi Dhika dan memberikannya bingkisan berbentuk hati, yang di dalamnya ada cokelat buatan Dhika. Dhika mengulurkan tangannya, menyerahkan bingkisan itu pada Maia.

 

“Maia, jadilah pacarku.”

 

Maia sedikit ragu, dia menatap mata Dhika dalam-dalam. Namun, tidak ada tanda-tanda candaan di sana. Itu artinya, Dhika serius.

 

“Bagaimana, Maia?”

 

Maia menerima bingkisan Dhika. “Iya, aku mau.”

 

Dhika melebarkan tangan, lalu Maia membalasnya dengan pelukan hangat.

 

“Kamu panik ya kalo aku kenapa-napa?”

 

Maia memutar bola matanya malas. “Aktingmu itu keterlaluan. Kalo sampe aku kasih napas buatan gimana dong?”

 

Dhika memukul keningnya dengan ekspresi kecewa. “Ck, iya juga ya. Harusnya aku bikin adegan kecebur aja, biar dikasih napas buatan sama Maia.”

 

Maia berdecih lalu mencubit pinggangnya.

 

“Tapi, aktingku bagus, ‘kan?”

 

“Ya, bagus. Tapi jangan diulangi. Kalo kamu ngelakuin itu lagi, kubekam mulutmu sampe kehabisan napas!”

 

Selama tiga hari, Dhika bekerja keras mengumpulkan orang-orang yang akan membantunya. Membuat skenario, melatihnya berakting, hingga berlatih menyetel lagu dengan kompak. Dhika juga sudah belajar membuka kue cokelat yang enak, dengan mereka yang jadi pengujinya.

 

Akhirnya, Dhika berhasil menjadikan Maia pacarnya. Setiap hari adalah hari istimewa bagi mereka. Maia selalu membawakan Dhika bekal, begitu pun Dhika yang selalu mengantar jemput Maia. Bagi Dhika, masakan Maia adalah masakan terenak yang pernah ia cicipi.

 

Namun, ada hal yang masih mengganggu Dhika. Meski sudah sering antar jemput Maia, tetapi Dhika tak pernah sekalipun diajak masuk ke rumah meski hanya sekadar basa-basi. Sejak kencan hari itu, Dhika tidak berani mengatakannya, tapi sekarang dia menduga hal-hal yang lain.

 

▼△▼△▼△▼△

 

Seperti biasanya, Maia melepas helm dan berjalan ke rumah. Dhika buru-buru mengikutinya dan menahan lengan Maia.

 

“Mai,” panggil Dhika.

 

“Eh, belum pulang?”

 

“Kamu kenapa sih, gak pernah ajak aku masuk liat-liat rumahmu?”

 

Maia berbalik badan menghadap Dhika, menyilangkan tangannya di depan dada. “Emangnya kamu mau ngapain?”

 

“Ya liat aja. Sekalian kenalan sama orangtua kamu.”

 

“Nggak boleh.”

 

“Kenapa?”

 

“Aku bilang nggak ya nggak.”

 

“Kalo alasannya masih sama karena baju-baju kamu, aku gak akan percaya. Karena kamu orang yang disiplin, di sekolah pun gak pernah kamu tinggalin kitchen dengan kondisi kotor, atau berantakan. Semuanya kamu rapiin.”

 

“Setiap orang punya sifat yang beda-beda, aku kalo di sekolah memang gitu, tapi kalo di rumah kamu gak kenal aku.”

 

“Ya, aku tau itu. Tapi aku mulai curiga. Jangan-jangan, kamu punya cowok simpanan, ya? Atau mungkin kamu udah nikah dan punya anak? Atau… kamu psikopat, dan semua makanan yang kamu buat adalah mereka, korbanmu?”

 

PLAK!

 

Maia menampar pipi Dhika. “Jangan sembarangan ngomong. Kalaupun semua dugaan kamu bener, kamu mau apa? Putusin aku? Terserah, aku fine-fine aja. Lagian, yang pertama kali ngebet pengen pacaran kan kamu, bukan aku.”

 

“Nggak kok, aku gak akan putusin kamu. Aku cuma mau tau alasan kamu gak pernah ajak aku ke dalam. Udah, itu aja. Seenggaknya itu bisa buat perasaanku tenang.”

 

“Kalau kamu mau alasan, aku gak bisa bilang. Tapi aku hanya akan bilang, kalau semua dugaanmu salah. Puas?”

 

“Belum. Aku nggak akan puas sampai aku lihat sendiri.” Dhika berjalan maju, memaksa membuka pintu rumah Maia.

 

“Eeh, eeh, berhenti!” Maia menahannya sekuat tenaga, tapi tidak bisa.

 

“Tolong! Tolong! Tolong!” teriak Maia.

 

Dhika langsung membekap mulut Maia.

 

“Maaf. Aku pulang sekarang,” kata Dhika.

 

“Dhika.”

 

Dhika berhenti tanpa menoleh, menunggu Maia menyampaikan kata-katanya.

 

“Untuk beberapa hari ke depan, jangan temuin aku dulu. Aku nggak mau deket-deket sama kamu.”

 

“Berapa lama?”

 

“Entah. Aku akan bilang kalau mau ketemu.”

 

“Oke.”

 

▼△▼△▼△▼△

 

Sudah hampir satu minggu Dhika dan Maia tidak berinteraksi. Rasanya sepi, hampa, dan ada penyesalan di benak Dhika. Seharusnya dia tidak memaksakannya.

 

Dhika pulang sekolah dengan lesu. Ia lihat Mamanya sedang menyiram tanaman di halaman.

 

“Eeh, anak Mama udah pulang. Ayo ayo, makan dulu. Mama udah masak niih.” Mama Dhika langsung menaruh selang air dan mendorong Dhika masuk.

 

“Gimana? Enak, ‘kan? Mama nyoba resep baru nih dari Bu RT.”

 

Dhika langsung bersemangat saat mencobanya. Masakan ini persis seperti masakan Maia.

 

“Ma, dulu Mama sekolah Tata Boga juga, ya?”

 

“Nggak kok. Kenapa emang?”

 

“Masakan Mama enak banget, kayak orang kursus.”

 

“Iya dong enak, Mama yang bikin!”

 

“Tapi serius Ma, Mama belajar masak dari siapa?”

 

“Mama gak belajar dari siapa-siapa, Mama belajar sendiri.”

 

“Mama waktu muda pernah belajar masak?”

 

“Hmmm, jujur sih ya, Mama itu dulu anak yang malesan. Jadi Mama baru belajar masak pas udah nikah.”

 

“Kok bisa?”

 

“Ya… semua orang punya kemampuannya masing-masing. Banyak orang yang gak bisa masak, tapi saat keadaan memaksa, kemampuan itu bakal muncul sendirinya. Mama berperan sebagai istri dan ibu, pasti harus bisa masak, iya ‘kan? Mama udah berumah tangga, gak mungkin bergantung sama orangtua lagi. Tekanan itulah yang menguatkan Mama sampai sekarang.”

 

“Ooh, begitu.”

 

Kemudian, ada suara anak-anak dari pintu kamar belakang. Begitu pintu terbuka, adik Dhika dan teman-temannya keluar bersamaan. Sudah biasa baginya melihat dia membawa “pasukan”.

 

Tiba-tiba Dhika tersadar. Sepertinya semua ini adalah jawabannya. Kini Dhika merasa telah menyinggung Maia. Buru-buru Dhika membuka ponselnya dan mengirim pesan.

 

Dhika

Maia, besok aku mau ngomong

 

Maia

Aku juga, temui aku di kitchen, jam 4 sore

 

Keesokannya, Dhika datang ke kitchen sesuai permintaan Maia. Di sana Maia sedang memberi pelajaran kepada adik-adik kelas.

 

Menyadari kehadiran Dhika di ambang pintu membuat semua perhatian tertuju ke arahnya.

 

“Adik-adik, pelajaran hari ini cukup sampai sini. Kalian bisa lanjut belajar di rumah,” ucap Maia.

 

“Baik, Kak!”

 

Dhika langsung masuk dan memeluk Maia. Ia rindu sekali. Maia membalas pelukannya sambil tersenyum.

 

“Ehm, Kakak, k-kita duluan, ya?”

 

Adik-adik kelas itu segera meninggalkan mereka berdua di ruangan.

 

“Mai, aku minta maaf, ya,” kata Dhika.

 

“Iya, nggak apa kok,” Maia melepas pelukannya, menatap mata Dhika, “kamu mau lihat rumah aku?”

 

“Terserah kamu aja.”

 

“Ayo.”

 

Mereka telah sampai di rumah Maia. Maia memegang tangan Dhika erat-erat, sedang tangan satunya memutar kunci rumah.

 

“Kamu siap?” tanya Maia.

 

“Ya, aku siap.”

 

Maia sedikit menutup matanya dan membukakan pintu. Maia menuntunnya ke dalam lalu menyalakan lampu. Barulah Dhika tahu apa yang selama ini Maia sembunyikan.

 

“G-gimana? Aku rasa kamu gak seharusnya liat ini, ‘kan?” Maia terbata-bata.

 

Dhika melepas genggaman Maia, berjalan menyusuri tembok rumah Maia yang dipenuhi coretan tentang keluh-kesahnya. Hampir semuanya berisi seperti ini: “Aku ingin bahagia“, ” Aku ingin keluargaku ada di sini“, dan yang paling parah, “Aku ingin mati“. Hingga ia berhenti di depan bingkai foto yang isinya tiga orang, tapi semua foto itu adalah tempelan.

 

“Ini… kamu, Mai?” tanya Dhika.

 

Maia mengangguk. “Dua orang itu adalah Ayah Ibuku. Kita gak pernah foto bareng. Karena Ibu meninggal setelah ngelahirin aku, dan Ayah pergi ke luar negeri bersama Istri barunya. Tiap bulan Ayah selalu ngirim uang, tapi… dia gak pernah kemari. Bahkan aku gak tau gimana kabarnya dia.”

 

Menyadari Maia sudah berkaca-kaca, Dhika langsung menenangkannya.

 

“Kamu boleh kok ke rumah aku. Aku punya orangtua yang baik. Kamu bisa anggap mereka orangtua kamu.”

 

“Makasih, Dhika. Sebenernya, selama 7 hari kemarin, aku kesepian. Aku hampir putus asa dan sampai mau bunuh diri. Aku udah siap kalo kamu putusin aku. Tapi… untunglah kamu nggak begitu.”

 

“Shhh, udah. Sekarang aku ada di sini. Aku selalu ada buat kamu. Kalau kamu ada apa-apa, bisa bilang aku, ya?”

 

Dhika mengenalkan Maia pada keluarganya. Pelan-pelan Maia beradaptasi dengan “keluarga” barunya. Hari demi hari Maia terlihat membaik. Dia semakin akrab dengan Ibu Dhika. Mereka sering masak bersama.

 

Maia bersyukur ada orang yang peduli dengannya. Luka di hatinya pun mulai terobati. Sejak hari itu, mereka selalu bersama-sama.

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!