Cinta, Monyet!
27.9
0
223

Demi hal-hal yang belum sempat dibicarakan di masa lalu, Yoga mengunjungi Mona setelah sepuluh tahun dipisah kematian.

No comments found.

1

Seorang remaja pria tinggi, tegap, berponi, berdiri di depan gerbang sekolah dengan seragam separuh keluar dari celana abu-abunya. Bet SMA IB UKOTABARU di lengannya tampak tidak sesuai dengan bunyi papan nama sekolah di hadapan. Pelajar-pelajar lain, yang mengenakan bet asli, bergantian memandangi pria itu. Tangan-tangan seketika menutup hidung, menyoroti bercak cokelat gelap tercoreng di belakang baju sang remaja. Salah seorang pelajar perempuan mual mencium aromanya. Beberapa lekas bergegas menjauhi. Dalam sekejap berpasang-pasang mata menghakimi penampilan melalui satu pandangan melotot; seragam salah dikancingkan, kepala gesper melenceng terlalu ke kiri, sebelah tungkai celana tergulung hingga ke betis. Andai mereka memperhatikan sorot mata putih pekat di balik pandangan tertunduk pria ini, pastilah semua akan bereaksi sama sekali berbeda.

            “Я тебя люблю!” Sekonyong-konyong ia berkata kencang.

            Remaja itu Afriandy David–tertulis di bagian dada seragam. Bak mayat hidup berjalan melewati gerbang sekolah yang sedang tidak dijaga siapapun. Tak ada pelajar yang berani berurusan dengannya apalagi setelah mendapati keberadaan kotoran di belakang bajunya. Sekelompok perundung hanya diam memandangi, meniup permen karet. Pria ini mungkin benar berponi, tapi sama sekali tidak kelihatan culun dan tak berdaya melainkan cukup keren dan kokoh tipikal pria idola di drama Korea. Andy jelas akan sulit diatasi.

            Sebuah kelas di lantai dua seketika riuh karena kehadiran Andy di sana. Murid-murid di dalam ruangan mendekat satu sama lain mencari teman perlindungan. Bisik-bisik dan praduga menguar. Hidung lagi-lagi ditutup erat-erat.

            “Я тебя люблю!

“Itu, Pak! Dia masuk ke kelas XI MIA 3!” Terdengar dari lorong kelas. Langkah-langkah setengah berlari menggema.

Di dalam kerumunan kelas seorang pelajar pria melangkah ke depan. Kepalanya gundul, dan ada sebuah plester di pipi wajahnya. Hendra Syarif, ketua kelas XI MIA 3 yang dikenal suka tidur dan melamun di jam pelajaran, mencoba menghadapi Andy si tamu tak diundang. Seketika kedua pria saling bertatapan, dan untuk pertama kalinya para murid-murid di sekolah itu memperhatikan sepasang mata Andy yang meskipun masih dominan putih pekat kini terlihat setitik kecil hitam di masing-masing bolanya. Keterkejutan menyeruak membentuk teriakan-teriakan.

“Demi langit dan Bumi, apa yang terjadi di sini?” Pak Guru merampas lengan Andy sembari menutup hidung.

“Pak, hati-hati, Pak! Ada yang tidak beres! Matanya! Matanya, Pak!”

Menyadari kebenaran seruan itu, Pak Guru sontak melepas tangan Andy.

“Si-siapa kau? Apa yang kau inginkan dari murid-muridku?” Pak Guru mundur, menginstruksikan murid-muridnya melakukan hal serupa ke dinding kelas. Murid-murid bergetar. Jika Pak Guru saja mundur, siapa yang diharap akan mengatasi kehebohan pagi itu? Di antara keberanian yang menyusut, Hendra Syarif sang ketua kelas tampak mencolok tampil di depan mereka yang kehilangan keberanian. Pak Guru mengingatkannya, tetapi Hendra tak gentar dan justru berkata lantang, “Monyet!”

Lalu, tanpa ada yang tahu apa alasannya, Andy dan Hendra pingsan di waktu yang hampir bersamaan.

 

 

2.

“Kamu tahu apa yang lebih indah dari bintang-bintang?”

            Mona menggeleng.

“Kamu.”

Mona cekikikan di bawah malam, menyikut lengan Yoga yang berbaring tepat di sampingnya. “Bisa aja.”

            Senyum merekah di antara keduanya seperti bunga-bunga di musim semi. Begitu enak dipandang, serta mampu menggoda siapapun yang melihat. Yoga terbawa suasana. Setan bertanduk mengenakan topeng malaikat cinta membisikkan sesuatu. Di atas rerumputan, saat mata mereka bertemu Yoga mendekatkan wajahnya hendak mengusap bibir ke bibir Mona. Mona cepat mengelak.

            “Hah! Dasar, monyet!”

            Yoga tertawa, diikuti Mona. “Ayolah, ini sudah bulan keempat. Masih belum boleh juga?”

            “Pacaran itu perkenalan, bukan pembenaran berbuat macam-macam. Nanti setelah cium, apa lagi?”

            “Yang itu enggak deh. Janji.”

            Cekikikan yang lain.

           “Omongan lelaki enggak bisa dipercaya. Kalau mau, ya, berani komitmen. Jangan modal ucap aku cinta kamu, aku sayang kamu, terus nyosor.”

            “Oh, kamu enggak percaya aku?”

            “Ini, nih. Dialog basi yang sering dipakai buat menjebak perempuan. Sok-sokan mengatasnamakan kepercayaan dan cinta padahal ujung-ujungnya adegan kamar. Dibuat seolah-olah kejadian selanjutnya adalah consent bersama padahal ada bujuk rayu yang menipu. Sebulan-dua bulan mungkin bakal kelihatan baik-baik saja, tapi entar kalau udah bosan atau ketemu sosok yang lebih membuat penasaran mulai deh kebasian-kebasian lain dikeluarkan; kamu-terlalu-baik-buat-aku, atau kamu-pantas-dapat-yang-lebih-baik, atau mungkin-kita-belum-jodoh. Terus pergi, hilang begitu saja seperti enggak ada kejadian apa-apa, enggak ada beban. Sementara si perempuan cuma bisa gigit jari sembari memikirkan apa yang ditanggungnya tanpa bisa berbuat banyak. Aku percaya kamu. Serius. Kamu enggak perlu ragu soal itu. Kalau aku enggak percaya, kenapa juga aku mau pacaran sama kamu. Tapi ini tuh lain hal, Nyet. Cinta dan hasrat itu dua hal yang harus dipisah. Cinta sesederhana kamu ingin seseorang bahagia. Sementara hasrat, ujung akhirnya adalah kepuasan. Ciuman yang awalnya diniatkan sekadar kecupan, bisa tanpa diantisipasi membentuk urgensi baru. Sebuah kebutuhan layaknya lapar dan haus yang harus dituntaskan. Seks. Aku menolak mencium kamu bukan karena cuma khawatir diri aku bakal kenapa-kenapa, tetapi kamu juga. Bagi aku, orang-orang yang melakukannya tanpa komitmen adalah orang-orang tidak bertanggung jawab, adalah ketidakmampuan menjaga satu sama lain yang nantinya justru akan saling menghancurkan. Aku mau yang terbaik buat kamu. Enggak selamanya cinta berarti hasrat, begitupun sebaliknya. Bisa kacau dunia kalau ini setiap cinta berarti seks. Coba deh, aku tanya, kamu udah berapa kali jatuh cinta?”

            Yoga tersenyum mendengar penuturan Mona terlebih pertanyaan yang baru saja dilontarkan kepadanya.

            “Kenapa senyum-senyum?”

            “Я тебя люблю. Aku suka kamu. Betapa beruntungnya pria yang akan hidup bersama perempuan cantik, pintar dan bijaksana seperti kamu.”

            Mona menendang kaki Yoga. Dirinya kembali tersenyum dan menatap langit malam yang menyelimuti. “Bisa aja mengalihkan pembicaraan.”

            Keduanya cekikikan.

Jarum pendek jam hari itu semakin menjauh dari terakhir kali saat matahari tenggelam. Angin bertiup membisikkan udara malam yang semakin dingin. Mona menghela nafas, bangkit dari kasur rumputnya.

            “Pulang, yuk, udah larut. Nanti apa kata orang jika melihatku pulang malam-malam begini bersama seorang pria?” Mona membersihkan kotoran yang mungkin saja menempel di rok abu-abunya.

            “Kau peduli pendapat-pendapat seperti itu?”

            “Bukan pendapatnya yang kupedulikan, tetapi hal di baliknya. Mereka acuh, itu yang kutangkap. Mereka enggak ingin hal-hal buruk terjadi. Aku hanya mencoba mengambil sisi baiknya. Dan setelah percobaan kau ingin menciumku, rasanya aku harus lebih mendengarkan mereka.” Mona mengambil tas samping merah polosnya.

            “Kan.”

            “Kan, apa?”

            “Kan, aku benar.” Yoga bangkit duduk di tempatnya.

“Benar apanya?”

“Sungguh beruntung pria yang mendapatkanmu.”

            Gelak tawa terdengar di antara bunyi jangkrik. Mona menendang kaki Yoga sekali lagi sebagai balasan atas guyonannya.

            “Dah, aku pulang. Sampai jumpa besok di sekolah, Monyet.” Mona melambaikan tangan sembari berjalanan menyusuri rerumputan yang dikibar angin.

Yoga membalas lambaian, memandangi punggung yang semakin menjauh. Di kejauhan senyum Mona sesekali melongok ke belakang, menghiasi kelam malam yang segera ditinggalkan. Bukan, pikir Yoga. Bukan sekadar senyumannya, tapi seluruh dirinya. Mona menyinari kelam dalam dirinya.

 

            —

 

3.

Bel berdering pertanda waktu istirahat telah berakhir. Murid-murid berduyun menuju ruang-ruang kelas meninggalkan urusan di kantin, perpustakaan, di sudut sekolah yang belum sempat terselesaikan hanya untuk menghindari ihwal kemarahan guru yang tak segan-segan memberi nilai merah. Sementara aku, berpisah dari rombongan gadis-gadis sekelasku dengan dalih mampir ke kamar mandi sejenak bergerak melawan arah.

            Seiring langkah, jantungku berdegup sedikit lebih cepat, bukan mempertanyakan apakah ini keputusan tepat atau tidak tepat–aku sudah memikirkan ini beberapa hari belakangan–tetapi rasa was-was kalau-kalau seseorang memergoki.

            Di antara langkah-langkah yang sangat (sangat, sangat) kuusahakan tenang dan tidak mencurigakan, aku melihat dia dari balik kaca lorong kelas di sebelah tangga, sedang membaca rangkuman yang kuyakin ditulisnya satu malam sebelum pelajaran dimulai seperti yang kusarankan padanya saat ia bertanya bagaimana agar pelajaran di sekolah lebih mudah dipahami. Yoga Pratama. Entah bagaimana sosok itu mudah tersorot meski berada di antara kepulan teman-temannya yang masih sibuk menghampiri tempat duduk.

Hampir sepuluh detik. Tanpa kusadari aku sudah menghabiskan waktu sebanyak itu memandanginya, dan itu bisa saja berbahaya. Bisa saja ia atau teman-temannya melihatku lantas membuatnya bergegas dari tempat duduk dan menghampiriku di lorong.

“Ada apa?”

Pasti itu yang akan dilontarkannya begitu melihat selaput air yang menempel di mataku saat aku melihatnya. Jika sudah begitu tidak ada harapan melanjutkan rencanaku. Ia piawai membuat hatiku tenang dan kepalaku dingin. Namun, aku sudah mengambil keputusan. Kejadiannya akan terus berputar seperti ini jika aku tidak melakukan sesuatu. Lagi dan lagi. Tidak berujung dan takkan pernah berakhir. Aku sudah sangat lelah melihat dan mendengar Ibu diperlakukan seperti itu. Hatiku lebam dan berdarah layaknya kaki dan lengan ibu saat ia berusaha melindungiku.

Monyet, jaga diri baik-baik, ya.

Я тебе кохаю.

 

 

4.

Tepat di samping tembok atap sekolah Yoga mengganti kemeja biru langitnya dengan seragam putih sekolah. Seragam itu jelas bukan miliknya karena tertulis nama Reza Widodo di bagian dada. Yoga merentang tangannya ke dua sisi begitu selesai mengancing sambil memperhatikan seragam yang berkibar di atas tubuhnya karena angin.

            “Bagaimana? Masih pantas?”

            Mona menyeka rambut panjangnya yang berkibar-kibar menutupi sebagian wajah di atas tembok, memperhatikan Yoga.

            “Jambang itu membuatmu tampak lebih dewasa dan berwibawa dari yang terakhir kali aku ingat.”

            Ada rasa puas dan kebanggaan mengembang dari dalam diri Yoga mendengar tanggapan Mona demikian, lantas tanpa membuat-buang waktu ia mengambil tempat duduk tepat di sebelah perempuan itu di atas tembok. Dua pasang kaki bergoyang-goyang di sisi luar bangunan sekolah, bersama-sama memandangi terik tanpa pernah menduga akan kembali berjumpa satu sama lain setelah sekian lama.

Kecanggungan di antara keduanya hampir sebeku musim salju. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Dengan waktu itu kau bisa pergi ke berbagai tempat di mana pun kau mau. Bertemu puluhan bahkan ratusan wajah-wajah baru. Jatuh cinta pada berbagai kepribadian lawan jenis. Mungkin orang di hadapan kita sekarang masih memiliki nama dan tanggal lahir yang sama, namun kita tidak pernah tahu apa yang sudah berubah pada dirinya dalam rentang itu. Apakah ia masih ingat cerita masa lalu?

            “Mengobrollah! Kalian sudah lama tidak bertemu!” Kata Reza Widodo, seorang remaja gempal yang bertelanjang dada di balik bayang-bayang di lantai atap, pemilik asli seragam sekolah yang sekarang dikenakan Yoga. Yoga dan Mona hampir serentak menoleh, tersenyum sekaligus tersipu malu.

            “Kau boleh mengenakan kemejaku untuk sementara kalau kau mau!”

            Reza mengangkat sebelah tangannya, menolak tawaran Yoga mentah-mentah sementara tangannya yang lain sibuk mengibas diri dengan kaos dalam putih. “Tidak perlu. Aku sudah cukup senang bisa membantu. Kau tahu, aku akan berkeliling sebentar. Anggap saja rumah sendiri walaupun ini tidak benar-benar rumah tapi kau mengerti maksudku. Jika butuh sesuatu, dia tahu di mana menemukanku.”

            “XII IPS 1.” Mona menggodanya.

            Reza mengganguk-angguk sepanjang perjalanannya menuju pintu atap. “Setengah tahun lagi sebelum dia meninggalkan sekolah ini.”

“Kita semua diberi kesempatan untuk melakukan yang terbaik di dunia ini.”

“Aku tahu konsekuensinya, dan aku sama sekali tidak menyesal. Aku justru senang telah melakukannya.” Reza sempat tersenyum kepada Mona dan Yoga sebelum akhirnya tenggelam di balik pintu atap dan meninggalkan keduanya.

“Kenapa dia?” Tanya Yoga.

“Ditusuk, karena membela seorang gadis yang ia suka. Bullying itu mengerihkan. Parahnya orang tua pelaku dan pihak sekolah sering menutup mata, menganggap perundungan seolah keusilan wajar. Sudah seharusnya tindakan ini dilawan, melibatkan polisi kalau perlu. Sehingga para perundung berpikir dua kali untuk berbuat.”

Begitu perkataan Mona selesai kecanggungan tampak ingin mengambil alih kembali. Yoga merasakannya, menyesakkan dadanya. Namun, ia ingat perkataan Reza. Sudah lama sekali mereka berdua tidak bertemu. Ia bahkan sudah melakukan banyak hal hanya untuk bisa tiba dan bertegur sapa.

Lalu, “Bagaimana kabarmu?”

Rambut Mona masih berkibar-kibar, mengingatkan pada banyak momen bersama di lapangan rumput bertahun-tahun lalu.

            “Baik.” Senyuman itu terlontar. Perempuan di sampingnya sama sekali tak berubah. Tidak hanya kondisi fisiknya yang tidak bertambah umur, namun juga pembawaan diri. Perempuan yang menyinari kelam dalam dirinya.

            Jeda cukup lama.

“Ternyata kamu salah tentang kehidupan sesudah mati. Kamu bilang kita hanya hidup sekali.”

            “Aku tidak selamanya benar, Nyet. Dunia ini terlalu besar untuk kita bersikap sok tahu.”

            Untuk pertama kali setelah sekian lama, keduanya tertawa bersama. Begitu lepas menonjok rasa canggung. Ternyata sepuluh tahun bukan masalah jika kau terikat kuat pada sesuatu. Meskipun sesuatu itu sesederhana kata “nyet”, pada akhirnya kau akan menemukan dirimu kembali, dirimu yang dulu.

            “Aku rindu, kau tahu. Tidak ada yang pernah memanggilku seperti itu dengan cara yang seperti itu.”

            “Orang-orang mengataimu monyet?”

            “Kita adalah monyet di beberapa kisah. Bajingan. Bahkan ketika kita mencoba melakukan sesuatu yang benar tetap saja ada yang menceletuk, si monyet sok jujur! Emang kau tidak pernah berbuat dosa, hah, bajingan?”

            “Bener, bener.” Mona cekikikan. “Kalau kamu sendiri bagaimana? Kehidupanmu. Kau tampak … berbeda.”

            “Maksudmu tampan?”

            Cekikikan lagi.

“Apaan, sih.” Mona menyikut Yoga.

            “Aku baik.”

            “Cantik, enggak?”

            Butuh beberapa saat bagi Yoga memproses pertanyaan itu. Sejak awal Mona telah memperhatikan cincin platinum melingkar di jarinya. Sebuah tanda yang menyatakan ia telah memilih dan menjadi milik seseorang di kehidupannya sebelum mati. Yoga menyentuh jari manisnya, memutar-mutar cincin di sana untuk sekadar merasakan besar cinta antara ia dan Dinda istrinya. Mempertanyakan diri apakah ia semestinya merasa bersalah karena sudah senekat dan sebahagia ini bertemu Mona kembali.

            “Aku tidak ingin menjawabnya.” Yoga meletakkan kedua tangannya masing-masing di samping tubuh. Cincin pernikahan itu kini tidak lagi tertangkap pandangan Mona.

            “Lho, kenapa?” Mona mencoba tertawa tetapi suasana dengan cepat berubah. Sesuatu kembali membungkam waktu. Namun, kali ini bukan kecanggungan yang sama seperti sebelumnya, tetapi lebih merah.

            “Kamu menyesal enggak? Pernah memutuskan untuk bunuh diri?” Yoga menatap tajam ke arah Mona, mencari-cari kebenaran dari matanya. Tanpa senyum mulutnya terkatup. Tangannya terkepal di atas tembok di sisi-sisi tubuh. Sekuat tenaga Yoga menahan rasa bersalah yang kembali menghampiri. Amarah tersulut di dalam perut, berkobar siap meledak dan dimuntahkan.

Seumur hidup Mona tidak pernah melihat guratan ekspresi itu di wajah Yoga. Selama ini justru Yoga-lah yang memberi kedamaian bagi pikirannya, kenyamanan dengan canda tawa. Tekanan atau desakan penuh keseriusan yang ia rasakan seperti sekarang ini adalah hal baru. Karenanya, Mona bingung harus berbuat apa, lantas berpaling ke kakinya sendiri yang menggantung di ketinggian gedung sekolah.

“Kenapa kamu tiba-tiba tanya itu, sih?” Mona mencoba mencairkan suasana dengan tawa sekenanya.

            “KAMU MENYESAL ENGGAK?!”

            Sekujur tubuh Mona bergetar. Bukan karena kalimat itu dibungkus kemarahan, melainkan kesedihan yang menggelayut di dalamnya. Ada isak tangis yang kentara dari teriakan Yoga. Ia bisa membayangkan wajah itu merah padam dan basah. Mona menghapus air yang menggenang di matanya.

           “Kamu egois karena merasa di dunia ini kamu sendirian, tahu enggak? Banyak orang peduli sama kamu, Mon. Ibu kamu. Teman-teman kamu. Orang-orang menangis di kuburan. Winda sampai enggak makan beberapa hari karena merasakan apa yang kurasakan. Kehilangan kamu! Aku? Jangan tanya apa yang terjadi sama aku setelah aku dibuat merasa sama sekali enggak berguna karena aku tidak tahu apa-apa tentang kamu. Kita bertemu setiap hari, Mon. Bercengkerama, kadang sampai malam. Tapi sedikit pun enggak pernah kamu bilang apa beban di pundakmu. Kamu justru tipu aku dengan senyum dan tertawa. Berpura-pura segalanya baik-baik saja. Egois kamu, Mon. Egois! Kamu ingin masalah kamu selesai tanpa memikirkan perasaan orang lain. Aku pikir kamu pernah bilang kamu percaya aku. Mau yang terbaik untuk aku. Tapi nyatanya apa? Pernikahanku mengganjal hanya karena satu hal belum tuntas di masa lalu aku. Kamu!”

Dari dulu Mona tak pernah ingin Yoga melihatnya menangis. Ia tak ingin Yoga tahu ia juga manusia yang merasakan sedih. Tak sekalipun ada niatan di hatinya untuk menyematkan kekhawatiran di hati Yoga, yang akan membuatnya gundah dan tidurnya tertunda. Namun, siang itu banyak sekali perihal-perihal memenuhi kepalanya, sampai-sampai kesedihan tumpah dengan sendirinya dari pelupuk mata. Tenggorokan Mona tercekat, air mata menghalanginya mengatakan apapun.

            “Setelah kepergianmu, rumor berhembus. Kabar tentang ayah kamu yang acapkali kasar menyebar ke tetangga dan sekolah. Entah kapan dan siapa yang memulai. Aku mengunjungi ibumu sekali. Saat itu ayahmu sudah di penjara. Ibu sehat, tapi tak lagi tampak sama ketika kamu masih di sisinya. Cahaya pergi dari balik matanya. Tak ada jejak semangat dan kegigihan seperti dulu. Bahkan setelah mimpi buruk itu selesai, Mon, demi langit dan Bumi Ibu menginginkanmu. Kamulah alasan dia kuat dan bertahan. Seberharga itu kamu bagi ibumu. Ia bahkan berharap bisa melakukan lebih, mengambil sikap berani lebih cepat sebelum semua terlambat.”

            “Ibuk,” Mona tersedu.

Dari sebegitu berisik kepalanya, hanya sebentuk kata itu yang terucap. Sosok yang paling terdampak dan mungkin paling kecewa atas pilihannya di masa lalu. Selebihnya, biarlah air mata mengirimkan permintaan maaf kepada rekan-rekan yang ditinggalkan. Orang-orang terkasih yang belum sempat dijabat perpisahan yang layak.

Dulu Mona berpikir mengakhiri hidupnya akan membuat Bapak berhenti menyakiti Ibu, dan Ibu akan jauh lebih bahagia. Namun, ia sadar itu hanyalah kamuflase dan pembenaran dirinya untuk lari. Padahal sejatinya melarikan diri tidak menyelesaikan apapun, dan tidak ada yang benar tentang mengakhiri hidup sendiri.

Penyesalan selalu datang belakangan. Jika ada yang bertanya pendapatnya tentang frasa itu, Mona akan membenarkan karena ia pun merasakan. Selama ini ia beranda-andai bisa mengambil keputusan dan menjalani kehidupan berbeda. Itulah sebabnya ia bolak-balik dan berlama-lama di tubuh Hendra Syarif, ketua kelas XI MIA 3. Hanya sekadar untuk mencicipi betapa hangat dan berkahnya kehidupan itu sendiri. Kehidupan dunia yang telah ia sia-siakan saat banyak yang meminta kesempatan kembali.

Dalam hati Mona berharap bahwa di dunia ini terdapat Segala-Tahu yang lebih bijaksana dari filsuf dan lebih pintar dari ilmuwan, sebuah pihak netral untuk menuliskan satu buku petunjuk, pedoman, yang mengatur tatanan kehidupan, kumpulan nasihat-nasihat, contoh baik-buruk, yang merumuskan mana yang boleh dan mana yang tidak, hanya agar manusia lain tidak tersesat seperti dirinya.

“Tidak ada yang benar-benar sendiri di dunia ini, Mon. Kita selalu punya sesuatu, seseorang untuk berpegangan.”

Mona menatap Yoga, mulutnya bergerak membentuk ‘maafkan-aku’ tanpa bersuara. Yoga membalas hal serupa.

Siang itu kelegaan bermekaran di ruang-ruang diri Yoga yang dulunya ditumbuhi rasa bersalah. Ganjal hidupnya telah diangkat seiring proses berbaikan dengan masa lalu. Pilihan-pilihan dalam hidup. Aksi dan konsekuensi. Yoga memahaminya seiring bertambah usia dan pengalaman, sementara Mona sudah mengerti itu sebelum ia memutuskan berdiri di atas tembok atap sekolah sepuluh tahun lalu. Cincin platinum di jari manis Yoga menguar aroma kehangatan. Cinta. Komitmen yang dipilih Yoga. Konsekuensi yang harus Mona terima. Kini, baik ia ataupun Mona siap melangkah di jalan masing-masing.

“Lain kali aku akan menceritakan tentangnya kalau kau mau.”

Masih tanpa suara, “Tentu.”

“Mau kutemani mengunjungi ibumu?”

Mona menelan ludah, perkataan Yoga kali ini mendesaknya bersuara meskipun parau, “Apa?”

“Mengunjungi ibumu.”

“Caranya?”

“Kau belum pernah mengunjungi ibumu? Tunggu, caranya? Kau belum pernah meninggalkan sekolah ini sejak sepuluh tahun lalu?”

Keduanya saling bertukar tatap. Yoga teringat perkataan sang Kakek yang ditemuinya bahwa tidak semua orang tahu bahkan yang sudah lama berada di sini. Sebuah rahasia, yang siap diceritakan ulang.

 

 

5.

Pengar. Yoga pernah merasakannya dulu sekali saat dilanda depresi. Saat mabuk semalaman suntuk demi sekadar mengenyahkan fakta Mona telah meninggalkannya selamanya. Tidak heran, Ayah memang seorang pemabuk sejak lama, bukan hal mengejutkan ia beralih pada minuman-minuman itu dan dengan mudah mendapatkan akses di waktu yang menjebak. Selama ini Mona selalu menjadi mataharinya, pemberi cahaya kebaikan saat seisi dunia berlomba-lomba menjadi liar dan menunjukkan siapa lebih hebat siapa lebih kuat. Namun, Mona sudah tiada dan ia terlalu sibuk menyalahkan dirinya sendiri.

Saat ini di jok mobilnya sendiri Yoga mengalami sensasi tak mengenakkan yang serupa. Kepalanya berputar seakan dirinya habis dihantam berkali-kali. Ia baru saja menabrak pembatas jalan saat menghindari mobil salah jalur dari arah berlawanan. Tak terlihat airbag berhasil mengembang, hanya samar-samar gambar dirinya yang lain tak berdaya di atas kemudi. Yoga melangkah keluar dari mobil, tertatih dan terbatuk-batuk.

            Tempat kejadian perkara dikerumuni orang-orang dalam sekejap. Salah seorang pria berkulit gelap memberanikan diri melihat kondisi pengemudi dari balik kaca. Yoga tak peduli dirinya diabaikan. Bahkan ia justru senang tidak dikerubungi. Ia merasa sesak seakan pasokan oksigen di paru-parunya tidak bisa diperbaharui, dan orang-orang itu ia yakin hanya akan memperparah keadaan.

Yoga tergeletak di bawah rindang pohon beringin di sebuah taman tak jauh di sana. Nafasnya terengah-engah menatapi berkas-berkas sinar yang berkilau di antara dedaunan dan akar gantung. Satu sosok, ada satu sosok yang memperhatikannya dari atas dahan. Sosok dengan sepasang mata bulat.

Perlahan sosok di atas pohon menggeliat dari satu dahan ke dahan lain, berniat menunjukkan bentuk tubuhnya kepada Yoga. Ia seorang kakek. Bertelanjang dada dengan tulang-tulang rusuk sedikit menonjol keluar. Sepasang mata besarnya menyoroti Yoga yang masih terengah.

            “Anak baru?”

            Yoga diam tidak menjawab, atau lebih tepatnya tidak tahu harus menjawab apa. Dirinya sedikit lelah, juga terlanjur takjub akan sang Kakek. Seorang lansia bergelantungan di atas pohon tanpa takut terjerembab.

            “Kau anak baru?” Kakek itu mengulangi pertanyaannya kalau-kalau pemuda di hadapannya tidak mendengar sebelumnya. Lalu sambil mengubah posenya menjadi duduk dengan kaki menggantung ke arah tanah sang Kakek melanjutkan pertanyaannya, “Kau baru saja mati?”

            “Mati?” Suara Yoga rendah tidak sampai ke telinga sang Kakek, akan tetapi sosok itu paham ekspresinya. Ia sudah bertahun-tahun di tempat itu, berbagai orang dan peristiwa telah disaksikannya. Baginya jelas bahwa pemuda di hadapannya sedang bingung tentang apa yang tengah terjadi.

            Sang Kakek memutuskan mengajak Yoga berkeliling areal taman. Meski dalam tahap renovasi, tempat itu cukup ramai dikunjungi. Beberapa orang mengenakan celana training lengkap dengan sepatu olahraga. Ada sebuah grup pelajar SMA IB UKOTABARU sedang tertawa cekikikan. Seorang penyendiri dan musik di telinga. Namun, dari sekian, tak ada seorang pun memperhatikan mereka berdua. Yoga merasakan keanehan sekaligus keterkaitannya akan pertanyaan sang Kakek sebelumnya.

            “Apa kita benar-benar sudah mati?”

            “Bisa dibilang begitu. Tapi banyak yang bilang kita tidak benar-benar mati. Kita sedang memasuki fase dua. Kehidupan setelah hidup di dunia. Banyak yang berpendapat bahwa kehidupan yang sekarang pun sementara. Ya, sebut saja kesempatan untuk merenung atau menyelesaikan urusan dengan seseorang yang lebih dulu mati sebelum akhirnya kita semua digiring pada kehidupan yang sebenarnya.

            “Urusan yang belum terselesaikan?”

            Sang Kakek mengangguk, “Kau punya? Entah itu sekadar permintaan maaf, ucapan terima kasih, sebuah pertanyaan, atau ungkapan perasaan?”

            Yoga memandang keseriusan sang Kakek sebelum mulai menilik masa lalu pada dirinya sendiri.

            “Misal, di fase ini memungkinkan kita untuk bertemu presiden pertama. Jadi, jika ada pertanyaan terkait apa yang sebenarnya terjadi pada suatu masa ketika itu, silakan. Mungkin jawabannya tidak selalu sesuai ekspektasi, tapi setidaknya ada kelegaan tersendiri setelah mendengar kebenaran. Ada?”

            “Ada, seseorang.” Akhirnya Yoga berkata. “Ada hal yang ingin sekali kubicarakan.”

            Seseorang yang dimaksud tentu saja Mona. Seseorang yang berada di ruang khusus hatinya dari masa sekolah sampai saat ini. Seseorang yang belum sempat ia miliki seutuhnya. Seseorang yang dulu berkata ia percaya pada dirinya, namun tidak mengatakan segala peristiwa. Seseorang yang menyimpan kesedihan di hatinya.

“Tapi,” Yoga teringat perkataan sang Kakek sebelumnya. “Jika benar kita hanya sementara di sini dan waktu kita tak banyak seperti yang Kakek sampaikan, itu artinya saya harus bergegas.”

            Keduanya bertatapan sejenak. Sang Kakek tidak menyangkal perkataan Yoga karena itu memang benar. Tidak ada yang tahu kapan masanya akan berhenti berdetak. Tanpa membuang waktu, Yoga menjabat sang Kakek lantas mencium punggung tangannya. Yoga tersenyum, mengucapkan terima kasih lalu beranjak. Belum begitu jauh Yoga pergi, sesuatu terjadi. Sekujur tubuhnya tiba-tiba terasa lemas seakan kehabisan daya. Kakinya tak mampu menopang bobot tubuh hingga ia jatuh berlutut ke rumput taman sebelum roboh seutuhnya. Sang Kakek menghela nafas menghampirinya.

            “Kamu tiba di sini tidak sampai satu jam yang lalu. Belum tahu perihal aturan-aturannya, tetapi sudah mau berkeliaran. Dia pasti seseorang yang sangat istimewa bagimu, orang yang ingin kau kunjungi.”

            Tanpa susah payah sang Kakek membangunkan tubuh Yoga, mendudukkannya di atas rerumputan.

            “Sama seperti saat di dunia, kita di sini juga memiliki batasan. Kita tidak bisa begitu saja pergi terlalu jauh dari tempat kita mati.”

            Yoga menyimak, sementara satu energi terasa mengalir kembali ke dalam dirinya. Jari-jari kakinya mulai bisa digerakkan. Otot betisnya berkedut. Di sela-sela tenaganya kembali merasuki, Yoga merasakan sebagian dirinya justru mati. Kekecewaan meracuni hati. Orang yang ingin ditemuinya, perempuan itu, Mona, berada jauh dari tempatnya. Harapan untuk bertemu dan mengungkit kebahagian masa lalu hanyalah mimpi yang cuma bisa dibicarakan tanpa bisa diraih.

“Kecuali…”

Kata itu terdengar seperti sengatan yang menyentak. Awan mendung di musim kemarau yang membawa harapan bagi para petani di ladang gersang. Yoga menarik nafas panjang, siap mendengarkan lebih jauh.

 

            Kehidupan sesudah mati ternyata tak ada beda seperti kehidupan dunia; memiliki aturan dan tidak bisa sesuka hati. Penuturan sang Kakek perihal dunia sekarang adalah pelajaran. Banyak yang Yoga dapatkan terutama terkait misinya bertemu Mona. Dalam hal ini setidaknya ada tiga poin yang perlu diperhatikan Yoga; kendaraan, rambu, dan tujuan, layaknya sebuah perjalanan.

Poin kendaraan merujuk ke tubuh yang dipinjam. Sebagaimana Yoga tahu, di dunia ini mereka tidak bisa bepergian terlalu jauh dari tempat kematian. Meminjam tubuh yang masih hidup adalah cara mencurangi aturan tersebut. Banyak dari mereka yang beranggapan bahwa baik dengan ataupun tanpa menumpang tubuh yang masih hidup tidak akan mengubah batasan menjelajah. Itu sebabnya tak semua orang tahu perihal bepergian jauh bahkan mereka yang sudah lama berada di sini.

Menurut Kakek, tubuh hewan sebenarnya bisa juga dipakai, hanya saja untuk merasuki hewan-hewan itu diperlukan tahapan lebih mendalam. Hewan biasanya lebih peka terhadap dimensi lain. Bisa-bisa belum lagi mendekat, mereka sudah kabur lebih dulu. Untuk itu, tubuh manusia menjadi pilihan umum. Dengan catatan, tubuh yang lebih mudah dirasuki adalah yang sedang melamun.

Rambu berarti aturan selama perjalanan. Aturannya satu; tidak boleh terlalu lama berada di tubuh manusia. Tubuh manusia hangat karena mengandung kehidupan murni. Roh pendatang tak jarang tergoda berlama-lama berdiam di sana. Terlalu lama berada di tubuh manusia akan menyebabkan penyatuan dua roh yang tidak terprediksi. Satu saat tubuh itu bisa saja terbangun dengan roh A, dan di saat yang lain dengan roh B. Hal mengerihkannya adalah pertanyaan ke mana roh A pergi ketika roh B muncul mengendalikan tubuh? Mengantisipasi hal ini kondisi mata dari tubuh yang dipinjam adalah kuncinya. Bintik mata yang sudah terbentuk seperti mata pada umumnya pertanda kita tidak bisa berlama lagi.

Terakhir, tujuan. Adalah tempat yang akan dikunjungi. Jika beruntung, orang yang dicari akan masih berada di tempat ia menghembuskan nafas terakhir. Jika tidak, ia bisa berada di mana saja di dunia ini. Bagian ini jelas mengusik Yoga. Bagaimana jika ia tidak menemukan Mona di sana? Sepuluh tahun bukan waktu sebentar. Bagaimana jika Mona pun sudah bepergian? Ke mana ia harus mencari lagi?

            Ada hal lain yang mengganggu pikirannya saat merenungi perkataan kakek di hadapan cermin panjang kamar mandi umum taman. Sebuah bilik di ujung bangunan tak kunjung membuka setelah hampir setengah jam. Sepasang kaki jelas terlihat dari bawah kamar mandi. Rasa penasarannya menggelitik, beranggapan mungkin saja seseorang sedang berada dalam masalah. Yoga menguping di depan bilik, lalu mengintip.

Seorang pelajar SMA sedang berpandangan kosong di atas WC duduk sementara celana abu-abunya digantung di balik pintu. Cipratan di dalam WC terdengar mendadak, nyaring, dan menyebar ke pinggir-pinggir dinding bagian dalam kakus. Sebagai manusia yang sudah mati, mungkin Yoga tidak akan mendapati aroma itu menyengat hidungnya, namun ia tetap mual dan refleks keluar dari sana sembari mengutuk keingintahuan.

Ia hampir meninggalkan bangunan kamar mandi umum saat teringat catatan sang kakek perihal poin kendaraan. Tubuh yang lebih mudah dirasuki adalah yang sedang melamun. Di depan ambang, Yoga bimbang. Saat ini jelas ia menemukan kriteria itu. Namun, apakah ia harus merasuki tepat di detik ini juga saat warna-warna kuning kecokelatan itu masih bebercak di mana-mana atau menunggu kesempatan lain yang ia tak tahu kapan akan datang lagi? Sosok perempuan di masa lalu muncul di benaknya, memanggil-manggilnya dengan sebutan “nyet” dan satu senyuman. Seketika, pemikiran buruk yang tadinya mempertanyakan dan mengundang rasa pesimis akan perjalanan ini pun pudar.

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!