Dasar Aku
5.3
0
42

Hati itu gak bisa diatur, diajak bercanda saja dia meninggalkan karma. Ini bukan lagi tentang suka, tapi temannya yang lebih rumit, cinta.

No comments found.

Dasar Aku

 Kisah ini bermula saat kegiatan MPLS-ku di SMK. Aku ingat, saat itu ada momen di mana semua senior panitia memperkenalkan dirinya. Berdiri berjejer, bercampur antara laki-laki dan perempuan. Masing-masing melempar senyum, menunggu giliran untuk berbicara. Posisinya kami junior duduk beralaskan tanah, jadi kami bisa melihat jelas para senior di depan sana.

Saat itu aku memindai, menatap satu per satu wajah para senior. Beberapa terlihat ramah, tapi adapula yang tersenyum di balik wajah garangnya.

“Nah, kalo yang ini jajaka tahun lalu.” Sambutan MC langsung menarik atensi-ku.

Mataku tertuju pada sesosok laki-laki dengan senyum manis.

“Bohong-bohong,” kilahnya dengan tawa kecil.

Seketika bibirku ikut melengkung ke atas, mataku tak beralih darinya. Dia memberi magis, menarikku untuk tenggelam dalam rautnya. Aku mengingat dengan jelas namanya.

“Hai, nama saya Rizky, saya dari kelas Farmasi A. Salam kenal semuanya!”

Dia senior laki-laki pertama yang aku lihat pagi tadi. Dan sepertinya beruntung bagiku, karena dia adalah penanggung jawab ruanganku.

Lalu perkenalan berpindah pada sosok di sampingnya. Laki-laki tinggi, berkulit putih dan senyum malu-malunya. Dia lebih tinggi dari Kak Rizky, tapi aneh aku baru melihat kehadirannya. Sejak kapan dia ada di sana? Ah, ini salah Kak Rizky sepertinya, dia terlalu mempesona.

“Kalo yang ini most wanted sekolah, ganteng gak?” tanya MC.

“Ganteng,” jawab teman-temanku serentak.

Tapi, saat itu aku tak setuju dengan ucapan mereka. Menurutku dia biasa saja. Aku mencoba menatapnya lebih dalam, melihat bagian mana yang menarik darinya, tapi justru senyumannya mengingatkanku pada seseorang di masa lalu. Berubah tak sukalah aku padanya.

“Nama saya Irzan dari kelas farmasi A,” katanya.

Cih, ganteng apanya? batinku, seraya memalingkan wajah.

Lupakan soal dia. Beberapa hari MPLS meninggalkan kesan manis di ingatanku, yang membuatku gemas ingin mengulang dan gereget sendiri.

Pertama, saat di mana Kak Rizky memanggilku. Fyi, aku tak bersikap seperti yang lain yang terang-terangan terpesona padanya. Aku bersikap cuek, seolah dia biasa saja bagiku. Jadi, saat waktu di mana kami harus menjelaskan nama latin yang tertera di papan nama kami, aku melengos, berpura-pura tak melihatnya. Sayangnya,

“Silahkan Curcuma rhizoma ke depan,” titahnya.

Alamak, aku dipanggil, jeritku dalam hati.

Aku menjelaskan dengan baik apa yang sudah aku hapal. Bodohnya ada satu bagian yang aku lupakan.

“Nama lainnya?” tanya Kak Rizky. Sontak aku terdiam.

Nama lainnya apa? Nama lainnya apa? Otakku berteriak frustasi. Wajahku mungkin terlihat cengo. Aku masih berusaha mengingatnya.

“Jadi?”

“Mm ….”

Melihatku yang kebingungan, Kak Rizky menggendikkan dagunya. Matanya tertuju pada papan namaku. Bodohnya saat itu aku tak mengerti dengan kodenya.

Aku bingung. “Ah ….”

“Itu yang di papan nama!” tunjuknya.

Aku spontan menunduk. “Oh ….”

“Apa?” Dia menahan senyumnya.

Dengan tersenyum malu aku menjawab, “Ini … Curcuma Xanthorrhiza.”

Aku kembali duduk dengan wajah merah menahan malu. Kalau mengingatnya aku jengkel sendiri. Bodoh sekali aku. Bisa diulang tidak? Tolong katakan bisa. Aku harus terlihat pintar di depannya, bukan telmi begitu.

Tapi, di balik yang memalukan, ada hal manis menurutku. Saat aku tengah sendiri, menongkrong di atas balkon, aku sibuk memperhatikan lalu-lalang orang di bawah sana. Namun, gerakan pelan seseorang tak jauh dariku menarik mataku.

Kak Rizky, hebohku dalam hati.

Aku menoleh sebentar, seolah tak peduli padanya, tapi hatiku tengah jingkrak-jingkrak kesenangan.

“Nih!!” Aku terperanjat kaget saat selembar uang lima ribu muncul di depan wajahku. Di samping kekagetanku, si pelaku terdengar tertawa puas.

“Lagi asyik melamun ternyata. Kisahnya sudah sampai mana?”

Aku menoleh bersamaan dengan uang yang ditarik kembali. Mataku membulat. Kak Rizky berbicara padaku?

“Di lamunan lo, laki-lakinya lebih ganteng dari gue ya?”

“Hah?”

Dia menunduk seraya tertawa kecil. “Fokus Aracell!”

“Fokus kok,” cicitku pelan.

“Ini!”

Aku mendongak menatapnya. “Uang apa?”

“Nafkah.”

“Hah?”

Entah apa yang lucu, tapi dia lagi-lagi tertawa.  “Hah-Hah mulu!! Ini buat lo jajan.”

“Gak usah Kak, aku juga punya.” Aku mendorong pelan uang itu pada Kak Rizky.

“Kalo gitu ngapain di sini sendirian? Yang lain pada istirahat. Jangan-jangan gak punya teman ya? Ajak kenalan dong.”

Aku menggeleng cepat. “Aku punya teman kok, tapi emang sengaja mau di sini. Kalo aku jajan sekarang  nanti pas waktu makan timbel bareng keburu kenyang.”

Kak Rizky mengangguk. Dia berdehem pelan sebelum kembali melayangkan tanya padaku. “Ra, gue punya salah?”

“Hah? Maksudnya Kak?”

“Gue pernah buat salah ya sama lo?”

“Salah apa? Nggak ada kok.”

Dia memutar tubuhnya menghadapku. Seraya memangku tangan, dia bertanya, “Terus kenapa kalo gue lihat lo, pasti wajahnya datar terus?”

“Ah … ng … wajahku memang gini Kak. Kelihatan jutek begitu, tapi aslinya nggak.” Aku panik sendiri.

“Masa?”

“Iya,” kataku yakin.

“Kalo gitu … coba senyum!”

“Ah … gini?”

Entah mungkin saat itu Kak Rizky tahu dengan senyumanku yang terpaksa, karena dia tiba-tiba tertawa kecil. Melihat tawanya sudut bibirku ikut terangkat, aku jatuh lagi dalam pesonanya.

“Nah gini, kan cantik. Next kalo ketemu gue senyum gini ya!”

Lalu setelahnya aku sempat berpapasan dengannya di tangga. Tangga sempit, sungguh. Jika dua orang berjalan lawan arah, maka sedikit bagian tubuh kami akan bersentuhan. Aku menahan nafas saat dia melewatiku seraya tersenyum dan menyapa, “Hai Araa!!”

Ah, kakiku lunglai saat itu, aku balas tersenyum seperti permintaannya.

Sayangnya kenangan dengannya tak berlangsung lama. MPLS berakhir, itu artinya berakhir pula kewajiban dia menjadi penanggung jawab.

++++

  Lalu kisah baru di mulai saat aku sudah mendapat kelas asliku, Farmasi C. Beberapa teman sekelasku sempat bercerita tentang kegiatan saat MPLS, tapi sesuatu mengusik telingaku.

“Dia suka sama Kak Rizky,” katanya.

Lalu aku melihat orang yang dimaksud. Dia … cantik, sangat. Dan mungkin ini awal mula aku menyembunyikan kenyataan jika aku menyukai orang yang sama. Aku merasa tak pantas. Saat itu aku takut memikirkan pendapat orang. Aku takut dibandingkan, daripada sakit hati, pikirku.

Dan aku tak menyangka akan ada hari di mana orang lain bertanya tentang senior yang kusuka. Mulanya aku dan beberapa teman sekelasku bermain truth or dare dan aku mulai kalah.

Truth or dare?”

Truth,” jawabku tanpa berpikir.

“Siapa senior waktu MPLS kemarin yang kamu suka?”

Pertanyaan ini yang membuatku menyadari jika aku salah memilih.

“Nggak ada.”

“Bohong!! Ayo, jujur ih!!”

Yang aku ingat, yang bertanya padaku itu adalah teman dari orang yang sama-sama menyukai Kak Rizky. Jadi,

“Kak Irzan.” Aku memilih orang lain dan hanya nama dia yang kuingat.

Setelahnya mereka jadi sering menggodaku setiap kami tak sengaja berpapasan dengan Kak Irzan. Rasanya aku ingin berdecih, sungguh bukan dia orang yang aku suka. Ah, tapi biarlah. Lagipula aku masih sering berpapasan dengan Kak Rizky. dan sapaan darinya cukup menyenangkan hati.

Lalu hari itu tiba. Hari di mana Kak Irzan berdiri sendirian di luar kelasku. Dia cukup menganggu fokus kelas, karena jendela kelas tak bergorden. Godaan kembali dilayangkan teman-teman, apalagi saat Kak Irzan terdengar mempertanyakan aku.

“Aracell ya?” tanya dia saat berada di hadapanku. Anak anak lain yang tak tahu tentang truth itu, menatap heran juga penasaran.

“Iya. Kenapa ya?” saat terinat aku cukup merasa tak enak. Karena rasa tak sukaku pada senyumnya, membuatku tak bisa menyembunyikannya dari raut wajahku. Dan aku menyesal saat dia menyadarinya.

“Saya ganggu waktunya ya? Maaf ya.”

Dengan cepat aku menguasai ekspresiku, balas tersenyum. “Nggak kok Kak, kenapa ya?”

“Ini ….” Dia menyerahkan kalkulator yang kukenal dengan jelas.

“Loh … sama kayak punyaku.”

Kak Irzan terkekeh pelan. Tiba-tiba jari telunjuknya mengetuk dahiku pelan. Aku terperanjat.

“Ini memang punya kamu. Saya nemu di lab tadi.”

Aku mengerutkan dahi. “Kayaknya punyaku ada deh.”

“Coba di cek dulu box alatnya!”

Aku mengikuti sarannya, sambil berjongkok aku membuka box alat berwarna orange milikku. Lah? Tidak ada, seingatku aku sudah memasukannya.

“Gak ada kan?”

Aku cengengesan.

“Ini, ambil!”

Aku menerima kalkulatorku kembali. “Makasih ya Kak, maaf ngerepotin. Tapi, kok bisa ada sama Kakak?”

It’s okay. Kebetulan kita satu meja di lab.”

Kupikir setelahnya tak akan ada komunikasi lagi di antara kami. Tapi, ternyata dia berulang kali mengembalikan barang milikku yang tertinggal. Kenapa bisa? Itu karena jadwal prakteknya tepat setelah kelasku. Entah penggaris, hekter atau bahkan sampai yang terpenting box-nya sendiri. Lama-lama aku tak enak hati padanya. Jadi, kuputuskan untuk mengecek berulang kali meja prakteknya. Dan lewat hal ini dia jadi sering menjahiliku.

“Aracell ceroboh ya!!” katanya dengan senyum mengejek.

Suatu ketika, aku pernah mengantar salah satu temanku ke ruang guru. Berdiri di luar, aku memperhatika temanku lewat jendela seraya memakan cilok. Mulutku kubuat penuh dengan satu cilok utuh di dalamnya.

Aku nyaris tersedak saat melihat siluet laki-laki yang terpantul di kaca. Dia tengah memandangku geli. Bersama temannya dia lewat di belakangku. Tepat saat dia lewat, dia berbisik di telingaku, “Pipinya kaya tupai. Awas meledak,” katanya.

“Uhuk ….” Cilok di mulutku hampir terbang. Aku langsung menutup mulutku dengan tangan.

“Kunyah pelan-pelan ceroboh!!” Dari jauh Kak Irzan mengingatkan. Aku menggeram jengkel.

Kalo gak dikagetin aku gak akan tersedak, rutukku dalam hati.

Pertemuan kami berlanjut. Saat itu, aku dan dua temanku berniat membeli es krim di seberang sekolah. Saat di perjalanan aku menunduk merapihkan rokku, tapi tiba-tiba sepasang sepatu di depanku membuatku berhenti seketika. Sepatu hitam bergaris merah.

“Kaya kenal,” gumamku.

Tuk …

Aku tersentak saat mendapat sentilan pelan di dahi. Sontak aku mendongak, sepasang mata bernetra hitam sedang tersenyum geli. Wajahnya terlihat bersinar, mungkin karena kulitnya berwarna putih.

“Oh iya, ini sepatu Kakak ternyata,” ujarku seraya mengusap dahi.

“Jadi … mau kemana si ceroboh ini?”

Aku menoleh sekilas pada teman-temanku yang saling berbisik menggoda.

“Mau ke sana,” kataku menunjuk warung sebrang jalan.

“Ngapain?”

“Nyolong. Ya jajanlah!!” jawabku gemas.

“Bahaya. Udah di sini-sini aja jajannya.”

“Bahaya kenapa? Kita bertiga bisa nyebrang kok.”

Lalu tindakan tiba-tiba darinya membuatku terdiam. Dia menangkup pipiku dengan satu tangannya. Wajahku hampir mirip mulut ikan saat itu.

“Sekarang musim culik.”

Aku menghempas tangannya. “Oho … makin terlihat menyebalkan ya Kakak sekarang!!”

“Emang. Ini ….” Dia menyerahkan sesuatu yang baru diambilnya dari saku.

“Maunya es krim,” kataku seraya cemberut. Dia tertawa. Badanku diputar ke belakang, lalu dia dorong pelan. “Kapan-kapan aja, bentar lagi masuk. Udah makan aja permen itu.”

Saat itu aku dan ke dua temanku memilih batal membelinya. Tapi siapa sangka, di istirahat ke dua salah satu teman laki-laki di kelasku menyerahkan keresek berwarna putih berisi tiga es krim padaku.

“Katanya makan ininya sambil duduk.” Niatku untuk bertanya asal es krim ini batal setelah ingat dengan kata-kata barusan. Kenapa laki-laki itu baik sekali?

Lalu di suatu hari aku menemukan alasan, kenapa wajahnya secerah itu. Dia rajin solat. Klise? Memang. Tapi aku sungguh dibuat kagum dengan ketaatannya kepada Allah. Apalagi setelah melihatnya berdiri di barisan paling depan. Dengan peci hitamnya, dia mengimami solat. Sayangnya, aku datang kurang cepat hari itu. Secercah harap hadir di lubuk hati untuk bisa merasakan menjadi makmumnya. Ah, gila. Dia soleh sekali.

Namun, keadaan tak selalu tentang bahagia, suatu hari aku dibuat sedih dengan hasil ujian praktikum. Aku harus mengulangnya, karena nilaiku berada di bawah rata-rata. Aku sedih, ingin menangis rasanya. Bukannya tak belajar, justru mati-matian aku mempertaruhkan waktuku untuk yang satu ini. Ah, kecewa sekali.

Saat teman-temanku jajan, aku memilih diam di kelas. Menundukkan kepala di atas lipatan tangan, aku menahan tangis.

Keheningan di kelas berubah horor saat tiba-tiba aku merasakan usapan pelan di kepalaku. Aku di mengangkat kepala menoleh ke sana- kemari. Aku yang posisinya berada di samping jendela yang terbuka melihat ngeri keadaan kelas. Sepi, lalu tangan siapa?

Aku kembali menunduk. Kemudian kali ke dua sebuah tangan kembali mengelus rambutku. Aku sontak mengangkat kepala.

“Hai.” Kudapati laki-laki tampan berdiri di luar jendela.

“Barusan Kakak kan yang ngusap kepalaku?”

“Iya,” Akunya seraya tertawa.

Aku mencebikkan bibir. Entahlah, aku sedang malas bercanda sekarang. Aku memilih menundukan kepalaku lagi.

“Hei, tahu gak? Pagi tadi Ibu saya marah-marah sambil bawa sapu. Saya takut dong, jadi saya langsung lari ke kamar buat sembunyi. Ibu saya mengancam, katanya saya gak akan dikasih makan. Wah, alamat kurus dong saya. Saya jadi kepikiran fans saya, gimana kalo mereka jadi gak suka sama saya?”

Aku menatapnya. “Cih, sok ganteng.”

“Memang nggak?” Dia bertanya dengan sebelah alis yang terangkat. Aku memutar bola mata.

“Kamu gak mau tanya kenapa Ibu saya marah?”

“Ogah.”

“Kamu harus tanya!! Soalnya ini salah satu hal yang mungkin bisa buat Ibumu berubah jadi harimau juga seperti Ibu saya. Serem tahu. Nih, bayangin saja, wajahnya merah, hidungnya keluar asap, terus kepalanya keluar tanduk. Rawrr ….”

Spontan aku tertawa melihat ekspresinya. Konyol sekali dia. “Memang kenapa?”

“Saya ilangin tutup botol tupperware.”

“Wah, mati itu Kak.” Aku ikut hanyut dalam ceritanya.

“Nyaris. Dikit lagi. Ibu saya sudah gini-gini, untung kehalang pintu.” Dia memperagakkan bagaimana yang dilakukan Ibunya.

“Yaudah Kakak minta maaf aja, terus janji gak diulangi.”

“Satu lagi, saya harus berusaha mencarinya dan berusaha untuk menjaga barang-barang penting itu dengan baik, itu kata Ibu saya. Supaya apa ….” Dia menggantung ucapannya.

“Supaya gak ke ulang lagi?”

“Betul. Setelah minta maaf Ibu saya bilang gini, mau sepuluh jam bahkan dua hari sekalipun kalo saya gak gerak buat cari, barangnya gak akan ketemu. Cuma mikirin kemana barang itu gak akan membuat barangnya tiba-tiba ketemu. Saya makin merasa bersalah, tapi dia bilang salah itu wajar, namanya juga manusia. Benar terus akan buat saya besar kepala. Malah lewat salah ini saya bisa belajar untuk lebih baik, begitu katanya.”

Aku terdiam.

“Jadi, salah wajar. Kamu dapat kesempatan buat memperbaiki, itu saatnya kamu berusaha. Harusnya kamu seneng, soalnya kamu mempelajari materinya dua kali lebih banyak dari yang lulus. Sedih boleh tapi jangan terus-terusan, lagian gak akan mengubah apapun, daripada nanti sakit, kan?”

“Oh … cerita Kakak tadi maksudnya ke aku juga ya?”

Kak Irzan menghela nafas. “Dasar Aracell.”

“Kalo aku gagal lagi?” tanyaku lirih, aku menunduk meremas jari.

“Yang penting udah usaha.” Dia mengacak rambutku pelan.

Dia berjongkok, lalu kembali berdiri, kulihat kresek berwarna putih di tangannya.

“Kamu kelihatan lebih suka cilok pedes, jadi saya gak beliin coklat. Di dalamnya ada susu strawberry juga, biar menetralisir pedesnya.”

“Untukku?”

Kak Irzan mengngguk. Aku ragu-ragu meraih kresek berisi makanan itu darinya. Ah, makin berhutang budi aku padanya. Entah sejak kapan tapi aku kehilangan kesal pada senyumnya. Mungkin terbiasa.

Tanpa sadar arah pandangku hanya tertuju padanya. Tak ada lagi Kak Rizky seperti awal perasaanku. Yang ada hanya baiknya, menyebalkannya dan perhatiannya Kak Irzan. Sial, aku menjilat ludahku sendiri. Dia benar-benar tampan, bahkan dari Kak Rizky.

Seperti apa yang diucapkan Kak Irzan kalau manusia tak bisa benar terus. Seperti hidup yang tak hanya bahagia terus. Ada satu momen di mana, aku menyesal dengan keputusanku dulu.

Saat itu, salah satu teman dari kelas lain yang saat MPLS satu ruangan denganku bertanya, “Ra, sebenernya aku mau tanya dari lama, sejak MPLS kamu suka sama Kak Rizky ya?”

Posisinya kami berdua berada di lab dan baru selesai remedial gabungan. Suasananya sepi, tak ada orang lain selain kami.

“Hah?”

“Iya ih, kelihatan jelas tahu, soalnya aku pernah gak sengaja lihat kamu ngobrol sama dia di balkon. Terus, kamu juga diem-diem ngasih kado terakhir MPLS buat dia. Hayo, ngaku deh!!“

“Kelihatan jelas ya?”

Temanku itu berteriak. “Wah, bener kan dugaanku.”

Aku menyesal mengatakannya, karena setelahnya siluet seseorang yang amat kukenal berjalan menjauh dari lab, Kakiku langsung melangkah untuk memastikan, aku harap dugaanku salah.

Tidak ….

“Kak Irzan!!” Aku berteriak kencang seraya berlari mengejarnya. Dia berhenti, tubuhnya berbalik, dia menatapku dengan senyumnya.

“Ngapain lari-lari?”

Melihat ekspresi biasa-biasa darinya aku kebingungan. “Kakak denger kan?”

“Apa?”

“Kakak denger kan? Aku mau je—“

Dia tertawa pelan. Di mataku tawanya terlihat terpaksa. Aku merasa tak nyaman.

“Jelasin apa, Ra? Gak perlu. Gak ada apa-apa di antara kita, benar kan?”

Aku terdiam membenarkan ucapannya. Kenapa aku justru takut dia berpikir yang tidak-tidak? Kenapa aku takut dia marah? Benar. Kita tidak dalam hubungan apa-apa. Siapa aku? Pantas dia tersenyum. Kita … tidak ada apa-apa.

“Yaudah Ra, saya barusan buru-buru mau ke ruang guru. Saya duluan ya!” Dia pergi.

Aku merasa aneh dan sedikit kecewa mendengar jawabannya. Apa yang aku harapkan? Bukankah itu berarti dia memang tidak menyukaiku. Suka? Ah, dari kapan dia datang?

Tapi, setelahnya tak ada lagi komunikasi di antara kami. Dia seperti menghilang.

Katanya tidak perlu dijelaskan atau sejak awal kita memang seasing ini? batinku.

Suatu hari aku tak sengaja bertemu dengannya. Di koridor, dia berjalan beriringan dengan—kenapa harus dengan Kak Rizky? Kami berjalan berlawanan arah. Aku bisa memastikan dia melihatku dari jauh.

“Hai Aracell!!” Seperti biasa Kak Rizky menyapaku. Dia juga berhenti saat kami berhadapan, sekedar untuk bertanya dari mana. Tapi, mataku justru tertuju pada sosok yang melewatiku begitu saja. Senyumnya entah hilang kemana, yang tertinggal hanya wajah datar dan aura dinginnya.

Salah ga kalau aku berpikir Kakak memang memang memiliki rasa sama aku? Bolehkah aku senang? pikirku berulang kali.

Setelahnya kebenaran lain sampai ke telingaku.

“Kapan takken nya ini? Gue udah berusaha mengawali kedekatan kalian, jadi peje buat gue harus dobel-dobel.”

“Hah? Maksudnya?”

“Gue bilang sama Kak Irzan kalo lo suka sama dia.”

Aku kehilangan kata-kata. Sejenak aku menyadari, mungkin bukan suka yang membuatnya menjauh, tapi merasa dibohongi, merasa dipermainkan. Aku ingin marah, tapi semua berawal dari ucapanku sendiri. Bodoh.

Dia pernah hadir di kegiatan ekskul PMR. Harusnya jadi hal manis saat aku membuka mata di tengah renungan, karena yang kulihat pertama kali adalah sosoknya. Andai kami masih baik-baik saja, dia mungkin tersenyum manis padaku. Aku harus apa sekarang?

Beberapa hari setelahnya kuputuskan untuk menjelaskan semuanya. Dengan semangat aku berjalan menuju kelasnya. Tapi, hal lain membuat langkahku terhenti. Aku terdiam dengan rasa tak suka di hati. Di tengah lapangan sana, orang yang kumaksud sedang menaiki motor matic-nya, tapi diboncengannya … ada gadis lain yang tengah duduk cantik. Tangannya memeluk pinggang Kak Irzan. Apa itu pacarnya?

Aku mentertawakan diri sendiri. Kalau hanya suka kenapa harus tak terima melihatnya bersama perempuan lain? Aku jengkel dan marah. Rasanya ingin berteriak dan mengatakan untuk tidak membonceng perempuan manapun. Sial. Aku tersadar, mungkin bukan suka yang tiba, tapi temannya yang lebih rumit, cinta.

Esoknya teman-teman di kelas ramai. Satu per satu dari mereka mempertanyakan tentang perempuan itu.

“Dia deketin lo kok pacarannya sama yang lain?”

“Tapi katanya mereka saling suka dari lama.”

“Berarti lo cuma di PHP-in doang dong, Ra.”

Entah apalagi yang mereka katakan. Aku berusaha untuk tak peduli, tapi lagi-lagi hatiku sakit, seperti di remas kuat. Apa ucapan mereka benar? Kupikir cinta pertamaku akan berjalan manis, ini … sulit.

Overthingking mulai menguasai kepalaku. Berhari-hari aku gelisah, menangis dan bersedih. Sampai saat upacara badanku mulai sampai batasnya. Aku pingsan.

Setelahnya yang kulihat pertama kali adalah ruangan berwarna putih. Aku ingat, ini UKS. Siapa yang mengangkatku tadi? Ah, lemah. Kenapa bisa pingsan? Kak Irzan pasti ketawa lihat kondisi aku. Harusnya aku kelihatan hepi, biar dia nyaho.

Sudut mataku tertarik pada sesuatu di atas nakas. Susu kotak rasa strawberry. Jangan-jangan itu dari dia?

“Sudah siuman ternyata.” Ternyata dugaanku salah. Yang datang justru Kak Rizky.

“Cari siapa?” tanyanya saat aku mengedarkan pandanganku.

“Kakak yang tolong aku?”

Kak Rizky mengangguk. “Kenapa sih kok bisa pingsan?”

“Kayanya kecapaian aja. Itu susu dari Kakak?” tunjukku.

“Hah? Ah iya dari aku, diminum ya!”

Tak banyak obrolan kami setelahnya aku memilih pamit ke kelas. Sejak kapan berbicara dengannya berubah tak nyaman? Dengannya aku teringat sosok lain.

Sampai kelas aku dibuat beruntung dengan tidak hadirnya guru. Aku memilih duduk di luar, di teras kelas. Memilih duduk dengan suasana sepi. Kelas sedang ramai dan kepalaku sakit mendengarnya. Dengan di temani ke dua temanku, aku duduk nyaman.

“Ra, lo sakit karena kepikiran berita itu kan?” Elena bertanya.

Melihatku terdiam, dia mengangguk. Mungkin mengerti jika jawabannya adalah benar.

“Mending kamu cerita apa yang kamu rasain sama kita! Jangan dipendam sendiri Ra! badan kamu gak kuat,” Sambung Aurel.

“Iya ih. Lo itu punya teman dimanfaatin kek, jangan dianggurin. Kesannya kita kaya gak ada artinya aja buat lo.”

Mendengar ucapan mereka aku memutuskan untuk bercerita. Semua, dari awal MPLS sampai sekarang, termasuk bagaimana perasaanku dan pada siapa tertuju.

“Jadi lo suka—hhmmmphh ….” Aku menutup mulutnya. Yang benar saja, dia mengatakannya dengan keras. Bisa ketahuan yang lain nanti.

“Pelan-pelan!!” tegurku. Aku menarik tanganku kembali.

“Kenapa bisa lo suka sama dia?” tanya di sedikit berbisik.

“Memang kenapa?”

“Dia itu playboy, Ra. Dari awal MPLS sampe sekarang saja berapa kali kabar dia macarin angkatan kita.”

Mataku membulat mendengar ucapan Aurel. “Asli?”

“Makanya sekolah itu yang bener, Ra!!”

“Memang sekolah yang bener itu dengerin gosip begitu ya?”

Elena mengusap wajahnya kasar. “Alah … mampus aja lo!!”

Aku menatap bingung.

“Maksudnya ikut update sama berita, Ra,” kata Aurel berhasil memberikan pencerahan.

“Lo gak mau jujur cuma karena orang yang suka dia di kelas kita cantik? Apa kabar sama orang yang suka Kak Irzan? Lagian lo itu cantik, cantik banget. Bener ga, Rel?”

Aurel mengangguk setuju. “Kamu gak seharusnya insecure, Ra.”

“Ini ya, kalo sejak awal gue tahu orangnya dia, gue akan terang-terangan nyuruh lo buat berhenti. Sekarang gue tanya, apa yang buat lo suka sama dia dulu?”

Aku terdiam seraya mengetuk-ngetuk dagu dengan telunjuk. Bola mataku terangkat ke atas, berusaha mengingat jawaban dari pertanyaan Elena.

“Karena … dia ramah?” jawabku agak sedikit ragu.

“Iyalah playboy itu harus ramah. Lo itu jomblo sejak lahir, belum pernah pacaran. Lihat orang ganteng, ramah, hati lo yang gampang baperan itu pasti kena. Gemes gue, asli. Kalo sejak awal lo cerita, gak gini jalannya, Ra.”

Gue menunduk, merasa bodoh dengan diri sendiri.

“Denger cerita kamu, mungkin Kak Irzan sekarang lagi marah? Dan siapa tahu perempuan itu bukan pacarnya?” pertanyaan Aurel adalah harapan yang aku inginkan.

“Bisa jadi sih, Ra. Gue juga sempet lihat dia berdiri deket UKS pagi tadi. Tapi, gue perhatiin dia gak masuk-masuk.”

“Oh ya?”

Apa dugaanku benar? Tapi bagaimana kalo aku ternyata terlalu berharap? aku gak mau sakit hati lagi, batinku.

“Sekarang anggap saja mereka pacaran. Lo jangan berusaha buat deketin lagi. Takutnya kabar itu bener, nanti lo dianggap PHO.”

Aku membenarkan saran Elena. “Kalo aku cuma mau minta maaf, boleh? Seenggaknya aku mau hubungan kita baik-baik saja.”

“Kalo pacarnya lihat?”

Aurel menjentikkan jarinya. “Lewat surat. Kita berdua bisa jadi perantara.”

“Bener. Lo mau kasih kapan?”

“Saat perpisahan dia nanti. Aku gak mau mengusik dia sekarang. Kalo posisinya dia lagi bahagia, maka itu akan berdampak baik buat ujiannya.”

Sejak obrolan hari itu, aku benar-benar membuatkan sebuah surat yang kubentuk pesawat kertas. Jujur, aku ingin memberinya semangat di hari ujiannya, tapi aku siapa? Cuma Tuhan kita yang sama, selebihnya gak ada. Karena itu, aku memilih menitipkan semangat dan do’a untuknya pada Allah.

Hari perpisahannya tiba. Semua sudah siap aku lakukan, tapi kedatangannya menghentikkan niatku. Di ruangan besar khusus acara kelulusan, dia tampil tampan dengan stelan jas putihnya. Semua mata tertuju padanya, termasuk pada sosok cantik di sampingnya. Perempuan yang sama yang diboncengnya hri itu. Ah, jadi mereka beneran pacaran? Aku sudah menyiapkan kebenaran berita itu, tapi hatiku tetap tidak siap.

Mereka bercanda gurau seraya berjalan anggun menuju tempat duduk. Andai Kak Irzan menoleh ke kiri, maka mata kami pasti bertemu. Tapi tidak, matanya selalu tertuju pada orang yang sama. Tanganku mencengkram kuat, merusak bentuk rapi dari pesawat kertas berwarna biru itu.

“Ra?” Elena memegang lenganku.

menahan sakit di tenggorokan aku berkata, “Anter ke toilet, yuk!” aku menggeram pelan. Beberapa teman sekelasku menatapku iba. Aku muak.

Buru-buru memasuki toilet, air mataku tumpah saat itu juga. Sakit. Salahku penasaran sama cinta. Harusnya aku tetap fokus belajar, tak goyah dengan hal lain.

Kak, anggap hanya aku yang menyukai kamu, kenapa kamu menjauh? Kalau kamu mendengar pengakuan sukaku dari orang lain sejak lama, kenapa kamu mendekatiku? Tak bolehkah aku berpikir kalau kamu memiliki rasa yang sama? Lalu kalau kamu kecewa denganku, kenapa bersama orang lain jadi pilihanmu?  Aku bingung Kak. Kamu tak memberiku waktu untuk sekedar menjelaskan. Memilih pergi begitu saja, meninggalkan aku dengan penyesalan. Kamu jahat, Kak!

“Ra, sudah Ra! yang begitu gak usah ditangisin. Kita do’ain aja mereka putus.” Kudengar suara Elena mengetuk-ngetuk pintu.

“Aracell!! Buka pintunya!! Gue harus lihat lo baik-baik saja atau ngga.”

Brugh … brugh …

“Aracell kenapa?” Dari suaranya, itu Kak Rizky.

“Nggak, dia cuma mencret aja.”

Elena!! geramku.

“Hah? Terus lo lagi apa di sini? Gak bau?”

“Oh, gue lagi menikmati aroma baru.”

“Gue agak jijik, gue cabut ya.”

Brugh … brugh … brugh …

“Ra, gue baru saja basmi kutu. Buruan keluar, kita hangout aja. Gak papa sekali-kali kabur dari aturan, biar keren.”

Setelahnya tak ada yang namanya pertemuan antara kami. Bahkan saat kelulusan aku hanya bisa melihatnya jauh dari lapangan. Itu pun hanya sekilas, sebelum aku memilih pergi ke kamar mandi.

Saat aku keluar dari kamar mandi, seorang laki-laki memanggilku. Yang kuingat dia teman Kak Irzan yang ada saat insiden cilok hari itu.

“Ini dari Irzan, katanya ketinggalan di lab.” Aku menerimanya dengan ragu, laki-laki itu pun langsung pergi.

Binder apa ini? Aku yakin ini bukan milikku. Apalagi tak ada kertasnya di sini. Aku membuka binder itu dan menemukan sebuah sticky note berwarna pink tertempel di bagian kanan binder. Kertas itu penuh dengan tulisan, isinya:

Ceritanya sudah selesai, karena itu kertasnya saya buang. Ini buku Diary saya, saya biarkan kosong agar kamu bisa mengisinya dengan lembaran baru dan kisah yang baru. Bukan saya tak punya uang untuk membeli yang baru, tapi di binder ini namamu berkali-kali saya tulis. Saya ingin namamu tetap di sana walau tak bersama saya nantinya. Terima kasih sudah pernah mengenal saya. Jangan sakit lagi, ceroboh!! Stay healty, stay happy and stay smile, okay?

Irzan.

Sontak aku berlari mencarinya. Secepat mungkin menuju kelasnya.

Dia tiba-tiba menjauh, lalu ternyata memiliki pacar. Lantas, untuk apa binder ini? Kisah mana yang sudah selesai? Padahal jelas tak ada kata memulai. Kenapa harus namaku yang tetap ada? Lewat binder ini, meski tak ada namamu sekalipun, tapi kamu pemiliknya. Menjaga sesuatu yang harus aku lupakan? Aku tak berminat.

Sial, tak ada orang lagi di kelasnya. Apa mereka sudah pulang? Apalagi aku tak mengenal wajah teman-temannya. Saat itu aku menggeram marah. Kalau dia memilih untuk selesai, kenapa membiarkanku untuk tetap tinggal? Baiklah, terserah padamu.

Selain hari ini, aku tak tahu kapan kita ketemu lagi. Selamat untuk kelulusanmu. Jalan manapun yang kamu pilih, semoga Allah senantiasa meridhoi. Terima kasih kembali sudah mengenalku, balasku dalam hati.

Setelahnya tak terdengar lagi kabarnya. Aku berusaha untuk melupakan. Mengenyahkan sosoknya yang kadang aku rindukan. Binder-nya ingin kubuang, tapi akhirnya berjalan sesuai permintaan dia. Satu bulan, dua bulan, sampai enam bulan berlalu.

Hal yang sudah nyaris kulupakan, kembali terdengar di bulan ke tujuh. Salah seorang temannya yang sempat memberiku binder datang menemuiku. Katanya dia harus membantu menyelesaikan sesuatu. Namanya Kak Ranu.

“Jangan potong penjelasan gue!! Irzan Fanggala Reonald, cowok bodoh itu suka sama lo sejak MPLS. Dia kesenengan waktu dapet meja yang sama, bahkan tiap kali harus balikin barang-barang lo. Kalo lo sadar, pulpen dan tipe-x itu baru dan lo gak pernah ninggalin barang itu. Dia makin giat deketin lo waktu teman lo bilang kalo lo suka sama dia. Gue pikir dia akan langsung confess dan kalian jadian. Tapi, si bodoh itu lebih nyaman sama keadaan kalian saat itu. Gue nyaris mau datangin lo buat marah-marah karena ternyata orang yang lo suka itu Rizky. Gue ngerasa lo mempermainkan sahabat gue. Tapi Irzan bilang, mungkin teman lo yang bohong. Dia milih buat mundur karena gak mau maksain lo buat suka sama dia. Apalagi, Rizky masih teman kita, pantang buat Irzan macarin orang yang suka sama temennya. Dan makin bodohnya lagi, dia nolak lo buat jelasin dengan alasan yang menyakiti dia sendiri. Lo tahu kenapa? Dia belum siap dengan kebenaran kalo lo memang suka Rizky. Meski begitu, dia selalu awasin lo dari jauh, termasuk saat lo pingsan dan datang dari kamar mandi dengan mata sembab, dia panik bukan main. Sekarang gue mau tanya, kenapa lo gak pernah nyamperin dia? Atau memang bener lo gak pernah suka sama dia?”

Aku berusaha mencerna ucapannya. “Kalo dia suka … kenapa pacaran sama teman sekelasnya?”

“Heh!! Siapa yang bilang?”

“Di kelasku rame. Aku bukan gak mau nyamperin, jujur aja awalnya aku belum paham sama situasinya, pas aku tahu apa yang harus aku lakuin Kak Irzan lagi bareng perempuan lain.”

“Mereka gak ada apa-apa!! Duh, gemes gue jadinya. Kalo kalian dua-duanya begini, gak ada happy ending asli.”

Aku bingung. “Terus aku harus apa? Sekarang sudah telat kan?”

Kak Ranu mengecek jam tangannya. “Pas, dia ada di ruang guru sekarang. Gue yakin kalian Cuma miss komunikasi aja. Ayo, jelasin sana!!  Balikin lagi senyum sobat gue, jadi bulol dia.”

Tanpa menunggu lagi, aku langsung berlari pergi. Aku harus menjelaskannya. Semua kesalahan yang aku mulai, harus aku pula yang menyelesaikan. Hilang sudah lupa padanya, yang timbul adalah perasaan yang pernah terkubur. Benar, sejak awal tak ada yang tahu hati mana yang akan bertaut denganku. Seharusnya aku tidak bersikap jahat padanya. Ah, dasar aku.

Jika kalian tanya bagaimana keadaan kami sekarang? Kalian tahu khitbah? Ya, baru saja acaranya selesai.

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!