Desember
33.6
8
253

Saat Daniel dan keluarganya pindah ke desa di kaki bukit, dia bertemu Aya, tetangga barunya yang yatim piatu. Aya membuat hari-harinya yang semula kelabu, jadi lebih berwarna. Mereka tumbuh bersama sebagai sepasang sahabat yang saling menguatkan di masa sukar.

No comments found.

Masih pukul tiga pagi ketika Daniel terjaga. Namun, karena tidak dapat tidur lagi, Daniel mengambil sapu di gudang bawah tangga, lalu memutar kenop pintu belakang. Ada tiga ketapang di kebun belakang rumahnya. Satu sudah sembilan tahun usianya, dua lainnya masih beberapa bulan. Di tengahnya, ada tiga gelondong batu sebesar anak domba yang bergeming ditimpa redup lampu. Seperti biasa, saat dia menyapu halaman, suara sapu lain membalas di kejauhan. Tanpa tergesa, dia menimbun daun-daun dalam satu tumpukan besar, lalu duduk di batu—membiarkan angin menghapus peluhnya. Dia puas. Kebunnya jadi sedikit rapi. Sengaja tidak dipetiknya randa tapak, lalang, gelagah, dan putri malu. Sesekali dilihatnya kumbang-kumbang kecil di rerumputan.

Ketika memasuki pintu, segera saja telinganya menangkap intro Lucy in the Sky with Diamonds. Rasanya aneh mengawali hari dengan album Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band, bukan Let it Be, misalnya. Tapi Daniel tidak keberatan. Sudah lama dia tidak mendengar The Beatles. Sepertinya Papa baru membeli CD-nya kemarin. Daniel tidak tahan untuk tidak menghentakkan kaki dan menjentikkan jarinya. Papa tertawa melihat tingkahnya. Mama geleng-geleng. Mungkin putranya satu-satunya remaja yang hobi membersihkan kebun pada pagi buta—tidak, tidak mungkin ada yang lain. Mama mengajak Daniel bergabung dengannya dan Papa. Mama juga sudah menyeduhkan segelas teh di meja.

Ketika Mama menyiapkan sarapan, Daniel membantunya memotong bawang dan Papa menyapu rumah. Di ruang tamu, Daniel mendengar intro She’s Living Home yang mengingatkannya pada lagu L’Arc~en~Ciel – The Silver Shining—band favorit Aya, teman masa kecilnya.

Beberapa saat kemudian, tiga piring nasi goreng tersaji di meja.

 

Pagi belum benar-benar terjaga ketika Daniel tiba di sekolah. Kelasnya—XII B—ada di ujung lorong. Merah dan hijau. Siap menyambut Natal. Dia duduk di bangku tengah, di samping peta dunia. Di depan bangku Arella.

 

***

 

Daniel menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di rumah besar berlantai dua yang masing-masing lantainya memiliki lima kamar. Jika dia menginginkan sesuatu, papa dan mamanya selalu mengabulkannya. Jika ingin menekuni hobi baru, dia bisa mendaftar kursus di mana pun. Les musik, renang, bahkan robotik pernah dilakoninya, tapi tak ada yang benar-benar dikuasainya. Hobinya selalu berubah mengikuti perasaannya. Dia juga mempunyai kamar khusus mainan yang membuat teman-temannya berdecak kagum.

Namun, masa kanaknya yang berkelimpahan berakhir dalam semalam. Pada suatu subuh, Mama memaksa Daniel terjaga, lantas mengajaknya pergi. Dia bahkan tidak mengizinkan Daniel membawa banyak benda. Karena waktunya mendesak, Daniel meninggalkan mainan-mainannya, dan hanya membawa beberapa jilid komik—Conan, Dragon Ball, Kindaichi, Cardcaptor Sakura. Papa dan Mama bahkan tidak berani membanting pintu mobil. Lalu, dengan sangat hati-hati, Papa menekan pedal gas. Daniel, segera setelah kagetnya berkurang, memandang jendela dengan perasaan bingung. Dia menopangkan sikunya di pintu. Pemandangan kota pukul setengah empat pagi sangat berbeda dengan apa yang biasa dilihatnya. Akan tetapi, setelah menajamkan pandangan, perlahan-lahan dia mulai mengenal jalan.

Daniel biasa melewatinya pada akhir pekan, saat Papa dan Mama mengajaknya menghabiskan Sabtu di hotel dekat mal. Tapi sekarang berbeda. Alih-alih semringrah, dia justru gelisah. Tapi lama-lama Daniel tidak peduli dan hanya melamun. Dia tak dapat tidur, meski matanya masih menyisakan kantuk.

Mama dan Papa hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak meninggalkan rumah, tapi jelas keduanya memendam rasa benci. Bagaimanapun, akhirnya Daniel tertidur dangkal. Kepalanya terantuk-antuk jendela. Lalu suara teriakan di bangku depan membuat Daniel tersentak. Begitu banyak kata yang tak dia mengerti. Dia hanya mampu menera-nera artinya. Namun, dia paham, inti pertengkaran itu hanya satu—tuduhan yang dapat dirangkum menjadi sebuah kalimat saja—“Ini salahmu!”

Emosi menguasai Papa yang duduk di belakang kemudi, hingga mobilnya menyerempet sisi jalan, lalu menciptakan goresan yang cukup panjang di badan mobil. Dia melihat Papa menggeram dan melakukan gerakan memukul, tapi berhenti beberapa jarak sebelum mengenai dada Mama. Dia berteriak dan menghantam kepalanya sendiri dengan tinjunya. Keduanya terdiam, tapi atmosfer di mobil justru bertambah pekat. Seolah ditelan mendung.

Mama menahan isaknya di bangku depan. Daniel tidak mampu melihat pemandangan itu. Hatinya hancur. Biasanya, Papa dan Mama akur, selalu berdua ke mana pun pergi. Setiap malam, saat Daniel masih kecil dan tidur sekamar dengan orangtuanya, Papa memijat telapak kaki Mama hingga terlelap. Papa juga tak pernah lupa menyelimuti Mama jika selimutnya jatuh. Sesudah Mama terlelap, Papa mengambil buku di lemari, lalu membacanya di ruang tamu. Saat terbangun pada tengah malam karena ingin buang air kecil, Daniel selalu menemukan papanya di sofa dengan buku di tangannya.

Kelak, pertengkaran papa dan mamanya membekas di benaknya hingga membuatnya tak lagi berani tidur dalam mobil, bahkan sampai bertahun-tahun kemudian—selalu saja mimpi buruk menghampirinya—entah kecelakaan, dikejar hantu, mati, mobilnya meledak, atau, yang paling parah, papa dan mamanya saling meneriaki. Dia selalu terbangun dengan perasaan kalut, dan takut.

Pada pukul sebelas siang, Mobil berhenti di rest area. Di sana, ada sederet rumah makan dengan kondisi memprihatinkan. Papa memilih restoran yang terlihat sudah sangat tua, tapi satu-satunya yang layak dicoba. Bagian dalamnya gelap. Tidak ada tamu lain yang datang.

Setelah duduk di salah satu bangku, Daniel melihat katalog menu seraya mengusir lalat yang mendengung di sekitarnya. Dia memesan nasi dan ayam goreng, sementara papa dan mamanya rames. Meski tidak meminta, Papa tetap memesankan Daniel es jeruk. Daniel melihat mata mamanya masih basah. Sisa tangis yang mengaliri maskaranya menyebabkan jejak hitam di pipi. Mama langsung mengelapnya begitu Daniel memberitahunya. Mama berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya—dan itu terakhir kali Daniel melihat mamanya mengenakan make up.

Di luar dugaan, makanannya enak.

Selagi yang lain bahkan belum menyantap separuhnya, Papa menghabiskan ramesnya dengan cepat. Setelah itu, dia memundurkan bangkunya, lalu berjalan keluar dengan membawa gelas kopi. Dia mampir di warung untuk membeli dua batang rokok, beserta pemantiknya, lalu duduk di atas setumpukan kayu mati. Daniel yang mengejar karena takut papanya kabur, berhenti di samping pintu dengan perasaan heran. Papa tak pernah merokok—setidaknya selama yang Daniel tahu. Semenjak mempunyai anak, Papa memutuskan berhenti mengisap nikotin dan berusaha mencontohkan yang baik-baik saja, tapi sekarang dia tak tahu lagi bagaimana cara mendamaikan pikirannya. Lagipula, aku sudah bukan contoh yang baik, bahkan gagal menjadi manusia. Karena sudah bertahun-tahun sejak terakhir merokok, Papa merasakan kerongkongannya sakit. Diminumnya kopi yang sudah mendingin, kemudian dibuangnya puntung rokok yang baru terbakar ujungnya. Dia menginjak sisa baranya dengan sepatu. Papa melihat sekeliling, hanya sedikit mobil yang melaju di jalan raya.

Seorang kakek menyeberangi laluan. Kemudian menghilang di dalam gang. Setiap kali berhenti di daerah asing, Papa selalu memikirkan bagaimana kehidupan di sana, juga masalah seperti apa yang dialami para penduduknya.

Papa mengibaskan bajunya untuk menghilangkan bau rokok, lalu menjenguk keluarganya di dalam restoran. Ternyata semuanya sudah selesai bersantap. Setelah bergiliran buang air di toilet, Papa mengajak Mama dan Daniel melanjutkan perjalanan. Masih jauh, ujarnya. Mobil melaju dengan canggung setelah berhenti cukup lama. Suasana sudah sedikit mencair, sehingga Papa memasukkan kaset entah-apa di alat pemutar musik, tapi karena di dalam ada kaset lain, dia menyimpannya lagi. Intro gitar Country Road langsung menggema. Papa juga membuka sedikit jendela untuk mengeluarkan hawa panas yang mengendap saat mesin dimatikan.

“Mereka tidak akan sadar sampai Minggu depan,” ujar Papa, muram, setelah diam cukup lama. “Untuk sementara, kita aman.”

Mama hanya mengangguk pelan.

Mobil melaju stabil pada 70 kilometer per jam. Mungkin karena letih dan kenyang, Daniel tidak mampu menahan kantuk. Sekalipun sudah sekuat tenaga menolak tidur, tetap saja matanya terpejam. Dalam lelapnya, dia terjatuh di jurang tanpa dasar. Jatuh dan terus jatuh dan jatuh. Dia tak mampu melihat apa pun, hanya gelap yang semakin lama semakin pekat. Kehampaan menelannya bulat-bulat. Hampir saja dia histeris. Syukurlah, bau tajam bensin membuatnya terjaga. Ternyata mobil berhenti di SPBU. Daniel melihat jam di dashboard, sudah pukul dua siang, pantas matahari menyorot tajam. Seketika, dia merasa tubuhnya lembap. Keringat membasahi ketiaknya. Dia menekan kening yang terasa berkunang-kunang. Diambilnya botol air yang masih menyisakan dingin, lalu meneguknya hingga tandas.

“Kita di mana, Pa, Ma?”

Papanya menyebutkan nama jalan. Daniel segera melupakannya dan kembali terlelap, tanpa mimpi, tapi hatinya resah, jantungnya berdebar. Rasa bersalah seolah menekan dadanya, hingga dia menangis. Pada pukul empat sore, ketika mobil melaju di jalan yang tak rata, Daniel terjaga. Di jendela, dia melihat daerah yang tidak dikenalnya, tapi entah bagaimana dia tahu, dia sudah tiba di tujuan. Ketika melewati perempatan lampu merah, Papa memutar kemudinya ke kiri, lalu berhenti di depan sebuah rumah. Karena tidak ada garasi, mobil diparkir begitu saja di bahu jalan, seperti banyak mobil lain.

Sebenarnya rumah itu tidak terlalu kecil, bahkan cukup luas, dengan dua kamar, dua kamar mandi, ruang tamu, dan dapur yang lega. Tapi, bagi Daniel yang terbiasa hidup di istana, rumah itu bagai gubuk di ujung dunia.

“Tabungan kita masih cukup untuk setahun-dua, bahkan lebih kalau kita mengencangkan ikat pinggang. Sementara itu, aku akan mencoba memulai usaha baru,” papanya terdiam, pikirannya buntu. “Setelah uangnya terkumpul, aku akan bertanggung jawab dan membereskan utang-utang. Sekarang, kita menata ulang hidup kita lagi—dari nol.”

“Aku juga akan bekerja,” kata Mama. Bibirnya bergetar. “Bagaimanapun, Daniel harus sekolah.”

Sekolah, pikir Daniel muram. Dia bahkan belum berpamitan dengan teman-teman lamanya. Sebenarnya apa yang terjadi?

Sesudah menurunkan kopor-kopor, Papa langsung berbaring di salah satu kamar. Wajahnya letih dan penuh tekanan. Daniel, sebaliknya, karena sudah tidur cukup lama, masih segar. Mama memutuskan mengisi waktu dengan membongkar dan menyusun kopor. Setelah mengambil sampo, sabun, dan sikat gigi, lalu menyusunnya di kamar mandi, Mama menyuruh Daniel mandi. Tidak ada shower, tapi ada air yang mengisi bak cat bekas. Daniel mengambilnya segayung. Airnya dingin, udaranya dingin, napasnya dingin. Dia menggigil, tapi tidak berani merepotkan mamanya dengan meminta air panas.

Setiap kali air membasahi badannya, ribuan jarum bagai menusuk kulitnya. Dia buru-buru menyabuni tubuhnya. Dingin—dingin sekali. Setelah mandi, giginya beradu, wajahnya memucat. Dia langsung memakai pakaian. Mama, ketika melihat wajah Daniel membiru, segera melingkarkan selimut di sekujur tubuh putranya.

Saat gigilnya mulai berkurang, Daniel duduk di sofa. Dia menyapu ruangan dengan matanya. Di jendela, langit sudah menggelap, tidak bisa lagi disebut senja. Dia mencari sakelar yang terhubung dengan beranda. Ternyata ada di ruang tamu. Karena aroma cat masih menguar, Daniel menjepit hidungnya dengan jari. 

Karena tidak tahu harus memasak apa, Mama berjalan keluar. Ada gerobak nasi goreng berhenti di taman dekat rumah. Dia menghampirinya. Pesan tiga, ya, Bang, dua pedas sedang, satu sambalnya dipisah—semuanya dibungkus. Kalau bisa, minta teh tawarnya juga. Karena Papa masih tidur, Mama menyimpan bagian Papa di dapur.  

Daniel menyantap nasi gorengnya sesendok-sesendok. Enak dan masih panas. Mama mengambil segelas air di dispenser yang tangkinya masih separuh, lalu mencoba airnya sedikit, tapi ternyata masih segar dan dingin—belum basi. Dengan tatapan sayang, dia memandang putra semata wayangnya. 

Setelah nasi gorengnya habis, Mama mulai mengantuk. Dia bangkit berdiri, lalu mengunci pintu depan. Pada hari pertama, mereka tidur di satu kamar. Karena terlalu hening, meski tidak membutuhkannya—udara sudah dingin bahkan tanpa menyalakan pendingin apa pun—Mama membiarkan kipas angin menyala menghadap dinding. Dengung statisnya menenangkan.

Setelah Papa dan Mama terlelap, Daniel menuruni kasurnya. Dia memutar pelan kenop pintu, lalu menyalakan lampu ruang tamu. Daniel memandang seisi rumah, berusaha mengenali dunia barunya. Hidup barunya. Tidak ada yang istimewa. Ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan rumah lamanya. Tapi, selama Papa dan Mama masih bersamanya, dia tidak perlu khawatir. Dia memercayai mereka.

Di ruang keluarga, ada bufet yang bagian tengahnya berisi televisi tabung, di samping sofa tersimpan kopor-kopor yang dibawa keluarganya. Segini saja? Dia menghampiri meja kabinet, lalu membuka salah satu pintu lemarinya. Penuh buku, tapi bukan buku yang biasanya dia baca—dia hanya pernah membaca komik. Daniel mengambil satu buku secara acak. Benar saja, isinya tulisan semua. Dia mengembalikannya lagi, lalu berjalan menuju ruang lainnya. Dapurnya kecil, dan jelas tidak ada meja bar seperti di rumah lamanya, hanya memuat kompor, bak cuci, dan lemari. Di dindingnya terpacak paku-paku untuk menaruh wajan dan peralatan dapur. Di dekatnya, ada dua toilet yang disusun bersebelahan. Satu berlampu neon, satunya bohlam.

Ada kamar lain di samping kamar orangtuanya. Dia memutar selotnya. Ruangan di dalamnya masih kosong, tapi bersih, tanpa debu sehelai pun. Begitu melihat bangku plastik di samping jendela, dia duduk di sana. Jendela itu terhubung dengan gang kecil dan di seberangnya ada dinding rumah lain. Tetangga baruku.

Lalu dia menyadari sesuatu.

Apakah itu—suara yang begitu sepi?Yang berbunyi sepanjang malam, tapi baru disadarinya sekarang.

Jangkrik, pikirnya. Tapi ada satu lagi yang tidak dia ketahui namanya. Mengeret panjang, seolah meneriakkan kesedihan. Daniel memejamkan mata, berusaha menajamkan telinga, lalu menangkap segala yang mampu didengarnya. Ada empat, lima, atau enam bunyi yang berbeda. Dia jarang mendengar suara apa pun selain yang berasal dari manusia, kendaraan, atau benda-benda elektronik. Jadi, ketika mendengar ruak katak, dekut burung, derik serangga yang panjang dan pendek, dengung melengking dan sepi, bahkan angin sepoi-sepoi yang menyentuh pepohonan, juga gemercik sungai yang mengalir di kejauhan, dia tertegun. Lama dia duduk hanya untuk mendengarkannya. Lalu kantuk mulai menghampirinya. Dia menutup nako, berjalan ke kamar orangtuanya, lalu lelap di samping mamanya.

Menjelang pukul dua belas malam, giliran Papa yang terjaga. Dia melihat anak dan istrinya sudah tidur di sampingnya. Dengan langkah perlahan, Papa membuka pintu. Di ruang makan, istrinya sudah menyiapkan sebungkus nasi goreng dan kopi—dia tahu suaminya menyukai kopi dingin karena rasa asamnya lebih kuat. Nasi gorengnya sudah suam-suam kuku, tapi masih lezat.

Setelah perutnya menghangat, Papa membuka pintu depan, lalu melendutkan tubuhnya di bangku beranda. Dia mengambil rokok di saku celana, sudah tertekuk dan lembap. Dia meluruskan rokok itu, memantiknya, lalu mengisapnya perlahan. Rasa letih menjalari tubuhnya. Dia harus memulai kembali pada umur yang tidak muda lagi. Mampukah aku? Tapi apa aku punya pilihan lain?

Papa menggeleng. Dia tidak punya.

Esok paginya, Daniel tidak benar-benar yakin apa yang membuatnya terjaga. Tidak. Suara ayam terlalu jauh untuk dapat membangunkannya. Tak ada bebunyian yang mampu menembus mimpinya. Lalu dia tersadar. Bukan suara yang mengusiknya, melainkan kesunyian. Dia belum pernah mengalami pagi sehening ini—pagi yang jernih dan murni. Tak ada dengung kendaraan yang biasa didengarnya, tak ada teriakan dan umpatan ketika motor menghantam lubang di jalan. Segalanya terasa damai. Burung entah-apa berkicau di dahan (kelak, Daniel bisa membedakan jenis burung hanya dengan mendengar kicaunya). Suara sapu lidi beradu dengan tanah terdengar di kejauhan. Daniel ingin memejamkan mata sekali lagi. Toh, Mama dan Papa masih tidur.

Bunga-bunga lembayung sudah bermekaran di langit ketika Daniel terjaga untuk kedua kalinya. Dia memandang jam di dinding. Jarum pendeknya bahkan belum sampai di angka enam. Tapi pagi membuat segalanya berbeda, seolah Tuhan sekali lagi menciptakan dunia, lalu merawat segala sesuatu dengan sangat hati-hati. Karena pagi membuatnya jatuh hati, Daniel tak pernah lagi bangun siang setelahnya.

Kasur orangtuanya sudah kosong. Mama sudah berdiri di dapur. Mungkin karena di kulkas hanya ada bawang merah, bawang putih, dan garam, dengan menghidu aromanya Daniel tahu, Mama lagi membuat nasi goreng kampung. Meski pandai memasak, Mama selalu membeli makanan di luar. Padahal, Daniel menyukai masakan-masakan Mama jauh melebihi masakan lain.

“Papa sudah pergi,” kata Mama, seraya tersenyum pada putra semata wayangnya.

“Ke mana, Ma?”

“Ada yang menyewakan bangunan di ujung jalan. Kata Papa, cocok untuk dijadikan toko. Papa mencoba menjual mobilnya untuk menambah modal usaha. Kamu mengerti?”

Daniel mengangguk.

Karena tidak membawa rapor, ketika Mama mendaftarkan putranya ke sekolah Santo Wili, Daniel tidak langsung diterima. Dia harus mengikuti berbagai macam tes untuk mencari tahu di kelas berapa dia seharusnya berada. Setelah membereskan berbagai admininstrasi, kepala sekolah menerima Daniel dengan memberinya rapor baru. Begitu memasuki pintu “Kelas 3 SD”, Daniel memandang seisi ruang, lalu berusaha mengenali teman-temannya yang baru. Bagaimanapun, dia tidak terlalu berharap dan sudah sangat bersyukur dapat kembali mengenakan seragam putih-merah. Semenjak pindah, dia takut putus sekolah.

Sifat Daniel yang pemalu membuatnya berjarak dengan anak-anak lain. Namun, ada seorang gadis kecil yang menghampiri dan mengulurkan tangan kanannya. Semula, Daniel ragu menyambutnya, tapi hatinya menghangat begitu memandang senyum teman barunya. Dengan melihat senyum itu saja, Daniel yakin segalanya akan baik-baik saja. Bagaimanapun, aku tak perlu terburu-buru. Aku hanya perlu melangkah selangkah demi selangkah. 

“Hai, aku Aya. Sebenarnya, namaku Maya, tapi aku enggak suka karena artinya ‘kan ‘ilusi’—jadi aku menghapus huruf M, lalu menjadikannya Aya—‘ada’ dalam bahasa Jawa.”

“A-aku Daniel.”

Saat dia pulang, barulah dia menyadari, ternyata rumah Aya berada tepat di seberang rumahnya.

Lalu datanglah hari ketika ayah Aya meninggal dan sosok Aya yang ceria, berubah menjadi pendiam, bahkan senyumnya pun terlihat sepi. Hari-hari penuh canda yang selama ini dijalaninya, bagai hilang begitu saja. Setiap siang, abang Aya, Adit, menjemputnya. Jika Adit tidak sempat, seorang perempuan, Dita, datang menggantikannya. Meski begitu, mungkin karena hibuk, Aya lebih sering pulang sendiri.

“Mau ikut main?” tanya teman-teman Daniel ketika bel berbunyi, “Sepak bola. Kita kurang personil.”

“Maaf, aku enggak bisa,” Daniel menyatukan dua tangannya. “Ada urusan penting.” Daniel mengambil tasnya, lalu mengejar Aya yang sudah melewati pintu kelas. Aya berjalan dengan langkah-langkah pelan. Dia menggenggam tali ranselnya erat-erat. Daniel, dengan sabar, mengikuti di sampingnya.

“Enggak apa santai di sini?” tanya Aya, nyaris tak terdengar, dengan tatapan bingung.

“Enggak apa.”

“Katanya ada yang penting?”

Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ada. Menemani Aya pulang.”

Aya menunduk. “Padahal, kamu enggak perlu begitu.”

“Bukan. Maksudku bukan begitu. Bukan begitu.”

“Ya—sudah,” Aya membalas senyum Daniel, tapi Daniel menunduk ketika bersitatap dengan Aya. Dia tidak tahan memandang mata Aya yang sepi dan kosong.

Ketika melewati gerbang, seperti biasa, beberapa anak berhenti sejenak di depan sekolah. Daniel melihat teman sekelasnya duduk cungkring di tikar penyewaan gim portabel, beberapa lainnya bermain kartu, sisanya membeli jajanan—permen ayam yang dapat diukir menjadi berbagai bentuk hewan. Lalu ada batagor dan siomay. Aya dan Daniel melewatinya begitu saja. Daniel, karena tak mau teman-temannya memergokinya berduaan dengan Aya, berjalan beberapa langkah di belakangnya, tapi akhirnya dia tidak peduli, lalu berlari kecil hingga langkah mereka sejajar.

“Padahal, dulu, karena Daniel kesepian, akulah yang sering menemani Daniel. Jangan sedih, ayo bermain. Begitu. Tapi sekarang posisinya terbalik, ya,” kata Aya, seraya masih memegang tali tasnya. Dia berjalan tanpa melihat depan. Dia terpekur memandang lantai yang sarat guguran daun. Aya menginjaknya.

“Beda. Aku enggak bisa menghibur Aya.”

“Sudah, kok. Daniel sudah menemani aku,” Aya tersenyum samar. “Aku takut mengangkat wajah karena—” Aya mengangkat wajahnya.

Daniel tidak menjawab.

“Aku pasti menangis,” kata Aya. “Saat kecil, aku ingin menikah dengan Papa. Tapi Papa pasti lebih mencintai Mama, makanya Papa meninggal, menyusul Mama di surga.”

Daniel diam saja. Dia menendang kerikil hanya untuk menginjaknya lagi beberapa saat kemudian.

“Aya,” katanya. “Kalau sudah besar, menikah denganku saja.”

Aya mengangkat wajahnya, “A-apa?”

“Jadi Aya enggak perlu khawatir. Aku mau menunggu Aya.”

Pipi Aya memerah. 

Daniel tersenyum. “Selama bisa membuat Aya enggak sedih lagi, aku mau melakukan apa pun.”

Aya mempercepat langkah, lalu mengeratkan pegangan pada tali tasnya. Rasanya berbeda, tapi dia tak tahu apa. Dia ingin tetap bersama papanya karena dia keluarganya, tapi dengan Daniel—dia tidak mampu menjelaskan perasaannya sendiri. Daniel mengejarnya, tapi sesampainya di tikungan, Aya berlari secepat mungkin.

Tentu saja, seiring berlalunya waktu, kenangan itu memudar, lalu menjadi sesamar mimpi. Meski begitu, jika teringat kata-kata Daniel, Aya merasa pipinya memanas. 

 

***

 

Daniel melihat jam di dinding belakang meja guru, masih pagi, bahkan belum pukul setengah tujuh. Belum ada murid yang datang. Dia tidak tertidur, hanya melamun. Namun, mungkin karena terlalu larut dalam kenang-kenangannya sendiri, dia seperti memasuki kondisi hipnosis yang membuatnya tidak menyadari apa pun—sampai setidaknya dia mendengar— 

Suara harmonika? 

Daniel mengedarkan pandangan—mencari sumber suara. Dia menemukan Aya duduk di samping jendela. Karena duduk menghadap nako, Aya sama sekali tidak menyadari perhatian Daniel. Saat nada terakhir gugur perlahan, Aya menangkup harmonika dengan dua tangannya. Ketika dia membalik tubuh, matanya bersitatap dengan mata Daniel. Aya menunduk menyembunyikan rona hangat di pipi.

“Sudah bangun?”

Daniel tersenyum. “Pagi, Aya,” dia menopang dagu dengan tangannya. “Suara harmonikamu membangunkanku, tapi aku enggak keberatan.”

Aya tertawa. “Semalam kurang tidur?”

Daniel malah merasa heran. “Tadi, aku tertidur?”

Aya meniru posisi Daniel dengan menyandarkan kepalanya di lengan kanan pada meja, lalu memejamkan mata. 

Curang. Imut sekali. “Mungkin karena bangun terlalu pagi.”

Aya menopang dagunya. “Aku heran kenapa setiap hari kamu berangkat pagi-pagi betul?”

“Aku? Aku menghindari matahari.”

“Kenapa? Takut hitam?”

“Takut matahari minder, lalu memutuskan enggak terbit. Repot juga kalau dunia kiamat gara-gara aku.”

“Iya-iya. Padahal dulu kamu bocah manis dan pemalu. Kamu bukan alien, kan? Daniel yang asli enggak diculik UFO, kan? Kamu siapa? Si-a-pa?”

Daniel tertawa. “Memangnya, aku dulu seperti apa?”

Aya merenung sejenak. “Bocah manis dan pemalu.”

“Jadi, aku enggak manis lagi?”

“Enggak.”

“Manisnya pindah ke kamu.”

Aya memasang eskpresi jelek. “Daniel yang dulu enggak overdosis pede, lo.”

“Masa?” Daniel duduk bersandarkan punggung bangku.

Aya mengangkat dagunya dengan telunjuk. “Aku ingat kamu pernah bertanya, kenapa kita menyebut ‘matahari terbit’? Padahal yang ‘terbit’ bukan Matahari. Tapi Bumi. Jadi, kata-katamu barusan, ‘matahari enggak terbit karena minder‘, sangat – tidak – rasional. Tidak–Daniel. Karena Matahari enggak bergerak. Bumilah yang bergerak.”

“Benar juga,” Daniel tertawa. “Tapi, karena enggak mungkin mengganti istilah-istilah geosentris yang sudah berlaku berabad-abad lamanya, aku memutuskan tetap memakainya. Kan repot kalau harus mengganti ‘matahari terbit’ dengan—ehem—‘suatu masa ketika Bumi berputar sedemikian rupa sehingga mengokultasi Matahari di atas cakrawala lokal’. Mau gombal jadi susah.”

Aya tertawa. “Kamu enggak ada kegiatan? Tumben.”

Daniel mengayun kursinya. Dia memang seksi sibuk di sekolah, senang membantu siapa saja, baik tenaga maupun pikiran. Dia jadi sedikit santai di kelas tiga. Sedikit.

“Kamu suka?”

“Apanya?”

“Dekorasi Natal ini.”

Sekalipun tidak diwajibkan menghias kelas, Daniel tetap berusaha mempercantiknya dengan ornamen Natal. Dia bahkan membentuk panitia dengan melibatkan orang-orang kepercayaannya.

Aya mengangguk, pelan. “Otsukaresama—terima kasih atas kerja kerasnya. Hasilnya indah sekali.”

Karena tidak menduga Aya menjawabnya dengan kata-kata manis, Daniel merasakan pipinya memanas. Namun, dia juga gembira upayanya tidak sia-sia.

Seperti biasa, sekolah mendadak ramai pada pukul setengah tujuh pagi. Murid-murid yang tidak mengerjakan PR menyatukan meja, lalu menyalin jawaban secepat mungkin. Di dalam salah satu grup, sudah ada kesepakatan siapa mengerjakan apa. Jangan sampai ada yang dirugikan. Semua harus sama rata, sama rasa. 

Kenapa tidak membentuk kelompok belajar saja? pikir Aya. 

 

***

 

Sepulang sekolah, Aya duduk di koridor. Meski sebagian besar temannya sudah pulang, karena di rumah tidak ada siapa-siapa (Dita pulang pukul lima), dia memutuskan menghabiskan waktu di sekolah, setidaknya sampai pukul tiga sore. Daniel, yang belum pulang karena dia seksi sibuk, menghampiri Aya, lalu menempelkan botol dingin diam-diam di pipinya. Aya tersentak.

“Tumben belum pulang?” tanya Daniel, masih dengan posisi berdiri. Dia memandang helai rambut Aya yang jatuh di kening ketika menerima botol pemberian Daniel.

Aya tersenyum samar. “Iya.”

Daniel melepas kacamatanya, lalu mengelapnya dengan seragam. Dia mengira ada embun di permukaan lensa, tapi sepertinya matanyalah yang bermasalah. Mungkin sudah saatnya membeli kacamata baru.

Aya mendehem pelan, lalu menjuntaikan kakinya, “Aku ingin membelikan Arella kado, tapi bingung kado apa.”

“Sebentar lagi ulang tahunnya, ya.”

Aya mengangguk. “28 Desember.”

“Kita pikirkan sambil jalan saja.”

Yuk,” Aya mendorong badannya bangkit.

“Tapi tumben kamu sendirian.”

“Iya. Arella dan Raka sudah pulang. Sarah membantu mamanya di salon.”

Setelah mengambil sepeda di pelataran, Daniel menuntunnya. Dia menjemput Aya yang menunggu di gerbang sekolah.

“Di hutan bambu ada penerbitan indie yang juga menjual buku dan pernak-pernik perbukuan. Mau ke sana? Pasti ada yang cocok untuknya.”

“Itu—di mana?”

“Hutan—bambu,” jawab Daniel, tapi akhirnya sadar jawabannya bodoh sekali. “Penduduk setempat menamainya hutan bambu, tapi sebenarnya hanya padang kecil dengan rimbun bambu di kiri dan kanannya. Di sana ada bangunan yang sudah tua. Katanya, di tahun 90-an, ketika masih berupa perpustakaan, anak-anak sering mengunjunginya. Tapi setelah berganti pengelola, banyak yang mulai melupakannya, mungkin karena jauh juga. Selain perpustakaan, mereka juga menyediakan jasa penerbitan indie dan toko buku yang penghasilan utamanya didapatkan melalui jaringan Internet.”

Aya menatap Daniel. “Kamu—sangat kenal kota ini, ya.”

“Mungkin karena aku pendatang,” senyum Daniel.

“Mungkin juga karena cinta. Cinta menunjukkan sejauh mana kita mengenal seseorang—atau sesuatu. Tanpa cinta, kita bahkan enggak ingin mencari tahu,” Aya memiringkan kepalanya, lalu tersenyum dengan mata terpejam. “Lagipula sudah lebih dari separuh hidup kamu tinggal di sini.”

“Iya, ya,” Daniel tertawa. “Kalau mau, aku bisa mengantar Aya ke sana.”

Aya mengangguk pelan. “Tapi aku enggak punya sepeda. Oh, aku bisa meminjam sepeda Kak Dita.”

Daniel menepuk sadel belakang sepedanya. “Aku bonceng saja.”

Aya memandang Daniel. Dia memegang tali ranselnya dengan dua tangan.

“Sudah lama kita enggak pergi berdua, padahal dulu sering. Bagaimana?” Kacamata Daniel sedikit melorot, tapi sepertinya dia enggan memperbaikinya. Aya menekan cuping bingkainya dengan telunjuk. 

“Kalau kamu enggak keberatan.”

“Kalau begitu, nanti aku jemput, ya?”

Aya mengangguk.

Setelah melewati perempatan jalan, Daniel dan Aya menyeberang. Di sebuah kedai yang letaknya tidak jauh dari sekolah, mereka membeli semangkuk cone es krim homemade. Harganya hanya lima ribu, tapi enak sekali. Tidak terlalu manis, dengan varian rasa yang semuanya berasal dari buah-buahan asli. Aya menyukai es krim jeruk yang justru tidak disukai Daniel.

Pengelolanya sepasang suami-istri yang tidak mempunyai anak. Mereka sudah lama berjualan es krim, bahkan sejak Aya belum lahir. Setelah sekian lama, letak kedai itu tidak berubah ataupun bertambah besar, tapi pemiliknya seolah melakoni pekerjaan terbaik di dunia.

Aya menyukai es krim dan tidak keberatan menyantapnya di cuaca apa pun, sedingin apa pun, termasuk pada bulan Desember yang sarat kabut ini. Daniel memilih segelas kopi yang dijual sebagai menu tambahan. Dia menyesapnya bahkan ketika uapnya masih mengepul.

Sesampainya di depan apartemen, Aya berjalan di pelataran. Sebelum menaiki tangga, dia menoleh sebentar. Daniel masih berdiri di depan pintu dengan gelas kertas yang sudah kosong, mencari tempat sampah. Saat melihat Aya melambaikan tangan—bukan dengan mengangkatnya tinggi-tinggi, melainkan sebatas dagu—Daniel membalasnya, pelan.

Setelah Aya menghilang di balik undakan, Daniel menaiki sepedanya. Jarak rumahnya tidak lagi jauh, hanya perlu berbelok sekali di persimpangan tanpa lampu merah. Rumahnya terletak di samping gang besar, di antara bangunan-bangunan beratap miring yang sudah tua dan sangat dikenalnya.

Sesampainya di rumah, Daniel duduk di ruang tamu. Di balik pohon yang pokok kayunya menghalangi pandangan, ada sebuah bangunan bercat putih yang dulu selalu membuatnya tersenyum tapi sekarang hanya menyisakan kesedihan.

Bekas rumah Aya.

Kalau tidak salah, beberapa minggu lalu sepasang kakek-nenek menempatinya. Dan lebih baik begitu, pikir Daniel.

Dia tidak tahan memandang jendela rumah Aya meredup dalam gelap. Dia tidak ingin belukar mengerubungi halamannya yang dulu penuh rona bunga. Kenangan pun keropos bersama dinding-dindingnya. Padahal baru beberapa bulan kosong, tapi kondisinya sudah jauh berbeda. 

 

***

 

Ketika Daniel masih kecil, tepatnya sehari setelah pindah, dia menemukan pesawat kertas di halaman depan rumah barunya. Dia hampir saja meremasnya karena mengiranya sampah. Mungkin ada yang tidak sengaja membuangnya di halaman. Ternyata, pesawat itu berisi sebaris pesan.

Hai, Aku Aya. 

Aku tinggal di seberang rumahmu.

Rumahku rumah putih nomor 18. 

Salam kenal.

Daniel lalu berdiri di belakang pagar, berusaha mencari tahu siapa ‘Aya’, tapi saat dia memerhatikan rumah putih nomor 18 di seberang jalan, dia tidak melihat siapa pun.

Pada minggu pertama pindah, sepanjang siang Daniel lebih sering berdua saja dengan mamanya. Papa baru pulang selepas petang, dengan wajah lelah dan hampir tanpa senyum. Papa menyembunyikan rasa cemas dan khawatir di benaknya, tapi semuanya terungkap jelas di matanya. Daniel merasa terasing di dunia barunya, tapi surat Aya membuatnya tak lagi terlalu kesepian. Dia selalu memakan makanannya cepat-cepat, lalu memperhatikan rumah Aya. Dia penasaran, tapi tidak berani menghampirinya.

Dia baru bertemu Aya pada hari pertama masuk sekolah.

Kelak, Aya dan Daniel sering bertukar kabar dengan pesawat kertas. Semula hanya pesan-pesan tidak berarti, gambar-gambar sederhana, jawaban pekerjaan rumah, atau permainan tanya-jawab. Tapi rasanya seru jika kami juga menuliskan perasaan dan cita-cita. Akhirnya pesawat-pesawat itu menjadi buku harian—daun-daun waktu yang menolak ranggas diremas lupa. Perlahan, mungkin karena sudah terbiasa, tidak ada lagi pesawat yang tersesat di genting. Tidak ada lagi yang menyangkut di dahan pepohonan. Semua pesawat, beserta pesan-pesan di dalamnya, senantiasa melandai tepat di kebun rumah masing-masing.

Namun, beberapa bulan lalu, Adit, kakak Aya satu-satunya, mengembuskan napas terakhir di rumah sakit. Aya yang sudah yatim piatu, menjadi sebatangkara dalam semalam saja. Dia lalu meninggalkan rumah lamanya dan tinggal bersama Dita, tunangan Adit semasa hidup—seseorang yang seharusnya menjadi kakak ipar Aya.

“Kita masih bisa bertemu, kok,” meski kejadiannya belum lama, Daniel lupa siapa yang mengatakannya.

 

***

 

Tepat pukul tiga sore, Daniel mengetuk pintu apartemen Aya. Entah kenapa dia merasa gugup, lalu merapikan kerah kemeja—kenapa aku memakai kemeja, padahal hanya bertemu Aya? Aya keluar dengan pakaian bebas. Kaos putih dan celana jins panjang, serta jaket pelangi yang senantiasa diikatnya di pinggang. Jaket Adit. Daniel yang sudah lama tidak melihat Aya mengenakan pakaian bebas, hanya mematung sebelum Aya menyadarkannya dengan mengibaskan tangan di depan mata Daniel. Hei hei. 

“Ah, maaf, aku—Aya cantik seka—”

“Daniel mau memujiku?”

Daniel mengiakan.

“Tolong jangan. Aku malu. Bajuku biasa saja, kok. Malah Daniel yang gagah.”

Di situlah masalahnya, kamu selalu cantik, apa pun yang kamu kenakan, tentu saja Daniel tidak mengucapkannya.

“Jadi pergi?”

Aya mengiakan. Tapi, sebelum berangkat, dia mengambil ponsel dan menekan sederet nomor.

“Halo, Kak, aku pergi dulu, ya? Mau cari hadiah—untuk Arella,” kata Aya. “Boleh?”

Boleh—padahal tadi sudah izin.

“Aya izin lagi, Kak, soalnya mau berangkat.”

Oke. Hati-hati, ya.

“Oke!”

Aya sebenarnya enggan dibonceng laki-laki, tapi Daniel teman masa kecilnya, jadi rasanya tidak apa-apa. Aya memandang langit, lalu menjulurkan tangannya seolah hendak menadah hujan, tapi tak ada setetes pun air yang tumpah.

Karena tak mau membuat Aya khawatir, alih-alih melewati jalan sepi perumahan, Daniel memilih jalur perdesaan yang ramai saat menjelang sore. Di sepanjang sempadan, rumah-rumah beratap miring menghiasi sisi-sisi jalan, pepohonan rindang menaungi segenap lalu. Di beberapa titik, Daniel harus memelankan sepeda, bahkan berhenti, ketika sekawanan kambing menyeberang. Sering pula ayam-ayam menyusul di belakangnya. Aya menengadah. Pohon-pohon tua menghalangi jalan matahari. Di antara rindang, berbagai burung beradu kicau. Dia merasa tersesat dalam novel-novel fantasi klasik. Apakah, entah bagaimana, aku terjebak di Shire?

Terlihat bayang-bayang padang di ujung setapak. Puluhan—bahkan ratusan—bambu meremang di sepanjang jalan. Daniel melonggarkan kayuh. Seketika, gemerincing rantai sepeda berpadu dengan embus angin yang jauh. Bagai dunia yang terisolasi, di sudut hutan, berdirilah sebuah bangunan kecil yang lebih menyerupai rumah dibandingkan toko buku. Di depannya ada papan hitam yang ditulisi kapur pusparona. Aya turun, lalu membacanya.

 

Inilah rahasiaku, sangat sederhana: Kau hanya bisa melihat jelas dengan hatimu. Hal yang penting tak terlihat oleh mata.

– Antoine de Saint-Exupery

 

Aya mengambil ponsel untuk memotretnya.

“Jadi, apa maksudnya?”

“Untuk pengunjung yang ingin menulis kutipan, pengelola toko menyediakan papan tulis. Saat terakhir aku berkunjung, kata-katanya bukan ini, tapi Carl Sagan.”

“Kamu yang tulis, ya?”

Daniel mengangguk. “Begini bunyinya: Dalam luasnya antariksa dan panjangnya waktu, bahagia rasanya bisa menempati planet dan zaman yang sama dengan Annie. (In the vastness of space and the immensity of time, it is my joy to share a planet and an epoch with Annie),” jawab Daniel. “Tapi, aku mengubah nama Annie dengan nama lain.”

“Siapa?”

Daniel tertawa, “Coba tebak. Namanya terdiri dari tiga huruf. Diawali dan diakhiri A. Kalau masih susah, ada Y juga. “

Aya tersenyum.

“Di papan masih ada bidang kosong dan di sini ada kapur. Aya mau menulis sesuatu?”

“Memangnya boleh?”

Daniel mengangkat bahu. “Begitulah aturannya.”

Aya mengambil ponsel, lalu memilih satu di antara lusinan kutipan yang dia simpan di folder catatan.

 

Sebab sebagaimana kalian memiliki mata untuk melihat cahaya dan telinga untuk mendengar bunyi, kalian juga memiliki hati untuk merasakan waktu.

– Mich—

 

Ketika ingin membubuhkan nama penulis, Aya menyadari bidang kosong masih banyak. Dia menghapus kata “Mich”, lalu lanjut menulis.

 

Sebab sebagaimana kalian memiliki mata untuk melihat cahaya dan telinga untuk mendengar bunyi, kalian juga memiliki hati untuk merasakan waktu. Dan waktu yang tidak dirasakan dengan hati menjadi hilang sia-sia, bagaikan warna-warni pelangi bagi orang buta dan kicauan burung bagi orang tuli.

– Michael Ende

 

“Indah sekali—kutipan itu,” ujar Daniel. “Tapi tak ada sisa untukku.”

“Ah, maaf,” kata Aya.

“Jangan dipikiran, ayo masuk,” Daniel tersenyum.

Lonceng kecil bergemerincing begitu pintu dibuka. Ketika memasuki ruangan, Aya menahan napas. Meskipun dari luar tampak sederhana, ternyata bagian dalam toko cukup luas—atau begitulah kesan yang ditampilkannya. Buku-bukunya tidak sebanyak di toko besar, tapi disusun rapi dalam rak tinggi yang hampir menyentuh langit-langit. Selain rak-rak pustaka, hampir tidak ada perabot lain, kecuali meja kasir yang bersebelahan dengan meja pernak-pernik. Sisanya, hanya ruang kosong yang dilapisi karpet cokelat muda.

“Ah, selamat datang. Daniel dan—” seorang perempuan menyapa dari belakang meja.

“Hai, Kak. Dia Aya.”

“Hai, Aya.”

“Selamat sore, Kak—”

“Elvira. Namaku Elvira. Tapi semua memanggilku ‘Peri’,” Peri terdiam, seolah menimbang apakah harus melanjutkannya atau tidak. Akhirnya dia berkata, “Julukan Peri diambil dari kata Elf pada namaku. Elf—ira.”

Tapi Elf bukan peri.

“Aya ingin berkatatapi Elf bukan peri’, ‘kan?” kata Daniel seraya memandang Aya dengan matanya yang jenaka.

Aya mengangguk samar.

Peri tertawa.

Setelah menyambut tamunya, seraya menyesap cokelat panasnya sesekali, Peri hanya duduk di balik meja. Dia mengambil buku di laci, lalu meletakkannya di pangkuan.

Aya dan Daniel melihat-lihat seisi toko. Sebagian besar buku bekas. Harganya sangat murah. Aya bagai berada di firdaus, tapi tetap saja dia tidak membawa banyak uang, dan rasanya aneh menjadikan buku bekas sebagai kado—padahal tidak. Jadi, dia menghampiri rak berisi buku baru. Buku-buku itu diterbitkan secara indie, dan Aya hampir tidak mengenalnya sama sekali. Daniel mengambil satu notebook cantik, lalu memberikannya kepada Aya. 

 “Bagaimana kalau ini?”

Saat melihat notebook biru dengan hiasan kerang, Aya langsung tertarik. Arella pasti suka. Namun, saat melihat harganya, dia terkejut. Harganya tiga kali lipat buku-buku bekas yang tadi Aya lihat. Aya langsung menghitung uang dalam kantongnya, lalu mendesah lega saat uangnya cukup, bahkan masih sisa untuk membeli kertas kado. Aya memilif motif paling aneh—robot Transformer, tapi latarnya pink.

“Kalau Daniel mau, aku traktir buku, ya? Sebagai ucapan terima kasih.”

Daniel tertawa kecil. “Jangan. Dan jangan ucapkan terima kasih juga.”

“Kenapa?”

“Karena aku senang melakukannya.” Rasanya seperti mengulang kenangan.

Setelah Aya membayar, Daniel memasukkan belanjaannya ke dalam ranselnya.

“Kertas kadonya tidak apa ditekuk?”

Aya tersenyum. “Tidak apa.”

Saat bersepeda melewati jalan yang rusak, Aya memberanikan diri menyandarkan kepala di punggung Daniel. Saat berangkat tadi, dia kesulitan menahan keseimbangan. Dia kaget saat menyadari, betapa pesatnya Daniel telah tumbuh. Aya pun mendongak memandang bahu lebar Daniel.

Daniel mengayuh sedikit cepat karena langit sudah menggelap. Berbeda dengan saat berangkat, karena di desa tidak ada lampu jalan, Daniel melewati jalur perumahan. Dia menunduk hormat dan berkata permisi ketika melewati pos satpam di gerbang belakang residen. Saat menjelang sore, penduduk perumahan yang biasanya bekerja di kantor, sudah pulang, lalu bermain di halaman bersama anak-anak mereka.

Tepat pukul 17.00, Daniel dan Aya sampai di depan apartemen. 

“Aku benar-benar tertolong. Pokoknya terima kasih, sekali lagi—terima kasih.”

“Dengan senang hati,” Daniel tersenyum. “Kapan-kapan, mau pergi lagi?”

Aya mengangguk, lalu menunduk di depan Daniel. Dia berjalan setengah berlari menyusuri pelataran. Sebelum menaiki tangga, dia menoleh pada Daniel dan melambaikan tangannya tinggi-tinggi, lalu menunduk sekali lagi. Tetapi segera melindungi rambutnya, sebab angin berembus kencang.

Dia cantik sekali, Daniel mendesah. Segala tentangnya indah. Daniel merasakan detak jantungnya sendiri.

Setelah Aya menghilang di ujung undakan, Daniel memutar sepedanya, lalu bernyanyi riang. Pikirannya melayang-layang bagai tak menginjak Bumi. Tahu-tahu, dia sudah sampai di rumahnya. Ketika Daniel memasuki pintu, Mama yang berdiri di dapur, memandangnya heran.

“Ceria sekali. Habis kencan dengan Aya?”

“Bukan kencan! Tapi kok Mama tahu aku pergi dengan Aya?”

“Sejak kecil, yang bisa membuatmu berwajah seperti itu—ya, cuma Aya. Benar, kan, Pa?”

“Benar. Benar.”

“Papa-Mama merestui, kok, kalau dengan Aya.”

Daniel langsung menghilang di balik pintu kamarnya.

 

Ketika bersantap sore di ruang makan, Daniel melihat wajah orang tuanya. Papa, meskipun kepalanya ditumbuhi rambut putih, tampak tidak menua sedikit pun. Senyum yang senantiasa merekah, membuat ujung mata dan bibirnya dihiasi keriput cakar burung. Kehidupan tidak pernah kembali seperti dulu, ketika mereka hidup makmur di rumah sebesar istana. Tetapi, Daniel tidak mau menukar saat ini dengan masa itu.

“Terima kasih,” kata Daniel, seraya menumpuk piring, lalu mencucinya di dapur. Setelah mengelap peralatan makan dan menyusunnya di rak, dia memasuki kamarnya.

Daniel mendesah memandang almanak. Setiap bulan Desember, sekolah Santo Wili mengadakan bazaar Natal—dimulai tanggal 23 dan diakhiri tanggal 24. Selama dua hari, kegiatan belajar-mengajar ditiadakan. Itu Natal terakhirnya di sekolah. 

Ketika membuka pintu, Daniel mendengar suara televisi di ruang tamu, sepertinya menayangkan film Natal. Tapi dia tidak ikut bergabung dengan mama-papanya. Alih-alih, dia menaiki tangga dapur. Beberapa tahun lalu, Papa menambah satu lantai di rumah, tapi hanya berisi satu kamar. Karena salah perhitungan, kamar itu menghadap genting. Di depan, terhalang genting sendiri. Di belakang, terhalang genting tetangga. 

Karena Papa memaksudkannya sebagai perpustakaan pribadi, lengkap dengan sofabed nyaman yang tidak pernah menjadi sofa setelah jadi bed, lemari buku mengisi setiap sudut dinding.

 

***

 

Karena besok libur, Aya dan Dita menghabiskan malam di ruang tamu dengan menonton televisi. Sejak pukul tujuh, salah satu kanal menayangkan film Natal yang cukup menguras emosi, tapi Aya hampir tidak menontonnya. Akhirnya, karena tidak memahami di mana serunya, tapi juga tidak mau mengganggu Dita yang sepertinya menikmati meski malas-malasan, pada sela-sela jeda iklan, yang menghabiskan waktu lima belas menit, Aya mencoba membungkus notebook-nya dengan kertas kado.

“Bagus sekali. Buat siapa?” kata Dita seraya melihat buku bersampul kerang biru yang Aya beli di toko Bukit Bambu. “Boleh lihat sebentar?”

Aya menyerahkannya pada Dita.

Dita memang menyukai notebook, dan berencana membeli yang baru setelah buku diary terakhirnya hanya menyisakan sedikit sekali halaman kosong. Dia bertanya, di mana Aya mendapatkannya. Begitu Aya menjawabnya, Dita, tentu saja, mengetahui letaknya.

“Kenapa tidak mencarinya di Gramed saja?” tanya Dita, tapi dia segera mengoreksi pendapatnya, bahkan sebelum Aya membalasnya. “Tapi, diary kerang ini benar-benar bagus. Masih ada lagi tidak, ya?”

“Masih, Kak, tapi beda jenis, tapi bagus-bagus, kok. Kakak harus ke sana,” Aya tersenyum, lalu kembali mencoba membungkus buku tersebut dengan kertas kado.

“Dulu sering ke sana, kok. Pengurusnya masih Kak Peri, ya? Umurnya lebih tua sepuluh tahun dari Kakak.”

Aya menghentikan kegiatannya sejenak. “Ya-yang betul? Aku pikir masih SMA.”

“Benar, kan? Aku juga kaget,” Dita tertawa. “Kayaknya dia abadi.”

Karena tidak terbiasa melipat kertas kado, Aya sedikit bingung. Lagipula kenapa harus pakai kertas kado kalau ada tas kado? Entah kenapa kali ini dia melanggar aturannya sendiri.

Aya membaringkan diary itu dalam posisi horisontal, lalu vertikal, kemudian jajar genjang, melipat pojok kertas, membukanya lagi. Percuma. Sebesar apa pun usahanya, dia tak jua menemukan posisi yang pas. Akhirnya, dia meminta bantuan Dita yang sudah menunggu sejak tadi seraya menahan tawa. Dita merenung beberapa saat, lalu mulai melipat kertas, merekatkannya dengan solatip, kemudian membentuknya menjadi kemeja. Semua selesai hanya dalam lima belas menit. Tanpa mampu menyembunyikan rasa bangga, Dita menyerahkannya pada Aya.

“Terima kasih, Kak.”

Mungkin karena sudah bagian klimaks, dengan akhir yang sepertinya bahagia, jeda iklan film itu lumayan lama. Dita berbaring di sofabed (yang nasibnya tidak jauh beda dengan milik Daniel: tak pernah menjadi sofa setelah menjadi bed). Aya duduk di lantai. Kepalanya disandarkan di lengan Dita. Hujan turun sangat deras ketika credit title bergulir. Tanpa tedeng aling-aling, Dita bangkit, lalu memandang Aya, “Ayo.”

“Ke mana, Kak? Tidur?”

“Beli es krim. Yuk. Mau yang dingin-dingin.”

“Tapi di kulkas ada puding.”

“Maunya es krim.”

“Lagi mode manja, ya?”

Dita mengangguk.

Aya melihat jam, ternyata sudah hampir pukul sebelas.

“Ya sudah. Yuk.”

Tetes-tetes hujan memanjang mengikuti cembung payung. Jalan sudah sepi meski sesekali kendaraan berlalu pelan. Hujan turun deras. Tidak terlihat seorang pun di taman—tentu saja. Tapi di minimarket, suasananya berbeda. Seorang perempuan yang berdiri di belakang kasir menyambut siapa pun dengan ceria.

“Selamat datang di Indoapril!”

Dita mengangguk singkat dan tersenyum, kemudian berjalan ke kulkas es krim.

“Aya mau yang mana?”

Aya mengangkat dagu dengan telunjuknya, lalu memilih es krim mangkuk. Dita mengambil es krim pelangi.

 

***

 

Esok lusa, Daniel berangkat sedikit lebih siang. Sebenarnya, ‘sedikit lebih siang’ bukan kata yang cocok, sebab sebelum pukul enam lima belas, dia sudah sampai di kelas.

Siangnya, seperti biasa, Daniel menemukan Aya duduk di koridor—sendiri. Daniel mendekatinya. Tetapi, sebelum sempat menempelkan botol dingin di pipi, Aya sudah menoleh.

“Mau bareng?” tanya Aya.

Daniel tersenyum.

Hujan turun membentuk selubung di permukaan payung. Hujan yang sama membasuh pohon-pohon ketapang di pematang jalan. Hujan membasahi rumah-rumah beratap miring yang terpotong kabel listrik. Hujan membasuh aspal jalanan. Hujan menyapu noda putih yang dimuntahkan pabrik tepung.

Mendung menggantung rendah di atas gedung-gedung tinggi. Suhu jatuh ke angka dua puluh derajat Celsius. Ketika hujan berguguran, Daniel selalu merasa menyatu dengan dunia. Di bawah kakinya, seolah ada serabut-serabut putih yang menghubungkannya dengan segalanya. Seperti pohon, pikirnya.

Pada akhir abad ke-20, para saintis menyadari bahwa pohon Akasia di Afrika Selatan memberi peringatan kepada anggota komunitasnya dengan mengeluarkan hawa kimia—teriakan berupa etilena—kepada akasia-akasia di sekelilingnya. Para pohon membuat rasa daun berubah menjadi tidak enak, dan jerapah, sang pelahap, langsung mencari makan di pepohonan lain yang lebih jauh—mencari akasia yang belum mendengar peringatan, “Awas, ada jerapah lapar!” Fakta kecil itu membuat dunia yang diketahui Daniel berubah. Bumi ini dipenuhi benang-benang tak kasatmata yang menghubungkan semuanya.

“Bagaimana melukisnya, ya?” tanya Daniel, ketika sampai di perempatan jalan. Aya memandangnya dengan heran.

“Melukis apa?”

“Pemandangan ini. Curahan hujan ini, yang menetes di cabang ketapang itu. Jalanan yang menangis ini, yang menyampaikan perasaan entah-apa di hati. Kabut muram ini, yang mengiringi gerimis, seolah menyembunyikan isi hati daun-daun gugur ketika hujan membasuh,” desah Daniel. “Terkadang, aku iri pada pelukis, yang mampu melihat segalanya dengan lebih rinci dan saksama. Di desa yang kita lewati kemarin, ada seorang pelukis yang saking seringnya melukis, sesuatu terjadi pada matanya. Dia melihat garis dan bidang di mana pun pandang teralih. Awalnya, dia takut, sangat takut, tapi lama-lama dia terbiasa. Itu memudahkannya menggambar.”

Aya, yang tidak tahu hendak mengatakan apa, hanya mendengarkan. Tetapi Daniel tidak merasa diabaikan. Dia tahu Aya mendengarkan, tapi tidak tahu bagaimana Aya membuat Daniel tahu. Mendengarkan adalah seni yang sulit, bakat yang hanya dimiliki segelintir orang, dan Aya mengusai bakat itu lebih dari siapa pun.

Ketika sampai di apartemen, Daniel mengantar Aya menaiki undakan. Sebelum Aya membuka pintu, dia memintanya menunggu. Daniel mencari sesuatu di dalam tasnya, lalu mengambil sebuah kotak dan membuka tutupnya. Di dalamnya, ada kalung bintang yang cantik. Bintang itu memantulkan kilau hijau yang teduh dalam naungan matahari mendung. 

“Giok?”

Daniel menggeleng. “Batu olivin.”

“Olivin?”

“Tadinya aku membelinya untuk dipakai sendiri. Tapi, setelah barangnya sampai, rasanya lebih cocok buat Aya,” Daniel tersenyum. “Ini batu olivin. Goldschmidt percaya batu ini berperan penting dalam asal-usul kehidupan. Aku ingin memiliki setidaknya sebagian kecil batu itu, dan kebetulan ada yang menjualnya sebagai perhiasan.” 

“Goldsm—itu siapa?”

“Goldschmidt. Ilmuwan Jerman Yahudi yang hidup pada zaman Hitler. Ketika Hitler mewajibkan semua orang mengumumkan silsilah Yahudi-nya, alih-alih berusaha menyembunyikannya, Goldschmidt berkata bahwa semua leluhurnya Yahudi. Karena itu, Hitler dan Hermann Goring, pendiri Gestapo, memecatnya dari jabatan di universitas. Goldschmidt kabur ke Norwegia dengan hanya membawa pakaian yang melekat di tubuhnya.

“Victor Goldschmidt tertarik pada batu olivin—permata hijau peninggalan pembentukan tata surya yang dipercaya berperan penting bagi asal-usul dan evolusi kimia kehidupan. Ketika meninggal pada 1947, salah satu permintaan terakhirnya adalah dikremasi, lalu abunya disimpan dalam guci yang terbuat dari bahan yang dia anggap bahan kehidupan—batu olivin yang dicintainya.

“Meskipun sejarahnya panjang, batu olivin ternyata murah,” Daniel tertawa, kikuk. “Tapi semoga kamu suka.”

“Un—tukku? Sungguh?”

Daniel menyentuh punggung tangan Aya, lalu meletakkan kotak itu di telapak tangannya.

“Tadi aku sudah menjelaskan kenapa olivin, tapi Bintang ini juga punya makna yang indah. Ia adalah pengingat bahwa kita hidup di planet rapuh yang mengelilingi sebuah bintang di angkasa. Dengan menyadari ini, percayalah, hidup akan jadi lebih berarti.”

Daniel bingung ketika melihat Aya menangis. “Terima kasih,” katanya. “Terima kasih.”

 

***

 

Meskipun persiapannya cukup panjang—hampir sebulan, bazaar itu terasa singkat. Sarah menghampiri Aya yang berjalan di antara stan-stan makanan—meski tidak membeli apa pun. Gerimis gugur dengan sangat hati-hati sehingga nyaris tak terlihat.

“Apa kabar, Aya?” Sarah menepuk pundak Aya—membuat gadis itu mengangkat bahunya kaget.

Aya berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. “Kabar baik. Kamu?”

Sarah mendesah, “Capek. Salon ramai sekali.”

“Sini, aku pijat,” Aya berjalan ke belakang sahabatnya, lalu menekan lembut pundaknya. Sarah tertawa.

Sarah mengajak Aya berhenti di stan es krim—karena hanya di sanalah yang sepi. Lagipula, siapa yang mau menyantap es krim di cuaca dingin begini? Aya mau. Dia menyapa pemilik kedai yang ternyata sama dengan kedai yang biasa dia datangi. Aya memesan es krim jeruk, sementara Sarah cokelat.

Seraya duduk di bangku yang berjejer rapi di gugusan jalan, Aya menyapukan pandang dan mencari Daniel. Sia-sia. Yang terlihat justru Arella dan Raka—bergandeng tangan malu-malu. Arella, saat menyadari kehadiran Aya, segera menyusulnya, lalu memberinya segelas kopi hangat. Gerimis yang turun malu-malu hampir menjadi deras, tapi kanopi dan dahan-dahan pepohonan melindungi mereka. Hujan mendentingkan nada muram di seluruh kota. Aya jadi teringat pertanyaan Daniel.

Bagaimana melukisnya, ya?

Kota yang menangis itu.

Jalan yang bersedih itu.

Di ponselnya, Aya merangkai sebait sajak.

 

ajari aku

melukis tetes air

di cabang ketapang itu.

jalanan menangis.

kabut muram.

hujan kelabu membasuh kota.

aspal berkilauan.

langit menggantung rendah

di atas gedung-gedung tinggi.

burung-burung beterbangan

satu per satu meninggalkan

tiang lampu.

di sini aku duduk

merasa bersalah pada sesuatu

yang entah apa namanya.

 

“Ini bazaar terakhir kita di sekolah ini, ya?” bisik Aya, nyaris tak terdengar.

“Kalau lulus,” jawab Arella, enteng.

“Jangan—merusak—suasana,” Raka mencubit pipi Arella.

Aya tertawa.

Berakhirnya masa SMA seolah menjadi babak baru dalam hidup mereka. Aya, Sarah, Raka, dan Arella, sudah bersama sejak kecil. Tapi, sebentar lagi mereka akan sampai pada episode yang benar-benar berbeda—yang membuat mereka tak lagi bisa bertemu semudah ini.

“Bagaimanapun, saat ini kita masih di sini. Esok biarlah menjadi misteri—enggak usah kita pikirkan sampai saatnya datang,” ujar Raka, bijak.

“Iya.” 

Sesudah bazaar, ada Misa Malam Natal di Gereja. Aya menunggu Dita di gerbang sekolah. Yang ditunggu datang tak lama kemudian. Seraya memagut lengan kakaknya, Aya melambaikan tangan pada Sarah, Raka, dan Arella. Aya mencari-cari Daniel yang tak terlihat di mana pun. Pasti ikut membereskan sisa bazaar.

Di Gereja, Aya melihat teman-temannya sudah berkumpul di beberapa baris bangku. Meski di luar hujan turun lebat, ibadah berlangsung hikmat. Hujan berhenti tepat pada akhir Misa.

Setelah beribadah, para murid merayakan Natal di aula. Saat melihat seisi sekolah mengenakan busana bebas, Aya merasa heran, padahal dia sendiri memakai kaos SMILE dari band L’Arc~en~Ciel. Sebenarnya acara Natal di sekolah selalu sama setiap tahun—menyajikan pertunjukan drama dan musik, pidato singkat kepala sekolah, dan ramah tamah sederhana. Namun, entah kenapa selalu dinanti.

Saat Aya mengikuti jalannya acara dengan mata nyaris terpejam, Daniel menghampirinya.

“Hai.”

Aya membalasnya dengan lambaian tangan pelan dan senyum.

“Mau keluar?” 

“Boleh.”

Di halaman, angin berembus lembut. Aya menajamkan pandang dengan harapan dapat menemukan setidaknya sebaris kerlip—dan berhasil. Setelah matanya terbiasa, dia menyadari langit tak sepenuhnya gelap. Ada sepercik kilap di utara, berkedip teratur, seolah mengikuti ketukan walsa. Polaris,  pikirnya samar. Sepercik lelatu di luas semesta.  Kemudian satu kilap lagi—lindap. Dan satu lagi—lebih terang. Dan satu lagi—sangat terang. Tahu-tahu, mengilaulah puluhan bintang membentuk titik-titik permata bagai lagu anak tradisional— twinkle twinkle little star.

“Terkadang, saat cemas menghampiri dan aku merasa kecil dan tak berdaya, memandang langit bisa menjadi obat yang mujarab.”

“Memangnya, ada yang lagi Aya cemaskan, ya?”

“Untuk saat ini, hampir segalanya. Masa depan seperti apa yang akan kujelang, ya? Akan jadi apa aku nanti?”

“Kalau begitu, jentikkanlah juga jari Aya.”

Aya mengerutkan kening, tapi dia menuruti kata-kata Daniel. Dia menyatukan ujung jari tengah dan jempolnya, lalu menekannya. Karena tidak berhasil, dia mencobanya sekali lagi. Ctak! Suaranaya tidak terlalu keras, tapi Daniel tersenyum puas.

“Apa? Ada apa?” Aya menjentikkan jarinya berkali-kali.

“Nah, saat cemas menghantui, ingatlah bahwa — setiap kali kamu menjentikkan jari, seribu tata surya baru tercipta.

“Jadi, bisa jelaskan dengan bahasa manusia?” Aya meletakkan kedua tangannya di punggung, lalu memiringkan tubuhnya sedikit.

“Untuk membentuk tata surya, Alam Semesta hanya memerlukan beberapa juta tahun.”

Daniel berhenti sejenak, berusaha mengingat susunan kalimat di buku yang dulu dibacanya.

“Daniel, aku masih belum mengerti.”

Ehem. Untuk membentuk tata surya, alam semesta memerlukan waktu beberapa juta tahun. Meskipun masa pembentukannya panjang, bukan berarti jarang terjadi. Galaksi Bimasakti melakukannya sekali dalam sebulan. Dan Bimasakti bukan satu-satunya Galaksi di alam semesta ini. Ada satu triliun galaksi lain—dan ada seratus juta triliun bintang di masing-masing galaksi. Karena itu, ribuan tata surya baru bisa terlahir kapan saja, setiap detik,” kata Daniel. “Saat aku merasa tak berdaya, seolah melakukan pertunjukan paling agung di muka Bumi, aku memandang langit, mengangkat jariku, lalu menjentikkannya.”

“Jadi, ketika aku menjentikkan jari,” Aya tertegun.

“Seribu tata surya baru tercipta.”

“Dan jika aku menjentikkannya lagi—” Ctak!

“Seribu lainnya terlahir.”

“Seperti sihir.”

“Tidak. Bahkan melampaui sihir—” Daniel menghentikan kata-katanya. Tak seperti biasanya, langit cerah. Tak ada satu pun awan menaungi. Saat memandang bulan, dia setengah melamun berkata,

“Apa pun yang terjadi nanti, kita selalu memiliki saat ini, seutuhnya. Dengan segala keagungannya. Hidup selalu mampu menciptakan keajaiban, melampaui yang sanggup kita bayangkan.”

“Kalau kamu mau membuatku terkesan, kamu berhasil,” ujar Aya, seraya mengikuti mata Daniel. Dia berharap mendengar suara tawa, tapi dalam jenak yang seolah abadi, hanya ada keheningan.

“Bulannya indah, ya?” tanya Daniel, akhirnya, setelah jeda yang cukup lama. Tidak, bulannya sama seperti kemarin dan esok, tapi karena kau di sisiku—

Aya tersenyum.

“Iya. Bulannya indah.”

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!