Di Hadapan Samudra Pasifik
33.3
3
260

Kamu menginginkan sesuatu? tetapi yang kamu dapatkan tidak sesuai keinginanmu? cerpen ini akan bercerita tentang mencoba menerima takdir yang telah terjadi. Mau ataupun tidak kau harus menerimanya. Bagaimanapun ini takdirmu sekarang.

No comments found.

Pukul 07:00 Devita tiba di lingkugan baru dengan bangunan-bangunan yang cukup besar . Lingkungan itu dipenuhi manusia-manusia yang hanya akan keluar dari sini dengan membawa gelar untuk menambah nama. Apapun tujuan mereka untuk mendapatkan gelar itu, mereka sekarang sedang bersama-sama sibuk menuju ke sana, sibuk menyelesaikan tugas-tugas mereka hingga sampai pada hari pemberian gelar itu, wisuda.

Devita memejamkan mata, mengatur nafas baik-baik, kemudian tersenyum. Ia memaksakan kakinya melangkah pasti kedalam lingkungan yang masih terasa asing baginya. Sesampainya di kelas ia menyapa beberapa orang yang telah dikenalinya sewaktu ospek dan dibalas ramah oleh mereka. Ia mencoba berdamai dengan keadaan ini dan menerimanya. Ini adalah hari pertama kuliah Devita. Sebelumnya Devita tak pernah berpikir untuk berada di tempat ini dan kuliah di universitas seperti ini. Kegagalan-kegagalan yang menimpanya selama ini dan keinginan-keinginannya yang tak kunjung tersampaikan, menuntutnya untuk berada di sini. 

“Hmm, ternyata tak semenyeramkan yang kupikirkan,” batin Devita dalam perjalanan pulang.

Hari pertama kuliah Devita berjalan lancar tanpa suatu hal buruk yang ada di otaknya terjadi. Sesampainya di kamar kostnya, ia mengotak-atik ponselnya untuk mencoba beberapa bisnis online dan mempelajari materi kuliahnya. Hari ini Devita akan benar-benar memulai kehidupan barunya.

Seminggu sudah Devita lalui dengan lancar. Berteman baik dengan semua temannya, dikenal baik dengan dosen, menyelesaikan semua tugas-tugas meski kadang membuat otak mendidih dan menemukan tempat terasyik di kampus yaitu perpustakaan. Di sana ia merasa sangat tenang dan dapat mengerjakan semua tugasnya dengan lancar.

“WAAAAAAAAH. Keren keren keren!” ucap Devita kegirangan saat menatap layar leptopnya.

Devita baru saja mendapatkan hasil dari bisnis onlinenya untuk pertama kali. Walau jumlahnya belum banyak, tetapi cukup membuatnya merasa senang dan lebih bersemangat menjalankan bisnisnya itu.

Bulan demi bulan pun Devita lewati tanpa sempat mengeluhkan tempat yang sebelumnya tidak ia inginkan. Ia terus disibukkan oleh tugas-tugas kuliah, mengikuti kelas bahasa Inggris, dan mengurus bisnis onlinenya. Sampai pada akhirnya satu semesterpun akan berakhir tapi justru Devita dibuat ingin menjerit-jerit oleh tugas-tugas yang terus berdatangan tanpa memita izin terlebih dahulu.

“AAAAARRRRG.” 

Semester satu telah berahkir, tapi Kali ini Devita justru benar-benar menjerit sekeras yang ia bisa, hingga tak peduli dengan tatapan orang yang keheranan mendengar jeritanya. Devita masih terkejut degan apa yang ia lihat. Matanya membulat hebat, mulutnya terbuka, sedang kedua tanganya berada di kepala.

“IP 3,30” itu yang ia liat. Devita masuk di jurusan yang cukup sulit, yaitu EKONOMi. Selama sekolah ia tak pernah mendapat nilai Matimatika di atas 5, di ijazah SMA-nya semua nilainya dalam katagori kurang, hanya satu yang masuk dalam katagori cukup itupun bahasa Indonesia. Dan sekarang, IP 3,30 itu memang terlalu sulit dipercaya. Setelah menjerit degan sangat keras, Senyum paling ceria terukir manis di bibir Devita. Kini Devita bisa menyambut liburan semester dengan sangat bahagia seperti pelajar lainya, ia memutuskan untuk mengisi liburanya dengan mengelilingi kota ini agar lebih mengenalnya dan menemukan lebih banyak lagi hal yang ia sukai dari kota ini.

 Tempat kaki Devita berdiri saat ini adalah ibukota salah satu provinsi di Indonesia, termasuk dalam pulau terbesar di dunia, tapi di sini tak seramai ibu koa Negara bahkan jauh dari kata ramai, dan kampus utama tempat Devita kuliah ini berhadapan dengan samudra Pasifik. Selama liburan semester ini ia harap kota ini mampu menaklukkan hatinya dan membuatnya jatuh cinta seperti Jogja.

Liburan semesterpun berakhir. Jalanan telah ramai dipenuhi manusia dari segala macam kalangan, tingkah mereka di belenggu sibuk namun wajah mereka di hiasi keceriaan serta semanggat menyambut semester baru. Namun, Devita justru hanya menatap kesibukan itu di balik jendela kamarnya sambil menikmati susu putih panas. 

“Lho baru mau berangkat Kak?” tanya pemilik kost keheranan.

Sekitar jam delapan lewat Devita baru keluar dari kamar sambil menggunakan sepatu dengan santai. Hal itu tentu saja membuat orang yang terbiasa melihatnya keherenan. Devita selalu berangkat tepat pukul setengah tujuh, tak pernah kurang ataupun lebih dari itu.

“Iya.” jawab Devita tanpa memberi penjelasan.

“Devita berangkat ke kampus dulu ya bu,” pamit Devita dilengkapi senyum ramah.

Ia memilih berjalan kaki karena masih ada satu setengah jam sebelum kelas dimulai. Jarak kostnya sampai ke kampus sekitar satu kilometer. Saat langkahnya hanya tinggal satu meter dari gerbang utama kampus ada sesuatu tak terduga terjadi.

“AWAAAAAAAAAAAAAAAS” teriak beberapa orang disertai jeritan-jeritan histeris membuat Devita refleks menoleh. Seketika jantungnya berdetak kecang, tubuhnya gemetar hebat melihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi tepat berada sekitar dua ratus meter di hadapannya. Dengan kaki yang masih bergetar ia berusaha lari menghindar. Saat berlari, Devita keheranan melihat seorang pria yang sepertinya tidak menyadari kehebohan itu. Pria itu tengah berjalan santai sambil mengamati ponsel di gegamannya dengan headsetdi telinganya dan itu membuatnya tidak menyadari kehebohan di sekitarnya. Devita langsung berlari menghampiri pria itu dan menariknya sekuat tenaga menghindar jalur yang akan dilalui mobil tanpa kendali itu. 

Tepat setelah Devita menariknya, mobil itu meleset sangat laju di hadapan mereka dan berakhir menabrak gerbang utama kampus. Devita menarik pria itu terlalu kuat sehingga membuat mereka hampir terjatuh. Hal ini tentu saja membuat pria itu tersontak kaget karena belum memahami situasi yang terjadi. Warga yang sedari tadi sudah heboh segerah menghampiri mobil itu. Menyadari dirinya hampir terlambat, Devita berlari meninggalkan pria itu yang masih berusaha memahami situasi yang sedang terjadi, melewati kerumunan di gerbang kampus dan mengebrangi  luasnya lapangan hingga sampai di depan kelasnya. Sesampai di kelas, Devita meminum air mineralnya sambil mengatur nafasnya yang hampir habis saat berlari.

“Tumben telat.” komentar Ayu, teman sekelas Devita.

Belum sempat Devita menjawab, seorang pria dengan sebuah leptop di tangannya memasuki kelas yang membuat semua mata tertuju padanya. Setelah pria itu duduk di bangku dosen, seluruh mahasiswa di kelas baru menyadari bahwa ia adalah dosen baru pengganti Pak Alfa, dosen Matematika yang sudah pensiun. Setelah pria itu memperkenalkan dirinya, senyum bahagia terpasang manis di bibir semua mahasiswa di kelas itu.

KAMIL YAHYA, usia 28 tahun, dosen Matimatika di Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis, dengan wajah tampan di atas rata-rata serta gaya bicara yang sangat jelas dan menyenangkan yang tentunya dapat membuat semua mahasiswa lebih mengerti mata kuliah yang menyeramkan itu. Tentu saja Devita juga merasa sangat senang dengan hadirnya dosen seperti itu. Sejak dulu ia selalu percaya kalau kunci memahami suatu pelajaran adalah gurunya.

Saat keluar kelas, Devita melihat Pak Kamil tengah berbicara dengan seorang dosen. Karena

Devita akan melewati dosen-dosen itu, membuatnya harus menyapa mereka. Saat menyapa, Pak Kamil memintanya mengambil barang yang ada di mobilnya dan tidak lupa mendiskripsikan bentuk mobilnya yang tentu saja Devita belum tau. Setibanya di parkiran, Devita langsung menemukan mobil Pak Kamil tetapi saat ia sudah dekat dengan mobil itu ia melihat ada seseorang di dalamnya. Dengan ragu Devita mengetuk kaca mobil itu. 

“Permisi ini mobil Pak Kamil ya?”  tanya Devita memastikan.

Pintu mobil di buka dan ternyata seorang pria muda sebaya dengannya yang ada di dalam mobil.

Setelah pria itu menganguk, Devita langsung menjelaskan tujuannya.

“Pak Kamilnya kemana?” tanya pria itu sambil memberikan barang yang dimaksud

“Di kantin.” jawab Devita. Tadi Pak Kamil memintanya mengantar ke sana.

Devita kemudian mulai menuju ke kantin tetapi baru beberapa langkah tiba-tiba pria tadi menghampirinya.

“Eh ada apa? Barangnya salah? Ada yang ketinggalan?” tanya Devita kebingungan.

“Enggak. Mau ke kantinkan. Aku ikut,”  jawab pria itu santai 

“Kamu yang narik aku tadi pagi `kan?” tanya pria itu saat mereka mulai berjalan

Langkah Devita langsung terhenti, ia berusaha mencerna perkataan yang baru saja ia dengar. Perkataan itu terlalu tiba-tiba sehingga membuatnya sulit mengerti. Otaknya dibuat perpikir lebih cepat sambil menatap pria itu, ia yakin ini pertama kalinya ia bertemu dengannya.

“Tadi pagi ada kecelakaan di depan kampus, kamu narik saya untuk menghindarinya” pria itu menjelaskan.

Devita menganguk anguk mengerti walau masih terasa aneh karena tadi pagi ia tidak melihat wajah pria itu. Mereka pun berjalan sambil berkenalan hingga sampai di kantin dan berbincang sejenak dengan mereka. Dari perkenalan dan obrolan singkat itu Devita pun tau bahwa pria itu bernama Rafa, keponakan Pak Kamil, mahasiswa Kedokteran dan seangkatan dengannya

Jam setengah tujuh malam, Devita masih berada di perjalanan. Hari ini berakhir sangat melelahkan tetapi Devita tersenyum lega, ia bertambah yakin kuliah Matimatikanya akan berjalan lancar mulai semester ini karena Dosen asyik itu telah mengenalnya. 

Masa perkuliahanpun akan segerah berakhir, sidang skripsi telah ditakklukkan, kini waktunya memermak tubuh yang sudah tak berbentuk selama pengerjaan skripsi. Tiga setengah tahun itulah waktu untuk sampai di sini. Sore itu Devita duduk di bangku taman memandangi orang-orang yang berseliweran, sibuk dengan kesibukan masing-masing tanpa mempedulikan Devita yang sedang sendirian menatap mereka. Tubuhnya di sana, matanya menatap apa yang ada di hadapannya tapi tidak dengan pikirannya. Memikirkan Tiga setengah tahunnya yang dihabiskan waktu di tempat itu tanpa menbiarkannya menjenguk sisi-sisi lain di bumi. Ia telah dibelanggu kota ini. Hanya sekali orang tuanya mengunjunginya dan ia sukses membuat orang tuanya pergi lagi hanya dalam waktu seminggu. Ia menjamu orang tuanya dengan bukti-bukti manis yang selalu ia sampaikan di telepon dari lingkungan kost yang baik, kuliah yang menyenangkan, manusia sekitar yang ramah dan hasil yang cukup dari bisnis-bisnis yang dia kerjakan. Sejak semester tiga ia tak pernah lagi meminta uang pada orang tuanya tapi jika dikasih tentu saja ia terima dengan suka cita. Beberapa kali orang tua, saudara, dan teman memintanya berlibur, menemui mereka dan keluar sejenak dari tempat itu. Sekarang bukanlah biaya yang menjadi penghambat, uang selalu ada dan untuk perjalanan juga cukup tapi sebagai manusia tidak akan pernah merasa cukup apalagi mahasiswa. Devita memilih mengalokasikan dana itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai mahasiswa. Masalah rindu tak pernah singgah di hatinya, jika rindu itu berani menyelinap masuk, otaknya akan segerah mengusirnya dengan sangat kasar. Ia telah bermusuhan dengan rindu sejak lautan menyeretnya ke tempat-tempat yang tak menentu hingga membuatnya kehilanggan rencana-rencana yang ia telah tentukan. Ia tak pernah merindu sejak itu. Keadaan yang membuatnya seperti itu tapi seolah mereka menyalahkannya. Apalagi saat tahun pertama ia lulus SMA, hatinya hancur, mentalnya melemah, semua meragu bahkan dirinya sendiri, sulit percaya pada dirinya. Setahun yang membuat kepala dan otaknya menjelma menjadi jantung, karena terlalu sering berdenyut. Dunianya hancur berantakan akibat planning       terbesar dan satu-satunya dalam hidupnya gagal total, bukan hanya sekali tapi bertubi-tubi. Tahun itupun berakhir di tempat ia berada saat ini.

“Kau telah membunuh ragu-ragu itu dengan sangat cantik, Devita.“

Sudah sejak tadi sebuah ponsel terus saja berdering tapi tak kunjung mendapat perhatian pemiliknya. Ia sedang asik tengelam dalam pemikirannya. Devita pun akhirnya menatap layar ponselnya itu saat menyadari langit mulai berwarna jingga. Banyak sekali spam dari grup dan teman-temanya untuk mengajaknya partymerayakan kelulusan mereka.

Devita memasuki aula tempat mereka mengadakan party​​. Ia merasa aneh melihat banyaknya mahasiswa yang ada di sana. Ini adalah party ​​khusus untuk Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis, dan selama kuliah ia belum pernah melihat mahasiswa Fakultas itu sebanyak ini.

“Kok bisa sebanyak ini sih? Ini beneran anak Ekonomi semua?” tanya Devita kepada Ayu yang sudah berada disana. Pandangannya menyapu seisi aula.

“Iya dong. Anak Ekonomi emang sebanyak ini, Devita. Lagian ini kan party  terakhir kita, ya harus kayak gini,” jawab Ayu heboh sendiri.

“Ini beneran anak Ekonomi semua?” tanya Devita sekali lagi. Pandanganya menangkap sosok yang tak asing tetapi bukan dari Fakultas Ekonomi.

“Iya, Devita.” 

“Terus itu siapa? Dia bukan dari fakultas kita `kan?” tanya Devita sambil mengarahkan pandangannya pada pria yang berada di tengah aula.

“Oh itu tadi dia datang sama Alan,” jawab Ayu setelah fokus menatap pria itu selama beberapa saat. Alan adalah teman sekelas mereka.

“Eh bentar deh, kenapa kamu bisa seyakin itu kalo dia bukan dari Fakultas kita? Kamu kan gak kenal semua anak Ekonomi” tanya Ayu keheranan

Devita segera berjalan meninggalkan sahabatnya tanpa menjelaskan apapun. Tentu saja Devita mengenal pria itu tapi ia tak memiliki hubungan apapun dengannya mereka hanya beberapa kali bertemu, itupun tanpa disengaja. Pria itu adalah Rafa. Devita merasa tidak perlu menjelaskan pada sahabatnya karena pasti akan menjadi sebuah gosip yang heboh. Ayu telah menjadi sahabatnya sejak semester pertama. Mereka sudah sangat mengenal satu sama lain walau mereka hanya bertemu di kampus. Setiap kali ada Ayu selalu ada kehebohan di sana, ia selalu membawa gosib dan selalu sukses menjadikannya kehebohan. Sedangkan Devita sama sekali tak pernah tertarik dengan yang namanya gosip itu. Hal itulah yang selalu membuat Devita kesal, tetapi sahabatnya itu cukup paham sehigga jarang memberikanya kabar-kabar tak jelas itu kecuali jika senggaja membuat sahabatnya kesal.

Party berakhir sangat larut dan satu persatu mulai meningalkan aula. Devita juga segera keluar, ia keheranan dengan dirinya sendiri mengapa bisa masih berada di sana sampai acara selesai.

Awalnya ia tak punya niatan ikut acara ini dan ini adalah party ​​pertama yang ia hadiri.

“Ayu, anterin aku pulang ya?” pinta Devita. Walau terbiasa pulang sendiri, ia tak pernah pulang selarut ini.

“Cih. Kenapa? Devita takut? Biasanya juga kalo ditawarin selalu nolak,” sindir Ayu 

“Ayu, ini udah malem banget. Ya udah kalo gak mau nganterin, gak pa-pa”

“Iya-iya, yuk naik.” Ayu tersenyum puas berhasil membuat sahabatnya kesal 

Ketika Devita akan menaiki motor, dua orang menghapiri mereka. Mereka adalah Alan dan Rafa. 

“Oh iya hampir aku bawa pulang,” kata Ayu pada Alan sambil merogoh tasnya, mencari sesuatu.

“Nih kuncinya.” Ayu menberikan sebuah kunci mobil pada Alan.

“Kalian udah mau pulang? Devita kostnya barengan juga ya sama Ayu?

“Enggak. Ini Devitanya aja yang lagi manja minta dianterin” jawab Ayu melebih-lebihkan dengan sengaja

“Ih kalo gak mau nganterin ya bilang,” omel Devita sambil memasang wajah cemberut dan diikuti tawa Ayu yang puas mengoda sahabatnya.

Seseorang di samping Alan akhirya membuka suara, menawarkan diri untuk mengantar Devita pulang. Hal itu, Sontak saja membuat Ayu dan Alan bahkan Devita sendiri pun terkejut apalagi dengan pangilan Vityang seolah terdengar akrab.

Melihat Ayu yang sepertinya mulai menyadari sesuatu, Devita langsung menganguk setuju tawaran Rafa. Itu satu-satunya pilihan untuk menghindari sahabatnya. Devita dan Rafa pun segerah berlari meningalkan kedua makhluk yang mulai berteriak-teriak meminta penjelasan. Tak ada yang tau mereka saling kenal, mungkin hanya Pak Kamil. Mereka hanya bertemu beberapa kali itupun saat mereka sedang sendiri sehingga tak ada teman mereka yang tau bahwa mereka saling kenal.

Kesekon harinya Devita tergesa-gesa ke kampus karena bangun kesiangan . Hari ini para mahasiswa yang akan wisuda harus mempersiapkan hal-hal berkaitan acara wisuda yang akan diadakan seminggu lagi. Devita benar-benar sangat sibuk hari ini, bukan hanya mengurus persiapan wisudanya tapi juga menghadapi Ayu yang terus meminta penjelasan tentang Rafa, belum lagi harus menjemput orang tuanya yang akan datang malam ini  untuk menghadiri acara wisudanya. 

Hari wisudapun akhirnya tiba. Para wisudawan itu sepertinya sukses memermak tubuh mereka terutama wajah. Mereka hari ini tak bisa disebut lagi mahasiswa kusam, lusut atau apalah. Mereka bahkan lebih tampan dan cantik dari pada menjadi pengantin. Tak lupa senyum paling bahagia terpasang sempurna pada semua orang yang berada di ruangan itu.

 “Devita Fidelia, Sarjana Ekonomi.” Suara pangilan itu membuat jantung Devita yang sudah sejak tadi berdetak cepat itu seakan ingin meloncat keluar, ia benar-benar gugup, tubuhnya kaku dan bulir air mata pun jatuh dari matanya. Saat ini adalah yang paling diinginkanya sejak lama, bahkan jauh sebelum dirinya kuliah dan waktu untuk sampai di sini pun terasa sangat panjang walau Devita termasuk cepat menyelesaikan S1-nya tetapi baginya waktu sampai di sini sangatlah panjang. Ia menagis haru akan dirinya sendiri yang telah bertahan dan melewati banyak masa-masa menyebalkan. Semua kata yang ingin diunggkap saat mereka meremehkan dan meragukannya sudah bisa ia teriakan dengan lantang sekarang tetapi Devita sudah sangat puas, jadi ia hanya memilih menunjukkan senyum bahagianya pada mereka. 

Kini mereka sibuk berpelukan, mengucapkan selamat, memberikan buket dan hadiah dan tak lupa berfoto ria. Semua sibuk berbahagia saat ini. Setelah berfoto ria dengan teman-temannya, Devita kembali menghampiri orang tuanya dengan wajah berseri-seri dan tangannya yang penuh dengan buket-buket kecil. Ibunya memeluknya dan menagis, terharu, bangga, menyesal sempat tidak mengizinkanya kuliah di tempat yang ia suka dan juga sempat ragu padanya.

Sekarang apakah Devita kecewa karena menjadi sarjana di sini? tempat yang tidak ia harapkan sebelumya. Tidak sama sekali. Ia sangat berterima kasih pada semua yang membuatnya berada di sini. Devita telah mendapatkan banyak hadiah paling menyenangkan yang belum tentu ia dapat di tempat lain. Kuliah dengan lancar, IPK yang selalu stabil, lulus dengan cepat, dapat memenuhi kebutuhan hidup dengan biaya sendiri, dan orang-orang yang selalu baik dengannya.

 

Hadiah-hadiah itu tidak berhanti di situ, ada satu hadiah lagi dari tempat ini yang mengusulnya setelah ia pergi. Hadiah ini adalah hadiah paling menyenangkan tapi lebih tepatnya disebut takdir yang sempurna. Takdir itu ialah pertemuan dengan jodohnya di tempat yang berhadapan dengan samudra Pasifik itu. 

Dua tahun setelah kelulusanya, Rafardhan datang menemui dan melamarnya. Devita yang tak punya alasan menolak itupun menerima lamaran seorang pria yang telah menjadi dokter spesialis gizi itu. Ya, seorang Rafa yang ia tarik untuk menghindari kecelakan di depan kampus dulu dan juga keponakan dari dosen favoritnya itu kini menjadi jodohnya. Jadi bagaimana bisa Devita membenci tempat itu, tempat yang kini membuatnya tak berhenti bersyukur atas nikmat yang diberikan padanya.

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!