DIRGANTARA
136
84
0.9K

Anggara Alvaro Dirgantara, anak seorang perwira TNI AU sekaligus siswa paling disegani seantero SMA Bina Nusa lantaran sikapnya yang sangat tidak ramah. Hingga ia dipertemukan oleh seorang gadis bernama Lana yang mampu mengubah hidupnya.

No comments found.

Suara decitan mobil itu terdengar cukup nyaring hingga membuat telinga orang disekelilingnya berdengung. Mobil ferarri portofino itu terlihat paling mencolok berhenti di jejeran parkiran paling pojok. Iya, mobil berlambang kuda jingkrak itu berada tepat di bawah pohon cemara yang cukup besar.

Mungkin bagi sebagian besar orang merasa bangga untuk bisa mengendarai mobil bermesin setara dengan 600 kuda tersebut. Tapi tidak begitu pada seorang Anggara Alvaro Dirgantara, atau yang biasa dipanggil Dirga. Hari ini merupakan hari pertamanya mengendarai mobil berkapasitas 3.855cc tersebut. Dirga sengaja menggunakan mobil dihari pertama pembelajaran semester baru, karena motor kesayangannya sedang berada di bengkel.

Tampak suasana parkiran mendadak heboh dengan beberapa pasang mata yang menatap kedatangan mobil berwarna merah tersebut. Sebagian besar dari mereka mungkin bertanya-tanya siapa orang yang berada di dalamnya. Dirga keluar sembari menyelempangkan tas ransel di bahu kirinya yang kokoh, sedangkan tangan kanannya memegang almamater hitam berlambangkan SMA Bina Nusa.

Langkah kakinya menyelusuri seisi koridor yang dipenuhi beberapa siswa maupun siswi yang berlalu ralang. Mata elangnya berusaha mencari keberadaan namanya di sebuah mading besar yang berada di koridor masuk, dan ternyata ia mendapatkan kelas 12 IPA 1.

Sudah menjadi peraturan di SMA Bina Nusa untuk meroling kelas murid setiap tahun. Alasannya? apalagi kalau bukan untuk memupuk jiwa solidaritas dan kekompakan, agar satu angkatan menjadi akrab satu sama lain.

Dirga berjalan menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai tiga, ia sungguh merutuki mengapa harus mendapatkan kelas yang lokasinya berada paling pojok dan otomatis itu sangat menguras energinya di pagi hari.

Riuh keadaan kelas cukup terdengar di telinganya, padahal jarak kelasnya masih lumayan jauh. Ia dapat menebak akan seperti apa keadaan kelasnya nanti. Dirga benci itu.

Sekejap suasana mendadak hening, tidak ada yang mampu mengeluarkan sepatah katapun saat melihat kehadiran pria bermata elang itu. Dengan rambut setengah berantakan ia berjalan menuju meja pojok kanan paling belakang. Ia mengerti mengapa belasan pasang mata itu menatapnya, juga bisikan bisikan yang ditujukan untuknya. Tidak mau ambil pusing dengan hal itu Dirga memilih menyumpal kedua telinganya dengan earphone putih miliknya.

Kringgggg

Suara bel sekolah mampu menginstrupsi seisi kelas untuk kembali ke tempat duduk masing masing. Dirga merasa lega, setidaknya tidak ada lagi yang menatapnya dengan tatapan yang paling ia benci. Meskipun terlihat cuek dan masabodo Dirga tahu betul saat dirinya menjadi pusat perhatian.

Pintu kelas terbuka dan menampilkan seorang pria paruh baya dengan peci hitam di kepalanya. Senyumnya tampak bersahaja menyapa seisi kelas.

“Selamat pagi anak-anak.” Sapa Pak Yapto kepada seisi kelas. Pak Yapto merupakan guru Bahasa Indonesia bagi kelas 12 sekaligus wali kelas di kelas tersebut.

“Bagaimana sudah semangat menyambut pembelajaran pada semester baru ini?” Masih dengan nada antusiasnya yang disambut candaan candaan ala siswa oleh beberapa orang dikelas. Namun tidak begitu bagi seorang Dirga.

“Belum puas healing padahal mah, Pak.” Kata Yoga, cowok berambut brokoli yang duduk tepat didepan Dirga.

“Modal bensin bolak balik ke puncak doang paling lo mah!” Balas Nuga dengan suara beratnya. seketika suasana kembali riuh oleh tawaan seisi kelas.

“Tolong tenang dulu, Bapak ada kejutan untuk kalian semua,” Kata Pak Yapto yang langsung membuat keadaan menjadi kembali tenang.

“Apa tuhh pakk.” Teriak seorang siswi bername tag Oline. Suara cemprengnya saat itu juga membelah keheningan.

“Kita kedatangan teman baru, sini nak masuk dan perkenalkan diri kamu.” Pak Yapto mengibaskan tangannya, hingga akhirnya masuklah seorang siswi perempuan yang malu malu dengan senyum canggung.

“Eh gilaa cantik bangett, kiww!” Para siswa seketika langsung heboh kembali begitu melihat kedatangan murid baru tersebut.

“Duduk sama gue aja sinii.” Kali ini cowok berparas blasteran bername tag Theo berteriak dengan suara basnya.

Dirga masih menyumpal kedua telinganya dengan earphone. Ia masih fokus pada kubik yang sejak tadi ia mainkan.

“Bapak minta tolong tenang dulu. Silahkan Nak perkenalkan diri kamu.”

Cewek itu terlihat canggung namun masih mampu untuk menampilkan senyum manisnya, pada saat yang bersamaan Dirga menatap ke arah dimana cewek itu berada, kedua mata mereka bertemu untuk yang pertamakalinya. Anehnya seketika baik Dirga maupun cewek itu keduanya merasakan sesuatu yang aneh dalam diri mereka. Cukup beberapa detik hingga akhirnya keduanya memutuskan kontak mata tersebut.

“Hallo, perkenalkan nama aku Atlana Kyla Zivana. Kalian bisa panggil aku Lana. Aku pindahan dari SMA Cendikia Bandung. Salam kenal semuanyaa.” Ucapnya dengan satu tarikan nafas.

“Hallo Lana, salam kenal!” Teriak Oline heboh.

“Panggil ayang aja boleh gak?”

“Lana mutual line dongg”

“Lan I Have a Crush On you, piwittt!!!” 

Lana bagai masuk dalam kandang buaya, bagimana tidak, jumlah laki-laki disini lebih banyak daripada perempuannya.

Pak Yapto nampak mencari bangku kosong untuk Lana, hingga ia menemukan satu bangku yang tersisa di belakang.

“Lana, silahkan duduk di pojok sana yaa bareng Dirga.” Para cowok yang tadinya terlihat mencari kesempatan untuk berkenalan dengan Lana seketika menghembuskan nafas pasrah.

Dirga yang sejak tadi masih fokus bermain kubik sedikit terperajat saat mengetahui ada seseorang yang duduk disebelahnya. Ia membuka sebelah earphone yang sejak tadi menyumpal telinganya dengan volume tinggi.

Lana memperlihatkan senyum manisnya pada teman sebangkunya itu, tangannya sudah dia ulurkan untuk berkenalan, “Hallo, Dirga yaa? Kenalin gue Lana,”

Bukan Dirga namanya kalau langsung membalas sapaan seseorang dengan ramah. Ia menatap wajah Lana lalu beralih pada tangan yang terulur ke arahnya, kemudian memalingkan wajah.

“Telinga gue masih berfungsi dengan amat sangat baik, jadi gak perlu lo ulang.” Ucapnya acuh.

Lana memandang dengan tatapan tidak percaya, bagaimana bisa dirinya diacuhkan, masih dengan tatapan tidak percaya dan senyum yang masih melengkung Lana menurunkan tangan kanannya dengan bantuan kanan kirinya.

Sabar Lana, untung aja cogan. Yuk, bisa yuk, Orang sabar jodohnya Goodlooking. Begitu kira kira batin Lana sambil terus menarik dan menghembuskan nafas perlahan.

○○ □ ○○

Seisi Kantin nampak pengap dengan hiruk pikuk Siswa maupun siswi yang hendak mengisi perutnya yang kosong. Jejeran Stand terlihat berjejer rapih di sisi kanan dan kiri. Mulai dari makanan berat, hingga minuman segar semuanya tersedia.

Keempat orang itu sibuk mencari tempat duduk yang kosong, Lana kini memiliki tiga teman baru. Yang punya rambut lurus dan hitam pekat ini namanya Oline. Lalu cowok dengan penampilan goodboy disertai kacamata itu namanya Nuga, dan terakhir yang berkulit eksotis dan berambut brokoli namanya Yoga.

“Lo mau makan apa? gue rekomend Nasgor Mang Udin enak parah si!” Baru saja Lana mendaratkan bokongnya Oline sudah mulai heboh dengan pilihan makanan yang menurutnya rekomended.

Kedua cowok itu sudah terbiasa dengan tingkah Oline yang terlihat paling heboh. Yoga, Nuga, dan Oline sebelumnya sekelas jadi sudah pasti mereka mengenal baik satu sama lain.

“Soto pake nasi kayaknya enak deh, Lin.” Lana tampak mempertimbangkan opsi kedua.

“Boleh juga tuh, Lan. Gue lagi pengen makan yang berkuah.” Kata Nuga.

“Yaudah yaa epribadeh, gue mau ngupi dulu.” Pamit Yoga yang sudah tidak tahan ingin ngopi.

Ditengah Oline yang mulai bimbang memilih kedua pilihan sulit tersebut, Lana tiba-tiba kembali membuka suara, “Oke fix gue pesen nasgor aja.” 

“Bodo deh Lan bodooo amatt.” Oline mulai naik darah.

“Udah mulai keliatan sifat aslinya, semoga gue gak kena mental nih.” Kata Nuga sambil mengelus dada pasrah.

“Ah nanti juga terbiasa bestiee.” Goda Lana sambil menepuk bahu Nuga keras.

Selang beberapa menit pesanan mereka datang, tiga porsi nasi goreng lengkap dengan bawang goreng diatasnya.

“Wanginya aja udah bikin gue laper tingkat akut, Lin.” Nuga sudah melahap dan sibuk dengan nasi goreng miliknya. Begitupun dengan Oline yang sibuk melahap kerupuk kulit.

Sedangkan Lana ditengah suapan nasi gorengnya, ia tampak mencari cari sesuatu, hingga akhirnya Oline menyadari.

“Nyari siapa, Lan? Yoga?”

“Dia paling lagi ngopi sambil ngeroko di belakang sekolah.” Jelas Nuga.

“Bukan, Dirga kok ga keliatan ya?”

Oline dan Nuga tampak saling menatap satu sama lain.

“Dia emang nggak pernah keliatan di kantin kalo jam istirahat gini.” Kata Oline, kali ini nadanya dibuat pelan.

“Kenapa gitu? cacing di perutnya gak laper?” Lana menyuap nasi goreng dan menggigit potongan timun.

“Gue juga sebenernya nggak terlalu kenal Dirga. Baru kali ini sekelas. Tapi yaaa menurut info dan gosip yang beredar di sekolah, dia tuh anaknya anti sosial banget. bener bener yang gak punya temen. Singa jantannya SMA Bina Nusa, karena nggak ada satu orangpun yang berani berurusan sama dia.” Oline mencoba menjelaskan apa yang ia tahu. Dengan tatapan polos Lana mendengarkan Oline yang terus mengoceh.

“Tapi kalo menurut gue daripada ansos, Dirga tuh lebih ke misterius. Anaknya lebih banyak diem, nggak jarang mukanya babak belur dan gak ada satu orangpun yang tau penyebabnya apa. Setiap ditanya guru Dirga selalu gamau jawab. Tapi disisi lain selain menang tampang, otaknya juga jadi nilai plus, apalagi dikalangan guru guru.” Tambah Nuga, ia meletakan sendok lalu meminum habis es teh manis yang sudah berembun itu.

Lana mulai mengerti kenapa tidak ada seorangpun yang berani menyapa apalagi menegur Dirga sejak tadi dikelas. Namun daripada gosip yang belum tentu benar, lebih baik Lana mencaritahu sendiri. Bukankah tidak etis menilai seseorang dari mulut orang lain? terlebih dari gosip yang dikemas seolah adalah fakta.

○○ □ ○○

Perlahan ia mengambil kotak berwarna putih bertuliskan Marlboro, juga tidak ketinggalan pemantik yang ia sengaja simpan di saku. Dirga merasakan semilir angin yang terasa membelai wajahnya. Ia memperhatikan gumpalan awan yang terlihat seperti permen kapas.

Kepulan putih itu semakin mengudara memenuhi roftoop. Terdapat kursi lapuk dan meja bundar yang sengaja diletakan disana. Tidak ada satu orangpun yang mengetahui keberadaan tempat ini kecuali Dirga. Karena hanya Dirga yang diberi akses berupa kunci pintu roftoop. 

Asap yang telah berteman dengannya sejak beberapa waktu belakangan ini. Awalnya hanya sekedar coba-coba, napasnya pun sempat tercekat kala hisapan pertamanya satu tahun lalu. Dadanya sesak, bahkan amat sesak, namun ia tidak berhenti disitu. Di hisapan ketiga semuanya terasa menyenangkan, dan perlahan Dirga menikmatinya. Batinnya tahu ini salah, namun logika membenarkannya.

Tangannya kembali memainkan sebuah kubik. Tidak banyak yang Dirga suka di dunia ini. Selain menyukai sunyi Dirga juga menyukai kubik dan segala hal yang berhubungan dengan seni.

“Atlana.” Ucapnya pelan pada desiran angin seraya tersenyum tipis.

○○ □ ○○

Baru saja menginjakan kakinya disekolah Dirga dibuat kaget dengan kehadiran seorang cewek.

“Pagi temen sebangku!” Sapanya dengan penuh ekspresi ceria.

“Teman?” Dirga malah menengok sisi kanan dan kirinya, ia tampak kebingungan.

“Iihh gue ngomong sama lo Dirga.” Sungut Lana sebal.

“Emang lo temen gue?” Tanpa menunggu jawaban Lana, cowok itu pergi meninggalkan Lana yang masih geleng geleng kepala. Bagaimana bisa ia bertemu dengan cowok sedingin Dirga.

Dingin banget si lo Dirga, untung gue anaknya gak gampang pilek, Batin Lana sambil membuntuti Dirga dari belakang.

Sesampainya dikelas Dirga dibuat terperangah melihat keadaan hening lantaran seisi kelas sedang mencatat sesuatu. Entah apa yang sedang mereka catat, cowok berhidung mancung itu langsung memilih duduk dan memasang earphone di telinga.

“Lana PR Fisikanya udah dikerjain?” Baru saja Lana mendaratkan bokongnya di kursi, Theo muncul dengan sebuah buku di tangannya.

“Lho iya aku lupa semalem ketiduran.” Lana panik seraya terburu buru membuka tasnya.

“Ini liat punya gue aja, udah selesai semua kok.”

Diam diam Dirga mendengar pencakapan diantara keduanya. Ia tahu betul maksud Theo kepada Lana. Theo kawan sekelas Dirga satu tahun lalu, ia tahu betul sifat dan karakter cowok berdarah campuran eropa itu, meskipun Dirga tidak pernah menganggapnya teman. 

Ia mengembalikan buku tulis milik Theo yang sudah berada di tangan Lana.

“Nggak usah, makin bego dia yang ada.” Lana dan Theo kebingungan dengan Dirga yang tiba-tiba ikut campur.

“keluarin buku paket fisika lo, buka halaman 250.” Lana menurut dan sudah sibuk mencari halaman yang Dirga maksud.

Kali ini tatapannya tertuju pada Theo yang sudah menampilkan wajah masam, “Silahkan, lo bisa balik. Mau apa lagi disini?”

Dirga hanya tidak ingin Lana yang tidak mengetahui apa apa terlibat hutang budi pada seorang Theo. Itu akan sangat merepotkan mengingat Lana sekarang duduk bersamanya, begitu pikir Dirga.

Dengan sabar Dirga terus menjelaskan rumus Fisika yang tertera disana, Lana bukan tipikal anak pintar dalam hal hitung mengitung apalagi menggunakan rumus. Saat bosan memperhatikan deret angka itu mata teduhnya menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya. 

Wajah tampan seorang Dirga. Cowok yang dalam satu tahun kedepan akan menjadi teman sebangkunya itu. Lana tahu akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat dekat dengannya. Tapi dengan senang hati Lana siap menunggu saat dimana Dirga dapat menerima dirinya sebagai seorang teman.

Tanpa persetujuan logikanya ia mengusap rambut Dirga, “Makasih udah ngajarin gue, Ngga.” Dengan satu tangan yang menopang dagu, Lana tersenyum hingga membuat kedua matanya menyipit.

Dirga membeku dalam tatapan hening. Ia tidak dapat berpikir jernih hingga mengijinkan tangan mungil Lana mengelus rambutnya. Sampai ketika detik kelima akhirnya ia sadar dan menurunkan tangan Lana.

“Gue gak suka disentuh tanpa izin.”

○○ □ ○○

Sudah genap satu bulan Dirga duduk dengan seorang cewek yang penuh dengan kerandoman. Bagaimana tidak setiap hari ia terus saja melontarkan pertanyaan pertanyaan random yang terkesan absurd. Seperti sekarang, cewek berbulu mata lentik itu masih terus mengoceh tentang bagaimana cara seorang astronot buang air di luar angkasa.

Dirga memiliki kebiasaan baru saat ini, ia lebih memilih mendengarkan Lana bercerita daripada termenung seorang diri di roftoop. Hanya Lana yang mampu mencairkan pertahanan Dirga selama ini. Biasanya kebanyakan orang lebih memilih menjauh saat Dirga abaikan atau dicecar dengan omongan ketusnya. Tapi tidak berlaku pada seorang Lana.

Cowok itu sedang merebahkan kepala pada kedua tangannya di atas meja, wajahnya menghadap ke sisi Lana berada. Dirga tersenyum melihat wajah Lana yang terlihat teduh, jantungnya berdetak begitu cepat saat melihat jengkal demi jengkal wajahnya dengan seksama.

Gadis itu terus saja mengoceh meski Dirga hanya terdiam dan tidak membalas tawanya. Ia lebih suka mendengar Lana yang bercerita, daripada dirinya yang dipaksa Lana untuk bercerita tentang memar di dahinya. Sudah beberapa kali Lana terus menanyakan luka lebam itu.

“Oiyaa, Ngga. Coba tebak kenapa ginjal ada dua?” Lana mulai membuka topik baru.

Ia mengedikan bahu tanda tidak tahu.

“Karena kalo satu namanya jadi ganjil.” Lana tertawa sendiri padahal lawan bicaranya itu hanya mengulas senyum.

“Lagi lagii, Ngga!”

“Nggak.” Jawab Dirga.

“Iiih bukan gituu, Gue gak nanya. Tapi manggil nama lo bangsad.”

Dirga sedikit terkekeh geli melihat gadis pendek disebelahnya menggerutu kesal. Rupanya Dirga sudah mulai terbiasa dengan segala ekspresi yang sering Lana perlihatkan. Lana si cerewet.

“Kalo misalkan puasa, trus mandi. Eh nggak sengaja gayungnya ketelen. Itu bakal nggak?” 

Dirga sedikit memajukan wajahnya hingga berada tepat di depan wajah Lana. Gadis itu terlihat kaget dan menahan napasnya karena tidak sanggup melihat salah satu karya tuhan paling indah.

nikmat tuhan mana lagi yang ku dustakan, batinnya.

“Batal dong, soalnya salah satu syarat orang berpuasa adalah berakal. lo enggak!” Dirga berlalu begitu saja meninggalkan Lana yang masih tidak percaya mendengar jawaban Dirga.

“Ck! Dirgaaaaaaaa!” Seisi kelas memandangi kedua siswa siswi itu, Lana berteriak hingga membuat semua yang berada dikelas melihatnya. Sedangkan cowok yang berjalan santai menuju keluar itu malah memilih terus berjalan tanpa memperdulikan teriakan Lana.

“Lo nanti sore ada waktu nggak, Lan?” saat mendengar suara yang tiba-tiba saja muncul Lana langsung menghentikan ocehannya.

Ia bertanya tanya mengapa cowok bernama Theo itu masih terus saja mendekatinya padahal sudah sebisa mungkin Lana acuhkan. Tidak, bukan hanya disekolah. Beberapa kali Theo mengajak Lana jalan bersama namun tidak pernah Lana iyakan, ada saja alasan yang Lana buat untuk menghindari cowok bule ini.

Entahlah Lana sendiri bingung mengapa firasatnya mengatakan bahwa ia harus menjauhi Theo. Padahal Theo tidak kalah tampan dengan Dirga, ya walaupun memang masih kalah jauh.

“Ada perlu apa?” Lana langsung to the point.

“Temuin gue di taman belakang yaa, ada sesuatu yang mau gue omongin sama lo. see you Lana.” Tanpa menunggu persetujuannya, Theo pergi begitu saja keluar kelas. Oline yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Theo langsung menghampiri Lana yang masih menatap punggung Theo yang menghilang dibalik pintu kelas.

“Mau ngapain tuh anak?” Oline sudah siap memberondong Lana dengan berbagai pertanyaan.

“Nggak tau, aneh banget deketin gue terus.”

“Hati-Hati, Lan. Image dia kurang baik disekolah.” Oline memperingati, kali ini ia menampilkan raut wajah serius.

“Iyaa gue paham kok, gue bisa jaga diri. Tenang ajaa.” Lana sempat mendengar beberapa gosip mengenai Theo yang sering Oline ceritakan. Namun Lana bukan tipikal orang yang mudah percaya pada gosip, apalagi sampai menilai orang sembarangan tanpa adanya bukti.

○○ □ ○○

Lana berjalan menelusuri koridor, bukan ke arah koridor utama untuk pulang, melainkan ke Taman belakang sekolah. Ini kali pertama ia menuju taman sekolah. Kira kira bagaimana bentuknya? Ada bunga apa saja disana?

Lana berjalan hingga akhirnya tiba ditempat yang ia tuju. Rupanya SMA Bina Nusa memiliki kebun hijau pribadinya sendiri. Terdapat beberapa tanaman buah sayur dan berbagai rempah rempah disisi samping. Disisi yang lain ada berbagai macam bunga disertai sebuah papan nama bunga tersebut.

Lana dapat melihat seorang pria yang sedang terduduk seorang diri disebuah ayunan.

“Hai, sorry lo nunggu lama ya?” Lana merasa tidak enak hati, karena membiarkan Theo menunggu hingga sekolah nampak cukup sepi.

“Iya gakpapa, santai aja. Duduk, Lan.” Lana duduk di ayunan sebelah Theo.

Theo terdiam cukup lama, jujur saja hal tersebut membuat Lana tidak nyaman. Hingga pada akhirnya cowok berambut kecoklatan itu membuka obrolan.

“Gue nggak enak sebenernya mau bilang ini ke lo. Tapi gue juga gabisa buat mendem gitu aja.” 

Lana sudah dapat menebak obrolan ini akan berlanjut ke arah mana, ia segera berdiri dan hal tersebut membuat Theo sedikit kaget.

“Sorry Yo, gue harus pulang. Udah dicariin Bunda.” Langkahnya terhenti sebab Theo memegang tangan Lana kuat.

“Lo kok malah ngindar gini sih?!” Nada bicara Theo sudah meninggi beberapa oktaf. Lana terdiam seribu bahasa, tubuhnya kaku. Ia ingin lari namun kakinya seolah berubah menjadi jelly.

“Gue gak bego Lana! Gue tau selama ini lo ngindarin gue kan?!” Bentaknya. “Gue mau lo jadi pacar gue, Lan.” Satu kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Theo. Genggaman tangannya berubah menjadi cengkraman yang begitu kuat hingga menimbulkan Lana meringis kesakitan.

“Gue gak ada perasaan apa apa sama lo, maaf. Gue minta lo lepasin.” Ia mencoba melepaskan cengkraman Theo namun cowok itu memiliki energi yang lebih kuat.

Theo menampilkan senyum miringnya, ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Lana, “Lo nggak boleh nolak gue,” Kali ini nadanya terkesan menggoda, Lana mulai takut dengan cowok di hadapannya ini.

Lana ingin berteriak namun suaranya mendadak sulit dikeluarkan. Ia membisu dalam jerit yang ingin sekali ia suarakan. Perlahan Theo membuka kancing baju paling atas milik Lana. Detik itu juga Lana berteriak sekuat tenaga.

“TOLONG!!! SIAPAPUN TOLONG GUPPP!!!” Theo segera membekap mulut Lana. Matanya mencari cari letak cctv namun tidak berhasil ia temukan.

Bajingan!

Ternyata Theo sudah merencanakan semua ini, ia memilih tempat sepi yang lewat dari pengawasan cctv.

Lana mencoba menendang dan berontak, mencoba membuka bekapan tangan Theo namun tidak berhasil. Ia menangis sesegukan. Hingga tiba-tiba saja tubuh kokoh itu terhempas begitu saja ke tanah.

Lana yang terlihat syok berusaha menyingkir di tepi taman.

“Oohh udah berani lo yaa ngelakuin itu disekolah.” Dirga menepuk nepuk tangannya pelan. Ia berjalan ke arah Theo yang masih tersungkur.

“Gue tau ini bukan urusan gue. Tapi dengan melihat siapa target lo sekarang, itu berarti lo berurusan sama gue.” Masih dengan nada datar namun menusuk, Dirga mencengkram kerah baju Theo dengan kuat.

Tanpa di duga Theo justru memberikan bogem mentahnya di pipi Dirga. Saat itu juga darah segar mengalir di sudut bibirnya.

“Jangan mentang-mentang lo anak perwira trus mau jadi jagoan!”

Dirga tersenyum tipis, rupanya cecunguk satu ini mengetahui latar belakang kehidupannya yang selama ini ia sembunyikan. Ia sebelumnya sempat beberapa kali melihat Theo di club malam, bersama wanita yang berbeda. Namun, Dirga tidak mengira bahwa Lana menjadi target selanjutnya.

“Terus lo sendiri mau jadi apa? Sampah?!” Rahang Dirga sudah mengeras, ia terlihat amat sangat marah saat ini.

Dirga balik menyerang Theo hingga mata kirinya terlihat memar. Tidak mau kalah dengan lawannya, Theo berhasil menghantam tulang rusuk Dirga dengan sangat brutal.

Dirga sempat jatuh ke tanah dan batuk batuk namun ia masih memiliki banyak sisa tenaga untuk menghabisi si keparat ini. Lana yang bingung harus bagaimana melihat perkelahian antara Theo dan Dirga, ia lantas berlari sekuat tenaga untuk mencari bantuan. Ia berteriak minta tolong di sepanjang koridor dengan mata yang masih terus menangis.

Pak Yapto dan Beberapa guru lain tampak berlari mendekati Lana. Syukurlah masih ada guru disekolah. Namun pada setibanya Lana di teman, ia sudah tidak dapat berkata kata lagi. Jantungnya berdetak kencang hingga membuat napasnya sesak.

Langkah kaki kecilnya berlari mendekati seseorang yang kini telah tergeletak di tanah. Kepalanya sudah penuh dengan ceceran darah, juga balok kayu yang tidak kalah banyak berlumuran darah berada tepat di sisi tubuh Dirga.

“Cepat telepon ambulance!” Suruh Pak Yapto pada seorang guru disebelahnya.

Tangis Lana begitu pecah saat mendapati mata Dirga yang terbuka menatapnya. Tatapannya kali ini sangat sayu, mata elangnya menatap Lana teduh. 

“Dirgaaa!! gue mohon lo bertahan yaa. Lo kuat, Ngga!” Dirga berusaha menghapus air mata Lana yang mengalir deras.

“Lo jelek kalo nangis. Gue gak apa apa.” Suaranya terdengar sangat parau. Lana menggenggam tangan Dirga yang berada di pipinya. Ia memejamkan mata, mencoba menguatkan dirinya di depan Dirga.

“Lan, berenti. Ini perintah.” Satu kalimat, namun mampu membuat Lana berhasil menahan isaknya. Setelah itu Dirga tidak sadarkan diri, ia jatuh pingsan lantaran tidak kuat menahan pendarahan yang terjadi di kepalanya.

○○ □ ○○

Sejumlah peralatan medis terpasang sempurna di tubuh seseorang yang masih tidak sadarkan diri itu, membantunya untuk bertahan hidup. Dirga seperti tertidur dalam mimpi yang membuatnya seolah enggan untuk bangun.

“Ngga, bangun dong. Masa mau tidur terus, gue kan belum minta maaf sama lo.” Pagi itu Lana terbangun dari tidurnya, setelah semalam suntuk menjaga Dirga yang tidak kunjung di datangi pihak keluarga. Ia sudah izin pada Bunda dan Bunda mungkin akan menjenguknya sore nanti.

“Maaf gue udah bikin lo kayak gini. Ini semua salah gue. Gue minta maaf, Ngga.” Ia kembali meneteskan air matanya, dadanya kembali sesak saat mengingat kejadian kemarin.

“Gue nggak mau duduk sendiri, pokoknya lo harus bangun. yaaa!” ia menyeka air matanya, menginggat Dirga sudah memberinya perintah untuk tidak menangis. 

Lana menggenggam tangan Dirga dengan hangat, saat itu Lana nyaris tidak percaya saat Dirga balik menggenggam tangannya.

Mata yang semula terpejam itu perlahan terbuka, Dirga seperti telah bangun dari tidur panjangnya. Ia tersenyum melihat Lana yang tampak kusut serta tidak ketinggalan matanya yang sembab.

“Lo nggak pulang?” Suaranya terdengar parau dan berat.

“Gue gak mungkin ninggalin lo.”

“Gue bisa sendiri, lo pasti capek. Pulang ya?” Entah mengapa Lana justru merasa sosok Dirga di hadapannya jauh lebih lembut dari hari hari selumnya.

“Enggak, pokoknya gue mau jagain lo disini. Bunda juga nanti sore balik ngantor mau jenguk lo, gapapa kan?”

Dirga mengangguk tanda setuju.

Tidak berselang lama pintu kamar rumah sakit terbuka. Memperlihatkan seorang lelaki paruh baya lengkap dengan seragam Angkatan Udara. Napasnya terlihat sangat terengah engah, keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Lana dapat membaca name tag yang tertera di seragamnya ‘Reno Dirgantara’ yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ayah Dirga.

Ia berjalan mendekati Dirga dan memeriksa keadaan anaknya, “Maafin Papa baru bisa dateng sekarang, nak.” Ucapnya pelan penuh penyesalan.

Dirga tahu betul mengapa Papanya baru datang menemuinya, ia memalingkan wajahnya. Masih terbayang bagaimana sikap otoriter Papanya hingga menimbulkan luka memar di dahinya.

“Makasih udah jagain anak Om, yaa. Boleh tau namanya siapa?” Reno menyadari keberadaan Lana yang sejak tadi diam karena canggung.

“Sama-sama Om, nama saya Lana.” Lana menyalimi tangan Reno.

“Lana maaf, Om boleh bicara berdua saja dengan Dirga?”

“Oh iya Om, saya permisi dulu. Assalamualaikum.” Lana bergegas keluar ruangan.

“Waalaikumssalam.”

Ruang rawat VVIP itu mendadak hening kala Lana menutup pintu menyisakan Dirga dan Reno di dalamya. Dirga masih memilih bungkam seraya memalingkan wajahnya.

“Dirga.” 

“Udah lha Pa, Gak ada yang perlu dibahas lagi. Saya sedang tidak dalam keadaan baik untuk membicarakan keinginan Papa.” Ucap Dirga tegas. Sungguh, ia tidak ingin membahas itu lagi disini. Kepalanya masih terasa ingin pecah.

“Papa justru mau minta maaf sudah terlalu keras sama kamu, sama anak Papa satu satunya. Papa selama ini salah, nak.” Suara Reno terdengar melemah, ia duduk di bangku tepat sebelah Dirga.

“Dulu saat kamu lahir Papa sangat bahagia karena memiliki anak pertama laki-laki. Nama Anggara Papa ambil dari hari kelahiran kamu yakni hari selasa. Lalu Alvaro yang berarti pemberani serta pelindung. Dan yang terakhir Dirgantara, itu merupakan nama keluarga kita. Nama Kakekmu yang juga seorang perwira angkatan udara. Papa ingin kamu menjadi generasi penerus Papa. Tapi ternyata Papa salah, Nak.”

Reno terlihat menyeka air matanya yang menetes.

“Untuk menjadi seorang lelaki tangguh tidak harus melulu menjadi seorang perwira. Kamu sudah membuktikannya, Dirga. Papa sudah dengar semua cerita lengkapnya dari wali kelas kamu.” Wajah Reno memerah, suaranya bergetar. Ia telah salah selama ini dalam mendidik anaknya, ia telah membiarkan ego menguasai logika dan nuraninya.

“Kamu layak memilih jalan hidupmu sendiri, selagi itu baik Papa akan selalu dukung pilihan kamu nanti.” Hati Dirga terenyuh mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan Papanya. Padahal minggu lalu ia baru saja mendapat bogem mentah di dahinya karena menolak untuk masuk TNI.

“Papa bangga sama kamu, nak.” Reno memeluk tubuh Dirga yang masih lemah. Kedua ayah dan anak itu terhanyut dalam tangisan masing masing, setelah mengalami perang dingin delapan tahun terakhir sejak meninggalnya mendiang sang Ibu.

○○ □ ○○

Hari kedua Dirga dirawat, Lana masih setia menemani. ia lebih memilih bolos sekolah hanya untuk menemani Dirga, padahal sudah diperingati keras namun peringatan Dirga sama sekali tidak mempan untuk cewek keras kepala itu.

Saat ini cewek itu sedang mengupas buah apel kesukaan Dirga. Ia bercerita banyak hal meski respon Dirga masih sama. Cowok itu malah asyik bermain game online.

“Ngga, nanti sore Oline, Nuga, sama Yoga mau jenguk lo boleh kan ya?” 

Dirga menghentikan permainannya.

“Buat apa?”

“Ya jenguk lo dong, masa ngapelin nakes disini.”

“Mereka kan bukan teman gue.”

“Tapi mereka mengganggap lo teman.”

“Lo percaya pertemanan? Gue si enggak. Menurut gue pertemanan itu cuma status di lingkungan sosial aja. Semacam simbiosis mutualisme. Tujuannya hanya dua, saling menguntungkan, atau paling menguntungkan.” Tutur Dirga pada teman barunya.

“Why? Kenapa lo bisa sampe punya perspektif kayak gitu? Pasti ada alasannya dong?” Sejak lama Lana ingin bertanya tentang topik ini sebenarnya.

“Kebanyakan dari mereka cuma memanfaatkan sesuatu dari sebuah hubungan yang mereka sebut pertemanan. Mereka itu cuma parasit.”

“Dulu sejak TK bahkan sampai SMP teman gue banyak banget, karena gue welcome dengan siapa aja yang datang dalam hidup gue. Hingga pada suatu moment dimana gue tau wajah asli mereka.”

“Mereka cuma ingin memanfaatkan gue lantaran gue anak seorang perwira yang pastinya tidak kekurangan dalam hal apapun. Singkatnya mereka cuma butuh uang gue aja.”

Lana mengerti mengapa Dirga menarik dirinya hingga tidak bisa menaruh kepercayaan pada siapapun. Ia pernah terluka terlalu dalam.

“Gue ngerti sekarang alasan kenapa lo enggan buat membuka diri lo.” Lana menggenggam tangan Dirga.

“Tapi lo bisa pegang omongan gue, kalau gue dan yang lainnya tulus mau temenan sama lo. Enggak ada niat mau manfaatin lo atau semacamnya. Kalau perlu kita siap buat tanda tangan di atas matrai.” Oceh Lana sambil mengacungkan tanda piece.

Dirga tertawa terbahak bahak untuk yang pertama kalinya. Lana tersenyum melihat Dirga yang sudah sedikit demi sedikit dapat menerima dirinya. 

○○ □ ○○

Sore itu Lana terlihat asyik menonton serial kartun Tom and Jerry di televisi, Dirga juga ikut menonton walau tidak tertawa sebanyak Lana. Daritadi gadis itu terus saja tertawa sambil memeluk snack berukuran jumbo milik Dirga.

Pintu rumah sakit terbuka, menampilkan Oline, Nuga, dan juga Yoga yang masing masing membawa bingkisan.

“Duh parah si gue nyasar berkali kali gara gara Yoga sotoy.” Cerocosnya Oline sambil duduk di sebuah sofa.

“Siapa suruh lo ngikutin gue, lagian nih rumah sakit gede amat dah.” Yoga tidak terima, ia duduk di kursi tepat sebelah Dirga. Sedangkan Nuga sedang meletakan bingkisan mereka di meja.

“Sorry baru bisa jenguk lo sekarang.” Ucap Nuga pada Dirga yang masih membisu sejak tadi.

Dirga sempat mematung hingga akhirnya ia mampu bersuara, “Oh iya gapapa, santai. Thanks kalian udah jengukin gue.”

Oline dan Yoga tampak tidak percaya dengan kalimat yang baru saja mereka dengar, pasalkan baru pertamakali ia mendengar sebuah kalimat terpanjang yang Dirga ucapkan.

“Kita justru yang harusnya makasih karena lo udah nyelamatin Lana.” Ucap Oline sambil tersenyum hangat.

“Tapi gue denger denger tadi, Theo udah di drop out dari sekolah dan kasusnya masih terus berlanjut walaupun dia masih di bawah umur.” Diam diam Yoga tidak kalah update mengenai gosip.

“Emang harus dapet hukuman setimpal si tuh anak, Lo pasti trauma banget kan, Lan?” Lana terdiam, ia hatinya kembali sakit jika harus mengingat kejadian itu.

“Gue gak seberapa dibanding Dirga,” Lana yang berada disebelah Dirga kini matanya kembali berkaca kaca, ia memgulas senyum indahnya pada cowok yang kini ia genggam, “Makasih, sekali lagi makasih banyak.”

Tanpa Lana duga kali ini Dirga mengusap rambutnya dengan lembut. Oline, Nuga, dan juga Yoga langsung saling melirik satu sama lain.

“Ekhemm!” Deham Nuga keras.

“Masih ada kita lho disini.” Kata Oline.

“Yah inima kita jadi nyamuk guys.” Ledek Yoga.

Lana dan Dirga tertawa mendengar ketiga temannya itu, yang kemudian tawa mereka menyebar membuat seisi ruangan itu dipenuhi dengan tawa.

“Jadi kita semua udah resmi temenan kann?” Tanya Lana sangat bersemangat pada Dirga. Cowok yang menggunakan selang infus itu mengangguk pelan tanda setuju.

Dirga bak bongkahan batu es raksasa yang sulit sekali dibuat cair, akhirnya mampu dibuat luluh, padahal awalnya cowok itu memiliki tembok pertahanan yang sangat kokoh yang tidak dapat diruntuhkan oleh siapapun.

Detik ini Lana maupun Dirga sama sama bersyukur atas apa yang mereka dapat. Dirga bahkan tidak pernah berpikir akan bertemu dengan seorang Lana, apalagi memiliki teman sebanyak ini. Dirga juga tidak pernah terbayang jika kekerasan hati Papanya akan melunak begitu saja saat melihat dirinya terbaring di brankar rumah sakit, sungguh ia sangat bersyukur atas nikmat dan karunia yang sangat luar biasa ini pada tuhan.

○○ □ ○○

Laut berlatar langit senja menjadi perpaduan yang sangat indah, disertai pasir putih seolah pantas untuk meracik sebuah kata “Sempurna”. Lana berjalan dengan kaki tanpa kasut, juga dengan mata tertutup. Di kepalanya telah terpasang flower crown indah yang dibuat seorang pria, pria yang kini sedang menuntun Lana menuju suatu tempat. Dirga sengaja mengajak Lana untuk pergi bersama sambil memperingati satu tahun mereka resmi berteman. 365 hari telah Dirga lewati bersama Lana, gadis dengan sejuta kejutan di hidupnya. Dirga nyaman dengan hidupnya yang sekarang dan itu semua berkat Lana.

Lana di persilahkan untuk duduk dengan beralaskan kain. Meskipun sebelumnya ia sangat cerewet karena protes tidak mau matanya ditutup. 

“Nanti kalo gue kesandung terus jatoh, terus berdarah, terus pendarahan, terus gue kehabisan darah, ujungnya gue mati gimana?” Kurang lebih seperti itu celoteh yang ia lontarkan.

“Gue hitung sampe tiga lo baru boleh buka mata ya.” Ucap Dirga sambil bersiap membuka penutup mata.

“Ck, iyaaa Dirgaaa.” Jangan ditanya, Lana jelas kesal karena sejak di perjalanan ia tidak diperbolehkan membuka penutup mata.

“Satuu..” Dirga mulai berhitung.

“Duaa..”

“Tiiiiii…” ia sengaja menggantungkan hitungannya.

“Yaampun Dirga, masih lamaa? gak sekalian semedi dulu.” Lana tidak mau menunggu Dirga yang terlalu lama, ia membuka matanya tanpa aba-aba dari Dirga.

Matanya berbinar kala melihat laut membentang luas di hadapannya, serta langit senja yang seolah menyapanya dengan senyum hangat. Jauh diluar ekspetasinya tadi, Lana tidak pernah mengira akan dibawa ke tempat seindah ini. Tak ada sepatah katapun yang dapat mewakili ini semua, Lana diam membisu dengan segala decak kagumnya.
Dirga yang melihat ekspresi Lana, ikut tersenyum. Rencananya berhasil.

Mata Lana beralih untuk melihat temannya yang sudah memegang sebuah gitar. Tunggu, sejak kapan Dirga bisa bermain gitar?

Dirga mulai memetik senar gitar dan mengalunkan sebuah nada merdu.

Do you hear me,
I’m talking to you,
Across the water across the deep blue ocean,
Under the open sky, oh my, baby I’m tryng,

Dirga mulai menyanyikan sebuah lagu, lagi yang sudah ia siapkan untuk hari ini. Ia menatap sekilas mata Lana, mata coklat yang selalu teduh.

Girl I hear you in my dreams,
I feel you whisper across the sea,
I keep you with me in my heart,
You make it easier when life get hard,

Dirga sengaja mengubah sedikit lirik lagunya dari ‘boy’ menjadi ‘girl’. Dirga masih berusaha menenangkan detak jantungnya yang saat ini berdetak tidak beraturan.

I’m lucky I’m in love with my best friend,
Lucky to have been where I have been,
Lucky to be coming home again,

Ia dapat melihat ekspresi Lana yang terus tersenyum melihatnya bernyanyi.

They don’t know how long it takes,
Waiting for a love like this,
Every time we say goodbye,
I wish we had one more kiss,
I’ll wait for you I promise you, I will,

Sudah tidak dapat berkata apapun, Lana merasa ada kupu-kupu berterbangan di perutnya. Ia terlampau bahagia, hingga perasaan itu tumbuh kian menjalar.

I’m lucky I’m in love with my best friend,
Lucky to have been where I have been,
Lucky to be coming home again,

Lucky we’re in love in every way,
Lucky to have stayed where we have stayed,
Lucky to be coming home someday,

Dirga mengehentikan lagunya, ia beralih menatap wanita di depannya. Wanita yang kini nampak manis dengan flower crown buatannya. 

“Salah gak kalau gue suka sama teman sebangku gue sendiri?” Tanya Dirga sambil menatap Lana dalam. Wanita itu bukannya menjawab ia malah menggeleng, tanda bahwa ia tidak menyalahkan perasaan Dirga.

“Gue mau lo jadi pacar gue Lan.” Akhirnya kalimat itu berhasil Dirga ucapkan, meski sebelumnya terasa sangat sulit.

Bagai ada bunga yang bermekaran di perut Lana hingga rasanya sangat menggelitik. Detak jantungnya tidak karuan, dan hal tersebut sulit ia kendalikan.

Tanpa menunggu lama Lana mengangguk, “Gue juga sayang sama lo, Ngga.” Air mata haru membahasi pipinya.

Ditengah senja yang berpamit pulang ada sepasang hati yang semesta pertemukan. Dalam izin takdir dan rencana tuhan akhirnya mereka dipersatukan.

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!