Elektro Magnetik yang Berpadu
22.9
1
181

Hermawan menggenggam tanganku, menarikku mendekat dan dia memajukan wajahnya tepat di depanku, “Beib, cinta itu tidak bisa diatur. Dia datang dengan sendirinya. Kalau sudah datang, sulit ditolak, apalagi kita atur. Kalau cinta itu bisa direngkuh, apalah artinya kalau tidak diperjuangkan.”

No comments found.

Segala sesuatu selalu ada awal, 

Bunga berkembang karena ada akal,

Hidup bisa indah karena ada khayal,

Cerita bisa menyatu bila ada kawal,

Kisah berkembang karena ada kenal

Semua bisa menyatu karena ada sinyal.

“Kamu bantu aku jadi sekretaris di Sie Olahraga, bisa kan?” suara yang muncul di belakang badanku. Tanpa permisi, tanpa colek, tetapi langsung dengan permintaan. Tentu saja, itu membuyarkan lamunanku akan ulangan Fisika yang baru saja aku jalankan.

“Eh maksudnyaaa?” aku merespon dengan terbata-bata. Aku baru saja kembali dari alam bawah sadarku. Logika kembali berkumpul dan membangunkan aku. Wajahnya, dengan senyuman yang tersungging, tiba-tiba membuat dadaku berdebar kencang.

“Aku dipilih jadi Ketua Sie Olahraga dan aku mau kamu jadi sekretaris aku,” kembali dia mengulang pertanyaannya. 

Satu permintaan yang sangat sederhana,” pikirku sambil mengutuk diri sendiri dengan kebodohan aku.

“Pasti mau doong! Terima kasih ya sudah ngingat aku,” jawabku dengan pasti.

“Asyiiik! Thank you kembaranku!” serunya sambil mengacak-acak rambut ikal panjangku dan berlari menuju lapangan basket.

“Halaaaah, ngeselin,” teriak aku sambil merapikan rambut yang diacak-acaknya.

  Hermawan, demikian nama dia. Pemuda berbadan tinggi tegap dengan kulit hitam legam terbakar matahari. Dia teman satu kelas aku saat di kelas 10 dan kami duduk satu bangku. Canda dan gurauannya selalu mengisi hari-hariku. Dia yang selalu membangkitkan semangatku di pagi hari untuk langsung bergerak menuju kamar mandi dan bersiap sekolah. Aku tahu, pasti ada sesuatu yang pantas dikenang hari itu karena tingkahnya.

Wajah kami yang serupa membuat banyak teman lain dan guru memanggil kami “Si Kembar”. Kami ada di kelas yang sama, duduk satu bangku, tingkah kami yang penuh canda mengesalkan namun mengundang tawa jadi sebagian daftar kemiripan. Di tambah nama kami yang mirip seakan menegaskan mereka bahwa kami kembar. Padahal dia keturunan campuran Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, sementara aku campuran Jawa Tengah dan Sumatera Utara. Aku, Hermawati, si tomboi berambut ikal panjang, seorang wanita yang aktif dan pandai.

Perkenalan kami diawali pada saat minggu orientasi di sekolah baruku, Sekolah Menengah Atas Kartika Buana, di Serpong, pinggiran Barat Ibu Kota. Aturan di dalam kelas, kita diharuskan duduk dengan lawan jenis di dalam ruangan. Entah magnet apa yang menarik kami, Hermawan dan aku saling menatap dan tersenyum penuh isyarat. Tanda yang menuntun kami untuk menempati tempat yang di meja yang sama di dalam kelas itu. 

Ternyata kami mempunyai banyak kesamaan. Di tengah kebandelan kami berdua dalam bercanda dan mengganggu teman, kami termasuk murid pandai di sekolah ini. Fisika dan Matematika adalah pelajaran kesukaan kami. Tidak jarang sekolah mengirim kami berdua mengikuti Olimpiade Fisika dan Matematika sampai ke tingkat nasional. Piala selalu kami bawa pulang dan terpampang megah di ruang tengah gedung sekolah kami. 

 Basket adalah hal lain yang menciptakan penyatuan elektro magnetik antara kami. Olahraga yang sudah aku tekuni sejak aku duduk di bangku sekolah dasar ternyata saat ini mengangkat aku menjadi salah satu pemain andalan di sekolahku. Berbagai pertandingan kami wakili. Walaupun sekolah kami tidak selalu membawa pulang medali, namun sering kami terpilih sebagai top scorer dan pemain terbaik.

Semua itu menambah julukan yang kami dapatkan dari teman-teman dan guru di sekolah ini menjadi “Si Kembar Identik Milenial”. Kata mereka, penambahan kata “Milenial” datang dari para guru karena kami berdua adalah generasi yang lahir di atas tahun 2000, tepatnya 2002.

*****

Apakah semua sejauh mata memandang?

Tidakkah suara hati bisa membimbing?

Adakah batin bisa memberi terang?

Membuka kenyataan yang mengekang,

Menyibak tapir yang terselubung,

Atau logika yang selalu membenteng.

Akhir Juli 2019, pemilihan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah selalu dimulai pada awal tahun ajaran dan posisi pengurus dikhususkan bagi siswa kelas 11. Tanpa protes sana sini, tanpa ada pikir panjang, keaktifan dan kepiawaian Hermawan pada olahraga, terkhusus basket, membuatnya terpilih menjadi Ketua Sie Olahraga. Itulah yang membawa dia berlari mengejar aku dan memintaku menjadi sekretarisnya.

Kami sekarang pisah kelas walaupun mengambil jurusan yang sama. Ya, sudah pasti bisa ditebak, IPA adalah jurusan kami. Hari ini kelasku baru saja ulangan Fisika mendadak dan dilakukan 30 menit sebelum kelas selesai. 

Gila! Ulangan Fisika hanya 30 menit,” pikirku saat Pak Slamet, Guru Fisika kami mengumumkan akan mengadakan test.

Test Bapak hanya 2 nomor saja. Hati-hati dalam menjawabnya, dibaca benar-benar soalnya. Gampang koq, Bapak yakin kalian pasti bisa,” suara Pak Slamet sambil mengedarkan soal Fisika.

Well, said is easier than done!” kekesalan mencuat di dalam diri tapi apa daya, soal sudah di depan muka.

Pertanyaan Fisika Pak Slamet ternyata ada jebakan batman. Tidak hanya menjawab dengan rumus tetapi memerlukan logika untuk menentukan angka yang harus dimasukkan dalam rumus. Dan ternyata logika aku benar! Pak Slamet menjelaskan 2 menit sebelum kelas bubar, jebakan apa yang ada dalam soalnya. 

Nah, itulah mengapa saat aku dicolek Hermawan aku tidak langsung bisa klik atau mengerti dengan pertanyaannya. Soal Fisika masih menari-nari di depan mata, belum lagi keliyengan (= pusing) di kepala karena harus mengerjakan soal dalam waktu yang cukup pendek. Ah, tapi aku senang karena logika aku ternyata benar. Ada kepuasan dalam hatiku, Apalagi mengetahui bahwa tidak ada satu-pun di kelasku yang mempunyai cara berpikir seperti aku saat mengerjakan soal.

OK, kita balik lagi ke Hermawan, lupakan Fisika. Sejujurnya, datangnya Hermawan padaku dan meminta aku menjadi sekretarisnya membuat aku sangat senang. Berpisah kelas dengan dia, tidak mendengar ciutan suaranya, canda kacaunya, iseng tingkahnya membuat aku merasa ada yang hilang dalam hari-hariku di sekolah. Tidak ada lagi yang membangkitkan semangat aku di pagi hari. Banyak kelowongan di dalam hati semenjak kita pisah kelas.

Yes!” seruanku pelan dengan mengayunkan tanganku yang mengepal kencang.

Sambil tersenyum sendiri, aku melangkah menuju lapangan basket. Aku meletakkan tas ranselku di bawah ring, melepas kemeja sekolahku dan menyisakan kaos dalamku. Sudah menjadi kebiasaan aku memang memakai kaos dalaman karena aku hampir selalu bermain basket selepas jam belajar. Aku bergabung dengan Hermawan, dan ada beberapa teman lain, Tinus, Agung, Berto, Donna, dan Fauzan di lapangan. Panas teriak tidak menjadi gangguan bagi kami. Hiburan gratis setelah penat dengan pelajaran hari itu.

“Kita three on three yuk!” ajak Hermawan yang dilanjut dengan terpisahnya kami menjadi dua group. Hermawan bersama Berto dan Donna, sedangkan aku berada di tim lawan bersama Tinus dan Agung. Keliling lapangan-pun tidak lama menjadi ramai dengan teriakan teman-teman lain untuk memberi semangat pada tim pilihan mereka. Permainan berakhir dengan 36 lawan 32 untuk tim aku.

Berjalan ke pinggir lapangan, aku mengambil handuk kecil dari dalam tas dan mengelam keringat yang mengucur deras.

“Beib, ini aku belikan teh botol dingin nih. Segaar banget,” kembali suara Hermawan dari belakangku yang cukup mengagetkan. Tetapi aku sekarang lebih siap dibanding kejadian sesudah ulangan Fisika tadi.

“Weeits, tumben baik banget. Makasih sangaaat!” jawabku sambil meneguk teh botol pemberiannya. Jawaban aku itu juga mengundang Hermawan untuk memiting aku.

“Bau keteeek,” teriakku dengan gelak tawa yang menggelar di pinggir lapangan. 

“Enak aja!” timpal Hermawan sambil mendudukkan badannya di samping aku. 

Sementara di lapangan sudah ada tim lain yang bertanding menggantikan kami. Keseruan tetap terjadi di siang hari panas itu. Aku duduk di samping Hermawan, dan kembali merasakan degupan di dada. Aku terdiam heran dengan pukulan keras di dada.

Kenapa ya?Apa karena aku memang kangen dengan kebersamaan kita yang tidak ada sejak pisah kelas? Atau akibat ulangan Fisika tadi, atau emang aku yang lagi tidak benar jantungnya nih,” pikiran yang berputar dan akhirnya aku abaikan karena aku lebih tertarik dengan permainan basket di depan mataku.

 “Kapan kita cari waktu ya Beib untuk siapkan dokumen program kerja dan hal lain sehubungan Sie Olahraga ini.”

“Beib” memang merupakan panggilan Hermawan dari kelas 10 dulu. Candaan balik dari teman-teman yang menyebutkan bahwa sepertinya kami berdua jodoh, dijawab Hermawan dengan memanggil aku “Beib”. Namun hanya sejauh itu – panggilan “Beib”.

“Wokey Wan, kita cari waktu saja. Mau di mana kerjainnya?” tanyaku.

 “Terserah! Bisa rumahku, bisa juga ditempatmu Beib,” jawabnya sambil kembali menghirup teh botol dinginnya.

Naah, ini jawaban yang aku tunggu.

“Rumahku saja ya. Orang tuaku sedang di luar kota, tidak ada orang jadi lebih nyaman dan tenang,” jawabku cepat.

“Sipo Beib! Atooor! Nanti malam ya aku datang.”

Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku, Samson, 5 tahun lebih tua, sekarang kuliah di Jerman karena beasiswa yang diraihnya. Sementara kedua orang tuaku sekarang ada di Sumatera Utara, kampung halaman, karena eyang sedang lemah badan.

Aku mengacungkan jempol untuk merespon Hermawan. Kembali aku merasakan debar di dada. Entah mengapa, Hermawan akan ke rumah membuat aku senang. Namun konflik terjadi.

Apa sih ini aku. Koq aneh banget!

Eh mungkin kamu ada rasa ke Hermawan.

Rasa apa! Dia teman aku dari kelas 10 dulu. Kenapa aku harus ada rasa.

Eh siapa tahu. Hati kan tidak bisa diatur.

Ah jangan sok tahu lah, tidak mungkin lagi juga.”

Hati-hati, jangan tekebur kamu.

Tengkaran suara yang cukup mengesalkan dan mengganggu pikiran aku. Pertikaian yang akhirnya aku putuskan untuk hentikan dan aku memilih untuk menikmati pertandingan di depan mata.

Ketika hari sudah meredup dan matahari perlahan hilang di balik peraduan, aku memutuskan untuk kembali. Perlahan aku mengangkat badanku dan menepuk Pundak Hermawan dengan berkata, “Aku pulang duluan ya Wan! Udahmulai gelap, badan juga udah lengket semua nih.”

“Hati-hati ya Beib!” timpalnya sambil membantu aku bangkit dari dudukku.

Ah dia memang pria idaman – pintar, olahragawan, aktif, pemerhati” pikirku dari dalam mobil kecilku sambil memandang Hermawan dari kejauhan. Pikiran “pria idaman” aku tepis, aku ganti dengan “teman terbaik”.

*****

Setiap peperangan ada pemenangnya,

Senang atau tidak, kekalahan diterima,

Namun, kalah bukan berarti duka,

Kalah memberi ruang pada suka,

Kesempatan baru lebar menyala. 

Suara menderu mobil jip Hermawan, mobil yang sudah beberapa kali aku naiki karena seringnya kami menghadiri acara di luar sekolah, terdengar keras di depan rumahku, di bilangan Serpong. Sejujurnya, walaupun kelas 10 kami cukup dekat, namun belum sekalipun aku mengundang Hermawan memasuki rumahku. Memang aku sering di antar ke rumah saat mengikut acara bareng dia. Namun, itu hanya sejauh sampai di depan pagar.

Well, there is always a first for everything”

Menghampiri pintu depan, aku memutar kunci dan memandang Hermawan yang berjalan masuk menuju gerbang dengan senyum khasnya. Rambutnya setengah basah, kaos ketat di badannya dan celana jeans robek-robek yang dikenakannya mendesak suara itu kembali mencuat keluar, “Gagah dan ganteng dia!

Bah, banyak cakap (=bicara) kamu. Diam sajalah!

“Malam Beib! Sudah makan? Aku bawa martabak kesukaan kamu nih untuk camilan kita nanti,” suaranya berteriak sambil menutup gerbang depan.

“Seep, masuk aja ya! Aku siapkan piring. Minum teh hijau seperti biasa kan?” tanyaku yang dijawab dengan anggukan Hermawan.

Memang Hermawan itu hidup sehat!

Dia tidak merokok, rajin berolahraga, jarang bergadang kecuali saat menghadapi ujian atau lomba, minum alkohol kaleng hanya kalau ada acara dan itu-pun bisa dihitung dengan jari. Hobinya minum teh hijau sehingga tidak heran dia selalu membawa kotak kecil berisi teh hijau yang siap disedu air panas. Anehnya, akupun suka sekali teh hijau dan brand kami sama.

Saat aku keluar membawa minuman dan piring, Hermawan sedang memandangi foto keluarga yang terpampang di ruang tamu. Kembali aku melihat senyumnya yang lebar dan aku tahu pasti dia sedang melihat foto aku kecil. Hermawati berambut kriwil (=keriting kecil) pendek, memakai baju gaun putih setengah paha dengan stocking putih panjang.

“Lucu sekali kamu kecil Beib! Tapi muka kamu bandel. Pasti kamu kesayangan opung ya?” katanya sambil terus memandangi foto di dinding.

Aku tertawa keras mendengar komentarnya. 

“Sebegitu kentaranya? Iya, memang kata mamaku, aku tuh nakal. Suka sekali mengganggu opungku dengan tingkahku sehingga membuat opung panik. Aku suka naik jendela, panjat tempat tidur dan itu semua aku lakukan hanya saat aku melihat opung muncul,” aku menceritakan sedikit kenakalanku di masa kecil.

“Menggemaskan tapi kamu Beib!”

“Ayuks lah, kita ke ruang tengah. Eitss, jangan kamu foto ya itu! Aib,” sambil menarik tangan Hermawan aku memutus rencana dia mengambil gambar dari foto kecilku.

“Ah kamu Beib, kapan lagi aku bisa ambil foto kecilmu!” Hermawan terhenyak dari tempatnya karena aku menariknya ke ruang tengah.

“Gak usah!” sahutku sambil tertawa karena melihat kepasrahan dia mengikut aku.

Sigap, Hermawan langsung menempatkan martabak pada piring yang aku sediakan dan bumbunya pada mangkuk kecil di sampingnya. Dia juga menuangkan minuman ke dua cangkir yang aku siapkan. Sementara aku menyiapkan laptopku dan membuka file OSIS yang sudah aku unduh beberapa saat sebelum Hermawan tiba. Kesibukan yang aku lakukan untuk melawan debaran jantung yang tiba-tiba mengeras.

Haduh kamu kenapa sih! Kayak orang tidak berakal! Dia tuh teman lama, jangan macem-macem!

Lah aku tidak buat apa-apa. Itu alam bawah sadarmu yang mengatur!

Pakai logika, jangan dibodohi kamu!

Kembali suara-suara itu berputar-putar di dalam kepala. Keributan yang mengganggu kesadaran aku akan situasi yang sedang aku hadapi saat ini.

“Kita mau mulai dari mana?” tanyaku untuk melawan pikiran-pikiran yang timbul dan mengganggu konsentrasi aku.

“Baiknya kita cek dulu visi dan misi OSIS tahun ini, lalu kita lihat dokumen Sie Olahraga tahun lalu. Kalau ada yang perlu kita sesuaikan bagian atasnya, kita rubah. Baru setelah itu, kita lanjut dengan rencana program dan terakhir anggaran. Gimana?”

“Yap, aku pikir begitu juga supaya runut kita kerjainnya,” aku setuju dengan usul yang diberikan oleh Hermawan.

“Aku sambung dulu ke TV ya supaya bisa lebar dan lebih enak bacanya,” kataku sambil mencolokkan kabel TV flat 36 inch-ku ke laptop.

“Aku buat kanan kiri saja dokumennya supaya kita baca tidak naik turun. Okey?” tanyaku lagi.

“Mantap Beeib! Gak salah lah aku pilih kamu jadi sekretaris aku,” jawabnya dengan senyuman, menatapku dan kembali mengacak-acak rambutku. Kesukaan Hermawan yang sudah terjadi sejak kami masih di kelas 10.

Eh tapi kali ini… mata Hermawan menatap tajam dan dalam ke arah aku. Sesaat aku kikuk tetapi dengan kemahiran aku, itu bisa aku tutupi.

“Halaaah omong kosong,” respon aku sambil tertawa dan memandang laptop aku untuk mengubah tampilan serta menghindari tatapan Hermawan yang menusuk dalam ke dalam diri aku.

Kami memandang layar TV dan mulai mempelajari apa yang tertera di dalam rencana OSIS. Diskusi terus berlanjut untuk menyesuaikan visi dan misi dari Sie Olahraga. Kata demi kata kami tuliskan, kami rubah, kami pikirkan, kami debatkan dan berakhir kami sepakati. Membuat beberapa patah kata dan kalimat visi dan misi, ternyata tidak mudah. Memang membangun mimpi itu sulit karena tidak tahu apa yang akan terjadi di depan.

Helaan nafas keluar dari kami berdua dan bersama kami merebahkan badan pada senderan kursi sambil melihat tugas pertama kami selesai. 

Perlahan aku menurunkan layar dan menunjukkan bagian program Sie Olahraga. Kami membaca program tahun lalu dan membicarakan apakah program tersebut masih cukup relevan di lanjutkan di tahun ini. Kami mengecek kegiatan-kegiatan khusus tahun lalu dan mencari informasi kalau ada kegiatan baru di tahun ini. Satu demi satu baris kami isi dan lengkapi. Tugas kedua selesai. 

Hi Five!” Hermawan mengangkat tangannya dan aku balas.

“Ayo satu lagi, tanggung… jangan santai dulu nanti malah tidak selesai,” aku tidak mau terbuai dengan suasana. Sebenarnya ingin rasanya aku memeluk Hermawan karena semua bisa berjalan dengan lancar, cepat dan tepat. Ada rasa kebanggaan tersembul di dalam diri akan keberhasilan yang kita berdua lakukan. Kebahagiaan bahwa hal ini dilakukan diantara kita berdua, tidak ada orang lain.

Bagian paling akhir adalah menghitung anggaran yang dibutuhkan serta membuat rencana pemantauan serta bagaimana semua hal di evaluasi pada akhir kegiatan. Karena sudah ada dokumen dari tahun sebelumnya, tidak banyak waktu yang kami butuhkan untuk mengubah dan melengkapi bagian terakhir. Dalam waktu kurang dari 3 jam, semua dokumen sudah lengkap diisi dan siap untuk disampaikan ke Pengurus OSIS.

Kali ini, helaan nafas panjang yang keluar dari kami berdua. Suara yang benar-benar keluar menggambarkan kelegaan, kebanggaan dan kebahagiaan. Semua rasa menyatu jadi satu akan keberhasilan yang kami lakukan menyelesaikan dokumen. Kami menyeruput teh hijau dan terus memandangi layar TV. Tiada kata yang keluar dari mulut kami selain pandangan penuh senyum dan bangga ke layar.

Tiba-tiba Hermawan memajukan badannya, memandangku lekat “Terima kasih banyak ya Beib.”

Suaranya dalam tetapi mengalun dan menusuk ke dalam hatiku. Tidak ada canda dalam suaranya, matanya memandang aku tajam. Perlahan namun pasti, jemarinya menggenggam erat tanganku dan membawanya ke dadanya, “Tanpa kamu, aku yakin aku tidak bisa menyelesaikan semua ini seperti sekarang.”

Tidak berhenti disitu!

Tanganku tetap di dadanya, digenggam erat dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengelus lembut pipiku dan mengatur rambutku yang memang selalu berantakan. Aku menundukkan muka, aku kalah! Aku kelabakan dengan gerakan tidak biasa yang Hermawan lakukan. Namun, dengan halus, tenang dan tetap dengan tatapan tajamnya, Hermawan mengangkat mukaku. Perlahan dan lembut dia mengecupku.

“Aku sayang kamu Beib!” bisiknya lembut di depan mukaku.

Pernyataan yang sudah tidak bisa lagi aku jawab. Mukaku merah panas serasa api membakar, dadaku berdetak kencang dan keras seakan drum musik rock, badanku lunglai seakan kapas jatuh ke tanah. Tak terasa aku sudah tenggelam dalam dada bidangnya dan masuk dalam pelukan erat tangannya.

“Aku koq rasa lucu ya… Aku mengecup kembaranku,” suaranya keluar diiringi dengan tawanya. Di tengah kebahagiaan yang akhirnya memecah semua pertanyaan di kepala, aku merasa lucu dengan pernyataannya dan meninju dadanya. 

Apakah aku kalah dengan perangku, atau apakah ini awal dari satu suka yang harus aku mulai rajut?

*****

 

Buku baru menanti cerita,

Lembaran putih menganga,

Membagi narasi menanti pena,

Rangkaian kata berbagi cinta.

Kisah cinta di SMA, sering disebut orang cinta bohongan! Cinta pertama bukan cinta abadi!

Apakah itu yang terjadi pada kami berdua. Aku tidak bisa menjawab itu karena hanya Tuhan yang tahu jawabannya. Kita manusia tidak bisa melihat apa yang terjadi pada waktu berikut, bahkan pada beberapa detik berikut. Ada ketakutan mendera dalam diri akan hilangnya sosok Hermawan di depan mata.

Tetapi aku mengatur pikiranku. Setiap saat kedekatan itu terjadi, kebahagiaan tercipta, kenyamanan terasa bahkan perdebatan terjadi, aku akan menikmatinya. Aku akan membiarkan elektro magnetik antara kami berdua terus menyatu dan berpadu sehingga kami bisa menikmati aliran listrik yang mengalir deras membangun kejut dalam diri.

Hari demi hari harus kami anyam supaya menjadi cerita manis dan kenangan yang membuat kami tertawa pada saat nanti. Tidak ada yang tahu sampai kapan hidup kita sehingga cerita indah perlu kita torehkan setiap hari.

Sikap dan sifat kami berdua yang easy going, tidak terlalu menunjukkan bahwa ada hubungan khusus antara kami berdua, bertingkah lalu biasa tanpa perubahan, dan terutama kepemimpinan Hermawan membuat Sie Olahraga menjadi favorit. Memang, tidak dipungkiri, di banyak sekolah, olahraga merupakan mata pelajaran favorit. Namun di sekolah kami, Sie ini tidak hanya melihat sisi olahraga. Banyak kegiatan lain kami selenggarakan. Kami, Sie Olahraga, mengusung moto “Sportif dan Kebersamaan”.

Itu juga yang kami bawa pada program tahun ini. Selain berbagai kegiatan olahraga, kami mengundang alumni yang berhasil dan beberapa tokoh terkenal untuk menjadi pembicara. Semua tema dan topik yang tim siapkan mengacu pada moto. Setiap acara yang Sie Olahraga adakan ramai dengan siswa. Aula selalu padat dan penuh.

Angket monitor yang kami sebarkan sebagian besar memberikan masukan dan rekomendasi positif. Sering selesai acara, kami, tim pelaksana, bersama Hermawan tentunya, membaca komentar-komentar yang disampaikan pada angket. 

 “Sangat menggugah dan membuka pikiran aku. Ternyata orang tua cerewet itu karena mereka ingin yang terbaik untuk kita.”

Terima kasih Kak! Aku baru sadar banyak orang di sekeliling aku yang lebih susah. Aku menyesal mengapa selalu melihat ke atas.”

Aku sangat terinspirasi untuk memulai membangun karier dari sekarang. Ternyata banyak ide dan cara kreatif yang sudah bisa kita kembangkan, walaupun masih SMA.

Aku sampai menangis. Aku selalu memikirkan kekuranganku, iri dengan orang lain. Padahal banyak orang lebih susah dari aku. Terima kasih, Kawans!

Semua komentar, yang kita baca satu persatu, malah membuat kita menjadi lebih semangat lagi untuk berkarya bagi teman-teman kita. Semua kelelahan karena mempersiapkan acara sampai menginap di sekolah hilang lenyap. Bahkan para guru-pun salut akan kerja Hermawan dan sering mereka datang menyalami dia.

Kata yang sama selalu keluar dari mulutnya, “Ini bukan saya Pak dan Bu! Semua ini hasil karya kita semua. Tanpa teman-teman, petugas satpam, pembersih sekolah, ibu kantin, Bapak dan Ibu Guru tentunya, acara ini tidak akan bisa berlangsung seperti ini.”

Aku biasa memandang Hermawan dengan bangga dari jauh. Aku bukan tipe suka tampil di muka tetapi aku lebih suka kerja dari belakang layar.

Tapi ya itu… Hermawan selalu memanggil kami semua panitia untuk maju ke depan. Sehingga aku, dan semua tim tentunya, harus melangkah maju dan berdiri di hadapan semua guru dan peserta OSIS lainnya. Hermawan selalu menarik aku untuk berdiri di sampingnya dan memelukku. 

Tidak jarang dia mengacak-acak rambutku, kesukaannya, serta mengecup lembut kepalaku, sambil berbisik, “Terima kasih Beib! Semua ini karena ada kamu di sisi aku.”

Tetapi semua keberhasilan itu bukan tanpa perjuangan. Darah muda yang ada pada kami di Sie Olahraga, kadang membuat adanya pertikaian dan perdebatan serta teriakan tidak setuju yang terjadi di antara kami. Lucunya, adakalanya itu bukan pertengkaran karena program atau kegiatan tetapi karena perebutan pasangan. 

Pernah satu kali, Tinus dan Berto berkelahi karena masalah perebutan pasangan. Hermawan masuk di tengah-tengah mereka tanpa rasa takut bahwa dia akan terkena pukulan. Oh iya, aku lupa cerita, Hermawan itu juga berlatih bela diri karate sejak di bangku Sekolah Dasar. Mungkin itu yang membuat rasa percaya dirinya tinggi untuk berani masuk di tengah-tengah pertikaian.

Kejadian seperti itu, sebenarnya sering membuat aku ketakutan. Keberanian Hermawan masuk di tengah perkelahian sering menciptakan rasa dingin mengalir ke seluruh tubuh, sekujur tubuh membeku, semua seakan diam, badan lemas tidak berdaya. Kaki dan tangan menarik untuk membantu tetapi aku tahu bukan membuat suasana membaik. Semua rasa itu akan berakhir ketika hasil akhir terlihat.

Beberapa saat lalu, aku menemukan pelipisnya berdarah terkena pukulan dari Alberto yang saat itu bertikai dengan Renata.

“Kamu hati-hati, Wan. Saya selalu tegang kalau kamu masuk di tengah pertikaian,” aku berusaha mengingatkan Hermawan sambil mengobati luka di pelipisnya. Tentunya, hal itu tidak membuat Hermawan untuk menghentikan aksi heroiknya.

Kisah Tinus dan Berto juga sama. Hermawan melerai mereka dan mengajak mereka masuk ke ruangan OSIS, mengajak mereka berbicara baik-baik. Alhasil, mereka bertiga keluar dari ruangan dengan tawa terbahak-bahak.

“Aku membiarkan mereka bertengkar Beib, bertengkar mulut tapi. Aku dengarkan mereka, jadi negosiator, dan di akhir perdebatan aku tanya, ‘Emang di dunia ini ceweq cuma dia, sampai musti rebutan?’ Mereka terdiam, lalu tertawa,” cerita Hermawan di dalam mobil saat mengantar aku pulang.

“Padahal Beib, kalau ada orang yang mau ambil kamu, mungkin aku akan sama seperti mereka. Aku akan perjuangkan,” lanjutnya sambil melirik aku, mengacak rambutku, mengecup bibirku dan tertawa keras.

“Hallaaah! Kamu ngomong begitu kan karena ada aku di sini,” sahutku ingin menunjukkan ketidakpercayaan aku pada ucapannya.

Hermawan menggenggam tanganku, menarikku mendekat dan dia memajukan wajahnya tepat di depanku, “Beib, cinta itu tidak bisa diatur. Dia datang dengan sendirinya. Kalau sudah datang, sulit ditolak, apalagi kita atur. Kalau cinta itu bisa direngkuh, apalah artinya kalau tidak diperjuangkan.”

Aku mengecupnya dan memeluknya erat. Peperangan suara yang aku alami membuat aku paham sekali apa arti ucapannya yang sangat dalam itu. 

Di kala senggang, terutama penat dengan segala macam keliaran masalah di OSIS atau teman-temannya, Hermawan mengajak aku menonton film di bioskop. Kepiawaiannya sebagai negosiator, melerai pertengkaran sering membuat Hermawan terlibat dalam banyak konflik dan pertengkaran. Memang tidak semua berhasil di damaikan, tetapi minimal suasana bisa menjadi lebih baik karena Hermawan. Baginya, kerjaan itu sangat melelahkan.

Kebetulan menonton adalah hobi aku semenjak aku kecil. Mamaku sering cerita ketika kecil yang bisa membuat aku duduk tenang dan tidak berkeliaran sekeliling rumah adalah ketika aku menemukan film indah dan menarik hatiku. Aku akan duduk tenang menikmati film yang diputar. Bahkan makanku menjadi cepat kalau aku lakukan itu sambil menonton film yang aku sukai.

Kami berdua tidak terlalu memilih genre film yang akan kami tonton. Kami hanya melihat siapa aktor dan aktrisnya, siapa sutradaranya dan sering memperhatikan juga siapa music director dari film tersebut. Kalau banyak film menarik beredar, kami bisa keluar masuk ruangan theatre sampai tiga kali. Bersyukur segala sesuatu bisa dibeli secara online sehingga kami tidak perlu mengantri tiket.

Thanks ya Bieb! Asli menonton itu bisa menghapus segala kesah di kepalaku. Aku jadi fresh. Ditambah ada kamu juga tentunya Beib,” seperti biasa sambil mengacak rambutku dan menarik erat tubuhku ke dalam pelukannya.

Malam biasa kami tutup dengan duduk di pinggir pantai, menikmati teh hangat dan roti bakar. Pantai di utara ibu kota merupakan tempat kesukaan kami. Sepanjang areal itu menebar café-café yang nyaman untuk duduk santai menikmati keindahan malam sambil mendengar sayup musik dari salah satu café yang menghadirkan live music.

Kami sering duduk di luar memandangi bintang di langit dan menebak bentuk apa yang digambarkan oleh bintang-bintang itu. Mungkin karena Hermawan bercita-cita menjadi seorang Astronom sehingga tidak heran dia suka sekali dengan bintang. Aku sendiri kurang paham tetapi dengan sabar dia menjelaskan bentuk dari bintang-bintang itu. Sejujurnya, aku selalu bingung karena aku tidak bisa melihat bentuk yang digambarkan Hermawan.

“Ah kamu, Beib! Nanti ya aku kasih kirim e-book mengenai gambar bintang supaya kamu bisa lihat dan menikmati juga seperti aku,” katanya ketika aku tetap kebingungan dengan bentuk yang digambarkannya.

Di saat lain, saat kantong sudah tipis, kami menikmati tayangan-tayangan film melalui layar TV di rumah kami. Orang tua kami sudah mengenal kami dengan baik dan mereka tidak pernah melarang kami menonton film di saat senggang kami. Nilai kami yang selalu di posisi juara kelas membuat mereka tidak ragu dengan kami.

“Wati, coba kamu jaga tuh Mawan! Jangan dia lerai-lerai perkelahian terus. Satu saat nanti bisa bahaya ke dia,” satu saat Mama Hermawan meminta aku mengingatkan Hermawan akan sifat heroiknya melerai pertikaian..

“Iya, Tante. Saya sudah sampaikan itu beberapa kali. Tapi memang sulit, banyak yang berserah pada Mawan untuk hal-hal pertikaian. Dia sangat piawai sebagai negosiator. Tapi saya akan ingatkan terus, Tan,” responku sambil memandang Hermawan yang terus tersenyum mendengar percakapan kami. 

Komentar yang sama sering aku dengar dari mamaku juga.

“Nak, kau jaga baik-baik Hermawan itu. Baik dia itu anaknya, pintar lagi,” seruan Ibu padaku di saat kami sedang sarapan pagi sebelum aku berangkat sekolah.

“Sulit memang Hermawan itu, Ma. Aku sudah bilang dia beberapa kali,” sahutku dengan perasaan putus asa.

“Doakan saja, Ma supaya tidak ada aral melintang,” lanjutku. 

“Amiin,” kami berdua meng-amin-kan.

Bersantai di rumah saja, pada saat kantong tipis dan harapan menghilangkan penat, memang jauh lebih nyaman dibandingkan masa orang tua kami. Itu yang sering kami dengar dari mereka. Dengan adanya android TV berlayar lebar membuat segala sesuatu menjadi mudah. Kami bisa bebas melanglang buana dalam dunia internet. Di tambah dengan puluhan channel dan program TV sangat membantu dalam menikmati hari. Semua bisa diraih sejauh mengutak-utik kotak hitam yang disebut remote.

*****

Ketika awal harus menjadi akhir,

Namun akhir menjadi cerita anyar,

Torehan pena baru menjadi kabar,

Masa depan luas terhampar.

Satu tahun sudah berlalu. Kepengurusan di OSIS sudah selesai. Satu tahun juga elektro magnetik yang berpadu dalam kehidupan kami sudah mengalirkan arus listrik dalam langkah kami. Getaran listrik kadang meninggi tetapi lebih sering stabil dan membuat suasana tenang, damai dan menjanjikan. 

Pembubaran tim Sie Olahraga diadakan di rumah Hermawan, yang tidak jauh dari rumahku. Setiap kami membawa makanan dan minuman yang sudah disepakati dari beberapa hari sebelumnya. Beberapa anak wanita, termasuk aku tentunya, membantu menyiapkan tempat dan peralatan yang dibutuhkan di rumah Hermawan. Kami tidak ingin mengganggu orang tua Hermawan, apalagi merepotkan, asisten rumah tangga mereka.

Hermawan tampak santai dengan celana pendek jeans belel di atas lutut dan kaos putih olah raga. Kesederhanaan yang bagi aku menampilkan Hermawan yang segar dan gagah. Walaupun rona merah di samping mata akibat melerai perkelahian sekolah kami dengan beberapa anak dari kampung dalam, masih kentara. Pertikaian karena balapan motor di jalur baru yang sepi dekat salah satu mall besar di Serpong.

Dia memeluk aku sambil mengucap, “Terima kasih ya Beib sudah mau bantu-bantu di rumah ini.”

“Pasti laaah… Tidak mungkin aku menyerahkan semua pada Mamamu atau asisten rumah tangga,” sambil mengelus matanya yang lebam aku menimpali apresiasinya.

“Kamu hati-hatilah, Wan! Mungkin di kelas 12 ini, kamu harus berhenti dengan segala negosiasi atau melerai perkelahian. Aku sangat khawatir,” kembali nasihat keluar dari mulutku. Kali ini, aku tidak bisa menahan tumpukan air mata yang mengambang. Tumpukan air yang mengisyaratkan kumpulan beban tertahan di dalam diri selama ini.

Hermawan menghapus air mataku yang hampir jatuh, mengecup lembut pipiku dan berkata, “Iya Beib. Aku janji, kita sekarang fokus pada pelajaran saja.”

Janji yang bagi aku hanya keluar di mulut. Aku tidak yakin, Hermawan bisa menolak bila ada yang meminta bantuannya untuk bernegosiasi. Apalagi kalau dia melihat teman-temannya bertengkar. Dia pasti akan tergerak. Aku menyesali kebodohanku menasihatinya. Tetapi aku merasa harus terus mengingatkan dia. 

Dalam kepasrahan, aku memeluk erat Hermawan, aku mengalunkan doa dalam hatiku “Tuhan, hanya kepadaMu saja aku serahkan dia. Jaga dia ya, Tuhan.

Acara perpisahan berlangsung seru dan sangat menyenangkan. Beberapa permainan disiapkan oleh tim acara membuat ramainya suasana di saat itu. Ditambah dengan halaman belakang rumah Hermawan yang cukup luas, karena rumahnya ada di sudut, menambah mudahnya semua acara dilaksanakan. Kegiatan akhir kami ditutup dengan duduk di karpet ruang tengah dan masing-masing menyampaikan kesan, pesan, termasuk kekesalan mereka.

Hernawan menutup dengan sambutan singkatnya, “Terima kasih teman-temanku semua. Tanpa kalian, aku tidak ada daya. Kalau kita memulai kerja sama ini dengan kertas kosong, dari pesan, kesan dan kekesalan kalian tadi, maka kita akan menghapus semua tulisan merah dan memulai kembali langkah kita dengan kertas putih kosong. Mohon dibukakan pintu maaf, bila ada kata dan perbuatan saya yang tidak berkenan. Itu semua bukan dengan kesengajaan, tetapi pure kepleset (=salah langkah/tidak sengaja) saja saya.”

Kami lalu berpelukan dan saling memaafkan. Isak tangis terdengar dalam ruangan. Ternyata kebersamaan satu tahun ini banyak cerita dan aksi yang cukup membekas. Perpisahan ini membuat semua menjadi cair. Tiada lawan, yang ada hanya kawan. Tidak ada musuh, yang ada hanya sahabat hidup.

Persiapan ujian akhir dan memasuki jenjang kuliah sudah mulai padat. Kami tenggelam dalam berbagai tim belajar dari berbagai mata pelajaran, terutama Matematika, Fisika dan Kimia. Terkadang kami mengundang guru-guru kami untuk membantu dan memfasilitasi. Pelaksanaan kegiatan belajar ini kami buat berpindah-pindah atau dari rumah satu ke rumah lain. Harapannya supaya tidak bosan dan tetap semangat.

 “Beib, gimana kamu? Jangan bergadang ya Beib kalau belajar,” tanya Hermawan padaku Ketika dia melihat aku merebahkan kepala di senderan bangku mobilnya.

“Ah tidak koq! Tadi malam, Opung telepon dan mengabari kalau Eyang lemah badan lagi. Aku bantu Mama dan Papa untuk siap-siap terbang. Jadi agak mengantuk,” jelasku untuk menghilangkan khawatir Hermawan.

“Kalau begitu kita ke rumahmu saya ya Beib. Jadi kamu bisa lebih santai. Aku WA di group untuk sampaikan perubahan tempat. Kamu tidur dulu saja sekarang,” Hermawan mengelus pipi dan keningku. Aku memejamkan mata yang sangat pedas karena kurang istirahat.

 Januari 2020, berita munculnya virus baru di China merebak. Belum adanya obat untuk menyembuhkan, tidak tersedianya vaksin untuk menangkal dan melejitnya kasus kematian bermunculan di banyak media di penjuru dunia. Sementara kami tidak begitu pusing dengan berita itu. Kami sangat sibuk untuk menghadapi ujian akhir dan asa masuk ke perguruan tinggi negeri sesuai pilihan kami.

Hermawan dan aku sudah mendaftar pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri di Institut Teknologi Bandung. Jurusan Astronomi yang dicintai Hermawan dan Arsitek yang menjadi keinginanku ada di situ. Bukan kami mencari tempat supaya tetap bersama tetapi memang itu adalah tempat yang sudah ada dalam daftar kami berdua sejak lama. Hasrat besar untuk bisa diterima secara langsung.

Kisah lain di sekolah kami, kejadian pertikaian dengan sekolah negeri memanas. Tidak jarang beberapa siswa dari sekolah itu datang mengunjungi sekolah kami dan berteriak-teriak mengajak berkelahi. Persoalan sangat sederhana, kekalahan mereka pada pertandingan basket antar sekolah menengah atas di akhir semester lalu. Hermawan menjadi target utama mereka karena dia menjadi top scorer dan pemain terbaik.

“Hati-hati ya Beib. Jangan dilayani kalau mereka datang. Biarlah para guru yang turun tangan,” kekhawatiran sangat kental terdengar di suaraku. Tentunya aku tidak mau ada hal buruk yang terjadi pada Hermawan.

“Aku akan waspada dan pasti mengajak Pak Marcel bersama kalau mereka datang Beib,” sahutnya sambil memegang erat tanganku. Pak Marcel adalah Guru yang bertanggung jawab pada bidang kesiswaan.

Siang itu, Jumat terakhir di Januari 2020, seperti sudah diperkirakan, hampir 20 anak siswa dari sekolah negeri itu datang ke tempat kami. Mereka memasuki halaman sekolah karena saat itu jam belajar sudah usai dan kondisi pintu terbuka lebar. Seluruh pintu untuk masuk ke dalam gedung belajar ditutup rapat sehingga mereka tidak bisa masuk ke dalam.

“Mana itu si jagoan basket sekolah ini! Ayo keluar!” teriak salah satu siswa yang sepertinya pimpinan dari gerombolan itu.

“Jangan kau layani, Wan, pliiiis,” aku menarik tangan Hermawan dan menahannya untuk keluar. Aku sangat ketakutan melihat rombongan di halaman sekolah yang terlihat sangat beringas dan penuh kemarahan.

“Aku harus keluar Beib. Kalau aku tidak keluar, masalah ini tidak akan selesai,” matanya memandang kepadaku seakan menguatkan aku bahwa tidak ada hal buruk akan terjadi.

“Pak Marcel akan menemani aku di depan nanti,” Hermawan lanjut menjelaskan dan berusaha untuk menghilangkan rasa khawatir yang terus menyelubung di dalam diriku.

“Doakan semua lancar ya Beib,” pintanya sambil memeluk aku erat.

*****

Matanya tertutup rapat penuh kedamaian. Walaupun kelelahan tergurat jelas pada wajahnya, aku tahu dia sudah senang dalam kedamaian. Jas hitam dengan dalaman putih yang membalutnya menambah jelas bersih, gagah dan tampannya dia. Senyum tampak jelas tersungging pada bibirnya, kendatipun dia tertidur. 

Ya, dia tertidur! Dia terlelap! Dia sudah senang! Dia ada dalam damai! Dia bersama dengan Engkau,” jerit hatiku di saat air mata sudah mengering dan habis tercurah.

Masih jelas tergambar di mataku ketika Hermawan menemui siswa dari sekolah negeri itu. Langkahnya tenang bersama Pak Marcel berjalan bersama di sampingnya. Wajahnya menunjukkan tidak ada ketakutan maupun kemarahan. Semua harus diselesaikan seperti yang dia sampaikan sebelum dia keluar dan bertemu dengan siswa-siswa itu.

Di depan pimpinan siswa sekolah negeri itu, di saat belum ada kata keluar dari mulutnya, sebilah parang menusuk dalam di jantungnya. Kami memandang penuh tanya dari balik kaca kelas. Semua terdiam, bumi berhenti berputar, suara hilang dalam kelam, tidak ada gerak, tidak ada teriak. Aku merasa semua ini adalah film yang kami tonton dalam bioskop dan tayangan di layar TV Android.

Tidak! Ini bukan benar terjadi! Ini hanya tontonan kami!” batinku menolak.

Yang kuat Hermawati. Tuhan sudah menentukan, kita manusia harus menerima.

Tidak! Tidak! Ini tidak benar! Tidak mungkin!” suara itu terus berteriak dalam hati.

“Kamu harus kuat! Kamu adalah orang yang tegar! Lawan dan majulah!

Suara yang mengajak aku untuk melangkahkan kaki keluar menuju halaman sekolah. Suara yang menuntun aku untuk duduk di depan badannya yang bersimbah darah. Suara yang menguatkan aku untuk menarik badannya ke pelukanku. Tanpa air mata, tanpa kata keluar dari mulutku, aku meletakkan kepalanya di paha tanganku, aku mengelus-elus pipinya lembut lalu menggenggam tangannya erat.

“Hai Beiiib! Aku jalan duluan yaa…. Kamu lanjutkan peperanganmu. Jangan berhenti! Simpanlah aku dalam-dalam di hatimu! Aku sayaaang kamu Beib!”

*****

 

Fiksi dengan judul “Elektro Magnetik yang Berpadu” merupakan cerita fiktif yang terinspirasi dari teman saya. Dia dari Sie Olahraga, pintar sekali, jago basket dan suka bercanda. Kisah yang disampaikan dalam cerita sama sekali bukan kisah hidupnya atau hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. Tulisan ini asli merupakan karya sendiri, bukan merupakan karya plagiasi atau diambil dari karya orang lain (30-Mar-22).

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!