Five Second Violation
67.8
13
516

Hanya dengan melihat Theo, Reinaldi seolah melihat Zita. Kemiripan wajah Theo dengan sepupunya justru membuat Reinaldi salah tingkah. Setiap melihat Theo, Reinaldi jadi teringat senyuman menawan Zita. Apakah senyuman memang punya efek sedahsyat itu? Salahkah Reinaldi jika menaruh hati pada sepupu sang sahabat?

Iddar yang berlaku sebagai center melakukan rebound dari lemparan lawan yang gagal memasuki ring. Dia men-dribble bola basket di tangannya sambil berlari lalu mengopernya ke arah Theo. Theo secara sigap menerima umpan passing yang Iddar berikan lalu dengan tangkas langsung menembakkannya ke arah ring lawan dari luar garis three points. 

Bola bundar itu tak langsung masuk, melainkan berputar-putar di tepian cincin keranjang. Membuat para punggawa basket serta para penonton merasa gugup. Selisih skor di antara dua tim hanya berbeda dua poin. Dan tembakan Theo adalah penentu kemenangan. Entah timnya harus pulang dengan kekalahan atau pulang membawa trophy kemenangan.

Saat akhirnya bola itu memilih menjatuhkan diri melalui lubang keranjang, sorak sorai pemain dan penonton pihak pemenang bergemuruh memenuhi penjuru stadion. Tak terkecuali Reinaldi, salah satu anggota inti tim pemenang yang harus puas hanya duduk di bangku penonton akibat cedera angkle kaki yang dia dapat tiga hari sebelum pertandingan.

“WOOOO … THEO THE BEST ….” Sebuah teriakan melengking terdengar dari arah belakang. 

Cempreng amat! batin Reinaldi.

Suara nyaring itu masih terus terdengar meneriakkan satu per satu nama pemain inti. Reinaldi jadi penasaran siapa pemilik suara bernada sumbang itu. Tapi bukannya menemukan siapa pemilik suara pecah tidak enak didengar, Reinaldi justru menemukan sosok gadis yang dikenalnya. Gadis itu duduk tepat di belakangnya, tengah tersenyum lebar menatap ke arah lapangan tanpa sedikitpun menyadari eksistensinya.

Lima.

Empat.

Tiga.

Dua.

Satu.

Five second violation.

Seorang pemain basket tidak boleh menahan bola lebih dari lima detik tanpa memantulkan bola. Sanksinya, bola akan diberikan ke lawan melalui throw-in atau lemparan ke dalam.

Jika ini lima detik berharganya saat memegang bola, maka Reinaldi baru saja melakukan pelanggaran itu. Jika saja ini adalah kali pertamanya bertemu dengan gadis itu, maka itu adalah lima detik pertamanya merasakan sesuatu yang mungkin disebut ‘cinta pada pandangan pertama’. Sanksi yang harus dia dapat karena tak dapat mengalihkan pandangan dari rekahan senyum menawan itu adalah jatuh hati pada sepupu sahabatnya sendiri.

Sebulan kemudian.

Siang yang terik, di antara ratusan siswa yang tengah menghabiskan sisa waktu istirahatnya di kantin sekolah, Theo dan Reinaldi duduk bersisian di salah satu meja kantin. Sepasang sahabat yang sudah saling mengenal sejak SMP itu hanya duduk sambil menikmati minuman dingin masing-masing. Theo dengan es teh manisnya dan Reinaldi dengan es milonya. Hanya minuman, tanpa makanan. Mereka masih sama-sama kenyang setelah menyantap seporsi soto saat jam istirahat pertama tadi. 

“Mampus!” maki Theo pada dirinya sendiri sambil menepuk jidat saat mengingat sesuatu. Mengabaikan beberapa penghuni kantin di sekitarnya yang kini menoleh akibat celetukan tak beradabnya. 

Reinaldi yang duduk di sebelahnya hanya menaikkan sebelah alis. Bersikap acuh tak acuh. Memilih untuk menyesap es perpaduan rasa susu dan coklat dalam gelasnya sambil memperhatikan Theo yang kini sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.

“Gue lupa ada latihan,” seru Theo tanpa mengalihkan atensi dari layar pipih dalam genggamannya.

“Masih jam sebelas kali, Yo. Santuy!” sahut Reinaldi tak ambil pusing. Dia cukup hapal jadwal latihan karate yang sedang Theo geluti itu. Setiap Selasa jam empat sore. Dan sekarang masih jam istirahat kedua yang artinya bel pulang sekolah baru akan berbunyi sekitar dua jam lagi. “Latihan lo kan sore biasanya.”

“Gue udah kepalang janji sama Zita mau nganterin dia ke toko buku,” ujar Theo. Ia melirik Reinaldi sekilas sebelum kembali menatap ponselnya. Terlihat saling bertukar pesan dengan seseorang yang entah siapa.

“Zita? Sepupu lo itu?” tanya Reinaldi. Mencoba menjaga raut muka agak tak menunjukkan kesan antusias secara berlebihan.

Vallen Zita Wibowo namanya. Sepupu Jovan Theodore Hartadi. Dari cerita Theo, gadis itu tinggal bersama keluarganya karena ayah Zita—yang merupakan orang tua tunggal—tidak tega membiarkan putrinya tinggal seorang diri disaat pekerjaan sering memaksanya bepergian ke luar kota bahkan luar negeri dalam kurun waktu tertentu.

Pernah baca buku Critical Eleven? Di buku diceritakan jika profesi Anya adalah seorang management consultant. Ya, seperti itulah kira-kira pekerjaan ayah Zita. Klien perusahaan konsultan tempat ayahnya bekerja berasal dari berbagai kota hingga mancanegara. Hal ini memungkinkan sang ayah berpergian ke beberapa kota atau beda negara dalam waktu cukup lama. Satu bulan, misalnya?

Reinaldi cukup sering bertemu Zita saat main ke rumah Theo. Cuma sebatas pernah melihat tapi tidak pernah berkenalan secara resmi. Untuk apa juga berkenalan dengan gadis yang selama ini minim ekspresi dan punya kesan ketus? Ajaibnya, sejak sebulan yang lalu, semua kesan itu luntur begitu saja. Bisa-bisanya dirinya tersihir senyum gadis itu di tengah hiruk pikuk penonton stadion basket.

Theo manggut-manggut menjawab pertanyaan Reinaldi. Teman sekelasnya itu lantas mendongak. Mengalihkan netra dari ponsel menuju Reinaldi. “Gantiin gue, ya?”

“Hah?” Dahi Reinaldi berkerut, bingung akan permintaan Theo. 

Ini Theo sedang memintanya menggantikan latihan karate atau menemani Zita? Dan di antara dua hal itu, tidak ada satu pilihan yang bisa dia terima begitu saja. Pertama, Reinaldi tidak mungkin menggantikan Theo latihan karate karena dirinya sama sekali tidak tahu menahu soal ilmu beladiri itu. Yang ada dirinya jadi sasaran empuk untuk dibanting lawan latihannya. Kedua, tidak mungkin juga Reinaldi menggantikan Theo menemani Zita. Dia memang tahu kalau Zita adalah sepupu Theo dan dia juga tak menyangkal jika dia merasa tertarik sejak melihat killer smile gadis itu, tapi tetap saja aneh kalau tiba-tiba dirinya menawarkan diri untuk menemani gadis itu ke toko buku. 

Ingat! Mereka hanya saling tahu, bukan saling kenal. Bakal awkward banget nggak, sih, pergi ke suatu tempat dengan orang yang nggak dikenal?

“Temenin Zita ke toko buku, ya? Sekali ini aja!” pinta Theo dengan raut sok memelas.

“Berangkat sendiri bisa kali, Yo! Udah gede ini!”  Reinaldi mencoba jual mahal.

“Zita tinggal di rumah gue kan tujuannya biar ada yang jagain,” tutur Theo, bertindak layaknya seorang sepupu yang baik dan bertanggung jawab. “Masa gue tega biarin dia ke toko buku sendiri.”

Reinaldi gagal paham.

Masalahnya dimana? Zita seumuran dengan mereka yang artinya sudah 17 tahun. Siapa juga yang mau nyulik? Kalaupun ada yang mau jahatin, orang bego mana yang mau jahatin gadis remaja berwajah ketus sepertinya di dalam mall, apalagi di dalam toko buku? Belum dijahatin, penjahatnya juga udah jiper duluan liat tampangnya. 

Dan kalau memang segitu worry-nya, skip latihan, kan, bisa? Walaupun Reinaldi tak sepenuhnya menolak permintaan sahabatnya itu, tapi gengsi kalau main iya-iya saja. Apalagi Reinaldi tak yakin juga dirinya benar-benar terpesona atau hanya efek euphoria semata atas kemenangan tim basket sekolahnya waktu itu

“Gue nggak bisa skip latihan karena hari ini ada ujian sabuk,” ungkap Teo seakan bisa membaca pertanyaan dalam otak Reinaldi. “Sekali ini aja, Rei, please ….”

Kalau sudah begini, Reinaldi bisa apa? Tampang memohon Teo nggak ada cakep-cakepnya, yang ada Reinaldi geli mendapat tatapan puppy eyes dari makhluk sejenis. Lagipula, nggak ada salahnya menerima. Bukankah Reinaldi jadi bisa memastikan perasaannya sekali lagi?

Tepat jam lima sore, Reinaldi sudah menghentikan scooter matic-nya di depan rumah Theo. Tangannya lantas terulur ke dalam saku jaket untuk mengambil ponsel dan mengabari Zita melalui nomor telepon yang sempat diberikan Theo tadi siang. 

Tak butuh waktu lama, gadis bernama Zita itu terlihat keluar melewati pintu utama rumah itu. Memakai kaos lengan pendek warna putih dengan garis horisontal hitam dipadu kulot hitam tanggung di bawah lutut, sneakers putih dan backpack kecil di punggung. Sukses membuat Reinaldi menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat penampilannya. 

Fix! Cuma efek euphoria semata!

Setelah melewati pagar rumah, alis Zita bertaut dan memandang bingung ke motor yang sedang ditungganginya. Mungkin salah ekspektasi atau kecewa karena mengira jika Reinaldi akan menaiki motor yang biasa dia pakai. Haruskah Reinaldi sebut sebagai typical cewek matre, yang maunya kelihatan wah atau keren dari kendaraan yang ditumpanginya?

“Kenapa? Malu naik motor matic?” sindir Reinaldi dengan nada senormal mungkin, berusaha agar tidak terdengar meledek secara terang-terangan.

Kerutan di antara dua alis Zita semakin dalam. Memandang Reinaldi dengan tatapan sinis. “Justru gue heran. Kalau punya motor ini, kenapa harus nyiksa diri pakai motor trail? Apa enaknya coba naik motor begitu? Buat gaya-gayaan? Biar dianggap keren karena kelihatan kayak anak yang hobi off-road? Padahal bukan jenis motorcross atau enduro juga.”

Jawaban tak terduga keluar dalam bentuk cercaan untuk Reinaldi. Meruntuhkan title ‘cewek matre’ yang sempat dia sematkan tadi. Zita sepertinya mengingat kendaraan agung yang biasa dia pakai saat beberapa kali main ke rumah itu. Tapi ungkapan tadi, lebih terlihat seperti gerutuan dibanding hinaan. Tampaknya gadis itu terlampau hapal rasanya dibonceng motor serupa yang juga dimiliki oleh Theo. 

Satu poin plus-nya, Zita tahu bedanya motor yang khusus dipakai off-road dan mana yang bisa dual-purpose. Padahal motor trailnya kalau dipakai off-road juga bisa-bisa saja. 

“Duduk sebagai pengemudi dan penumpang, rasanya jelas beda, lah! You can’t relate!” tanggap Reinaldi pada akhirnya. Menolak dianggap cuma buat gaya-gayaan. 

Gadis itu merotasi mata. Malas mendengar jawaban Reinaldi yang terdengar seperti sebuah pembelaan. Terserahlah. Reinaldi juga tidak terlalu peduli pada pemikiran Zita tentangnya. Lagipula dia sudah memastikan kalau perasaannya kala itu hanya sekedar lewat. Bukan menetap.

“Nih!” Reinaldi menyerahkan helm yang sebelumnya tergantung di antara dua lututnya pada Zita.

“Lo pulang aja, deh, Rei!”

Lah?

“Gue bisa pergi sendiri, kok!” sambung Zita, tidak peduli dengan reaksi yang tengah Reinaldi tunjukkan. “Theo aja yang lebay pake acara minta tolong sama lo segala. Padahal cuma ke toko buku, nggak kemana-mana juga. Kayak gue nggak bisa pergi sendiri aja.”

Hidung Reinaldi kembang kempis menahan emosi. “Masalahnya, gue udah sampai di sini. Ya, masa gue balik lagi? Nanti kalau tahu-tahu Theo telepon nanyain lo, gue jawab apa? Udah, gih, naik aja! Gratis, ini! Daripada gue dicap sebagai cowok nggak bertanggung jawab.”

“Ck!” decak Zita. Walau dengan raut kesal dan terpaksa, gadis itu pada akhirnya meraih helm dari tangan Reinaldi dan segera mengenakannya. 

“Lo nggak ambil jaket dulu?” tanya Reinaldi teringat akan pakaian Zita, sesaat sebelum gadis itu naik ke jok belakang. “Kita balik pasti udah gelap, nggak apa-apa kaosan aja? Minim pakai masker, kek! Kita naik motor, loh! Bukan mobil.”

“Gue emang lagi mau nyapa angin. Jadi sengaja nggak pake jaket,” jawab Zita enteng seraya naik ke boncengan Reinaldi.

Nyapa, sih, nyapa aja! Tapi seharusnya tahu kalau mereka berangkat saat jam macet dan baru pulang saat hari sudah gelap. Angin malam campur polusi udara saat atau usai jam padat lalu lintas itu nggak bagus buat tubuh. Kalau sepupu sahabatnya ini pulang dalam keadaan masuk angin atau kena ISPA, siapa juga yang akan disalahkan? Absolutely, Reinaldi!

Baru saja Reinaldi berniat melepaskan jaketnya untuk dia serahkan pada Zita, gadis itu lanjut berkata, “You can’t relate!

Sial!

Setelah hampir dua jam menemani Zita dalam hening sambil sesekali ikut melihat-lihat koleksi buku yang ada, akhirnya gadis itu menuntaskan juga aksi memilih dan membayar buku pilihannya. Keluar dari tempat itu, Reinaldi berinisiatif mengajaknya untuk makan malam. Ya, kali, dua jam muterin toko buku, Zita nggak merasa lapar atau minimal merasa haus, gitu?

“Di foodcourt ada Bakso Malang, kan?” tanya Zita yang sepertinya sudah menentukan menu santap malamnya. “Gue lagi pengen bakso.”

Reinaldi memberi persetujuannya dengan sebuah dehaman. Dia bukan golongan orang yang harus makan nasi agar merasa kenyang, jadi bakso sebagai pilihan bukanlah sebuah masalah. 

“Lo mau makan apa? Gue traktir karena lo udah udah nemenin gue,” lanjut Zita lagi.

“Samain aja. Biar nggak repot harus pesan beda tempat.” 

Zita manggut-manggut. Kalau dilihat seperti itu barulah terlihat kemiripan antar dua sepupu itu. Tanpa sadar Reinaldi menyunggingkan senyum, membayangkan Theo menggunakan pakaian wanita. Mungkin akan terlihat mirip dengan Zita sekarang. Hanya saja postur Zita lebih kecil dan tentu lebih imut.

Imut?

Astaga! Bisa-bisanya dia berpikir Zita imut. Imut dari mana kalau modelannya ketus dan jutek kayak gini? 

“REI!” 

Reinaldi menoleh saat mendengar namanya dipanggil dari satu arah, dari  salah satu outlet yang menjual pakaian wanita. Itu Raisa. Sang mantan. Seperti biasa, Raisa selalu memakai pakaian yang membuat Reinaldi harus sering-sering menyebut nama Tuhan sambil mengelus dada. 

Bagaimana, tidak? Yang dipakai adalah pakaian menggoda iman. Badan aduhai yang dibalut minidress dengan bagian dada rendah dan hanya menutup sepertiga paha. Lelaki mana yang tak akan tergoda melihat penampilannya?

“Nyari apa?” tanya Raisa yang sudah berdiri di depannya. Sekilas dia melirik ke arah Zita. Menelisik penampilan Zita dengan pandangan meremehkan. Sedangkan Zita sendiri justru tampak bergidik ngeri melihat Raisa.

“Ke toko buku, nggak nyari apa-apa. Nemenin, aja!” sahut Reinaldi, datar tanpa ekspresi. “Lo sendiri?”

“Beli baju!” Raisa tersenyum sambil mengangkat paperbag di tangannya setinggi kepala, lalu kembali melirik ke arah Zita yang susah menjauh, duduk di sebuah kursi panjang dekat pagar pembatas selasar mall. “Itu cewek baru kamu?”

Reinaldi mengangkat sebelah alis. Menimbang antara harus menjawab jujur atau berbohong saja mengingat Raisa masih terus-terusan menempelinya seperti lem sejak putus lima bulan yang lalu. “Calon.”

Raisa melotot dengan alis menukik. Tampak tak suka dengan jawaban yang baru saja Reinaldi berikan. “Dekil, amat? Cantik aku kemana-mana, lah, Rei!”

Reinaldi tak menampik. Kalau dibilang cantik, Raisa memang cantik. Tapi sifatnya cukup melelahkan. Selalu menilai rendah orang lain dan cenderung menjadi pihak dominan. Tidak mau disalahkan dan selalu memaksakan kehendak. 

“Balikan sama aku aja, lah, Rei!” rayu Raisa. Wajahnya memelas dengan tangan menggamit lengan Reinaldi tanpa permisi. “Janji, deh, aku nggak bakal egois lagi!”

Reinaldi memasang senyum ramah sembari melepaskan lilitan tangan Raisa dari lengan kirinya. Dia meraih sebelah tangan Raisa lalu mengusap punggung tangannya dengan lembut. Membuat sudut bibir Raisa membentuk lengkungan ke atas. 

Mata Raisa menatap penuh binar pada dua netra Reinaldi. Telihat penuh harap atas tindakan yang Reinaldi berikan. 

“Lo tahu, Sa …,” ucap Reinaldi masih dengan senyum manisnya. “Gue nggak pernah menarik kembali ucapan gue. Jadi, pikiran gue nggak akan berubah. We are done! It’s over between us.

Seketika itu juga Raisa melongo. Harapan yang sempat gadis itu pikirkan, tentu lenyap seketika dengan satu kalimat terakhir Reinaldi. Tanpa perlu berkata lebih banyak lagi, Reinaldi melepaskan pegangan tangannya dan meninggalkan Raisa yang masih terbengong di tempat. 

“Ayo, Ta!” ajak Reinaldi pada Zita yang sedang memainkan ponselnya dengan posisi horisontal. 

Gadis itu mendongak, menatap Reinaldi sebentar lalu melirik ke arah Raisa yang berdiri tak jauh di belakang. “Udah kelar?”

Reinaldi mengangguk. “Buruan! Laper gue!”

“Cih! Siapa juga yang bikin lama?” cicit Zita seraya berdiri dan menyejajari langkah Reinaldi. “Tadi siapa? Tante lo?”

Pertanyaan yang Zita lontarkan sontak membuat Reinaldi tertawa. Setelah dipikir-pikir, dandanan Raisa jika di luar sekolah memang cukup bold. Make up look paket lengkap. Mulai dari polesan wajah berlapis-lapis, tampilan alis on fleek, riasan mata yang menambah dimensi di bagian bulu mata, belum lagi perona pipi hingga lipstik berwarna nude bertekstur matte. Tak salah jika Zita melihatnya seperti tante-tante karena penampilan Raisa memang terlihat lebih tua dari umur sebenarnya.

Tak salah juga jika Raisa mengatai Zita dekil. Ya, kalau dua gadis itu disejajarkan, Zita yang punya wajah polos tanpa sedikitpun make up dengan 1-2 bintik hitam bekas jerawat di bagian pipi tentu akan terlihat timpang jika dibandingkan wajah cetar membahananya Raisa Arthalita.

“Dia adik kelas gue,” jelas Reinaldi. Lebih merasa kasihan mendengar Raisa disebut tante-tante daripada ungkapan dekil Raisa soal Zita. Toh, wajah Raisa tanpa make up juga pasti tak jauh berbeda. 

Zita manggut-manggut sambil ber-oh-ria. “Gue kira lo punya sugar mommy.”

Kampret!

Selesai makan malam, mereka berjalan beriringan menuju parkiran motor. Sesekali Reinaldi melirik Zita yang  berjalan di sisinya. Pandangan gadis itu lurus ke depan dengan wajah tanpa ekspresi yang familiar dia tunjukkan. Sangat aneh jika kesan yang selama ini Reinaldi dapat mendadak berubah hanya karena sebuah senyuman. 

Senyuman yang dirinya lihat sebulan lalu pasti sebuah kesalahan. Entah dia sedang bermimpi dengan mata terbuka atau paling buruk matanya sedang tidak sehat hingga salah melihat sesuatu. Jelasnya, gadis di sebelahnya ini tak mungkin punya senyuman seindah itu. Senyum Raisa masih lebih unggul dibanding senyum si gadis ketus.

Baru saja Reinaldi akan menekan tombol elevator, Zita justru berlari menjauh ke satu arah. Reinaldi hanya diam di tempat, memperhatikan Zita yang tampak mengejar seseorang. Tepat saat dirinya sudah berada di belakang seorang wanita, gadis itu menepuk bahu wanita itu. Sang wanita yang merasa terpanggil lantas berbalik. Sebuah senyum merekah saat mendapati Zita berada di belakangnya. Begitu pun Zita yang ikut memasang senyum tak kalah lebar. Sukses membuat Reinaldi mematung di tempat. 

Damn!

Reinaldi benar-benar jatuh hati dengan senyuman Zita. Dan saat gadis itu tertawa setelah mendengar ucapan wanita di hadapannya, Reinaldi reflek menyentuh dadanya. 

Sial!

Jantung Reinaldi berdegup tak karuan. Hatinya jungkir balik. Perutnya serasa digelitiki ribuan kupu-kupu. Perasaannya dipenuhi ratusan bunga yang sulit diabaikan begitu saja. Apa efek sebuah senyuman dan tawa seseorang memang sedahsyat itu? Reinaldi sudah gila jika benar-benar jatuh hati pada Zita. Bagaimana bisa dia jatuh hati pada sepupu Theo? Sepupu sehabatnya sendiri? Yang benar saja?

Dari tempatnya berdiri, Reinaldi dapat melihat Zita sedang menunjuk ke arahnya. Wanita di depannya tadi menoleh padanya. Saat itu juga Reinaldi tahu jika wanita yang disapa Zita itu adalah Rita—Kakak Theo—yang Reinaldi ketahui berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit besar. Melihat Rita menganggukkan kepala sebagai bentuk sapaan, Reinaldi pun balas mengangguk kaku. Makin kikuk karena Zita tengah tersenyum sambil menghadap ke arahnya. 

Pijakan di kakinya terasa amblas. Agak lebay memang, tapi Reinaldi tak akan menolak jika dirinya disebut tengah tenggelam dan larut dalam senyuman itu. Dia sama sekali tak mampu mengalihkan arah pandangnya dari Zita. Dari senyumannya.

PLOK!

Sebuah tepukan tangan di depan wajah mengembalikan Reinaldi pada realita. Dia terkesiap seolah baru saja kembali dari dimensi berbeda hingga tak sadar jika Zita kini sudah berada di hadapannya sedangkan Rita sudah hilang entah kemana. 

“Lo kesurupan jin penunggu lift, ya?” tanya Zita.

Renaldi mengusap wajahnya. Bagaimana bisa dia menaruh hati pada gadis seperti Zita?

Di tepi lapangan basket yang mulai terik, Reinaldi duduk berlutut sambil menjepit kedua kaki Theo di antara dua lutut dengan kedua tangan memengangi area pergelangan kaki. Sedangkan sang pemilik kaki sendiri sedang berbaring terlentang dengan menekuk lutut. Kedua tangannya berada di belakang kepala dengan jari-jari yang saling terjalin untuk menghindari benturan antara kepala dan lantai. Sudah ada di posisi siap melakukan sit up, tinggal menunggu aba-aba dari guru olahraga untuk memulai perhitungan.

Reinaldi menoleh ke kanan dan kiri. Memperhatikan seluruh penghuni kelasnya tengah memasang posisi yang sama. Setengah dari teman-temannya berada di posisi seperti dirinya, setengahnya lagi berada di posisi yang serupa dengan Theo. Dan dari 36 personil kelas, bisa-bisanya dia dipasangkan dengan Theo. Sosok yang paling ingin dia hindari sejak tiga hari belakangan.

PRIT!

Suara peluit tanda dimulainya perhitungan sit up terdengar. Reinaldi mengeratkan pegangannya dan Theo mulai mendorong tubuh bagian atasnya untuk naik mendekat ke arah lutut. Saat wajah mereka sejajar dengan jarak kurang dari 50 senti, tatapan netra keduanya bertemu. Theo jelas baik-baik saja, tapi Reinaldi justru salah tingkah. 

Melihat wajah Theo yang setelah diperhatikan secara lekat memiliki banyak kemiripan dengan Zita justru membuat Reinaldi mengingat senyum dan tawa malam itu. Reinaldi reflek memejamkan mata sambil mendengus kasar. Mencoba mengatur asupan oksigen yang terasa menipis padahal bukan dia yang sedang melakukan sit up.

Holy shit! Reinaldi pasti sudah gila! Bisa-bisanya ritme jantungnya naik hanya karena melihat wajah Theo. For God’s sake, ini Theo! Bukan Zita! What is he thinking about?

“Heh!” panggil Theo. “Jangan merem! Itung!”

Lagi-lagi Reinaldi mendengus. Matanya terpaksa dibuka dan parahnya harus terus memperhatikan Theo dan hitungan sit up-nya. Untuk mengurangi intensitas pertemuan mata di antara mereka berdua, Reinaldi memilih membuang muka. Hanya sesekali dirinya melirik untuk memastikan hitungan sit up Theo tidak terlewat. 

“Lo naksir sama gue?” tanya Theo saat tubuhnya naik ke arah lutut untuk kesebelas kalinya. 

What the heck? Reinaldi mendelik tajam mendengar pertanyaan aneh bin ajaib yang Theo lontarkan.

“Lo kayak ngehindari gue beberapa hari ini,” lanjut Theo. Tubuhnya kembali turun menyentuh lantai lalu naik lagi ke arah lutut. “Dan muka lo merah setelah ngelihat gue.”

Rasanya Reinaldi ingin tenggelam saja karena rona wajah yang tak dapat dikontrol. Segala macam umpatan yang dia tahu mendadak muncul dan menumpuk di otak. Berusaha sekuat mungkin dia bendung agar tidak meluncur melewati dua bibirnya. “Gue straight! Jangan ngajak ngomong dulu, nanti itungannya ilang!”

Reinaldi mendengar Theo mendecih. Lelaki itu kembali melanjutkan aksi baring duduk tanpa kembali bersuara disisa waktu yang tersisa. Dan tepat dihitungan 40, detik ke-60, peluit tanda berakhir ditiup. Reinaldi buru-buru bangkit saat itu juga. Mengabaikan kasak-kusuk siswa mengatur nafas diiringi gerutuan kelelahan.

Dia berjalan menuju guru olahraga yang sedang memegang paper board berisi skor penilaian. Usai menyebutkan angka dan melihat skor Theo dicatat tak lantas membuat Reinaldi kembali ke tempatnya. Dia memilih berdiri tak jauh dari sang guru. Hanya sedikit menepi untuk memberikan akses beberapa teman yang mulai mendekat untuk menyampaikan hasil hitungan masing-masing.

Dari tempatnya berdiri, Reinaldi melirik ke arah Theo. Lagi-lagi dirinya mengumpat dalam hati saat melihat Theo sedang menatapnya penuh selidik dari kejauhan. Efek senyuman Zita terlalu parah sampai-sampai sahabatnya salah sangka pada orientasi seksualnya. Salahkan Theo yang punya wajah mirip dengan Zita!

Aba-aba guru olahraga untuk pergantian posisi memaksa Reinaldi kembali ke tempatnya. Mengambil posisi berbaring sambil menekuk lutut dengan Theo sebagai penumpu kaki. Reinaldi memilih memejamkan mata dari pada harus bersitatap dengan Theo yang sedang menaruh curiga padanya. Dicurigai sebagai kaum pelangi. Sial!

“Lo nggak beneran naksir gue, kan?” tanya Theo saat Reinaldi mulai mengangkat tubuhnya untuk naik. 

“Sinting!”

Reinaldi duduk di salah satu kursi kantin. Sendiri. Tanpa Theo. Lebih tepatnya, dia kabur lebih dulu sedetik setelah bel istirahat berbunyi. Meski kaburnya ke kantin yang notabene juga jadi tempat tujuan Theo saat jam rehat, setidaknya dia bisa ambil nafas sedikit setelah terus-terusan ditatap penuh sangsi oleh Theo. Reinaldi merasa seperti pelaku yang sedang diusut setelah ditemukannya bukti kejahatan. Padahal kejahatan apa juga yang telah dia lakukan? Memang tertarik pada sepupu sahabat sendiri adalah kesalahan? Bodohnya Reinaldi. Kenapa juga dia harus kabur-kaburan? 

Baru saja dia memutuskan kembali ke kelas dan berpikir untuk tidak lagi menghindari Theo, Tuhan seolah menjawab pemikirannya. Dari arah pintu masuk kantin, terlihat Theo dan Iddar tengah berjalan ke arahnya. 

Wah … Tuhan sungguh baik hati!

Theo segera mengambil tempat duduk di samping Reinaldi. Sedangkan Iddar memilih duduk di seberang meja. Tanpa ba-bi-bu yang tak perlu, Theo memutar tubuh menghadap Reinaldi dan langsung menyergapnya dengan pertanyaan. 

Tell me the truth! Do you like me?” tanya Theo dengan wajah serius.

Reinaldi memutar mata. Pertanyaan yang sama untuk kali kedua dalam sehari ini. “Gila, apa?”

“Terus kenapa lo aneh banget beberapa hari ini? Lo, kan, bukan cewek yang ngerasain namanya PMS?”

“Nggak apa-apa!” jawab Reinaldi. Malas juga kalau harus menjawab jujur. Membayangkan dia akan jadi sepupu ipar Theo membuatnya mual.

Oh, God! Apa yang baru saja Reinaldi pikirkan? Sepupu ipar? Yang benar saja? Dia dan Zita saja belum jadian. Bahkan jauh dari yang namanya jadian, wong dekat saja, nggak. 

Iddar tertawa mendengar jawaban Reinaldi. “Kayaknya, Rei beneran PMS, deh! Barusan aja jawabannya kayak cewek yang lagi ngambek.”

Reinaldi tak ambil pusing dengan ledekan yang Iddar berikan. Dia memilih menyesap teh dingin yang esnya mulai mencair karena terlalu lama diabaikan.

“Setelah gue pikir-pikir, lo berubah sejak nganterin Zita. Jangan-jangan lo naksir sama Zita, ya?”

Reinaldi reflek menyemburkan isi mulutnya ke arah Iddar yang tepat duduk di depannya. Iddar yang tak menduga akan disemprot teh dingin bercampur liur itu kontan berdiri dan mengumpatinya dengan kesal. Tisu di atas meja dia ambil secara kasar untuk menyeka wajah dan bagian atas seragamnya yang sedikit basah. Kampret betul memang si Reinaldi!

“Ngomong apa, sih? Ngaco!” Reinaldi mengelak. Belum mau isi hatinya diketahui sang sahabat sekaligus sepupu gadis yang mencuri kewarasannya beberapa hari terakhir. 

Theo menyipitkan mata. Masih menaruh curiga akan perubahan sikap Reinaldi. “Terus kenapa lo kayak menghindar dari gue? Kayak ada yang ditutup-tutupin.”

“Ya, nggak ada apa-apa!” tegas Reinaldi sekali lagi. “Ada momennya gue pengen sendiri aja. Tanpa alasan khusus.”

Theo masih memicing tak percaya. Tapi tak lama setelahnya, lelaki itu mengendikkan bahu tak peduli. Membuat Reinaldi menghembuskan nafas lega secara perlahan. “Bagus, deh! Gue nggak mau punya ipar kayak lo!”

Sahutan Theo sontak saja membuat Reinaldi mendelik. “Kenapa?”

History pacaran lo mengkhawatirkan,” jawab Teo. 

Alis Reinaldi berkerut bingung. Tak mengerti di mana letak kesalahan riwayat pacaran yang baru tiga kali dia lakukan seumur hidupnya. Reinaldi merasa tidak ada yang salah kecuali bagian dia yang selalu bertindak sebagai pihak pemutus hubungan. Ya, mau diteruskan bagaimana lagi kalau gadis-gadis yang pernah jadi pasangannya ternyata berubah jadi super posesif dan penuntut? Dan Theo juga tahu betul perkara itu karena Reinaldi selalu menceritakan perihal putus cintanya pada sang karib. 

“Lo nggak pernah betah pacaran sampai tiga bulan.” Theo menjabarkan seakan tahu apa yang sedang Reinaldi pertanyakan dalam hati. “Cewek jadi posesif wajar kali. Namanya juga sayang.”

Reinaldi mendengus. “Posesif juga ada batasnya. Lo juga kan tahu ceritanya. Lo sendiri juga bilang nggak bakal betah kalau tiap jam di telepon. Ditanya-tanya lagi apa, lagi dimana, sama siapa, kayak bocil ditinggal emaknya.”

Theo tertawa sambil manggut-manggut membenarkan. 

Iddar yang sudah tak tampak kesal karena semburan yang tadi dia terima juga ikut tertawa. “Semua, kan, bisa diobrolin dulu, Rei! Nggak main asal putus!”

Reinaldi melirik malas ke arah Iddar. Sepertinya satu temannya itu lupa sudah berapa rekor berpacarannya. Kalau bosan-putus. Bawel-putus. Ada yang lebih cantik-putus. Ada yang lebih seksi-putus. Casanova cap kodok yang hobi lompat sana-lompat sini. Tidak pernah betah berlama-lama dalam satu hubungan. 

“Eh, Dar!” panggil Theo pada Iddar. “Pulang sekolah gue mau COD-an sepatu, nih! Lo tolong jemput Zita, ya?”

Hampir saja Reinaldi tersedak minumannya sendiri. Ia reflek menoleh pada Theo lalu pada Iddar yang sekarang sedang menganggukkan kepala tanda setuju. “Kenapa Iddar?”

Pertanyaan spontan yang Reinaldi ucapkan membuat Theo menoleh padanya. “Kenapa, nggak?”

Reinaldi terdiam sesaat. Mencoba mencari jawaban yang tepat. “Lo ngeremehin gue soal pacaran, tapi fine-fine aja biarin Zita dijemput playboy kabel kayak Iddar? Diskriminasi, nih, namanya!”

“Lah? Gue kan minta tolong jemput, Rei! Bukan minta Iddar jadi pacar Zita,” terang Theo membuat Reinaldi kicep tak mampu menjawab lagi. “Lagian, arah pulang Iddar sama gue kan searah. Jadi lebih gampang minta tolong sama Iddar.”

“Udah gue, aja!” Reinaldi mengambil alih urusan jemput-menjemput sepupu Theo itu. “Takut Zita dimodusin sama, nih, bocah!”

Reinaldi menatap sengit pada Iddar. Yang ditatap hanya mengangkat alis sambil tersenyum sinis. Sedangkan Teo menatap bingung keduanya. 

“Siap-siap punya sepupu ipar model Reinaldi, Yo!” ujar Iddar penuh keyakinan.

Setelah perdebatan panjang dengan Theo yang memaksanya buka suara perihal perasaan, Reinaldi menyerah dan mengakui ketertarikannya pada Zita. Pengakuan yang tentu mendapat tawa penuh ledekan dari Iddar dan lirikan tajam dari Theo selaku bakal calon ipar. Usai dia meyakinkan diri bahwa dirinya bukanlah buaya macam Iddar dan bukan juga lelaki yang punya niat menyakiti hati wanita, ijin menjemput Zita pun diberikan. Bukan tanpa embel-embel tentunya. 

Jangan lecet! Jangan diapa-apain! Awas aja, lo! Kalau Zita udah nolak, jangan dipaksa! Standar Zita itu tinggi. Gue, sih, nggak yakin dia mau sama lo!” kata Theo beberapa jam yang lalu.

Petuah kampret yang bikin Reinaldi jadi makin ingin mengejar Zita dan menjadikannya kekasih hingga bisa tersenyum penuh kemenangan di depan Theo.

“Rei, main itu aja, yuk!” ajak Zita menunjuk ke salah satu permainan di Game Zone.

Saat Zita menemukan Reinaldi yang menjemputnya di sekolah tadi, gadis itu langsung mengajaknya ke mall terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Reinaldi pikir, Zita ingin pergi karena harus membeli sesuatu, tapi gadis itu ternyata menyeretnya masuk ke tempat hiburan arkade untuk bermain.

Reinaldi mengikuti arah langkah Zita yang menuju ke Monster Drop Extreme. Setelah menggesekkan powercard-nya dengan scanner mesin permainan, Zita memasang posisi siap di depan tombol merah. Matanya fokus pada letak bola akan dijatuhkan lalu beralih pada lubang-lubang dengan berbagai skor yang berputar di bawahnya. 

Saat merasa yakin bola akan jatuh ke lubang dengan skor tertinggi, Zita menekan tombol merah. Bola yang semula di atas langsung meluncur jatuh. Naas, bola itu tak langsung masuk ke lubang incaran. Sang bola justru memantul dan menggelinding di bagian bawah. Tampak enggan menjatuhkan diri ke lubang manapun yang ada di sekitarnya. 

Reinaldi melirik ke wajah Zita yang tampak harap-harap cemas. Bibirnya dilipat ke dalam dengan netra mengikuti arah pergerakan bola. Tak berapa lama kemudian, wajah itu menampilkan raut kecewa. Tiga buah tiket keluar setelahnya, bukti bahwa bola tadi akhirnya memutuskan masuk ke lubang berangka tiga. Melihat wajah kecewa itu membuat Reinaldi tersenyum tipis. Kini dia sadar, tidak hanya senyum tapi dia menyukai ekspresi apapun yang Zita tampilkan. 

Gadis di sebelahnya itu kembali menggesekkan kartunya. Berniat mencoba untuk kedua kalinya. Reinaldi lantas menggeser posisi Zita dan mengambil alih permainan. Zita sempat akan protes, tapi dia lebih dulu menjelaskan maksud dan tujuannya.

“Gue, aja! Kalau bolanya masuk ke lubang bonus, jadi pacar gue, ya?” kata Reinaldi tanpa menoleh pada Zita. Matanya menatap bola dan barisan lubang secara bergantian.

Bukannya menjawab, Zita malah tertawa. “Gue tahu Theo kadang aneh, Iddar apalagi, tapi nggak gue sangka lo juga ikutan aneh.”

Reinaldi tak membantah. Dia akui dirinya memang aneh. Terutama sejak senyuman di stadion bulan lalu. Apalagi yang lebih aneh daripada itu?

“Kalau cuma sekali masuk kayaknya terlalu mudah, deh!” ucap Zita. “Bisa aja lo kebetulan emang lagi hoki aja.”

Reinaldi menegakkan tubuh dan menghadap Zita. Gadis itu sedang menoleh ke counter penukaran souvenir tiket. “Ada sesuatu yang lo mau?”

“Mug itu!” Zita menunjuk mug bulat dengan bentuk menyerupai bola basket. “Butuh dua ribu tiket untuk dapet mug itu.”

Reinaldi lantas tersenyum. “Gue boleh pakai cara apa aja?”

Zita mengangkat bahu. “Terserah. Kecuali nukar mug itu pakai uang. Lo tetap harus dapatkan itu pakai tiket dalam waktu dua jam.”

Deal!” sahut Reinaldi penuh keyakinan yang membuat Zita berkerut bingung. “Apapun asal dengan dua ribu tiket, kan?”

Zita mengangguk ragu, berbanding terbalik dengan Reinaldi yang justru memasang senyum kemenangan. Apapun hasil dari Monster Drop Extreme, Zita fix jadi pacarnya. 

Five second,” ucap Reinaldi sambil mengarahkan tangannya di atas tombol merah. “Lo punya lima detik untuk berubah pikiran atau merubah aturan permainan sebelum tombolnya gue tekan. Satu ….”

Zita tersenyum sarkas mendengar Reinaldi mulai menghitung.

“Dua ….”

Just do it!” perintah Zita.

“Tiga ….”

Zita masih memasang senyum meremehkan atas sikap percaya diri yang Reinaldi tunjukkan.

“Empat …. “

“Kayaknya lo terlalu percaya diri bakal menang,” cibir Zita sembari menoleh ke mesin permainan.

I will,” jawab Reinaldi sambil menekan tombol merah tepat dihitungan terakhir. “Lima!”

Bola meluncur jatuh, memantul dan menggelinding beberapa saat sebelum jatuh ke lubang berangka 25. Zita pun lantas memasang senyum kemenangan. Lebih seperti senyum ejekan atas kekalahan Reinaldi. “You lose!

I’m not!” sanggah Reinaldi. Dia merogoh saku celana abu-abunya. Mengeluarkan dompet lalu mengambil powercard miliknya. “Gue punya lima ribu e-ticket di dalam powercard gue. Artinya, gue bahkan bisa kasih dua buah mug buat lo.”

Zita melongo. Wajah terperangah tak percaya gadis itu membuat Reinaldi merasa gemas. Selain senyum, tawa dan berbagai ekspresi yang Zita tunjukkan, sikap kompetitif gadis itu menambah lagi nilai plus di matanya. Setidaknya, Reinaldi yakin jika berpacaran dengan Zita tidak hanya soal saling mesra, tapi juga bisa jadi teman sekaligus lawan main yang menyenangkan. Semoga.

“Terima kasih sudah mau nerima aku jadi pacar kamu,” kata Reinaldi.

Di warung mi ayam dekat rumah Theo, Reinaldi duduk berhadapan dengan Zita. Mereka masih saling diam setelah isi mangkok keduanya tandas. Tak ada yang bersuara. Reinaldi sendiri lebih memilih diam, tidak tahu juga harus berkata apa. Pertaruhan impulsif yang diajukannya sungguh di luar nalar dan kebiasaan. Dan hasil dari pertaruhan itu, dia mendapatkan Zita sebagai seorang pacar. 

Senang? Tentu saja. Tapi semua tetap terasa ganjil. Mau bagaimanapun ini soal perasaan dua belah pihak. Dan dari wajah Zita, tampak jelas jika gadis itu belum bisa menerima kekalahannya pada pertaruhan mereka di Game Zone tadi. Terlepas dari itu, bukankah taruhan tetap taruhan? 

“Cara lo termasuk curang, tauk!” seloroh gadis itu tiba-tiba.

“Kamu bilang boleh pakai cara apapun.” Reinaldi menyahut dengan tenang. “Nggak ada juga peraturan yang bilang kalau aku harus pakai tiket fisik bukannya e-ticket. Aku juga udah kasih kamu kesempatan untuk berubah pikiran termasuk syarat taruhannya. Tapi nggak kamu ambil, kan?”

Stop bilang aku-kamu! Gue belum setuju, ya!”

Fine.” Reinaldi menghembuskan nafas sebelum kembali melanjutkan. “Itu artinya lo yang curang karena menyalahi perjanjian.”

No! Gue orangnya fair. Tapi ini … salah!” kilah Zita. Reinaldi memilih diam menunggu gadis itu menerangkan lebih lanjut. “I mean, lo nggak bisa dong pacaran sama orang hanya karena pertaruhan kayak gini? Ini kayak mungut kucing dalam karung!”

True.” Reinaldi mengangguk setuju. “Tapi gue melakukan pertaruhan karena gue memang suka sama lo. Bukan pertaruhan kayak perumpamaan ‘mungut kucing dalam karung’. Lo juga udah setuju sama pertaruhannya. Harus terima konsekuensinya, dong!”

“Iya … tapi ….”

You don’t like me?” tanya Reinaldi pada akhirnya. 

“Bukan!” Jawaban Zita yang terlalu cepat membuat kedua alis Reinaldi terangkat. “Lo nggak terlalu buruk buat dijadiin pacar. Tapi…,”

“Ada orang lain yang lo suka?” timpal Reinaldi penuh rasa penasaran.

“Nggak ada,” sergah Zita. Gadis itu menegakkan tubuh lalu bersandar ke punggung kursi. “Justru gue yang seharusnya nanya. Lo nggak ada cewek lain yang lo suka? Cewek yang ketemu di mall waktu itu, mungkin?”

“Dia mantan gue,” beber Reinaldi. “Dan cewek yang gue suka itu lo!”

Zita mengerutkan kening. “Lo nggak nembak gue karena Theo, kan?”

Reinaldi menatap cengo atas konklusi yang Zita ucap. Dari mana asal-usul kesimpulan itu Zita buat? Kenapa harus bawa-bawa nama sang sepupu dalam pembahasan ini?

“Lo nggak dapat cerita aneh-aneh dari Theo, kan?” tanya Zita lagi. 

Wait! Wait! Wait!” Reinaldi mengangkat tangan di depan dada. “Kenapa kita jadi bahas Theo? Ini nggak ada hubungannya sama dia.”

Zita menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kasar. “Gue ngaku, gue udah suka sama lo dari lama. Dan Theo pasti cerita soal ini ke lo, kan?”

Mata Reinaldi melebar mendengar pengakuan Zita yang tiba-tiba. Sebuah plot-twist tak terduga dari dunia yang penuh dengan anomali. Tanpa sadar Reinaldi mendengus tawa atas rencana Tuhan yang mengejutkan. 

See?” ucap Zita yang tampak kesal melihat Reinaldi tertawa. “Theo pasti udah cerita soal ini sama lo dan lo cuma lagi berbaik hati aja bantuin Theo untuk nyenengin gue, kan?”

Theo, sialan! 

Lelaki itu ternyata tahu soal perasaan tersembunyi Zita tapi bertindak seolah-olah Reinaldi sepihak yang memiliki perasaan itu. Bagus sekali caranya berperan jadi saudara protektif. Sungguh teman sejati!

“Apa yang lo suka dari gue?” tanya Reinaldi yang kini dihinggapi rasa penasaran lainnya.

“Nggak ada,” jawab Zita sambil menggeleng pelan. “Lo cukup sering main ke rumah. Gue punya mata untuk memperhatikan kalian andi like you just the way you are. There is no spesial reason.

Reinaldi manggut-manggut sambil tersenyum senang. Siapa juga yang tidak senang kalau ternyata rasa tertariknya tidak bertepuk sebelah tangan? Think of it as God’s grace. It’s like fate, destiny or something. Maybe, it’s who they’re meant to be?

“Jadi, Rei … stop this!” pinta Zita. “Lo nggak perlu pura-pura suka sama gue cuma karena Theo. I’m cool with it.”

Kali ini Reinaldi benar-benar tertawa lepas. “Sorry, Ta! Gue bahkan nggak tahu soal perasaan yang lo pendam selama ini. Theo nggak pernah cerita apa-apa sama gue.”

Dahi Zita berkerut bingung. Membuat Reinaldi menghentikan tawa lalu menghela nafas sebelum akhirnya meraih sebelah tangan Zita yang ada di atas meja. Sekilas terlihat Zita hampir melotot melihat aksinya tersebut. 

“Gue belum terlalu yakin sama yang namanya cinta. Tapi satu hal yang pasti, i like you,” tutur Reinaldi dengan nada rendah penuh keseriusan. Dia mengelus pelan buku tangan Zita. “Really, really like you. Seperti yang lo bilang, i like you just the way you are. I like everything about you. Only you.

Masih terlihat jelas keragu-raguan di wajah Zita. Reinaldi pun lantas menceritakan five second violation yang dialaminya sebulan lalu. Menceritakan pula bagaimana dirinya terpesona akan tawa Zita saat di mall. Bahkan bagaimana dia merasa gemas dengan berbagai ekspresi yang Zita tampilkan hingga pertaruhan dadakan yang dirinya ajukan.

Sebelah tangan yang bebas, Zita gunakan untuk menutup mulut yang ternganga lebar. Seolah baru saja mendapat penjelasan yang super mengejutkan. Membuat Reinaldi tak mampu menahan senyum mengembang di wajahnya. He really like her. So much.

“So, wanna be my girl?” tanya Reinaldi. Kali ini dalam keadaan serius. 

Tanpa pertaruhan. 

Tanpa paksaan.

Zita memasang killer smile menawannya. “I do!

 

 

-SELESAI-

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!