Gadis Gandrung dan Si Santet
55.3
7
428

Kisah seorang anak laki-laki yang dijuluki dengan Si Santet karena Ayahnya adalah dukun santet di daerahnya. Dan teman perempuannya yang merupakan penari gandrung di sana, yang berakhir cukup tragis.

No comments found.

Veno, dia seorang murid di sekolah menengah pertama. Dia mempunyai ilmu santet yang diturunkan oleh ayahnya, yang merupakan seorang dukun. Jaman sekarang, santet yang terkenal di daerah banyuwangi mulai menyebar di beberapa desa. Veno sendiri berasal dari kota banyuwangi. Saat baru masuk ke sekolah barunya, beberapa temannya memanggilnya si santet. Karena sudah tersebarnya gosip kalo ayah Veno adalah seorang dukun santet. Tapi dia tidak terlalu memperdulikannya, karena… hinaan itu sudah biasa baginya.

Dia bersekolah di sekolah menengah pertama yang berada di tengah kota banyuwangi.
“Lihat, lihat. Anak santet datang tuh. Haha,” bisik Tegar, teman sekelas Veno saat melihatnya masuk ke dalam kelas.
“Haha. Hust, dia bisa saja membunuh jika begitu terus. Diam saja lah,” canda teman Tegar.. Anak yang bernama lengkap Aldo Venoriyo hanya melirik ke arah mereka semua. Tidak ada teman, bukan masalah, baginya… hidupnya sudah sempurna karena kepintarannya. Ya, walau dia selalu diolok-olok, dia memiliki kepintaran yang tidak bisa ditandingi. Tapi dia yang bodo amat, selalu cuek ke pada semuanya dan perkataan teman-temannya yang lain.

Tapi ada satu anak yang sangat menganggumi Veno karena ilmu yang dimilikinya. Namanya Letio Prawijaya, biasa dipanggil dengan nama Tio. Saat jam istirahat, salah satu teman sekelas Veno menghampirinya di taman. Dia bertanya pada Veno, “jika kamu seorang ahli santet, maka ceritakanlah bagaimana awal munculnya santet di kota ini.”
“Kamu sangat ingin tau?” tanya Veno melirik ke arah Tio. Tio kemudian menggelengkan kepalanya, dan meceritakannya.
“Julukan kota kita sebagai kota santet ini terkenal sejak peristiwa memilukan ketika 100 orang lebih dibunuh secara misterius karena dituduh memiliki ilmu santet. Peristiwa ini dikenal luas oleh masyarakat sebagai Tragedi Santet Tahun 1998. Kabupaten Banyuwangi terkenal dengan Tari Gandrung yang menjadi maskot kabupaten ini. Tapi aku tidak ingat keseluruhannya,” jelas Veno.
“Jadi… apa benar, kamu bisa melakukan santet seperti yang dikatakan anak-anak lain?” lontar Tio sesudah mendengarkan ceritanya.
“Aku?” jawab Veno, “aku tidak begitu alih tentang itu. Lagi pula, aku juga tidak ingin melakukan hal kejam seperti itu.”
“Tapi kenapa kamu diem aja saat diolok-olok mereka semua?” tanyanya sekali lagi.
“Diam bukan berarti benar. Diam bukan berarti lemah. Diam bukan berarti pengecut. Jadi jangan suka mengomentari hidupku,” jelas Veno dengan tegas.
“Apa? Aku tidak ingin menganggu hidupmu. Tapi… eem,” ucap Tio, “bolehkah aku jadi temanmu?”
Veno langsung melihat ke arah Tio dengan wajah yang kebingungan.
“Beneran?” tanya Veno serius.
“Iya. Selama kamu gak pake itu santet ke aku, gak masalah,” jawab Tio sambil mengangguk. Veno mengalihkan pandangannya, sambil berkata, “baru kali ini ada orang yang ingin berteman denganku.”
“Kalo gitu… berarti aku temen pertama dong,” sahut Tio penasaran.
“Gak sih. Ada satu orang lagi yang pernah ngajak aku. Tapi, dia sudah tidak ada di dunia ini,” jelas Veno sambil melihat langit.
“Baiklah. Kalo gitu, ayo. Temanku,” ajak Tio yang berdiri sambil memberikan tangannya, serta senyum lebarnya.

Sementara itu, di belakang mereka ada seorang gadis yang mendengar pembicaraan mereka berdua. Namanya Syila Alika Tiara, biasa dipanggil Syila. Dia juga teman sekelas Veno yang selalu memperhatikannya.
“Dia baru saja memiliki teman?” tanya Syila pada dirinya sendiri yang masih bersembunyi balik semak.
Cerita singkat saja. Syila adalah seorang penari, karena di kotanya sendiri lebih dikenal dengan sebutan Gandrung. Tapi sebenarnya memang banyak tarian-tarian yang berasal dari Banyuwangi. Syila sendiri lebih berminat di tarian gandrung.

Sedikit tulisan tentang Tari Gandrung. Tari Gandrung klasik diperkirakan lahir sejak 1700an. Tarian ini berasal dari Suku Osing, suku asli Banyuwangi. Menurut asal muasalnya, tarian ini berkisah tentang terpesonanya masyarakan Blambangan kepada Dewi padi, Dewi Sri yang membawa kesejahteraan bagi rakyat. Tarian ini di bawakan sebagai ucapan syukur masyarakan pasca panen dan dibawakan dengan iringan instrumen tradisional khas Jawa dan Bali. Tarian gandrung Banyuwangi dibawakan oleh seorang bocah laki laki atau lanang yang didandani menyerupai perempuan. Penari lelaki dengan busana dan gerak tari yang meniru gerakan putri dan penari itu disebut Gandrung Lanang (laki-Laki). Sejak Desember tahun 2000, tarian ini telah menjadi ikon dan maskot Pariwisata Kota Banyuwangi. Karena tarian ini pula Banyuwangi kemudian dijuluki sebagai Kota Gandrung.

***
Syila segera masuk ke kelas mengikuti Veno dan Tio. Dia sendiri sebenarnya sudah mengenal Veno dari dulu, tapi sepertinya Veno sudah melupakannya. Karena itu dia mencoba untuk mengikuti Veno kemanapun.
“Untuk apa coba. Aku ngelakuin hal yang kurang berguna begini,” katanya pada dirinya sendiri. Setelah itu, dia segera masuk dan duduk kursinya. Dia melihat wajah Veno yang dingin dari tempat duduknya. Kaila, teman Syila yang duduk di depannya datang mengejutkannya.
“Bruk.” Suara Kaila menepuk meja Syila. Itu membuatnya terkejut, dia langsung melihat ke arah Kaila dengan wajah kesal.
“Hey. Kenapa kamu ngelamun begitu. Haha,” tanya Kaila sambil tertawa.
“Bentar deh. Kamu gak lagi ngeliatin Si Santet, kan?” imbuhnya dengan wajah lantang. Karena suara lantangnya, seluruh kelas termasuk Veno mendengarnya dan langsung menatapnya.
“Apa katamu tadi?” tanya Leo dari kejauhan.
“Syeila suka sama Si Santet?” sahut Yeri yang juga bertanya.
“Hah? Oh nggak. Aku cuman lagi ngobrol sama Syeila. Selebihnya cuman candaan. Hehe,” jawab Kaila sambil tersenyum miris. Syeila hanya memasang raut wajah bingung dan khawatir karena ucapan Kaila, tanpa menjawab pertanyaan apapun.
Setelah itu ada alah satu adik kelas yang segera memanggilnya, “Kak Syeila? Kita mau latihan sekarang.” Syeila yang akan latihan karena mengikuti lomba tari yang sebentar lagi akan diadakan, dia bersiap-siap untuk keluar dari kelasnya.

“Tit, tit, tit.” Suara bel pulang berbunyi, ini saatnya untuk pulang ke rumah. Veno dan Tio saling bersama hingga sampai di depan gerbang sekolah. Di situlah Syeila mulai mengikuti Veno lagi, hingga sampai ke rumahnya. Alasannya, hanya ingin memastikan letak rumahnya saja. Veno hanya berjalan hingga rumahnya tanpa menyadari bahwa dia sedang diikuti oleh Syeila. Karena lokasi rumah mereka berdua berdekatan, tapi Veno tidak tahu tentang itu, Syeila memutuskan untuk selalu mengikuti Veno hingga ke rumah sebelum dirinya sampai di rumahnya. Juga, jarak antara rumah mereka dengan sekolah juga dekat, karena itu Veno selalu berjalan ke rumahnya, begitu juga dengan Syeila.
“Oh, dia sudah sampai. Sekarang giliranku untuk pulang,” kata Syeila pada dirinya sendiri, dan melihat Veno dari semak. Dia kemudian berbalik arah, dan segera berjalan ke rumahnya.

Berhari-hari Syeila selalu mengawasi, mengikuti Veno. Hingga pada suatu pagi, Veno menemukan bahwa rumahnya dekat rumah Syeila. Walau sempat berpapasan dengan Syeila, raut wajah Veno hanya cuek saja. Bahkan dia tidak memberi senyuman pada Syeila.
“Hey Veno.” Syeila menghampiri Veno dan menyapanya. Veno hanya menoleh sebentar ke arahnya, setelah itu dia mengalihkan padangannya.
“Eem. Ven, boleh gak sih kalo aku jadi temanmu juga? Kayak kamu sama Tio. Gimana?” tawar Syeila.
“Terserah. Aku iya, iya aja,” jawab Veno cuek.
Syeila kemudian berjalan levih cepat dari Veno, dan berhenti di hadapan Veno. Syeila berkata, “tatapan wajahku ini. Mungkin kamu bakal inget sesuatu tentang masa lalu dulu.”
Veno bingung dengan apa yang dikatakan Syeila, “apa maksudnya?” Veno berjalan melewati Syeila dengan raut kesal. Syeila juga kebingungan karena sikap Veno.
“Aku Syeila. Dengar!!! Apa kamu gak inget sesuatu dengan nama Syeila? Dasar cuek!” bentak Syeila yang sudah kehilangan kesabarannya. Veno mengehentikkan langkah kakinya saat mendengar hal itu, dia kemudian berpikir tentang masa lalunya. Sebelum itu, Syeila sudah pergi meninggalkan Veno di tengah jalan.

Dulunya, mereka berdua berteman baik. Bahkan ibu Veno sudah menganggap Syeila seperti anaknya sendiri. Karena keakraban mereka dulu, orang tua Syeila yang mengetahui bahwa ayah Veno adalah dukun santet di kotanya, mereka memutuskan untuk membawa Syeila pergi ke luar kota dan melanjutkan pendidikannya di kota bandung. Syeila yang dulunya masih polos, dia hanya percaya saja pada orang tua. Veno sedih karena tidak ada teman lagi untuknya. Tidak lama setelah itu, ibu Veno meninggal duni, tidak tahu apa penyebabnya, tapi itu membuatnya semakin sedih. Masa lalu itu adalah masa yang sangat buruk baginya.
Ayah Veno sendiri sudah menjadi dukun santet sejak belum menikah dan memiliki anak. Karena ilmu itu sudah turunan dari nenek buyut Veno, dia tidak bisa menghindari nasib buruknya ini.

Setelah memikirkan masa lalunya, Veno tersadar dan segera pergi menuju ke sekolah. Syeila sudah berada jauh di hadapannya. Setelah sampai di sekolah, dia segera berbicara pada Syeila.
“Aku inget. Kenapa kamu baru muncul sekarang? Bertahun-tahun aku menunggumu.” Veno meluapkan kesedihannya saat berbicara dengan Syeila.
“Aku… selalu berada di sisimu, hanya saja kamu gak sadar,” kata Syeila, “aku tau, pasti kamu bukan orang seperti yang dikatakan mereka, kan?”
“Maksudnya?” lontar Veno penasaran.
“Kamu tidak menyantet seseorang tanpa alasan, kan?” tanya Syeila pada Veno dengan seriusnya.
“Tentu tidak. Aku mungkin bisa menggunakan ilmu santet, tapi aku bukan orang yang gegabah. Menggunakan ilmu seperti itu, menurutku hanya biasa saja. Intinya aku tidak akan melakukan hal seperti itu tanpa sebab,” jelas Veno.
“Baiklah. Oh ya, pastikan kamu nanti lihat penampilanku di taman blambangan jam 03.00 oke?” sahut Syeila sambil tersenyum. Veno juga tersenyum ke arahnya.

Sepulang sekolah, Veno langsung pulang rumah dan segera pergi ke taman Blambangan untuk melihat Syeila tampil.
Saat sampai di sana, Veno melihat Syeila yang cantik dengan riasan, dan selendang berwarna merahnya. Dia tampak anggun saat menari di antara para penari lain. Veno memberikan senyuman ke arahnya. Bersama dengan Tio, Veno menyaksikan penampilan Syeila hingga akhir. Dalam hatinya, Veno berpikir, “apa aku harus berhenti menjadi seperti ini? Aku harus bisa menghilangkan ilmu santet dalam diriku ini. Tapi caranya?”
“Prok. Prok. Prok.” Suara tepuk tangan meriah terdengar hingga membuat Veno terkejut. Tio sangat antusias dengan itu.
“Keren loh. Gaya tari dia itu, wah. Hehe,” kata Veno memberikan komentar ke arah Tio. Tidak lama setelah itu, mereka berdua segera menghampiri Syeila yang berada dibelakang panggung.
“Woah. Bagus tarianmu tadi,” ucap Tio dengan semangatnya. Syeila hanya memberikan senyumnya ke arah Tio. Begitu juga dengan Veno yang tersenyum malu menghadap Syeila. Singkat saja, Veno dan Tio segera pergi ketika Syeila sudah tampil. Mereka berdua langsung pulang ke rumahnya masing-masing.

Setelah sampai di rumahnya, Veno bertanya pada ayahnya, “supaya imu kita hilang, gimana?”
“Loh, kenapa? Merasa terganggu dengan ilmu yang kamu miliki?” sahut Ayahnya penasaran, “itu sudah menjadi garis keturunan keluarga kita, dan gak akan pernah bisa hilang.”
“Tapi, Veno gak tahan selalu dikucilkan di antara mereka semua. Walau sudah biasa dengan semuanya, tapi Veno juga ingin seperti mereka,” jelasnya, “mereka yang mempunyai banyak teman. Bebas bergaul dengan siapapun. Veno cuman pengen itu.”
“Kalo pun ada, syaratnya sangat susah. Sebaiknya kamu tetap pada nasibmu sendiri,” ujar ayahnya serius.
“Kenapa nasibku begini? Kenapa?” bentak Veno marah. Dia kemudian langsung masuk ke dalam kamarnya sambil mendobrak pintunya. Ayah Veno hanya memaklumi sikap Veno.

Tidak lama setelah itu, ada seseorang masuk ke rumahnya untuk berbicara pada ayah Veno. Veno yang berada di dalam kamar mendengarkan ucapan yang dikatakan oleh orang itu.
“Jadi gini pak, kita pengen anak kita ini punya bakat menari dari kecil, jadi… tolong bantu dia punya bakat seperti sebelum lahir.” Perkataan seseorang yang didengar oleh Veno.
“Baiklah. Kalian butuh satu tumbal seorang perempuan yang merupakan penari di sekitar sini. Dia bisa kita gunakan,” jawab Ayah Veno.
“Kalo gitu… saya akan membawanya ke sini. Namanya Syeila, rumahnya dekat sini, dan kebetulan dia adalah keponakan saya,” jelas orang itu. Raut wajah Veno yang mendengar ucapannya dari dalam kamar, dia sangat emosi.
“Syeila? Kenapa mereka membawa nama Syeila.” Veno berpikir dari balik pintu.
“Apa dia tidak akan memberontak?” tanya Ayah Veno penasaran.
“Kami akan melakukan sesuatu untuk bisa membawanya ke sini,” jawab orang yang disebut sebagai paman Syeila itu. Dia kemudian berdiri dari tempat duduknya, dan keluar untuk membawa Syeila.

Veno yang merasa bahwa paman Syeila sudah pergi, dia segera keluar dari kamarnya dan segera menuju ke rumah Syeila, dengan berlari cepat.
Terlambat, Veno sudah melihat Syeila yang dibawa secara paksa oleh pamannya. Dengan cepat, dia langsung mendekat ke sana. “Bruk.” Veno sengaja mendorong paman Syeila hingga terjatuh. Itu membuat waktu mereka untuk kabur semakin lama. Segera mereka berdua berlari kabur dari sana, tapi pamannya tetap mengejarnya. Hingga akhirnya mereka bersembunyi di balik hutan dengan hujan yang lebat. “Hust.” Veno menyuruh Syeila untuk tetap tenang. Sekali-kali Veno memastikan di mana paman Syeila berada. Hingga sudah agak jauh, mereka segera berlari.
Karena adanya hujan yang deras, jalan di hutan sangat berlumpur, itu juga membuat Veno terjatuh ke dalam jurang yang cukup dalam. Refleka terjatuh, Syeila tidak sengaja terjun bersama Veno karena pegangan tangan mereka yang erat. Tubuh mereka ditutupi lumpur dan air hujan, membuat tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan mereka berdua.

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!