Hanya Cerita Singkat Mimpi Seorang Anak Kampung
10.1
1
79

Isak tangis mengiringi langkah seorang anak menuju mobil yang akan mengantar anak tersebut kebandara. Tangis haru, bangga, sedih akan berpisah mengiringi langkahnya. Asia Fida, Asia berarti harapan dan Fida berarti Pengorbanan. Sesuai namanya ceritanya sangat berkaitan dengan arti namanya. Apasaja kisahnya? sudah dirangkum dalam cerita pendek ini.

No comments found.

Isak tangis mengiringi langkah kaki ku menuju mobil milik pamanku. Terdengar nasihat, doa, dan banyak kata yang tak dapat ku jabarkan satu persatu. Bapak, ibu, nenek, paman dan bibi serta para sepupu mengantar kepergian ku dengan air bergelinang air mata. Bukan hanya sekedar air mata kesedihan karena perpisahan didepan mata, namun yang aku tau air mata tersebut turut bercampur dengan air mata haru bangga atas pencapaian ku ini. Aku hanya seorang putri dari pasangan petani lulusan sekolah dasar. Kedua petani hebat yang selalu memotivasi aku secara langsung maupun tanpa mereka sadari. Mereka memberikan aku statement dimana aku harus dapat lebih dari mereka bahkan jauh lebih agar mereka tidak perlu panas-panasan lagi dibawah terik panasnya matahari di tanah kalimantan.  Asia Fida, Asia artinya harapan dan Fida artinya Pengorbanan. Pernah diceritakan oleh mendiang kakek, bapak dan ibu berkorban banyak agar aku dapat lahir didunia dan setelah aku lahir pengorbanan mereka tidam berhenti sampailah sekarang aku menginjak usia 18 tahun. Aku lahir dan besar dikampung kecil di ujung kabupaten berkembang, pelosok sekali. Bahkan saat ingin memberi nama kepada ku, bapak harus menempuh waktu 5 jam menggunakan motor untuk membeli buku nama bayi dikota. Akses kota ke kampung ku ada dua sebenarnya, melalui air dengan perahu atau jalan darat yang sangat hancur saat musim hujan tiba. Untungnya akses listrik dan internet sudah memadai walau hanya beberapa tempat dengan jaringan lancar. Pendidikan taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas aku jalanin di kampung ku. Bukan tanpa alasan, tetapi aku mempersiapkan diri dan finansial untuk memasuki dunia perkuliahan yang pastinya membutuhkan dana besar. Seperti yang sudahku katakan mengenai jaringan yang geser sedikit hilang seperti harapan ku bersamanya. Aku punya pengalaman saat mengikuti lomba secara daring, hampir saja didiskualifikasi oleh panitia karena beberapa kali dipanggil tapi aku tidak merespon. Untungnya dewi fortuner, fortuna maksudnya kali itu berpihak kepadaku. Sehingga, dalam lomba tersebut aku berhasil mendapatkan juara ketiga ditingkat nasional. Masih banyak kejadian yang tidak disangka karena kendala jaringan. Tetapi, kepergian ku kali ini adalah bukti meskipun dalam keterbatasan kita dapat berkembang dimanapun kita berada. Jadi, kepergian ku ini adalah untuk melanjutkan perkuliahan di luar pulau. Berhasilnya aku masuk universitas ini karena usaha gigihku mengikuti lomba-lomba ditengah keterbatasan serta doa kedua orang tua ku sehingga aku dapat masuk melalui jalur prestasi dengan pengantar dari piagam-piagam lomba. Wajar saja bukan jika orang-orang yang menyaksikan kerja kerasku mengantarku dengan isak tangis, karena mereka tau seberapa keras usahaku sampai akhirnya dapat dititik ini. Tapi, keberangkatan ku ini baru awal dan satu dari kesekian mimpi ku yang harus aku wujudkan. Masih banyak adik, keponakan, dan kerabat ku yang masih berjuang dalam keterbatasan dikampung. Merekalah ku jadikan alasan aku harus sukses agar dapat merealisaikan mimpi-mimpiku untuk kampungku. Agar adik-adik kecil itu dapat merasakan pendidikan, akses jalan serta hal-hal lain yang sekarang hanya dapat mereka rasakan dengan menempuh jarak 5 jam atau pun bertaruh nyawa pada derasnya arus sungai. Tak terasa momen isak tangis sudah tidak terdengar, tentu mata ku sembab saat turun dari mobil paman. Tepat 2 jam sebelum keberangkatan pesawat aku tiba dibandara. Bersama bapak, ibu dan paman kami memilih duduk di restoran ayam untuk makan siang. Aku mendapat jadwal pesawat pada jam 3 sore dan mulai check in dijam 2 karena harus mengantri. Saat makan kami lebih memilih topik seperti bercanda saat dirumah, agar tidak terlalu sedih karena akan berpisah. Mulai cerita paman yang dulu SMA harus berjalan kaki 1 jam dikampung sebelah. Sampai cerita paman dan perahunya terbalik saat ingin pergi kesekolah melalui jalan air. Kisahnya lebih menyakitkan dari diriku yang masih bisa diatasi saat ini. Dalam hati aku bergumam “aku bersyukur, karena tinggal di masa ini yang lebih dipermudah”. Satu jam berlalu, waktu sudah menunjukan jam 2 siang dan tak lama pengumuman pada pengeras suara mengenai keberangkatan. Saat itu kami berpisah dengan senyuman, jangan ada tangisan kata mendiang kakek jika mau melepas kerabatmu untuk hal baik. Setelah check ini aku menunggu diruang tunggu, *bandara sangat ramai ternyata” gumam ku dalam hati. Penerbangan ku masih setengah jam lagi aku memutuskan untuk membuka buku bacaan yang ku bawa dari rumah sambil mendengarkan lagu dari ponsel menggunakan earphone. Aku sedang membaca buku tentang perjalanan remaja ke dunia paralel, saat membaca buku ini imajinasiku sangat tertarik kemana-mana. Hebat sekali penulis yang dapat membuat imajinasi pembaca bermain dalam setiap rangkaian kalimat di paragraf tersebut. Pengumuman keberangkatan kembali ku dengar dan itu nomor pesawat yang akan mengantarkanku kepulau sebrang. Ku masukan buku bacaan kedalam tas dan mengabari ibu kalau akan naik pesawat. Setelah mengantri dan sudah duduk dikursi pesawat sesuai tiket aku mengabari ibu kembali. Tidak lupa aku mengirim foto sudah duduk didalam pesawat dan aku senang sekali karena duduk didekat jendela sehingga dapat melihat pemandangan diluar. Rasa senangku tentunya beradu dengan rasa takut, karena ini kali pertama aku berpergian menggunakan pesawat dan sendirian pula. Ketakutan pertama sudah aku lewati saat pesawat berhasil terbang di udara. Aku lanjutkan membaca buku, dalam 2 jam penerbangan aku habiskan untuk membaca buku. Ketakutan kedua dimulai saat pesawat akan mendarat ke bandara tujuan. Isi pikiran ku adalah “bagaimana kalau bannya lepas satu”, “bagaimana kalau ada pesawat lain salah mendarat juga” atau “bagaimana kalau tiba-tiba pesawatnya kehilangan gravitasi lalu jatuh diatas pemukiman warga”. Memang isi pikiran ku negatif tapi bersyukur pendaratan berjalan aman dan tidak seperti pikiran kotor ku tadi. Sampailah aku dibandara ini untuk transit karena untuk sampai dikota aku berkuliah harus menggunakan pesawat 2 kali. Persiapan transit aku melakukan check-in ulang sesaat setelah turun karena jadwal keberangkatan nya hanya 30 menit setelah pesawat pertama tiba. Selesai check-in aku menuju ke arah ruang tunggu di terminal 3-D. Jalan sedikit tergesa-gesa karena jarak nya lumayan jauh. “Bandara ini sangat lah luas” gumam ku dalam hati. Isi pikiran ku kembali ke adik-adik kecil dikampung yang pasti akan sangat heboh jika mendengar cerita ku diperjalanan. Aku sudah berjanji pada mereka untuk menelpon dan bercerita saat sudah sampai di kota itu nanti. Sesampainya aku di ruang tunggu aku langsung diarahkan masuk kepesawag karena akan segera berangkat lagi. Menuju pesawat aku menggunakan bus yang disediakan bandara, karena pesawat kedua parkir lumayan jauh. Sampai dipesawat aku langsung mencari kursi yang akan kutempati selama 1 jam kedepan. Kali ini aku dapat kursi dibagian tengah pesawat dan tetap berada disamping jendela. Tak lama aku duduk, ada sepasang bapak dan anak yang duduk disamping ku. Kulihat anak nya kira-kira seumuran aku dan terlihat akan berangkat kuliah juga. Muncullah dihati ku perasaan iri melihat momen interaksi bapak dan anak itu. Andai orang tua ku mempunyai uang lebih mereka pasti dapat mengantarkan ku. Tapi, aku tak bisa menyalahkan orang tuaku, karena mereka bertani jadi menggantungkan diri akan alam dan cuaca. Bukan kemauan mereka jika gagal panen, bukan kemauan mereka juga kalau tanaman dimakan hama. Mereka juga bukan tega untuk melepaskan putri semata wayangnya yang akan melanjutkan pendidikan ke tanah orang. Mereka sudah cukup berusaha, jadi tugasku untuk meringankan beban mereka, dengan tidak memaksa mereka untung turut mengantarkan aku ketanah sebrang. Terlalu egois bukan, jika aku memaksakan hak tersebut. Jika diceritakan ini akan menjadi sebuah buku tebal nan dramatis tentang kehidupan anak kampung yang merupakan putri dari sepasang petani. Anak kampung yang berjuang menyelesaikan pekerjaan rumah oleh gurunya disaat listrik padam karena hujan lebat. Anak itu yang sepulang sekolah lebih memilih membantu orang tuanya diladang dibandingkan main bersama anak sebayanya, sehingga harus mengerjakaj pekerjaan rumah dimalam hari. Anak yang pergi kekota naik perahu untuk membeli peralatan sekolah dan seragam baru yang hampir terbalik karena arus yang deras. Anak yang membeli laptop hasil menabung hadiah lomba untung menunjang pendidikannya. Anak yang meminta printes sebagai hadiah ulang tahun pada tahun baru padahal ulang tahunnya dibulan desember agar orang tuanya dapat menyisihkan uang untuk membeli printer. Anak yang menempuh waktu 5 jam kekota untuk meminta tanda tangan dinas pendidikan sebagai pengantar beasiswa. Banyak sekali perjuangan anak tersebut dan pada akhirnya dapat mewujudkan 1 mimpinya. Dimana dari terwujudnya 1 mimpi tersebut banyak mimpi lain yang dia ingin wujudkan agar kembali kekampung dengan membawa segudang oleh-oleh. Bukan oleh-oleh berupa bakpia atau berupa dodol. Tetapi, oleh-oleh berupa pengalaman dan jika ada rejekinya dapat membantu jalannya pendidikan dengan memberikan penunjang pendidikan. Mimpi-mimpi yang tidak mudah harus dipikul anak tersebut. Anak setinggi 150 centimeter dengan berat 43 kilogram membuat dirinya harus menanggung beban mimpi yang tidak terhingga beratnya. Kalau kata matematika limit tidak terhingga, yang begitu rumit dan memusingkan apalagi pelajarannya pada jam setelah jam makan siang. Anak itu telah tiba dengan selamat dikota tujuannya. Sekarang menuju kekost menggunakan kendaraan umum. Hiruk pikuk kota membuat kepalanya cenat-cenut ditambah macet karena jam pulang kantor. “Harus terbiasa” bergumam sendiri. Turun dari kendaraan umum, memasukan gang kecil dan sampailah di depan ‘Kost Bella Khusus Putri’. “Sampai juga, lelah sekali” tak sadar kalimat itu keluar dari mulut. Memutuskan untuk mandi dan turun mencari makan di sebelah kost kemudia memilih tidur setelah makan. Pagi nya baru mengabari orang rumah, ibu panik karena baru mendapatkan kabar. Ibu mengira anaknya diculik dan dijual organ dalamnya. “Amit-amit aduh ibu, jangan sampai” ucapku saat menelpon ibu, “lagian ya mana ada orang mau nyulik perempuan kecil mungil kurus, yang ada rugi soalnya makanku banyak” sambung ku sambil tertawa terkekeh. “Namanya orang tua panik belum dikabari anaknya, mana ditelpon diluar jangkauan” ucap ibuku. Setelah menelpon ibu, aku turun kebawah untuk memasak didapur bersama. Pagi ini mau sarapan dengan mie instan saja. Setelah sarapan aku mandi dan bersiap pergi belanja kebutuhan kamar di toko rekomendasi teman-temanku. Aku ingin membeli perabot kamar agar terasa nyaman saja untuk ditempati dan yang sesuai kebutuhan. Aku pergi menggunakan kendaraan umum lagi, selain lebih murah aku juga ingin menghapal rute menuju kampus. Sampai didepan tempat tujuan aku singgah ke ATM sebentar untuk mengambil uang cash. Lalu, masuk ke toko dan membeli barang-barang yang kubutuhkan. Kaget lagi, barang yang kubutuhkan lengkap semua ditoko ini dengan harga sangat terjangkau aku dapatkan. Teringat dulu harus kekota jauh-jauh belanja sampai dikota kadang barang yang dicari tidak ada. Seperti berjuang mendapatkan hati dia tapi tidak dapat balasan rasanya. Setelah belanja aku menitipkan belanjaan ku terlebih dahulu dan memutuskan berkeliling disekitar toko sambil mencari penjualan makanan. Karena tadi hanya sarapan mie aku memutuskan makan lagi dan didepan ku ada penjual sate. Setelah memesan dan duduk aku membuka ponsel dan tidak ketinggalan menggunakan earphone ditelinga ku. Tidak sampai 5 menit sate ayam satu porsi tiba didepan ku dengan lahap aku memakan sate itu dan ternyata enak sekali. “Ini sate terenak yang pernah aku makan selama 18 tahun” ucap ku kepada bapak penjual sate. Bapak penjual sate terkekeh “Darto, pak Darto. Kalau mba kesini lagi panggil pak Darto beli biar dapat diskon” ucap bapak itu. Ternyata bapak ini sangat ramah, pasti akan jadi langganan makan sate ini. Setelah berbicara panjang lebar ternyata bapaknya sudah berjualan sate selama 26 tahun, dari sebelum nikah sampai ditinggal istrinya logout dari bumi. Agak gelap ya bercandaan nya, istri pak Darto meninggal sebulan setelah melahirkan anak bungsunya. Sekitar 20 tahun lalu, sekarang anak itu sudah bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Hebatnya bapak ini tidak menikah lagi, padahal jaman sekarang belum 100 hari istri meninggal suami sudah punya nomor telpon janda lebih dari 10. Ternyata masih ada orang seperti pak Darto yang setia dan memegang janjinya untuk membesarkan anaknya sampai lulus kuliah. Anak pak Darto lulusan universitas dimana aku akan berkuliah nanti dan beliau juga mendapatkan beasiswa seperti ku. Betapa bangga nya pak Darto menceritakan anaknya yang gigih dan tidak malu mempunyai orang tua hanya seorang penjual sate. Betapa gigih anaknya latihan pencak silat untuk acara POPDA mewakili sekolahnya dan meraih juara 1. Begitu mirip kisah yang kita alami, sama-sama berjuang untuk membanggakan orang tua dan memotivasi lingkungan sekitar membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah sebuah penghalang mengejar mimpi. Malah keterbatasan sebagai motivasi untuk mencari celah agar bisa mencapai mimpi. Karena yang kita tahu hasil tidak akan mengkhianati usaha, dan ketika kita merasa usaha kita dikhianati bukan itu sebenarnya. Yang terjadi sebenarnya adalah usaha kita belum cukup maksimal dan kesabaran kita diuji disitu. Ada kalimat yang mengatakan “Siapa yang serius dia akan sukses dan siapa yang bersabar maka akan beruntung”. Dari kalimat tersebut kita bisa jadikam motivasi untuk terus tekun, gigih dan bersabar untuk mencapai mimpi kita. Terutama dalam usaha kita memperbaiki pendidikan, agar semua anak di negri kita tercinta Indonesia ini dapat merasakan pendidikan dengan mudah. Dengan akses yang mudah, sarana dan prasarana yang lengkap serta bantuan dana pendidikan bagi kalangan kelas bawah. Agar diharapkan kedepannya kehidupan anak-anak tersebut lebih sejahtera karena mereka mendapatkan pendidikan sebagai pengantar mereka menuju gerbang kesuksesan.

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!