Hati-Hati di Jalan
17.1
1
135

Aku menemukan sebuah box yang terlihat asing saat aku sedang membereskan barang-barangku. Ku temukan kenangan-kenangan yang selama ini selalu tersimpan rapi, yang akhirnya terkuak kembali. Kenangan-kenangan indah masa SMA, momen-momen penting yang pernah terjadi di kehidupan remajaku, dan juga tentunya, kisah cinta ... antara diriku dengannya.

No comments found.

 

Tumpukan-tumpukan box berisi barang-barang milikku yang diangkut dari rumah lama kini sudah memenuhi lantai ruang tamu. Hari ini bertepatan dengan hari kepindahanku dari rumah kontrakan ke rumah pribadi. Petugas jasa pengangkut barang sudah pergi sedari tadi sejak box terakhir diletakkan tepat berada di hadapanku sekarang.

Hari ini aku sengaja mengambil cuti agar aku bisa dengan tenang membersihkan rumah dan menata semua barang dan perabot dengan rapi. Beberapa box mulai ku bongkar dan ku susun sesuai dengan tempatnya. Sebelumnya aku menyusun barang-barang ini di dalam box dengan cukup rapi, ku pilah dan ku pisahkan berdasarkan fungsi ataupun lokasi penempatannya.

Setelah selesai berurusan dengan semua box, aku menemukan box yang tampak asing dengan ukuran yang jauh lebih kecil dari box barang yang lain. Dan juga, kotak ini adalah satu-satunya kotak yang tidak ada labelnya. Seingatku, aku memberikan semua box dengan label masing-masing barang, seperti “box peralatan dapur”, “box buku-buku”, dan lain-lain. Lalu ini kotak apa? Hmm … mungkin saja saat membereskan barang-barang terakhir aku menjadi terburu-buru sehingga lupa memberinya label.

Ku hidupkan speaker lalu ku putar salah satu lagu favoritku dari Mariah Carey berjudul Thank God I Found You supaya aku tidak terlalu merasa kesepian. Aku kemudian mengangkut kotak itu, tidak berat. Ku dudukkan badanku di atas tempat tidurku. Ku ambil cutter lalu mulai ku buka kotak itu, penasaran dengan apa yang ada di dalamnya.

Hal yang pertama kali menarik perhatianku adalah sebuah buku dengan desain yang mencolok, terlihat seperti buku diari. Hei, sepertinya aku mengingat buku ini. Bukankah ini buku harian milikku yang sudah mulai ku tulis sejak aku SMA hingga kuliah? Mengapa aku tidak mengingat pernah memasukkan buku ini ke dalam kotak? Seingatku buku diari ini ku tinggalkan di rumah orang tuaku. Lalu, mengapa ada disini?

Ku raih buku itu lalu ku coba untuk membukanya. Buku diari milikku ini memiliki gembok di bagian luar, sehingga tidak sembarang orang bisa membuka dan membacanya. Untung saja gembok itu dalam keadaan tidak terkunci. Kalau saja terkunci, aku harus mencari cara untuk menghancurkan gemboknya karena aku sudah tidak ingat dimana terakhir kali aku menyimpan kuncinya.

Aku membuka buku diari kesayanganku itu. Di halaman pertama tepat setelah membuka halaman sampul, sebuah foto tertempel dengan rapi tepat di bagian tengah dari kertas. Sebuah foto yang terlihat sudah mulai pudar, tetapi setelah melihatnya ingatanku akan foto itu ternyata tidak pernah memudar. Sebuah foto dari masa laluku, masa lalu yang sangat indah. Itu adalah potret dari diriku, dan dia.

Aku ingat saat pengambilan gambar ini, kami berdua sebenarnya tidak mengetahui bahwa ada orang yang ingin memotret kami. Itu sebabnya senyum lebarku yang ada di foto ini terlihat sangat natural, menunjukkan betapa bahagianya aku saat masa-masa itu. Apalagi alasan dari senyum lebarku ini adalah dia, seseorang yang pertama kalinya mengetuk pintu hatiku dan dengan mudahnya masuk ke relung terdalam.

Dia memiliki nama yang indah meskipun sedikit sulit untuk diucapkan. Aryasatya Chaman, biasa disapa dengan Arya oleh teman-teman. Seorang anak laki-laki dengan postur tubuh yang tinggi dan badannya sedikit berisi, wajah yang selalu berbinar dan selalu menebar hal-hal positif di sekitarnya. Anak laki-laki yang membuatku pertama kali merasakan bagaimana indahnya dimabuk asmara.

Aku ingat betul saat pertama kali kami bertemu, dia tidak memiliki kesan yang baik di mataku. Saat itu kenaikan kelas dua di bangku SMA, kami sekelas. Walaupun kami tidak saling mengenal, tetapi aku sudah mengetahui sosok Arya sejak kelas satu. Bagaimana tidak, diawal semester kelas satu, namanya sudah tersebar kemana-mana hingga hampir tidak ada yang mengenalnya.

Ia pernah berurusan dengan seorang kakak kelas dua belas, dimana Arya saat itu sedang menengahi perbuatan tidak terpuji antara kakak kelas tersebut dengan teman sekelasku. Ya, saat itu, teman sekelasku yang bernama Adel sedang dirundung oleh seorang kakak kelas di kantin hanya gara-gara semangkok soto. Waktu itu tidak ada yang berani membantu Adel karena tidak ingin berurusan dengan kakak kelas tersebut, karena dia terkenal sebagai preman sekolah dan juga merupakan anak dari wakil kepala sekolah.

Namun tidak dengan Arya. Baru saja ia masuk ke dalam kantin dan saat melihat perundungan itu, ia langsung sigap berlari dan menarik lengan kakak kelas tersebut yang hampir saja memukul Adel. Dengan gagah beraninya ia berdiri di hadapan Adel yang saat itu sedang terduduk di lantai akibat dorongan dari kakak kelas tersebut, untuk menghalangi agar ia tidak bisa mendekat pada Adel sedikitpun. Entah karena alasan apa, kakak kelas tersebut akhirnya mengalah dan mundur. Sejak saat itu nama Arya sangat ramai dibicarakan.

Cerita yang sangat terdengar keren, bukan? Sayangnya pada saat kejadian, aku sedang tidak berada di lokasi kejadian. Semua cerita yang aku tahu mengenai kejadian itu seluruhnya diceritakan oleh Adel, dan tentunya dari sudut pandang Adel. Makanya, saat aku mendengar ia bercerita tentang kejadian itu, aku merasa Adel banyak menambahi bumbu, sampai-sampai Arya terdengar seperti superhero di dunia nyata.

Sejak saat itu, Adel jadi memiliki perasaan pada Arya. Namanya juga anak sekolah yang baru mengenal tentang hal-hal seperti itu, sehingga Adel mengartikan perasaannya pada Arya sebagai perasaan suka terhadap lawan jenis. Aku sebagai temannya hanya bisa memberikan dukungan saja. Semoga berhasil.

Segala cara dilakukan Adel untuk mendekati Arya. Ia selalu mengulang cerita itu lagi dan lagi secara terus menerus, gunanya tentu saja untuk mendapat perhatian dan belas kasihan Arya, dan ya, dia berhasil mendapat perhatian itu. Arya yang memiliki hati sangat baik merasa iba dengan kejadian yang menimpa Adel.

“Kalo si preman itu cari gara-gara sama kamu lagi, langsung bilang ke aku. Biar aku yang berhadapan dengannya.”

Seperti itulah perkataan Arya pada Adel, yang membuat Adel semakin jatuh hati dan terbuai dengan perasaannya, sampai menganggap bahwa Arya juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

Semakin lama, Adel semakin menempel pada Arya, sampai-sampai ia sering meninggalkanku sendirian di kelas saat jam istirahat. Tidak apa-apa, namanya juga masa muda. Mungkin suatu hari nanti aku juga bisa mengalami hal seperti yang Adel alami saat ini.

Namun, aku merasa seperti ada yang tidak beres saat aku melihat mereka berdua sedang duduk bersama di kantin. Adel terlihat sangat aktif sedangkan Arya menjadi orang yang sangat pasif. Ia tampak tidak minat dengan obrolan yang dibahas oleh Adel.

Pernah sekali aku memberitahu Adel mengenai keresahanku atas sikap Arya yang tidak seperti di cerita-cerita yang pernah Adel utarakan padaku. Adel selalu mengatakan kalau Arya adalah orang yang sangat ramah dan sangat asyik saat diajak ngobrol, tetapi apa yang aku lihat di kenyataan tidak seperti itu.

Sayangnya, keresahan yang aku rasakan ini membuat Adel menjadi kesal padaku dan menuduhku juga memiliki perasaan terhadap Arya, dan ia menganggap aku tidak senang dengan hubungan mereka berdua dan berniat memisahkan mereka. Disitu aku merasa sakit hati. Padahal yang aku lakukan hanyalah ingin menunjukkan kepedulianku padanya, namun malah dipandang buruk oleh Adel. Dan semenjak itu hubunganku dengan Adel pun memburuk. Aku pun tidak ingin tahu dan tidak ingin peduli lagi dengan mereka berdua dan sudah sejauh mana hubungan mereka.

Tetapi entah karena apa, Adel pindah sekolah. Di hari terakhirnya berada di sekolah, ia menghampiriku dan mengatakan ingin mengajakku berbicara. Aku hanya mengikutinya saja, mungkin ingin minta maaf, pikirku.

Kami berdua berjalan menuju toilet perempuan, dan disitu tiba-tiba ia mengamuk. Ia menatapku dengan tajam seakan-akan ingin menerkamku.

“Ada apa?” tanyaku.

“Jangan kamu pikir kamu yang paling hebat disini,” ucapnya dengan penuh amarah.

Aku mengernyitkan dahi. Padahal sudah lama kami berdua tidak saling berbicara dan sekarang ia malah berkata seperti itu padaku, bahkan ia mengatakannya dengan emosi.

“Maksudmu apa ngomong kayak gitu?” tanyaku kembali. Padahal aku ingin sabar tetapi ternyata aku tidak bisa menahan kekesalanku.

“Ukhh … nggak usah sok polos, deh. Ini semua kan gara-gara kamu!” sergahnya sembari memamerkan telunjuknya tepat di depan mataku.

“Apaan sih, tiba-tiba marah sampe nunjuk-nunjuk begitu. Memangnya apa yang udah aku lakukan?”

“Kamu kan, yang udah ngegoda Arya. Dasar perempuan nggak tau diri!”

Plakk!

Tak sanggup lagi aku menahan rasa kesalku, dengan menggunakan tangan kiri ku tampar pipinya. Sengaja aku memilih tangan kiri agar sakitnya tidak terlalu terasa. Setidaknya aku masih orang baik.

Bisa-bisanya ia mengataiku seperti itu. Sehina itu kah aku di matanya selama ini, hanya gara-gara keresahanku yang waktu itu?

Sial, kalau tahu seperti ini jadinya, aku harusnya menahan omonganku, lebih baik ku pendam saja dan biarkan dia menyadarinya sendiri.

“Berani-beraninya kamu—”

Teeeng teeeng teeeng

Belum sempat ia membalas perbuatanku, lonceng sudah dibunyikan oleh guru, pertanda jam istirahat telah habis. Sebelum ia menamparku, aku segera berlari keluar toilet dan bergegas menuju ke kelas. Tidak ku pedulikan lagi Adel yang meneriaki namaku. Yang penting aku sudah merealisasikan keinginanku selama ini untuk menghajarnya.

Semenjak kepindahan Adel, hidupku menjadi tenang. Tak ada lagi yang mengganggu pandanganku, tak ada lagi suara yang mengganggu pendengaranku. Baru kali ini, di seumur hidupku, aku bertengkar dengan orang lain, bahkan bertengkarnya karena alasan yang tidak jelas. Saking tidak jelasnya, aku malas mencari tahu dan menafsirkan perkataan Adel waktu itu. Yang jelas, di mataku Arya sudah memiliki kesan yang buruk gara-gara Adel.

Itulah sebabnya, saat pertemuan pertamaku dengan Arya, aku tidak memedulikannya yang ingin mengajakku berkenalan. Saat itu, aku melimpahkan segala kesalahan Adel pada Arya, dan setelah dipikir-pikir aku jadi merasa bersalah. Dulu, aku memang masih terlalu bocah, masih perlu banyak belajar tentang hidup.

 

Ku balikkan lembaran buku harian ke halaman selanjutnya. Sebuah foto juga tertempel di sisi kanan diari, sedangkan di sisi kirinya ada tulisan, terlihat seperti keterangan tentang foto yang ada di sebelahnya.

Malang, 2006.

Pantai Balekambang, ombak terlalu kencang. Aku terseret ke tengah laut. Makasih buat orang yang nolong. Sebagai balasannya, aku mengampuni kesalahanmu di masa lalu hahaha

Begitulah isi tulisannya. Ku lirik lagi ke sebelah kanan tempat foto terpajang. Di foto itu ada aku, beserta beberapa temanku, dan juga tentunya Arya.

Setelah membaca ini aku kembali mengingatnya. Momen dimana kesanku pada Arya berubah menjadi lebih positif.

Saat itu, aku bersama teman sekelas mengadakan wisata ke pantai saat hari libur, tepatnya hari Sabtu.

“Kita harus mengisi hari libur kita dengan berjalan-jalan bersama supaya ada yang bisa dikenang di hari tua!” Begitulah ucapan ketua kelas yang ternyata terbukti, yah, walaupun aku belum setua itu.

Kami pergi bersama dengan mengendarai motor, dan ada juga yang menaik mobil. Jalan menuju pantainya tidaklah bagus, sehingga aku memilih untuk menaiki motor saja daripada mobil, karena aku mabuk darat.

Saat itu aku dipasangkan dengan Arya, dan aku merasa sangat sial. Padahal dia adalah orang nomor dua yang paling ingin ku jauhi di dunia ini (nomor satunya adalah Adel), tetapi mengapa nasib baik tidak berpihak padaku?

Dengan menggerutu aku pun terpaksa naik di boncengan motor Arya. Motor yang Arya gunakan waktu itu adalah motor Suzuki Thunder 125 yang pada masa itu sedang ramai diminati. Motor itu tidak terlalu aku sukai untuk dinaiki, sebab jok bagian belakang dari motor ini jauh lebih tinggi daripada bagian depan, dan juga dikarenakan tangki bensin yang berada di bagian depan, menyebabkan jarak antara aku dan Arya semakin menyempit.

Saat aku menaiki boncengan tiba-tiba Arya terkekeh.

“Nayla, kamu segitu nggak senangnya, ya, pergi bareng aku?” tanyanya sambil melihatku dari kaca spion kanannya.

“Biasa aja,” jawabku singkat. Aku melirik ke arah spion kiri yang mengarah ke wajah Arya, terlihat ia tersenyum saat melihatku.

“Kalo biasa aja mukanya jangan ditekuk gitu, dong,” ucapnya sambil tiba-tiba menoleh ke arahku, membuat jarak antara wajah kami sangat tipis. Aku refleks memundurkan wajahku ke belakang. Aku merasa sangat canggung, sedangkan ia terlihat sangat menikmatinya.

Aku tidak menggubris perkataannya. Ia hanya tertawa lalu mulai menyalakan motornya karena kami sudah harus berangkat. Kami sekelas berjalan beriringan seperti sedang melakukan konvoi di jalanan. Karena kami berangkat pagi, kami tidak terjebak di dalam kemacetan.

Saat sudah berada di daerah hutan dengan jalan menanjak, para pengendara pun mulai menaikkan gasnya. Terpaan angin yang menampar tubuhku menjadi terasa lebih kuat, membuatku sedikit terombang-ambing akibat tubuhku yang  terlalu ringan ini.

“Pegangan,” perintah Arya sedikit berteriak tanpa menoleh ke arahku. Aku meraba bagian belakangku, lalu memegang kuat besi yang ada di bagian belakang motor.

“Pegangan,” ucapnya lagi, kali ini sedikit menoleh ke arah samping.

“Udah,” jawabku yang juga berteriak, takut ia tidak mendengarnya karena suaraku terbawa angin.

“Mana?” tanyanya yang membuatku bingung.

“Apanya?”

“Tanganmu.”

“Disini.” Aku menjawab ala kadarnya sambil menggerakkan tanganku yang ada di belakangku, padahal aku tahu ia tidak bisa melihatnya.

Ia menggeser-geser spion kirinya, dan tampaklah aku disana. Sepertinya ia ingin mengecek posisiku dan dimana aku berpegangan.

“Lah, bukan disitu!” teriaknya.

“Jadinya dimana?”

“Disini.” Dia menepuk-nepuk bagian pinggangnya. Beberapa detik kemudian aku baru menangkap apa yang ia maksud.

“Dih, ogah!” tolakku dengan keras. Apa-apaan dia, bisa-bisanya dia menyuruhku untuk memeluknya. Terdengar dari arah depan suara kikikan dari Arya. Ugh, dia benar-benar pandai menggodaku.

Tak terasa perjalanan selama 3 jam dengan melewati jalan berbatu akhirnya sampai juga kami di pantai. Jujur, itu baru pertama kalinya aku datang ke pantai, dan aku langsung takjub dengan pemandangan laut lepas yang tersaji di hadapanku.

Belum apa-apa anak laki-laki langsung saja menuju ke arah pantai dan bermain air, sedangkan anak perempuan mulai menggelar tikar dan menyusun makanan-makanan di atasnya. Aku benar-benar menikmati liburan saat itu.

Sudah agak siangan, ternyata air laut menjadi lumayan surut, padahal tadi pagi ombaknya sangat besar sehingga tidak ada yang berani terjun, hanya sekadar bermain-main di pinggiran.

Anak perempuan mulai tertarik untuk bermain air, aku pun juga begitu. aku mengikuti mereka bermain air, bahkan ada juga yang mengikuti anak laki-laki berenang agak ke tengah laut.

Karena aku ingin sekali mencoba berenang di laut untuk pertama kalinya, aku pun mulai melangkahkan kakiku, semakin dalam menuju ke tengah. Tetapi tiba-tiba tarikan dari ombak membuat kakiku menjadi goyah dan aku terjatuh, aku pun juga ikut terseret ke tengah laut. Seketika aku panik dan mencoba untuk berteriak meminta tolong. Tetapi karena sudah kepalang panik, aku hanya bisa melambai-lambaikan tanganku, berharap ada yang segera menariknya.

Tiba-tiba saja, sebuah tangan meraih tanganku yang melambai. Ditariknya tanganku sampai badanku akhirnya muncul ke permukaan. Orang yang menarikku kemudian memeluk bahuku dan menuntunku menuju ke pinggir pantai dengan tertatih.

“Uhukk uhuukk!!” Aku terbatuk-batuk saat didudukkan di pasir pantai. Sepertinya, karena kepanikanku tadi menyebabkan mulutku terbuka, sehingga air laut dengan mudahnya masuk ke tenggorokanku, dan mungkin juga pasir pantai pun terikut masuk.

“Nayla, kamu nggak apa-apa??”

Aku mendengar suara teman-temanku yang mengkhawatirkanku. Ada yang menepuk-nepuk punggungku, ada juga yang memberikanku air mineral. Setelah meminum air, tenggorokanku sedikit lega.

“Udah enakan?” Aku menatap ke orang yang ada di hadapanku, yang juga menanyakanku pertanyaan barusan. Aku mengangguk lemah.

“Wah, untung aja ada Arya tadi di dekatmu, Nay,” ujar salah satu temanku.

“Iya, tadi Arya keren banget pas bawa kamu ke pinggir pantai.”

“Bener, Arya juga sigap banget langsung terjun ke arah Nayla.”

Sepertinya proses penyelamatanku yang dramatis membuat banyak orang yang semakin terkagum dengan Arya.

“… Arya yang nyelametin aku?”

“Iya,” jawab mereka kompak. Aku terdiam.

Setelah mereka memastikan bahwa aku sudah baik-baik saja, dan mereka juga mengantarku kembali ke tikar di bawah pohon, mereka kembali bermain air dan berenang, meninggalkanku sendiri dengan makanan.

“Minum lagi yang banyak, Nay. Supaya tenggorokanmu nggak seret.”

Arya melangkahkan kakinya mendekatiku, kemudian mengambil posisi duduk tepat di sebelahku. Tangannya menjulur ke arahku, memberikan sebotol air mineral miliknya untuk ku minum.

Terasa ada sesuatu yang tersampir di atas kepalaku saat aku sedang minum. Ternyata Arya meletakkan handuk kecil di kepalaku.

“Keringin rambutmu, jangan sampe masuk angin.” Entah ada angin apa, aku membiarkan tubuhku bekerja atas perintah Arya tanpa ada satupun keluhan yang terlontar dari mulutku. Tidak seperti diriku yang biasanya.

Apa mungkin karena Arya telah menyelamatkanku dan sekarang aku merasa sangat tertolong olehnya?

“Arya, makasih ya, udah bantuin aku tadi.” Aku mengucapkannya dengan setulus hati. Bahkan nada suara yang biasa ku pakai saat dengannya pun ikut berubah menjadi lebih lembut.

Karena tidak ada jawaban, aku menoleh ke arahnya. Ternyata ia sedang asyik memandangiku dengan tersenyum.

“Ke—kenapa?” Aku meraba wajahku, takut ada sesuatu yang tersangkut dan membuat wajahku terlihat aneh.

“Kalo gitu, boleh kabulin permintaanku, nggak?” tanyanya memberi penawaran.

“Dih, kok pamrih?”

“Haha … mau nggak?” tanyanya dengan nada memaksa. Aku pun hanya bisa mengalah, karena mau itu pamrih ataupun tidak, tetap saja dia sudah menyelamatkan hidupku meskipun tadi itu dia juga bisa saja ikut terseret arus.

“Yaudah deh, kamu maunya apa?”

“Aku mau kita jadi temen dekat. Kamu jangan sinis-sinis lagi padaku. Bisa?”

Aku terdiam dan memikirkan permintaannya itu. Permintaan sederhana tetapi sangat sulit untuk ku setujui, karena setiap melihatnya aku selalu teringat akan Adel.

Tetapi, biarlah masa lalu tetap di masa lalu. Sekarang Adel sudah tidak ada, dan Arya juga sebenarnya tidak ada salah apapun padaku.

“Oke,” jawabku singkat. Tiba-tiba ia menjulurkan kelingkingnya di depanku.

“Janji jangan jutek lagi?”

Aku menerima uluran kelingkingnya dengan kelingkingku. “Iya, janji.”

Setelah saat itu aku pun akhirnya bisa akrab dengan Arya, dan aku sedikit menyesal mengapa tidak sejak awal aku akrab dengannya, karena Arya adalah orang yang baik. Padahal Adel selalu mengatakan bahwa Arya itu anak yang sangat baik, tetapi gara-gara cerita Adel yang terdengar dilebih-lebihkan membuatku jadi memutarbalikkan fakta itu.

 

Aku kembali membalikkan halaman ke setiap halaman diari ini. Dibandingkan diari, buku ini lebih cocok disebut dengan album foto karena kebanyakan isinya hanyalah tempelan foto-foto diriku dengan teman sekelas dan juga Arya. Aku teringat kembali perasaan saat itu, betapa bahagianya aku berada di kelas itu dan sekelas dengan orang-orang baik seperti mereka, membuat masa-masa SMA menjadi lebih indah lagi.

Aku terhenti di satu halaman, dimana terdapat tulisan yang cukup panjang, dengan foto kecil di bagian sudut. Foto itu merupakan foto sebuah botol air mineral. Kapan aku mengambil gambar ini, dan untuk apa? Aku tidak ingat.

Saat membaca teks yang jauh lebih panjang dari lembar-lembar sebelumnya, aku jadi diingatkan lagi momen itu, momen dimana untuk pertama kalinya aku sadar bahwa aku tertarik dengan Arya.

Waktu itu ada kegiatan tahunan OSIS, yaitu mengadakan kegiatan latihan dasar kedua. Aku yang juga merupakan salah satu anggota OSIS harus mengikuti kegiatan rutin OSIS ini. Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan adalah berupa latihan-latihan fisik, salah satunya adalah long march, dimana kegiatan ini merupakan kegiatan jalan santai jarak jauh yang dilaksanakan sebagai kegiatan penutup seluruh kegiatan latihan dasar kedua.

Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar, tidak ada kendala yang berarti. Tetapi, terjadi permasalahan saat long march dimana saat itu kelompokku ternyata tidak mengangkut air mineral satu botol pun, kemungkinan besar karena adanya miskomunikasi antar anggota kelompok. Alhasil, baru setengah jalan, kami sudah merasa kehausan dan kelelahan. Ini memang murni kesalahan kelompok kami dan kami harus menanggung akibatnya. Memang tidak sampai dehidrasi, tapi tetap saja rasanya ingin menyengarkan tenggorokan di tengah cuaca yang terik.

Saat berpapasan dengan kelompok lain, kami juga beberapa kali meminta air mineral yang masih mereka punya, jika mereka memiliki lebih. Pergerakan kelompok kami mulai melambat. Beberapa kelompok ada yang mendahului kami. Disaat aku sedang berjuang selangkah demi selangkah, lengan bajuku terasa ditarik dari belakang, menyebabkan aku sedikit tersentak. Aku menoleh ke arah belakang dan ku dapati Arya sedang menatapku dengan tatapan iba.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya penuh kekhawatiran. Ku lirik ke arah belakang Arya, kosong. Sepertinya ia meninggalkan kelompoknya dan menyusulku kesini.

“Nggak apa-apa, cuma kehausan doang.”

“Kelompok lain bilang kalian nggak bawa air minum sama sekali, ya?”

“Haha, iya,” jawabku malu, malu atas kebodohan kelompokku.

Dia melepaskan genggaman tangannya di lengan bajuku lalu mulai mengobrak-abrik tas ranselnya. Kemudian ia mengeluarkan sebuah benda yang tampak sangat bersinar di mataku. Air mineral.

“Nih, minum.” Arya menjulurkan air mineral yang ada di tangannya.

“Boleh, nih?” tanyaku dengan mata berbinar.

“Aku ke belakang bentar. Anak-anak pada nyariin.” Ia tampak terburu-buru, seperti sedang mencuri-curi waktu.

Belum sempat aku mengucapkan terima kasih, Arya sudah semakin jauh dan semakin mengecil. Dengan senang hati, ku buka botol air itu. Tetapi, tiba-tiba terlintas di pikiranku. Mungkin saja Arya memberikan botol itu untuk dibagikan kepada seluruh anggota kelompokku, karena tadi Arya sempat bertanya tentang kebenaran bahwa kelompokku tidak membawa air mineral sama sekali.

Aku mengurungkan niat untuk meminumnya dengan bebas. Ke telan dua teguk air mineral itu kemudian ku berikan ke seluruh anggota kelompok.

Saat sampai di check point, kami akhirnya beristirahat. Ku puaskan tenggorokanku dengan meminum air mineral yang disediakan sebanyak-banyaknya. Tak lama setelah kami sampai, kelompok Arya menyusul. Ku perhatikan Arya yang sedang menoleh kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu. Matanya kemudian tertuju padaku. Ia menatapku dari kejauhan, lalu dengan sedikit berlari, dia mendekat ke arahku.

“Nay, kamu nggak apa-apa?” tanyanya langsung saat baru saja ia tiba di hadapanku. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.

Ia kemudian mengambil posisi duduk di sebelahku sambil menyelonjorkan kedua kakinya.

“Arya, makasih ya air mineralnya. Berkat kamu, kelompok aku jadi lumayan terbantu,” ucapku dengan tulus, mewakili kelompokku.

Arya tampak terkesiap mendengar ucapanku, lalu menoleh dengan cepat ke arahku.

“Kamu … ngasih air mineralnya ke yang lain?” tanyanya yang membuatku heran.

“Iya.”

Arya menepuk jidatnya lalu menatapku dengan tatapan kesal. “Kenapa kamu kasih ke yang lain?”

“Loh, kamu kan ngasihnya juga untuk dibagi ke yang lain, kan?” tanyaku balik, dibalas dengan helaan napas berat dari Arya.

“Nay …” Ia menggaruk bagian belakang kepalanya.

“Sebenarnya, tadi itu aku ngasih minum aku ya cuma buat kamu. Aku nggak tau kalo kamu malah ngasih ke yang lain juga,” jelasnya. Aku terdiam sejenak mendengar penuturannya.

“Cu—cuma buat aku? Terus yang lain …?”

“Ya nggak tau,” matanya mengerling ke arahku, “aku kan cuma mikirin kamu, Nay. Yang lain mah bodo amat.”

“Eh??”

Aku hanya bisa merespon dengan rasa keterkejutanku. Dia kan memiliki image anak baik, masa dia dengan gampangnya tidak memikirkan yang lain? Begitulah pikiranku.

Seseorang tiba-tiba memanggil nama Arya, menyuruhnya untuk segera kembali ke kelompok disaat aku masih tak bisa berucap apapun setelah mendengar perkataan Arya barusan. Arya pun bangkit sambil membersihkan celananya dari pasir dan menghadap ke arahku.

Ditundukkannya badannya agar jarak kepala kami tidak terlalu jauh. “Nay, aku bukan orang yang sebaik itu yang harus memikirkan semua orang,” ucapnya padaku berbisik sambil tersenyum licik, kemudian ia berlalu.

Aku yang masih tercengang semakin membelalakkan mata setelah ia berbisik seperti itu. Apa barusan … ia sedang menggodaku?

Deg deg!

Di detik itu, di momen itu, aku pertama kalinya merasakan detak jantung yang berdebar akibat perlakuan seseorang. Bukan karena perkataan dia yang menggodaku itu, tetapi sikapnya yang selalu ada disaat aku butuh, dan selalu memberikan apa yang aku butuhkan. Sama seperti disaat ia menyelamatkanku yang hampir tenggelam dan kejadian-kejadian kecil saat di kelas. Memang hal yang sederhana, tetapi hal-hal sederhana yang ia lakukan itu yang membuat hatiku berdesir.

Bila diibaratkan, ia seperti garam di hambarnya masakan, seperti sepatu sebelah kiri untuk sepatu sebelah kanan, seperti teh manis dingin di tengah panasnya cuaca, seperti hujan di kala kekeringan. Dirinya, selalu melengkapi kurangnya aku. Di saat itulah aku merasa bahwa aku telah jatuh hati padanya.

When you brought the sunlight, completed my whole life. I’m overwhelmed with gratitude, cause baby I’m so thankful I found you

Tak berapa lama setelah momen dimana aku menyadari bahwa aku memiliki perasaan pada Arya, Arya ternyata juga memiliki perasaan padaku dan menyatakannya. Disaat itulah kami menjalin hubungan yang lebih dari sekadar teman. Kami sering jalan-jalan bersama di hari libur dan makan bersama di malam minggu, melakukan kegiatan sebagaimana sepasang kekasih seperti pada umumnya.

 

Aku kembali membuka lembaran demi lembaran, mengais segala kenangan yang tersampir dalam ingatan yang tersampaikan pada setiap foto yang terpajang, dengan senyum yang terus ku pasang sejak pertama kali aku membuka diari ini. Begitu banyak kenangan-kenangan indah yang ku ukir bersama dengannya selama masa SMA, membentuk guratan pelangi berbagai warna yang indah, menghiasi segala lekukan problematika kehidupan masa remaja.

Tetapi, sebuah tulisan di lembar selanjutnya membuatku terkesiap.

Namun, semua itu tidak selamanya akan bertahan.

Segalanya pasti akan berubah, tanpa kita sadari.

Menaiki satu level kehidupan, memasuki masa kedewasaan, dimana kita harus memilih langkah kita dengan bijak, demi masa depan cerah yang sudah menunggu disana.

Dulu, ia sering berkata padaku, bahwa ia sangat mengagumi ayahnya yang berkarir sebagai seorang tentara. Ia mengatakan jika ia ingin meneruskan mimpinya menjadi seorang tentara, dan ingin menjadi seorang yang hebat seperti ayahnya. Aku tentu saja mendukung hal itu. Aku ingin melihat ia menjadi orang sukses seperti yang ia inginkan. Dan aku sangat mengetahui bagaimana usahanya demi meraih cita-cita tersebut, karena aku selalu mendampinginya.

Seperti yang sudah ku sangka walau tak ia sangka, Arya ternyata lulus menjadi seorang Taruna Angkatan Laut. Ia menjadi yang pertama, dan satu-satunya siswa yang berhasil menjadi seorang Taruna di sekolahku dulu. Betapa bangganya aku saat itu, mengetahui bahwa ia akhirnya bisa melangkah lebih jauh demi mengejar impiannya itu. Doaku dan doanya dijabah. Kami sama-sama mendapatkan apa yang kami inginkan untuk masa depan kami berdua, Arya masuk ke akademi, dan aku mendapat kesempatan berkuliah di universitas bergengsi di jurusan sastra, jurusan yang sangat aku minati.

Terakhir kali pertemuan kami adalah, disaat aku mengantar keberangkatannya di bandara, mengantar kepergiannya menuju ke tempat yang semakin jauh dariku, ke tempat dimana impiannya berada.

Kami tak banyak berbicara, hanya menunggu jadwal keberangkatan sambil melihat orang yang berlalu lalang. Sesekali ia juga mengobrol dengan teman seangkatannya dan juga kedua orang tuanya.

Di momen terakhir ia akan pergi, ia memelukku dengan sangat erat, tanpa berkata apapun. Aku merasa sedikit canggung, sehingga aku memberinya beberapa kata penyemangat.

“Aku nggak mau kita pisah.” Ia tiba-tiba bergumam tepat di dekat telingaku, sebelum ia melepas pelukannya dariku.

Ia menatap dalam mataku, lalu memegang kedua tanganku.

“Tunggulah aku. Nanti, aku akan menjemputmu. Kamu jangan sampai lupa denganku,” pesannya. Aku yang sedang menahan kesedihan hanya menjawabnya dengan memberi anggukan. Aku mengulum bibirku, menahan segala rasa sedih karena harus berpisah dengannya, mungkin sampai beberapa tahun kedepan.

“Kalo aku ada kesempatan, aku pasti akan menghubungimu. Jadi, kamu jangan sering-sering bersedih, ya. Karena, kalo kamu bersedih, aku nggak ada disana untuk menghapus air matamu, dan memberikan bahuku untuk tempat kamu bersandar.”

Mataku tak dapat membendungnya lagi, ku biarkan air mataku mengalir di atas pipiku. Arya dengan sigap menghapusnya, menghapus setiap guliran, dan membelai pipiku dengan lembut.

“Kamu harus kuat. Aku juga begitu. Ingat kata-kataku. Aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun itu. Jadi, tunggulah aku,” ucapnya sambil menggenggam erat tanganku.

Aku mengangguk. “Aku pasti akan selalu nunggu kamu. Jadi, cepatlah pulang.”

Akhirnya, ku lepas dia dengan pelukan terakhir, pelukan terhangat yang aku bisa berikan padanya, dan aku berharap kehangatan itu akan selalu ia ingat sampai nanti, sampai dia kembali padaku lagi.

Selama empat tahun aku menjalani kehidupan kuliahku, tak pernah sekalipun diriku melupakannya. Sering kali, aku bahkan berimajinasi bagaimana jika ia juga ada disini bersamaku, menjalani semua aktivitas bersama, masuk kelas bersama, makan siang bersama, bahkan saling bertukar pikiran. Tapi, aku sadar, aku tidak bisa mengharapkan segala imajinasiku bisa terealisasikan, karena aku tahu itu takkan terwujud.

Aku sedikit banyak mencari tahu tentang pendidikan yang ia jalani. Tentunya, pengawasan disana bahkan sangat ketat dan memang sangat sulit untuk menghubungi orang luar, kata dari beberapa sumber yang aku dapatkan. Maka dari itu, aku tidak berharap banyak ia bisa menghubungiku seperti saat SMA dulu.

Tetapi, sampai lulus kuliah pun, kabar tentangnya tak pernah ku dengar. Ia tak pernah menghubungiku sekalipun, yang berarti, obrolan terakhir antara aku dengannya adalah saat aku mengantar keberangkatannya di bandara. Aku mencoba untuk mencari akun media sosial dengan namanya tetapi tidak ada. Sepertinya dia tidak sempat untuk membuat aku media sosial. Aku sampai bertanya kepada teman-teman dekatnya sewaktu SMA, apakah mereka pernah berkomunikasi dengan Arya, tetapi semua jawaban yang ku terima adalah tidak. Tak ada satu orang pun yang tahu bagaimana kabar tentang Arya.

Ia bagai orang yang ditelan bumi.

Aku pernah memberanikan diriku untuk mendatangi rumahnya dan menanyakan tentang Arya pada orang tuanya, tapi sayang, rumah itu sudah berganti kepemilikan. Orang tua Arya sepertinya sudah pindah entah kemana. Dan di saat itulah, aku merasa aku benar-benar kehilangannya.

Ku lanjutkan kehidupanku dengan ala kadarnya. Aku lulus dengan tepat waktu, dan aku bisa bekerja di tempat yang aku inginkan. Namun, tak jarang aku masih saja membayangkan dirinya ada di sampingku, bahkan pernah terbesit di kepalaku, ia tiba-tiba datang ke rumahku dan melamarku. Aku sampai menolak orang tuaku untuk pindah ke kota lain, karena aku takut nanti Arya tidak bisa menemukanku, seperti saat aku tak bisa menemukan jejaknya lagi.

Tetapi, semuanya hanyalah bayangan saja. Ucapannya terakhir kali padaku ternyata tak ia penuhi. Padahal, aku masih tetap memegang janjiku untuk terus menunggunya. Apa dia sudah melupakanku dan berpaling pada yang lain? Apa dia sudah melupakan semua hal yang telah kami lalui bersama selama ini? Apakah masih ada aku di dalam hatinya? Pikiran-pikiran itu terus saja berkecamuk dalam benakku.

Hari demi hari, harapanku yang sebelumnya sangatlah besar, kian lama kian mengecil. Dan sampai ke titik dimana aku tak mengharapkan apapun lagi. Sampai saat itu, belum ada kata “putus” diantara kami berdua, tetapi rasanya jauh lebih pahit dibandingkan kata tersebut terucap dari salah satu mulut kami.

Aku hanya bisa berdoa, semoga dia baik-baik saja entah dimanapun dia berada. Semoga dia bisa menemukan kebahagiaan di luar sana. Aku pun demikian, aku berharap aku bisa menemukan kebahagiaanku sendiri tanpa dirinya lagi.

Untukmu yang entah ada dimana, ku harap kamu bahagia

Begitulah tulisan dari lembar terakhir buku diari ini. Setelah sibuk bekerja, aku memang sudah tidak menulis diari lagi. Jadi, perasaanku terhenti sampai di tulisan itu.

Aku mulai menitikkan air mata, tetapi masih ku sanggupkan diriku untuk melihat kembali setiap halaman dan membaca lagi semua kenangan dan perasaan yang aku tuliskan disini.

Ceklekk

“Maa, Ayra pulaang!”

Suara teriakan anakku membuyarkan lamunanku yang sedang terhanyut dalam nostalgia kehidupan SMA. Dengan segera ku tutup diari itu dan meletakkannya kembali ke dalam kotak. Aku tak sempat membuka beberapa lipatan koran yang berada di bagian bawah kotak ini. Aku hanya sempat melihat di sisi bagian kiri atas koran yang menunjukkan tahun penerbitan koran itu adalah tahun 2011. Ku tutup kotak itu rapat-rapat lalu ku simpan di tempat paling dalam di lemari. Aku segera berlari keluar kamar dan mendapati anakku sedang melepaskan sepatunya.

“Loh, Ayra kok udah pulang?” Ku lirik jam tanganku, seharusnya jam segini aku baru berangkat untuk menjemputnya ke sekolah.

“Ayra pulang sama Papa,” jawabnya sambil berlari ke arahku, kemudian memelukku.

“Papa?”

“Iya. Tadi apel sorenya lebih cepat jadi Mas bisa pulang lebih awal, sekalian deh jemput Ayra.” Suara berat dari arah pintu mengalihkan pandanganku dari Ayra. Ia membuka sepatunya, lalu meletakkan baret yang ada di tangannya ke atas meja.

“Loh Dek, udah selesai beres-beresnya, tah?” tanyanya sambil melihat sekitar.

Aku terdiam sesaat lalu tersenyum. “Udah, Mas.”

Benar. Aku baru saja membereskan hatiku dan segala perasaanku.

Ku peluk dia dan juga Ayra. Aku, akhirnya menemukan kebahagianku kembali, keluarga kecilku yang sangat aku sayangi.

 

Normal
0

false
false
false

EN-US
JA
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!