Hujan Bulan Desember
22.8
12
158

Dania adalah seorang gadis SMA biasa. Nando, teman sekelasnya menyukainya. Dia sering membantunya, bahkan selalu ada untuknya. Sayangnya, Dania lebih menyukai teman sekelasnya yang lain, Evan. Namun, Evan berkencan dengan gadis lain. Di tengah kebimbangannya saat mengetahui berakhirnya hubungan Evan dan kekasihnya, Nando akhrinya menyatakan perasaannya padanya.

No comments found.

Seperti biasa aku tiba pukul 06.30 WIB, 30 menit sebelum bel masuk berbunyi. Aku pun memasuki ruang kelas XI MIPA 1, kelas di mana aku dan yang lain belajar setiap hari. Saat melangkah di pintu, ku lihat salah seorang teman laki-lakiku memukul-mukul kursiku dengan batu. Sontak aku teriaki dia dan buru-buru mengahampirinya.

“Nando! Ngapain, kamu?”

“Ini. Mau copot,” jawabnya santai tanpa menoleh sembari melanjutkan aksinya.

Lantas aku diam memperhatikannya. Sepertinya memang benar, kaki kursiku sedikit rusak.

“Beres.” Dia letakkan batu sebesar genggaman tangan di atas meja lalu mengusap-usap kedua tangannya. “Sekarang coba Kamu duduk!” Aku masih termangu. “Ayo, cobain!”

Akhirnya, dengan perlahan aku mendekati kursiku. Aku berdiri di depannya. Ku rapikan rok belakangku lalu duduk.

“Gimana? Masih goyang, nggak?” tanyanya.

“Iya. Biasanya agak goyang-goyang. Sekarang udah enggak lagi,” jawabku pelan.

“Agak apanya? Jelas-jelas kemarin aku lihat hampir copot.”

“Masa, sih?”

“Iya…” tukasnya, lalu mengambil batu di meja yang tadi dia gunakan. “Sementara ini saja dulu. Nanti aku minta kursi yang baru buat kamu.”

“Eh, nggak usah. Ini masih kuat, kok.”

“Itu cuma sementara. Mukulnya saja pake beginian,” katanya dengan nada tinggi sembari mengangkat batu. Nando pun berjalan pergi. Sepertinya hendak mengembalikan batu yang ia ambil entah dari mana.

“Wow….” kata Hana tiba-tiba yang baru saja datang sambil melepas tas dari punggungnya lalu menaruhnya di bangku sambil membalikkan badannya dan duduk.

Aku hanya terdiam dan sedikit memelototinya melihat reaksinya melihat Nando yang membantuku. Hana adalah teman terdekatku. Kami berteman semenjak duduk di bangku kelas XI yang kebetulan dia memilih bangku tepat di depanku. Bangku paling depan, ketiga dari sebelah kanan.

Begitulah. Nando selalu baik padaku. Dia selalu membantuku bahkan sebelum aku meminta. Dia juga sering membelikanku minuman tanpa ku minta. Bahkan tak jarang dia menawariku tumpangan. Bukan tumpangan. Mengantarku pulang lebih tepatnya, karena rumah kami berbeda arah. Dia harus bolak-balik jika ingin mengantarku. Tapi aku selalu menolaknya karena itu akan sangat merepotkannya. Terlebih, aku tak ingin memberinya harapan palsu alias PHP. Aku tau sikapnya yang demikian itu karena dia menyukaiku.

Ya, aku tak mau memberinya harapan karena aku tidak menyukainya. Dia sering kali bersikap tegas padaku. Tegas karena perhatian seperti yang baru saja dia lakukan. Namun, bukan karena itu aku tak menyukainya. Bukan pula karena dia tidak menarik. Tapi, karena aku menyukai cowok lain.

Itu dia. Dia masuk kelas tepat setelah Nando keluar. Dengan gaya seperti biasa, tas selempang di bahu kanannya, rambut rapi, dan tangan kirinya masuk saku celana. Dia berjalan menuju bangkunya.

Namanya Evan. Dia memang tak setinggi Nando. Mungkin sekitar 5 centimeter lebih pendek. Dan 5 centimeter lebih tinggi dariku yang tingginya 165 centimeter ini. Tapi dia sering kali  membuatku terbawa perasaan alias baper. Gombalan-gombalannya yang mengatakan aku begitu luwes saat presentasi, dia bilang lirikan mataku yang menarik hati, sampai senyuman mautku yang membuat siapa pun kelepek-kelepek katanya. Dia juga kerap kali mengatakan sifatku yang ibarat jalanan tol berbeda dengan sifat Hana yang ibarat jalan terjal. Tapi ah, mungkin dia bukan memujiku, dia hanya menggoda Hana karena mereka berdua cukup dekat lantaran keduanya berada satu kelas sejak kelas X.

Saat baru masuk kelas XI, dia yang menyapaku lebih dulu dan mengajakku berkenalan. Itulah asal mula aku menyukainya. Menurutku dia cukup karismatik meskipun kulitnya tak seputih Nando. Dia tipe cowok yang rapi. Siswa supel dan berperangai baik ini merupakan anggota OSIS yang populer. Mungkin karena itu juga aku menyukainya. Ya, dia adalah tipe pemuda yang membuat para gadis mudah jatuh hati.

Namun sayang, dia tidak menyukaiku. Bahkan kini dia tengah menjalin kasih dengan anak kelas sebelah, XI MIPA 2. Itulah kenapa aku bilang semua pujiannya hanyalah gombalan semata. Aku yang dibuat baper. Tapi cewek lain yang dipacarin.

“Evan!” Terdengar suara panggilan dari arah pintu. Itu dia. Panjang umur dia. Baru ku bicarakan, langsung muncul. Namanya Dita. Dia cantik dan kulitnya begitu putih, bersih, juga mulus. Tidak sepertiku. Kalau soal tinggi badan dan prestasi sih, dia masih kalah denganku. Bukan aku tak mau kalah. Karena memang begitulah kenyataanya. Tapi dia modis, juga berpenampilan menarik. Siswi yang pernah sekelas denganku saat kelas X ini juga merupakan anggota OSIS dan populer juga tentunya. Kalau dipikir-pikir kami memang berbeda. Wajar saja Evan menyukainya. Apalagi mereka juga serasi. Persamaan di antara kami hanyalah rambut yang sepanjang bahu dan kami sama-sama berkacamata. Ya, hanya itu. Selebihnya bagai langit dan bumi. Ah, tidak juga. Aku tidak seburuk itu. Mungkin bagai Venus dan Bumi lebih tepatnya.

Evan yang baru saja duduk pun segera menghampiri pujaan hatinya itu dengan penuh suka cita. Mereka saling melempar senyum. Dia meraih tangan Dita dan menggenggamnya erat. Ya, tangan mereka bergenggaman kemudian berlalu dari kelas kami. Begitulah, dan aku hanya dapat menyaksikannya dengan rasa sedih, kecewa, dan cemburu yang bergelayut. Bagaimana tidak. Cowok yang membuatku baper hingga aku jatuh hati ternyata malah berpacaran dengan cewek lain.

*****

Jam pelajaran pertama hari ini adalah PJOK. Aku dan Hana yang baru saja dari ruang ganti memasuki ruang kelas untuk menaruh seragam. Semua anak sibuk dengan seragamnya. Banyak juga yang sudah keluar menuju lapangan.

Selesai beres-beres, aku dan Hana pun mengikuti mereka. Saat mulai berjalan, Evan menghampiriku dan berkat lirih,

“Dania, Kamu kelihatan beda tanpa kacamata.”

“Hah?” Aku memang melepas kacamataku karena baru saja ganti baju. Tapi, apa maksudnya?

“Iya. Kamu… Beda banget tanpa kacamata,” tegasnya dengan senyuman manis dan sorot mata yang tulus kemudian berlalu begitu saja.

Aku sedikit tertegun karenanya. Bahkan kacamata yang semula hendak ku pakai malah ku masukkan kembali ke kantong celana. Ya, aku putuskan untuk tidak memakai kacamata saja. Agar lebih leluasa juga saat berolahraga.

Aku, Hana, dan yang lain pun menuju tangga. Di sekolahku memang terdapat banyak tangga. Bukan karena gedungnya yang bertingkat, tapi karena memang datarannya yang semakin ke belakang semakin tinggi. Kami pun harus menuruni tangga terpanjang, selebar 2 meter ini untuk menuju lapangan olahraga. Baru sampai di tengah-tengah tangga, salah seorang temanku yang sudah berada di bawah berteriak,

“Woy! Buruan! Pak Andri sudah di lapangan.”

“Ayo, Dan!” ajak Hana lalu bergegas turun bersama anak-anak yang lain.

Aku pun buru-buru mengikuti mereka. Tapi, kakiku tergelincir. “Ah!” Bagaimana jika aku jatuh teguling-guling di tangga setinggi ini? Bagaimana jika tubuhku terluka? Kakiku patah? Pikiranku tak karuan.

Namun, beruntung ada seseorang yang memegangi lengan kananku. Aku pun segera berpegangan padanya agar tak terjatuh. “Alhamdulillah…” kataku lirih sembari membetulkan posisi kakiku dengan napas yang terengah-engah karena takut dan terkejut.

Saat aku mendongak, aku lebih terkejut. Ternyata Nandolah yang menolongku. Aku merasa malu lalu bergegas membalikkan badanku. “Terima kasih.” Buru-buru ku ambil kacamata di kantong. “Sebenarnya aku masih bisa melihat dengan jelas. Tapi karena tadi terburu-buru, jadi….”

Tiba-tiba Nando mengambil kacamata dari tanganku dan berdiri di depanku. Berada di satu anak tangga di bawahku. Lalu dia memakaikan kacamata itu padaku.

“Aku bisa memakainya sendiri,” kataku. Tentu saja hal itu membuatku semakin malu. Tapi dia mengabaikan omonganku dan malah merapikan rambutku, menyelipkannya di belakang kedua telingaku dan berkata,

“Pakai kacamata ataupun tidak, Kamu itu sama saja.” Dia rapikan poniku lalu berkata lagi, “Sama-sama cantik.” Dia tersenyum lalu berbalik badan dan menuruni tangga.

Melihat itu, aku tertegun. Apa-apaan ini? Apa yang dia lakukan? Tapi aku segera tersadar, buru-buru mengejarnya dan berkata, “Hey, dasar gombal!”

Dia yang sudah berada di bawah lalu berhenti, menoleh ke arahku dan berkata,

“Aku serius.”

“Ah! Sudahlah.” Aku berjalan cepat, segera meninggalkanya.

“Hey! Aku bilang aku serius,” Teriaknya.

“Bodoh amat!” bisikku sambil menutup telinga dan buru-buru pergi karena situasi ini benar-benar membuatku malu. Aku yang hampir terjatuh dan dia malah memperlakukanku seperti itu. Lalu bagaimana kalau ada yang melihatnya? Ah, benar-benar.

Materi PJOK kali ini adalah lompat kangkang. Setelah melakukan pemanasan dan latihan, kini saatnya siswa perempuan pratik satu per satu. Praktik siswa putra dan putri memang tidak dilakukan secara bersamaan karena ketinggian peti lompat yang berbeda.

Aku sudah berada di barisan menunggu giliran melompat. Ini adalah satu-satunya cabang olahraga yang ku kuasai. Aku mungkin cukup berprestasi di bidang akademik. Bahkan saat SMP dan SMA sekarang ini aku mendapatkan beasiswa. Tapi kalau di bidang nonakademik, kesenian, apalagi olahraga… Ah, bagaimana ya menjelaskannya?

Lompat jauh, lompatanku sama sekali tidak jauh. Tolak peluru, lemparanku juga tidak jauh. Kalau lempar lembing, lembingnya bisa terlempar jauh, tapi tidak bisa menancap di tanah. Jangankan menancap, membekas saja tidak. Lalu lempar cakram, cakramnya malah tidak berputar ke arah yang semestinya. Roll  depan, roll belakang? Tubuhku hanya berguling ke pinggir matras. Dan lari maraton, pencapaian terbaikku adalah berada di posisi kedua, dari belakang.

Voli, basket, atau sepak bola? Ah, sama saja. Aku memang tahu banyak tentang sepak bola karena suka menontonnya. Aku tahu istilah-istilah dalam sepak bola, seperti: offside,  free kick, corner kick, striker, defender, passing, dribbling, dan sebagainya. Aku juga tahu tentang federasi sepak bola, mulai federasi negara sendiri hingga tingkat dunia. Pun dengan klub-klub sepak bola. Aku juga tahu nama-nama para pemain sepak bola. Mulai dari pemain lokal favoritku, Egy Maulana Vikri, lalu ada Pratama Arhan, Asnawi, Ernando. Yang lebih senior ada Evan Dimas, Andritany Ardhiyasa, Stefano Lilipaly, dan masih banyak lagi. Bahkan sang legenda yang sudah pensiun, Bambang Pamungkas, aku pun tahu. Meski aku hanya mengetahuinya dari cerita ayah dan hanya bisa menyaksikan penampilannya di akhir-akhir masa dia sebelum pensiun, tapi tetap saja bisa dibilang aku tahu dia. Lalu pemain dari manca negara. Ada mega bintang Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Aku juga tahu Mo Salah, Harry Kane, Kylian Mbappe, dan pemain hebat lainnya. Dan tentu tak ketinggalan pemain idolaku yang jangkung nan tampan, Son Heung Min oppa.

Tapi, ya. Aku hanya sekedar tahu. Kalau harus memainkannya tentu tidak bisa.

Ah, sudahlah. Sekarang giliranku melompat. Aku merasa sangat siap dan sangat percaya diri. Aku mengikat rambutku terlebih dahulu. Lalu ku betulkan posisi kacamataku. Karena ini adalah satu-satunya kesempatanku untuk unjuk gigi, maka aku harus tampil sebaik mungkin.

”Bismillaahir rohmaanir rohiim…” Ku lakukan awalan dengan berlari cepat. Setelah tiba di depan peti lompat aku melakukan tolakan dengan kuat. Kemudian kedua tanganku bertumpu di atas peti lompat dengan mantap. Bagus. Tubuhku pun terangkat dan kedua kakiku tebuka lebar ke kanan dan ke kiri. Sangat bagus. Kini tubuhku melayang. Dan terakhir, kedua kakiku mendarat di atas matras dengan lutut tertekuk dan kedua tangan lurus ke atas. Sempurna.

Seketika teman-temanku bersorak sambil bertepuk tangan. Begitulah, saat ada yang berhasil maka akan diberi tepuk tangan. Namun, jika gagal, apalagi terjatuh dengan posisi yang lucu, maka kami akan saling menertawakan.

Untuk sesaat aku merasa seperti seorang bintang yang disambut dengan tepuk tangan yang meriah. Lalu dengan suasana hati yang gembira ria aku berjalan menuju Hana dan Evan yang sedang duduk berdekatan. Mereka pun tepuk tangan sambil mengobrol. Mungkin mereka membicarakan keberhasilanku.

“Apa? Putus?” tanya Hana pada Evan.

Ah, tentu saja tidak. Memang, untuk apa mereka membicarakanku? Tepuk tangan yang tadinya meriah pun kini berubah sunyi. Lalu aku duduk di sebelah Hana.

“Ya. Putus,” jawab Evan santai.

Maksudnya Evan dan Dita putus? Sudah tak lagi berpacaran? Bukankah dua hari yang lalu aku baru saja melihat mereka bergandengan tangan? Jadi, sejak kapan mereka putus? Begitu banyak pertanyaan muncul di benakku sambil menyaksikan siswi-siswi yang lain bergiliran melompat. Namun aku tak kuasa untuk menanyakannya. Saat aku hendak menanyakannya pada Hana, dia malah berdiri karena sebentar lagi gilirannya melompat.

“Nanti kamu harus ceritakan semuanya, ya!” kata Hana kepada Evan sambil mengacungkan jari telunjuk tangan kanan lalu pergi.

Okey….” jawab Evan.

Tanpa Hana, kini aku merasa canggung berada di dekat Evan.

Aku masih merasa janggal dengan situasi itu. Mereka tampak saling menyukai. Terlebih mereka baru berpacaran sekitar sebulan yang lalu. Jadi, mengapa mereka putus?

Ah, sudahlah. Sekarang giliran Hana melompat. Ku harap dia juga berhasil.

Dia mulai berlari, melakukan tolakan, dan kedua tangannya bertumpu di atas peti lompat. Namun, apa yang terjadi? Meski tubuhnya berhasil terangkat tapi kedua kakinya tidak terbuka lebar. Kaki kanannya berhasil melewati peti, namun kaki kirinya malah tersangkut. Alhasil, dia malah terduduk di atas peti lompat seperti sedang menunggangi kuda.

Sontak semua siswa, termasuk aku, bahkan guru pun tertawa terbahak-bahak. Lantas dia hanya menggerutu, menutupi muka dengan kedua tangannya karena malu, tapi juga tak bisa menahan tawa.

“Aduh, lihat! Bisa-bisanya Hana malah kayak gitu?” kata Evan sambil tertawa terpingkal-pingkal dan menepuk-nepuk bahuku. “Hahahaha….”

“Iya. Ya ampun, Hana…” aku pun tidak bisa berhenti tertawa.

Pikiranku kembali tertuju pada Evan. Aku tidak habis pikir dengan hubungannya. Tapi di saat seperti ini dia terlihat baik-baik saja. Dia tidak terlihat seperti orang yang baru saja putus cinta. Apa karena dia yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan? Apa karena situasi saat ini yang begitu lucu sehingga dia lupa? Atau karena dia sudah bisa move on? Laki-laki cenderung lebih gampang move on. Ya, kan?

Tunggu! Mengapa aku harus bingung memikirkannya? Jika dia putus, bukankah itu berarti aku punya kesempatan lagi? Tapi ah, masa bodoh. Apa gunanya dia punya pacar atau tidak? Faktanya adalah dia tidak menyukaiku. Sadar. Aku harus sadar. Tawanya, senyumnya itu, aku hanya bisa menyaksikan tanpa bisa memilikinya.

*****

Mata pelajaran kali ini adalah pertanian. Kami dibagi dalam berberapa kelompok yang mana tiap kelompok harus menanam sayur yang berbeda. Masing-masing kelompok terdiri dari enam anak. Di kelompokku ada Evan dan Nando. Entah sudah takdir atau apa kami bertiga sering berada dalam satu kelompok.

Minggu lalu kami sudah membuat pupuk organik cair dari fermentasi campuran bekatul, cairan EM4, dan bahan tambahan lain. Dan hari ini saatnya kami mengambil pupuk tersebut untuk disiramkan ke tanaman.

Semua siswa di kelasku memasuki laboratorium biologi. Beberapa anak bahkan sudah berada di ruang penyimpanannya yang berada di sebuah ruang seperti kamar di dalam laboratorium ini. Pupuk tersebut difermentasi dalam wadah bekas kaleng cat berukuran 25 kilogram. Ku lihat ada dua orang anak yang membawanya ke luar kamar lalu mereka membukanya.

Namun, apa yang terjadi? Begitu kaleng dibuka bau menyengat mengisi seluruh laboratorium.

“Aduh, bau banget!” kata anak yang membukanya tadi lalu segera menutup hidungnya dengan tangan.

“Kenapa bau banget gini?” sahut yang lain.

“Nggak tahan mau muntah. Huwek, huweeek….” tambah anak lain sembari berlari keluar.

Suara riuh memenuhi laboratorium ini. Sambil menutup hidung dan menahan mual mereka semua berhampuran meninggalkan laboratorium. Bahkan yang baru datang pun langsung pergi saking tidak tahannya dengan bau tersebut.

Evan yang berada di dekatku juga hendak mengajakkku keluar. Dia bermaksud menarik tanganku tapi tidak sampai. “Ayo!”

Aku yang juga sudah tidak tahan dengan baunya pun ingin segera pergi. Tapi, saat aku baru sampai di depan pintu tiba-tiba sebuah tangan besar menutupi rapat hidung dan mulutku. Aku pun terhenti karenanya. Bau tangan yang wangi. Seketika bau busuk yang bisa membuat siapa pun mual serasa menghilang terkalahkan oleh semerbak tangan ini.

“Aku… mencoba varian baru body lotion… Gimana baunya? Enak?”

Aku menoleh perlahan ke arah sumber suara. Ternyata tangan besar ini milik Nando. Dia menutup hidungku dengan tangan kanannya. Sementara, hidungnya ia tutup dengan tangan kirinya. Saat ini hanya tersisa kami berdua di depan laboratorium.

“Ha? Iya. Harum. Segar,” jawabku dengan hidung dan mulut masih tertutup tangannya. Baunya memang sangat harum dan segar. Aromanya juga menenangkan dan menambah semangat. Aku belum pernah mencium bau lotion seenak ini.

Aku masih terdiam. Begitu pula dengannya. Tapi, kenapa jantungku berdetak tidak karuan? Ada apa ini? Apa ada masalah dengan sistem transportasiku? Aku juga merasa kikuk. Lalu aku mencoba tarik napas pelan-pelan. Aku juga mencoba mengalihkan perhatianku dengan menoleh ke sekeliling. Dan tangan Nando mengikutinya.

Kemudian Bu Leni datang. Beliau adalah guru pertanian kami. Nando pun bergegas memindahkan tangannya dari wajahku lalu aku menutupinya dengan tanganku sendiri.

“Aduh! Bau apa ini?” tanya Bu Leni sambil mengibas-ngibaskan tangan kirinya.

“Bau pupuk, Bu,” jawabku dengan membuka tangan lalu ku tutup lagi.

“Mana yang lain?” tanyanya sembari memasuki laboratorium.

Sepertinya anak-anak tahu kalau Bu leni datang, mereka pun berdatangan kembali. Lalu kami semua berkumpul di dalam sambil menahan bau.

“Kenapa baunya bisa sampai begini?” tanya Bu Leni.

“Ya, nggak tahu, Bu. Waktu dibuka baunya seperti itu,” jawab salah seorang temanku.

“Pasti ada yang salah. Pupuk semacam ini memang bau, tapi baunya tidak separah ini juga.” Guru cantik berusia empat puluhan tahun itu mejepit hidungnya dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kirinya. “Kalian yakin sudah mengerjakan semuanya sesuai instruksi saya?” Kini suaranya terdengar sengau. Semua siswa hanya terdiam tanpa berani membantah atau pun mengelak. “Ya, sudah. Bawa ke ladang!”

“Dibawa, Bu?” tanya salah seorang siswi yang lain.

“Iya… Kita sudah susah payah membuatnya terus mau dibuang begitu saja?” tanya beliau dengan sedikit bernada tinggi. “Itu berat, biar anak laki-laki saja yang membawanya.” Lalu Bu Leni melangkah meninggalkan kami.

“Baik, Bu…” jawab para siswa putra dengan kompak.

Ya, mau tak mau kami harus tetap membawanya. Meskipun baunya teramat tidak enak, kami harus menahannya.

Tak lama kemudian kami sudah berada di ladang. Ladang kami berada di belakang sekolah. Karena wilayah sekolahku semakin ke belakang datarannya semakin tinggi, jadi berada di ladang ini serasa berada di puncak. Tanaman kami sudah setinggi sekitar 20 centimeter. Kelompokku menanam sayur buncis. Sementara kelompok lain ada yang kebagian menanam tomat, kacang panjang, mentimun, dan lain-lain.

“Jangan lupa, takarannya satu pohon satu gelas!” kata Bu Leni.

“Ya, Bu.” jawab kami.

“Selain memberi pupuk, kalian juga harus rutin menyianginya. Jangan lupa juga untuk selalu mengecek rambatannya! Apalagi sekarang sudah memasuki musim penghujan. Jangan sampai rambatannya roboh ataupun tanamannya terlepas dari rambatan.”

“Ya, Bu.”

“Saya pergi dulu. Ada urusan. Kalian lanjutkan sampai selesai!”

“Baik, Bu.”

“Hati-hati! Jangan sampai terluka.” Bu Leni pergi meninggalkan kami.

“Hati-hati! Jangan sampai terluka,” kata salah seorang teman wanitaku dengan nada nyinyir menirukan Bu Leni.

“Jangan gitu, ah!” kata siswi lain.

“Aku itu kesal sama baunya.”

“Masih mending dari pada tadi. Di ruang terbuka gini baunya nyebar, jadi nggak begitu menyengat.”

“Tapi tetap saja bau.”

Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Memang masih tercium aroma busuk. Saat mendekat pun kami harus menutup hidung. Tapi setidaknya tak sampai membuat kami mual.

“Dan! Dania!” panggil Nando. Aku pun menoleh.

“Apa?” tanyaku hanya dengan gerak bibir, tanpa bersuara.

“Sini!” jawabnya juga tanpa bersuara sambil melambai tanpa mengangkat tangan.

Aku mendekatinya. “Apa?”

Nando membuka telapak tangan kirinya, mengisyaratkanku untuk membuka telapak tanganku. Aku pun menurutinya. Tiba-tiba dia mengeluarkan sebotol kecil body lotion dari kantong celananya lalu dia tuangkan sedikit ke tanganku. Sontak aku kanget.

“Hey! Kok Kamu bawa ini?” bisikku.

“Nggak apa-apa. Toh Bu Leni sudah pergi.”

“Tapi, kan….”

“Biar nggak bau.”

Karena si lotion sudah terlanjur berada di tanganku, aku pun mengusap-usapnya dengan kedua tanganku. Tak dinyana saat aku tengah sibuk meratakan lotion di kedua tanganku lalu menciumnya, Nando malah buru-buru memasukkan botol lotion tersebut ke dalam saku rokku.

“Hey…!” bentakku tapi dengan suara rendah agar tak jadi pusat perhatian. “Nanti ada yang lihat.”

“Makanya, jangan sampai ketahuan!”

Ah, anak ini sembarangan saja. Untung botolnya kecil jadi bisa masuk seluruhnya di kantongku. Aku tidak tahu merk apa itu. Sekilas tadi ku lihat labelnya bertuliskan huruf Korea, Hangeul. Tapi aku tidak bisa membacanya.

Tiba-tiba seorang temanku berteriak. “Woy! Tolong, woy!”

Ku lihat Hana bersandarr di tubuh anak laki-laki tersebut dengan mata terpejam.

“Astaga! Kenapa itu?” Aku bergegas menghampiri mereka, diikuti Nando, dan semua temanku juga buru-buru mengerumuninya.

“Hana kenapa itu?” Refleks kedua tanganku menutup mulut. Aku terkejut dan takut. Ku lihat tangan anak itu berdarah, dan Hana pingsan. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Hana? Lalu aku menepuk-nepuk pipi Hana sambil memanggilinya. “Hana… Han! Bangun, Han!”

“Kenapa dia, kenapa?” tanya semua anak bergantian.

“Nggak tahu. Buruan bantuin! Tanganku sakit.”

Nando segera meraih tubuh Hana lalu menggendongnya. Evan dan seorang anak laki-laki lain juga berusaha membantunya.

“Ayo!” seru Evan.

“Nggak apa-apa. Aku sendiri aja,” kata Nando.

“Memang kamu kuat?”

“Nggak apa-apa. Kuat kok. Jalannya susah buat berdua.” Nando membopong Hana menuju UKS. Tubuh Hana sedikit kurus karena dia rajin menjaga berat badan. Jadi, Nando pasti kuat.

“Ayo! Kamu juga harus ke UKS,” ajakku pada siswa tadi. Lantas kami mengikuti Nando. Begitu pun Evan, berjalan mengiringi Nando. Ku dengar samar-samar suara anak-anak yang lain mempertanyakan kondisi Hana sekaligus mencemaskannya.

Kami harus menuruni beberapa buah tangga untuk bisa sampai ke UKS.

“Hati-hati! Evan, bantuin Nando!” teriakku.

“Iya,” jawab Evan. Ia bersiaga di sebelah Nando.

“Sebenarnya kenapa, sih? Kok Hana bisa sampai pingsan gitu?” tanyaku.

“Mana ku tau? Tadi kan aku benerin bambu-bambu yang buat rambatan itu sama Hana. Tanganku tergores terus berdarah. Baru mau aku bersihin. Eh, tiba-tiba dia lemes terus pingsan, jatuh di badanku kayak gitu tadi. Mana tanganku berdarah lagi, jadi gak berani nyenggol bajunya,” terangnya.

“Masa, sih? Tapi kamu nggak liat dia digigit ular atau apa gitu?”

“Nggak tau, ya. Tapi kayaknya sih, nggak ada ular, deh. Gak ada yang lihat juga di sana. Hana juga nggak teriak, kaget, atau apa gitu. Tau-tau pingsan gitu.”

“Itu tanganmu banyak juga darahnya.” Ku lihat lengan bajunya bahkan terkena darah.

“Iya, nih. Masih keluar terus darahnya. Kayaknya lumayan dalam lukanya. Perih.”

“Hm… Jangan-jangan Hana pingsan karena darah itu lagi,” kataku.

“Kok bisa?” sahut Evan.

“Iya. Hana pernah cerita sama aku kalau dia paling takut sama darah. Begitu melihat darah, kepalanya langsung pusing, matanya berkunang-kunang. Makanya tiap diajak donor darah, dia nggak mau, kan?”

“Begitukah?”

“Tapi…” sahut anak tadi. “Bukannya cewek tiap bulan ngeluarin darah, ya?”

“Heh!” Aku memelototinya. Bisa-bisanya dia bicara seperti itu padaku di tengah-tengah tiga orang pria pula.

“Aku kan cuma penasaran… Masa iya dia pingsan tiap kali ke toilet?”

Aku hanya bisa memonyongkan bibirku. Anak ini benar-benar, ya, membuatku gemas. Bahkan sepertinya Nando dan Evan menahan tawa karenanya.

Baru selesai kami menuruni tangga kedua, sepertinya Hana tersadar.

“Hah! Kenapa ini?” itulah yang dia ucapkan begitu matanya tebuka. Dia buru-buru turun dari gendongan Nando. Dia terlihat kebingungan.

“Tadi kamu pingsan, Han.” Aku segera menghampirinya. “Kamu nggak apa-apa?” tanyaku sambil memeriksa tubuhnya.

“Heh! Kenapa tadi kamu gendong aku?” Bukannya menjawabku Hana malah langsung menghardik Nando.

“Hah? Kamu itu pingsan. Terus harus dibiarin tergeletak di tanah, gitu aja?” jawab Nando dengan sedikit emosi.

“Ah… Sebel!” Kemudian Hana bergegas meninggalkan kami.

“Itu cewek kenapa, sih? Ditolongin sampai tanganku pegal gini, bukannya berterima kasih malah marah-marah.”

Ketiga pemuda itu melihat ke arah Hana dengan wajah penuh keheranan.

“Dia malu kali.” Aku hanya tersenyum. “Kalian bawa dia ke UKS, aku kejar Hana dulu!” Lalu aku berlari mengejar Hana. Aku meneriakinya. “Hana! Kamu baru aja pingsan. Hati-hati!” Tapi dia hanya menoleh dengan wajah yang masih terlihat kesal. Dia malah menambah kecepatannya.

Dasar anak itu. Sekalipun malu tak perlu lari-lari begitu. Dia baru saja pingsan, harusnya istirahat terlebih dulu. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya? Walau sepertinya dia memang sudah baik-baik saja. Tapi tetap saja aku harus memastikannya.

*****

Hujan belum juga reda. Aku dan Hana menunggu di teras kelas berharap bisa lekas pulang. Dia duduk di sebelah kiriku.

“Hm… Haa… “ Aku tarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan mulut. “Kamu nggak bawa payung?”

“Enggak,” jawab Hana dengan lemah tak berdaya.

“Nggak punya payung?”

“Enggak,” jawabnya sambil  menggelengkan kepala. “Kamu sendiri, nggak bawa payung?”

“Enggak,” jawabku serasa putus asa.

“Nggak punya payung?”

“Enggak,” jawabku seraya menggelengkan kepala.

“Hahaha…” Kami berdua pun tertawa lepas.

“Eh, bukannya kamu punya payung?” tanya Hana.

“Payungku hilang. Dibawa kakakku ke warkop. Pulangnya sudah reda, nggak dibawa, hilang deh.

“Kasian…”

“Kamu juga nggak punya?”

“Punya dong. Aku kan nggak punya kakak cowok yang suka datang dan menghilang bagai hujan. Eh, menghilangkan barang maksudnya.”

“Apaan, sih?”

“Hahaha….” Kami pun tertawa kembali.

Sejenak, kami diam menikmati suasana hujan yang cukup deras ini. Ketimbang resah memikirkan kapan reda, lebih baik kami menikmatinya. Karena toh sebenarnya kami berdua sama-sama suka hujan. Minggu lalu saat dia ke rumahku, kami kehujanan dalam perjalanan. Meski sekujur tubuh basah kuyup, kami malah tertawa riang.

Saat aku menoleh ke belakang kepala Hana. Sekilas ku lihat kotoran di rambut lurusnya.

“Apa ini di kepalamu?”

“Apa?”

“Oh, uban,” kataku seraya membersihkan kotoran itu.

“Uban? Nggak mungkin, lah!” sanggahnya dengan suara lantang. “Memangnya Pak Andri? Masih umur tiga puluhan tapi sudah beruban.”

“Itu karena beliau pusing mikirin murid yang nggak bisa lompat kangkang kaya kamu,” ledekku. “Disuruh lompat malah main kuda-kudaan.” Aku tertawa kecil.

“Hey! Nggak usah sombong, ya! Cuma bisa lompat kangkang aja pamer.” Aku hanya tersenyum. “Pak Andri itu beruban karena murid kayak kamu,” katanya sambil menunjuk wajahku. “Kamu lupa waktu roll depan, roll belakang? Bukannya berputar ke depan atau ke belakang malah guling-guling ke pinggir matras.”

“Ah, iya nggak usah dibahas.”

“Harus dibahas biar kamu ingat, biar kamu sadar.” Sepertinya Hana sedikit emosi. “Terus waktu lari. Semua sudah sampai, tapi kamu belum juga muncul. Sampai aku selesai ganti baju, sampai Pak Andri capek nunggu, sampai-sampai anak-anak mau nyusulin kamu dikira pingsan di jalan. Kamu lupa, ha?”

“Iya, iya. Aku ingat. Aku ingat.” Ah, sepertinya aku salah bercanda.

“Terus juga waktu kamu presentasi sistem pencernaan. Disuruh bikin gambar organ-organ pencernaan malah menggambar leak. Hahaha…” Hana tertawa lepas.

“Kok leak, sih? Hey! meskipun gambarku jelek, yang penting kan presentasinya lancar.” Wah, mengapa dia malah mengumbar aibku? Aku jadi terpancing.

“Iya lancar. Gambarnya juga membuat semua orang tertawa saaaangat lancar. Hahaha…” Dia semakin terbahak-bahak.

Ini sih tidak bisa dibiarkan lagi. Aku harus membela diri. “Kapan tertawanya? Aku nggak lihat mereka tertawa.”

“Itu karena mereka nggak enak aja sama kamu, karena kamu sering bantuin mereka belajar. Terus waktu itu kamu ke TU, kan? Yang, kamu dapat beasiswa itu. Begitu kamu keluar, mereka langsung tertawa terpingkal-pingkal. Hahaha… Ah, pipiku sakit. Pipiku sampai sakit karena tertawa.”

Dia benar-benar mengejekku. Sepertinya dia harus diberi pelajaran! “Nunduk-nunduk! Kotorannya banyak,” kataku sembari membersihkan kepalanya sekaligus memukulinya. Otomatis dia menundukkan kepala karenanya.

“Aduh! Pelan-pelan! Sakit, tau! Kamu mau bikin aku gegar otak?” Dia berusaha mendongak.

“Tapi ini rambutmu kotor banget.”

“Masa, sih?”

“Iya… Makanya, diem aja!” Seketika kami lupa dengan pertikaian kami tadi. Aku terus menepuk-nepuk kepalanya. “Sebenarnya kamu dari mana, sih? Kenapa kotor banget gini?”

“O… Ini pasti terkena di gudang tadi itu. Kotor banget, ya?”

“Iya. Sampai belakang juga ini. Punggungmu juga kotor,” kataku sembari menepuk-nepuk punggungnya.

“Masih belum?”

“Ini di telingamu juga ada sedikit.”

“Eh, baunya,” kata Hana.

“Apa?” tanyaku seraya menurunkan tanganku karena sudah selesai membersihkan.

Hana mengangkat lenganku lalu menciumnya sambil menyelidik dan berkata, “Tu, kan!”

“Apaan?”

“Baunya ini. Persis banget sama baunya Nando.”

“Bau apa? Ngarang.”

“Serius. Waktu aku pingsan kemarin digendong Nando, kan? Nah begitu sadar, aku langsung mencium aroma ini, ni.” Hana mengangkat tanganku dan mengendusnya lagi. “Sama persis. Harum, segar, menyegarkan. Tapi, baru kali ini aku tahu aroma ini.”

Gawat. Aku baru ingat kalau aku memakai body lotion pemberian Nando. Aku bergegas menyingkirkan tanganku dari hidungnya. “O… Ini? Iya. Ini varian baru.”

Body lotion? Merk apa? Kok aku nggak tahu?”

“Kan, varian baru. Ya wajar kalau kamu nggak tau.”

“Ah, yang bener? Terus kenapa bisa sama, sama punya Nando?” Jelas sekali terlihat ketidakpercayaan di wajahnya.

“Itu… Pabrik kan selalu produksi banyak. Ribuan, jutaan. Gimana, sih? Gitu aja heran.”

“O… Jadi, selera kalian sama? Hm… Beli di mana?”

“Itu…”

“Aku kan juga pengin tahu. Pengin beli juga.”

“Yaa… Di Indomaret ada.”

“Nggak ada. Kebetulan kemarin aku ke sana juga beli body lotion. Tapi nggak ada varian baru ataupun merk baru di sana.”

“Yaa… Berarti di Alfamart.”

“Kayaknya nggak ada juga, deh.”

“Mungkin di Rira. Kamu tau kan, Rira swalayan cukup lengkap dagangannya? Hehehe….” Aku mencoba tertawa agar tak terlihat sedang bingung.

“Jadi, kamu belinya di Indomaret, Alfamart, apa Rira?”

“Oh! Online. Online shop. Aku baru inget. Iya beli di online shop.” Ah… Mengapa jawabanku malah melantur begini?

“Online shop? Online shop apa? Sini, lihat hp kamu! Pasti ada riwayatnya, kan?”

“Itu… Itu…”

“Ah… Ayolah. Jujur aja, apa yang terjadi? Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?” Dia mendekatkan wajahnya, menatap ke dalam mataku. “Hm?”

Bagaimana ini? Aku sudah tidak bisa mengarang lebih banyak lagi. Hana juga sama sekali tidak percaya dengan jawabanku tadi. Kalau aku jawab jujur, pasti dia akan berpikir yang tidak-tidak.

“Nggak ada apa-apa. Eh, minggu depan UAS. Kamu sudah belajar, belum? Belajar yang rajin biar nggak remidi.”

“Hey! Kenapa malah mengalihkan pembicaraan? Jawab dulu, ada apa?”

“Siapa yang mengalihkan pembicaraan? Sebentar lagi kan memang UAS. Jadi….”

“Padahal aku selalu cerita semua sama kamu.”

“Alhamdulillah… hujannya reda.” Ku lihat hujan memang sudah mereda. “Pulang, yuk! Takutnya nanti hujan lagi.”

“Hm… Kamu beruntung ya hari ini. Tapi, besok kamu harus cerita!”

Ah, ternyata dia masih ingin membahasnya. Tapi, tak apa. Besok, dipikir lagi besok. Terima kasih hujan sudah reda di saat yang tepat.

“Beres….” kataku sambil berdiri dan menggelandang tangannya.

Baru beberapa langkah kami berjalan, Nando tiba-tiba memanggilku.

“Dania!”

Lalu aku dan Hana berhenti.

“Ya?” sahutku.

“Pulang sama aku, yuk!”

“Apa? Eee… Ini aku sama Hana.” Sebenarnya aku merasa tidak enak kalau terus menolaknya. Tapi, aku juga tidak bisa menerima tawarannya.

“Lah. Nanti di depan kita juga pisah, kan? Nggak apa-apa kamu sama Nando aja,” kata Hana.

Aduh! Mengapa Hana malah bicara seperti itu?

“Bukan begitu, Han. Kasian Nando kalau harus bolak-balik,” terangku.

“Nggak masalah. Kan aku yang minta,” kata Nando.

“Nah. Tu, kan. Ya sudah kalian pulang berdua,” kata Hana sambil sedikit mendorongku.

Ah… Bagaimana ini?  Dengan alasan apa lagi aku harus menolaknya?

Di saat yang demikian itu, Evan datang menghampiri kami.

“Hana! Pulang sama aku, yuk!” ajak Evan.

“Pulang? Sama aku?” tanya Hana dengan tangannya menempel dada.

“He’em. Ada yang pengin aku omongin sama kamu.”

“Apa?” Ekspresi Hana sama dengan yang ada di pikiranku. Ada keperluan apa Evan mengajak Hana? Selama ini mereka tidak pernah berangkat ataupun pulang bersama meski rumah mereka searah.

“Ah, iya benar. Aku pulang sama Evan. Kamu pulang sama Nando. Jadi pas, kan?” kata Hana.

Seketika dadaku seperti tehimpit dua dinding besar nan kokoh. Baru saja aku merasa punya harapan terhadap Evan, tapi sekarang, apa dia mendekati Hana? Aku linglung tak tahu harus berbuat apa.

“Ya, sudah. Ayo! Bye bye, Dania… Nando. Kamu hati-hati ya bawa dia!” Lalu hana pergi begitu saja diikuti Evan di belakangnya. Aku tahu niat Hana adalah ingin mendekatkanku dengan Nando. Tapi….
“Dania!” Suara Nando membuyarkan lamunanku.

“Ha? Iya?” Nando menunggu keputusanku tanpa berkata apa pun dengan wajah yang penuh harap. “Iya. Ayo!” Ajakku dengan suara lemah lalu melangkah. Nando pun mengikutiku.

Ya, apa lagi yang ku harapkan. Seperti apa pun situasi Evan sekarang, kenyataanya aku bukan lah gadis yang dia suka. Aku harus sadar. Aku tidak bisa terus mengharapkannya.

Nando memboncengku dengan motornya. Sepanjang perjalanan, kami hanya diam tanpa sepatah kata pun.

Langit masih mendung. Begitu sendu. Sesendu hatiku. Ku lihat aspal yang menghitam karena air hujan. Dedaunan di pinggir  jalan yang masih basah. Serta burung-burung yang terbang lalu-lalang di atas persawahan.

Rasanya, aku ingin sekali menangis. Dia yang membuatku tersenyum, berbunga-bunga, merasa tersanjung. Tapi, tak ada suatu pertanda apa pun darinya. Bolehkah aku menangis? Atau seharusnya aku ungkapkan saja perasaanku yang sebenarnya padanya? Atau setidaknya ku tunjukkan sikap bahwa aku menyukainya?

Ah! Sudahlah. Memangnya apa yang akan berubah jika aku melakukannya? Apa dia akan berubah menyukaiku jika mengetahui perasaanku? Aku memang picik. Pun tak punya nyali.

Biarlah. Biarlah aku hanya menyukainya dalam diam. Biarlah perasaan ini datang dan menghilang layaknya musim hujan. Biarlah air mata ini menetes dan mengering dengan sendirinya.

Tiba-tiba ku rasakan tetesan air di sekujur tubuhku. Ternyata hujan mulai turun lagi. Apa dia ingin mengiringi kesedihanku?

Tak ada tempat untuk kami bisa berteduh di area persawahan seperti ini. Namun, beruntung tak jauh terlihat pos kamling yang berada di pinggiran kampung. Nando pun menepikan motor. Kami berhenti tepat di depan pos yang berdindingkan tembok setinggi pundakku.

“Kita berteduh di sini dulu, ya,” kata Nando.

“He’em.”

Kami pun bergegas masuk masuk ke dalamnya. Kami hanya berdiri karena tak ada kursi sama sekali di bangunan berukuran 2 meter persegi ini.

Benar saja. Begitu kami berada di dalam, hujan semakin lebat. Aku negusap-usap wajahku yang basah oleh air hujan, juga karena air mata. Aku juga mengelap kacamataku yang basah. Ku harap Nando tidak menyadari bahwa aku baru saja menangis.

“Sebenarnya aku bawa jas hujan,” katanya sembari melihat hujan. “Tapi cuma satu. Masa kita pakai sebelahan? Kamu pakai atasan, aku pakai bawahannya. Hahaha…” Nando mencoba melucu. Apa dia sengaja menghiburku? Ah, tidak. Lagi pula dia tidak tahu aku sedang bersedih karena sejak tadi aku tidak menghadapkan wajahku di depannya. Lalu aku pun tersenyum karenanya.

“Terus nanti orang-orang mengira kita sinting.” Aku tertawa kecil.

“Haha. Ya, enggak lah….”

“Makanya, seharusnya tadi aku pulang sendiri. Biar kamu nggak kehujanan. Belum lagi nanti harus bolak-balik.” Sejujurnya aku merasa tidak enak membuatnya seperti ini. Apa lagi hujannya begitu deras.

“Kamu tau, nggak?”

“Enggak,” sahutku.

“Aku belum selesai ngomong.”

“Haha. Iya maaf.”

“Sebenarnya aku punya om yang tinggal sekampung sama kamu.”

“O, ya?” tanyaku seraya menoleh padanya.

“He’em. Namanya Om Irwan. Kenal, nggak?” Dia menoleh ke arahku.

“Hm… Enggak,” jawabku sambil menggelengkan kepala.

“Jadi, tiap kali aku mengajakmu pulang bareng, itu karena sekalian aku mau ke rumahnya.”

Apa? Jadi, selama ini tujuannya itu? Bisa-bisanya aku malah kegeeran.

“Tapi, aku jarang ke rumahnya. Belum tentu sebulan atau dua bulan sekali. Paling-paling kalau benar-benar ada kepentingan.”

“Oo…” Aku mengangguk-angguk.

“Maka dari itu, kamu nggak usah merasa nggak enak, sungkan, atau apa pun. Karena bisa jadi, berkat kamulah aku akan lebih sering mengunjunginya.” Dia tersenyum kecil sambil menolehku.

Setelah membuatku kegeeran, kini dia membuatku tak bisa berkata apa-apa. Aku jadi canggung.

“Tapi, tetap saja. Kalau hujan begini kan….”

“Ah! Dasar, hujan! Kenapa malah turun lagi? Membuat Dania jadi merasa bersalah aja.”

“Apaan, sih?” Aku tersenyum.

“Sering banget hujan akhir-akhir ini, ya? Padahal baru awal Desember.”

“Wajarlah, sudah masuk musim penghujan. Kamu tahu? Pemilik sawah-sawah itu sudah lama menanti hujan,” terangku sambil menunjuk ke sekeliling area. “Lagi pula. Aku suka hujan. Meskipun basah, aku merasa senang melihat hujan. Rasanya damai, menenangkan.”

Aku melangkah ke depan. Mengulurkan tangan kananku sedikit ke luar untuk merasakan guyuran air hujan. Ah, damainya… Aku tersenyum karenanya. Tak terasa aku sudah melupakan kesedihanku tadi.

Tiba-tiba petir menyambar disertai suara gemuruh yang menggelegar. Sontak aku melangkah mundur dan bergegas menutup telingaku sambil menunduk. Di saat yang bersamaan, Nando mengatupkan kedua telapak tangannya di atas dahiku. Dia juga menunduk.

Suara guntur semakin pelan dan menghilang. Perlahan aku mengangkat kepalaku dengan tangan masih di telinga. Begitu juga Nando. Kami pun saling berpandangan di bawah telapak tangannya.

Seketika jantungku berdegup kencang. Darahku serasa mengalir cepat menuju kepala. Ada apa ini? Ah, pasti karena petir tadi. Siapa yang tak takut melihat kilatan cahaya seperti itu disertai suara yang bergelegar? Tapi aku merasa canggung. Kedua pipiku menghangat.

“Kamu… Nggak apa-apa?” tanya Nando.

“Ha? I… Iya. Nggak apa-apa,” jawabku sembari menurunkan tanganku dan langsung menoleh ke arah lain. Nando pun menurunkan tangannya.

“Kamu sakit?”

“Ha? Enggak. Aku baik-baik aja, kok.”

“Pipimu memerah.”

Aku bergegas meraba kedua pipiku. “Masa, sih?”

Nando malah mendekatkan wajahnya untuk mengamatinya. “Iya. Kamu yakin nggak apa-apa?”

Aku buru-buru memalingkan muka. “Enggak kok. Aku nggak apa-apa. Aku sehat wal afiat malah.”

“Syukur deh kalau kamu nggak apa-apa.”

Dalam sunyi, kami memandangi hujan yang tak kunjung berhenti. Aku masih merasa malu karena Nando melihat pipi merahku.

“Dania!”

“Hm,” jawabku tanpa menoleh.

“Sebenarnya ada yang ingin aku omongin sama kamu.”

“Apa?”

“Aku tahu, sebenarnya kamu tahu perasaanku padamu, kan?”

Aku hanya diam tak menjawabnya.

“Aku juga tahu bagaimana perasaanmu.” Dia diam sejenak.” Tapi, aku tak bisa lagi menahan ini. Jujur, aku tak ingin kamu merasa terbebani. Jadi, aku juga nggak akan mengharap apa pun darimu.” Dia menghela napas. “Hanya saja, aku ingin bilang bahwa…” Dia memindahkan kedua kakinya, menggerakkan badan dan kepalanya, menghadap ke arahku. “Aku suka sama kamu.”

Sontak, kepalaku pun menoleh ke wajahnya. Apa-apaan ini? Ritme jantungku yang mulai normal kini kembali tak karuan. Aliran darahku serasa semakin menggila hingga menumpuk di ubun-ubun. Pipiku dan bahkan sekujur tubuhku menghangat. Namun, bibirku yang gemetar tiba-tiba berkata,

“Aku… juga… suka sama kamu.”

Kami tak henti saling memandang. Menatap dalam ke mata masing-masing.

Rintikan hujan yang mulai mereda seakan terdengar seperti alunan musik yang syahdu nan lembut. Ku lihat sekeliling seolah taman yang dipenuhi dengan bunga warna-warni yang bermekaran nan mewangi.

Ku lihat senyum yang merekah di bibir Nando, lalu berkata,

“Benarkah?”

Tak ku sangka kata itu lah yang terucap.

Aku tersipu, lalu mengalihkan pandanganku dan berkata,

“Ya, begitulah.”

Aku melirik ke arah Nando. Dia menggerakkan tubuhnya ke posisi awal. Terlihat tangannya mengepal sambi berbisik, “Yes. Yes!

Kami saling melempar senyuman. Dan hujan pun tinggal gerimis saja.

“Kayaknya, hujannya sudah reda,” kataku dengan senyum malu-malu.

“Kita tunggu sampai benar-benar reda dulu.”

“Hm… Oke,” jawabku.

Begitulah hari ini berlalu. Diawali dengan perasaan tak karuan, kehujanan, kini berubah menjadi senyum semringah.

Aku bahkan masih tidak percaya dengan diriku sendiri yang akhirnya mengatakan bahwa aku juga menyukainya. Kebaikannya, kegigihannya, kesabarannya, akhirnya membuatku luluh juga. Membuatku yang bimbang ini, akhirnya merasa yakin. Lebih baik mencoba hubungan baru dengannya. Dengan dia, yang benar-benar menunjukkan sikap yang jelas dan nyata.

Begitulah. Hujan bulan Desember ini, mengiringi perjalanan yang telah ku lalui. Pun menjadi saksi awal kisah kami.

*****

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!