I Hear U
38.8
4
302

Jika dia melihatmu tentu dia juga bisa mendengarmu. (I See U pt 2)

No comments found.
I Hear U

.

.

Dalam diam dia mendengar segala keluh kesahmu.

 

Siang dan malam datang silih berganti. Dalam gelap dan terang tentu ada sisi remang yang menjadi penengah diantara keduanya. Kejadian dua bulan lalu masih berbekas dalam ingatan sang gadis. Dan dari sanalah awal segala sisi gelap,terang dan remang hidupnya.

“Hati-hati Ca.” ucap sang ibu pada dirinya saat akan berangkat sekolah.

Aca hanya menganggukkan kepalanya. Gadis itu segera melangkah keluar rumah dan melihat seseorang telah menunggunya, Deo.

“Selamat pagi Ca.” ucap Deo saat melihat Aca datang dan mendekat kearahnya.

“Pagi. Sudah lama nunggu?” tanya Aca menatap Deo.

“Gak kok, aku juga baru sampai. Berangkat sekarang?” tanya Deo dan dibalas anggukan oleh Aca.

Semenjak kejadian beberapa bulan lalu Deo selalu menjadi orang yang akan menemani Aca berangkat sekolah. Kemanapun Aca pergi sang ibu tidak akan membiarkan dirinya sendirian.

“Sekarang gimana Ca?” tanya Deo menatap Aca yang fokus menatap jalanan.

“Apanya?” tanya Aca menoleh.

“Dia.”

“Oh. Masih sering datang. Bahkan sekarang terang-terangan.” jawab Aca tabah.

“Kamu gak takut?” tanya Deo.

Aca menoleh dan hanya berekpresi diam. Melihat itu Deo sudah tau jawabannya. Tanpa perlu ditanyapun dirinya tau apa yang dirasakan Aca. Karena dirinya sudah mengalami hal ini sebelumnya.

“Gapapa. Aku ada disampingmu, jangan khawatir.” ucap Deo tulus yang dibalas dengan senyum Aca.

Keduanya terus berjalan menuju sekolah tanpa mengetahui sesuatu memperhatikan mereka dari sebalik pohon. Deo yang merasakan sesuatu menoleh dan hanya melihat pepohonan.

“Ada apa?” tanya Aca saat melihat Deo berhenti.

“Bukan apa-apa.” ucap Deo kembali berjalan disamping Aca.

Aca melirik Deo sesaat dan kemudian lanjut berjalan disamping Deo. Keduanya segera sampai di sekolah dan segera menuju kelas masing-masing. Sesampainya di kelas Aca segera duduk dan Deo mengikuti duduk didepannya. Suasana kelas yang sedikit sunyi menarik perhatian Aca untuk menyapu pandangannya ke seluruh kelas.

“Ada apa Ca?” tanya Deo menatap Aca.

“Tidak ada hanya merasa aneh.” ucap gadis itu pelan.

“Aneh bagaimana?” Deo bertanya dan menatap gadis itu sepenuhnya. Aca hanya menunduk dan meletakkan kepalanya diatas meja dan kemudian bergumam.

“Apa rasanya selalu seperti ini? Sangat melelahkan.” 

Deo terdiam dan kemudian melirik kelas yang sunyi, pemuda itu meletakkan tangannya diatas kepala Aca dan mengelusnya pelan.

“Tenang saja, aku akan bersamamu. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi.” ucap Deo pelan. Aca kembali mendongak dan menatap mata Deo.

“Aku juga akan membantumu.” ucap Aca pelan. Keduanya tersenyum dan hanyut dalam pandangan mata masing-masing sampai sebuah suara kecil menghentikan mereka dan membuat kedua muda mudi itu menoleh.

“Suara apa itu tadi?” Aca bertanya menatap sekitar.

“Seperti benda jatuh.” ucap Deo pelan dan bangun dari kursi pemuda itu segera berjalan menyusuri kawasan kelas.

“Kenapa auranya jadi tidak enak?” tanya Aca yang juga berjalan mengikuti Deo. Pemuda itu berhenti dan kemudian melirik jam yang terpasang di dinding kelas.

“Jam nya aneh.” ucap Deo membuat Aca menoleh dan menatap jam dinding yang tidak bergerak.

“Jangan bilang-

Hihihihihi.” suara tawa menembus telinga keduanya membuat dua muda mudi itu saling merapat dan menghindari jarak.

“Jangan kemana-mana.” ucap Deo sambil memegang tangan Aca yang mulai dingin. Aca mengangguk dalam diam dan kembali menatap sekitarnya.

Suasana kelas yang sama namun dengan waktu yang berhenti? Aca mulai memikirkan pikiran negatif lainnya mengabaikan Deo yang terus memanggil namanya.

“Aca!” teriak Deo mengguncang bahu gadis itu.

“Ha?Apa?”

“Jangan melamun! Jangan sampai kesadaranmu tertinggal disini.” ucap Deo penuh khawatir.

“Ah,maafkan aku.” ucap Aca pelan. Deo hanya menghela nafas dan kembali menatap sekitar.

Kalian disini.” 

“Iya kita disini. Kalian dimana?” Deo bertanya sementara Aca disampingnya menahan nafas.

“Kenapa ditanya?” tanya gadis itu pelan.

“Hanya ini jalan keluarnya.” ucap Deo. Aca kembali menghela nafas dan menatap kearah luar jendela. Pemandangan diluar terasa berbeda dengan suasana yang bisa diingat gadis itu.

Kami disini. Ayo kesini!

“Deo!”

“Kita hanya bisa disini.” ucap Deo. Suasana di sekitar mereka kembali hening namun aura mencekam dan gelap kembali dirasakan keduanya.

Dalam hitungan detik ruangan di depan mereka berubah menjadi tua dan penuh warna merah, bau busuk tercium dan memasuki indera penciuman kedua muda mudi itu.

“Ukh baunya.” ucap Aca menutup hidungnya.

“Apa dia marah?” ucap Deo sambil menutup hidungnya.

“Apa tidak ada jalan keluar lain?” tanya Aca.

“Apa kamu tau ini dimana?” Deo kembali bertanya.

“Sepertinya ini bangunan sekolah 20 tahun yang lalu.” jawab Aca.

Hihihi.. Itu benar.

Mendengar itu Aca dan Deo segera menatap kedepan,menatap sosok yang membelakangi mereka berdiri di depan meja guru. Rambut yang panjang dengan baju putih menyentuh lantai.

“Ke-kenapa kami ada disini?” Deo bertanya pelan. Sosok di depan mereka hanya bergoyang kiri dan kanan seolah tak mendengar pertanyaan Deo. Melihat hal itu membuat Aca mundur perlahan menuju pintu dibelakangnya.

Hihihi.. Jangan bergerak anak manis.

“Apa?Bagaimana bisa?”

Hihihi.. Langkahmu terdengar dan-

Deo dan Aca berusaha menahan takut saat sosok itu mulai berhenti bergoyang.

“-detak jantung kalian terdengar berirama. Hihihi.” ucap sosok itu sambil berbalik menghadap keduanya.

Aca terduduk sementara Deo tetap diam ditempat. Keduanya pucat menatap sosok didepannya. Jauh dari kata baik dan amat menakutkan.

Kenapa diam?” sosok di depan itu mulai berjalan menuju mereka. Deo melangkah mundur sementara Aca hanya menundukkan kepala dan menutup matanya rapat.

Sosok itu sampai di depan Deo dan Aca. Berdiri dan menguarkan bau yang amat menyengat membuat dua muda mudi itu menutup hidungnya lebih rapat.

“Kami ingin pulang.” ucap Deo menahan rasa takutnya berusaha menatap sosok didepannya.

Kenapa?Kami ingin kalian disini.” ucap sosok itu dingin.

“Ini bukan rumah kami.” ucap Aca melirik dari bawah. Sosok itu diam dan kemudian wajahnya berada tepat di depan wajah Aca. Mata yang gelap itu menatap mata coklat Aca.

Tidak boleh!” teriak sosok itu  dengan senyum mengerikan di depan Aca membuat gadis itu pucat seketika.

“Aa.. aku-

“Aca!” teriak Deo saat melihat gadis itu tumbang dan segera menangkapnya.

Hihihi.. anak manis.

Darah menetes di sekitar sosok itu membuat Deo terdiam dan mencari asalnya. Mata pemuda itu melebar saat menembukan darah mengalir dari mata sosok itu.

Jangan takut anak manis! Kami hanya ingin menyapamu.

“Menyapa?” Deo bertanya ragu.

Hihihihi.. Kami mendengar kabar tentang anak manis dan kami ingin melihatnya.” sosok itu berjalan menjauh dari Deo.

“Kenapa?”

Hihihi.. mereka bilang anak manis menarik. Mereka suka melihatnya, jadi kami juga ingin menyapa. Hihihi..

“Mereka? Siapa?”

Di rumah anak manis.

“Rumah? Maksudnya yang-

Tiba-tiba suasana disekitar mereka kembali berubah dan bangunan tua diganti dengan bangunan baru. Mereka kembali.

Hihihi.. sampai jumpa anak manis. Kami akan selalu mendengarmu.

Suara itu perlahan menghilang dan waktu kembali berjalan seperti biasa, sementara Aca masih tak sadarkan diri dan Deo yang hanya diam di tempat.

Kami melihatmu dan kami  juga mendengarmu.”

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!