I'm Tired
43.4
2
343

Lelah. Dia yang lelah dengan semuanya.

No comments found.
I’m Tired

.

.

“Biarkan aku istirahat. Aku lelah. Sangat lelah.”

 

Jika lelah istirahatlah. Kalimat yang selalu terucap jika seseorang mengucapkan satu kata itu. 

“Selamat pagi kegelapan.”

Tapi jika istirahat saja tidak cukup untuk menuntaskan lelah di raga. Apa yang harus dilakukan?

“Rasa sakit menungguku.”

Hanya bisa menerima dan menjalaninya? Mungkin saja, namun tentu akan ada batasnya.

“Hei Leoni! Bersemangatlah.”

“Aku sudah semangat Lela.”

“Apanya? Kamu seperti orang loyo yang tak makan bertahun-tahun.”

“Berhentilah bersikap sok tau!”

Gadis yang dipanggil Leoni tadi berjalan mendahului Lela dan mengabaikan segala panggilan darinya. Nama gadis itu Leoni. Satu kata yang akrab dengannya adalah lemah. Leoni yang tak bertenaga, Leoni yang loyo, Leoni yang murung. Dan masa lalu yang selalu membayangi langkahnya.

Gadis bersurai coklat itu hanya diam. Meski sekitarnya rusuh dan nyinyir akan dirinya. Namun dia bisa apa? 

Tak perlu menjadi seperti yang orang lain inginkan.

Kalimat yang selalu dipegang gadis muda itu untuk tetap hidup. Namun tak semua berjalan lancar. Akan ada duri dan batu yang membuatnya kembali tergelincir jatuh. Dan perlu waktu bagi gadis itu untuk bangkit berdiri atau menghilangkan luka yang timbul karenanya.

“Ah Leoni! Selamat pagi.” 

“Pagi Lara.” Jawab Leoni singkat pada gadis berambut hitam itu.

Lara dan Leoni. Dua gadis yang merasakan hal yang sama, bertemu dalam situasi yang sama dan akhirnya berbagi perasaan dan kegundahan.

“Hei Leoni!” panggil Lara saat keduanya berada di taman kampus.

“Ya?”

“Tidakkah kamu lelah?” Lara kembali bertanya.

“Lelah?”

“Ya. Lelah, apa kamu tidak merasakannya?” tanya Lara menatap Leoni.

“Mungkin.” jawab Leoni ragu.

“Kenapa kamu ragu dengan perasaanmu sendiri. Jika lelah kamu bisa istirahat.” Lara kembali membuka suara.

“Tidak semudah itu, bukankah kamu juga tau.” Leoni menjawab dingin.

Keduanya kembali terdiam. Hanya menatap ramainya suasana di sekeliling mereka. Meski beberapa orang berbisisk-bisik saat melihat keduanya bersama, mereka tetap diam.

“Aku juga lelah.” Lara bergumam pelan namun Leoni bisa mendnegarnya dengan jelas.

“Istirahat.” Leoni menjawab pendek.

“Tapi aku ingin selamanya. Abadi.” Lara menjawab dengan kepala menunduk dan Leoni yang mendengar itu segera menoleh menatap gadis disampingnya.

“Dan aku tidak akan merasakan sakit lagi.” Lara terus melanjutkan ucapannya.

“Lara kamu-

“Aku lelah Leoni, aku lelah dengan semuanya dan ada batasnya aku bisa menahannya.” ucap Lara dengan nada penuh emosi.

Leoni kembali diam, mulutnya bungkam untuk sekedar mengeluarkan satu kata. Kepalanya penuh dengan pikiran-pikiran serabut.

“Kamu tidak perlu memberi saran karena aku juga tau hidupmu juga serabut.” Lara kembali bersuara melirik Leoni yang diam.

Lara hanya tersenyum kecil, senyum yang jika dilihat dengan baik hanya menampilkan hampa dan kekosongan.

“Meski begitu jangan menyerah teralu cepat.” Leoni kembali membuka suara sedangkan Lara hanya diam mendengarkan.

“Aku tau betapa lelahnya kamu. Aku tau karena aku juga merasakannya, dan mungkin karena itulah kita bertemu.” ucap Leoni melirik Lara disampingnya.

“Tapi akan ada batasnya Leoni.” Lara berucap lirih.

“Aku tau. Tapi-

“Leoni, tidak semua orang bisa kuat sampai akhir. Jika mereka tidak tahan lagi mereka harus apa?” Lara memotong ucapan Leoni.

“Lalu kamu pikir? Apa aku juga? Aku hanya berusaha Lara, aku terus berusaha meski orang-orang itu menatapku rendah. Aku tidak bisa mencegahnya karena itu hak mereka dan yang bisa aku lakukan hanyalah berusaha menjalani hidupku tanpa mempedulikan mereka.” ucap Leoni memandang langit yang mulai mendung.

Lara kembali diam, kepala gadis itu tetap menunduk. Mata yang sedari tadi tersembunyi itu mulai berkaca-kaca. 

“Lepaskan semuanya Lara, aku ada disini untuk mendengarnya.” ucap Leoni pelan.

Dalam hening yang menunggu tak lama terdengar isakan pelan. Leoni segera tau bahwa gadis disampingnya menangis. Air mata yang sudah ditahan sejak lama itu akhirnya keluar, mengalirkan rasa sakit dan luka yang ditahan jiwa yang rapuh itu sejak lama.

“Aku.. aku.. lelah, mereka terus menyudutkanku. Padahal itu bukan kesalahanku.” ucap Lara disela isak tangisnya.

“Aku tau, karena aku melihatnya.” ucap Leoni pelan.

Langit yang semakin mendung seolah menjadi peneman keduanya dalam menyambut luka. Suasana yang mulai sepi semakin membuat luka itu naik kepermukaan.

“Kita sama-sama punya luka, aku dan kamu sama-sama berjuang.” ucap Leoni pelan. Gadis itu menghela nafas sejenak berusaha menetralkan suara yang sedikit bergetar.

“Aku juga merasakan hal yang kamu rasakan, tapi jika kita menyerah sekarang kita mungkin akan menyesal.”

“Menyesal? Jangan bercanda!” Ucap Lara dengan suara lirihnya. Mendengar respon gadis itu Leoni hanya tersenyum.

“Ya, kita tidak tau hal baik apa yang akan menanti jika kita menyerah sekarang. Mungkin terdengar aneh bagimu tapi ingatlah Lara.” ucap Leoni menatap gadis itu.

Lara diam meski air mata mengalir gadis itu tetap mendengarkan.

“Akan ada saat-saat dimana kita akan bersyukur untuk hidup. Untukku hal sederhana seperti melihat indahnya cahaya sang surya di sore hari atau hanya sekedar melihat indahnya kerlap-kerlip bintang di kanvas malam. Rasanya sangat menyenangkan.” Leoni merentangkan tangannya menikmati angin yang semakin kencang.

“Ya,itu memang menyenangkan.” Lara berkomentar sambil menghapus air matanya.

Gadis itu mengikuti tingkah Leoni dan keduanya merasakan angin yang semakin kuat menerpa. 

“Kata-katamu terdengar bijak.” ucap Lara tersenyum. 

“Tentu saja.” Leoni membalas ucapan gadis itu dengan senyum miring.

Lara kemudian berdiri menarik tangan Leoni, dan kemudian berlari menuju bagian atap gedung.

“Kenapa kesini?” Leoni bertanya saat keduanya sampai di atap gedung dua lantai itu.

“Pemandangan disini akan lebih indah.” ucap Lara menatap lurus kedepan.

Leoni mengikuti arah pandangan mata Lara, meski langit yang mendung pemadangan di depan keduanya cukup untuk memanjakan mata. Angin kembali menerpa keduanya, membiarkan dua jiwa itu larut dalam jalan pikiran masing-masing.

“Aku harap kamu juga akan melepaskannya.” ucap Lara memecah hening. Mata gadis itu melirik rambut coklat Leoni yang bertebangan mengikuti angin.

“Melepaskan apa?” Leoni bertanya pelan.

“Semuanya” jawab Lara pendek.

Leoni diam, gadis itu juga menikmati angin datang menerpanya. Dan kemudian matanya memandang kebawah gedung. Menikmati ketinggian yang bisa direkam oleh otaknya dan kemudian kembali terhanyut dalam pikiran semrawutnya.

“Itu akan sulit.” jawab Leoni pelan.

Lara meliriknya sekilas dan kemudian mata itu kembali terpaku pada burung yang terbang di langit.

“Berusahalah, jangan paksa dirimu terlalu jauh.” ucap Lara.

Ucapan yang terdengar sederhana itu seolah menggema memasuki jiwa rapuh Leoni. Gadis itu terdiam menahan sesak di dada. 

“Sembuhkan lukamu. Jangan hanya menyembuhkan luka orang lain tapi lukamu sendiri masih terbuka dan bahkan makin dalam.” ucap Lara tanpa menatap Leoni.

“Aku tau.” gadis itu menjawab pelan.

‘Akan sangat sulit melepaskannya, karena luka ini sudah terlalu dalam. Amat dalam dan penuh duri sampai hanya membayangkan saja membuatku merasa hatiku mati rasa. Aku lelah dan ingin melepaskan semuanya, tapi aku. Hahaha.. pikiran manusia secepat itu berubah, menyemangati orang lain tanpa peduli dengan luka sendiri.’

“Hei! Lihat kebawah Leoni!” ucap Lara memotong lamunan gadis itu. Leoni menoleh kemudian mengikuti arah pandang Lara yang menatap ke arah dasar gedung. Dan dia melihatnya seseorang melambaikan tangannya dari sana seolah-olah memanggil mereka untuk turun.

“Kamu melihatnya kan?” Lara bertanya tanpa menatap wajahnya. Leoni mengangguk dalam diam.

“Apa pendapatmu?” Lara bertanya menatap Leoni. Gadis berambut coklat itu menoleh dan kemudian mendapati senyum aneh dari gadis di depannya.

“Menurutmu?”

Dan kemudian semilir angin yang semakin kencang menjadi saksi dari penutup kisah mereka,mengirimkan kabar tentang memudarnya kehadiran dua gadis yang menjadi penghuni terakhir gedung tersebut. 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!