Imajiner
7.5
2
56

Aku membiarkan kakiku melangkah mundur dan menjauhi keramaian. Tanpa aku sadari, kakiku menabrak batu yang membuatku terjerembab. Aku membuka mata perlahan, aku menjadi sosok yang berbeda dari diriku sebelumnya.

No comments found.

Aku menatap dengan seksama orang-orang di sekitarku. Lapangan luas itu dipenuhi oleh orang. Penuh dan sesak. Degup jantungku berdebar. Aku meremas tangan, berusaha menguatkan diri. Buliran keringat membasahi dahi. Aku melangkahkan kaki mundur secara perlahan. Aku terus membiarkan kakiku melangkah dan menjauhi keramaian. Hingga tanpa aku sadari, kakiku menabrak batu yang menyebab aku terjerembab. Suara riuh terdengar semakin mengecil, lalu menghilang dari pendengaranku. Aku telah hilang kesadaran.

Aku membuka mata perlahan. Semua mata tertuju padaku. “Kak, nggak apa-apa? Sekarang sesinya kakak buat menyampaikan materi.” Aku bangkit, lalu membersihkan bagian belakang baju. Aku masih diam membeku. Aku amati sekali lagi sekitarku. Di samping terdapat spanduk bertuliskan nama acara dan pematerinya, dan itu tertulis namaku. Aku menyubit pelan pipi, lalu meringis. Bukan, ini bukan mimpi.

“Silakan kak.” Gadis berkalung name tag panitia menunjuk ke arah panggung. Spanduk, sofa, meja, dan beberapa dekorasi panggung tertata rapi di sana. Dengan wajah penuh keheranan, tapi aku menuruti perintah gadis tadi. aku berjalan ke tempat itu. Tempat yang tidak pernah aku bayangkan akan duduk di sana. Tapi, hari ini aku duduk di panggung itu sebagai pembicara.

Entah bagaimana aku bisa menyampaikan materi itu secara lugas dan lancar. Tanpa tertatih-tatih. Aku menutup materi, lalu disambut gemuruh tepuk tangan memenuhi aula. Setelah acara berlangsung, aku turun dari panggung Seseorang menyapaku, menyebut namaku dan tersenyum ke arahku. Ah, senyum itu. Senyum yang selalu kunantikan meskipun selama ini senyum itu tak pernah untukku. Tapi, hari ini. Dia benar-benar tersenyum untukku. 

Aku menengok ke sebelah kanan dan kiri, memastikan orang itu benar menyapaku. Lagipula, dia menyebut namaku. Memang disini ada yang namanya persis denganku. Namaku termasuk jarang dimiliki orang. Aku semakin yakin, lalu membalas senyumnya. Dia juga berjalan mendekat ke arahku. Aku terkejut buka  main, jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Kakiku tidak bisa diam. Tanganku juga beberapa kali memainkan ujung jilbab. Aku benar-benar salah tingkah. 

“Bagus tadi materinya.” Lelaki itu memberi kedua jempol tangannya. Aku hanya terseyum tersipu malu. Lelaki ini memujiku. Dulu, jangankan dipuji olehnya. Dia mengenal aku saja, senangnya bukan main. Sebelum meningalkan tempat itu, dia memberikan selembar undangan sebuah acara.

“Ini acaranya cocok banget buat kamu isi, mau ya jadi pembicara disini?” Aku masih diam mematung. “Kebetulan aku juga ngisi disini,” lanjutnya. Aku meraih selembar kertas di tangannya, lalu membacanya setiap untaian katanya. Acara sebesar dan semegah ini dan aku yang akan jadi pematerinya. Aku masih diam membisu dan mencoba mencerna kejadian ini. 

Dia masih setia berdiri di sampingku. Lelaki itu menjentikkan jari tepat di depan wajahku. Seketika kesadaranku kembali. “Ah iya, boleh,” jawabku terbata-bata. “Oke, informasi lebih lanjut aku kirim via WhatsApp ya!” Aku mengangguk, lalu membiarkan lelaki itu pergi. Beberapa saat kemudian, aku baru menyadari orang itu memang pernah meminta nomornya. Bahkan, ini adalah kali pertama mereka berbicara.

Tiba-tiba, ponselku berdering tanda sebuah pesan masuk. Aku melirik sekilas benda persegi itu. Rendra, tulisan pada notifikasi ponselku. Aku terperanjat dan hampir terjatuh. Beruntung, aku masih bisa menjaga keseimbangan diri. Aku klik notifikasi itu, langsung mengarah pada aplikasi WhatsApp. Rendra mengirimkan beberapa file mengenai acara barusan yang mereka bahas.

Aku tidak hiraukan pesannya. Aku masih dipenuhi rasa penasaran dan menyoba mengingat kapan aku dan Rendra saling bertukar nomor telepon. Aku berusaha keras untuk mengingat yang menyebabkan kepalaku sedikit pening. Aku belum juga menemukan jawabannya. 

Kilatan masa lalu memenuhi pikiranku. Ketika itu, Rendra sebagai pemateri dan aku hanya duduk dibagian peserta. Aku dengan lelaki yang memegang mic itu tidak pernah saling menyapa. Dia mengenalku saja tidak, apalagi untuk menyapa. Mendengar namanya saja cukup membuat jantungku berdebar tak karuan. Kebetulan hari ini, aku mendapat bagian duduk cukup depan sehingga wajahnya terlihat dengan jelas. Lengkungan di ujung bibir sudah terpampang sejak tadi. Namun, seketika memudar karena mengingat Rendra dijodoh-jodohkan dengan salah satu mahasiswi kedokteran yang terkenal di kampus ini akan prestasinya. 

Aku menyadari rasa ini tak mungkin akan terbalas. Siapa aku. Tidak pantas bersanding dengan Rendra, salah satu idola di kampus ini. Calon suami idaman, kata mereka. Bahkan, untuk sekadar cemburu saja rasanya tak layak. Ya, seharusnya jangan dibiarkan rasa ini muncul. Namun, siapa yang mampu mengendalikan rasa ini. 

Perasaan menyesakan semakin mendalam, ketika aku menyadari di ujung sana ada sang bidadari kampus. Beberapa peserta yang duduk di sekitarku membahas kedua insan idola kampus. Nggak hanya itu, mereka juga membayangkan jika Rendra dan bidadari kampus itu menikah. Hal itu cukup membuat panas telingaku. 

Beberapa kali, Rendra mengarahkan pandangannya ke wanita yang digadang-gadang akan menjadi calon istrinya. Ah, tapi benar juga lelaki mana yang tidak tertarik dengan Raisa. Wajahnya yang rupawan sejalan dengan pestasinya yang gemilang. 

Namun, hari ini dunia seakan berpihak padaku. Semesta mendukung rasa ini. Aku bisa sedekat ini dengan lelaki yang sejak lama aku memiliki rasa padanya. Rendra sudah beberapa kali mengirim pesan padaku. Meskipun sekadar hanya membahas acara itu, tapi secara tidak langsung aku bisa mengenalnya lebih dekat. Tempat tinggalnya, hobinya, dan kegiatannya dia saat ini.

Aku kira setelah acara itu selesai hubunganku dengan Rendra ikut usai. Namun, dugaanku salah. Dua hari dari pertemuan itu, Rendra menghubungiku. Rendra mengajakku bertemu. Berbagai pertanyaan menghantui pikiranku. Namun, aku tetap mengiyakan. 

Hampir sebulan kemudian, aku kembali bertemu dengannya. Wajah yang sedikit kurindukan, kembali nampak di depan mata. Ah, betul memang penawar rindu hanya bertemu. Melihat wajahnya meskipun sekilas sedikit mengobati rasa rindu ini. 

Aku tidak berani menatap wajahnya, apalagi matanya. Aku lebih memilih menunduk dan menatap makanan yang tersaji di atas meja. Di meja ini hanya ada aku dan dia. Kami duduk berhadapan. Aku beberapa kali menyeruput es jeruk. Bukan karena haus, tetapi untuk mengurangi sikap salah tingkahku. Sejak tadi, kakiku tak henti bergerak. 

Rendra juga beberapa menyantap mie gorengnya. Dia belum menjelaskan maksud tujuannya menemuiku. Sejak tadi, obrolan kami hanya sebatas basa basi seperti aktivitas hari ini dan kesibukan kami belakangan ini. Aku yakin pasti ada maksud tertentu Rendra yang belum tersampaikan. Mengajakku bertemu dan hanya berdua saja. Itu terlalu intens jika tak ada tujuan khusus, apalagi hubungan aku dengannya hanya sebatas teman yang tergolong baru. 

Mie yang disantapnya telah habis dan hanya meninggalkan jejak bumbu yang menempel pada piring. Rendra mengambil tisu dan mengelap bibirnya, lalu tisu itu diremas dan dilempar ke piringnya. Kini, Rendra asyik menyeruput lemon tea. Aku pun melakukan hal yang sama hingga gelas dan piring di depanku sudah bersih. 

“Jadi gini.” Rendra memasang mimik wajah serius sembari menegakkan posisi tubuhnya. Wajahnya menunduk, ia tidak menatapku. “Meskipun kita baru kenal.” Rendra menelan ludahnya. Aku masih dipenuhi rasa penasaran. Setiap kalimat yang dilontarkannya selalu terjeda dan aku masih sabar menantinya. Rendra menghirup udara sedikit kasar. “Aku mau mengajak kamu ke hubungan serius, aku mau melamarmu.” Setelah rentetan kata itu keluar dari mulutnya, aku terkejut bukan main hingga tak sadarkan diri. 

***

Silau cahaya membuatku sedikit menyipitkan mata dan membukanya secara perlahan. Kesadaranku sudah terkumpul sepenuhnya. Posisi badan yang semula berbaring, kini bersandar pada salah satu sisi kasur. Aku menatap sekitar. Lemari, meja rias, meja belajar, dan semua benda lainnya terusun rapi di sekeliling kasur. Aku benar-benar ada di kamar. Mimpi tadi malam membuatku tidak ingin terbangun dan harus menyadari realita yang ada. “Hanya mimpi,” ujarku sedikit kecewa. Aku melanjutkan bunga tidur yang indah itu dan kembali ke posisi semula. Aku menatap ke arah jam. “Ah, masih pagi.” Aku menarik selimut motif bintang. Ketika ingin memejamkan mata, aku baru teringat sesuatu kalau hari ini akan ada kuliah pagi. Aku melirik jam untuk kedua kalinya, “gawat, lima menit lagi!”

-selesai

 

~Terkadang memang mimpi lebih indah daripada kenyataan yang ada xixixi

 

 

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!