Ini Bukan Gamophobia
29.13
4
225

Tentang Amanda dan Martin, pasangan sejoli yang akan segera menikah. Menurut Martin, tunangannya itu mengidap Bridezilla - kegilaan sebelum menikah. Namun, Amanda membantah bahwa apa yang dia alami bukan Bridezilla, apalagi Gamophobia - ketakutan berlebih untuk menikah. Lalu masalah apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua? (10 April 2022)

No comments found.

“Ini Bukan Gamophobia”

 

Amanda mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Ini bukan hanya karena bulu mata tiruan terpasang di sana dan menimbulkan iritasi kemerah-merahan tiap kali dia melepasnya. Amanda cukup terlatih untuk mengabaikan rasa perihnya, namun entah kenapa sekarang itu menjadi dua kali lipat tak tertahankan. Seperti ada sesuatu yang mendesak untuk keluar dari pelupuk matanya. Amanda tersadar sebelum air bening itu menggenangi wajahnya yang baru saja sembuh dari breakout karena jerawat, dia harus segera pergi meninggalkan tempat ini. Gadis itu berdeham lalu berkata dengan cepat pada lawan bicaranya, “Martin, bisakah kita pulang sekarang?”

“Loh bukannya gaunmu belum pasti yang mana?”

“Berikan aku waktu untuk berpikir.”

Amanda cepat-cepat berdiri, berbalik dan berjalan menjauh. Langkahnya hampir seperti berlari, takut-takut Martin akan mencekal lengannya. Namun hal itu pun akhirnya terjadi. Mata nyalang lelaki itu menusuknya hingga ke hati. Rasa perih menjalar dan matanya kian perih.

“Kamu tidak marah karena persoalan cincin itu kan? Tenang saja aku akan mencarinya, dijamin kamu akan suka. Bukankah kamu selalu suka akan pilihanku?” Rentetan kata dari Martin tidak mampu dijawab Amanda.

“Ibu masih menunggu di dalam loh, Manda…” suara lelaki itu menjadi lebih rendah dan membujuk tapi kuku tangannya sedikit menekan kulit lengan sang tunangan, ”Lagipula ibu dan kakakku belum dapat gaun yang pas. Ibu mau kamu duluan dapat gaun yang cantik dibandingkan mereka. Jadi tolong prioritaskan ini dulu, cincin kan bisa belakangan.”

“Tolong, mataku terasa agak perih. Aku butuh istirahat. Biarkan aku pulang sendiri.” Penekanan kata dari Amanda tersebut membuat Martin menyerah lalu melepaskannya. Gadis itu kemudian melangkah kian cepat dan tidak berniat untuk menoleh.

***

Empat tahun bukanlah waktu yang hanya sebentar untuk menjalin sebuah hubungan pacaran yang serius. Jika mau membandingkan dengan kehidupan aslinya, Amanda sudah berhasil menelurkan dua novel dan satu antologi cerpen romansa dalam kurun waktu tersebut. Selain itu jika Amanda mau, mungkin dia sudah menyelesaikan kredit motor atau sementara menyicil mobil untuk dipakainya pergi mengajar di tempat kursus komputer. Hanya saja sayang ia lebih memilih menghabiskan uang untuk makan enak serta berpenampilan modis demi sang kekasih.

Seperti sekarang, Amanda menelusuri penampilannya yang terpampang di cermin berbingkai kayu dalam kamarnya. Baju dress putihnya yang elegan tidak mampu menutupi nelangsa Amanda yang wajahnya kuyu dengan sisa air mata. Namun entah kenapa, gadis itu merasa sangat lega. Mungkin saja karena dia sudah terlalu lama menyumbat lubang hati. Sudah lama dia tidak– malah tak berniat– menangis dalam beberapa jam, merenungkan sikap bodohnya hingga sejauh ini.

Amanda tidak ingin mengingat, namun kilasan peristiwa kian datang menghantamnya. Sejak SMA hingga kuliah, hubungan asmaranya selalu berakhir dengan tidak baik. Mantan pacarnya berasal dari sekolah yang sama dengan Amanda, namun ketika mereka tidak sekampus dan intensitas pertemuan yang makin berkurang, lelaki itu kemudian meminta putus. Setahun setelahnya, Amanda menerima cinta dari lelaki asal jurusan sastra. Lelaki itu khas pujangga, suka mengirimkan puisi dan cerpen romansa di timeline akun media sosialnya. Bersikap amat manis dan memperlakukan Amanda selayaknya sang putri. Namun di tahun kedua mereka berpacaran, sang pujangga ketahuan berselingkuh dengan sahabat Amanda. Jelas itu menohok dan membuat kepercayaan dirinya rendah untuk menjalin hubungan lagi.

Martin adalah lelaki yang dikenalkan oleh sahabat Amanda yang lain, Bella. Lelaki itu seperti lahir dari buah keputusasaan Amanda di umurnya yang kedua puluh lima tahun. Cukup lama ia menjomlo lalu kemudian pasrah dengan keinginan Bella untuk membuatnya mendapatkan kekasih.

“Sebentar lagi kamu akan menginjak usia kepala tiga. Perempuan punya batas buat hamil dan melahirkan loh. Pacar saja belum ada,” keluh Bibi Ariana dalam suatu pesta kerabat Amanda. Nyinyirannya membuat para bibi juga teman mereka berdiri mendekati Amanda, memindai gadis itu dan mempertanyakan kenapa dia yang cantik juga muda masih belum memiliki pendamping. Mirisnya, orangtua bahkan nenek Amanda seperti tidak ambil pusing akan sikap para tetua terhadapnya yang mempertanyakan kondisi lajang si gadis. Seolah Amanda hanya dibiarkan menanggung ini semua sendirian.

***

Martin lelaki yang tenang dan tidak tampak absurd seperti kedua kekasih Amanda sebelumnya. Bukan tipe ‘anak mami’ yang tidak bisa jauh dari sang pacar, ataupun pujangga yang bangga akan dirinya karena memiliki dua pacar sekaligus. Oh, Amanda tidak boleh menyimpulkannya terlalu cepat. Namun pikirannya menyatakan bahwa Martin adalah lelaki yang ditakdirkan untuknya, seorang Youtuber dengan story-telling yang memikat. Martin sungguh berkarisma dan sering membagikan konten mengenai sejarah Indonesia dan dunia. Kadang juga kisah kriminal serta kasus misterius dengan pembawaan seperti Detective Conan, idola Amanda dalam bentuk dua dimensi. Selain itu Martin adalah seorang yang berprofesi sebagai marketing di sebuah bank swasta. Orangtua mana sih yang tidak ingin memiliki menantu seorang bankir?

Hanya dua kali pertemuan dan beberapa chat, Amanda menyetujui ajakan Martin untuk berpacaran. Bahkan lelaki itu mengatakan di awal untuk serius dengan tujuan menuju pelaminan. Perempuan mana yang tidak kagum akan niat Martin itu? Dua pertemuan Amanda diajak Martin ke kafe lalu warteg. Dengan gentleman Martin mengutarakan bahwa karena dia yang mengajak, maka siap pula dirinya untuk mentraktir Amanda.

“Nama kamu bagus. Apa artinya?” tanya Martin dengan nada lembut. Pada pertemuan pertama mereka, mata Martin yang berwarna cokelat hazelnut itu menatap Amanda hingga terasa gadis itu akan meleleh. Apalagi perpaduan wajah tampan dengan bibir yang tipis dan alis tebal nan teratur itu berada tepat di seberang mejanya.

Amanda berusaha untuk menelan ludah, menepis kekagumannya lalu menjawab dengan sopan, “Dari bahasa Latin berarti yang ingin dicintai.”

“Maknanya juga indah,” puji Martin sambil menyesap kopi di hadapannya. Mungkin masih hangat karena lelaki itu meniup permukaan cairan di cangkirnya dengan gerakan santai. “Kamu juga suka minum kopi?”

“Iya. Kopi sangat baik untuk membantu mataku tetap terjaga apalagi jika sedang begadang mengerjakan tulisanku. Walaupun aku guru di tempat kursus, pekerjaan sampinganku adalah menulis di blog. Lumayan buat menambah penghasilan,” seru Amanda dengan bangga lalu tersadar mungkin lawan bicaranya akan menganggap dia sedikit angkuh.

“Maaf aku terlalu bersemangat menceritakan tentang pekerjaanku.”

Di luar dugaan, Martin tertawa dan membuat matanya tampak mengecil. “Perempuan akan terlihat lebih menarik ketika membicarakan tentang hobi bahkan pekerjaannya. Aku tidak keberatan mendengar kisahmu.”

“Terimakasih, jarang ada pria yang terang-terangan sepertimu.”

“Apa itu pujian?”

Kami tertawa bersama. Senyumnya sungguh menular.

“Tapi aku rasa kamu bisa mengganti kopi dengan teh. Sama-sama ada kafein kok walau kadarnya lebih kecil. Coba saja teh hijau yang bisa melangsingkan sekaligus membuat badan lebih sehat.”

Amanda mengangguk dan mempertimbangkan kata-kata Martin. Berat badannya lebih mudah naik jika dia mengonsumsi minuman kopi ala kafe karena kadar gulanya yang banyak. Walau itu tidak sering, namun membuat Amanda lebih fokus menulis di sana. Lagipula dia sering mendapatkan ide mendadak karena mengamati para pengunjung. Namun sekarang mengikuti saran Martin, dia harus memikirkan alternatif seperti teh dengan sedikit gula.

***

Di pertemuan kedua, Martin mengajaknya makan tinutuan warteg terkenal di kawasan Wakeke. Amanda sejujurnya tidak terlalu suka makan sayur, namun menurut Martin, bubur Manado adalah makanan yang menyehatkan sekaligus membuat badan langsing. Gadis itu merasa mungkin di mata lelaki itu, tubuhnya cukup berisi.

“Manda, coba lihat tinutuan ini. Ada nasi, ubi, labu kuning, kemangi, bayam, daun gedi, jagung dan kangkung. Banyak macam dengan rasa berbeda, tapi dengan itu semua menjadikannya makanan yang nikmat bahkan jadi primadona Sulawesi Utara,” ujar Martin yang membuat Amanda terperangah. Semakin besar kekagumannya pada sosok lelaki yang terlihat cerdas ini.

“Iya. Kamu benar.”

“Tiap manusia punya perbedaan. Menjadi pasangan artinya saling menghargai perbedaan. Kemudian saling melengkapi dan membuat hubungan itu menjadi nikmat.”

Amanda merasa sesendok tinutuan yang kini dilahapnya sungguh enak. “Filosofi yang keren.”

Tangan Martin mengulur ke arah Amanda, mengelus punggung tangan kanannya dan membuat dia terpaku. “Aku suka kamu, Manda. Kamu penuh semangat dan pembicaraan kita selalu nyambung. Jarang aku menemukan perempuan sepertimu.”

Walau ajakan untuk berpacaran ini jauh dari keromantisan dan dalam suasana rumah makan yang ramai di hari Minggu sepulang Gereja, Martin dengan mudahnya meluluhkan hati merana Amanda. Dengan segera Amanda menyanggupi permintaan itu dan begitupun saran-saran lain Martin di hari selanjutnya.

“Coba kamu pakai softlens, warna cokelat sama dengan mataku ini. Kamu pasti terlihat lebih cantik. Aku membayangkan kamu melepas kacamata itu, memakai softlens berwarna dan menemui para penggemarmu ketika merilis novel pertamamu,” kata Martin dengan nada lembut sambil menepuk puncak kepala Amanda. 

Kemudian rambut Amanda yang hitam, kini dicat pirang yang cocok dengan wana kulitnya yang putih. Martin merekomendasikan salon langganannya dengan biaya yang lumayan merogoh kantung.

“Kamu terlihat menawan seperti itu. Tambah smoothing. Nah, sempurna.” Martin memuji penampilan akhir Amanda, lalu kemudian pada penata rambut yang bergaya nyentrik di sampingnya. 

“Biayanya sepadan dengan penampilanmu sekarang. Acara perilisan novelnya besok, kan? Media akan meliputmu. Bukan hanya mereka, aku juga mau memasukkanmu dalam salah satu episode di Youtube-ku,” kata Martin dengan senang lalu keluar pergi dari salon. Rupanya kartu kredit yang tak pernah Amanda pakai dan hanya teronggok di dompet sekarang dapat berguna. 

***

“Selamat atas rilisan novelnya, Manda.”

Rekan-rekan kerja gadis itu mengacungkan surat kabar dengan Amanda yang menjadi berita di pertengahan halamannya, di sana ada fotonya dengan berpakaian modis serta penampilan rambut baru dan tanpa kacamata. 

“Kami bahkan hampir tidak mengenalimu. Kamu kelihatan sangat elegan!” seru lelaki jangkung yang hobi mengutak-atik kabel LAN, yang tempat duduknya berada di samping Amanda.

“Jonas benar. Tapi kenapa kamu memakai kacamata lagi? Pakai softlens kan waktu acara perilisan?” tanya rekan Amanda yang lain, Risa, perempuan modis spesialis bidang web design

Amanda mengibas-ngibaskan tangan kanannya, berusaha untuk bersikap santai. “Aku kurang nyaman pakainya. Mataku terasa mudah kering dan rasanya ada yang mengganjal gitu. Tapi kalau ada acara atau ketemu pacarku, aku akan memakainya lagi. Tenang saja.”

Logan yang belakangan muncul, si maniak koding android itu kini menunjuk ke arah Amanda. “Rambutmu bikin dimana? Cakep amat warnanya.”

“Salon Stellar. Pacarku punya kenalan disana dan aku mendapat diskon. Bukankah dia sangat pengertian? Seleranya sangat bagus.”

Mereka saling tatap, membuat Amanda heran karena sepertinya itu bukanlah gelagat yang baik. “Ada apa?”

Risa menyeletuk, “Salon itu kan sudah mau tutup. Kena kasus karena pakai produk tidak jelas, katanya tidak mendaftar ke BPOM gitu. Ada beberapa pelanggan mengeluh alergi karena obat yang dipakaikan pada rambut mereka. Terus ya… ada yang melihat kemasan produknya dan diambil diam-diam untuk dijadikan barang bukti. Namun mereka tidak sampai masuk penjara, tapi tetap usahanya kena imbas karena dilarang beroperasi lagi. Yah, pemiliknya orang kaya sih. Aku rasa mudah saja pemiliknya membuka usaha lain nanti, siapa tahu salon juga tapi namanya beda.”

Amanda tidak yakin Martin seceroboh itu dan tidak mengetahui kasus salon tersebut. Tapi sulit juga memikirkan Martin tidak membicarakan mengenai salon itu padanya. Dia ingin bertanya mengenai itu namun urung karena Martin mulai sibuk dengan program horor– salah satu konten unggulannya selama puasa di bulan Ramadan. Amanda juga mulai disibukkan dengan penulisan novel kedua yang menjadi spin-off dari karya pertamanya. 

“Aku mau memberikan saran makanan yang enak buat takjil. Pulang kerja temani aku ya pergi berburu makanan,” pinta Martin yang sulit ditolak Amanda. Terlebih ketika Martin tidak punya uang membayarnya, Amanda dengan senang hati merogoh koceknya demi kepentingan masa depan mereka berdua.

***

Pada episode kedua di konten horornya, Martin meminta Amanda untuk menjadi bintang tamunya. Rumah Martin tidak terlalu besar, namun memiliki petak bangunan kecil di samping kanannya dan menjadi tempat syuting tiap kontennya. Ketika Amanda datang, Martin segera menghampirinya dan menjauhkan dia dari dalam studio. “Kenapa kamu pakai kacamata, Manda sayang?”

“Aku belum sempat beli softlens.”

Martin memandangi jam Rolex-nya, kemudian mendecak. “Manda, masih ada waktu buat beli softlens. Ada mall dekat sini. Tolong ya sayang, untuk masa depan kita berdua. Subscriber-ku banyak yang memuji penampilan kamu waktu perilisan novel tempo hari. Aku pernah tunjukkan komentar-komentarnya kan? Nah, aku akan menunggumu. Nanti ada yang akan mendandani kamu dengan natural, pakai bulu palsu biar terlihat lentik dan matamu jadi lebih tajam.”

Sejujurnya Amanda membantah kata-kata yang Martin utarakan tadi. Komentar para pengunjung video Martin banyak yang memuji karya yang Amanda buat ketimbang penampilannya. Namun Amanda pikir, Martin mau yang terbaik untuk gadis itu. Karena keyakinannya itulah, Amanda pergi menerobos panas terik siang hari di jam sibuk– dia cuti kerja, menaiki bus yang penuh sesak dan berdiri selama beberapa menit, berjalan cepat masuk ke dalam mall dan mengulangi hal yang sama seperti tadi untuk kembali ke rumah Martin. 

Cara pasang bulu mata palsu serta make up natural yang diajarkan rekannya Martin menjadi semacam tolok ukur kecantikannya yang baru. Martin meminta Amanda untuk berpenampilan seperti itu ketika bersamanya. “Kamu cantik banget seperti ini, Manda. Jadi kalau jalan denganmu, lalu kita bertemu dengan penggemar Youtube atau bahkan nasabahku, mereka akan terpana dan merasa aku sangat beruntung berpacaran denganmu. Amanda Setiawan, seorang penulis modis yang menjadi pengajar desain grafis di tempat kursus komputer,” kata Martin padanya bagaikan ultimatum yang jatuh ke pundak. Terasa berat dan mulai menggerogoti gadis itu.

***

“Sudah dua tahun kamu pacaran, tapi tidak pernah mengenalkannya sama kita.”

Dua sahabat Amanda sejak SMA, Lulu dan Ara menyambut rilisan buku antologi cerpennya ketimbang sang kekasih. Martin sibuk ke luar daerah untuk syuting konten sekaligus pergi survei ke rumah nasabah. 

“Kalian bisa ketemu di acara ini kalau saja Martin tidak pergi ke Gorontalo,” keluh Amanda yang membuat dua sahabatnya menggeleng-gelengkan kepala, menatapnya dengan prihatin.

“Tapi sejak awal si Martin itu tidak mau ketemu kita kan?” seru Lulu dengan nada menuduh.

“Yah, dia punya prinsip bahwa temanku adalah temanku, temannya adalah temannya gitu. Jadi dia kurang nyaman kalau mau jalan bersama teman-temanku, termasuk kalian.”

Ara mengerutkan kening lalu mengemukakan pendapatnya, ”Manda, coba kamu pikir. Kalau kamu tidak mengenal teman-temannya, lalu suatu saat dia menghilang– kamu mau cari dia kemana? Tidak mungkin kamu hanya berharap sama keluarganya. Oke, tidak usah berpikir jauh sampai kesitu. Kamu akan mengenal pribadi seseorang dari pergaulannya juga. Bisa saja teman-temannya pemabuk, penipu dan…”

“Ah! Kalau kamu tahu teman-teman perempuan Martin, setidaknya kamu bisa memantau dan mencegahnya dari perselingkuhan,” sela Lulu dengan tidak sabar.

Perkataan mereka mulai bercabang dan membuat Amanda tidak nyaman. Dia memilih untuk mengalihkan perhatian mereka dengan membuka topik baru. Tapi semakin hari, tahun demi tahun mereka bersama, hati kecil Amanda tidak mampu lagi disangkal.

Menginjak tahun keempat mereka berpacaran, wajah mulus Amanda mulai ternodai dengan permintaan Martin. Jerawat meradang dan membuatnya pergi kemana-mana dengan menggunakan masker. Usaha Martin sudah semakin maju karena dia menerima tawaran endorse berbagai kalangan, mulai dari minuman atau makanan, skincare sampai pakaian. Sesekali produk itu akan diselipkan pada awal konten. Martin meminta Amanda mencoba skincare perusahaan lokal yang masih baru karena sang kekasih beralasan wajahnya baru saja sembuh dari jerawat. Rencana untuk membuat ulasan akan produk itu jadi gagal karena radang yang timbul pada wajah Amanda, yang sayangnya tidak terlalu dipedulikan Martin.

“Aku kehilangan uang endorse-nya. Mungkin kamu yang tidak cocok dengan bahan produk itu,” keluh sang pacar yang membuat Amanda mulai merasa kegetiran dalam hubungan ini. Hati kecil Amanda ingin memberontak. “Aku punya sedikit uang, pakailah untuk mengobatinya.” Walau pemberiannya berjumlah kecil, namun perbuatan Martin itu membuat hati Amanda yang mengeras jadi mencair kembali.

 

***

Will you marry me?”

Silau lampu kamera bahkan lighting yang terang-benderang menyoroti lamaran Martin untuk Amanda. Lelaki itu berjongkok dengan sebelah kaki kanannya, sambil mengulurkan cincin platina dengan mata yang indah. Amanda hanya diberitahu untuk datang ke rumah Martin untuk mengikuti syuting konten kasus misteri. Kejutan ini begitu tidak disangka-sangka, membuat Amanda menteskan airmata terharu. Ada pria yang melamar dirinya, walau ini akan dijadikan konten, namun tetap saja ini acara lamaran sungguhan!

Amanda berteriak kegirangan, “Ya! Aku mau.”

Begitulah, konten itu segera mendapat tayangan berlebih dan subscriber Martin tampak menanti-nantikan kabar selanjutnya tentang mereka berdua untuk segera menuju pelaminan. Seperti calon pengantin pada umumnya, Amanda mulai sibuk mempersiapkan pernikahan. Kedua orangtua sudah bertemu dan mereka sudah menetapkan tanggal acara sakral itu. Amanda mendaftarkan nama mereka di sebuah Gereja untuk mendapatkan kursus pra-nikah. Beberapa pertemuan awal, Martin datang bersama-sama Amanda. Namun makin hari setelah pernah terlambat, Martin mulai meminta penundaan tanggal penerimaan kursusnya. 

“Manda sayang, kamu tahu kan subscriber-ku makin banyak. Ada jadwal unggah konten yang harus kupenuhi agar mereka tetap setia menonton dan mereka semakin menantikan yang baru dariku. Pastor dan pemberi materi pasti mau memahami pekerjaanku dan kamu,” bujuk Martin di sekian pertemuan kursus ketika melihat wajah uring-uringan Amanda. 

Sekali lagi Amanda berusaha menerima kesibukan dan berbagai alasan yang diutarakan Martin kepadanya. Ada juga beberapa urusan krusial seperti tempat resepsi–bahkan cincin yang belum sempat ditangani oleh Martin. Amanda tak mungkin bisa mengurus semuanya hampir sendirian. Sang tunangan akan berkata padanya lagi, bahwa dia akan mempertimbangkan apa yang menjadi usul dari Amanda.

 

***

Puncaknya hari ini, Martin mengajaknya menemui vendor wedding planner, dekorasi dan studio foto peliput acara. Lelaki itu sudah memilih jasa siapa yang mereka gunakan sehingga bisa dikerjakan dalam waktu sehari. Menurut Martin, waktunya sangat berharga dan perlu ada perencanaan yang matang di tiap harinya. Bisa dikata, si penggila jadwal. Lelaki itu juga tampaknya tidak mau berlama-lama memilih tema, malah menepis usul dari Amanda. 

“Aku suka warna biru dan putih untuk tema pernikahan kita. Tiap melihat langit, kita bisa saling memikirkan satu sama lain. Kalau lagi bertengkar, dua warna itu bisa menenangkan kita berdua.”

Martin mengibas-ngibaskan tangan lalu menatap Amanda dengan serius sebelum berujar, ”Pakai tema warna merah darah dan gold saja ya, sayang. Merahnya bakal cocok dengan kisah misteri serta horor yang melekat dalam brand image-ku. Dipadukan dengan warna gold agar pernikahan kita tampak mewah sekaligus bisa awet hingga akhir hayat. Bagus kan?”

Amanda kesulitan untuk membantah karena Martin langsung mengutarakan tema yang dipilih pada tim Diamond Organizer.

Tempat tujuan terakhir mereka adalah Gunawan Bridal, sebuah jasa penyewaan gaun serta salon untuk pernikahan yang terkenal mahal tapi kualitasnya tidak meragukan.

“Ayo turun, ada kejutan menanti kita di dalam,” ujar Martin dengan wajah semringah. Entah apa lagi yang mau ditunjukkan Martin karena sejak tadi semuanya terasa seperti kejutan yang menyesakkan untuk Amanda. Jalannya menjadi sedikit lesu, berjalan terseok-seok seperti akan berada di tempat perbantaian. Jika Martin tidak menggamit lengannya, mungkin Amanda sudah jatuh karena badannya terasa berat untuk digerakkan.

“Amanda sayang! Calon menantu tante,” seru seorang wanita paruh baya dengan pakaian modis dan make up yang mampu menutupi kerut di wajah, mendekati Amanda dengan semangat yang berlebihan lalu memeluk gadis itu erat-erat.

“Tante tolong… lepas sedikit,” rintih Amanda nyaris tidak terdengar. 

“Oh, maaf ya, tante sangat senang bisa bertemu kamu lagi. Ini kakaknya Martin, Dea yang baru saja datang dari Bitung. Waktu lamaran lalu si Dea belum bisa datang karena sibuk kerja,” ujar ibunya Martin lalu mendorong sedikit perempuan berambut pendek di sebelahnya untuk berdiri lebih dekat dengan Amanda.

“Romi belum datang, kita harus menunggunya juga. Dia suamiku,” ujar perempuan muda itu dengan nada sulit dibantah, menatap Amanda dengan tajam lalu berkata lagi, “Mungkin butuh sejam lagi. Sementara itu, kamu lihat-lihat saja dulu gaun pemberkatan dan resepsinya ya, Amanda.”

Semua orang di keluarga Martin rupanya sering mengajukan pernyataan ketimbang pertanyaan. Mereka seperti suka mendikte orang lain, tidak ingin dibantah dan seolah-olah yakin telah memberikan yang terbaik. Untuk mengalihkan diri dari perasaan marah yang makin bergejolak, Amanda menatap rentetan gaun yang dipamerkan si pemilik bridal. Dia pikir keindahan yang terpampang itu akan memantapkan hatinya untuk menjadi pengantin wanita dari seorang Youtuber kondang, Martin Putra. Sayangnya, semua keindahan itu terasa semu sekarang. 

“Martin, setelah ini kapan kita bisa pergi mencari tempat resepsi? Kalau cincin nikah, mau coba dari toko milik temanku?” tanya Amanda yang masih berusaha untuk menjadi baik di mata Martin. Hanya saja lelaki itu tampak santai menanggapi pertanyaan itu.

“Oh, kita bisa melakukannya nanti. Masih ada waktu, nanti aku lihat dan kabari kamu lagi. Tenang saja, fokus dulu di gaunmu dan jasku. Ibu dan kakakku sudah mengiyakan untuk datang disini, jadi lebih baik pikirkan mereka juga.”

Amanda benar-benar menyerah. Selama ini dia selalu memikirkan pendapat dari Martin, mempertimbangkan sampai melakukan saran yang terasa absurd sekalipun. Namun sampai di titik ini, Amanda tidak bisa membendung pusaran kekecewaannya lagi.

 

***

“Kamu mungkin terkena sindrom bridezilla.” Martin menyimpulkan dengan mudah, tanpa perasaan dan menohok Amanda yang membuat gadis itu makin yakin mengambil keputusan untuk mereka berdua. Sejak pertemuan mereka di bridal terakhir kali, Amanda tidak menggubris banyaknya telepon dan pesan singkat dari Martin. Hingga seminggu setelahnya, Amanda meminta untuk bertemu dengan pria yang tampak masih baik-baik saja itu, ke kafe tempat pertama kali mereka berkenalan. 

“Atau bahkan gamophobia*. Tapi tidak, bukan itu. Aku mau memberitahukan kepadamu soal ini. Apa yang telah menjadi keputusan yang sudah kupertimbangkan dengan matang di hari-hari dimana kita tidak bertemu,” kata Amanda lalu menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kembali dengan tatapan tegas, ”Aku mau putus denganmu.”

Mata Martin membelalak, terlihat hampir meloncat dari liangnya dan mengepalkan tinjunya ke arah meja hingga berbunyi tak mengenakkan. “Keputusan macam apa itu. Kita hampir selangkah menuju pelaminan. Apa kamu mabuk sekarang?”

“Tidak. Kamu bahkan tidak tahu kan, aku tidak bisa minum alkohol. Lalu bagaimana mungkin aku menikah dengan orang sepertimu, yang semuanya harus berorientasi pada apa yang kamu mau? Kamu tidak menghargai keinginanku. Rasanya kamu mau mengubah hidupku, bahkan aku hampir tidak bisa mengenali diriku sendiri. Jika ini semua dilanjutkan, aku kurang yakin akan bahagia dengan pernikahan kita.” Helaian kata demi kata itu mampu Amanda utarakan dengan baik walau tangannya bergetar. Tatapan Martin kini melunak dan nada bicaranya seperti berusaha untuk memenangkan kepercayaan Amanda lagi. 

“Manda sayang, bagaimana jika bibimu– si Arsana, Aria atau Ariana- itu mengkritikmu lagi jika kamu melajang? Atau kedua orangtuamu yang berharap kamu segera menikah? Kamu hampir tiga puluh tahun dan pasti sulit untuk beradaptasi lagi dari awal dengan seorang pria. Apa kamu tidak berniat bersamaku saja, kita bisa mencari solusi untuk masalah ini…”

“Masalahnya itu ada di kamu, Martin! Kamu benar-benar tidak mengenaliku dengan baik. Bahkan sekarang kamu mau memaksakan pemikiranmu padaku? Tidak semudah itu. Aku yakin akan ada waktunya seorang pria baik datang dalam hidupku. Sekarang aku tidak ingin peduli dengan perkataan orang lain karena yang menjalani hidupku adalah diriku sendiri. Aku berhak untuk bahagia,” ujar Amanda dengan tegas. Gadis itu mengikat rambutnya, hal yang selama ini dilarang Martin karena akan membuat tampilannya bergelombang tak beraturan. Namun gestur itu sebenarnya menandakan Amanda yang siap untuk menjadi dirinya sendiri secara utuh. Dia berdiri dan mengatakan kalimat perpisahan. “Selamat tinggal, Martin.”

Dia berbalik, berjalan terus hingga keluar kafe. Suara putus asa Martin dari belakangnya terdengar serak dan semakin pelan di pendengarannya. Kali ini, Amanda mengijinkan dirinya untuk melepaskan lelaki tak becus itu dan perasaan bahagia menyergapnya seperti pelukan hangat mentari di pagi hari. Langit tampak berwarna biru nan cerah dan gadis itu meyakini masa depannya akan menjadi seperti itu.

 

*Gamophobia : Ketakutan berlebih untuk menikah

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!