Iron-Man Sahabat Kita
11.3
3
84

Yusuf diejek oleh teman-temannya, sebab kalah dalam perlombaan kemerdekaan. Meski tahun ini mendapatkan satu hadiah, dibandingkan Asep penantangnya mendapatkan banyak hadiah. Yusuf pulang ke rumah dalam keadaan murung. Lalu ayah menyemangati supaya mendapati mimpi untuk Indonesia. Eh, malah terbawa mimpi memakai kostum Iron-Man.

No comments found.

Akhirnya bulan yang ditunggu-tunggu hadir juga. Tujuh belas Agustus sebagai tanda main seru-seruan di bulan kemerdekaan. Semua orang datang ke lapangan untuk memeriahkan perlombaan yang diselenggarakan. Aku turut berpartisipasi mengikuti lomba. Tahun lalu aku kecewa pada diri sendiri, sebab tidak menang. Hari ini aku akan buktikan pada teman-temanku, bahwa aku bisa memenangkan perlombaan itu.

“Masih belum kapok, Suf. Lomba kelereng lamban, Lomba makan kerupuk gagal, terus lomba lari kalah. Apa sekarang kamu tidak akan nangis lagi?”

“Kata Bapakku menang kalah tidak masalah, yang paling penting keberanian. Yusuf tidak akan cengeng lagi. Anak kuat pasti akan menang!”

“Wah, belagu bener tuh bocah! Tuh dia orangnya si Asep jagoan kampung pemenang tahun lalu.”

“Kecil lawan bocah tengil kayak dia mah.”

“Jangan berlaga sombong dong. Kalau kamu berani ayo buktikan! Yusuf sudah latihan di rumah.”

Panitia membuka ajang perlombaan dengan seadanya sesuai tarif yang di dapat. Namun kemeriahan menggelora di tempat. Perlombaan usai dilaksanakan dengan semangat para peserta. Aku hanya mendapat satu hadiah. Dan Asep si penantang meraih lima hadiah. Mereka masih mengejek habis-habisan padaku, lalu aku bergegas ke rumah.

***

Aku berlari masuk dalam rumah, dan melewati Bapak yang sedang membaca koran. Lalu langkahku terhenti, langsung aku menjabat tangannya dan mengucapkan salam. Sikapku itu tadi kurang sopan pada orang tua, pastinya Bapak tahu perlakuanku yang sedang merajuk.

“Ada masalah ya, Nak?” tanya Bapak.

Tuh kan sudah kuduga Bapak bilang begitu. Aku langsung menjawab menundukkan kepala. “Yusuf menang satu saja, tetap di ejek. Kenapa sih mereka begitu, kan Yusuf sudah berusaha melakukannya.”

“Perlombaan itu sebatas hiburan saja. Coba ingatkan lagi dalam pelajaran sejarah yang dibahas guru kemarin. Para pejuang berusaha mempertahankan tanah ini menjadi negara Indonesia. Mereka senantiasa dikenang atas jasa-jasanya. Jadi Yusuf sejatinya harus menjadi pejuang tangguh mempelajari jejak pahlawan itu, dengan cara mencintai negara kita.”

“Bagaimana caranya, Pak? Kan Yusuf masih kecil.”

“Justru sedari kecil kamu harus membiasakannya. Pikirkan mimpi untuk rakyat Indonesia agar negara ini tetap merdeka. Arti merdeka itu bebas, independen atau berdiri sendiri. Apa sekarang Indonesia sudah merdeka? Bapak melihat berita perampokan di mana-mana, pelecehan perempuan anak masih terjadi, bahan pokok naik terus dan harus impor, rakyat kecil tidak dapat bantuan dari pemerintah,” geram Bapak.

Aku menguap saat Bapak menjelaskan yang belum aku pahami. Mungkin efek dari rasa lelah juga saat perlombaan. Lalu badanku rebahkan di sofa depan televisi.

***

Tiba-tiba aku terbangun, entah sudah lama aku tertidur pulas. Pasang mataku menuju kostum Iron-Man milik Bapak. Mata pencaharian keluargaku terpaku pada mengamen di jalanan menggunakan kostum. Aku belum pernah memegang kostum ini, apalagi memakainya.

‘Hah! Muat juga kostumnya, tapi sedikit berat,’ lirihku. Tak disangka keren juga aku memakainya dan terdapat lampu menyala berwarna merah. Kok Bapak tak pernah mengatakannya, kalau kostum ini seperti sungguhan.

“Tolong! Tolong. Jambret.”

Tiba-tiba terdengar jelas suara itu, meski jaraknya radius lima kilo meter. Lalu kakiku berlari secepat kilat. Meski aku belum bisa mengontrol sendiri. Tetapi sudah sampai saja di hadapan korban.

“Iron-Man tolong tas ku di jambret, pelaku mengendarai motor ke arah sana!”

Aku menganggukkan kepala. Dan bergegas mengejar penjambret yang ngebut dengan sepedah motornya. Akhirnya dapat juga pelakunya, lalu aku mmbawanya ke polisi untuk menjalankan hukum. Ibu itu senang dan mengambil gambar. Meski aku masih heran dengan tingkah yang terjadi.

Suara teriakan itu terdengar lagi, bergegas ke sumber suara yang ada di parkiran pasar. Satu motor matic dicuri. Berlari dengan kencang menyusuri jalanan yang ramai. Dan aku berhasil mengapai motor yang dikendarai oleh pencuri. Sempat nancap gas dengan kuat, tapi tenagaku tak bisa dikalahkan.

“Diam lo Iron-Man jangan ganggu urusanku. Sana ngamen aja supaya dapat duit banyak.”

Aku keluarkan tenaga penuh untuk menghantam pencuri yang melakukan tindakan. Nihil dia yang babak belur duluan dan polisi datang untuk mengamankannya.

Kasus tersebut pernah dialami oleh Bapak. Dulu pekerjaan Bapak tukang ojek online, tapi semenjak motor dicuri di pasar ketika parkir. Lalu Bapak menyambung hidup menghibur orang dengan kostum. Aku geram dengan pelakunya tapi sekarang sudah aku kalahkan.

Lalu aku mendengar lagi minta tolong. Sekarang kasusnya perampokan di toko emas, korban ditodong pistol agar menyerahkan barangnya. Aku datang tepat waktu, lalu hantaman tinjuku tepat mengenai tiga orang pelaku. Mereka berlari terbirit-birit dan menyerahkan kembali barangnya.

“Terimakasih Iron-Man. Kalau tidak ada kamu pasti aku akan rugi.”

‘Apa aku ini menjadi pahlawan untuk negara ini? Tapi ini sangat keren!’ lirihku.

Pada saat malam tiba masih terdengar suara minta tolong. Tetapi instingku tidak mudah lemah, aku meluncur ke tempat kejadian. Ada bus pariwisata menabrak pembatas dan masuk jurang. Alat berat tidak berfungsi, lalu aku dengan kuat mendorong dan penumpang saling menjerit. Akhirnya semua yang di dalam bus selamat meski wajah mereka tegang.

Suasana di lokasi sangat ramai, para wartawan sedari tadi ngevideo aksiku. Lalu ketika selesai mereka mewawancarai, kok bisa Iron-Man ada di Indonesia menjadi sabahat kita. Sehingga aku menjadi viral, dan banyak yang mengenaliku. Tanpa permisi dulu, aku langsung meninggalkan tempat, seluruh warga meneriaki dan bertepuk tangan.

Para warga mengetahui bila ada suatu kriminalitas terjadi, bisa memanggil Iron-Man tiga kali. Sehingga aku dapat mendengar teriakan itu dengan jelas.

Berkali-kali aku menangani kasus sampai ditelusuri dari sabang sampai merauke, sungguh melelahkan. Tapi aku baru sadar saat beristirahat, keren juga menjadi peran melawan kejahatan. Dianggap pahlawan yang menolong sesama.

***

Saat ini Indonesia sedang musim hujan. Di sebagian wilayah terjadi hujan deras sehingga dapat menyebabkan banjir setinggi lutut orang dewasa. Dan warga setempat mengungsi di dataran tinggi. Namun mereka histeris sebagian anggota keluarga hilang. Tim SAR sedang berusaha mencari tapi nihil di lokasi masih dalam keadaan berbahaya.

“Tolong keluarga kami Iron-Man!”

Aku bergegas meluncur ke udara untuk memantau dari atas. Ada tiga orang yang menyelamatkan diri dengan naik ke atas pohon dan genting rumah. Aku ulurkan tali agar mereka dapat menggapainya, setelah itu aku turunkan ke lokasi. Terus di susuri dan ternyata banyak pula warga yang aku selamatkan. Ada yang selamat ada juga yang telah tiada.

“Terimakasih Iron-Man memudahkan pekerjaan kami. Kamu memang penolong hebat!” ucap Tim SAR.

Lalu ada kejadian yang tidak jauh dari lokasi banjir. Akibat telah bertahun-tahun penebangan pohon di hutan. Sehingga mengakibatkan longsor dan tanah berhamburan ke dataran rendah. Ada seorang nenek bersama cucunya akan tertimpa. Aku bergegas mengangkat keduanya ke udara dan menempatkan di dataran tinggi.

“Terimakasih sudah nolong Nenek. Semoga kamu menjadi pahlawan untuk banyak orang!”

Ketika tugas di sini selesai, aku mendengar kembali panggilan. Lalu terbang menuju tempat, dan ada laporan bahwa ada orang menembak burung secara ilegal di hutan yang dilindungi. Burung kecil sampai burung langka sekalipun di tembak mati dan akan dijual.

Tak bisa dibiarkan tuh orang harus merasakan mati seperti burung yang ditembak. Dengan sekali semprotan laser, orang itu lemah dan tidak berdaya. Tercatat ada orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka dimasukkan ke penjara untuk menjalankan hukum.

“Iron-Man terimakasih banyak sudah membantu kami melaksanakan tugas. Bila kejadian ini dibiarkan, pasti anak cucu kami tidak dapat melihat fauna terutama burung,” ucap Polisi hutan.

***

Aku ingin jalan-jalan menikmati luasnya negara Indonesia yang terlihat di atas langit. Angin yang semilir membuat terbang ku menjadi oleng tapi tertahan dengan kekuatan. Terlihat ke bawah di jalan raya ada segerombolan geng motor yang sedang ugal-ugalan dengan knalpot bising.

Mereka mengganggu aktivitas jalan raya semakin ribut. Langsung aku berbalik arah, dan menyetop mereka di hadapan. Kemudian, mereka merasa terancam dan melakukan perlawanan. Aku mengeluarkan jurus pencak silat yang diajarkan Kakek dulu, satu lawan dua puluh orang, kecil itu.

“Kalian masih muda jangan so jadi pahlawan jalanan. Sana balik rumah. Bila bertemu lagi ngga akan diampuni.”

“Maaf, Iron-Man kami khilaf.”

Polisi menghubungiku untuk melakukan tugas, aku bergegas menuju markas. Ada kasus bandar sabu, yang bertransaksi jual minuman keras ke luar kota dengan cara ilegal. Jadi, aku ditugaskan untuk menangkap orang itu, yang katanya selalu membawa pistol dan senjata tajam.

Aparatur keamanan sudah melakukannya tapi gagal. Ada banyak cara yang dilakukannya untuk menghalangi kasusnya. Tak banyak pikir, aku bertindak sekarang. Dan berpapasan dengan bandar sabu tersebut. Mereka melawan dengan pistol yang digunakan, aku berusaha menghindar dari tembakan.

Pada saat peluru mereka habis, satu per satu maju untuk menghabisiku. Tapi semuanya aku kalahkan terutama bosnya sudah aku patahkan tangannya. Lalu aku menghubungi polisi untuk mengurusi lebih lanjut.

“Terimakasih Iron-Man, kamu memang pahlawan kita membantu kriminal di negara ini!”

“Sama-sama senang membantu kalian!”

***

Hari ini aku kembali menelusuri ke jalanan sempit lalu masuk ke pemukiman warga. Semua orang menaruh hormat kepadaku saling menumpahkan senyuman di wajah mereka. Sampai banyak yang meminta singgah di rumah mereka. Tapi aku menolaknya secara sopan, karena tugasku belum selesai.

Terdengar jeritan seorang perempuan di ujung jalan. Kata saksi perempuan itu telah dianiaya oleh pacarnya sendiri. Lalu meninggalkan begitu saja. Perempuan itu tidak terima, namun bingung untuk bertindak. Aku langsung mengejar pelaku, ketika sudah melihat wajahnya dalam foto.

Lelaki itu orang yang lemah dan sangat mudah dikalahkan. Lalu aku menggiringnya agar menjelaskan kronologis kejadiannya.

“Selama ini aku tidak cinta sama perempuan gendut kayak kamu. Aku jadikan kamu sebatas alat pengalir uang. Lagian aku punya kekasih yang lebih cantik, sexy,” timpal lelaki itu.

“Kurang ajar!” teriak perempuan sambil menamparnya.

“Ikut aku ke kantor polisi untuk mengakui perbuatanmu.”

Banyak orang takjub keberadaanku di sini. Dari anak-anak bermain, sampai aku berbaur dan terlibat dalam pekerjaan mereka. Dari berkebun, berternak, menanam padi dan sebagainya. Mereka sangat terbantu sekali dan tidak membiarkan aku pulang.

“Aku harus menjalankan lagi tugas. Kalian baik-baik, kalau ada masalah teriak namaku tiga kali.”

“Siap, Iron-Man. Hidup Iron-Man!” teriak salah satu warga. Lalu semua orang mengikutinya.

Terbang sambil diiringi tepuk tangan warga, di atas aku balas lambaian tangan. Entah bisa bertemu kembali atau tidak? Dengan santainya terbang menelusuri luasnya angkasa. Tiba-tiba pancaran mataku mengarah pada mobil pick-up yang oleng. Mungkin remnya blong dan tidak terkendali. Siap-siap aku meluncur ke depannya.

Aku menghadang mobil di hadapannya, sekuat tenaga menahan lajunya mobil. Ah, lega sudah berhenti! Sang supir bersama anak kecil yang mengejekku waktu itu.

“Terimakasih Iron-Man sudah menolong Asep dan Abah. Kamu memang keren aksinya, pahlawan sejati.”

“Sekali lagi makasih ya.”

“Iya sama-sama. Lain kali lebih hati-hati lagi. Cek mobil sebelum berpergian.”

Wah, seriusan tadi aku dibilang keren sama si Asep. Dia tidak mengenali itu aku, Yusuf yang dibilang anak lemah dan tidak bisa apa-apa. Kalau tadi aku berlaga sombong, terus dibuka helmnya. Pasti si Asep takjub dan puji bahwa aku tuh pahlawan.

***

“Aduh si Yusuf malah tidur pulas di sini. Suf, bangun! Ini sudah jam berapa? Kamu kelewat salat asar dan magrib. Kebiasaan sudah ikutan lomba langsung molor. Pasti belum mandi dan ganti baju kan!” ucap Ibu sambil mendorong tubuhku.

“Sebentar, Bu. Yusuf lagi bertugas!”

“Tugas apaan, pasti mimpi aneh lagi ni anak.”

Terasa percikan air membasahi wajahku. Aku kira hujan deras, tapi mataku pelan-pelan terbuka. Lagi ada di rumah ternyata. Raut mata Ibuku tajam, bergegas harus ke kamar mandi untuk cuci muka.

“Bapak kostum Iron-Man mana, Yusuf boleh pinjam untuk besok?”

“Untuk apa? Kostum ini punya orang. Kalau rusak Bapak mesti ganti.”

“Yusuf harus bertugas nolong negara kita, Pak. Mumpung masih dalam kemerdekaan. Yusuf harus jadi pahlawan.”

“Pahlawan kesiangan kali, Pak,” celetuk Ibu yang sedang asyik menonton sinetron favoritnya.

“Ibu, jangan ngeledek gitu. Yusuf di bilang keren sama Asep ketika pakai kostum itu.”

Bapak dan Ibu malah tertawa. “Tugas Yusuf bukan halusinasi sekarang tapi belajar. Jadi, kalau sudah dewasa bisa jadi polisi, tentara, pilot atau yang lainnya. Supaya bisa berguna untuk negara dan masyarakat. Ingin bermimpi boleh saja, tapi harus dibarengi dengan tekad yang kuat. Paling penting belajar yang rajin.”

Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Berarti tadi memang bunga tidur saja, tidak beneran. Ah, padahal sudah berbangga diri, banyak pujian dan terimakasih oleh banyak orang.

“Yusuf bisa pelajari dulu bagaimana pahlawan kita bisa mempertahankan Indonesia yang tadinya tanah ini ingin dikuasai oleh penjajah Jepang selama 3,5 tahun dan Belanda selama 350 tahun. Jadi, sangat lah panjang perjuangan mereka, tidak hanya semalaman saja. Harus mempersiapkan strategi, tenaga, misi, visi, sehingga dapat diaplikasikan. Tujuannya agar musuh itu kalah.”

“Oh, untuk sekarang Yusuf harus belajar yang rajin dan sekolah setinggi-tingginya.”

“Iya, betul. Doakan Bapak ya supaya bisa menyekolahkan kamu sampai sukses, sampai ke perguruan tinggi. Bapak tidak ingin nasibmu gini, orang miskin yang hanya jadi hiburan orang lewat.”

“Ya, Pak. Bapak sudah hebat kok bagi Yusuf!”

“Sudah jangan main drama terus, sana kamu belajar kerjakan PR untuk besok,” celetuk Ibu.

“Oh iya, Yusuf ada PR matematika.”

#lovrinzpublisher

#lovrinzwacaku

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!