JADI BAPER
12.3
1
96

Rencana memiliki cita-cita ingin hidup bahagia dan sederhana. Membaca buku favorit, menikmati langit, dan bersenda gurau dengan pasangannya kelak. Namun, realitanya Rencana berulang kali bertemu dengan pasangan yang tidak tepat. Walau tidak terjerat, tetapi pernah terpikat. Selain itu, ia dihadapkan realita “kedewasaan” dan kesiapan mental di dunia yang masih baru.

No comments found.

 

Hari pertamaku selesai dari segala rutinitas tugas kampus. Sudah lama aku menantikannya, kukira akan semenyenangkan yang terlihat di drama. Nyatanya drama tetaplah drama, hanya kehidupan biasa dengan penuh bumbu ajaib yang membuatnya terlihat indah. Realitanya ya hidupku ini sendiri, lihatlah tumpukkan kertas lecek dan penuh coretan yang ada di atas mejaku. Itu semua adalah revisian tugas akhir yang sengaja aku simpan selama masa perbaikan. Anehnya setelah menyelesaikannya ternyata rasa senangnya hanya sehari saja. Setelah itu ada rasa cemas dan kehilangan yang tidak bisa aku deskripsikan menghampiri perlahan. Batinku selalu berdebat, “selanjutnya apa? Aku harus melakukan apa dulu? Bolehkah aku istirahat sejenak?”

Aku berniat untuk tidak memindahkan kertas-kertas yang menumpuk itu dulu. Aku juga tidak tega kalau harus membuang atau meloakkan hasil pemikiranku. Hatiku rasanya seperti dicubit saat membayangkan kertas-kertas tugas ini berakhir menjadi bungkus sayuran dan gorengan. Memang sudut pandang orang berbeda, apa yang aku anggap penting itu belum tentu penting buat orang lain. Toh, kita tidak harus membandingkan diri kita denagn orang lain. Hanya saja aku sering menemukan sertifikat, kartu keluarga, lembaran buku pelajaran, dan lainnya di bungkusan gorengan. Sedih. Saat membeli gorengan, aku selalu teringat kertas-kertasku yang menumpuk itu. Aku ingin menghargai hasil pemikiranku itu lebih dari uang. Jatuh-bangun, sakit, canda, tawa, tangis, kesal, dan syukur ada di dalam setiap kalimatnya. Nanti.. ketika aku sudah menata hatiku dan mengapresiasi semua itu. Mungkin tiba masanya aku harus membereskannya.

Ah, perih juga. Perutku sudah terasa tidak nyaman, setelah kuingat-ingat kemarin hanya sempat kuganjal dengan jajanan ringan saja. Pantas saja sekarang perihnya tidak tertahan. Samar-samar aku sudah mendengar dentingan sendok yang beradu dengan mangkuk dari kejauhan. Bubur ayam langgananku sepertinya akan tiba. Aku harus bersiap sebelum terlewat! Sebelum keluar aku akan perkenalkan OOTD beli bubur a la anak kos. Jaket angkatan over size semasa sekolah dulu, kaos kaki, masker, dan bergo simpel untuk keluar. Ini gaya andalanku. Tidak lupa aku memilih mangkok ayam jago sebagai wadah. Seminimal mungkin aku mengurangi penggunaan sampah plastik yang sulit didaur ulang. Aku berjalan di lorong kosan yang sepi, seketika ingatan lama kembali terngiang. Momen pertama kali aku tinggal di kosan ini. rumahku memang tidak begitu jauh, tapi juga tidak begitu dekat juga. Hanya macet yang panjang membuatku enggan menua di jalan. Aku juga mencoba fokus dengan tugas-tugasku. Aku tinggal di kosaan dekat kampus untuk fokus mengerjakan tugas akhir. Kalau dihitung-hitung hanya satu semester saja aku di sini. Beruntungnya saat itu ada penghuni kosan yang akan pindah. Aku dan temanku—Analisa namanya– akhirnya bisa tinggal di tempat yang sama. Kami tidak sekamar, hanya berseberangan kamar saja.

Lorong yang aku lalui terasa sangat sepi. Hanya lampu di depan kamar saja yang menyala. Ini bukan karena mahasiswa lain masih tertidur, melainkan banyak dari mereka sudah keluar dan kembali ke rumah masing-masing. Banyak kamar yang sudah kosong. Misalnya saja Lisa, temanku yang masuk kosan bersama. Dia juga sudah kembali ke rumahnya semalam tepat selesai acara wisuda kami. Kalau aku berniat pulang sore nanti karena harus membereskan beberapa keperluan di komunitas dulu. Tentu saja tumpukkan kertas-kertas tugas itu juga akan ikut bersamaku ke rumah. Mana mungkin aku meninggalkannya di sini.

 

*ting ting ting.. ting ting.. ting ting ting.. ting..ting ting ting..*

 

Rasanya gerobak bubur itu semakin mendekat. Suara dentingan kembali terdengar, tetapi lebih jelas dari sebelumnya. Sekarang aku sudah berdiri di depan pagar, sabar menunggu dengan perut makin bergetar. Di kejauhan akhirnya gerobak cokelat yang perlahan terlihat.

 

*ting ting ting.. ting ting.. ting ting ting.. ting..ting ting ting..*

 

“sate padang!”

“salah, Pak.”

“salah? Ehehe.”

“iya salah, harusnya teriak ‘BUBUR AYAM’, gitu.”

“iya bener. Mau beli bubur, Mba?”

“iya, dong buat sarapan, Pak. Biasa ya, seporsi lengkap, tambah bubuk lada putihnya ya.”

Aku biasa memesan bubur ayam dengan ekstra bubuk lada putihnya. Selain makin terasa pedas, karena ditambah bubuk lada putih ini aroma dari buburnya makin lezat. Campuran antara kaldu ayam, ayam yang disuir, cakwe, bawang goreng, potongan daun seledri, dan kacang kedelai gorengnya semakin pekat tercium. Makanan ini lebih enak disantap dengan sate usus dan bumbu kacangnya yang pedas. Em, nikmat!

“siap, ditunggu sebentar ya. Pake sate?”

“boleh, ususnya satu aja.”

“oke. Mba.”

            Tidak butuh waktu lama pesananku selesai dibuat. Melihat gerakan tangan yang lihai dan cekatan itu membuktikan seberapa lama beliau membangun usahanya hingga sekarang. Beliau juga sangat berkonsentrasi saat bekerja, jadi pesanan yang diterima dapat selesai dengan cepat.

            “sudah jadi, Mba” ujarnya sambil mengembalikkan mangkok motif ayam jago yang penuh dengan bubur dan kerupuk warna kuningnya.

            “terima kasih, Pak” setelah pembayaran selesai aku pamit untuk masuk ke dalam.

            “sama-sama, Mba.”

            Aku kembali ke kamar lebih cepat daripada saat pergi keluar. Mungkin karena perutku sudah terlalu lapar sehingga jalanku lebih cepat. Aku letakkan mangkuk bubur di lantai dan berjalan ke sudut ruang untuk mengambil meja lipat.

            bismillahirrahmanirrahiim ittadakimasu mari makan!”

            Baru saja suapan pertama mau masuk mulut, ponselku sudah berdering. Rupanya ada panggilan video dari Lisa.

            “woi, udah bangun?”

            “udah nih, lagi mau nyarap. Eh, kenapa nelpon? Kamu mau juga ya?” aku membalikkan kamera depan menjadi kamera belakanag untuk memperlihatkan bubur yang akan kumakan. Aku teringat kebiasa sarpan kami membeli bubur yang sama, tetapi memakannya berpisah. Bukan karena kami berantem, tetapi cara makan bubur kami tidaklah sama. Aku tim bubur aduk, sedangkan Lisa tim bubur tidak diaduk. Katanya biar khidmat.

            “wah, iya. Masih utuh. Lu sambil makan aja gih. Pasti kemarin lu belum ketemu karbo.”

            “iye, tau aja. Lanjut makan ya. Ada apa nih nelponnya pagi amat? Udah nyarap?” aku meletakkan ponsel di meja dan berjalan ke kasur untuk mengambil tripod. Rasanya lebih nyaman makan tanpa memegang ponsel.

            “gue udah nyarap. Eh, lu kapan balik? Nanti gue sama Getta mau bantu pindahin barang.”

            “wah, makasih banyak. InsyaAllah sore ini gue balik.”

            “oke, kalo gitu jam 10 gue dateng ke sana ya. Sekalin kita makan bareng dulu. Nanti gue chat si Rapha sekalian.”

            “boleh tuh, gue tinggal masukin baju sama kertas-kertas ada aja. Lainnya udah kelar, nih.”

            “oke, bye bye. Sampai ketemu nanti!”

            “iyo, makasih ya, Lis.”

            “nanti aja makasihnya, ahahaha.”

            Di akhir tawanya itu panggilan video kami berakhir. Aku sangat bersyukur bisa bertemu Analisa di kampus ini. Orangnya mudah banget bergaul dan ada aja topik pembicaraan yang bisa dibahas. Karena sudah berteman lama dengannya aku terkadang mengikuti kebiasaannya itu. padahal awalnya aku hanya ingin menikmati perkuliahan dengan tenang saja. Kupu-kupu? Kuliah-pulang kuliah-pulang saja. Ternyata setelah kenal Lisa, aku malah jadi aktif di komunitas.

            Selesai sarapan aku langsung bersiap untuk bertemu anggota komunitas di kedai teh dekat kampus. Sekalian menyerahkan beberapa uang dan catatan kas komunitas, aku berniat untuk pamit dengan mereka. Karena jika nanti aku pulang, akan sulit untuk bisa bertatap muka dengan mereka. Jam menunjukkan tepat pukul delapan, di luar kosan masyarakat setempat sudah memulai aktivitas hariannya seperti biasa. Jarak dari kosanku ke kedai hanya sekitar sepuluh menit. Aku memutuskan untuk berjalan kaki dengan santai menuju kedai itu. Hitung-hitung sebagai olahraga ringan dan menikmati suasana di lingkungan kosan.

            Aku tiba sebagai urutan kedua. Terlihat ka Hasyim–ketua komunitas sebelumnya–sudah datang dan menikmati teh melati di mejanya. Ka Hasyim ini memang orangnya sangat tepat waktu. Jika kita janjian pukul sepuluh, maka beliau akan tiba tiga puluh menit lebih awal dari waktu janjian. Awal mengenalnya aku sempat bertanya alasan beliau begitu tepat waktu. Simpelnya beliau menjawab, “lebih baik menunggu daripada ditunggu”. Awalnya aku masih tidak mengerti kenapa demikian. Beliau menjelaskan lagi, “kita kan sudah belajar tepat waktu sehari lima kali. Masa kita janjian aja bisa ngaret. Malu dong! hahaha”. Saat itu aku baru paham apa maksud perkataan beliau.

            “kak, udah lama?”

            “oi! Gue baru dateng. Nih tehnya juga baru diantar barusan.”

            “nanti nggak bisa hadir semua ya?”

            “iya, katanya ada yang bentrok jadwalnya.”

            “yaudah, nanti gue titip salam aja sama yang dateng deh.”

            “mau ke mana?”

            “gue udah selesai kuliah, Kak. Hari ini mau balik. Nanti pasti gue bakal jarang kumpul begini lagi. Jadi mau pamit sekalian.

            “wah, selamat sudah lulus. Welcome to the jugle! Oke, gue paham keputusan lu ini. makasih ya udah bareng-bareng sampe sekarang.”

            “lo? Gue yang harusnya bilang makasih, Kak. Makasih banyak buat ilmu, pengalaman, sama suasana yang nggak bakal bisa gue temuin selain di sini.”

            “oke, sama-sama, ya. Lu udah bilang sama ketua?”

            “udah, tinggal anak-anak yang lain aja yang belum tau.”

            Sambil menunggu anggota yang lain, aku dan ka Hasyim bercerita banyak hal yang udah berlalu. Mendekati jam janjian, satu per satu anggota komunitas ini mulai berkumpul. Setelah acara dibuka oleh ketua komunitas, kami masuk ke sesi diskusi ringan. Di sini aku mulai berpamitan dengan seluruh anggota yang hadir. Sedih pasti ada, tetapi aku tahu kalau ini jalan terbaik untuk semua.

            “halo semua, gue Rencana sebagai bendahara dua mau izin pamit. Setelah perkuliahan ini selesai gue akan kembali ke rumah. Mungkin bakal susah buat kumpul seperti ini, jadi gue sekalian pamit ya di pertemuan ini. Gue juga mau ngucapin terima kasih buat kerja samanya selama ini. Banyak banget hal-hal baik yang gue dapat bersama kalian. Gue juga mohon maaf jika ada kesalahan kata dan perbuatan. Gue titip salam ya buat anggota yang tidak bisa hadir.”

            Setelah salam perpisahan itu, aku langsung berpamitan pulang lebih dahulu karena ada janji lain dengan Lisa dan kawan-kawan. Sebelum keluar dari kedai, aku memesan beberapa jajanan dan teh botolan sebagai sugguhan buat mereka datang nanti. Aku pandangi menu yang ada di papan sambil mengingat kesukaan mereka. Lisa dan Getta, pasangan ini sama-sama pencinta makanan dan minuman manis. Mereka sangat suka jajan seperti kue lapis dan kukis gula merah. Untuk minumannya lebih pas dengan teh bunga telang boba ubi ungu sebagai penetral. Kalau Rapha dia anaknya lebih suka rasa hambar dan gurih, jadi kukis kacang dan teh melati pekat cocok buat dia.

            Selesai belanja aku langsung pulang dan menyusuri kembali jalan kecil menuju kosan. Setibanya di kosan ternyata Rapha sudah menunggu di depan gerbang. Tumben banget dia datang lebih cepat. Bisanya dia orang paling ngaret di antara kami.

            “Raf!”

            “elu, gue udah chat nggak ada jawaban.” Serunya sambil menggerutu.

            “maaf hp diheningkan dan gue baru aja balik dari kedai teh di depan.” Aku mengangkat bungkusan yang ada di tangan kananku. “udah lama?” sambungku.

            “baru sampe, tapi karena panas begini jadi terasa lama.”

            “yaudah, masuk dulu. Kita tunggu Lisa sama Getta di ruang tunggu aja.”

            “iya, kan peraturan kosan lu emang nggak boleh ada tamu laki-laki yang masuk situ.” Jawabnya sambil memandang gerbang kedua yang menuju ruang kamar penghuni kosan.

            Tidak lama setelah aku dan Rapha berteduh dari teriknya matahari, Lisa dan Getta datang. Sebelum pergi untuk makan siang bersama. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di ruang tunggu. Lisa yang langsung menghampiriku datang dengan segudang pertanyaannya. Sementara Getta langsung berbincang dengan Rapha.

            “beneran semua udah rapi?”

            “bener, gue udah cicil sebelum ujian. Sisanya tadi baru gue rapikan lagi.”

            “oke, tapi nanti gue bantu ke atas juga ya. Biarin cowok-cowok ini menunggu di sini aja.”

            “iya iya. Ngomong-ngomong rencananya kita mau ke rumah makan yang mana?”

            “itu aja, rumah makan Betawi yang deket mall di seberang. Tempatnya nyaman dan bersih. Enak juga kalo kita sambil ngobrol di sana.”

            “boleh juga tuh, makanannya juga murah dan enak-enak ya.”

            “kita datengnya jangan pas jam makan siang. Satu jam lagi kita berangkat ya. Biar kebagian tempat. Kalo lu mau salat, di sana aja sekalian sama yang lain.”

            “oke. Sekarang kalian cicipin ini dulu ya. Tadi aku beli di kedai teh depan sana.”

            “wah, jadi enak nih.”

            “silakan cicipi dulu.”

            Getta yang dari tadi sibuk ngobrol dengan Rapha mengarahkan badannya ke arahku dan Lisa. Sepertinya ada pertanyaan yang ingin ia bahas, tetapi dia terlihat sangat hati-hati untuk mengungkapkannya.

            “Na, lu bener udah nggak ada hubungan sama di Jaka kan?”

            “nggak ada, gue nggak kontak juga sama dia udah lama banget. Kenapa emangnya? Kok bahas dia tiba-tiba gini?”

            “nggak, gue mau kasih tau ada aplikasi taaruf. Gue pikir-pikir lu mungkin nggak mau pacaran lagi setelah hubungan kemarin. Maaf ya kalo agak tersinggung.”

            “iya, gue males pacaran lagi. Cape hati rasanya. Cukup kemarin aja, gue disuruh nunggu sampe dia selesai. Eh, nyatanya malah dia duluan yang nyebar undangan. Kalo bukan info dari Rapha, gue mungkin masih kayak orang ogeb kali nunggu dia terus. Kalo si Jaka kan emang gitu orangnya. Btw, awas ya, kalo lu macem-macem ama Lisa. Pokoknya gue yang bakal maju duluan!”

            “eits, InsyaAllah juga bakal jaga Lisa dengan baik, Na. Eh, jadi mau coba aplikasi ini?”

            “sebentar dulu deh, aku mau nata hati dulu. Masalah gue udah clear belum ya?”

            “nggak apa, lu coba buat akun aja dulu. Nanti gue yang update akun lu. Ini kado kelulusan dari gue nih.”

            “nanti kalo ada yang naksir gimana?”

            “anjiiir, sok iyye, lu! Pede lu ini nggak ilang, Na. Hahaha!” Rapha langsung memotong obrolanku dan Getta. Sementara Lisa udah sibuk memukuli punggungku dengan sekuat tenaga, sekuat tawanya dia.

            “udah, udah, berenti ketawanya Rapha.. Lisa.. puas kalian, hah? Gini-gini aku termasuk menarik lo.”

            “oke, gue berenti nih, Na. Lanjutin lagi, Get.”

            “iya, nanti kami bantu lu buat sortir mereka.”

            “serius dibantu ya, jangan ngilang!”

            “iya, mengingat cowok-cowok lu sebelumnya itu kami pasti ada buat lo, Na.”

            “setuju gue ama lu, Get. Gue masih inget gimana terpuruknya lo kemarin-kemarin itu. kurang ajar banget mereka buat lu nangis dan sakit di saat lu lagi berjuang gitu.”

            “cukup, kalian jangan buat Rencana ingat-ingat yang dulu lagi! Getta kita lanjut makan siang aja!”

            “oke, Lis. Aku ikutin mau kamu. Kita makan sekarang, yuk!”

            Kami berempat pun akhirnya berangkat menuju rumah makan menggunakan mobil Getta. Selama perjalanan itu aku dan Lisa masih terus bercerita tentang asyiknya kemeriahan acara kemarin. Kami pun juga bercerita tentang keseruan masa depan yang akan kami lakukan. Terakhir aku juga menyempatkan curhat kegundahan lain yang muncul setelah tugas-tugas perkuliahan yang berlalu ini.

            “Lis, gue mau istirahat dulu rasanya. Nggak mau buru-buru ngirim lamaran pekerjaan atau ambil kuliah lagi.”

            “kamu punya rencana apa?”

            “belum pasti sih, tapi gue mau coba hal baru selain yang udah-udah ini.”

            “gue terserah lu aja mau gimana, Na. Lu nggak mesti ngikutin kemauan orang di sekitar lu. Emang sih kedengerannya nggak realistis banget, apalagi di masa sekarang yang ekonominya naik-turun. Cuman gue maunya lu sadar ngelakuin apa pun itu.”

            “kayaknya lu butuh hiburan dulu deh, Na. Gue ada saran tempat yang bagus sesuai sama kesukaan lu. Bentar lagi perpustakaan di Kota bakal buka secara resmi. Lu bisa healing di sana sama buku-buku.”

            thanks infonya, Raf. Cuman, gue mau fokus ke masalah ini nih. Pusing deh kalo ngumpul keluarga, bikin males aja nanggepin pertanyaan pasangan mulu.”

            “iya, satu-satu ya. Tadi lu kan bilang mau nata perasaan dulu. Pelan-pelan ya. Sekarang lu main dulu sama kami, puas-puasin deh! Kalo lu udah balik ke rumah, kita kudu punya waktu vicall bareng! Oke kan Getta! Rapha!”

            “gue ikut aja.”

            “ayo, biar jauh kita masih bisa tau keadaan satu sama lain lewat vicall

            “gue terharu, kalian baik banget! Huhuhu”

            “cup cup cup.. si cengeng ini udah balik lagi. Tenang ya, satu-satu kita tuntasin bareng. Sedih, kesal, kecewa, dan galau itu manusiawi. Ada saatnya kita buka telinga dan ada saatnya kita harus tutup telinga. Kita yang tau, tapi lu mesti inget kalo lu berharga.”

            Perkataan Lisa terus terngiang di pikiranku. Berharga? Apa aku sudah benar menilai diri sendiri? Apa aku sudah menghargai diri sendiri? Mungkin memang aku butuh waktu buat kenal dengan diriku lebih dulu.

Di tengah lamunanku, ternyata Getta sudah selesai memarkirkan mobilnya. Kami akhirnya tiba di rumah makan ini. Tempat yang memang seperti rumah karena suasana dan menu yang disajikannya. Di dalam sudah ada beberapa meja lesehan yang sudah penuh dan meja panjang yang masih kosong. Namun, masih cukup lenggang karena ini belum jam makan siang. Kami memilih tempat makan di meja lesehan dekat kolam ikan koi. Mataku masih panas dan belum jelas melihat jalan karena sisa air mata yang masih menggenang.

Seorang pramusaji perempuan menghampiri meja kami dengan membawa menu dan buku pesanan. Tidak butuh waktu lama untuk kami mengisi buku itu karena makanan di sini sudah menjadi favorit. Kami cenderung memesan makanan yang sama. Setelah mengembalikkan buku pesanan kepada pramusaji. Dengan sigap pramusaji itu mengualng pesanan kami.

            “es mentimun empat, sayur asem satu, sayur besan satu, ayam matah paket satu, ini dada atau paha?”

“pesen bagian dada.”

“baik, saya catat. Kemudian, bebek paket sambel ijo satu. Paha atau dada?”

“bagian pahanya.”

“baik, saya lanjutkan pecak jengkol empat, gabus pucung satu, paket nasi bakul. Sesuai pesanan ya, ada tambahan?”

            “tidak, itu saja, Mpok.”

            “baik, mohon ditunggu sebentar.”

“iya, terima kasih.”

Pesanan yang disebutkan sudah sesuai dengan pilihan kami. Pramusaji itu pun kembali menuju mejanya dan menyampaikan pesanan kami.

“aku cuci muka dulu, ya.”

“iya, Na.”

Aku berjalan menuju kamar mandi di bagian belakang. Ruangan yang tidak terlalu luas, tetapi cukup nyaman untuk digunakan. Lantainya bersih dan di dalamnya memiliki cermin kecil yang terletak di dalam bingkai jendela kayu. Jarang sekali rumah makan yang menyediakan cermin di dalam kamar mandinya. Aku salut dengan rumah makan ini. Mungkin mereka juga mempertimbangkan tamu Muslimah yang perlu merapikan hijabnya tanpa khawatir auratnya terlihat. Aku sedikit melepaskan peniti yang mengaitkan pasminaku dan segera membasuh mukaku. Apa karena mukaku masih panas, jadi air keran ini terasa sejuk? Aku menatap pantulan diriku di cermin kecil itu. Rasanya seperti melihat orang lain. Kapan terakhir kali aku memerhatikan diriku sendiri? Kenapa kamu tampak begitu lelah? Aku mencoba tersenyum kecil sebelum lanjut merapikan pasmina dan kembali ke meja makan.

Aku kembali ke meja makan, ternyata baru air minum saja yang sudah diantarkan. Di sana Lisa sedang sibuk membaca komik kesukaannya. Ini memang kebiasaannya menunggu sesuatu dengan membaca komik. Sementara itu Getta yang duduk di seberangnya terlihat memainkan ponselnya sesekali mengambil foto Lisa yang sedang serius membaca. Kemudian ia kembali berbincang dengan Rapha yang duduk di sampingnya.

“Get, tawaran tadi masih berlakukan kalo bulan depan?”

“yang aplikasi itu maksud lu, Na?”

“iya.”

“tentu! Nggak ada batas waktunya kok, Na.”

“syukur alhamdulillah. Kalo sekarang gue mau menata diri dan hati dulu. Ada yang punya rekomendasi psikolog atau psikiater? Kayaknya gue nggak bisa nanganin ini sendiri. Oh, bukan berarti kalian nggak penting buat gue. Justru dengan sama-sama kalian gue punya keberanian ini.”

“nggak apa, gue dukung keputusan lu. Nanti gue coba cari tau ya.” Lisa langsung memeluk pundakku dengan begitu erat.

“gue juga bakal dukung keputusan lu itu, Na.”

            “apa pun buat kebahagiaan lu, gue bantu support!”

            Beberapa menit kemudian makanan yang kami pesan sudah memenuhi meja makan. Kami pun langsung menikmati masakan yang masih mengepul asapnya. Aku memesan ayam sambal matah dan pecak jengkol. Rasa manis, asin, dan pedasnya cocok banget buat balikin mood hari ini. Kemudian penghilang dahaganya dengan es mentimun dengan taburan biji selasih dan sirup melon yang manis. Cocok juga untuk menenangkan perut yang panas karena cabai. Selama menikmati makanan di antara kami tidak ada yang berbicara lagi. Sesekali aku mengecek jadwal di layar ponselku. Memastikan saja kalau semua pekerjaan tuntas dilakukan hari ini.

            Selesai makan kami langsung kembali ke kosanku, tidak lupa aku memesan beberapa menu untuk diberikan kepada ibu kos. Aku bersyukur banget bisa tinggal di kosan yang nyaman dan bersih lingkungannya seperti ini. Ibu kosnya pun sering memberikan dukungan kepada anak-anak kosannya, terutama saat ujian tiba. Rasanya seperti memiliki keluarga lagi di sini. Memang ada rasa sedih menyelimuti hatiku, tetapi aku harus kembali dan meninggalkan tempat ternyaman ini. Perjalanan pulang kami terasa lebih cepat dari keberangkatan tadi. Kami juga tidak terlalu banyak mengobrol, hanya sesekali Rapha menunjukkan desain sampul buku yang dibuatnya melalui grup obrolan. Rapha sangat menyukai pekerjaannya sekarang, walau memang tidak linier dengan jurusannya selama ini. Sesekali Rapha mengikuti lomba desain dan pada saat itu ia mengirimkan contoh gambarnya kepada kami untuk meminta doa. Perjuangan Rapha juga tidak semudah itu, sebagai anak laki-laki satu-satunya ia cukup punya ‘beban’ harapan keluarga. Memang ya, hidup itu bukan ajak perlombaan apalagi membandingkan. Ya, membandingkan kesengsaraan orang. Karena memang kita punya porsi yang berbeda-beda.

            Tidak terasa kami sudah memasuki jalan perumahan kosan. Aku turun lebih dulu untuk membukakan pintu gerbang. Tepat saat aku ingin berdiri di depan gerbang, seorang laki-laki yang bertubuh tinggi datang menghampiriku dan menahan gerbangnya. Dari sekian banyak orang, aku tidak ingin berjumpa dengannya lagi. Urusan kami sudah selesai, bahkan sebelum kami memulainya. Tidak lama kemudian Rapha turun dan menghampiri kami, ia berdiri tepat di depanku. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi mereka berdua. Namun, dari nada suaranya sepertinya Rapha juga kesal dengan kemunculan tamu tidak diundang ini.

            “ada urusan apa ke mari?”

            “urusan gue sama Ana, bukan sama lu!”

            “kali ini segala urusan dia juga jadi urusan gue. Terutama urusan dia sama lu!”

            Tamu tidak diundang ini namanya Pasha, adik tingkat kami, tetapi usianya lebih tua dia. Pasha adalah mantan gebetanku saat awal perkuliahan. Saat permainan truth or dare aku memberanikan diri menyatakan perasaan kepadanya saat festival bahasa tahun itu. Tidak secara langsung, aku menyampaikannya melalui surat dan kutitipkan kepada Rapha. Aku tidak berharap banyak dengan jawabannya, tetapi aku ingin mencobanya sekali saja. Yang mengetahui ini hanya teman sekelas kami saja dan aku tidak menuliskan nama di surat itu. Dengan bodohnya aku menunggu kedatangannya di kantin kampus yang telaknya tidak jauh dari lapangan utama, tempat bazar dan panggung berada. Aku yang melamun itu tersadar dengan kalimat yang berkumandang dari pengeras suara di lapangan. Perkataan itu adalah kalimat yang kutulis di surat. Saat aku sampai di lapangan dan melihat arah panggung yang ramai, terlihat sosok tubuhnya yang tinggi berdiri di depan sambil mengangkat suratnya. Rapha tiba-tiba muncul di hadapanku sambil menutupiku dengan jaket yang dibawanya. Sambil berjalan meninggalkan keramaian, ia menutup kedua telingaku. Ternyata Rapha membawaku ke serambi kampus, sesampainya di sana air mataku tidak dapat ditahan lagi. Rapha hanya tertunduk bisu dan mendengarkan tangisanku saja. Sejak saat itu Rapha selalu berdiri di barisan terdepan saat aku membahas laki-laki.

            “Raf, gue mau denger alasan dia dulu, boleh?”

            “tapi, Na.”

            “tolong, Raf. Mungkin ini yang terakhir. Kalian juga boleh menemaniku.”

            “oke, tapi biar mereka masuk dulu.” Jawab Rapha yang setuju sambil menunjuk ke arah mobil Getta. Mungkin di dalam sana Getta dan Lisa juga mengawasi kami.

            “An, gue mau bicaranya sama kamu aja.” Tangannya berusaha meraih tanganku. Untung saja reflek Rapha sangat bagus dan berhasil menahan tangannya itu.

            “nggak, bicara sekarang dengan semuanya atau tidak sama sekali!” ucapnya.

            Pasha cukup hening sejenak sebelum menganggukkan kepalanya. Setelah Getta dan Lisa berkumpul bersama, kami masuk ke ruang tunggu di kosan. Suasananya sangat canggung dan tidak ada yang berbicara sama sekali. Getta yang mulai kesal dengan sikap Pasha membuka keheningan

            “jadi urusannya apa? Tadi keliatannya di luar lu itu mau bicara sesuatu sama Ana.”

            “jangan lama-lama, kami punya jadwal lain.” tambah Lisa yang mulai tidak sabar.

            “mm.. An, gue denger lu balik hari ini?”

            “denger? Denger dari siapa?”

            “Hasyim, tadi gue nggak sengaja ketemu dia di depan. Terus gue langsung nunggu lu di sini. Gue ngirim pesan ke nomor lu, tapi nggak terkirim.”

            “iya, soalnya gue block. Jadi ada urusan apa?”

            “gue mau minta maaf atas kejadian waktu itu.”

            “gila, udah lama banget. Kirain amnesia. Aku udah maafin, kok. Ya, itu bukan buat lu, melainkan buat kebaikan hati gue sendiri.”

            “iya, udah dimaafin. Udahkan? Yaudah, pintunya ada di sana.”

            Aku tidak ingin berlama-lama berbincang dengannya. Bukan hanya sudah cukup lelah dengannya, melainkan waktu keberangkatanku semakin dekat. Aku harap dengan berakhirnya masalah ini dapat berjumpa dengan harapan yang baru. Dia pergi tanpa sepatah kata, hanya menunduk dan sedikit membungkukkan badannya sebelum pergi.

            “Na, kamu oke?”

            “ya, rasanya lebih baik dari sebelumnya. Oh, sudah jam segini. Yuk kita ke atas, Getta dan Rapha biar nunggu di sini aja.”

            “oh, ini bingkisan buat bu kos. Tadi kamu lupa bawa.”

            “iya, ya. Oke, setelah ini kita ke rumah ibu kos dulu,”

            Lisa membantuku merapikan dan mengangkat barang-barang ke ruang tunggu. Dari sana kemudian Getta dan Rapha mengangkutnya ke dalam mobil. Sebelum pergi aku berpamitan dulu kepada ibu kos, aku sekalian mengembalikkan kunci kamar dan menyerahkan bingkisan ini. Banyak kenangan yang sudah kubuat di tempat ini. Perjalanan ini baru dimulai, kalau kata ka Hasyim tadi, “WELCOME TO THE JUNGLE”. Bener juga karena sekarang aku akan menatap dunia yang lebih luas, liar, dan penuh tantangan. Kalau ujian sekarang bisa dilewati, maka ujian selanjutnya juga bisa! Aku, Kamu, Mereka. Sudahkah kita merdeka?

 

#lovrinzpublisher

#lovrinzwacaku

Aku, Kamu, Mereka. Sudahkah kita merdeka?

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!