Kamu
76.1
109
391

Bagaimana rasanya mencintai seseorang dalam waktu yang lama? dalam diam? apakah itu menyakitkan? Base on true story.

Aku tidak pernah tahu tentang cinta, dan tak pernah tahu bagaimana rasanya dicintai, bahkan rasa-rasanya tak pernah sedikitpun terpikir dalam diriku, bahwa akan ada seseorang yang akan aku cintai. Aku tidak tahu bagaimana rasanya memiliki perasaan khusus pada seseorang, perasaan yang dapat membuatku tergila-gila akannya.

Aku membutuhkan seseorang agar dapat membuatku waras kembali.

 

Matahari terbit dan tenggelam, hari-hari berjalan membosankan, aku harus menjalani hidup dengan kekosongan. Di mana setiap harinya aku hanya mengulang apa yang telah kulakukan sebelumnya. Aku terjebak dalam sebuah neraka, tapi anehnya mereka mengatakan jika tempat ini adalah surga. Itu adalah ilusi yang sering dikatakan orang-orang besar.

Aku tidak memiliki seseorang dan tempat pulang lainnya, aku ingin menjadi seseorang yang dimiliki oleh seseorang lainnya, seseorang yang akan menarikku dalam kegelapan tak berdasar ini. Dan tepat saat itulah kamu berdiri di hadapanku, menatapku, tersenyum ke arahku dengan manisnya. Kamu adalah hadiah terindah yang pernah diberikan Tuhan kepadaku.

Jujur saja aku tak pernah melihat sesuatu seindah itu sepanjang hidupku, jutaan bintang di langit malam, matahari terbit dan terbenam, aku ragu jika keindahan dalam dirimu dapat disamakan dengan semua itu. Aku harusnya malu dengan diriku sendiri, karena telah mencoba menyamakan semua itu dengan dirimu.

Kamu seperti tiruan sang pencipta, kamu adalah segalanya, kamu adalah semua hal yang bahkan kata indah saja tak akan pernah cukup untuk menjangkau keindahan auramu.

Kita duduk di tempat yang sama, meskipun ada banyak sekali orang dan jarak antara tempat kita di sekolah ini, pada akhirnya yang kulihat hanyalah dirimu. Di antara banyak bunga yang bermekaran, kau terlihat seperti bunga matahari dengan segala kehangatan dan kelembutannya.

Bersamamu, hidup ini terasa lebih menyenangkan. Aku menjadi lebih sering membisu, sibuk memikirkan tentang betapa indahnya dirimu. Tidak ada satupun kata yang dapat menjelaskan tentang seberapa indahnya dirimu.

 

Beranda sosial mediaku dipenuhi oleh wajahmu. Semua pakaian yang kamu pakai, dan semua hal yang menurut orang lain terlihat buruk, aku melihatmu sebagai sesuatu keindahan. Aku tidak melihatmu sebagai objek, aku melihatmu sebagai sebuah subjek yang telah menjadi bagian dari diriku. Kamu adalah alasan dari eksistensiku, kamu adalah alasan dari semua hal yang kulakukan selama ini.

Semua cerita ini tentangmu, tentang seberapa indah dan agungnya dirimu. Semua tujuan yang ingin kucapai dan aku tulis dalam memori otakku. Tiba-tiba itu semua hilang dan hanya menyisakan satu, yaitu memilikimu.

Aku terduduk diam, lalu orang bijak di sampingku mengatakan, cukup bodoh jika aku mengejar cinta yang takkan pernah bisa kudapatkan. Dia bilang jika aku hanya membuang-buang waktu. Tapi aku tak peduli, aku menatap orang bijak itu dan mengatakan, aku bisa mencintainya dengan jarak.

Lalu orang bijak itu pun pergi meninggalkan diriku seorang diri dengan wajah masam, dari raut wajahnya aku tahu bahwa dia mungkin berpikir aku adalah orang bodoh yang tergila-gila akan cinta, dan apa peduliku dengan pikirannya. Karena jika memang pada akhirnya aku tidak bisa mendapatkanmu, aku tidak peduli. Aku hanya ingin mencintaimu, aku hanya ingin mengungkapkan segala misteri keindahan dalam dirimu.

 

Waktu ini terasa singkat, setelah kelulusan sekolah kita pergi ke sekolah yang berbeda. Aku merasa kesal karena harus berpisah dengan dirimu, tetapi tidak ada yang bisa kuperbuat, aku hanya bisa tersenyum menatap perpisahan ini.

 

Aku merokok santai di atap rumah, tersenyum, aku suka pemandangannya di atas sini, mengabaikan jutaan bintang yang tengah bersinar di atas kegelapan malam, kamu harus melihat seberapa cantiknya dirimu.

Aku hanya bisa mengagumimu dari jauh, dan merasa rindu ketika berada dekat denganmu.

Aku rindu ketika kamu memanggil namaku dengan bibir lembut nan anggun milikmu. 

Aku rindu ketika kamu tertawa dengan semua kebodohan yang kubuat.

Dan aku merindukan segalanya tentangmu.

Meski telah berlalu, perasaan suka ini tak pernah berpudar sedikitpun.

 

Aku suka caramu menatapku dengan mata indah nan anggun milikmu.

Aku suka dengan bagaimana caramu membuatku merasa.

Dan aku suka ketika kamu membuatku menggigil seperti dulu.

Jika bisa, aku ingin mengulang waktu, kembali pada saat-saat kita masih bersama, dan akan kutinggalkan semuanya demi dirimu.

 

Dunia ini sudah busuk, banyak sekali bunga yang layu, hanya dipenuhi dengan parasit-parasit yang berusaha ‘tuk membuat dunia ini hancur. Tapi meski begitu aku tetap mencintaimu, karena dengan mencintaimu aku merasa kebusukan dunia ini dapat disembuhkan.

 

Setelah mencintaimu dalam waktu yang lama, dengan dibantu teman-temanku, aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku padamu. Saat itu, aku tidak bisa berhenti tersenyum, yang ada di pikiranku hanyalah tentangmu. Bukan memikirkan akan seperti apa reaksimu nanti, tapi tentang seberapa indahnya dirimu. 

Aku harus mempersiapkan diriku agar tetap waras.

Kelak kamu berdiri di hadapanku, menatap wajahku dengan mata indahmu. Rasa-rasanya jantungku akan berhenti berdetak, aku tidak memiliki cukup kekuatan untuk melihat keindahan yang terpancar dalam dirimu. Apa yang orang-orang lihat dalam dirimu hanya setetes air, mereka tidak tahu jika sebenarnya yang mereka lihat adalah samudera. Samudera yang selalu menghanyutkan diriku ke dalamnya.

Aku mengatakan bahwa aku mencintaimu. Sesaat kamu terlihat ragu, tapi aku tak peduli, karena aku tak pernah sedikitpun berharap kamu akan mencintaiku balik. Aku tak peduli dengan hal itu, aku mencintaimu secara tulus.

Kali ini wajahmu tersipu malu. Dalam hatiku, aku berkata pada Tuhan, sampai kapan semua ini akan berlanjut, aku tidak bisa menahan semua ini terlalu lama. Keimutan itu rasanya membunuhku secara perlahan.

Sial, detak jantungku berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Seluruh tubuhku bergetar, aku sudah tidak memiliki kekuatan untuk menahannya, bahkan batu yang keras sekalipun berubah menjadi selembut kertas ketika melihatmu.

Kamu mengangguk dan aku merasa bahwa sesaat detak jantungku berhenti berdetak, dan itu terasa sangat gila. Seumur hidup aku tak pernah merasa sesenang ini, bahkan aku berpikir jika aku dapat mati dengan tenang. Aku akan pergi meninggalkan dunia ini dengan senyuman, seraya menceritakan dirimu kepadanya.

Aku juga akan mengatakan kepadanya, terima kasih telah menciptakan sesosok seindah dirimu.

 

Hari-hari dipenuhi dengan senyuman. Aku senang karena dapat melihatmu tertawa setiap harinya, setiap detiknya. Bahkan aku menatap layar ponsel, membaca semua pesan dengan senyuman bodoh di wajahku, dan aku menganggap jika ini adalah sebuah mimpi yang tidak akan pernah bisa membuatku terbangun kembali.

Kamu terlihat begitu anggun nan menawan dengan seragam putih abu itu, ditambah senyuman yang terukir dalam wajahmu menusuk ke dalam hatiku. 

Aku berusaha untuk berbicara denganmu, tapi itu semua sia-sia. Sebelumnya aku sudah memikirkan apa saja yang akan kubicarakan bersamamu nanti. Tapi ketika kamu duduk di sampingku, aku tiba-tiba malu akan segala hal, bahkan aku cukup malu untuk memulai sebuah pembicaraan sederhana. Bukan bermaksud sombong, tapi aku tidak anti sosial, aku berbicara dengan pria dan wanita lain seperti biasa, tapi ketika denganmu tiba-tiba aku menjadi bisu, karena aku tidak tahu apakah ada kata yang dapat menjelaskan tentang dirimu. 

Padahal kamu tidaklah sempurna, tapi aku melirikmu sebagai satu-satunya kesempurnaan.

 

Ketika hujan, aku merindukanmu, ketika makan, aku memikirkanmu, dan ketika tidur, aku memimpikanmu. Kamu sangatlah populer dalam pikiranku. Bahkan aku menatap wajahmu dalam layar ponselku dengan senyuman bodoh, dan melihat dirimu sedang bersama dengan pria lain.

Itu gila, aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa, aku hanya bisa terdiam. Aku ingin marah, tapi kamu menampilkan senyum yang tak pernah kulihat ketika bersama denganku, tapi jika aku membiarkanmu dengannya, aku akan merasakan seberapa besar rasa sakit hati yang patah.

Aku merenung, menatap kosong jutaan bintang di atas langit seraya kembali mengingat perkataan orang bijak dahulu. Aku tersadar dengan apa yang dia katakan, aku mungkin bisa mencintainya dalam jarak, tapi untuk melakukan itu berarti aku harus merasakan sakit sepanjang harinya

Karena ini aku membenci musim panas, tapi karenamu aku mencintai musim gugur.

 

Sebenarnya aku tidak ingin kamu pergi, aku mencintaimu. Tapi jika keberadaan ‘ku mengganggumu, aku akan pergi. Aku tidak akan memaksakan perasaan ‘ku padamu,  aku akan pergi dan tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi. Aku hanya bisa berharap kamu bahagia bersama dengannya. Karena sepertinya mustahil untukku mendapatkan seseorang yang lebih indah dirimu.

Aku tersesat dan tak tahu jalan pulang, aku merasa begitu hampa selama beberapa bulan lamanya, hingga pada akhirnya ada seorang wanita lain masuk ke dalam diriku. 

Dia adalah wanita yang baik, dia juga adalah wanita yang cantik dan imut. Aku merasa seperti dihidupkan kembali ketika bersama dengannya, dan aku memulai perjalanan ini sebagai temannya.

Aku telah membuang semua hal tentang dirimu dalam diriku, aku sudah nyaman dengan wanita ini. Bahkan kali ini aku lebih suka berbicara dengannya, ketimbang ketika aku sedang bersamamu. 

Bersama dengannya, membuatku berangsur-angsur melupakan dirimu, dan tak pernah sekalipun lagi kamu muncul dalam diriku. 

Kami sering berbalas pesan, bercanda ria dalam panggilan telepon, dan saling menyapa dan berbicara ketika berada di sekolah. Dia tersenyum kepadaku, dan aku pun tersenyum kepadanya, meski aku tahu wanita ini hanya menganggap ‘ku tidak lebih dari seorang teman. 

Meski begitu dia adalah wanita yang baik, ketika aku menghilang dan Ibuku meninggal, tak ada satupun ekspresi yang dapat keluar dalam wajahku. Aku tidak tahu apakah harus tersenyum, tertawa, atau menangis, itu terasa hampa dan tidak jelas menurutku, dan wanita ini adalah satu-satunya orang yang mengerti tentangku dan membuatku kembali tertawa.

Dia mendengarkan curhatan ‘ku, mendengar semua keluh kesahku, dan dia memuji segala tentang kekurangan ‘ku, yang di mana itu membuatku semangat kembali, dan bisa tersenyum seperti biasanya.

 

Setelah memikirkannya dengan matang, aku berencana untuk menyatakan perasaanku pada wanita ini. Tapi tiba-tiba wajahmu kembali muncul dalam pikiranku, aku sudah mencoba menyangkalnya, tapi tetap saja wajahmu terus bermunculan seperti sebuah website yang mengalami perulangan.

Aku menjadi ragu, dan mengurungkan niatku, aku memikirkan semua keraguan ini dalam waktu yang lama. Bahkan ketika teman-temanku sudah menyiapkan momen, aku menolaknya dan mengatakan bahwa ini bukan waktunya. Tidak baik mengatakan mencintai seseorang ketika kita sendiri masih ragu dengan perasaan itu. Aku tidak ingin melukai wanita sebaik dia hanya untuk keegoisanku.

Dan lagi-lagi aku membiarkan wanita ini pergi bersama dengan pria yang mungkin adalah orang yang lebih baik dariku, dan aku cukup senang dengan hal itu. Hubunganku dengannya hanyalah sebatas seorang teman, dan mungkin tidak lama itu membuat hubungan kami menjadi renggang.

Keraguan ini membuatku tersiksa, padahal tidak ada darah ataupun benda yang menyakitiku, tetapi entah kenapa rasa sakit ini membunuhku secara perlahan. Kekosongan dan kesepian, mereka adalah satu-satunya yang menerimaku dan memeluk diriku.

 

Aku berusaha mencoba mencintai wanita lain, tapi pada akhirnya hal sama itu terulang kembali. Entah seberapa cantiknya wanita yang dekat denganku, dan sebesar baiknya wanita yang ada untukku, semua itu tak pernah sedikit membuat rasa cintaku terhadapmu memudar.

 

Aku heran dengan dirimu yang selalu kembali muncul dalam kehidupanku. Kamu adalah orang pertama yang selalu muncul dalan benakku. Sebelum tidur aku selalu merindukanmu, memimpikanmu. Kamu yang sedang tersenyum senang, dan membuatku kembali terbangun. Dan aku tersadar jika ternyata kamu adalah satu-satunya bukan salah satunya.

Aku bertanya kepada Tuhan, dan dia mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam. Tuhan mengatakan, jika kamu adalah salah satu yang hilang dalam diriku, kamu adalah wujud yang tercipta dari tulang rusukku yang hilang, kamu adalah bidadari yang sengaja diturunkan olehnya dari langit untukku.

Dan ketika aku kembali bertanya pada Tuhan. Tuhan berkata bahwa aku melihat dunia ini sebagai neraka dan aku menganggap jika kita hidup hanya untuk menderita, tapi setelah mengenal cinta semua yang kulihat adalah sesuatu yang lain, bahkan aku melihat neraka ini sebagai taman bunga, yang di mana apinya adalah dirimu.

Aku tersenyum dan tertawa dengan gilanya, aku merasa tak percaya karena aku masih mencintaimu selama ini, ketika kamu sendiri adalah orang yang membuatku terluka dan merasakan keraguan ini. 

Aku mencintaimu, aku tak sabar ingin segera mengatakannya kepadamu dan membuatmu kembali ke dalam pelukanku. Tapi masalah yang kualami mengharuskan ‘ku untuk lagi-lagi mengurungkan niatku.

 

Tidak mungkin rasanya jika aku menyatakan perasaanku terhadapmu ketika aku sendiri sedang dalam masa-masa sulit, ketika kamu sendiri dibesarkan oleh kedua orang tuamu tanpa sedikitpun merasa kekurangan. Itu akan melukai harga diriku sebagai seorang pria.

 

Aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan, dan menulis semua kisahmu ke dalam sebuah tulisan yang aku sendiri pun tidak percaya. 

Aku hanya bisa membayangkan, betapa bahagianya ketika aku bisa duduk berdua denganmu, berkeluarga bersama denganmu, memiliki seorang anak yang mungkin terlihat lucu sepertimu. Itu sangatlah indah dan membuatku ingin berteriak dan menangis dengan kencang. Tidak seperti dulu, saat ini rasanya sungguh berat untuk melepasmu dalam hidupku, bahkan ketika aku melihat wajahmu saja, aku selalu merasa sakit, jarak ini membuatku tak bisa menjangkau keindahan dirimu.

 

Aku ingin menyerah, aku ingin mati, tapi ketika terbayang wajahmu dalam pikiranku, aku selalu kembali merasa hidup. Ketika dalam keadaan terpuruk sekalipun, aku dapat kembali merasakan seberapa hangatnya dalam sebuah kegelapan yang terasa dingin untuk orang lain.

Bahkan untuk masalah-masalah tersulit sekalipun. Aku tak pernah berjuang sekeras ini, seumur hidup aku tak pernah melakukannya, tapi sekarang kulakukan hanya agar bisa bersama denganmu.

Aku selalu tersenyum ketika melihatmu tersenyum dan aku hanya bisa meratapi ketika melihatmu bersedih. Aku tidak bisa melakukannya lebih dari ini, karena setiap kali kamu terluka, aku juga akan terluka. Seandainya bisa, aku ingin semua rasa sakit yang kamu terima diberikan pada diriku.

Tapi ternyata semuanya sudah terlalu mustahil untuk kembali memulai hubungan bersamamu, bukan karena aku merasa pesimis tapi apa yang terjadi terhadapku sangatlah tidak memungkinkan untuk bisa bersama denganmu.

Aku tidak peduli jika kamu tidak mencintaiku balik, aku hanya ingin mencintaimu dengan semua kesederhanaan yang kumiliki. Aku hanya ingin mengatakannya, tidak peduli seberapa besar rasa sakit yang akan kuterima nantinya. Aku akan terus mencintaimu, terus dan terus untuk selamanya hingga orang-orang menganggap diriku gila. 

Karena orang-orang tidak tahu, selalu ada sebuah kegilaan dalam cinta, dan selalu ada alasan dalam setiap tindakannya.

 

Aku ingin mengatakannya, tapi mana mungkin aku bisa mengatakannya, ini tidak sesimpel yang dipikirkan. Kehidupan ini menahan ‘ku, mengurung diriku dalam ruang hampa yang di mana selalu membuatku ingin mati. Aku tidak tahan, tapi apa boleh buat, di dunia yang hanya bisa menilai ini menuntut adanya kesempurnaan.

Aku hanya bisa berharap, kamu akan menemukan seseorang yang mencintaimu, seperti bagaimana aku mencintaimu. Seseorang yang selalu ada untukmu, seperti aku yang selalu melihatmu dari kejauhan. Seseorang yang bahagia memilikimu seperti telah memenangkan segalanya. Seseorang yang tidak akan pernah membandingkan dirimu dengan wanita lain dan seseorang yang akan selalu membuatmu merasa bahwa dunia ini adalah dunia yang baik.

 

Sebelum melepasmu, aku juga berharap jika pesan ini dapat kusampaikan kepadamu, tentang betapa sangat aku mencintaimu dan bagaimana kamu menyelamatkanku setiap harinya.

Di saat malaikat kematian sudah berada di sisiku, menarik lenganku ke dalam nerakanya. Senyuman yang muncul dalam mimpiku, membuat semuanya menjadi kembali bercahaya. Aku tidak sabar ingin segera memberitahumu, tentang bagaimana caramu membuatku merasa hidup kembali. Itu akan menjadi cerita yang lucu.

Kamu itu seperti obat untuk semua rasa sakit ‘ku. Hanya dengan membayangkan kamu tersenyum senang saja, rasa lelah dan gelisah dalam diri ini langsung menghilang bak ditelan bumi. Sulit untuk dipercaya tapi memang itulah kenyataannya.

Kamu adalah satu-satunya alasan kenapa aku masih percaya kepada manusia.

 

Kamu mengatakan jika ada banyak sekali pria yang mendekatimu, tapi mereka semua ada hanya karena fisikmu, mereka tidak mencintaimu secara tulus. Kamu pun menangis dan merasa sakit.

Aku juga ikut merasa sakit.

 

Kamu mengatakan bahwa setiap pria yang mendekatimu ada karena mereka sedang bosan, dan kamu pun marah dan merasa sakit.

Lagi dan lagi aku merasa begitu sakit dan geram ketika melihat ada seorang pria yang berperilaku semena-mena terhadapmu.

 

Dan terakhir kamu selalu mengatakan bahwa sudah tidak peduli lagi dengan semua pria, karena sudah bosan disakiti oleh mereka.

Tapi percayalah bahwa aku di sini akan selalu mencintaimu.

 

Aku akan terus mencintaimu, meskipun aku telah memutuskan untuk melepaskan dirimu. Aku tidak akan berhenti untuk mencintaimu, meski aku sudah mati dan berada di dalam neraka sekalipun, aku akan terus dan terus mencintaimu. Tubuhku tidaklah abadi, tapi akan ‘ku buat rasa cintaku terhadapmu yang menjadi abadi.

 

Bahkan jika Tuhan memasukkan diriku ke dalam surganya, tapi ternyata tidak ada dirimu di dalam sana, dan mengganti dirimu dengan banyak bidadari, aku akan menolaknya. Karena menurutku, seburuk apapun tempat itu, selama ada dirimu aku akan menyebutnya sebagai surga.

Aku tidak ingin merasakan kembali kehampaan dalam jutaan tahun lamanya. Aku bisa menunggumu, tapi tidak akan pernah bisa menggantimu. Aku meminta maaf karena telah menolak pemberiannya, bukan karena aku merasa kurang atau apa tapi, aku hanya tidak bisa. Aku masih mencintaimu.

 

Tak lama orang bijak dari masa lalu itu kembali kepadaku dan mengatakan jika perkataannya adalah sebuah kebenaran, dia mengatakan lagi jika sebenarnya yang dimaksud sia-sia olehnya tidak seperti apa yang dimaksud dalam pikiranku.

Yang dimaksud olehnya adalah mencintai seseorang dengan berharap orang itu akan mencintaimu balik hanyalah membuang-buang waktu. Dia mengatakan bahwa aku tidak boleh membuang waktuku hanya untuk itu, dan mengatakan keputusanku untuk melepasmu adalah keputusan yang tepat.

Cintailah seseorang seperti Tuhan mencintai manusia yang hanya datang kepadanya ketika sedang menderita tanpa sedikitpun meminta timbal balik darinya.

 

Aku penasaran dengan apa yang kamu lakukan saat ini. Aku ingin mengetahuinya, tapi aku tidak bisa, jika aku kembali mendekatimu, hati ini tidak sanggup untuk menahan sakitnya. Seandainya ada yang bisa kulakukan untukmu, aku akan selalu mendoakan keselamatanmu dalam jarak. Hanya itu yang dapat kulakukan untukmu.

Maaf karena aku lebih memilih mengatakan selamat tinggal daripada sampai jumpa. Karena aku tahu kita tidak akan pernah bisa kembali bersama.

Kamu harus tahu, di manapun aku berada, ke manapun aku pergi, satu-satunya hal yang terpikirkan adalah dirimu. Tidak ada hal yang lain, kamu adalah yang pertama. 

 

Aku berharap dapat menyampaikan pesan ini kepadamu, beberapa kata yang tidak bisa kusampaikan padamu secara langsung: kamu itu cantik banyak sekali pria yang akan mendekat kepadamu, karena itu aku ingin kamu menjaga dirimu baik-baik agar tidak terpengaruh oleh pria-pria aneh yang hanya menginginkan tubuhmu. Dan pada orang tuamu, terima kasih karena telah melahirkanmu dan merawat dirimu dengan sangat baik, dan pada mereka yang berada di dekatmu tolong untuk selalu berada dekat denganmu ketika kamu sedang bersedih. Dan terakhir aku tahu kamu memilki semacam penyakit yang mungkin agak sedikit sepele, dan mungkin akan sembuh hanya dengan beberapa pil obat, tapi untuk saat ini jangan sepelekan itu, karena aku tidak ingin melihatmu tersiksa.

Terima kasih karena telah membuat hidupku menjadi lebih berwarna. Aku tidak  akan pernah melupakan tentang dirimu, aku akan selalu mengingat saat-saat kita tertawa bersama, saat-saat di mana kamu dan aku selalu duduk berdua di tempat yang sama. Aku ingin menangis setiap kali mengingat hal itu, jika bisa aku ingin kembali pada saat-saat itu, aku merindukanmu, aku ingin memelukmu untuk terakhir kalinya sebelum pergi ke tempat kesepian dan kehampaan itu berada.

 

Aku tahu bahkan sampai akhir kamu tidak akan pernah mencintaiku, tapi itu tidak masalah karena saat ini aku benci dengan diriku yang tak pernah bisa sedikitpun berhenti ‘tuk mencintaimu.

 

Suka 109

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!