Karena Aku Cinta Padamu
29
3
226

Aku mencintaimu. Sampai kapan pun akan terus begitu. Biar mereka bilang hubungan kita tak sehat dan kamu tak pantas untukku, aku tak peduli karena hanya kamulah satu-satunya orang yang mampu mengerti aku dan pahami keluh kesahku.

No comments found.

Aku mengingatnya. Aku yakin kamu pun sama. Masa-masa SMA itulah yang terpenting buatku dan pasti kukenang selamanya. Tak akan pernah kulupakan sejarahnya sebagai bagian pertama hidupku dengan hadirmu di dalamnya.

Berkat senyummu aku terpukau haru. Berkat candamu aku tertawa lega. Berkat hadirmu kurasakan dunia yang belum pernah kujejaki sebelumnya. Tak terkira betapa senangnya batinku saat menyadari bahwa sejak tiga tahun sekolah itulah hidupku mulai terwarnai oleh ceriamu. Sikap lucu dan menghibur tak pernah lepas dari karaktermu bahkan hingga sekarang kita bersama.

Ingat kan, di kelas sepuluh dulu? Saat itu kamu terkenal di kalangan guru, dan jika ada murid populer bagi guru, maka alasannya hanya dua: kamu berprestasi, atau terlalu berulah sampai ditandai betul batang hidungnya.

Sialnya, kamu masuk alasan kedua hingga mata mereka tak pernah lepas abaikan tingkah polahmu. Nama Riki terlampau sering diumumkan pengeras suara sekolah untuk dimintai pertanggung jawabannya. Tak habis pikir kurasakan, siapa sangka hatiku jatuh ke si bebal telinga tebal yang tak lain hanya kamu seorang.

Kamu, kan, yang dulu mengerjai Pak Idris sampai beliau tiga kali salah masuk ruangan? Satu kelas kita bersorak ria karena terpotongnya jam belajar matematika dari wali kelas galak itu. Riuh anak laki-laki menggema keras mengelukan namamu bak pahlawan penyelamat hari. Sayang seribu sayang, pengorbananmu datang cepat karena setelah sorak sorai itu, hukuman membersihkan kamar mandi sudah siap menanti lagi.

Ribuan tingkah usil kaulakukan, ribuan kali juga kuingat hukuman kaudapatkan. Dengan cepat kamu dianggap musuh bersama para guru. Saat itu, Pak Idris dan guru-guru lainnya sepakat memanggil orang tuamu dengan niat mengadu, tapi mereka tertegun saat melihat nenekmu yang datang menyambang. Kudengar nenekmu merengek minta ampun, bersujud di hadapan guru-guru. Ia menyalahkan dirinya sendiri yang tak becus merawat buah hati titipan anaknya yang sudah jauh di alam sana.

Pak Idris bilang ia terdiam mendengar jerih nenekmu. Kamu pun bilang hal yang sama padaku. Pada hari itu kausadari tingkahmu sudah semakin kelewatan, dan kaurasa itulah saatnya buatmu berhenti dan melangkah ke jalan yang lebih baik.

Suasana kelas yang sempat panas mulai berubah canggung waktu itu, sebelum akhirnya semua berakhir menghangat sejak kamu menjelma jadi murid teladan dalam waktu sebulan saja. Masih usil, sih, tapi tetap dalam skala wajar yang bisa diterima satu sekolah. Tak lama setelah itu, kuingat ekspresimu yang kegirangan semangat saat menceritakan padaku tentang nilai-nilai pelajaranmu yang mulai merangkak naik sejak itu.

Baik kamu maupun aku sama-sama bersyukur dan percaya bahwa siapapun bisa berubah jika mereka punya niat. Bahkan preman nakal akhirnya bisa jadi pribadi lebih baik yang tak lagi memberatkan hati sang nenek tercinta. Ya, kamu bisa dan telah berubah jadi lebih baik.

Rasanya, hari-hari itu adalah puncak bahagianya dirimu sebagai siswa SMA yang teladan. Sayangnya, kebahagiaan itu tak berlangsung lama karena nenek yang kaucinta itu tutup usia untuk menemui anaknya di alam sana. Sejak saat itu, kamu pun mulai bolos sekolah. Hilang arah, tak bisa kuhubungi dirimu beberapa bulan setelahnya.

Semua berlangsung cepat.

Tak bisa lagi kuingat kapan terakhir kali senyummu melayang untukku. Tak bisa lagi kuingat kapan terakhir kali candamu buatku tersipu. Tak bisa lagi kurasakan jejak-jejak bahwa dirimu pernah ada untukku dan aku pernah ada untukmu, sampai akhirnya kutemukan dirimu termenung sunyi di sudut kumuh jalanan berdebu.

Kamu yang dulunya aktif dan ceria telah berubah lemah dan lesu, hanya bisa mendekam murung renungkan nasibmu yang kian tak beruntung. Napasmu panik saat kusebut namamu lepas tanpa ragu. Kamu mencoba kabur, tapi kutarik paksa tanganmu hingga langkahmu kaku.

Kamu memberontak, lalu jatuhlah dompet-dompet yang tampak bukan milikmu. Sebagian besar tampak seperti dompet mahal. Beberapa di antara dompet itu tampak jelas bermotif khusus wanita. Gelagapan, panikmu makin menjadi saat ulahmu terbongkar jelas olehku.

“Enggak apa-apa, kok.” Kurang lebih begitu kataku dulu. Kuundang dirimu ke rumahku, tapi kamu terdiam ragu. Kamu menolak ajakanku, tapi aku pun tak mau mencampakkanmu begitu saja di tempat itu.

Pada akhirnya, kutarik paksa lenganmu hingga kamu mengalah daripada jadi perhatian orang-orang. Sepanjang jalan kita susuri sambil bergandeng tangan. Sesekali kulihat wajahmu yang memerah padam, kuyakin wajahku pun sama.

Lama jalan bersama, kutuntun langkahmu lewat gerbang utama rumahku. Itulah kali pertama kutunjukkan tempat tinggalku ke teman SMA. Kali pertama juga buatku melihat mulutmu menganga lebar tanpa keluar kata. Saat kuajak dirimu masuk lebih jauh, kurasakan penolakan dari tarikan tanganmu.

“Kenapa?” tanyaku, tapi sosok satpam rumah yang tampak keluar dari posnya langsung menjadi jawaban bagiku.

“Non, bawa siapa itu?” serunya sambil berjalan tergopoh.

“Teman main aku, kok!”

Tetap memegang tanganmu erat, kupertahankan dirimu dengan berbagai alasan yang kulontar lepas pada pegawai suruhan Papa itu. Si satpam yang sudah kulupa namanya itu tak percaya bahwa kamu teman sekolahku. Ia memandang remeh tampangmu yang kumal tak terurus, tapi argumen demi argumen kuocehkan sampai akhirnya ia mau melepas kita.

Kubawa ragamu yang kian lemas ke ruang makan, kusajikan langsung makanan terbaik di rumah kami hari itu. Aku belum pintar masak saat itu. Semua sajian dimasak khusus oleh juru masak sewaan Papa. Memegang nampan saja aku dilarang oleh Mama. Satu-satunya yang kubisa hanya menyajikan nasi dan lauk ke piringmu, tapi kamu tetap berterima kasih padaku sambil melahap sajian itu hingga habis.

Kenyang melihatmu puas, kuajak kamu berkeliling sebentar di dalam rumah. Teater rumahan, ruang gimnasium mini, kolam renang kutunjukkan tempat-tempat favoritku di rumah itu. Perlahan tapi pasti, kuperhatikan senyum dan canda riangmu kembali seperti dulu.

Hari itu, kubuang napas lega sekaligus bangga atas keberhasilanku mengembalikan ceriamu. Kutemukan lagi Riki yang dulu buatku jatuh hati. Jiwaku terasa lengkap setelah berbulan-bulan kehilanganmu tanpa alasan yang pasti. Di hari itu, kusadari bahwa akulah orang yang membuat senyum hangatmu itu kembali. Kusadari bahwa aku pantas untukmu.

Penjelajahan rumah saat itu kita teruskan di waktu yang kukira aman sebelum datangnya Zico, adikku, di sore harinya. Puas mencoba gym dan bernyanyi bersama, kusadari keringat mencucuri dahi dan bahumu. Kuarahkan kamu ke kamar mandi, lalu kusiapkan pakaian adikku yang umurnya cuma beda dua tahun dari kita berdua.

Kautahu? Gurauanmu berakting sebagai Zico masih buatku terkikih sampai detik ini.

Sayang seribu sayang, tak kusangka Papa pulang cepat hari itu. Baik kamu maupun aku sama paniknya saat mendengar deru pagar terbuka lebar beri jalan untuk mobil bersandar. Kusembunyikan kamu segera di lemari kamarku, sedang mulutku komat-kamit siapkan alasan dan pengalihan untuk kusampaikan ke Papa nanti.

Terpikir omongan yang alami, langkahku bergegas menyambut Papa di pintu masuk. Jantungku mati sesaat saat Papa menyembur murkanya padaku. Si satpam rumah tampak berdiri di belakang Papa, menceritakan semua yang dilihatnya. Rupanya panggilan si satpam tentang kehadiranmulah yang jadi penyebab Papa pulang cepat hari itu.

Papa membentak keras padaku. Ditanyakannya lantang soal keberadaanmu saat itu dan apa saja yang sudah kita lakukan di rumah itu, tapi aku menolak menjawab jujur. Aku membual. Kubilang kamu sudah pulang sepuluh menit lalu, tapi Papa tidak percaya.

Dibongkarnya seisi rumah untuk mencarimu. Kuminta Papa agar berhenti, tapi ia tak mau tahu lagi. Sampai ia yakin betul kamu tak ada di situ, seantero rumah dibuatnya porak poranda. Tak berapa lama, suasana berubah hening saat kamu muncul menyerahkan diri. Kamu, yang sudah kembali berganti ke pakaian lamamu, memohon maaf pada Papa atas eksistensimu di rumah itu.

Papa tidak peduli akan maafmu. Ia menggeram. Didepaknya tubuhmu hingga terpental ke dinding, sedang mulutmu tetap memohon ampun. Tak tega melihatmu begitu, kutarik tubuhmu menjauh dari amuknya. Lidahku kelu hanya mampu tersedu melihatmu tersenyum pilu. Begitu besar rasa bersalahku, tapi justru kamulah yang terus meminta maaf padaku.

Hari itu jadi hari terakhir kunjunganmu untukku di rumah itu. Kuantar kamu ke rumah kosong nenekmu, dan saat itulah pertama kalinya kusadari bahwa tempat tinggalmu hanya berjarak dua blok dari rumah keluargaku. Setelah amukan Papa yang mendebar jantung sebelumnya, betapa senang diriku saat tahu rumahmu sedekat itu denganku.

Kujanjikan diri untuk sesekali berkunjung ke rumahmu. Kamu mengiyakan, merespons ucapanku senang. Sejak saat itu, kuselundupkan terus seporsi makanan setiap harinya supaya kamu pun bisa makan enak. Lega sekali rasanya saat air wajahmu sumringah menerima pemberianku.

Kauingat? Sekolah kita tak menerimamu lagi karena masalah absensi yang dirumit-rumitkan, sehingga rumah nenekmu itulah satu-satunya tempatku bisa menemuimu dulu. Sesekali aku menetap di sana beberapa waktu, mendengarkanmu bernyanyi dan bermain gitar hingga mataku sayu dan suaramu mendayu.

Aku menggumam, mengalun nada dalam sunyi bersamamu. Asaku terasa lengkap saat kamu menerima ragaku bersandar di bahumu. Kita bercerita perasaan masing-masing sepanjang waktu, termasuk saat kamu menanyakan alasanku mendukungmu dan tetap ada di sisimu.

Ya, sama seperti dulu, jawabanku sekarang pun tetap sama. Aku senang bersamamu karena kamulah satu-satunya yang bisa menerimaku atas diriku sendiri dan bukan karena latar belakangku.

Orang tuaku selalu mendidikku sesuai keinginan mereka. Setiap keinginanku yang tak sesuai kepentingan mereka dimentahkan begitu saja. Aku kesepian, setiap harinya hanya bersama Zico dan pramusiwi suruhan Mama. Seiring pertumbuhannya, Zico pun menjauh dan membuatku merasa sendiri lagi. Kesepian tanpa harapan untuk memenuhi mimpi sendiri, hidupku bagai robot buat mereka.

Dari kecil hingga SMA, mereka yang bisa kusebut teman hanya memandangku sebagai tuan putri dari seorang pengusaha terkenal. Tak sedikit pun usaha mereka memandangku sebagai anak remaja yang juga butuh teman seumuran untuk dengarkan keluhku. Mereka terlalu sopan dan awalnya aku menghargai sikap itu karena aku hanya ingin sosok teman.

Sayangnya, mereka baru bisa tertawa lepas jika aku tak hadir di dekat mereka. Pernah aku dengarkan percakapan mereka diam-diam, dan ekspresi mereka jadi lebih bebas jika tak ada aku di sana. Mereka bisa lepas bicarakan pengalaman liburan, orang yang disuka, bahkan tentang diriku yang mereka anggap seolah keturunan raja. Jurang pemisah ada di sana dan aku benci atas ketidakmampuanku melompatinya.

Beruntung, kamu menambal kosongnya jurang itu. Hanya kamu seorang yang bisa, dan mau meluangkan waktunya, agar bisa berada di sampingku tanpa terhalang status sosial. Kamu mau menggoda batinku, berbagi tawa tanpa acuh siapa diriku ini. Di situlah hangatnya dirimu bisa kurasa sendiri. Aku tahu kamu juga memperlakukan orang lain dengan lepas tanpa sekat sehingga alasanku terdengar biasa buatmu, tapi bagiku, itu luar biasa.

Aku senang bisa ada untukmu dan kamu pun ada untukku. Hari demi hari, semakin banyak cerita muncul dari memori bersama kita berdua.

Apa kamu ingat soal ceritaku hari itu? Tepat di malam hari setelah amukan Papa, sidang keluarga dadakan diadakan paksa di meja makan rumahku. Papa menghakimi tindakanku, menyuruhku mencari lingkar pergaulan yang baik-baik. Kukatakan padanya kalau batinku hanya nyaman jika ada di dekatmu, tapi ia tidak peduli.

Mama menceramahiku, mengingatkan bahwa akulah penerus langsung perusahaan unikorn jasa transportasi yang dibangun Papa dari nol hingga sekarang akhirnya sukses. Omelannya mendesak penerimaanku atas takdir yang sama sekali tak kuharapkan. Doktrinnya terus terngiang di kepala, bahwa aku adalah orang beruntung yang harus bisa bertanggung jawab atas keberuntungan itu, sedang kamu adalah orang jahat yang mencoba merusak segalanya. Tentu saja omongannya kubuang begitu saja mentah-mentah.

Sementara itu, reaksi Zico jadi yang terburuk. Belum selesai ia mendengar penjelasanku, cerocosnya langsung menuduhmu pencuri yang berhasil memperdayaku. Zico mengejekmu, melontarkan sumpah serapah yang kuyakin mengundang reaksi keras Papa dan Mama jika diucapkan ke orang lain selain kamu.

Parahnya, mereka masih menyalahkanmu saat rumah kami disusupi perampok seminggu setelahnya. Si perampok tidak memasuki kamar tidur sehingga sebagian besar barang berharga kami tetap aman, tapi pengeras suara dan beberapa peralatan gimnasium diambil ludes tanpa jejak.

Papa berkeras hati rumahnya mustahil digondol maling, kecuali pelakunya tahu betul tata letak ruangan di rumah ini. Zico terus menuduhmu, berniat menangkapmu untuk dimintai pertanggungjawaban. Mereka juga menyalahkan tindakanku yang ingin menolongmu tempo lalu. Suasana rumah tak nyaman lagi setelah kejadian itu.

Sejak saat itu pulalah aku yakin kalau mereka tak pantas untukku. Mereka tidak peduli padamu, jadi aku pun abai perasaan mereka. Kuturuti perkataan mereka untuk berprestasi di sekolah dan meneruskan pendidikan di jenjang kuliah, tapi diam-diam aku setia dan tetap datang untukmu.

Tetap kudampingi dirimu mencari jati diri. Tetap kudampingi dirimu untuk terus menyambung hidup. Aku senang saat kamu bisa mendapat pekerjaan dan berdiri dengan bangga. Kutemani tangismu, kuharapkan ceriamu untuk bisa kita bagi bersama. Kupinjamkan modal untukmu memulai usaha untukmu menjadi Riki yang mandiri.

Semua itu karena aku cinta padamu, dan buatmu aku rela berkorban apa pun.

Tahun demi tahun, hubunganku dengan keluarga makin erat seiring cemerlangnya prestasi akademikku. Mereka tak tahu relasi kita yang kian padu.

Tepat setelah berstrata dua manajemen dan bisnis, Papa sudah sangat percaya untuk mengajariku langsung tugas-tugasnya sebagai seorang CEO lalu mengangkatku sebagai penerus tepat di tahun berikutnya. Pilihannya tepat, karena Papa jatuh sakit dan mengembus napas terakhir tak lama setelah diangkatnya namaku sebagai pejabat eksekutif yang baru.

Aku ingat tangisku tersedu hari itu, rasanya perih ditinggal dia yang selalu ada di sisiku selama bertahun-tahun. Akhirnya kusadari juga perih yang kaurasakan saat sang nenek meninggalkanmu sebatang kara. Untungnya kamu masih ada untukku, menghibur hariku supaya bisa berdiri dan bergerak maju lagi. Kesedihan itu datang dengan cepat, tapi juga berlalu begitu saja.

Selepas perginya Papa, hanya Mama dan Zico yang tersisa di dalam keluargaku. Bisa kuingat suasana saat aku memberanikan diri perkenalkan dirimu dan bicarakan hubungan kita berdua. Rasanya malu, baru kali itu kuperkenalkan sosok pria yang kucinta bertahun-tahun lamanya.

Saat itu, kupikir mereka mau menerimamu sebagai calon suamiku. Mama dan Zico belum pernah melihatmu, jadi kurasa mereka bisa berpikir lebih jernih. Namun, kecurigaan Zico membongkar semuanya tentang riwayat hubungan kita.

Zico menolakmu. Zico masih menuduhmu penyusup dan perampok. Ia yakin betul meski sudah kukatakan berkali-kali bahwa kamu sudah berubah, tak sebatas berandalan putus sekolah lagi. Sayangnya, mereka mendadak tuli dan menolak acuh terhadapmu. Mereka ingin kamu enyah dan tak pernah lagi tunjukkan muka padaku.

“Kamu juga, kok bisa kena pelet lelaki berengsek begini? Jangan dekat-dekat dia lagi!” Tolakan Mama masih menggema di memori. Suaranya meledak, membakar sumbu emosiku.

Saat itu, aku sudah tidak paham pikiran mereka lagi.

Jika aku menurut, bisakah kamu diam-diam tetap di sisiku? Jika kamu tak lagi di sampingku, akankah aku tetap bahagia? Jika aku bahagia, akankah orang-orang di sekitarku akan turut bahagia dan mendukungku untuk tetap bersamamu? Aku mencintaimu dan aku pun tahu rasamu sama denganku, tapi mengapa mereka memandang rendah dirimu dan menganggap perasaanku untukmu semu?

Apa sesulit itu menapaki jalan yang kupilih atas keinginan sadarku sendiri?

Apa mereka yang meremehkanmu tak bisa enyah saja dari dunia ini?

Ah, andai angan bisa berjalan sesuai harapan, mungkin depresi akan selalu jadi fantasi. Orang-orang pasti sibuk memikirkan keinginan mereka sendiri, terlena asa fana hingga tak punya waktu lagi mencampuri hubunganku denganmu sampai kiamat akhirnya menjemput jua.

Betapa indahnya hidup ini jika Mama dan Zico lupa denganku dan mulai mengukir hidup yang sudah kami miliki sendiri-sendiri. Sayang sekali takdir menempatkanku tinggi di atas sini hingga menyulitkanku menggapai posisimu yang terpaut jauh di bawahku. Kamu, satu-satunya pria yang berhasil buatku kepalang rindu, mereka sebut tak pantas hadir di sisiku. Lucu sekali dunia ini.

Kamulah yang benar-benar mengenalku sejak dulu. Kamulah yang memelukku saat hatiku mati sunyi dalam ramainya sekolah dulu. Kamulah yang selalu ada dengan senyum dan canda lucu tiap hari-hariku membiru pilu, lalu tanpa malu mereka bilang hadirmu tak pantas di sisiku.

Hak apa yang mereka punya sampai berani bilang begitu? Apa mereka Tuhan yang bisa seenaknya hakimi pilihanku?

“Kamu tak tahu posisimu,” kata Mama selalu begitu padaku, padahal Mama pun tahu aku sudah sangat dewasa untuk membuat pilihan sendiri.

Apa posisi pejabat eksekutif yang ditinggalkan Papa untukku ini hanya lelucon semata? Harusnya Mama sadar posisiku sekarang lebih tinggi darinya. Aku bahkan sempat menaikkan nilai saham di atas capaian Papa pada tahun-tahun sebelumnya.

Sebagai putri mendiang bos perusahaan ternama di negeri ini, harusnya aku mampu memilih pendamping hidupku sendiri, tak perlu terbebani pilihan keluarga. Jika capaian dan jabatan justru membebani takdir yang harusnya bisa kupilih sendiri, maka baiknya kulepas saja semuanya.

“Aku pilih Riki,” kataku tanpa ragu. Bersama tiga kata itu, lepaslah semua halanganku untuk memilih takdir sendiri.

Aku mundur dari amanah Papa, memilih hidup bersamamu sebagai satu-satunya kepunyaanku. Tuhan pun merestui dan memberi hadiah tak ternilai yang saat ini masih kukandung, meski hatiku tetap tak tenang mendengar Mama yang jatuh sakit mendengar kabar kehamilan ini.

“Tenang saja,” bisikmu lembut kala itu. “Mama kamu hanya butuh waktu menerima semuanya.”

Aku mengangguk, setuju padamu. Kubulatkan kembali tekad untuk tetap melangkah bersamamu. Dan begitulah, kini kita tinggal bersama di rumah kontrakan yang lebih luas dari rumah nenekmu dulu. Bahkan meski situasi pandemi saat ini memaksamu mencari pekerjaan baru yang masih belum bisa kaudapatkan juga, kutambatkan hati untuk selalu ada di sisimu.

Semua itu karena aku cinta padamu, dan buatmu aku rela berkorban apa pun.

***

Lagi, kilas balik hari nan lalu terngiang lagi dalam mimpiku. Agak tertatih, kupaksa tubuh bangkit dari kasur. Aku terdiam sejenak, perlahan mengatur ritme napas yang makin sesak di trimester akhir kandungan ini. Saat ini pukul sebelas, artinya tiga jam sudah berlalu sejak kepergianmu bertaruh nasib di luar sana.

Aku menghela napas, kesal karena tak mampu berbuat banyak. Sambil berjalan kuraih gadget yang tergeletak di meja, membawanya bersamaku yang segera jatuhkan diri di sofa ruang keluarga. Tombol remot televisi kutekan menyala, lalu mataku beralih pandangi gawai yang tadi kuambil untuk memantau jagat maya.

“Duh, masalah.” Zico mengabarkan kedatangannya siang ini. Sejak mengambil alih posisi CEO dan wira-wiri mengurus Mama, tingkah Zico makin lantang menyangkalku. Masih sering nomornya mengontakku dan meminta pertanggungjawaban, seolah lupa dialah yang membuatku memilih jalan ini.

Dia yang memaksaku memilih keluarga atau kamu, tapi murka sendiri saat kupilih opsi yang paling aku mau. Bahkan sampai sebesar ini, kenapa Zico masih sering menyusahkanku? Apa dia lupa akulah sang kakak yang sering membantunya selesaikan tugas-tugas sekolah? Dasar seludang menolak mayang, sampai kapan aku bisa tenang?

Mendecak, kumatikan lagi layar kaca yang entah tentang apa siarannya tadi. Segera kakiku berdiri dari sofa santai untuk bergegas pastikan pintu terkunci, enggan bertemu adikku itu.

Satu putaran kunci kemudian, kupastikan rumah ini aman darinya. Niatnya pura-pura tidur, secepat mungkin langkahku kembali ke kamar tidur. Sialnya, satu pesan dari Zico melayang masuk ke ponsel di tanganku.

“Aku dengar kunci rumahmu tadi. Jangan pura-pura tidur,” tulisnya membaca polah tingkahku. Sepertinya si tengil ini sembunyi di pojok teras hingga tak tertangkap pandanganku.

“Sabar!” jeritku mengaku kalah bersiasat.

“Mana si berengsek itu?” Baru kubukakan pintu, Zico menerjang masuk tanpa malu.

Aku menunjuk sofa di ruang tamu, mengisyaratkannya untuk duduk dulu. Aku juga duduk di sofa di hadapannya. Wajah Zico merah padam, terbakar emosi sekaligus panas terik matahari.

“Mas Riki lagi di luar, cari kerja.”

“Masih dicari? Dia sebentar lagi punya anak tapi masih belum kerja tetap?”

“Loh sebelumnya dia kerja, kok. Pandemi ini aja yang buat dia mulai dari nol.”

“Intinya sekarang pengangguran, kan?” Zico masih terus mencerocos. “Kalaupun dapat kerja, pasti biaya dan modalnya dari uang Kakak, kan? Bukan usahanya sendiri.”

Aku memilih diam.

Tak mendapat respons, Zico menambah kata. “Kenapa sih kita enggak akhiri semua ini aja, Kak?”

“Maksudnya?”

“Hentikan drama murahan ini. Aku tahu kok dari awal Kakak sama sekali enggak menaruh hati ke bajingan itu. Semua ini cuma jalan Kakak memberontak dari didikan Papa dan Mama, kan?”

“Bukan, Zic.” Dengan nada tenang, kutatap matanya tajam. “Awalnya mungkin begitu, tapi semua sudah beda sekarang. Lupakan Kakak, Zic. Kakak bahagia di sini.”

“Hubungan toxic begini mana bisa

“Satu-satunya hubungan toxic yang Kakak rasakan cuma muncul dari kalian, Zic! Dari Papa, dari Mama, dari kamu!” Kupotong cepat omongannya dengan nada tinggi. Aku sudah muak bualan itu. “Dari dulu kamu bilang toxic toxic toxic. Padahal Kakak selalu bahagia bersama Mas Riki.”

“Justru itulah, Kak! Banyak orang enggak sadar mereka ada di hubungan enggak sehat SAMPAI hubungan itu akhirnya berakhir dan dia tersungkur. Masalahnya, apa bisa Kakak bertahan sampai akhir supaya sadar?” semburnya. “Sudah, deh, Kak. Pulang! Kita bisa rawat bayi Kakak nantinya di rumah. Bajingan itu dikasih minum racun juga mati, kan? Enggak bakal ganggu lagi!”

“Bilang apa kamu tadi?”

Pulang, Kak.” Zico membuat penekanan di kata pertama, mengira aku tak acuh keseluruhan omongannya.

Aku menggigit lidah pelan, tak menduga Zico sebusuk ini. Entah sejak kapan mataku sembab dibuatnya. Zico kecil yang dulu kusayang kini berubah jadi tak lagi bisa kukenal. Setelah banyak menuduh tanpa pernah mengerti kamu, akhirnya sampai juga perangainya pada tahap terendah ini.

Zico sudah berniat membunuhmu, orang yang sepantasnya jadi kakak iparnya sendiri. Jika kubiarkan begitu saja, bukan tak mungkin lagi niat gelapnya berubah jadi aksi nyata.

Aku meringis. Zico lucu yang dulu sering menangis sampai aku takut berbuat salah padanya sekarang berani mengomongkan nyawa.

“Itu aja tujuanmu ke sini?” Aku berucap lirih. Tingkah Zico berubah grogi, mungkin baru sadar betapa salahnya omongan tadi.

“Masih ada, Kak. Kakak mungkin begitu cinta sampai setia sama dia, tapi apa dia pun sama?”

“Kalau soal itu, Kakak juga enggak bisa jawab, kan?” Aku berdiri dari sofa. “Kakak buat minum dulu, ya.”

Sepanjang jalan ke dapur, kakiku gemetaran menahan beban tak keruan. Tiga menit kemudian, kuhidangkan untuknya kopi hitam yang masih kuaduk perlahan.

“Memangnya siang-siang begini Si Riki itu suka minum kopi, Kak?” tanya Zico.

“Yah, kadang, sih. Atau kamu mau kubeliin es tiga rasa yang biasa dari Warung Pak Imam?” Ia tak menjawab, hanya meraih telinga cawan yang kusuguhkan padanya lalu meminum isinya pelan-pelan, menyembunyikan bibirnya dari tanyaku. Hafal sekali diriku akan minuman favoritnya saat kecil dulu.

Melihatnya salah tingkah, kuanggap kopi itu cukup untuknya dan tak perlu ganti hidangan. Tak lama setelah menyeruput kopi yang masih cukup panas itu, Zico mulai mengirim sesuatu ke teleponku.

“Sebenarnya aku enggak mau kirim ini langsung ke Kakak sampai dia datang kemari, tapi rasanya Kakak enggak bakal percaya sampai aku tunjukin ini ke Kakak.”

“Apa ini?”

“Foto-foto kiriman intel yang aku bayar khusus untuk untit si berengsek itu. Sekarang Kakak yakin dia tetap setia dan cuma gunakan uangnya untuk modal kerja?”

Aku tersenyum kecut. Dari fotonya, tampak jelas wajahmu terpampang bersama wanita asing berpakaian terbuka. Kuperbesar sedikit gambarnya, menatap fokus latar tempat foto yang sepertinya diambil dari sebuah kafe mewah. Indah, belum pernah rasanya kamu mengajakku ke tempat seperti itu.

Namun, aku pun masih tak tahu rincian asli sebabmu bersama wanita-wanita itu. Aku juga tak tahu keaslian foto yang dikirimkan bagai petir di siang bolong itu. Kutahan napasku bersama air mata yang hampir meluap jatuh ke pipi.

Entah asli atau palsu, jujur saja hatiku teriris melihat itu. Aku takut salah bertindak, tapi lebih takut lagi jika tak pernah berbuat sebelum akhirnya menyesal. Sekilas keraguan melayang di pikiran, apa pilihanku salah menambatkan hati padamu? Kamu Riki yang sejak dulu jadi pangeran dalam kisahku?

“Kakak enggak apa-apa?” Zico berubah panik. “Ah, harusnya memang kutunggu dulu si berengsek itu pulang ke rumah.”

Kuulur tangan mencegah Zico bangkit dari kursinya, tanganku satunya menyeka air mata. “Santai, Zic. Kakak enggak kenapa-kenapa.”

Pada akhirnya, baik aku maupun Zico sama terdiam dalam kelam. Masih kutahan napas terisak sambil menghapus air mata yang terus mengalir, sedang Zico menahan canggungnya sambil mengangkat cawan.

Kuingat-ingat alasanku bisa sedekat ini bertahun-tahun lamanya, tapi tak satu pun jawaban yang keluar dari memori. Kapan kamu pulang? Aku ingin jawaban darimu secepat mungkin. Sesak, lara, otakku buntu dan hatiku tak menentu sebelum bisa dapatkan jawaban darimu atas tanyaku: Selama ini, apa yang membuatku jatuh hati padamu?

Aku menghela napas. Perlahan mengelus perut sambil menatap kosong Zico yang masih merasa bersalah, kubulatkan tekad untuk tetap berjalan maju. Bagaimanapun juga, nasi sudah menjadi bubur. Apa pun keputusan yang telah kuambil atas kesadaranku sendiri, ke situlah aku akan maju.

“Zic, kamu bilang hubungan toxic itu enggak bakal terasa sampai hubungan itu berakhir, kan?” Zico mengangguk. “Kakak rasa, kita hampir sampai ke titik akhir itu.”

“Maksudnya, Kak? Kakak bakal pulang dan rawat Mama?”

“Ya, Zic. Mungkin Kakak akan pulang.”

Zico bangkit kegirangan. Sambil mengucap syukur akan keberhasilannya membuka mataku, nada bicaranya meningkat seiring waktu. Sadar waktu istirahatnya tak lama lagi, ia lekas pamit dan berterima kasih padaku. Zico berjanji memberitahukan kabar baik itu pada Mama.

Sementara itu, hatiku makin sakit mendengarnya bahagia akan kemenangannya atas dirimu. Aku termenung, memikirkan bagaimana akhir pelayaran dari kapal nasib yang kukemudi sendiri ini. Aku ingin kamu di sini. Sekarang dan saat ini juga. Berjam-jam berlalu atas diamnya batinku merenung, warna mentari pun mulai memerah cerah.

Kudengar langkahmu dari luar sana, mengetuk pintu yang setengah terbuka sebelum akhirnya menerima pelukan dadakanku yang menerjang langsung ke dadamu. Kamu terkejut, mencoba hindari terjanganku seperti biasa sehabis pulangmu berkeringat mencari kerja. Sayangnya, kali ini aku tidak peduli.

Kudekap erat tubuhmu, lalu muncullah aroma yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Segera setelahnya, hangat ragamu menjalar cepat ke seluruh saraf yang berfungsi aktif dalam sistemku. Tepat di detik inilah aku teringat akan semua perilakumu.

Langsung kuingat segala tingkah manismu. Langsung kuingat hangatnya dekapanmu untuk jiwaku. Langsung kuingat bahwa kamulah satu-satunya yang berhasil mengerti aku serta pahami keluh kesahku. Hanya karena kiriman foto, bodohnya aku bisa lupakan hangatnya dirimu dalam hidupku.

Di saat itu juga, kusadari isakmu menggejolak dari dada. “Kenapa kamu nangis?” tanyaku masih bernapas sendu.

“Kamu juga kok nangis?” Masih sambil merengek, kedua tanganmu memegang bahuku erat. “Kalau kita berdua nangis, terus siapa dong yang dengerin cerita tangisan kita? Masa dedeknya yang mau dengerin ayah-ibu ngambek?”

Tangisku pecah menjadi tawa, momen dramatis hilang begitu saja oleh cengar-cengir jelekku. Tangismu pun sama berubah lucu, kita berdua justru tertawa setelahnya.

“Jadi, kenapa kamu nangis?” tanyamu penasaran.

“Eng enggak apa-apa, kok. Waktu peluk kamu tadi, aku baru ingat semuanya.”

“Ingat apa?”

“Rahasia,” kataku centil. “Kamu sendiri, kenapa?”

“Maaf, Sayang,” tuturmu lirih. “Aku kena tipu. Modal kita dikuras habis sama rekanku yang sudah pergi jauh.”

“Rekanmu itu perempuan? Kira-kira lebih tinggi dari aku? Rambutnya lurus panjang?”

“I Iya, Sayang. Itu rekanku yang sudah deal bantu aku jadi makelar mobil. Eh, uangku dibawa lari.”

Nah, kan, bodohnya aku. Orang bayaran Zico pun tak becus mencari info serinci mungkin. Perempuan itu bukan siapa-siapa buatmu, hanya rekan kerja yang kebetulan penipu busuk. Menggelak, aku tertawa dalam hati.

Menggelak, aku tertawa dalam hati. Sudah kuduga itu hanya salah satu usaha Zico melepas jangkar takdirku yang tertambat kuat padamu. Zico hanya ingin menarikku kembali ke lingkaran setan itu lagi, dan sebagaimana perkataannya, ia tak sadar tindakannya adalah bukti hubungan tak sehat yang tak akan terasa sampai hubungan itu benar-benar akan berakhir.

Sampai kapan pun aku tak akan kembali ke lingkaran hitam itu lagi. Tidak, kecuali Mas Riki ada di sampingku untuk hadapi beban-beban hidupku.

“Omong-omong, kok kamu tahu?” tanyamu keheranan, yang segera kurespons gelengan ringan.

“Nebak-nebak aja, sih, Mas. Itu benar uang modalnya benar habis semua?”

“Iya, aku minta maaf, Sayang. Enggak lama lagi pasti aku ganti.”

“Tenang, Mas. Uang begitu masih bisa dicari,” ucapku sambil dekati tubuhmu lagi. “Aku juga punya kabar kerjaan untuk Mas di perusahaan papaku.”

Refleks, lenganmu mendekap tubuhku yang makin dekati ragamu rapat. Mata kita tertaut satu sama lain. Pupil matamu tampak membesar segera setelah kaucerna ucapanku beberapa saat kemudian. Setelahnya, rentetan tanya penasaranmu membuatku geli ingin menahan jawaban.

“Memangnya ada yang cocok untukku, Yang? Terus adikmu jadi pejabat eksekutif tunggal di sana, kan? Apa dia mau terima aku di perusahaannya?”

“Tenang, Mas. Tenang!” kataku sembari menyisir rambut berpeluhmu dengan tanganku. Kudorong wajahku mendekati telingamu, perlahan bisikkan penjelasanku. “Mulai besok, kamu CEO-nya.”

Ya, hubunganku dengan Zico akan resmi berakhir bersama napasnya yang terakhir. Tak bisa kuabaikan niatnya yang mungkin mencelakakanmu suatu hari nanti. Sedikit harapku pada adikku itu, semoga ia bisa sadar bahwa hubunganku dengannya tak pernah sehat sejak dulu. Sama seperti ucapannya, hubungan tak sehat akan terasa sehat sampai benar-benar menyentuh akhir.

Sedang buatmu, Mas Riki, hubungan kita akan terus berlanjut karena kamulah satu-satunya cahaya hangat buatku. Semua itu karena aku cinta padamu, dan buatmu aku rela berkorban apa pun.

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!