Kedai Kopi Spesial
8.4
2
63

Pernahkah kamu merasa tertarik dengan seseorang meskipun hanya melihat orang tersebut beberapa kali? Hal yang sama terjadi pada Rina, gadis yang bekerja di kedai kopi itu merasa tertarik pada salah satu pelanggan setia kafe-nya. Akankah dia memberanikan diri untuk berkenalan? Atau tetap menjadi seseorang yang menatap laki-laki itu dari kejauhan?

No comments found.

Enam bulan telah berlalu semenjak pertama kali aku bekerja di kedai kopi ini. Ada banyak hal yang kupelajari disini. Mulai dari cara menyajikan kopi kepada pelanggan dengan baik, mengoperasikan mesin kasir, hingga membuat kopi melalui mesin kopi. Yang tidak kalah menarik disini, yaitu pelanggannya. Setiap hari, puluhan orang datang ke kedai kopi ini. Ada yang datang untuk menikmati secangkir kopi, ada juga yang membeli minuman non-kopi. Selera setiap orang memang berbeda-beda, tetapi aku jadi mulai mengenal kalangan umur berapa saja yang sering membeli varian kopi dan sebaliknya yaitu kalangan umur berapa saja yang lebih suka membeli varian non-kopi. Aku juga mulai hafal menu kopi mana saja yang sering dibeli dipilih pelanggan dan menu mana saja yang jarang dipilih oleh pelanggan.

Kedai kopi tempatku bekerja ini memang tidaklah besar, tetapi tempatnya bisa dibilang cukup nyaman untuk sekedar bersantai atau mengerjakan tugas. Tidak sedikit beberapa pelanggan yang singgah memutuskan menjadi pelanggan setia kedai kopi ini. Mereka biasanya datang hampir setiap hari dan seringkali membeli minuman dengan varian yang sama. Salah satunya adalah Andi. Laki-laki yang terlihat berusia 20-an itu hampir setiap hari singgah ke kedai kopi ini untuk membeli segelas iced coffee latte. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptopnya. Kursi di pojok menghadap jendela luar sudah menjadi tempat favoritnya. 

“Atas nama Andi” ujarku lantang sambil meletakkan iced coffee latte pesanan Andi diatas meja tempat pengambilan minuman yang sudah dipesan pelanggan. Sang pemilik nama segera beranjak dari kursi tempat ia duduk dan melangkah menuju meja di depanku.

Iced coffee latte satu, ya? Silakan minumannya” ujarku sambil menyodorkan minuman yang ia pesan dengan menyunggingkan sebuah senyuman.

“Terima kasih” balasnya diikuti dengan sebuah senyuman juga. Sebuah senyuman yang tidak terlalu lebar dan tidak terlalu tipis. Sebuah senyuman manis yang pas dan menunjukkan bahwa dia adalah pribadi yang cukup ramah. Tanpa Andi sadari, kehadirannya tiap di kedai kopi ini tidak pernah gagal meringankan lelahku yang seharian menyajikan kopi ini. Sayang sekali kami belum pernah berkenalan secara langsung. Hanya nama panggilannya saja yang kuketahui. Itu juga karena sebuah kewajiban dari seorang kasir untuk menanyakan nama pelanggan. Hal ini untuk mempermudah pemanggilan nama pelanggan saat pesanan kopi mereka sudah jadi. 

“Ajak kenalan sana! Bisanya masa lihat terus setiap hari” celetuk Almira, temanku itu memang sudah tahu jika aku tertarik dengan Andi.

“Enggak mau, lah! Nanti dia ilfeel sama aku” ujarku sekenanya. Namun memang itu adalah salah satu alasan mengapa aku tidak ingin berkenalan secara langsung dengannya.

“Yah alasan! Pegawai kedai kopi itu biasa, Rin, ngajak ngobrol pelanggan” ujar Almira masih berusaha mencoba membujukku.

“Kenalan sendiri sana!” ujarku diiringi dengan tawa ringan

“Lihat aja! Nanti nyesel kalo aku duluan yang kenalan sama dia”

⇸⇸ ⇷⇷

Keesokan harinya sekitar pukul 5 sore, Andi memasuki kedai kopi ini. Melihatnya membuka pintu dan berjalan ke arahku, aku langsung berdiri tegak dan mengembangkan sebuah senyuman.

“Selamat datang! Silakan, mau pesan apa?” ujarku dengan nada se-ramah mungkin layaknya seorang kasir yang menanyakan pesanan kepada pelanggan seperti biasanya. Tentu saja tidak ada maksud tersembunyi. Sementara itu, orang yang kutanya sedang asyik membuka-buka buku menu.

Iced americano satu” ujarnya. Rupanya kali ini ia memesan minuman lain. 

Iced americano satu, ya. Baik, ada lagi yang mau dipesan? Mungkin snacks atau makanan beratnya?” tanyaku. Andi nampak diam dan melihat menu makanan secara saksama.

“Yang paling recommended apa, ya?” tanyanya.

“Untuk snack yang paling sering dipesan ada kentang goreng dan roti panggang. Untuk makanan beratnya ada nasi gila sosis telur dan nasi ayam rempah” balasku sambil menunjuk makanan yang kumaksud pada gambar yang terletak di buku menu.

“Nasi ayam rempah satu, ya” ujarnya.

“Baik. Jadi pesanannya iced americano satu dan nasi ayam rempah satu. Totalnya 43 ribu” terangku yang dibarengi dengan Andi yang mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah dari dompetnya. Setelah memberikan uang kembalian sejumlah tujuh ribu rupiah, aku menanyakan nama orang yang sedang berdiri di depanku ini untuk ditulis di atas cup kopi pesanan miliknya. Meskipun sebenarnya tanpa bertanya pun, aku sudah hafal dengan nama panggilannya itu. 

“Atas nama siapa?” tanyaku.

“Andi” balasnya.

“Baik, terima kasih kak Andi” ujarku masih dengan senyuman di raut wajahku. Sementara Andi bergegas menuju tempat duduk favoritnya di pojok menghadap jendela luar, aku segera menyiapkan segelas iced americano pesanan miliknya. Berikutnya, aku segera mengantarkan minuman pesanan Andi menuju mejanya. Sementara itu, pesanan nasi ayam rempah milik Andi akan diantarkan oleh Almira setelah selesai dimasak. Begitu prosedur kedai kopi kami ini. Minuman diantarkan terlebih dahulu kepada pelanggan dan makanan akan diantarkan kemudian. Hal ini mencegah pelanggan merasa pelayanan yang terlalu lama.

Empat jam telah berlalu. Jam tanganku menunjukkan pukul sembilan malam yang menandakan satu jam lagi kedai kopi ini akan tutup. Kulihat Andi mengemasi barang-barangnya ke dalam tas, termasuk laptop hitam yang senantiasa menemaninya setiap hari. Alih-alih langsung pergi melewati pintu keluar, Andi berjalan menuju kasir. Mungkin dia ingin membeli kopi untuk dibawa pulang, begitu pikirku. Tepat sebelum aku mengucapkan sepatah kata, Andi sudah mengucapkan beberapa kata yang membuatku terkejut.

“Sudah aku follow back, ya” ujarnya sambil tersenyum sedikit lebih lebar dari biasanya. Follow back? Aku merasa tidak pernah mengikuti akun media sosial miliknya. Kenapa laki-laki di depanku ini berkata demikian? Aku merasa terkejut sekaligus sangat bingung. Tiba-tiba Almira muncul di sebelahku sambil berkata,

“Wah, mau juga dong di follow!” ujar Almira sambil menaikkan kedua alis matanya menghadapku. Sementara itu, aku bergegas membuka ponsel dan membuka akun media sosial milikku. Rupanya benar bahwa Andi sudah mengikuti balik akun milikku. Pertanyaannya, kapan aku mulai mengikuti instagram Andi? Padahal aku tidak pernah tahu apa nama akun milik Andi sebelumnya.

“Kita belum pernah kenalan langsung, ya? Namaku Andi” ujarnya sambil mengulurkan tangannya kepadaku untuk bersalaman. Masih memproses apa yang sedang terjadi saat ini, Almira menyenggol siku lenganku sebagai tanda untuk menerima uluran salam dari Andi.

“Rina” balasku dengan tawa ringan yang terdengar canggung.

“Aku Almira” ujar Almira ikut bersalaman dengan Andi.

“Tahu gitu aku kenalan sama barista-barista disini dari dulu, ya. Bosen juga kadang kalo sendirian disini ngerjain tugas” ujar Andi terdengar ramah.

“Hehe harusnya gitu, kak! Barista disini asyik-asyik kok buat diajak ngobrol” ujar Almira.

Setelah berkenalan dan berbincang-bincang ringan bersama, Andi akhirnya meninggalkan kafe ini. Aku segera menuntut penjelasan dari Almira. Dari tadi dia terlihat ‘menikmati’ diriku yang sedang kebingungan.

“Mir! Ini pasti kamu, kan, yang iseng follow kak Andi!” tuntutku

“Ya, siapa lagi! Salah sendiri, sih, disuruh kenalan lama banget” balasnya dengan cengengesan. Rupanya tanpa sepengetahuanku, Almira mengambil ponselku secara diam-diam dan mengikuti akun media sosial milik Andi. Setelah itu, ia menuliskan pesan singkat bertuliskan ‘Follow back, ya kak!’ yang diikuti dengan nama akun media sosialku di bawahnya melalui secarik kertas. Kemudian kertas itu diberikan pada Andi saat mengantarkan pesanan makanan miliknya.

“Iseng banget, deh! Nanti orangnya malah ilfeel terus enggak mau balik kesini lagi gimana!” balasku cerewet. Namun, aku memang takut Andi menganggapku sebagai seseorang yang sok asyik. 

“Enggak, Rin, tenang aja deh! Kamu itu emang kebanyakan overthinking!” balas Almira enteng.

⇸⇸ ⇷⇷

Tidak seperti biasanya, hari itu Andi datang lebih cepat. Seperti biasa Andi menyebutkan menu kopi yang ia inginkan di depan meja kasir. Namun ada yang berbeda semenjak kejadian itu. Kejadian dimana keisengan Almira membawaku dapat berkenalan dengan Andi. Kini, Andi lebih memilih untuk duduk di meja dekat kasir daripada meja pojok di dekat jendela. Tak hanya itu, biasanya, ketika aku mengantarkan kopi pesanan miliknya, Andi akan mengajakku mengobrol sebentar. Sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Dapat berkenalan bahkan mengobrol cukup lama dengan seseorang yang kukagumi. 

Percakapan sore antara diriku dengan Andi membawaku dapat mengenal lebih dekat laki-laki berkacamata yang seringkali mengenakan jaket denim itu. Rupanya ia mahasiswa semester akhir di kampus dekat kafe ini. Oleh karena itu, Andi sering menghabiskan waktunya di kafe ini, entah itu untuk mengerjakan tugas akhir maupun sekedar bersantai. Meskipun sekadar berbincang-bincang ringan, aku menikmati setiap obrolan soreku dengannya.

“Kalau kamu, kenapa suka kopi?” tanya Andi di tengah-tengah obrolan kami.

“Aku ngerasa kopi itu unik” balasku singkat.

“Kenapa kok gitu?”

“Bagi orang-orang, kopi itu identik sama pahit, kan, tapi uniknya pas udah sekali dua kali minum kopi itu nagih! Gimana, ya, justru pahitnya kopi tuh nikmat. Setuju enggak, kak?”

“Haha! Setuju banget, sih. Sekarang kalau sehari enggak minum kopi rasanya kayak kurang!”

“Iya, kan! Terus tiap minum kopi itu rasanya otak diajak mikir. Bukan cuma ngilangin kantuk, tapi kalau habis minum kopi itu rasanya lebih semangat, ide buat ngelakuin sesuatu rasanya ngalir, gitu!”

“Berarti idemu ngalir terus dong, ya! Kan minum kopi terus disini. Besok-besok bantu ngerjain skripsi-ku, gih!”

“Ya, enggak gitu juga, kak!”

Diiringi dengan rintik-rintik hujan, sore itu aku mengobrol cukup panjang dengan Andi. Keadaan kafe yang tidak terlalu banyak pengunjung juga seolah-olah mendukungku untuk terus menghabiskan waktu bersama Andi. 

⇸⇸ ⇷⇷

Seiring dengan pertemananku dan Andi yang semakin erat, kekhawatiran juga semakin sering mengganggu pikiranku. Berkali-kali aku mengingatkan diriku sendiri bahwa aku hanyalah seorang teman ngobrol yang digunakan untuk mengusir kebosanan. Sudah seharusnya aku tidak berekspektasi lebih terhadap hubunganku dengannya. Aku juga harus siap untuk berpisah dengannya yang bukan siapa-siapaku tersebut. Hingga akhirnya, kekhawatiran itu terjadi.

Dua hari yang lalu, Andi membagikan kabar baik bahwa dirinya akan wisuda pada Sabtu ini. Tentu saja aku ikut senang dengan pencapaiannya. Namun, aku terus saja khawatir bagaimana jika Andi kembali ke kota asalnya dan aku tidak dapat bertemu dengannya kembali. Aku belum siap untuk menghadapi hal tersebut terjadi.

“Kak Andi belum datang juga, Rin?” tanya Almira. Ia mengerti bahwa sedari tadi aku menunggu kedatangan Andi di kafe untuk mengucapkan selamat dan memberikan hadiah yang telah kusiapkan. 

“Belum, Mir. Tapi kemarin lusa itu udah janji bakal dateng kesini. Soalnya dia kan tahu, aku enggak bisa ninggalin kafe” jawabku dengan ekspresi agak cemas. Sudah dua jam aku menunggu kedatangannya.

“Ya sudah, mending kamu langsung ke kampusnya, deh. Naik motor enggak ada lima menit sampai, tuh. Kafe biar aku jaga sendiri, deh!”

Akhirnya aku mengikuti saran Almira untuk pergi ke kampus Andi. Suasana kampus terlihat ramai. Banyak wisudawan berfoto di area kampus, khususnya di depan gedung rektorat. Aku mencoba mencari Andi di antara banyaknya orang disana. Namun, hasilnya nihil. Berikutnya, aku coba untuk menelepon Andi, tetapi juga tidak diangkat. Setelah menunggu sekitar satu jam dan masih saja terikat ketidakpastian, aku memutuskan kembali ke kafe.

⇸⇸ ⇷⇷

Suasana hatiku benar-benar buruk. Bukan hanya tidak dapat bertemu dengan Andi yang menjadi penyebabnya, tetapi aku sudah menunggu terlalu lama. Energiku rasanya terkuras habis atas sesuatu yang sia-sia. Aku duduk di salah satu meja pelanggan dengan segelas iced chocolate di tanganku. Almira membuatkannya cuma-cuma untukku, katanya segelas es coklat dapat memulihkan mood yang memburuk. Namun, aku belum meminumnya sedikit pun sampai Almira datang.

“Jangan diem terus dong, Rin” ujarnya perlahan setelah duduk tepat di depanku.

“Iya. Aku cuma capek aja kok” balasku dengan memberikan senyuman tipis.

“Mungkin dia lagi sibuk sampai lupa kalo ada janji sama kamu. Besok pasti kesini lagi” ujar Almira. Namun entah mengapa, firasatku mengatakan bahwa ia tidak akan datang ke kafe ini besok. Maupun besok lusa, satu minggu lagi, satu bulan lagi, dan seterusnya. 

Keesokan harinya, dia benar-benar tidak datang seperti perkataan firasatku kemarin. Setidaknya aku tidak terlalu kecewa karena tidak mengharap kedatangannya. Sayang sekali mood-ku tetap memburuk setelah melihat status yang diunggah Andi kemarin. Tampak foto dua orang mengenakan baju toga tersenyum sangat cerah ke arah kamera. Dua orang itu adalah Andi dan seorang wanita yang tak kukenal. Dia sangat cantik dan cocok dengan Andi. kurasa wanita itu adalah pacarnya. Tulisan kecil ‘We did it, babe!’ semakin menguatkan teori yang kubuat bahwa mereka memiliki sebuah hubungan spesial. Aku menghela nafas panjang. Seharusnya aku sadar, bahwa dari awal aku memang tidak punya kesempatan.

⇸⇸ ⇷⇷

Enam bulan kemudian. 

 

Sepulang dari kampus, seperti biasa aku bergegas menuju kedai kopi tempatku bekerja. Kini, aku menjadi seorang mahasiwa semester satu. Aku mengejar kembali impianku untuk menjadi seorang lulusan sarjana manajemen, setelah tahun sebelumnya gagal masuk perguruan tinggi negeri. Kuliah sekaligus bekerja memang melelahkan, tetapi aku menikmati setiap aktivitasku. Aku menjadi lebih bersemangat untuk mengejar berbagai impian yang kudambakan. Tidak ada lagi diriku yang tiap hari hanya menanti kedatangan seorang laki-laki yang bahkan tidak terlalu kukenal. Aku menjadi lebih egois. Egois untuk menjadi seseorang yang lebih baik dan lebih bahagia.

Lalu, bagaimana dengan kisah cintaku? Tentu saja aku juga menantikannya, tetapi tidak sekarang. Akan ada waktu yang tepat untuk bertemu dengan seseorang yang kucintai dan tentunya mencintaiku juga. Akan ada hal-hal baik menungguku di waktu yang tepat. 

 

(Tamat)

⇸⇸ ⇷⇷

 

 

Terima kasih telah membaca cerita ini. Jangan lupa memberikan like dan comment.

Sampai jumpa di cerita berikutnya!

 

 

 

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!