Kedai Susu
7.8
2
58

Satu tahun lalu adalah pertemuan antara Risa dan Ivan. Kini hari demi hari mereka semakin dekat, mengahabiskan waktu bersama setiap akhir pekan. Akankah kedua sahabat ini memiliki perasaan "lebih" satu sama lain?

No comments found.

Secangkir susu murni telah tiba. Seseorang telah mengantarnya. Dia menyambutku dengan senyumnya.

“Seperti biasa, susu putih pesananmu telah siap untuk dinikmati.” Ucapnya, dengan senyum khas yang merekah. Bak bunga yang baru saja mekar di musim semi. Hangat nan indah.

Aku balik tersenyum kepadanya, dan menjawab, “Terima kasih, Van.” Lalu, dia kembali ke tempatnya, untuk menyiapkan pesanan lain.

Dia sudah sangat terbiasa dengan kehadiranku setiap malam. Tanpa berucap pun ia tahu aku akan memesan susu putih. Dan, jika aku merasa perutku sudah bersuara, dia tahu, aku akan memesan cemilan favoritku, yaitu tahu goreng crispy.

Tempat ini sudah menjadi tempat peralihanku dari hirup pikuk dunia. Bukan, bukan tempat untuk bersandar, karena hanya Tuhanlah sebaik-baik tempat bersandar. Tempat ini, hanya saja begitu nyaman untuk berdiam, berpikir, dan merenung. Sebuah kedai kecil yang diberi nama Kedai Karmila oleh Sang Tuan Pemilik. Aku teringat, ketika pertama kali aku mendengar nama ini, terdengar sangat unik, berbeda dari kedai pada umumnya, yang kebanyakan menggunakan nama-nama modern dan kebarat-baratan. Aku sangat suka dengan hal unik, dan berbeda dari yang lain.

Akhirnya, jam menunjukkan pukul 10.00 malam. Tak terasa, aku sudah menghabiskan waktu di kedai ini selama tiga jam. Aku begitu menikmati waktuku menghabiskan malam di kedai ini, dengan menulis dan menggambar di tablet digitalku.

Mungkin, aku belum menjelaskan kepada kalian, tujuanku datang ke kedai ini, selain untuk menenangkan diri, aku pun mencari sebuah inspirasi untuk novel yang sedang aku tulis. Novel apa yang sedang ku tulis? Mungkin aku belum bisa menjawabnya.

Aku segera membereskan barang-barangku, dan bergegas untuk pergi. Kali ini, aku pulang lebih cepat dari biasanya, karena besok aku harus melakukan pertemuan penting dengan seseorang.

“Semuanya tiga puluh ribu. Ya kan Van?” Aku mendahului Ivan. Dan dia tersenyum.

“Semua pesananmu sudah ku bayar. Segeralah pulang, Ris. Sepertinya, sebentar lagi akan turun hujan.” Jawab Ivan.

“Tidak, aku tidak ingin merepotkanmu, Van.” Aku memberikan uang kertas kepadanya, dan segera pamit untuk pulang. Namun, Ivan menahanku pergi.

“Kamu tahu kan Ris, Aku sudah berjanji akan mentraktirmu.” Jelas Ivan.

“Tidak, Van. Simpan saja uang itu untuk keperluan mendesak. Terima kasih atas tawaranmu.” Aku beranjak pergi dari hadapan Ivan.

Aku bertemu Ivan satu tahun lalu, di kedai ini. Dia seorang barista, dan aku seorang pelanggan. Setiap malam, aku berkunjung ke kedai hanya sebatas untuk berdiam diri, atau hanya menikmati susu murni hangat. Aku pun menjadi lebih dekat dengannya. Dan poin tambahannya, aku menjadi pelanggan tetap kedai ini.

Ivan dua tahun lebih tua dariku. Namun, ia enggan untuk dipanggil “Mas” olehku.

“Panggil saja Ivan.” Dengan nada yang begitu dingin.

Aku merasa ia tidak nyaman jika ku panggil dengan sebutan “Mas”.

Hari demi hari aku dan Ivan semakin dekat. Layaknya sahabat, kita selalu menghabiskan waktu bersama di akhir pekan. Ivan sangat suka menonton film, dan aku sangat suka membaca buku fiksi. Maka, akhir pekan kami pun diisi dengan pergi ke bioskop, atau pergi ke toko buku dan perpustakaan.

Ivan tak pernah merasa bosan jika aku mengajaknya ke perpustakaan atau pergi berbelanja buku. Ia malah ikut membelikan buku dan merekomendasikan buku pilihannya.

“Lihatlah, ini genre buku kesukaanmu, tentang seorang wanita cerdas dan tangguh yang tiba-tiba harus mengikuti sebuah permainan mematikan.” Ucap Ivan pada saat itu di toko buku. Matanya berbinar seolah ia telah menemukan harta karun. Aku heran, harusnya itu aku yang merasa sangat senang. Tapi Ivan jauh lebih senang dari dugaanku.

Ivan sangat tahu tentang semua hal yang aku suka, dan hal yang aku tak suka. Aku mengagumi sikapnya. Begitu perhatiannya Ivan dengan hal-hal kecil yang bahkan aku sendiri pun kadang tidak melihat, dan memperhatikannya.

Aku sangat bersyukur memiliki sahabat sepertinya. Namun, saat itu, saat aku bercerita kepadanya bahwa aku merasa patah hati, karena melihat orang yang aku sukai berjalan dan bergandengan tangan dengan perempuan lain. Ivan tidak mencoba untuk menghiburku atau menenangkanku. Ia malah mengungkapkan perasaannya kepadaku.

“Sudahlah, kamu tak perlu memikirkannya lagi. Biar kamu pikirkan aku saat ini. Orang yang mencintaimu.” Ungkapnya.

Aku yang saat itu mendengar ucapannya. Seketika, terdiam seribu bahasa.

“Aku tahu, kamu hanya menganggapku sahabat Ris. Tapi lihatlah aku saat ini. Lihatlah perasaanku. Jangan kau lihat lelaki bajingan itu lagi, aku tak sanggup melihatmu sakit hati seperti ini, Risa.” Luapan isi hati Ivan terlihat jelas dari sorotan matanya.

Aku sontak menampar Ivan, saat ia bilang bahwa Angga, orang yang aku suka, dengan sebutan “bajingan”. Sorot amarahku terlihat jelas dari kedua bola mataku. Bak api yang sedang membara.

“Kamu tidak berhak menyebutnya bajingan!” Jelasku dengan penuh amarah.

Ivan menjawab, “Jika ia bukan bajingan, mengapa ia meninggalkanmu? Mendekatimu hanya untuk memanfaatkanmu saja.”

Kepalaku sudah sangat berat. Begitupun dengan hatiku yang sudah tak karuan. Aku tak ingin memperpanjang pertikaian ini dengan Ivan. Aku tak ingin persahabatan ini hancur. Maka dari itu, aku pergi dari hadapannya.

Selama satu bulan kami tak pernah bertemu, bertukar pesan pun tidak. Dan aku, tidak pergi ke kedai saat itu. Mengerjakan semua pekerjaan hanya di rumah.

Dua bulan setelah pertikaian itu, Ivan meneleponku. Dengan nada cemas ia berkata, “Ris, bolehkah aku minta tolong, Molly akan melahirkan, aku tidak tahu harus bagaimana, aku mohon, datanglah ke rumahku.”

Aku tersenyum. Mengingat bahwa Ivan begitu menyayangi kucingnya. Dalam hati aku berkata, “Tentulah aku akan membantumu.”

Namun, dengan nada dingin, aku menjawab, “Baiklah, aku segera pergi.”

Saat telah tiba di rumahnya, benar saja, Molly sedang berbaring lemas, dan bernapas dengan sangat payah. Aku menyuruh Ivan untuk mempersiapkan kain hangat untuk disimpan di kandang Molly. Setelah semuanya siap, aku meminta Ivan untuk mengambil makanan Molly. Kucing hamil biasanya harus makan lebih banyak dari biasanya. Setelah Molly diberi makan dan minum, akhirnya ia sedikit lebih tenang. Aku usap perutnya dengan sangat lembut. Berharap anaknya lahir dengan lancar, sehat dan sempurna. Aku yakin mereka akan lucu seperti ibunya.

Aku mendengar langkah yang sedang mendekat. Ivan mendekatiku, ikut duduk bersamaku, lalu mengusap perut Molly.

“Kira-kira anaknya ada berapa?” Ivan mengawali pembicaraan setelah sekian lama kami tidak berbicara.

“Mungkin tiga.” Singkatku.

“Gimana kalau kita taruhan. Kalau kalah, harus mentraktir.” Ucap Ivan.

Kami pun tersenyum. Dengan semangat aku menjawab, “Oke, siapa takut.”

Karena sudah malam, aku pamit untuk pulang. Sebelumnya, aku memberi arahan agar Ivan selalu memperhatikan setiap gerak-gerik Molly.

“Jika terjadi sesuatu, kamu bisa meneleponku. Tidak usah sungkan.” Jelasku, mencoba menenangkan Ivan.

Keesokan hari, di pagi hari. Aku mendapat sebuah pesan dari Ivan.

“Kamu benar, Molly melahirkan tiga anak. Nanti aku akan mentraktirmu.”

Sebenarnya, aku sangat senang, karena sekarang aku dan Ivan sudah baikan, kembali berbicara dan bersenda gurau. Namun, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan Ivan, karena telah menolak tawarannya. Hanya saja, aku takut, aku akan menyakiti perasaannya, dan membuat perasaanya semakin dalam mencintaiku. Untuk saat ini, perasaanku masih tertuju pada Angga. Aku ingin melupakan Angga, tanpa harus melibatkan perasaan Ivan. Aku tidak ingin menjadikan Ivan sebagai pelampiasan.

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!