Keluh Peluh Puan Ruam
11
0
88

Ketika keluh puan tak pernah didengar, maka sadarlah ia bukan orang yang tepat untuk menampung semua keluh kesah. Ketika peluh puan tidak terlihat lagi oleh matanya, maka ada sedikit harga yang hilang dari diri puan dan mari seka peluh itu sama-sama.

No comments found.

Keluh Peluh Puan Ruam

(Allice Jelah)

 

Ketika aku bukan lagi orang yang membuatmu nyaman dalam bercerita. Maka jadikan aku sebagai bukti fisik saat kau mampu membaca aksara. Bukan perihal umur. Tapi egoku menghapus warna. Membasuh luka.

Goresan tangan yang sengaja kau baca. Simbol, suara tak mampu lagi menerjemahkan maksud kehendak. Aku sudah menyerah. Tak mampu.
Cukup. Cintaku sampai di sini. Mati.

Aku gadis yang bodoh dalam mengenal cinta. Kau tanam benih, pupuk hingga layu. Berbunga saja tidak mampu. Aku mati dalam pelukmu.

Syair bodoh!
Hyuna, 25 tahun di bulan Juni. Aku lupa saat hari lahirku. Entah senin atau selasa? Pertengahan kata Mama. Persisis 23.59. Ingin pergantian hari dan tanggal. Aku berada dititik puncak.

Air mata deras dari rengekan seorang rahim ibu yang kuat dan tegar. Aku pribadi bukan korban broken home atau berada dalam hubungan yang toxic. Otakku yang sakit, fisikku menarik.

To be continue…
Tolong, maaf, permisi, terima kasih.
4 kata ajaib. Sebenarnya 5 sempurna. 1 kulupakan yaitu meminta izin.

Awal kata tolong yang kau ajarkan mengenai, “Sayang, tolong jadi kekasihku seutuhnya”.
Kedua, “Maaf, aku tidak bisa menerima keburukanmu”.
Ketiga, “Permisi, bolehkah aku meminta hatimu seutuhnya?”
Keempat, “Terima kasih atas waktu yang kau berikan dengan percuma bersamaku”.
Dan yang terakhir, kau lupa untuk meminta izin serta menanyakan, “Bolehkah aku mengambil alih kehidupanmu setelah menikah denganku?” Tanpa kujawab kau telah merenggutnya.

Bullshit!!!
Aku hanya terpaku menatap gelas kosong yang tertancap sendok putih. Mataku sembab ketika mengingat momentum manis itu. Cuihhh. Ludahku mendarat ke dalam mug yang kau jilat saat susu hangat coklat meleleh dengan marshmellow.

Jangan kotor, aku cuma merileksasikan pikiranku setelah bekerja setengah hari. Menghadapi anak-anak tidaklah mudah. Aku berpura-pura bahagia di depan mereka dan menciptakan suasana riang gembira.

***

14.00. Waktu yang tepat untukku bersantai. Rokok bukan penghalang untuk kepalaku yang pening. Jarang-jarang aku menaruh tembakau ke bibir sendiri di depan orang banyak. Masih dengan seragam lengkap. Nickname yang cuma terlihat 1/4. Zoe-

Zoelkiply. Nama yang jelas. Zul mama memanggilku. Zoe panggilan di tempat kerja. Aku seorang psikolog skaligus intel dadakan yang menerapi keadaan mentalku sendiri. Orang lain hanya lembaran cerita dari masalah kecil yang kualami.

Ayah dari luar negeri. Kata mama ayah seorang psikopat. Yang mampu membunuh karakter setiap orang hanya karena menatapnya diam-diam.
Aku kurang jelas.

Hanya 1 foto yang kusimpan. Foto ayah bersama mama dalam kapal pesiar. Menikmati minuman bersoda, entah melakukan dosa atau berdoa. Semua hanya klise. Bohong, aku yang bohong. Canduku terlalu bergaurah dengan patung di sudut arah itu. Ya! Dewi Keadilan.

Menciptakan kehidupan sendiri itu sulit. Mau membuat pondasi yang kuat tapi lupa cara angin bekerja. Atau api yang melalap?
Katanya semesta tak mengizinkan jiwa Mama dan Ayah bersatu padu.
Buktinya tercipta panggung orkestra yang hanya ditonton oleh sepasang bola mata. Yaitu “aku” yang membaca setiap dialog. Entah dialog tubuh, sorot mata, hembusan napas, bahkan dialog tak bersuara.
Langkah kaki dengan gelang kaki seakan mengarah ke tempat kududuk. Saat kuacungi jempol ia bersembunyi.
Akhhh,,, Dewi Keadilan yang mempermainkan ketulusan cintaku!
Aku rindu harum rambut bergelombangnya saat menari di depanku. Sambil melenggak-lenggokkan pinggul di setiap ketukan ritme.
Leleh, darahku keluar deras melalu hidung.

Lelaki koboi itu sengaja lirik-lirik ke cangkirku dan memperhatikan dengan seksama. Apakah aku pemakai atau hanya coba-coba?
Dia pikir aku sudah gila karena halusinasiku memesan cangkir kosong dan sebilah sendok. Ya aku sudah gila. Kutekankan lagi, G-I-L-A.
Ohh Dewi Keadilan, ingin kulucuti semua pakaianmu itu dan hanya tersisa kain yang menutup matamu. Agar kau menimbang tanpa beban kain saat ditiup angin.

Tatapanku kosong dan senyum sayu.
Kenapa aksaraku mampu menembus langit tapi menyentuh hatimu saja tak dapat kulakukan?
Apakah kau sudah menanam kunci hati ketika awal bercumbu?
Kau gila? Aku masih merasakan susu coklat hangat itu. Masih hangat dan berembun.

Pak Sande, pemilik toko tak heran dengan semua kegiatanku saat jam-jam rawan ini. Ia memperhatikan dari bilik dan tersenyum.
Kriiiingggggggg. Suara telpon berbunyi.
“Hello, Zoe. Apakah perlu tambahan? Aku ada barang bagus loh untuk kau ukir.
Lecet sedikit akibat packing gak teratur dan kurik amburadul. Kau mau merapikannya? Tapi aku tidak mau mahal membayar karyamu!”

“Goblok, simpan saja barang rongsokanmu. Ideku terlalu mahal untuk kau upah dengan usiamu”.

“Zoe, tolonglah ucapanmu itu. Bikin candu!”

“Hey, Pak tua. Selama aku masih menghormatimu. Aku mampu membeli perusahaan judimu dan omonganmu yang besar itu. Bahkan isi kepalamu saja sudah kau gadaikan denganku. Tapi tolong barang yang ada diselangkanganmu itu dijaga dengan jinak. Aku tidak butuh pengorbanan semacam lekuk yang mulus atau bibir yang pecah”.
“Oke, aku tidak mau mengganggu orang yang sedang berhayal menjalin cinta dengan Dewi Keadilan”. Lantang tawa Pak Sande diiringi musik kunonya. Tiap syair berisikan isyarat untukku yang mengejar deadline.

Putaran musik berdecit di menit ke 3,52. Ada pesan dari seseorang dan aku mengetahui notifikasi yang berbeda dari biasanya.
Pak Sande, mantan intel yang sudah pensiun. Ia menyimpan dendam dengan Dewi Keadilan(ku).
Sudah 3 tahun terakhir Dewi Keadilan tidak menimbang berita karena diperkosa oleh Bendahara.

Titik hujan mewakili perasaanku. Saat ritme lagu Pak Sande mulai berubah menjadi suara Kopi Dangdut. Tandanya aku akan bekerja subuh ini. Tengah malam memulai jebakan. Dan pagi petang pulang.

“Aku pulang!!!” Decitan pintu yang ada gantungan peri. Hasil jerih payah kau anyam dari semak belukar.

“Hay Deddy, apakah kau lapar? Aku sedang memasak sop brokoli. Kuharap kau mau makan malam bersamaku!” Pinta Hyuna dengan manja.

“Kau ini, sama dengan Mamamu dulu. Tunttu aku selesai menaruh barangku dulu baru kau sediakan air hangat untukku mandi dan makanan itu sudah ada di meja. Dengan begitu terpaksa aku lahap semua masakanmu” Dengan napas terhela dan cerutu masih menyala.

“Ohh, Papa Zoe. Aku tidak mau mengganggu waktu istirahatmu. Air hangat di kamar mandi sudah kusiapkan. Hanya saja kau selalu lupa untuk keluar kamar setelah mandi. Hingga membiarkanku planga-plongo dengan film sadismu itu” Hyuna yang bergegas ke dapur dan menyeka peluhnya.

“Apa? Kenapa kau sembunyikan ruam di pundakmu? Sengaja lari tidak membelakangiku? Pundakmu terlihat jelas dicermin! Jangan berdusta, aku ini pohon tempat berteduhmu.” Dengan mata tajam dan menarik baju panjang Hyuna.

“Daddy, aku hanya terjatuh dipepohonan saat menarik buah jeruk. Dan ada seekor tupai menggangguku.” Jawab Hyuna dengan hati-hati.

“Kita sudah 25 tahun bersama. Jangan berbohong, tidak akan ada tupai menyerang gadis cantikku. Takkan pernah. Kau berpacaran lagi? Ya aku melihatmu jalan ke Mall dengan lelaki yang berbeda. Cepat tentukan pasangan hidupmu. Aku sudah tua tidak mampu lagi bertahan dalam 10 tahun ke depan.” Pinta Zoe yang mengambil perban dan membersihkan ruam Hyuna.

“Daddy, apakah kau cemburu? Kurasa cemburumu berlebihan hari ini. Aku hanya berpacaran seperti layaknya perempuan biasa. Nonton bioskop dan pergi ke Mall itu hal yang biasa. Yang tidak biasa adalah bercinta dengan lelaki yang berbeda.”

“Cukup Hyuna, kau masih kecil. Umur 25 belum mampu memahami kata bercinta apalagi dengan lelaki berbeda.” Sambil mencium kening anak gadisnya itu.

“Daddy Zoe, aku tau malam ini kau akan bekerja. Sebelum waktu kerjamu datang. Biarkan sopku itu masuk ke dalam perutmu. Tidak mungkin aku meracuni seorang Ayah yang menjaga dan merawatku hingga sekarang.”

“Mamamu juga sering berkata seperti itu. Buktinya dia telah meracuniku dalam setiap masakannya. Aku teracuni sampai tidak sadar dia telah menjadi incaran.” Sambil tersedu, Zoe ke kamar mandi.

 

Malam itu terasa dingin. Hyuna dan Zoe terlihat murung. Mengingat Mamanya yang mati dengan tragis. Demi menyelamatkan keluarga. Hyuna merasa paling bersalah. Karena telah membocorkan pada mantan tunangannya bahwa Mamanya seorang wartawan.

 

Kelak malam itu, kejadian tragis terjadi. Hyuna tidak menyangka. Mamanya diperkosa dihadapannya sendiri oleh mantan tunangannya. Diperkosa secara bengis dan bergilir hingga tewas.

Hidupnya seperti diacak-acak oleh sandiwara cinta yang manis bagai madu ternyata tersimpan empedu. Cerita lama dan dendam yang belum terbalaskan. Mama Hyuna salah satu puan yang memperjuangkan hak para perempuan.

Di mana fitrah seorang perempuan adalah menstruasi, melahirkan, dan menyusui. Namun hak itu banyak direnggut ketika Mama Hyuna menulis berita perihal pelacur pemuas nafsu Para Bendahara. Bahkan Ayahnya yang seorang intel saja sempat kecolongan dengan tanda-tanda ruam. Karena satu kebohongan yang diciptakan oleh Dewi Keadilannya.

 

Setiap membahas Dewi Keadilan, Ayah Hyuna ingin menyingkap kain ditubuhnya. Dan memeriksa betapa bengisnya para bajingan itu menyetubuhi orang yang dicintainya tersebut. Aku sudah berpesan melalui langit dan bumi serta semesta dan isinya. Bahwa aku akan menjagamu. Tapi ruam ditubuhmu aku tak sadar itu ulah pukulan yang sengaja kau sembunyikan demi karirmu.

 

Penyesalan datang terlambat. Ketika Mama Hyuna berkeluh kesah. Ayah Hyuna asik dengan pekerjaannya yang larut dalam imajinasinya sendiri. Tidak menyadari mental seorang istri yang tertekan akan kejaran deadline majalah bahkan kejaran musuh. Tidak sama dengan saat awal bercinta dulu. Setiap lekukan tubuh dipahami dan diteliti. Sampai meraba dengan mata tertutup saja Ayah Hyuna hapal betul dengan aroma tubuh istrinya. Semenjak keluh diabaikan dan jarang bertukar cerita sebelum bercinta hingga menyimpan sendiri luka.

 

Kaki-kaki telanjang bertebaran di jalan kota. Mama Hyuna lari dengan sepatu hak tingginya. Patah seperti ia menuntut hak puan. Sakit dan terluka. Peluh yang licin mengucur diujung kaki. Peluh itu terlalu asin. Sehingga lidah Ayah Hyuna tidak bisa mengecap keasinan itu karena tensi darah sangatlah tinggi.

Peluh Mama Hyuna diseka sendiri menggunakan blazzer kerja suaminya. Berharap Ayah Hyuna mencium aroma tubuhnya. Namun, penciumannya kini berkurang akibat keseringan menghisap cerutu saat kepala pening.

 

***

5 hari berlalu. Hendak memasuki semester akhir. Skripsiku masih belum rampung. Apakah aku harus membeli dan mengupah para pekerja? Agar besok selesai? Ahh tidak. Bisa dibunuh Ayah jika aku melakukan hal curang begitu.

 

Mimpi buruk selalu menyelimutiku saat guntur dan hujan. Waktu Ayah dan Mama masih bersama di rumah ini. Sering terdengar keluh kesah Mama yang lantang perihal handuk basah jangan ditaruh di ranjang. Mengambil baju jangan sembarangan dan jangan bangun terlalu siang. Aku rindu sosok riuh pikuk mama. Tapi aku benci bentakan Mama saat menangis diacuhkan Ayah, perihal cerita yang tidak direspon dengan baik. Kata Mama, “Suatu saat Hyuna dewasa dan menikah carilah lelaki yang mampu menerima keluh kesah saat dalam kondisi apapun”. Nyatanya belum menikahpun aku sudah merasakan saat ceritaku diabaikan.

 

Banyak ruam yang ada dibahu, lengan kiri, paha bagian dalam. Tapi Ayah saat sibuk bekerja jarang sekali memperhatikan. Terkadang ruam itu ia kompres dengan air dingin. Saat kutanya mengapa, Mama pasti bilang sedang menyiapkan es untuk ikan yang mati. Ngeri-ngeri sedap ketika Mama bicara pembunuhan ataupun masalah darah. Karena aku sangat takut perihal kematian.

 

Terakhir mati dan berdarah saat burung kakak tua milik Kakek terbunuh oleh musang. Aku menangis kesakitan dan membawanya pergi ke tempat Ayah. Ayah sibuk dengan anak-anak yang lain. Sedang aku darah dagingnya diabaikan.

 

Ayah sibuk menerapi psikis orang lain, keluarga sendiri jarang teperhatikan. Kadang jam tamu lebih separuh hidup untuk menerima tawaran pekerjaan. Aku hanya disuguhi boneka dan mainan canggih. Tanpa teman bicara serta makanan yang tiada pernah habisnya. Aku kesepian dikeramaian.

 

Mamaku menjadi wanita karier sudah lama. Sejak sebelum menikah dengan Ayah. Ada perjanjian hitam di atas putih bertanda tangan di atas materai.

Tertulis bahwa,

“Jika suatu saat aku atau kamu bosan satu sama lain. Maka ingatlah. Kita dipertemukan karena saling membosankan lalu menciptakan pekerjaan yang tiada henti-hentinya mengejar waktu akhir.”

Tertanda, SUAMI-ISTRI.

 

Satu kalimat apakah mampu menjelaskan perihal keluargaku yang berantakan?

Bahkan isi semesta tak mampu melalap semua masalahku. Orang lain hanya bisa memandang hidup enak. Bagai Putri Kerajaan. Aku yang terkekang di kandang. Menjadi wanita sangkar.

 

Mama, aku rindu sosokmu yang berkeluh kesah. Aku rindu peluhmu saat menetes bekerja berlarian mencari berita demi keadilan. Tapi aku benci dengan ruam yang kau punya!

Pendusta.

Wanita medusa. Lantang yang sering di katakan sebagian orang. Demi mencari sesuap nasi, Mamaku rela difitnah sana sini. Bagaimana dengan Ayah?

Ayah hanya diam tanpa berbuat apa-apa.

Semenjak itu pesan Mama, selalu kuingat. Perihal pra menikah, sudah menikah, pra memiliki anak, sudah memiliki anak, pra menyusui, sudah menyusui, mendidik dan membesarkan anak.

 

1 + 6 = 7

7 sifat Mama yang selalu terngiang di kepalaku. Pertama rapi, bersih, disiplin, tidak bertele-tele, pintar masak, manja, dan satu terakhir bucin.

Mama sangat mencintai sosok Ayah, sampai rela menyembunyikan semua sakitnya. Amarahnya yang tidak meluap. Melainkan dikeluarkan melalui alkohol yang ditelannya setiap kali stres. Berdalih atas pekerjaan.

Aku pernah berdebat dengan Ayah perihal hak dan kewajibanku sebagai anak dan sebagai perempuan. Namun mama menutup mulutku demi satu piring. Agar kiranya tidak terlempar ke mulutku yang nyaring.

 

Mama yang berjuang mati-matian mempertahankan haknya dan aku hanya diam. Mama adalah sosok Dewi Keadilan. Namun matanya tertutup akan cinta kepada Ayahku.

Lonceng bergetar, suara angin berhembus. Hujan mengguyur basah badan Mama. Dengan tas kerja dan payung. Sedikit senyum. Lebam di pipi  aku tau itu ulah Ayah. Namun bersembunyi.

 

***

 

“Hyuna, ingat besok kuliahmu pagi. Jangan sampai senapanku mengenai kepalamu. Jangan sampai kasarku bergelora. Kau harus wisuda tahun ini!” Menuang air dalam teko membuat teh safron.

“Yes, i can do itu, Daddy. Terima kasih atas teh dan rotinya pagi ini.” Usapku pakai tisu kaca mata lusuh yang lama tidak kupakai.

“Jangan lupakan bekalmu, aku siapkan masih hangat!” Sambil menarik jaket buluku.

“Okeh, kecup keningku sebelum aku pergi.” Pelukanku mendarat ke Ayah.

“Berisik, gadis berisik. Berjanjilah kepadaku, jangan mati ditangan para bajingan. Putusi semua pacar lelakimu itu atau aku yang akan mengebiri mereka.”

“Tenang, Daddy. Aku tidak pernah tidur bersama mereka. Hanya 1 lelaki yang pernah tidur bersamaku yaitu Daddy.” Melambaikan tangan berangkat ke kampus.

 

Hyuna-ku sudah besar. Dewasa karena keadaan. Ia terlihat rapuh disaat berpura-pura tegar. Aku tau trauma yang dihadapinya saat anak-anak dulu. Aku yang salah. Semua salahku karena tidak memperhatikan istri dan anakku, harta paling berhargaku.

 

Aku benci mengingat Mamamu Hyuna, wanjta brengsek. Berani-beraninya dia melacur tanpa sepengetahuanku. Pantas saja kau mati dalam perkosaan itu. Kau pantas menerimanya. Semoga gadis kita tidak tau cerita yang sesungguhnya  takkan pernah kubiarkan ia tau!

 

Siapa sangka Mama Hyuna adalah gadis malam yang diambil istri oleh Ayah Hyuna. Seperempat abad ini ia menyembunyikan identitas yang sebenarnya.

“Jika buku diary Mamamu kau temui. Percayalah, aku yang akan mati. Karena di sana tertulis kau bukan darah dagingku. Melainkan hasil dari orang banyak”, tetesan air mata Zoe mengalir deras.

 

Kisah yang rumit membuat aku sulit mengungkap kebenaran. Entah percaya pada keadaan atau percaya kepada istriku yang terkenal dengan dongengnya.

Sudah beberapa bulan Zoe muak dengan tingkah laku Hyuna. Ingin sekali mengungkapkan kebenaran. Tapi Zoe sangat mencintai mendiang istrinya. Sebenarnya siapa yang bucin sesungguhnya?

 

Jika sebelum pernikahan ada perjanjian. Maka tolong jabarkan saja semuanya. Perempuan hanya ingin direspon dengan baik, diperhatikan, dimanja dan perempuan suka yang berulang-ulang. Sangat berbanding terbalik dengan lelaki yang simple  terkadang masalah sepele bisa membuat tangis dihati perempuan. Karena perasaan perempuan yang rapuh.

 

Ingin sekali menyetarakan gender namun sifat manja perempuan akan lembek dengan semua yang diucapkan dengan lantang. Kapankah akan rampung?

Tolong jelaskan antara perempuan dan lelaki. Mana yang lebih dominan?

Sama? Ahhh kurasa berbeda tetapi setujuan.

 

Demonstrasi dipimpin oleh perempuan, lantang suara namun kompor di rumah masih menyala. Duaaaarrrrr. Meledak seperti emosi. Terlalap api disapu angin. Memang makhluk hanya berencana, hasi Tuhan yang tentukan.

“Nasib Dewi Keadilan bagaimana?”

“Telanjangi!”

“Telanjangi saja!!!”

“Tidak akan vulgar kok, kami perlu hasil yang transparan bukan buram.”

“Neracanya mana?”

“Neraca apa?”

“Neraca yang digadaikan? Hahaha”

“Bukan neraca itu panas asmara!”

“Apa?”

“Apanya yang apa?”

“Jangan pura-pura!”

“Tidak.”

“Aku tidak berpura-pura!”

“Coba jilat! Ini perkataanmu kemareb sore setelah jatuh cinta.”

“Bukan, itu bukan perkataanku!”

“Seenaknya saja.”

“Perkataanku senjam merah jambu.”

 

Demonstrasi pikiran yang meluap dalam kepala Zoe.

Memikirkan Dewi Keadilan. Rusuh! Rusuh…

Planggggg….

Jatuh.

 

***

“Kenapa Daddy, kau mengonsumsi obat pereda nyeri? Bohong ya? Itu obat asma kan?”

“Maaf  aku berbohong. Sebentar lagi ulang tahunmu, Hyuna.”

“Kejutan apa lagi yang kau siapkan? Jangan bilang kejutannya adalah kematianmu. Dan aku tinggal sendiri dalam teka-teki kisah cinta kalian berdua.”

“Bohong  aku hidup abadi!”

“Memang, kau pasangan pembohong. Di naskah ini hanya aku yang jujur. Karena aku seorang sutradara yang serba tau. Kaian hanya wayangku!”

“Jangan suntik mati  kumohon Hyuna “

“Tidak, Sayang. Ini bukan suntik mati. Ini obat pereda nyeri dan penghilang ingatan sebentar saja. Biarkan aku berpura-pura menjadi gadis remajamu. Agar aku mendapatkan  semua perhatianmu.”

“Perhatian itu diciptakan Hyuna, bukan dicari.”

“Tapi aku bukan seniman, yang selalu mencipta karya.” Dengan nada lirih dan mengambil obat bius.

“Hyuna hentikan, kau itu istriku bukan anakku!”

“Ohh sayang sekali, Zoe. Aku ingin melakukan drama ini sepekan lagi. Kumohon!”

 

Terbius. Ingatan Zoe terbius. Ulang cerita dari awal. Hyuna bukan sosok gadis remaja. Melainkan istri Zoe sendiri. Dewi Keadilan tersebut yang menderita penyakit mental. Dirinya selalu merasa umur 25 tahun dan berperan sebagai anak manja gadis Zoe.

Semua teman lelakinya adalah selingkuhannya sendiri. Hyuna suka bermain dengan pikirannya sendiri.

 

Waktu umur 17 tahun. Katanya Hyuna menderita penyakit yang tidak bisa dijelaskan melalui logika berpikir manusia. Ia seperti terpental ke masa lalu. Dengan cerita masa lalu dan nada bicara sangat jadul.

Zoe yang jatuh cinta tanpa pikir panjang langsung menikahi Hyuna dengan alasan tulus mencintainya. Sampai detik ini ia rela mengorbankan semuanya demi perempuan yang dicintainya.

 

Masalah keluh kesah Hyuna adalah omong kosong. Zoe selalu mendengarkan dengan seksama, dongeng yang selalu diceritakan dan ditulis Hyuna di media adalah imajinasi dalam buku diarynya. Tersusun rapi berperan sebagai wartawan.

 

Zoe hampir gila. Tapi lebih gila lagi rasa cintanya. Bukan segi fisik Hyuna yang cantik tapi ada ketulusan yang Zoe rasakan.

 

Bergelut waktu demi waktu. Kapankah akan sembuh. Hyuna sayang. Hyuna malang. Berpura-pura sakit di atas kesakitan yang diciptakannya sendiri.

Hyuna kau terpenjara dalam pikiranmu sendiri. Anak kita yang telah pergi karena ulahmu sendiri.

Gadis kecil kita tanpa dosa. Kau cabik dengan pisau belati. Sungguh ironi dan menyayat hati.

 

Pemakaman gadis kecilku selalu basah. Tiap kali aku berkunjung. Kau selalu menangis. Sadar akan kau seorang ibu, bukan seorang anak.

Satu langkaha berpaling dari pemakaman itu. Kau berbalik arah menjadi gadi kecilku.

Hyuna, kau mencinta dalam keadaan licik. Aku terhanyut oleh kisah cinta ini.

 

“Zoe. Kau baik-baik saja kan?” Tanya Pak Sande. Ini kiriman bunga. Dari Zahro. Ia titip surat. Apakah aku boleh membacakannya untukmu?”

“Tentu,” sahut Zoe lemas.

“Teruntuk Zoe, lelaki yang kucintai sejak pertama berjumpa. Aku Zahiro meminta restu dan doa. Hari besok, aku akan menikah dengan lelaki pilihanmu. Aku rela mengorbankan seluruh cintaku kepadamu demi ia yang kau pilih untukku. Aku sudah berhenti mencintaimu. Hiduplah dalam cinta bengismu itu! Tertanda -Zahiro-“

“Wow, ini sangat menyakitkan. Tidak cocok untuk sampul surat berwarna pink. Seharusnya warna kelabu.”

“Diam kau! Aku pantas menerima kata-kata itu. Sangat seksi. Zahiro orang yang kusepelekan dan sangat tulus mencintaiku. Semoga keluargamu menjadi tenang abadi. Tidak seperti kisah cintaku dengan Hyuna.”

“Memang lelaki penuh dengan misteri. Zoe!”

Zoe pergi.

Hyuna tidak pernah ada.

Zoe mati dalam ceritanya sendiri.

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!