Kisah Ruby
40.4
2
319

Ruby, seorang gadis cantik dan pendiam, berpacaran dengan seorang kakak kelas yang terkenal baik dan ramah, tapi ternyata itu hanya luarnya saja. Ruby baru mengetahui semua saat akan mengakhiri hubungan dengan kakak kelasnya itu.

No comments found.

Di suatu taman kota yang cukup ramai, banyak pasangan muda mudi yang menghabiskan malam disana, termasuk kedua orang yang sekolah duduk di salah satu sisi paling kanan. Mereka sedang membicarakan sesuatu yang cukup serius bagi hubungan mereka. Bagi orang dewasa mungkin terlihat seperti cinta monyet anak-anak sekolah biasa, tapi bagi mereka ini hal yang cukup serius. 

 

“Tidak, aku mohon maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi Ruby,” ucap seorang pria pada wanita dihadapannya. 

 

“Kak, kemarin juga kakak bilang seperti itu,” ucap wanita bernama Ruby. 

 

“A-aku tahu, aku tahu maka dari itu aku meminta maafkan?” ucap pria itu. 

 

Ruby menghela napasnya dan menatap pria dihadapannya. “Kak, kita bicarakan ini nanti lagi saja, aku harus pulang lebih awal karena ada ayah. Besok pun ak-kita masuk pagi, ini sudah hampir malam,” 

 

Ruby bangun dari duduknya dan meninggalkan pria itu. Pria itu langsung menarik lengan Ruby. “Aku antar kamu pulang, ini sudah jam 8 malam, bahaya bagimu untuk pulang malam dengan seragam sekolah,”

 

Ruby berniat untuk menolak tapi apa yang dikatakannya itu benar. 

 

*** 

 

Sesampainya di depan rumah Ruby berniat langsung masuk setelah mengucapkan terima kasih, tapi ternyata dia bertemu ayahnya yang akan membuang sampah. 

 

“Papah, mau kemana?” tanya Ruby. 

 

“Baru pulang kamu? Papa mau buang sampah, tadi mamah memecahkan tumpukan gelas,” ucap ayahnya seraya melirik seseorang yang berdiri tidak jauh dari Ruby. 

 

“Ini… Kakak kelas Ruby, namanya Leo. Kak ini ayah aku,” sebenarnya Ruby enggan memperkenalkan keduanya. 

 

Prang. 

 

Ayah Ruby melemparkan pecahan gelas ketempatnya. 

 

“Masuk dulu? Kami mau makan malam bersama, ayo ayo masuk motornya masukkan saja ke dalam,” 

 

Ruby yang melihatnya kelabakan. “Pah papah, tidak usah. Ini sudah malam, biar saja Kak Leo pulang,” 

 

“Justru karena sudah malam, biarkan dia makan dulu baru setelah itu pulang. Ayo masuk,” Ayah Ruby masuk terlebih dahulu meninggalkan Ruby dan kekasihnya. 

 

“Maaf, kalau begitu aku pulang saja” ucap Leo yang melihat Ruby tidak nyaman dengan situasi saat ini. 

 

“Sudahlah, tidak usah, kakak masuk saja tapi kalau sudah selesai langsung pulang,” 

 

Leo tidak bisa menutupi rasa senangnya. Sudut bibirnya terus terangkat hingga saat mereka semua duduk di meja makan. 

 

“Jadi ini pacar kamu?” tanya ayahnya. 

 

“Bu-”

 

“Hehehe iya om. Sudah jalan 6 bulan,” Leo memotong perkataan Ruby. 

 

Ruby memijat keningnya, dia tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. 

 

“Belajar yang benar, jangan pacaran terus,” ucap Safir, kakak perempuan Ruby. 

 

Ruby melirik kakaknya sinis. “Jomblo diam saja,” 

 

“Sudah sudah, jangan bertengkar terus dong. Kita sedang ada tamu loh ini. Leo ayo tambah lagi,” ucap ibu Ruby menengahi. 

 

“Pacar kamu mana Safir? Papah belum bertemu lagi dengannya,” 

 

“Putus pah, pacarnya punya anak dari orang lain,” jawab Ruby. 

 

“Hhmmp uhuk uhuk uhuk apa?!” ucap ibunya tidak percaya. 

 

Safir, kakak dari Ruby memelototinya. Tapi Ruby membalasnya dengan menjulurkan lidahnya. 

 

“Apa yang dikatakan Ruby benar?” tanya ayah mereka. 

 

“Pantas saja, Ravi tidak pernah ke sini lagi. Kamu tidak perlu sedih nak, pilihanmu sudah benar,” ucap ibunya menenangkan. 

 

Selama makan malam mereka membahas mantan kakak Ruby. Hingga tidak terasa waktu berlalu begitu saja. 

 

“Aku pulang dulu,” ucap Leo pada Ruby yang mengantarnya. 

 

“Ya,” Ruby langsung menutup pintu pagar begitu Leo keluar, dan meninggalkan Leo yang masih memperhatikannya. 

 

*** 

 

Esok harinya di sekolah, pada jam istirahat. 

 

“Ruby, di cari Kak Leo,” ucap temannya. 

 

Ruby melihat ke arah pintu, terlihat Leo sedang menunggu Ruby. 

 

“Tolong bilang padanya jika aku hari ini tidak akan makan siang,” 

 

Teman Ruby mengangkat bahunya ringan. “Oke,”

 

Ruby berpura-pura fokus pada buku di mejanya, dengan ujung matanya dia melirik Leo yang masih berada di depan pintu kelas dan tidak lama dia pergi. 

 

“Bertengkar lagi?” bisik temannya. 

 

“Yah… Begitulah,” jawab Ruby. 

 

“Aku bilang juga apa, lebih baik putuskan saja,” lanjut temannya. 

 

“Hah… Kamu ini kenapa sih selalu penasaran dengan hubunganku dan Kak Leo?” tanya Ruby. 

 

“Kalau kamu putus dengan kakak kelas itu kesempatanku semakin besar,” ucapnya. 

 

“Kamu, suka Kak Leo?” tanya Ruby tidak percaya. 

 

Temannya menatap Ruby tidak percaya. “Hey, aku masih normal,” jawabnya. 

 

Ruby memiringkan kepalanya tidak mengerti sedetik kemudian dia langsung termenung. “Aku?” tanya Ruby memastikan. 

 

“Siapa lagi memangnya selain kamu?” 

 

“Eric, kamu serius? Aku kira kamu tidak menyukai perempuan,” Ruby masih kebingungan dengan apa yang dikatakan Eric. 

 

“Hari ini kamu kemana? Sepulang sekolah kita beli bahan-bahan untuk praktik melukis bagaimana?” tanya Eric. 

 

Ruby menyipitkan matanya. “Kamu bukan mencari kesempatan kan?” 

 

“Setengahnya? Lagipula kelas 12 sibuk menyiapkan pentas seni untuk besok,” ucap Eric santai. 

 

“Siapa saja?” tanya Ruby. 

 

Eric memegang dagunya, seolah-olah sedang berpikir. “Kita saja, Hey! Aku mau membeli alat lukis untuk praktik besok,” teriak Eric di dalam kelas. 

 

*** 

 

“Seharusnya kamu tadi jangan berteriak seperti itu,” Ruby menghela napasnya. 

 

“Mau bagaimana lagi, aku tidak tahu kalau mereka malah menitipkan pesanan mereka padaku,” Eric melihat kertas yang tertulis list apa saja yang harus dibelinya. 

 

Saat akan menaiki motor Eric, seseorang memanggil Ruby. 

 

“Ruby,” 

 

Tanpa menoleh pun Ruby tahu siapa yang memanggilnya. 

 

“Kamu mau kemana?” tanya Leo sembari menatap sinis pada Eric. 

 

“Beli alat untuk praktik melukis besok KAK,” jawab Eric dengan menekankan kata terakhirnya. 

 

“Kalau begitu nanti aku menyusul,” ucap Leo. 

 

“Tidak perlu kak, aku mau langsung pulang saja kalau sudah selesai,” ucap Ruby. 

 

Ruby pergi meninggalkan Leo yang hanya menatap punggungnya. “Sialan,” gumamnya. 

 

Di motor, Eric terus-menerus meminta Ruby untuk berpegangan padanya dan dia pun terus ditolak oleh Ruby. Lagi pula tanpa berpegangan pun Ruby tidak akan jatuh. 

 

*** 

 

Esok harinya, hari ini ada hati pentas seni dan hati praktik untuk kelas 10 dan 11, sedangkan kelas 12 sebagian menjaga booth yang menjual makanan, minuman, dan barang-barang yang aesthetic, sebagiannya lagi mempersiapkan diri untuk tampil di atas panggung yang dipasang di lapangan. 

 

Leo termasuk seseorang yang akan tampil di atas panggung itu dengan anggota bandnya. Dia ingin Ruby menonton, karena lagu ini dia nyanyikan khusus untuk kekasihnya. Tapi apa boleh buat, Ruby masih enggan untuk memaafkannya. Leo sendiri sadar jika dia salah, tapi sekalipun dia menghabiskan waktu dengan wanita lain, dia tidak ingin melepaskan Ruby.

 

Di sisi lain, Laras, teman Ruby, terus mengajak Ruby untuk menonton band yang akan tampil. Laras tahu jika yang akan tampil itu adalah Kak Leo, kekasih Ruby, maka dari itu dia terus memaksa Ruby hingga akhirnya Ruby menyerah dn mengikuti keinginan Laras. Tapi ada syaratnya, Ruby tidak ingin menonton di depan lapangan dia ingin menonton di lantai 2 saja. Dari jauh sudah terdengar lantunan musik. 

 

….Angel who one day appearad to me, take me away to your hometown. I know it’s real i can feel it. 

I’m full of problems, love sick no way to go i was fine to die i’m a loser in this game. 

The only rule of this world save me take my hand, please use me like a drug. I know i love you….

….Say you love me say you love me till end of the world, all or nothing i give all of you. Iknow i love you,” 

 

Prok prok prok prok. 

 

“WOOOAAHHHH, KEREN,”

 

Tepuk tangan terdengar dari seluruh penghuni sekolah yang menonton pertunjukan Leo. Tapi tidak dengan Ruby, entah kenapa dirinya merasa lelah, padahal dia hanya menonton saja. 

 

Deg. 

 

Saat memperhatikan Leo yang sedang tampil, tak sengaja mata mereka bertemu. Leo tersenyum saat mengetahui jika Ruby menonton penampilannya. 

 

Laras melirik Ruby. “Kamu kenapa tidak-”

 

“By,” panggil Eric. 

 

“By? Ah Ru by ah ya benar, hampir saja aku mengira mereka berpacaran,” gumam Laras. 

 

“Aku juga bisa seperti itu,” ucap Eric tiba-tiba. 

 

Ruby mengangguk. “Ah, benarkah? Tapi aku tidak peduli tuh,”

 

“Hei hei Kak Leo sepertinya mau ke sini, tadi dia melihat ke sini dan langsung berlari,” bisik Laras. 

 

Benar saja, tidak sampai 5 menit seseorang memegang tangan Ruby dari belakang. 

 

“Mau melihat-lihat booth?” tanya Leo. 

 

“Boleh Kak,” jawab Eric. 

 

“Bukan kamu, aku sedang tanya pacarku, pacarku,” ucap Leo menegaskan kalimatnya. 

 

“Aku mau ke bawah dulu,” Ruby pamit pada ke dua temannya. 

 

Di bawah, Leo menyuruh Ruby untuk duduk di tempat yang tidak terlalu ramai dan dia bergegas membeli minum dan camilan. Dengan hati yang berbunga-bunga Leo menaruh makan dan minum di atas meja. 

 

“Kamu belum makan ini kan? Temanku bilang corn dog ini enak,” ucap Leo, Leo memperhatikan Ruby yang menatap meja dengan tatapan kosong. “Aku, minta maaf, aku benar-benar minta maaf. Saat itu temenku mengajak ke sana, dan kami tidak hanya berdua saja, apa kamu masih marah?” tanyanya. 

 

Ruby menatap Leo. “Kakak minta maaf untuk yang mana?” 

 

“Hah? Untuk yang mana? Untuk 3 bulan yang lalu saat aku pergi liburan dengan temanku kan?” tanya Leo. 

 

Ruby tersenyum kecut. “Sebenarnya sudah berapa kali kakak membohongiku?” 

 

“Bohong apalagi? Aku tidak pernah membohongimu,” 

 

Ruby mengangguk dia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan beberapa foto pada Leo. “Lalu ini apa? Kak, ini bukan pertama kalinya kan? Tolong jujur,” 

 

Leo merebut ponselnya dia terkejut dengan foto-foto yang ada di ponsel Ruby. “Dari mana kamu mendapatkan foto-foto ini?” 

 

“Kakak sedang apa di sana?” tanya Ruby yang berusaha menahan tangisnya. Karena tidak mungkin baginya untuk menangis di sekolah saat masih ramai. 

 

“Hah… Oke, aku akan jujur,” Leo memperhatikan sekitar, suatu kebetulan orang-orang pergi berlari ke lapangan, hingga menyisakan mereka dan beberapa penjaga booth. 

 

“Aku tidak ingin merusakmu,” ucap Leo. 

 

“Hah? Apa kakak bilang? Tidak ingin merusakku tapi kakak pergi ke hotel dengan wanita lain?” Ruby memotong perkataan Leo. 

 

“Dengarkan aku dulu, kamu tahu kan bagaimana lelaki, iya kan? Saat itu aku tidak tahan dan kebetulan aku bertemu dengannya. Dan ya, kami menghabiskan malam bersama, tapi hanya itu tidak lebih,” 

 

Ruby benar-benar berusaha tidak menangis di sini. Dia mengadahkan kepalanya dan menatap langit. “Kak,” ucapnya dan menatap Leo. 

 

“Apa kakak sudah benar-benar jujur? Kakak bisa lihat tanggal yang diambil oleh foto itu bukan hanya sekali dua kali. Kalian sering bertemu kan? Dan tempatnya pun berbeda-beda. 1 bulan yang lalu di hari sabtu jam 2 malam, aku melihat kakak di Hotel Dolphin dengan seorang perempuan yang kakak bilang itu adalah teman kakak. Dan aku lihat dengan mata dan kepalaku sendiri,” Ruby menunjuk matanya dan menghela napas. 

 

“Aku lihat sendiri kalian baru pulang dari klub yang tidak jauh dari sana kan? Bagaimana caranya kakak masuk ke sana? Apa orang-orang kaya punya cara sendiri agar bisa masuk dan terhindar dari petugas? Oh! Dan yang aku lihat kalian dalam keadaan yang tidak sadar. Bahkan kalian berciuman saat di dalam lift di depanku, di depanku kak!” 

 

Baru kali ini Ruby merasakan sesak di dadanya hanya karena seorang pria. Dan itu adalah seseorang yang sangat dia percayai. 

 

Leo membelalakan matanya. “Kamu… Kamu… Ada… Di sana?” tanya Leo terbata-bata. 

 

“Iya, aku tepat ada di belakang kalian saat di lift. Apa karena pikiranku terlalu kolot, kakak jadi seperti itu atau kakak memang seperti itu di luaran sana?” 

 

“Ti-tidak dengarkan aku dulu aku-aku,”

 

Ruby mengangkat tangannya dan menyuruh Leo untuk diam. “Maaf kak, aku rasa kita cukup sampai di sini, aku tidak akan sanggup jika kita terus menjalankannya. Kakak juga sebentar lagi akan lulus, syukurlah jadi kita akan jarang bertemu. Benarkan?”

 

Leo menggenggam tangan Ruby yang berada di atas meja. “Jangan, aku mohon, aku tidak mau putus denganmu. Beri aku kesempatan lagi aku mohon,” 

 

Genggaman tangan Leo semakin mengencangkan, Ruby merasa kesulitan melepaskannya. “Aku selalu memberikan kakak kesempatan agar bisa menjelaskannya tapi kakak selalu berbohong,” ucap Ruby. 

 

“Aku mohon, aku sayang padamu, aku tidak ingin-ba-bagaimana kalau setelah kamu lulus kita menikah, ya benar atau kamu mau kita menikah besok? Kita akan selalu bertemu setiap hari,” 

 

“Kak, pacaran saja kakak sudah seperti ini apalagi jika kita menikah. Lagipula kita mempunyai cita-cita yang harus kita capai,” 

 

Leo semakin mengencangkan genggamannya pada Ruby. “Sakit kak,” ucap Ruby. 

 

Di tempat mereka malah semakin sepi karena artis yang diundang sekolah mereka sedang tampil. Ruby tidak bisa meminta tolong pada siapapun. Leo sendiri bukannya melepaskan genggamannya, dia malah terus menambahkan tenaganya. 

 

“Aku tidak bisa hidup tanpamu, kamu tahu kedua orang tuaku selalu bertengkar, teman-temanku yang hanya memanfaatkanku, mantan-mantan pacarku yang hanya menginginkan uangku. Hanya kamu yang tidak pernah meminta apapun padaku, tidak menjauhiku setelah aku menceritakan semua masalahku, kamu menerimaku apa adanya Ruby. Jadi aku mohon jangan akhiri hubungan kita,”

 

Ruby tidak bisa fokus mendengar perkataan Leo, dia menahan rasa sakit pada tangan yang di genggam Leo. Barulah Leo melepaskan genggamannya saat melihat air mata yang jatuh dari mata Ruby. 

 

“Ma-”

 

“Cukup kak,” potong Ruby. “Dengan mendengar ucapan dan tindakan kakak tadi, aku sudah tidak bisa. Maaf,” 

 

Ruby segera berlari meninggalkan Leo. 

 

“Ha! Sial sial sial,” Leo mengapalkan kedua tangannya. 

 

*** 

 

“Ruby sayang, kenapa kamu sudah pulang nak?” tanya ibunya yang terkejut melihat Ruby sudah pulang pada ini belum waktunya pulang. 

 

“Ruby sepertinya kurang sehat tante,” ucap Eric. 

 

Ya, saat Ruby berlari dia kebetulan menabrak Eric. Eric tidak banyak tanya saat melihat Ruby yang menangis. Dia langsung meminta izin dan mengantarkan Ruby pulang, karena tubuhnya sangat panas.

 

Ibu Ruby melihat wajah anaknya yang pucat, lalu memegang pipi Ruby. “Ya ampun, panas sekali kita ke rumah sakit sekarang,”

 

“Biar saya yang bawa mobilnya tante,” tawar Eric. 

 

Ruby menggeleng. “Tidak perlu, aku hanya ingin ti-” 

 

Bruk. 

 

Ruby pingsan. Eric langsung mengangkat tubuh Ruby dan memasukkannya ke dalam mobil milik Ibu Ruby. 

 

Sesampainya di rumah sakit, Dokter langsung menangani Ruby dan memberitahukan jika ibunya tidak perlu khawatir. Ruby akan segera sadar dan yang membuat tubuhnya sangat panas adalah karena stress yang dia rasakan akhir-akhir ini. 

 

*** 

 

Ruby mengerjapkan matanya, matanya berusaha fokus saat melihat cahaya di langit-langit yang ternyata adalah lampu rumah sakit. Sudah 3 hari dirinya tidak sadarkan diri. Dia melihat sekitar dan tidak mendapatkan siapapun disana, dia ingin bangun tapi tubuhnya masih terasa lemah. 

 

Ruby melihat pintu rumah sakit terbuka. Dan melihat sosok yang sangat dikenalnya memasuki ruangan. 

 

“Syukurlah kamu sudah sadar, aku takut kehilanganmu,” ucap Leo seraya memeluk Ruby. 

 

“Kenapa kakak di sini?” tanya Ruby yang hanya bisa pasrah dipeluk oleh Leo. 

 

“Aku menggantikan kedua orang tuamu yang harus bekerja, kakakmu juga sedang di luar kota. Ah, ibumu yang menyuruhku untuk menjagamu,” Leo membelai rambut Ruby. 

 

Ruby merasa risih dengan tindakan dan tatapan Leo padanya. Itu bukan tatapan penuh cinta antara pasangan, seperti tatapan yang terobsesi terhadap sesuatu. Ruby mengumpulkan kekuatannya agar bisa duduk. 

 

Leo sudah menyuruh Ruby tiduran saja tapi Ruby tetap ingin duduk. 

 

“Kak, aku mohon kakak pulang saja, aku bisa sendiri, ibu pun sebentar lagi pulang kerja. Jadi tolong kakak pergi dari sini,” pinta Ruby. 

 

Wajah Leo berubah menjadi menyeramkan dimata Ruby. “Kenapa?” tanya Leo. 

 

Leo mengguncang kedua bahu Ruby. “Kenapa kamu menyuruhku pergi? Kenapa kamu ingin kita putus? Aku melakukan semua itu untukmu! Aku melakukan itu agar aku tidak merusakmu! Oh, apa karena dia? Iya dia? Eric kan namanya? Apa kerana dia kamu seperti ini? Aku sudah curiga padanya yang selalu bersikap lembut padamu padahal aku selalu bertemu dengannya dan dia selalu bergonta-ganti wanita setiap minggu. Apa bagusnya dia? Apa bagusnya dia?!” bentak Leo. 

 

“Lepas kak, a-aku bukan, bukan karena dia tapi karena kakak seperti ini, aku, aku takut hiks,” Ruby tidak bisa menahan rasa takutnya pada Leo. Bagaimana tidak? Dia baru saja terbangun dan tiba-tiba mendapat tekanan seperti ini. 

 

“Oke, kalau kamu ingin kita putus. Kalau begitu tidak ada yang boleh memilikimu,” Leo melepaskan paksa jarum infus Ruby. 

 

Belum cukup dirinya terkejut dengan perkataan Leo, kini dia merasakan rasa sakit karena jarum yang ditarik paksa dari tangannya. 

 

Leo menggendong Ruby dan membawanya keluar lalu menaiki tangga. Leo sengaja memilih tangga karena tidak ingin bertemu dengan petugas rumah sakit. Ruby pun berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari gendongan Leo. Tapi percuma saja, tubuhnya jauh lebih kecil dibandingkan Leo. 

 

“Kak, turunkan aku, jika tidak aku akan teriak,” ancam Ruby. 

 

“Teriak saja, tidak akan ada yang menolongmu. Dari tadi pun sudah kamu lakukan kan?” 

 

Benar, Ruby sudah berteriak meminta tolong, tapi entah kenapa tidak ada satu orang pun yang datang menolongnya, padahal rumah sakit ini ramai. 

 

“Tenang saja Ruby, kita akan pergi ke tempat yang damai dan hanya ada kita di sana,” ucap Leo. 

 

Pikiran Ruby sudah berpikir yang tidak-tidak karena Leo terus menaiki tangga. 

 

Setelah sampai di tujuannya Leo mendobrak pintu dengan punggungnya. Angin berhembus pada mereka berdua. 

 

“Kak, untuk apa kita ke sini, kakak jangan gila,” Ruby semakin berontak. 

 

“DIAM!” bentak Leo. “Aku sudah bilang kita akan pergi ke tempat dimana hanya ada kita berdua oke?” 

 

Rumah sakit tempat Ruby dirawat memiliki 20 lantai. Dan Leo berjalan terus hingga mereka berada di tempat paling tinggi di rumah sakit ini. 

 

“Kak… Kyaaaa!”

 

Bruk. 

 

Sakit, itulah yang Ruby rasakan, pandangannya kabur dan terdengar teriakan dari sekitar, matanya sudah tidak kuat lagi hingga dia menutup matanya. 

 

*** 

 

“Kenapa… Kenapa hanya aku…?” Ruby terus menangis melihat dirinya di dalam peti. 

 

Dia terus memanggil kedua orang tuanya, kakaknya, dan teman-temannya tapi tidak ada yang dapat mendengarnya. 

 

“Aku di sini, aku takut, kalian jangan bercanda aku masih hidup, itu bukan aku. Aku mohon lihat aku,” gumamnya. 

 

“Aku tidak menyangka jika Kak Leo seseorang yang begitu terobsesi dengan Ruby. Kasihan sekali Ruby harus mengalami semua ini, sedangkan Si Leo itu masih hidup, ini tidak adil hiks hiks,” 

 

“Suutt, sudah Laras, biarkan Ruby tenang di sana. Kita juga tidak tahu apa Kak Leo dapat bertahan atau tidak,” 

 

Ruby menghampiri Laras yang sedang menangis dan dipeluk oleh teman-teman yang lain. Ruby berkeliling melihat teman-temannya yang menangisinya dan matanya bertemu dengan seseorang yang terus menatapnya. 

 

“E-eric? K-kamu bisa melihatku?” tanya Ruby, tapi Eric malah membuang muka dan menahan tangisnya. 

 

Ruby mendengar ibunya yang semakin histeris menyalahkan diri sendiri karena ibunya lah yang meminta Leo untuk menjaganya. Ruby ingin menghampiri ibunya tapi mengurungkan niatnya. Dia beralih menatap Eric. 

 

Ruby menarik napas dalam-dalam dan berusaha menerima semuanya walaupun sulit. “Eric,” panggil Ruby, tapi Eric tidak merespon ucapan Ruby. 

 

“Apa boleh aku minta tolong untuk terakhir kalinya?” lanjut Ruby. 

 

Barulah saat itu Eric menatapnya, bagi orang-orang mungkin Eric sedang menatap kosong udara, tapi bagi Eric saat ini ada Ruby dihadapannya dengan tubuh transparannya.

 

“Terima kasih,” Ruby tersenyum. “Bisa kamu bilang pada keluargaku agar tidak menyalahkan diri mereka sendiri? Aku mencintai Mamah Papah, Kakak juga, aku sangat menyayangi Kakak walaupun kita selalu bertengkar hehe, jadi aku mohon jangan terlalu lama bersedih atas kepergianku dan Eric, kamu juga jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini bukan salah kalian semua. Mungkin memang ini sudah takdirku. Maaf aku mengatakan ini sekarang, aku menghargai perasaanmu, dan maaf aku tidak bisa membalasnya, terima kasih karena sudah menyukaiku. Aku harap kamu dapat menemukan seseorang yang bisa membalas perasaanmu ah rasanya aku seperti seseorang yang jahat dan egois ya. Tapi aku serius, jangan menyalahkan dirimu sendiri dan jangan melukai dirimu ah sepertinya sudah waktunya aku pergi,”

 

Tubuh Ruby semakin transparan dan sudah waktunya dia pergi dari sini. “Eric,” Ruby memeluk Eric untuk terakhir kalinya, walau pelukannya terasa seperti angin dingin bagi Eric. 

 

“Aku pergi dulu, terima kasih,” ucap Ruby. 

 

Eric hanya menatap Ruby dan tidak memberikan respon apapun. Dia melihat Ruby memeluk keluarganya satu per satu dan menghilang begitu saja. Eric menundukkan kepalanya. “Padahal sebelumnya kamu terlihat putus asa, tapi begitu melihatku kamu menguatkan dirimu. Semoga kamu tenang di sana,”

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!