KOTAK MUSIK BIRU LANGIT
7.6
1
59

Gadis itu melihat sekelilingnya, hanya kegelapan tak ada setitik cahayapun menerangi begitu menakutkan. Ia lalu mencoba tidur kembali, berharap semua hanya mimpi. Namun setelah ia terbangun lagi keadaan tak jua berubah. Hingga rasa putus asapun datang dan berujar "apakah ini akhirnya?"

No comments found.

Cahaya mentari pagi masuk menembus jendela rumah. Cahaya itu bagaikan lampu sorot yang menerangi sebuah meja kayu dengan ukiran klasik. Terletak sebuah kotak musik berwarna biru lagit di atas meja itu, dihiasi sebuah pita putih yang bersinar terkena cahaya mentari begitu indah seakan meminta siapapun untuk menyentuhnya.

 

Kotak musik itu sudah ada di sana sejak dua puluh dua tahun yang lalu. Walaupun sudah bertahun-tahun lamanya ada di sana. Kotak musik itu tetap indah menawan tak sedikitpun terlihat tua dan lusuh, karena selalu ada seseorang yang merawatnya dan mebersihkan kotak musik itu setiap harinya.

 

Hampir setiap hari kotak musik itu mengalunkan melodi indah yang selalu sama dan tetap menenangkan saat didengar. Ketika kotak musik itu dibuka akan ada seorang gadis mungil dengan gaun berwarna merah muda yang berdiri seolah terbangun dari tidurnya, sembari tersenyum gadis itupun mulai menari mengikuti alunan melodi. Berputar dan terus berputar, menari di dalam kotak musik itu, seolah ia tak pernah merasa lelah dan bosan. Walau berapa kalipun kotak musik itu dibuka ia akan tetap menari dengan indah dan anggun.

 

Tiba-tiba suatu hari gadis di dalam kotak musik itu terbangun, dan membuka matanya. Ia melihat sekelilingnya, namun yang ia lihat hanya kegelapan tak ada setitik cahayapun yang menerangi. Ia merasa bingung dan terkejut dengan keadaan yang tidak biasa itu. Ia mencoba bangkit dari tidurnya namun tak bisa, tubuhnya tak bisa ia gerakkan bagaikan tak berdaya. Seketika berbagai pertanyaan bertubi-tubi datang menghantui pikirannya,

 

“Kenapa ia terbangun tidak seperti biasanya?”

“Kenapa tak ada suara melodi saat ia terbangun?”

“Kenapa tak ada seorangpun yang tersenyum melihat ia menari?”

“Kenapa hanya ada keheningan dan kegelapan?”

 

Namun tak ada jawaban yang ia temui dari semua pertanyaannya, lalu ia berujar dengan lirih,

 

“Ada apa ini?

Ada apa denganku?

Kenapa semua ini sangat gelap?”

Apakah ini akhir untukku?

 Siapapun tolong aku…..?

 

Gadis itu kini merasa sangat bingung, ketakutan, dan kesepian, tak ada yang dapat ia lakukan. Ia mencoba untuk tidur kembali dan berharap semua hanya mimpi, dan saat ia terbangun semua kembali seperti dulu dengan alunan melodi yang sama. Agar ia bisa menari lagi untuk siapapun yang membuka kotak musik ini. Lalu ia pun mulai memejamkan matanya dan mencoba untuk tertidur.

 

Kemudian ia terbangun dan tersadar kembali namun keadaan tidak jua berubah sesuai harapannya. Rasanya tadi ia benar-benar tertidur akan tetapi kenapa semuanya tetap sama tidak ada yang berubah, tetap gelap, tetap sepi, dan tetap tanpa melodi. Hatinya mulai gusar dan gelisah lalu ia berujar dalam hatinya,

 

“Jadi semua ini bukan mimpi?

Semua ini nyata adanya?

Bagaimana bisa begini?

Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menari lagi?”

 

Gadis itu terdiam dalam pekatnya kegelapan dan kesunyiaan. Kini perasaan putus asa pun juga datang tanpa izin dan mulai menyerang pikirannya. Hingga gadis itu berfikir, apakah ini akhir untuknya?, mungkin sudah saatnya ia harus berhenti menari, mungkin orang-orang sudah jenuh melihatnya dan tak ada lagi yang menyukainya, mungkin tak ada lagi yang mau membuka kotak musik ini, dan mungkin kotak musik inipun sudah terbuang.

 

Butiran air mata mulai bergulir di pipi mungilnya. Gadis itu menangis dan terus menangis seakan tak ada harapan lagi untuknya menari seperti dahulu. 

***

 

Tak terasa tiga tahun sudah berlalu, kotak musik itu tetap terletak di atas meja kayu, begitupun dengan gadis itu tetap terdiam dengan tatapan yang hampa. Ia merasa antara ada dan tiada, antara sadar dan tidak. Yang bisa ia lakukan kini hanya menanti hingga matanya benar-benar terpejam selamanya.

 

Namun pada suatu hari di pagi yang cerah, tiba-tiba terjadi sebuah keajaiban. Ada cahaya tipis yang mulai masuk menerobos kotak musik itu. Kelopak mata gadis itu berkedip perlahan karena silaunya cahaya yang menerobos masuk.

Cahaya itu seolah membangunkannya. Matanya perlahan terbuka ia mencoba berharap untuk terakhir kalinya. Berharap akankah ada seseorang yang datang dan membuka kotak itu untuk melihatnya menari kembali. Ia begitu ingin menari, begitu ingin mendengar melodi indah itu lagi, melodi yang dahulu selalu mengiringinya menari.

 

Cahaya itu semakin terang sampai sangat menyilaukan matanya, perlahan terdengar di telinga gadis itu suara alunan melodi yang tak asing baginya.

 

La… la… la…lala…lala….

 

Alunan melodi yang selalu ia dengar dulu saat ia menari. Perlahan tubuhnya mulai bangkit dan mulai bergerak mengikuti alunan melodi namun belum ada senyuman di wajahnya yang mungil itu. Matanya mulai terbuka lebar. Ia melihat dengan jelas sesosok pemuda bertubuh tegap dan besar duduk tersenyum di hadapannya sambil memejamkan matanya seakan ia begitu menikmati alunan melodi indah itu. Terlihat helaian bulu matanya yang panjang dan senyuman di bibirnya yang tipis begitu mempesona.

 

Seketika tanpa ia sadari bibirnya juga ikut tersenyum memandangi pemuda itu. Ia merasa bagai hidup kembali, merasakan indahnya cahaya mentari dan merasa bahagia bisa kembali menari untuk seseorang. Dialah seorang pemuda yang telah membebaskannya dari kegelapan, kesunyian dan rasa putus asa. Gadis itu sangat mengagumi pemuda itu, dan berharap hari esok dan seterusnya ia bisa melihat pemuda itu kembali tersenyum dengan mata indahnya.

 

    ~The End~

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!