Lamaran Impian
10.25
0
82

berawal dari keresahan Riyad, Laila jadi memiliki lamaran impiannya sendiri, bukan hal yang romantis dengan memberikan seikat bunga atau cincin tidak juga berada di restaurant mewah diiringi lagu romantis. lamaran yang berbeda, yang ia pikir tidak akan membawa penyesalan dan permasalahan dalam hubungannya kelak.

No comments found.

 

Getaran handphone menghentikan aktivitas Laila. Panggilan masuk dari sebuah aplikasi hijau menghentikan tayangan anime yang ia tonton secara streaming. Laila mengangkat telepon yang masuk dengan menggeser tanda hijau yang terterapada layar gawainya.

 

“hallo” sapa seorang laki-laki disebrang sana dengan nada khasnya ketika Laila mulai meletakan gawainya di telinga. Dia Riyad. Sahabat baik Laila selama kuliah. Tempat berbagi keluh kesah masa-masa semester akhir dengan setumpuk antrain revisi skripsi dan hal-hal random lainnya.

“kenapa.. kenapa.. kenapa yad. Ada keresahan apa?” Tanya Laila tanpa basa basi, sejujurnya ada rasa penasaran karena Riyad sudah bicara dari kemarin malam melalui sebuah pesan ingin membahas sesuatu katanya. “podcast bersama Laila di mulai hahahaha” Lanjut Laila diiringi tawanya. Keduanya tertawa ringan hingga percakapan mulai serius.

“tiba-tiba aku kepikiran aja sih La, kira-kira dari kamu sendiri nih ya sebagai perempuan gitu gimana nanti kamu pengen di lamar. Dengan cara seperti apa?” kiranya begitu pertanyaan yang terlontar dari Riyad disebrang sana. Ahhh bukan. Riyad bertanya bukan ingin melamar Laila. Jelas tidak seperti itu. Dia hanya penasaran tentang segala hal mengenai perempuan yang menurutnya sulit dipahami.

Laila diam sejenak. Ia termenung memikirkan jawaban yang tepat. Sedikit menimbang-nimbang lamaran seperti apa yang ia inginkan kelak. Romantis kah? Dengan kejutan yang dimana tiba-tiba seorang laki-laki dating dihadapannya bertekuk lutut dengan membawa seikat bunga dan juga cincin emas. Ahh tidak rasanya, bukan hal seperti itu yang Laila inginkan. Lagi pula itu sudah terlalu biasa dilakukan. Makan malam romantis di sebuah café atau restoran dengan diiringi musik khas lamaran kemudian si laki-laki bernegosiasi dengan pramusaji untuk meletakan cincin dalam makanan atau minuman yang disajikan? Tidak rasanya terlalu membahayakan diri sendiri. Bagaimana jika nanti cincinnya tertelan. Lamaran yang diidamkan malah berujung dengan kematian. Tidak lucu rasanya ada berita dengan highline “seorang perempuan meninggal tersedak cincin ketika di lamar oleh kekasihnya di Resto A”

Lalu sebenarnya lamaran seperti apa yang Laila butuhkan? Yaa setelah menimang Laila berpikir bahwa sebuah keinginan belum tentu mampu menjadi sebuah kebutuhan. Bisa jadi hanya sekedar nafsu lewat yang dapat merusak. Ia terus berpikir.

“membawa alat tulis, aku ingin di lamar selayaknya seorang karyawan yang sedang melamar sebuah pekerjaan ada interview dan beberapa hal seperti diskusi kontrak. Membuat batasan dan perjanjian” jawab Laila penuh keyakinan. Mendengan penuturan Laila disebrang sana Riyad mengerutkan dahinya tanda bingung. Ia butuh penjelasan lebih atas ucapan Laila. “Kenapa La? Kok aneh, bukannya perempuan suka hal yang romantis?” Tanya Riyad heran. Ia sedikit terkejut dan bingung atas jawaban Laila. Mungkin Riyad berpikir bahwa Laila aneh. Tidak. Laila tidak aneh ia hanya sedikit berbeda. Laila memiliki pikiran dan pandangan yang lebih terbuka dari pada sekedar kejutan dan keromantisan di hari lamarannya. Pikiran Laila selalu berkelana kemasa depan menjadikannya seseorang yang overthinking. Lingkungannya mengenai pernikahan tidak terlalu baik menjadikan Laila seorang perempuan yang harus berpikir lebih matang mengenai masalah yang mungkin dihadapi setiap pasangan yang ingin serius.  Laila berpikir rasanya terlalu dangkal jika mementingkan sebuah hasrat keinginan untuk sekedar memenuhi gengsi pada lingkungan dari pada sebuah kebutuhan.

“aku rasa itu yang aku lebih butuh dari pada hal romatis dan cincin emas tanda pengikat Yad. Melamar dan dilamar itu artinya komitmen. Berkomitmen untuk memulai sebuah hubungan yang lebih serius lagi untuk sampai kejenjang pernikahan bukan? Menurutku arti dari komitmen sendiri adalah komunikasi dan toleransi. Ketika dilamar nanti ntah oleh siapa aku ingin mengomunikasikan hal-hal yang bisa atau tidak bisa kami toleransi Yad” jelas Laila. Jawabannya cukup tenang dan yakin. Jawaban yang baru beberapa saat ia pikirkan seolah meluncur dengan bebas tanpa ragu layaknya jawaban yang sudah dipikirkan dalam waktu yang lama.

“apa hubungannya La dengan cincin dan kejutan” Tanya Riyad semakin penasaran. Ia belum menemukan titik poin dari jawaban Laila.

Laila mengembuskan nafasnya pelan. Memikirkan jawaban lebih pasti yang ia pikirkan.

“yaa ketika dilamar nanti ada banyak hal yang ingin aku bicarakan. Aku ingin mendiskusikan banyak hal bukan sekedar pesta lamaran yang banyak orang lakukan. Aku ingin membicarakan kekurangan masing-masing, hal yang kami suka ataupun tidak suka. Menyamakan visi dan misi, tujuan dari hubungan ini akan dibawa kemana, tinggal dimana setelah menikah. Menurut aku itu lebih penting dari sebuah cincin. Aku gak mau menjalaninya seperti air mengalir. Nahkoda selalu memiliki tujuan. Aku ingin punya pasangan yang baik komunikasinya Yad, karena kehidupan tidak selalu jalan seperti apa yang kita inginkan. Akan ada saat dimana mungkin aku dan pasangan tidak mampu saling mentolerir tindakan yang kami dilakukan” terang Laila. Ia menjeda sekejak ucapannya. Disebrang sana Riyad mengagguk setuju sambil diam menunggu jawaban Laila selanjutnya. “dilamar dan melamar itu artinya siap menikah kan. Mencoba menyatukan 2 kepala juga 2 keluarga yang pasti berbeda baik pikiran, aturan, prinsip bahkan mungkin juga adat dan budaya. Yang tersulit adalah menikah kan ibadah paling lama, paling panjang yang ntah sampai kapan selesainya. Bukan hanya aku dan pasangan nanti yang berdiskusi tapi juga keluarga inti kami. Misalnya untuk memastikan kedua belah pihak ikhlas dan ridho anak-anaknya menikah, batasan dimana dan sampai dimana orang tua akan mulai ikut campur urusan rumah tangga anaknya dan banyak hal lainnya. Sering kali ini yang dispelekan sebagian orang padahal menjadi bagian yang paling penting. Mendiskusikan tentang konsekuensi perselingkuhan padahal orang tua juga bisa menjadi orang ketiga dalam hubungan anaknya. Jelas aku gak mau hal-ha seperti itu terjadi nanti” Lanjut Laila. Disebrang sana Riyad mengagguk tanda setuju. Riyad berpikir apa yang diucapkan Laila ada benarnya . Ternyata ini bukan hal yang sederhana. Itu yang ada dalam pikirannya. Dalam hubungan banyak hal-hal spele yang dikesampingkan. Padahal batu krikil bisa menjadi tumpukan batu yang rapuh. Yang ketika di lempar lagi batu kecil di tempat atau waktu yang tidak tepat akan runtuh dan hancur. Seperti sebuah bom yang meledak. Hanya menunggu waktu saja.

“iya juga sih, enggak salah. Tenyata ribet juga yaa. Menikah juga jadi ibadah paling lama kalau dalam ibadahnya berisi keluhan dan berantem, ucapan kasar. Dimana bagian ibadahnya. Toleransi dalam hubungan emang harus tinggi juga, komunikasi harus baik juga” ucap Riyad mengiyakan jawaban Laila.

“aku pernah baca satu cerita tentang istri yang menggugat cerai suaminya hanya karena sering membuang punting rokok diantara pot tanaman si istri” jelas Laila.

“Hahhh?” kaget Riyad di ujung sana, tidak habis pikir “kok bisa? Spele banget” lanjut Riyad.

“iya spele kan? Mungkin 1X, 2X, 3X oke lah masih bisa di toleransi, diingatkan baik-baik tapi jika kelamaan padahal sudah diingatkan. Terjadi bertahun-tahun apa enggak kesel juga Yad. Bisa jadi tanaman itu sangat penting buat si istri” jelas Laila mencoba berpikir lewat sudut pandangnya.

“iya juga sih. Mungkin yang dianggap spele oleh kita bisa jadi hal yang penting untuk orang lain” sebagai laki-laki Riyad mulai memahami sesuatu bahwa pentingnya saling menghargai bukan sekedar memenuhi kebutuhan dan janji.

 

Percakapan mereka melalui telepon genggam berlangsung sekitar 1 jam 16 menit. Cukup lama namun tidak terasa. Baik Riyad maupun Laila terhanyut dalam serunya obrolan mereka. Percakapan mereka membuka jalan pikiran dengan sudut pandang masing-masing tentunya mengenai banyak hal penting namun selalu dianggap spele dan diabaikan seolah-olah menjadi bagian yang harus diberi toleransi.

“Yad, Kayaknya enggak bisa lama deh, aku mau pergi jemput ibu pulang kerja” ucap Laila pamit sebelum mengakhiri sesi telepon mereka.

“yahh. Oke deh La.. nanti lanjut lagi yaa podcastnya di lain waktu hahaha” tawa Riyad mengakhiri percakapan mereka. Riyan menggeser tanda merah dengan logo telepon di layar gawainya menandakan percakapan keduanya berakhir.

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!