LIAIOS
39.5
7
302

Raya menggelar pameran tunggal pertama dan terakhirnya berjudul Liaios. Ia kehilangan tangan kanan akibat kecelakaan yang juga menewaskan Sendra. Raya bercerita bagaimana hubungannya dulu. Gabriel yang awalnya curiga berubah menjadi iba, karena Raya lah korban toxic relationship. Meskipun begitu, Gabriel tetap ingin meneliti sampel cat merah dari lukisan Raya.

No comments found.

 

Raya dengan gaun merahnya menatap para pengunjung yang hadir di pameran tunggalnya hari ini. Liaios menjadi judul pameran pertama dan terakhirnya. Sambil menunggu seseorang yang ingin berjumpa secara khusus dengannya, ia mengambil goblet glass yang berisi sirup markisa dengan tangan kiri dan menikmati minuman dingin itu. Cukup melelahkan juga mondar mandir menyapa pengunjung dan menjelaskan makna per lukisan bagi mereka yang sangat penasaran. Atau sekadar berkata “terima kasih sudah datang.”

“Raya!” Gabriel muncul di pintu galeri dan menghampiri Raya. Gabriel adalah sahabat Sendra, mendiang pacar Raya.

 “Hai, Gabriel!”

 “Apakah aku telat?”

“Oh perkataanmu seperti sedang menghadiri pembukaan pameran besar hahaha. Santai saja. Nggak kok.” Mereka berjalan melihat-lihat setiap lukisan.

“Selamat Raya atas pameran tunggalmu! Ngomong-ngomong bagaimana tanganmu, Ray?”

“Sudah membaik. Hanya saja aku tidak bisa melukis lagi.”

“Aku turut berduka atas kematian Sendra dan tentu saja atas tangan kananmu yang hilang. Kalian berdua selalu keren bagiku.”

“Ya, terima kasih. Kecelakaan lima bulan lalu memang sangat tragis. Aku kehilangan orang yang sangat berarti di hidup ini dan juga aset berhargaku. Tangan kanan.”

“Tapi kamu nggak ingin mencoba melukis dengan tangan kiri?” tanya Gabriel.

“Aku tidak terlahir kidal, Gabriel. Ya sebenarnya bisa untuk genre lain, tapi itu akan sulit sekali. Tentu saja karyaku menjadi kurang sempurna.”

“Oke baiklah si perfeksionis. Seperti biasa, karya kalian selalu keren.” Tiba-tiba seorang pengunjung mencari Raya, mungkin dia adalah kolektor.

“Gabriel, aku tinggal sebentar ya. Aku harus menemui wanita itu.” Gabriel setuju.

Gabriel melanjutkan melihat-lihat semua lukisan Raya. Jika dilihat dari jauh, lukisan Raya seperti monokrom berwarna merah. Tapi jika dilihat dari dekat, warna merah adalah penyelesaian akhir atau seperti melapisi lukisan yang sudah selesai. Gabriel memperhatikan dengan sangat detail. Ia seperti mencari sesuatu. Mungkin saja sikapnya dipengaruhi profesinya sebagai detektif.

Pada deskripsi lukisan perempuan berambut ikal panjang dan seolah berteriak ke arah burung gagak, tertulis kalimat:

“Seni rupa, yang lahir dari ‘kesan visual’, memberi ruang bagi rindu-dendam itu sendiri.”

Ada lukisan potret Sendra dan Raya. Dimana Raya sedang membaca buku dan Sendra yang sedang melukis. Ruang pada lukisan itu menjelaskan latar pagi hari yang tenang, dengan pemandangan gulungan ombak dari luar jendela. Tertulis pada deskripsi:

“Diamnya lukisan dan tulisan adalah percakapan kita dengan mereka yang tak terhenti. Justru kebisuan itu membebaskan kita untuk mengembangkan jawaban kita sendiri.”

Gabriel sampai pada lukisan keenam. Lukisan itu menggambarkan seorang laki-laki yang hampir mirip wajah Sendra tengah memainkan boneka tali, dan boneka itu berwujud perempuan. Ia sekali lagi mencoba menemukan apa yang harus ia temukan. Setelah melihat lebih dekat. Ia melihat tulisan samar-samar “terbalik”. Kemudian ia menemukan lukisan terakhir yang cacat, ada bagian kecil sekitar 0,5 cm yang tidak terlapis cat. Dan benar saja, terlihat lukisan ini memang sudah selesai baru dilapisi cat merah. Gabriel segera mengambil foto sisi yang cacat itu.

Raya datang dan mengejutkan Gabriel. “Apa kau menemukan sesuatu?” ia bertanya dengan senyumnya yang manis.

“Bukan apa-apa, aku hanya mencoba memahami maknanya. Bagus sekali semua lukisan di sini. Kau memang berbakat.”

“Bagaimana kalau kita minum teh dulu?” galeri ini menjadi satu dengan kafe jadi di sisi kiri ruangan semua pengunjung bisa menikmati teh, kopi dan juga kue-kue yang enak sekali.

Setelah menunggu, datanglah dua cangkir teh bunga telang dan biskuit ke meja mereka.

“Sorry Ray, kamu sama almarhum Sendra berapa lama pacaran?”

“Sekitar lima tahun. Andai dia masih ada, mungkin ini akan jadi pameran berdua bukan tunggal.”

“Tapi kenapa Sendra tidak menyelesaikan kuliahnya ya?”

Raya menegakkan badannya. “Ya itulah permasalahan yang kami hadapi dalam hubungan kala itu.” Raya mulai flashback semua kisah hidup Sendra.

Sendra yang sangat ambisius menjadi seniman, tiba-tiba kehilangan minatnya dan memilih tidak pernah datang ke kampusnya lagi.

“Setiap aku tanya bagaimana kuliahmu? Ia selalu jawab baik-baik saja. Sampai akhirnya aku bertanya ke teman kampusnya. Ternyata ia sudah keluar dari kampus sejak semester 5. Mendengar pernyataan temannya, aku langsung bertanya kepada Sendra kenapa ia berbohong selama ini.”

“Terus apa alasan Sendra?”

“Sendra justru marah kenapa aku bertanya ke teman-temannya. Ia bilang ia tidak nyaman ke kampus, tidak tahu alasannya apa.” Raya meminum tehnya, begitu juga dengan Gabriel.

“Setiap kali marah dia selalu membanting semua yang ada di depanku. Dan itu membuatku ngeri setiap kali ingin mencari tahu tentang ada apa dengan perkuliahannya,” ungkap Raya. Gabriel yang mendengar tampak terkejut dan tidak jadi meminum tehnya pada seruputan ketiga.

“Aku baru tahu kalau dia temperamen. Aku kira dia hanya pendiam saja.”

“Awalnya aku juga kesal. Tapi setelah perlahan dia mau cerita apa yang sebenarnya terjadi. Aku memakluminya. Sendra terlalu dalam masuk ke dalam karyanya.”

Studio. Empat tahun lalu.

“Sayang, aku sekarang bisa cerita kenapa aku keluar dari kampus, tapi aku mohon jangan memarahiku atau menilaiku buruk,” ungkapnya dengan tiba-tiba. Raya yang sedang membersihkan kuas terkejut dan meletakkan kuasnya di atas tisu.

“Aku gagal seleksi pameran hampir enam kali. Dan aku sangat frustasi. Nilaiku menurun. Semua orang selalu mengatakan bahwa aku harus memperbaiki lukisanku lagi.”

Raya sontak menatap ke lukisan Sendra. “Tapi aku tidak bisa! Ini adalah gaya lukisanku. Setiap seniman unik, dan bebas. Tidak ada seorang pun yang boleh mengaturku, kan?”

“Ya tapi, kamu kan masih status mahasiswa. Bukan maksud diatur, tapi masih di bawah arahan atau didikan deh istilah yang tepatnya.”

“Jadi kamu akan bilang bahwa lukisanku belum selesai. Iya?” Sendra mencengkeram tangan Raya.

“Sendra. Kamu itu seniman hebat. Aku pun mengakui, tapi karya kita akan tumbuh lebih baik dengan mengeksplor dan mempertimbangkan saran orang-orang yang jauh lebih hebat dari kita.” Raya mencoba memberi pengertian kepada Sendra.

“Aku pikir kamu berbeda Raya. Seharusnya kamu tahu kalau aku merasa selesai justru ketika lukisanku tak selesai.”

“Sayang. Karya seni lukis bisa dibilang indah atau tidak memang hanya sebuah kesepakatan bersama antar manusia. Tapi ada batasan-batasan teknik yang harus diselesaikan untuk menampilkan karya itu menjadi lebih baik secara makna dan visual.”

“Apa aku memang tidak cocok menjadi perupa?” Ucapan Sendra seolah membuat tubuhnya mengecil dan meringkuk pada kardus yang usang. Selalu ketika dinasehati, Sendra terlempar ke titik terendah jiwanya. Raya memeluk Sendra. Hanya Raya yang bisa memulihkan rasa semangat di hidup Sendra.

“Karena sering menghabiskan waktu berkarya bersama Sendra. Aku memilih keluar dari komunitas perupaku.”

“Kok gitu, Ray?”

“Sendra cemburu dengan salah satu teman di komunitasku. Ya, dia sangat murka sekali.”

Pukul 19.20. Tiga tahun lalu.

“Kamu dimana, Yang?” Sendra menelepon Raya.

“Oh, sorry¸ aku tadi nggak sempat kasih tahu. Aku lagi di pameran komunitas nih. Tadi dari kampus langsung ke sini soalnya. Kamu mau nyusul ke sini nggak?”

“Apa? Ke pameran? Kamu tuh seharusnya izin dong kemana aja.”

“Ya maaf tadi beneran lupa. Lagian ini komunitas aku. Tempat biasa aku nongkrong, bukan ke tempat aneh-aneh. Kok kamu marah?”

“Oh, kamu ingin ketemuan sama Satria ya. Gitu?”

“Kok jadi Satria sih!” belum selesai Raya berbicara. Sendra mematikan telepon dan memblokir nomor Raya. Raya menjadi panik dan ia pun tidak jadi berlama-lama di pameran tersebut.

Keesokkan harinya, Raya mengecek kembali nomor Sendra. Ternyata masih diblokir. Raya pun mendatangi rumah Sendra. Memanggil manggil dari luar. Tapi tidak ada sautan. Raya yang frustasi bertanya kepada Adel tetangga depan rumah Sendra yang hanya terpaut dua tahun lebih muda darinya. Raya dulu pernah cemburu kepada Adel karena gadis itu pernah menjadi objek lukisan Sendra.

“Iya ada apa, Mbak?” Adel bingung kenapa Raya ke rumahnya di pagi buta sekali.

“Apa semalam kamu mendengar atau melihat mobil Sendra pulang ke rumahnya?”

“Wah, maaf saya tidak tahu, Mbak. Memangnya ada apa ya?”

“Ah, sial! Dia membuatku gila. Tidak apa-apa, Del. Maaf ya ganggu jam segini. Permisi.” Raya pun segera pergi.

Setelah Raya pergi, Sendra dari kamar atas rumahnya menyibak gorden dan menatap Adel. Adel yang tidak ingin terlibat apapun dari dua orang yang menurutnya aneh, segera masuk ke dalam rumahnya dan berpura-pura tidak melihat kehadiran Sendra dari seberang rumah.

“Dia beneran kayak gitu, Ray? Nggak habis pikir aku. Padahal kan kamu ke acara anak seni. Masih sebidang sama profesi kalian.”

 “Dulu aku juga selalu berpikir seperti kamu. Kemudian aku mencoba berdiri dan berpikir di atas sepatunya. Mungkin karena selama itu ia tidak banyak bersosialisasi dengan teman-temannya, jadi aku adalah orang yang paling dia percaya.”

“Ah ya! Betul juga. Cuma kamu yang memahami isi pikirannya. Jadi ia sudah pasti takut kehilanganmu.”

Raya mengambil cupcake dan saat ingin memakannya ia mengatakan “Tapi dia termasuk misterius yang so sweet gitu loh.” Raya tersenyum mengingat kenangannya.

“Oh, ya? Seperti apa?”

“Ia pernah sibuk selama tiga hari nggak bisa dihubungi. Aku pikir ada apa. Ternyata ia membuat lukisan potretku untuk kado ulang tahun. Dan lukisan itu bukan dari cat tapi puzzle kulit telur.

Ulang tahun ke 22.

“Ini gila! Ini benar-benar luar biasa. I can’t say anything! Thank you!” Raya menangis terharu melihat maha karya hadiah dari Sendra.

“Suka?”

 “Tentu saja!” Sendra memeluk Raya.

“Kamu akan selalu hadir dalam maha karyaku.”

“Hahaha… bisa aja kamu, koyakan cat.”

“Loh malah ketawa. Gak jadi suasana romantis dong ini.” Sendra pun tertawa. Sendra lalu bangkit membuatkan minuman kesukaan Raya.

“Ingin minuman coklat panas dengan jeruk, Tuan Putri?” tanya Sendra. Raya kegirangan seperti anak kecil yang mendapat kado natal terbaiknya.

“Bagaimana kalau aku keluar sebentar membeli onigiri kesukaanmu?” tanya Raya.

“Ide bagus. Boleh deh, aku lapar nih.”

“Kalian unik ya. Hahaha.”

“Tapi terkadang dia seperti monster.”

“Maksudnya?”

“Waktu itu, tepat hari Kamis kliwon, malam jumat. Dia tiba-tiba meneleponku dengan suara yang penuh ketakutan.”

Telepon berdering dari Sendra. Lampu kamar Raya tiba-tiba berkedip dua kali.

 “Halo?”

“Raya! Apa yang kamu lakukan?”

“Hah? Maksud kamu?”

“Kamu pasti melakukan sesuatu, kan? Tadi ada seorang nenek-nenek yang berdiri di depan pintu kamarku. Apa yang kamu kirimkan ke rumahku?”

“Jangan sembarangan ngomong!”

“Kamu pasti tahu siapa nenek itu! itu pasti kamu yang mengirimkan sosok itu. Matanya merah menyala.”

“Gimana maksudnya? Kok aku nggak paham.” Gabriel bingung mendengar cerita Raya.

“Sendra tahu background leluhur keluargaku. Begitu pun dengan leluhur keluarganya yang juga menganut suatu ajaran tertentu dulunya. Nah, tapi aku sama sekali tidak ingin memiliki apa pun yang bisa dilakukan oleh leluhurku. Aku juga tidak tahu rupa makhluk seperti apa yang ada di pintu kamarnya. Aku cukup kesal atas tuduhannya yang tidak berdasar. Jadi tiga hari sebelum kejadian itu, kami memang berantem. Ya hanya masalah sepele tapi terus berlarut hingga tiga hari. Karena perkelahian itu, kami tidak berkomunikasi sama sekali. Lalu dia meyakini bahwa yang terjadi itu adalah ulah leluhurku. Ini gila!” Raya memegang cangkirnya dengan erat.

“Kok seram amat, Ray. Itu cuma sekali aja terjadinya?”

“Sambil dimakan kuenya, Gabriel.”

“Oh, iya.”

“Nggak cuma sekali. Pernah lagi dia melihatku masuk lebih dulu ke studio lukisnya, dan memberantakan semua kuas-kuasnya. Lalu berlari ke luar katanya. Dia meneleponku dan aku bilang bahwa aku sedang di galeri. Dia sama sekali tidak percaya. Aku pun mengirimkan foto.”

“Apakah dia skizofrenia?”

“Kurang tahu ya. Dia tidak pernah memeriksakan diri ke psikolog. Dia bilang dia tidak gila. Tapi sering mendengar suaraku di kepalanya. Ini jauh lebih mengerikan, kenapa harus suaraku.” Raya mengangkat cangkirnya dan tersenyum tipis.

“Soal kecelakaan. Apa kamu ingat apa yang terjadi sebelum kejadian?”

“Gabriel, kamu ingin mengunjungi pameranku atau sedang melakukan investigasi?”

“Oh, sorry!” Gabriel menutupi rasa tidak enaknya dengan membenarkan jam tangannya.

Raya tersenyum “Nggak apa-apa kok. Silakan tanya apa saja yang bisa membantu pekerjaanmu. Mengenai kecelakaan itu. Beberapa jam sebelum kejadian, kami beradu mulut. Ia tidak setuju jika aku melanjutkan perkuliahan ke luar negeri. Ia bilang jika aku nekat ia akan menikahiku segera mungkin sehingga aku terikat. Aku bilang tidak bisa, aku masih ingin mengejar karir kesenianku.

Lima bulan lalu, tepat di hari Minggu.

Raya membawakan bunga tulip pesanan Sendra. Ia ingin melukis tulip pink hari ini.

Sendra yang masih terus menyempurnakan lukisan awannya hanya menoleh sebentar ketika Raya datang dan sesekali saat Raya memindahkan bunga tulip ke vas kaca.

 “Awannya bagus.”

Sendra tersenyum. “Terima kasih, Raya.”

Raya? Batin Raya tidak nyaman. Terakhir kali Sendra memanggilnya dengan nama adalah saat Sendra menghancurkan botol minumnya yang berbahan kaca. Ada apa ini?

“Raya!”

“Iya?”

Sendra menghampiri Raya dan menatap mata gadis itu dengan lembut. “Kamu pilih karyaku atau aku?”

“Kenapa harus memilih?” Raya tahu ini adalah teka-teki jebakan.

“Karyamu.” Raya menelan ludahnya. Memasukkan satu tangannya ke saku jaketnya.

“Bukan aku? Aku maksudmu?!” Sendra memukul meja dengan sangat keras.

“Sen, kamu harus tenang dulu.”

“Aku membutuhkanmu di sini, Ray. Please, tetap tinggal di kota ini.” Sendra yang emosi tiba-tiba menampilkan mata yang berkaca-kaca memohon kepada Raya.

“Tapi ini kesempatan emas, Sen. Hanya aku satu-satunya di kampus yang lolos beasiswa ke London. Kita masih bisa kontakan kok. Setiap hari aku akan mengabarimu.”

“Aku tidak punya teman. Kamu tahu itu, kan?”

“Tapi kamu sendiri yang bilang aku bisa menjadi seniman yang besar. Ya ini caranya.”

“Apa kamu yakin akan tetap jadi orang yang sama setelah kembali nanti?”

“Ya tentu dong! Ayolah Sen. Setelah aku kembali nanti kita akan bangun bisnis seni dan desain bersama. Percaya deh sama aku.”

Raya tersentak saat Sendra akhirnya menendang easel kayu yang besar. “Maaf. Aku butuh rasa tenang untuk saat ini. Ayo kita melihat pertunjukan musik sunset.”

Raya mau tidak mau menyetujui kemana saja Sendra membawanya. Sendra menyalakan mesin mobilnya, dan mereka pun pergi ke kafe di pinggir pantai.

Di tengah perjalanan. Raya mendapat telepon dari dosennya. “Halo, Pak.”

“Raya, visa kamu sudah jadi ya. Kamu diminta menghadap rektor dulu terkait persiapan dari kampus.”

“Baik, Pak. Terima kasih ya, Pak.” Setelah dosennya menutup telepon. Raya takut menoleh ke Sendra.

“Pasti urusan beasiswa itu.”

“Iya.”

“Dulu, teman-temanku yang pada akhirnya pergi jauh untuk sekolah, mareka menjadi orang yang berbeda ketika kembali. Menjadi sombong. Aku benci sikap mereka yang seolah sudah menjadi mastah. Bagaimana kalau kita menikah dulu dan aku ikut denganmu ke sana? Ide bagus bukan?”

“Nggak bisa, Sen. Peraturan beasiswa itu tidak boleh menikah dalam 2 tahun ke depan.”

“Ah, brengsek! Apa kamu bisa menjadi seniman hebat tanpaku?” Raya terdiam mendengarnya.

“Lalu Sendra mengendarai mobilnya dengan sangat laju sekali, sampai akhirnya kami kecelakaan dan tanganku harus diamputasi.” Setelah mendengar pernyataan Raya, Gabriel berpikir bahwa korban dari hubungan mereka ini adalah Raya bukan Sendra seperti yang ia pikirkan sebelumnya.

Raya menitikkan air mata melihat tangan kanannya. Gabriel menepuk bahu Raya untuk menenangkannya. Raya sudah ikhlas dan menerima kenyataan bahwa ini adalah pameran tunggal pertama dan terakhirnya.

“Tapi aku sangat berterima kasih kepada Sendra. Ia adalah satu-satunya orang yang menangkap sinyal SOS setiap ayahku memukuliku.”

“Ayah kamu melakukan kekerasan di rumah? Seberapa sering?”

“Terlalu sering sejak masih kecil.”

 “Astaga Raya. Kenapa kamu nggak cerita sih? Itu bisa diproses di kepolisian loh.”

 “Seberapa aman nyawaku sepulang dari kantor polisi setelah melaporkan ayahku? Ada yang bisa menjamin? Cuma Sendra yang menjamin keselamatanku.”

Sudah hampir dua jam Gabriel mengobrol dengan Raya. Ia pun akan segera pamit. Tapi sebelum ia pamit. Ia ingin melihat sekali lagi pada lukisan terakhir. Raya yang kebetulan ada urusan sebentar, berpamitan dengan Gabriel dan meninggalkannya.

Gabriel melihat lukisan terakhir dengan lebih dekat. Melihat ke sana kemari untuk memastikan tidak ada yang memperhatikannya. Lalu pandangannya beralih pada bagian spanram kiri, di antara cat merah di atas kanvas ada tulisan “HELP” yang sangat kecil sekali. Seketika jantung Gabriel berpacu lebih cepat. Ia buru-buru mencungkil sedikit cat pada lukisan itu dan memasukkannya ke dalam plastik khusus milik tim forensik. Gabriel menyembunyikan plastik tadi ke dalam tasnya.

“Hai, Gabriel! Apa kamu sudah menemukan yang kamu cari?” Raya tersenyum dan Gabriel sontak kaget.

“Bukan apa-apa, Raya. Aku hanya sedang mengagumi keindahan lukisan ini. Ya begitu kira-kira.” Gabriel pun segera pergi dari tempat itu.

Banyak sekali pertanyaan di kepala Gabriel. Dengan hati-hati ia akan bertanya satu per satu setelah menyelidiki kandungan dalam cat di lukisan Raya tersebut.

Setelah cukup jauh dari kafe galeri tadi, Gabriel meminggirkan mobilnya. Ia mencari tahu makna Liaios.

Liaios adalah julukan Dewa Dionysus yang berarti membuka ikatan. Dionysus dikenal sebaguai dewa kebebasan dan relaksasi dari rasa takut dan khawatir.

“Ikatan?” tanya Gabriel kepada dirinya sendiri.

“Ikatan bisa bermakna hubungan.” Rupanya Gabriel mendapat permintaan khusus dari kakak Sendra yang tidak percaya adiknya meninggal hanya karena kecelakaan.

Gabriel mengecek perkiraan cuaca hari ini. “Kenapa panas sekali sih.” tapi tampaknya langit mendung. Ia membuka kancing teratas kemejanya. Ia semakin terasa sesak.

Ia melihat ulang beberapa lukisan yang sempat terfoto tadi. Terutama pada kata “terbalik” yang samar-samar. Setelah berpikir lama, Gabriel menduga mungkin saja kata itu merujuk pada objek lukisan. Seorang laki-laki yang hampir mirip wajah Sendra seharusnya menjadi boneka tali, dan perempuan itu justru yang memegang tali dan menggerakan boneka (Sendra).

Gabriel menemukan satu foto Sendra di media sosialnya yang tidak sengaja memperlihatkan sedikit sudut lukisan yang belum selesai. Dan lukisan itu mirip lukisan kedua Raya di pameran tadi.

Gabriel kembali menjalankan mobilnya dengan pelan. Di saat dada Gabriel semakin panas dan sesak, ponselnya berdering tanda panggilan masuk dari Raya.

“Halo Gabriel. Apa kamu sudah sampai?”

“Oh, belum. Aku mampir ke tempat teman sebentar.” Suara Gabriel mulai terengah-engah.

“Ada apa dengan napasmu, Gabriel?”

“Tidak tahu, Ray.”

“Apa kamu pernah tahu tentang kisah hidup Dewa Dionysus?” Gabriel bingung apa yang sedang dibicarakan Raya. “Dewa yang baik hati, suka bersenang-senang tapi ketika marah ia sangat berbahaya. Ia membebaskan pengikutnya dan memberikan anggur. Ia membuka ikatan. Dionysus hadir di karyaku hari ini sebagai perayaan lepasnya ikatan Sendra dengan Raya.” Raya tersenyum di ujung sambungan.

“Raya! Apa yang kamu lakukan kepada Sendra?”

“Mengapa aku harus mengetahui nasib psikopat bodoh yang sudah membuatku kehilangan segalanya. Dia dan karyanya tidak boleh menjadi yang terbaik. Dia pantas mendapatkannya.”

“Ray…” Dada Gabriel semakin sesak. Pandangannya menjadi kabur.

“Apa warna dasar dari cangkir yang kamu minum tadi, Gabriel?” Raya tertawa di seberang sana sambil melihat cangkir yang digunakan Gabriel tadi.” Gabriel lepas kendali, dan membuat mobilnya mengarah ke pinggir tebing, hingga akhirnya jatuh. Bunyi mobil Gabriel yang tertabrak tebing masih sempat terdengar di telepon sebelum lenyap terputus.

“Tentu saja berwarna merah senja Gabriel. Tepat seperti waktu kematianmu saat ini. Indah sekali senjanya. Aku akan membuatkanmu lukisan senja yang indah juga.”

“Sendra, kamu akan tetap hidup di dalam stoples ini.” Raya memegang stoples yang ternyata berisi jantung Sendra.

“Seperti yang pernah aku katakan saat itu. Aku mencintai karyamu. Tapi kamu tidak boleh menjadi lebih hebat dariku. Ah, sialan! Ini semua salah si brengsek ini yang tidak ingin putus.”

Sendra bukan hanya kasar kepada Raya tapi juga berani membentak ibu Raya. Dari situ Raya mendapat red flag bahwa Sendra tidak bisa dipertahankan.

“Aku tidak ingin putus. Apa pun yang terjadi, kamu tetap bersamaku.” Sendra mengikat Raya di kursi samping kanvasnya yang masih kosong.

Malam tiba, Raya mengambil sebotol kecil cairan merah dari dalam lemari pendingin.

“Ini adalah sisa milikmu yang bisa aku campur ke dalam cat merah lainnya. Maha karya terakhir kita, sayang.”

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!