Love stranggle at first sight
40.5
9
306

Kisah sepasang cinta dengan keterbelakangan yang berbeda. Sehingga mengharuskan keduanya untuk melakukan hal yang nekat.

No comments found.

“Kenapa, dulu kita senekat itu?” 

 

“Iya juga, kalau dipikir-pikir… Nakal banget! Tapi kamu juga kan yang punya ide itu?” Aminah mengarahkan jari telunjuk pada David, dan tersenyum pringas-pringis 

 

“Ya, emang… Cuma sekarang kaya gak nyangka aja gitu. Kalau kita berdua, bisa melewati itu semua” pikir David dalam jawabannya.

 

“Hehe, tapi nih… Aku gak mau hal itu terulangi dan terjadi lagi. Jadi, kalau sudah besar nanti, anak-anak kita berjodoh dengan siapa pun… Aku harap, kamu gak akan melarang mereka. Soalnya aku takut, kalau mereka bisa nekat seperti kita 8 tahun yang lalu.”

 

“Tenang aja sayang, aku bakal kasih mereka kebebasan untuk menentukan pilihannya. Eh bentar, sebelumnya aku mau nanya sama kamu”

 

“Mau nanya apa sayang?” wanita itu memberikan sentuhan-sentuhan lembut yang menggoda pada prianya.

 

“Kamu menyesal atau ngak, udah menikah sama pria kaya aku ini?”

 

“Kalau boleh jujur, aku emang nyesel…”

 

“Hah? Jadi selama ini?”

 

“Santai dulu, bukan gitu kok maksud aku,”

 

“Terus?” pria yang tadi termakan godaan dari sentuhan lembut itu tiba-tiba mengerutkan dahi. Kedua tangannya ikut dikepalkan, matanya melirik kesal kanan dan kiri.

 

“Aku kadang, suka nyesel aja. Dengan cara kita untuk bisa bersama hehe…”

 

“Kamu ini, aku kira apa. Sebenarnya, memang salah tapi… Yaudah lah ya, kita jadikan pembelajaran aja,” kata David. Kemudian kepalan tangan kesalnya kini ia bentangkan. Memberi aba-aba pada wanita kesayangannya untuk tidur dalam dekapan tubuh kekarnya yang hangat. “Muach” lanjut David memberikan kecupan manis pada bibir tipis Aminah.

 

“Sayang,” lirih Aminah, terbawa hawa nafsunya.

 

Kedua pasangan itu menarik selimutnya. Mesra, mereka berdua hanyut dalam rasa sayang, di hari Valentine yang bertepatan pada perayaan pernikahan ke delapan. Sebelum percakapan tadi, David dan Aminah menidurkan Azel dan Abira terlebih dulu, dengan tujuan tak di ganggu. Tak lupa juga memajang foto di dinding tengah, atas tempat tidur. 

 

Dan pada pagi harinya, Aminah sudah menyiapkan sarapan yang sangat spesial untuk David yang akan bekerja sebagai guru di sekolah SMK. Begitu pula dengan David, yang mana setelah pulang bekerja, dia menyempatkan diri untuk mampir ke toko bunga. Membeli bunga mawar merah yang cerah. Layaknya pasangan muda yang baru memulai cinta. 

 

Kisah pasangan itu sangat unik, diwarnai dengan lika-liku panjang, sehingga membuat perjalanan mereka sangat berbeda. Mulai dari pertemuan mereka yang tak direncanakan hingga pilihan nekatnya. 

 

Mereka bertemu saat masing-masing dari mereka berkunjung ke festival kebudayaan FYK yang berlangsung meriah di alun-alun Yogyakarta pada tahun 1990 lalu. Kala itu, Aminah bersama dengan teman-temannya menjadi salah satu dari peserta tari. Ia mementaskan tari Serimpi, dan memamerkan batik khas Yogyakarta. Kebetulan David bersama dengan tiga orang temannya lewat. David meminta temannya untuk berhenti berjalan ketika tubuh Aminah sedang melengak-lenggok nan molek menari. Matanya tertanam ia sangat fokus selama beberapa menit itu memandang wajah cantik Aminah. 

 

Jantung berdebar kencang, ia rasa, cinta sudah mulai menyebar ke segala arah sekarang. “Oh kawan, aku kira aku harus segera menemuinya” ucap David setelah pentas itu selesai. Dan melihat Aminah kembali ke belakang panggung. Ia ingin sekali mengejar langkah demi langkah Aminah. Hingga temannya berkata “Kami akan mendukungmu, ayo temui lagi wanita itu.” Empat sekawan itu berlari kencang, sesekali menghindari kerumunan orang. 

 

Mereka pun tiba di belakang panggung, dan benar saja. Aminah berada disana, ia sepertinya sedang merapikan diri dan membersihkan make-up yang tersisa. David sepertinya malu-malu, ia didorong oleh teman-temannya dan dipaksa untuk segera berkenalan. Namun David menolak, ia bilang dan berencana untuk menunggu Aminah selesai. Karena saat itu dalam ruangan begitu padat, sangat ramai. 

 

Selama satu setengah jam, mereka berdiri membiarkan orang berlalu-lalang, sembari curi-curi pandang. Aminah dari kejauhan juga ternyata ikut memperhatikan, empat pemuda yang berada di ujung sana. Selesai berganti pakaian Aminah melewati David, disitu mereka mulai mengikuti lagi arah ke mana Aminah pergi. 

 

Sampai pada sebuah mesjid. Perjuangannya menunggu dan mengikuti akhirnya tak sia-sia. David di dorong ia mengenai Aminah. David tersenyum pringas-pringis, tangannya kaku sekali-kali mengaruk-garuk kepalanya, jantungnya berdebar kencang. Saat Aminah menoleh ke arahnya, “eh” ucap Aminah yang heran. “Maaf, enggak sengaja..” David menundukkan kepalanya.

“Oh iya gapapa,” Aminah tersenyum tipis, kemudian bergumam “mereka ini empat pria tadi, kenapa bisa ada disini?” 

 

“Kamu mau beribadah?” lanjut David, basa-basi.

 

“Iya, memangnya kenapa?” jawab Aminah dengan tanya.

 

“Oh, silahkan. Saya, saya ada perlu sama kamu. Nanti saya tunggu disini ya.”

 

“Perlu apa?”

 

“Tadi saya lihat kamu menari, saya mm kebetulan dari kampus di NTT. Mau survei.”

 

“Kenapa gak sekarang aja?”

 

“Mmm. Gak papa kan udah waktunya sholat…” kali ini ia berbicara dengan yakin. Saat matahari sudah melewati kepala.

 

“Loh kamu dan teman-teman gak sholat?”

 

“Aku Kristen.” Tegasnya, meskipun ragu.

 

“Maaf, ya sudah. Permisi” Aminah pamit dulu, karena akan beribadah.

 

“Iya, silahkan cantik.” Lontaran dari salah satu teman David.

 

“Hm?” Aminah berjalan seolah tak peduli padahal ia sedikit terbawa perasaannya.

 

“Hehe” 

 

“Ish,” David menatap tajam temannya, seakan berbicara. Dia milikku, untuk kau menatapnya pun tak boleh.

 

Kini ia kembali menunggu, tak lama Aminah kembali keluar dan berhadapan lagi dengan mereka. “Niat, mereka menungguku lama disini.” 

 

“Eh, sudah?” 

 

“Iya,” singkat Aminah menjawab pertanyaan salah seorang temannya David. “Kalau boleh tau, kalian ada kepentingan apa?” lanjutnya.

 

“Sebenarnya, kami mm. Kami diberikan tugas, untuk mencari penari dari Jawa. Dan kebetulan kami diterbangkan dari NTT kesini oleh dosen kami.” Alasan-alasan itu yang dipakai David untuk melakukan pendekatan. 

 

“Oh begitu.”

 

“Iya, dan kami boleh tahu siapa namamu?” David terus mencari kesempatan.

 

“Aminah,”

 

“Nama yang bagus, wajahmu cantik.” 

 

“Terima kasih” Aminah tersenyum dan melanjutkan lagi perkataannya, “lalu?”

 

“Begini, kami sepertinya perlu tahu tempat dimana kamu latihan.” 

 

“Ada lagi?”

 

“Dan jika bersedia, kamu bisa ikut kami ke NTT untuk dibawa ke kampus.”

 

“Memangnya saya barang,”

 

“Bukan begitu, kalau tidak bisa tidak apa-apa. Kami juga cukup dengan izin darimu untuk mendokumentasikan kamu saat menari. Dan menanyakan lebih dalam terkait budaya Jawa.”

 

“Baiklah.” Aminah setuju dengan pernyataan David yang masuk akal.

 

“Kapan kami bisa mengunjungi tempatmu berlatih tari?”

“Besok. Karena jika sekarang, tepatnya petang dan malam aku harus kembali bersiap untuk mementaskan tari.”

 

“Dimana kami harus menunggumu besok?”

 

“Jam 09.00 di pusat Malioboro Jl. Abu bakar ali.”

 

“Baik, kami akan menunggumu disana besok pagi. Sebagai perwakilan aku sangat berterima kasih. Oh ya, namaku David” David menjulurkan tangannya, dan di terima oleh Aminah.

 

Aminah tak menjawabnya ia hanya tersenyum dan kembali ke festival. Begitu pula dengan David dan kawan-kawan mereka ikut kembali kesana. Karena ingin menonton kembali acara yang begitu meriah. Di jalan, ketiga temannya sulit percaya pada David yang tadi membuat alasan dengan sangat terperinci dan jelas. Mereka salut dan sepertinya tak menyangka bisa membuat rencana sehebat itu. Hingga pada esok hari, pertemuan kedua mereka di awali dengan ke empat sejoli yang tersasar, sebab waktu itu belum ada akses untuk Navigasi yang bagus seperti sekarang ini. 

 

Sedangkan Aminah yang memakai sebuah rok dan atasan kemeja sudah duduk di kursi yang tersedia disana. Ia sedang membaca sebuah buku. Sangat cantik, dan anggun. Sampai David datang dan terpesona dan matanya langsung tertuju pada Aminah. “Benar, ternyata dia datang. Oh sangat cantik dan rupawan. Apakah ini wujud dari malaikat di Khayangan?”

 

Mereka mulai mengobrol sebentar dan memutuskan untuk langsung pergi ke sanggar tari yang tak jauh dari jalan Malioboro itu. Rupanya dalam sanggar tari itu terdapat banyak barang antik, juga alat musik gamelan. Meskipun banyak wanita-wanita yang sedang berlatih disana pandangan David hanya pada Aminah. Aminah yang kini berjalan berdampingan dengannya. Lama, hampir setengah hari David dan temannya menghabiskan waktu disana. Belajar dan terus memperhatikan gerak lembut dari tarian, tak lupa juga mendokumentasikannya melalui sebuah lukisan. Pertemuan kedua itu membuat David semakin nyaman dan yakin, terlebih dia diharuskan oleh kedua orang tuanya untuk menikah saat lulus dari kuliah. Dan menemukan Aminah seperti anugerah baginya, meskipun halangannya adalah agama yang berbeda. 

 

Namun tetap itu tak mengurungkan harapannya untuk mendekati Aminah, ia menggunakan segala cara agar bisa mengobrol berdua. Aminah yang mulai tertarik oleh kemampuan berbicara David pun mengiyakan. Dia mau untuk di ajak makan malam di sebuah restoran mahal pada saat itu. Karena David berasal dari keluarga kaya, ia tak peduli soal biaya. 

 

Pada malam harinya, pukul 20.00 mereka bertemu. Kali ini hanya berdua tanpa gangguan, mereka berkenalan lebih dalam dan bercerita tentang keluarga masing-masing. Yang ternyata keluarga Aminah adalah keluarga paham agama, yang selalu mementingkan ibadah. Bahkan kakek dari Aminah memiliki pondok pesantren. Sedangkan David sendiri tak terlalu terbuka. Karena sebenarnya ia dilarang untuk menikahi seorang wanita yang berbeda agama. Mungkin itu masalahnya sekarang. 

Dan pada besok hari, tepatnya Senin, David dan teman-temannya itu pulang, jadwal liburan mereka sudah habis. Dan akan segera terbang ke NTT. Sebelum pulang David meminta nomor sanggar tersebut, guna nanti menanyakan dan berkomunikasi dengan Aminah. Malam kemarin pun ia sempat meminta alamat rumahnya. Agar nanti bisa berkirim surat dan sewaktu-waktu ia akan kembali kesini tempat dan orang yang pertama dituju adalah Aminah. Ia juga berjanji pada Aminah, untuk segera menikahinya, namun Aminah masih ragu. 

 

Kabar gembira David telah menemukan seseorang yang tepat itu diberi tahukan pada orang tua dan keluarga besarnya. David berbohong, ia bilang kalau Aminah pun sama, beragama Kristen. Orang tuanya senang, karena David sebagai anak ahli waris itu sudah menemukan pendampingnya. Ia memberikan lukisan dan potret dari Aminah. Respon yang diberikan sangat baik, dan ia juga menceritakan bahwa Aminah adalah wanita Jawa yang kenal dan kental dengan budaya. Sopan santunnya tak harus ditanyakan lagi, karena ia sangat sempurna. 

 

Tidak dengan Aminah yang hanya diam, tak bercerita kepada siapa pun bahwa ia bertemu dengan seorang pria yang merebut hatinya. Aminah melihat David memberikannya rasa sayang dan cinta padanya. Sehingga ia pun bisa begitu. Lalu, surat demi surat datang. Mereka saling berkirim pesan. Menanyakan kabar dan keadaan dari masing-masing. Hubungan itu berjalan lancar perbedaan itu tak menyulitkan mereka. Itu terjadi selama tiga bulan. Karena urusan kuliah David yang harus diselesaikan. 

 

Kemudian, sampai pada titik dimana David akan datang melamar dan menikahi Aminah. Ia sudah berencana untuk berbohong kepada kedua orang tua masing-masing. David, ia datang sendiri dengan keseriusan hati, sembari memberikan Aminah perhiasan yang sangat banyak. Dan membaca syahadat hanya untuk meyakinkan keluarga Aminah bahwa dia beragama Islam. David di tanya-tanya perihal segalanya, termasuk menjadi imam sholat berjamaah. Untung saja sebelumnya ia sudah mempersiapkan, berlatih dengan temannya. Jadi saat ia menjadi imam, semua berjalan dengan lancar. Meskipun ada satu dua ayat dimana ia terbata-bata saat membacanya.

 

Begitu dapat restu dan kepercayaan, David memohon untuk dapat mengajak Aminah pergi ke NTT untuk menyapa keluarganya. Dan terkejut, rupanya dibolehkan. Mereka berdua masih dalam pengawasan. Aminah dan David terbang pada esok harinya. Ketika sampai sekarang Aminah yang berbohong, ia seperti fasih dalam pembacaan Al-kitab juga berani memasuki gereja. Keluarga David seolah tak menyangka bahwa Aminah lebih cantik dari yang mereka kira. Tak henti-henti Aminah dipujinya.

 

Mendapat restu dari keduanya, dan berbohong dengan cara berkhianat sekarang mereka berdua cemas. Cemas dengan apa yang nanti akan keluarganya lakukan jika tahu bahwa keduanya berbohong demi cinta. Karena rencananya, sepuluh hari lagi, akad nikah akan dilaksanakan. Dimulai dari hari ini, mereka tengah mempersiapkan segalanya mulai dari fasilitas dan yang lainnya. 

 

Setibanya waktu akad nikah, yang dilaksanakan di sebuah gedung ternama. Ada kekeliruan yang terjadi. Disana ada, penghulu dan malaikat agung. Terlebih banyak Ustadz tamu yang datang dari keluarga Aminah. Sebelumnya mereka semua mewajarkan, karena mungkin wilayah atau saudaranya. Namun ternyata, ketika  Aminah berjalan menghampiri David. Mereka mengakui semuanya. “Dengan berat hati, kami meminta maaf. Sebelum akad dilaksanakan. Kami ingin bilang, bahwa kami berbohong. Tentang Aminah yang berpura-pura sebagai penganut agama Kristen dan saya sendiri berbohong sebagai penganut agama Islam. Bukan tanpa alasan, kami cinta. Kami berdua saling sayang. Kami tak mau kehilangan, karena kami tahu betul, jika saat itu tak berbohong maka hari ini tak akan terjadi.” Ucap David penuh penyesalan karena telah membohongi keluarga besar. “Dan aku juga minta maaf, semua konsekuensinya sekarang akan aku terima. Tapi izinkan kami saling mengasihi tanpa harus mengkhianati tuhan” semua tercengang, mendengar kata per kata yang keluar dari mulut keduanya. Syok berat, semua tak terima. Ingin salah satu dari mereka mengalah, namun karena keduanya mempunyai iman yang kokoh mereka tetap bertahan meskipun dalam perbedaan. 

 

Akad pun belum dimulai, berjam-jam mereka berdebat dan berbicara soal konsekuensi apa yang akan diterima. Sampai akhirnya sepakat, namun mereka tidak akan mendapat sepeser pun harta bagian dari kedua belah pihak. Dukungan yang mereka terima itu datang dari Ibu Aminah juga Ayah dari David. Dan saat akad berjalan mereka sempat binggung harus mengucapkan ikrar apa dan bagaimana. Karena menurutnya, ikrar tak berarti jika hanya di ucap sebagai janji tanpa adanya bukti. Untuk keadilan, dan tuntutan dari ayah Aminah, akad pun di mulai dengan syarat-syarat Islam. 

 

Tak ada sesi foto atau apapun yang memeriahkan, setelah pernikahan itu sah, semua bubar dan kecewa. Jadi hanya ada foto berdua David dan Aminah. Memang menyakitkan, mempertahan cinta yang berbeda. Tapi ternyata mereka sanggup dan membuktikan bahwa mereka bisa bertahan dalam asas kasih sayang. Selama delapan tahun pernikahan yang sudah dikaruniai dua orang anak laki-laki.

Semoga, teman-teman suka dan terhibur ya!

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!