Luka Untuk Cinta
16.3
1
128

Dena tak mengira setelah melihat kekerasan yang dilakukan oleh orang terdekat di rumah sakit menjadi imbas kepada dirinya. Ia harus merasakan luka demi nama cinta. Luka untuk cinta dan dengan merelakan tubuhnya dihancurkan, rupanya kebodohan. Dena menjadi budak cinta demi kemarahan sang pacar.

No comments found.

Montana, perumahan di tengah kota, tahun 2000. Dena menulis dengan tatanan tidak rapi di secarik kertas dengan buru-buru.

Sosok menampakan diri telah memasuki ruangan bangsal, ruang yang hanya seorang pasien di dalamnya. Aku melihat dengan jelas dan mengetahui bahwa itu adalah penyelundup yang memiliki maksud jahat. Ketika pasien terbangun dan terperangkap di bawah tekanan, cahaya remang-remang masih bisa kusaksikan dengan jelas. Aksi keji dari seorang yang tidak menunjukan wajahnya, menggunakan benda tumpul sebagai alat pemukulan berulang-ulang pada bagian perut, tubuh berlumur darah yang keluar bercucur hingga ke lantai.

Mata berkedip-kedip meyakinkan keraguan. “Astagfirullah.” Lima detik kepala Dena tertunduk dengan pikiran gelisah dan mata terpejam. Saat ia tidak tahan lagi, gemetar sekujur tubuh, sebuah getaran tidak bisa terkontrol sehingga menghasilkan gerakan pena yang merobek sebagian kertas. Segera ia melipat.

Sial! Pintu yang didobrak dari luar, seperti ada usaha mempercepat kematian dengan kasus yang ia tulis barusan. Ketakutan menjadi sesuatu yang utama dan mengembara di dalam pikiran Dena. Sesuai keinginannya, ia menyembunyikan dengan melempar berisi catatan itu ke dalam kolong tempat tidur.

Setelahnya, jantung berdetak semakin cepat, dan kulit licin saat tangan bersandar pada meja karena keringat. Ia tidak tahu hal buruk ini akan terjadi, penjahat itu akan mengikuti hingga rumah. Perasaan tidak karuan bebarengan dengan seorang itu yang  semakin mendekat. Dia tampak seperti badut halloween yang menjengkelkan.

Dena pasrah, dengan terengah-engah , mata melotot, dan tidak bisa menyelamatkan diri.

Langsung terjatuh dalam sekali tamparan, hingga mulut terasa ngilu. Beberapa kalinya berikutnya barulah Dena tidak sadarkan diri. 

Gila. Aroma kekerasan membuyar ke seluruh ruangan ber-AC.

***

Benni memberhentikan mobil di pertigaan, antara jalur menuju rumahnya dan rumah Anggi.

“Apa kalian tidak ingin bersenang-senang di rumahku dulu? Malam ini Ibuku sedang siaran, jadi rumahku kosong,tawarannya.

Dua gadis duduk di kursi belakang, Maria dan Zara, mengeluarkan respon secara bersamaan. “No!”

“Kenapa tidak mau? Cupu sekali kalian ini,” respon Rio, ia duduk di sebelah Benni.

“Jadi?” Benni masih berusaha.

“Terserah. Aku tidak ikut minum,” respon Anggi. Zara dan Maria memandang kepada Anggi, memiliki kerutan yang sama, jidatnya berkomunikasi yang memvisualisasikan sebagai  mengiyakan.

Mereka hanya mendengarkan ocehan Benni, pandangannya agak kabur karena terbawa efek minuman. Kebiasaannya memamerkan kehidupan keluarganya. Alih-alih meminta tepuk tangan.

Anggi mengamati ruang tamu rumah Benni. Fokus memandang pada sebuah foto yang terpajang di atas televisi yang sedang tidak menyala. “Sayang,” Anggi memanggil kekasihnya, Rio. Seorang cowok keturunan dua negara, Indonesia–India.

“Hem, kenapa?” Rio mendekati Anggi berdiri.

“Cantik ya dia. Kapan aku punya wajah secantik orang di foto itu.”

Haha jangan ngarep. Dia pacarku yang sudah pernah kutiduri,” saut Benni yang mendekat dengan berjalan sempoyongan.

“Jadi kapan kamu menyerahkan diri ke polisi?” tanya Rio

“Haha … kalian terlalu percaya,’ balas Benn langsung.

Mereka termasuk dalam level teratas, kuliah di kampus mahal dan tinggal di perumahan elit. Satu sama lain saling bekerjasama jika ada sesuatu hal yang dipecahkan. Hanya yang berbeda Anggi, gadis lemah lembut dari cara bicaranya, menunjukan–sebagian besar sisi–polosnya.

Waktu menunjukkan sembilan malam, dan sudah satu jam sejak setibanya di rumah Benni. Zara dan Maria sudah terdorong oleh rasa bosan memainkan handphonenya. Tidak begitu lama, dering panggilan masuk terdengar kencang. Zara melotot mengamati teman-teman. “Dan itu bukan HP-ku, Maria mungkin?”

“Bukan juga,” balas Maria.

Benni si pemabuk berat sadar juga ada bunyi sedikit. “Berisik, hoy!”

“Sorry, milikku,” saut Anggi sambil melangkah agak menjauh dari temannya. Upayanya untuk membuat jarak.

Itu adalah hari pertama Anggi panik, dan mulai berkemas untuk segera pulang. Semua orang memperhatikannya. Tatapan ingin tahu dan turut khawatir terpancar dari masing-masing mereka. Udara yang keluar dari mulut dan bola mata berputar ke atas, ia menyadari tidak bisa egois. Jemari Rio yang diremas-remas sendiri sempat ia lirik memberikan pengertian yang artinya dia meminta penjelasan.

“Oke. Aku masih belum tau ada apa. Barusan nomor tidak kukenal menyuruhku pulang dengan segera kembali, katanya ada Dena sedang darurat. Tapi yang kudengar suara riuh bercampur sirine. Jadi aku harus pulang.”

“Aku temani, ya!” penawaran Zara.

“Tidak usah. Sudah malam, kamu pulang saja!” balas Anggi langsung.

“Kamu yakin?” Maria memastikan.

“Tidak,” balas Anggi sambil melihat Rio, lalu berganti memandang lainnya.

“Kalau begitu, kita mengantarmu sama-sama. Kecuali Benni, dia sedang mabuk berat, biarkan istirahat!” Rio yang meminta.

Anggi bertanya-tanya apakah telah terjadi sesuatu dengan rumahnya? Apakah mereka juga merasakan hal seperti yang Anggi rasakan? Apakah mereka saling menebak-nebak tetapi hanya jawaban misalkan saja?

 

Jadi tidak ada yang tahu, kecuali setelah sampai. Dan itu terjadi. Anggi bersama kekasih dan sahabatnya disambut dengan dengan rasa terpukul, bukan harapan yang dia inginkan sekarang. Tetapi jawaban, apa yang telah terjadi, dan siapa yang tega terhadap Dena.

Anggi tidak tahan melihat rumahnya sudah penuh dengan banyak orang dan beberapa media sedang merekam liputan. Izinnya licik, tidak ada yang memberitahu sebelumnya, bahkan tidak ada yang menghormati ia sebagai kakak dari Dena. Siapa mereka, tidak ada yang dikenal, kecuali Nyonya Maryam, ibunya Benni.

Rio dan teman-teman Anggi tahu, Anggi telah terpukul. Tetapi ia mencoba menenangkan, minimal selalu bersamanya. Menyelamatkan Dena sudah terlambat, dia sudah babakbelur wajahnya, sedangkan mencari fakta bukan ranahnya.

Anggi melangkah ke kamar Dena dan mulai melihat sekeliling. Lalu bersimpuh lama dengan memeluk sang adaik sedang terkapar pada lantai.

“Harusnya aku gak dugem malam ini. Aku menemanimu di rumah. Katakan siapa yang melakukan ini, Dik?

“Ini tidak kita rencanakan, sudah takdir!” ucap Maria.

“Anggi, kamu harus kuat. Ada polisi yang akan membantumu. Kita tunggu saja kedatangannya setelah melapor.”

“Kurasa ada yang tidak suka pada Dena,” celetuk Rio.

Anggi duduk diam di lantai. Ia mendengar suara orang-orang di luar. Tapi pembahasannya menduga-duga, ada kejanggalan, tetangga tidak mendengar tembakan atau tendungan semacam benda tumpul. Orang berikutnya polisi, mengetuk pintu dan mengucapkan keprihatinan sebelum meminta keterangan lebih lanjut. Lalu suara bising mengurai saat mobil polisi sudah meninggalkan rumah.

Di sisi lain, Nyonya Maryam. Berdiri dua langkah tepat di belakang Zara. “Aku berhenti saat melintas mendengar teriakan orang dan datangnya dari rumahmu. Aku sudah memberikan keterangan sesuai porsi ke publik. Selebihnya, kamu bisa tanyakan jika kamu sudah ada waktu. Permisi!”

“Tante, Maryam!” panggil Anggi, saat Nyonya Maryam mulai lengakah untuk meninggalkan kamar.

“Terima kasih. Sepertinya sudah lebih dari cukup. Aku bisa menangani Adikku. Aku anggap ini adalah musibah, meski aku masih ingin tahu siapa yang sudah tega melakukannya,” ucap Anggi dengan air mata tiada hentinya berlinang.

“Aku paham. Permisi!” Nyonya Maryam mulai meninggalkan ruangan dengan cepat-cepat.

Mungkin itu tidaklah tindakan memaksa atau semacamnya. Mungkin Nyonya Maryam telah mengetahui sesuatu. Demi Allah, dia bermaksud memberi petunjuk. Langkahnya meninggalkan ruangan seperti kapas yang hempas oleh udara, secepat itu.

“Aku tidak apa-apa, besok juga sembuh rasa ngilu ini.”

“Kamu tidak mau memberitahu siapa yang melakukannya?”

“Tidak ada yang perlu kuceritakan, aku sudah ikhlas menerima ini.” 

Anggi menelan ludah, berusaha merapikan rambut yang mengurai di pelipis. Napas panjang diambil mulai bereaksi bahwa ia tidak sendiri. Ia butuh keadilan dan menghadap ke depan cermin. Anggi tahu, ia tidak punya waktu. Pikirannya bebal, otak bisa berpikir dengan jernih, tidak ada cara karena tidak terhindarkan oleh kenyataan buruk. Entah apa ancaman yang akan datang lagi. Ia tahu bahwa tidak ada orang tua lagi.

“Kamu harus tetap tenang. Kita akan siap membantumu. Kalau kunilai ini ada unsur kesengajaan. Jangan pernah menyerah hanya karena ketakutan yang menghantui pikiranmu,” ucap Rio, bermaksud menengakan. Tetapi ia curiga atas kejadian adik Anggi agak memberikan tanda tanya. Dengan notaben tidak ada sikap buruk tetapi bisa disiksa dengan keji.

***

Bayangan hitam yang lewat dan tanpa ciri-ciri melintas di depan rumah begitu saja. Dena seketika terkaget, sempat menutupi wajah dengan kedua tangan. Ia bukan gadis pemberani tapi hanya berpikir positif, meski pikiran itu berkecamuk. Ia juga bukan polos-polos banget. “Aku harus berani apapun resikonya. Siapa tahu itu dia lagi yang datang,” ucap Dena sambil berjalan untuk membuka pintu. Ia berbicara tanpa seorang pun mendengarkan. Indera penglihatannya mulai menyusuri halaman rumah, dan menutup saat tidak menemukan tanda-tanda kemunculan seseorang.

Baru selangkah mengambil arah kursi, pintu digedor sangat kencang dari luar. Anggie merasakan hentakan pada napasnya langsung dan segera beranjak dari kamar untuk menemui Dena. Melihat Dena dalam kondisi tubuhnya seketika bergetar dan nafasnya sesak, terlebih parahnya dia tidak bisa menahan air seni yang mengalir di antara kedua kakinya.

“A-Aku takut.” Mulut Dena bungkam setelahnya. tidak berpikir sejenak saat ia membiarkan diri ini ke posisi lebih menggigil. Tapi memikirkan cara terbaik yang akan dilakukan. Tidak ingin konyol. Itu bukan saatnya berdiskusi dalam hati, dan ia juga tidak siap membuka pintu, ada bayangan barusan yang akan bermaksud jahat, itu di pikirannya.

Dena, buruan bukina pintunya!”

Dan tiba-tiba bayangan yang ada dipikirannya buyar. Dena mendengar suara kekasihnya untuk meminta membukakan pintu dengan segera. Langsung napasnya mengembang ke seluruh dada dan menjadi sesak, ada ketakutan terjadi.  Segera ia melangkah menuju pintu.

“Hei Dena, kamu kenapa ngompol? Apa jarak kamarmu ke toilet cukup jauh sehingga kamu tidak bisa menahan saat berjalan? Bebersihlah biar Kakak saja yang membukakan!suruh Anggi.

“Tidak usah! Kembalilah ke kamar, biar aku saja yang membuka.”

Anggi tidak merespon pernyataan adiknya. Ia membungkam diri, cukup memperhatikan wajah Dena lalu membuka pintu.

“Ada perlu apa?” tanya Anggi.

“Aku pacarnya Dena. Bisa bicara dengannya?”

“Dia sedang tidak enak badan. Pergilah!”

“Aku hanya ingin ….”

Tidak menunggu sampai selesai berbicara kekasih Dena, Anggi langsung menutup pintu. Ia merasakan sedang ditampar oleh kakaknya Dena. Dan pada akhirnya ia tidak tahan untuk tidak bicara. “Jadi siapa dulu yang kutampar? Tanganku sudah gatel. Dasar anak sombong. Semakin kamu keterlaluan semakin menderita saudaramu, ucap kekasih Dena pada diri sendiri sambil berjalan pergi meninggalkan halaman.

Sesaat diimbangi ketegangan atas kemarahan atas perbuatan Anggi dengan gelat sok galak. Langkah kaki agak cepat dari belakang dan agak keras.

Sorry, aku tidak diizinkan membuka pintu tadi. Kamu ada apa lagi ke sini? Belum puas?” tanya Dena penuh penegasan.

“Sudah jangan takut, aku sayang sama kamu dan aku khawatir. Aku tidak akan tidur nyenyak kalau belum melihatmu,” ucap Zio, kekasih Dena.

Obrolan itu terpotong dan Anggie mengajak mereka masuk.

Kalau kamu sayang denganku, kamu tidak akan …,ucap Dena sambil menangis.

“Ssst … jangan menangis! Aku tidak mau kekasihku yang sangat kucintai ini semakin sedih. Masuklah dan istirahat.”

“Tapi Zio.”

“Besok kujemput, jadi jangan berangkat sekolah lebih dulu.”

***

“Orang?” tanya Benni. Ia tidak mengerti apa maksudnya dari pertanyaan Anggi tiba-tiba, dan itu aneh. Namanya perumahan tentu saja banyak yang melintas di depan rumah. “Kamu tinggal tidak sendiri di muka bumi ini, sadar hei!”

“Aku hanya memastikan,” balas Anggi langsung. “Sampai pacar Dena pun tidak kuizinkan menemui Dena.”

“Tidak, kita tidak tahu. Pas baru sampai juga malah tahunya kamu sudah kayacacing kepanasan,” ucap Rio.

Gelat tawa yang kedua kali dari mereka. Untuk memendamkan rasa penasaran yang meningkat di dalam dirinya, kedua lengannya meninggi bebarengan kening menyernyit. Pengakuan yang terjadi.

“Aku tidak melihat apa-apa, itu sebelum kalian datang. Makanya jangan selalu menonton film, jadi terbawa ke dunia nyata. Kak Anggi juga jangan berlebihan! ucap Dena dan langsung meninggalkan ruang tamu.

“Itu halusinasimu saja Anggi. Sudah, kamu fokus saja dengan masalah yang kamu sedang hadapi ini, kuliah yang tidak juga usai-usai,” ucap Maria.

“Tunggu! Orang? Itu bisa jadi orang yang jahat ke Adikmu,” imbuh Zara. Ia memiliki insting itu ada kaitannya dengan penyerangan kepada Dena.

“Jangan overthingking. Itu tidak penting!” saran Benni.

“Oke, Benn ada benarnya. Aku harus menyampingkan pikiran jahat-jahat yang sering muncul ini. Sudah saatnya aku fokus ke satu hal,” balas Anggi. Pikiran mereka yang penuh ketidak percayan akan percuma, bahkan pengakuan itu dilemahkan oleh logika.

“Jadi, polisi belum menguhubungimu juga?” tanya Rio. Ia memastikan.

Anggi menggelang, menyadari bahwa sahabat penuh konpromi yang ia tidak tahu apakah dari mereka ada yang membantu. Ia juga tidak dapat bambayangkan siapa yang harus menyelesaikan jika aparat masih belum memberi perkembangan yang jelas.

***

Zio melajukan mobilnya dengan kecepatan lambat untuk mengatur musik di iPhone-nya. Dena sebagai pendengar menarikan tangannya mengikuti irama musik indie yang sedang diputar, tanpa senyum, terdiam dengan fokus memperhatikan jalan.

Zio bisa disebut bersenang di atas penderitaan orang lain. Zio yang bisa peka langsung mengambil tisu yang ada di depan Dena dan menyodorkan untuk menyeka pipinya yang sudah kunyup dengan keringat.

Dena menerima tawarannya. Ia hanya melirik lengannya, pada jam yang dipakainya, menunjukan pukul delapan pagi. Ia dan Zio sampai di sekolah. Dan meskipun ia tidak tahu menahu secara gambelang bentuk cintanya, ia akan mengatakan dengan sebenarnya, sangat mencintai Zio dan tidak mau Zio bersikap konyol yang membahayakan dirinya.

Zio sejak tadi hingga turun dari mobil memperhatikan Dena. Ia larut dalam kesedihannya, tapi juga penuh tanya padanya. “Dena ayo turunlah! Kamu harus kuat dan membuat keterangan yang baik saat teman-temanmu bertanay kondisimu. Kamu akan baik-baik saja kalau memang tidak mau lebih menderita. Jangan takut ya! Aku akan selalu bersamamu.”

Iya Zio. Dan biarkan aku duluan ke kelas. 

***

“Mau sampai kapan begini? Takut? Apa yang ditakutkan kalau memang tidak bersalah yang santai saja, toh hanya dimintain keterangans saja, kamu bilang saja ke polisi ciri-ciri pelakunya,ucap Anggi kepada Dena. Ia tidak menghakiminya yang bukan-bukan, tetapi tidak amat berlebihan, itu bukan waktunya berduka untuknya. Sudah waktunya mengungkap.

Wajah ketakutan Dena menjalar hingga ke sekujur tubuhnya, dengan tangis yang membuat tubuhnya agak mengigil. Saat ia menapakkan kakinya ke tanah dan menemukan ujung dari maksud paksaan, membuat pernyataan. Batinnya cukup berkecamuk.

Pelaku tidak bersalah telah dinyatakan kepada Anggi, dan meminta berhenti melakukan penyelidikan berbagai saksi yang berkaitan dengan aktivitas Dena semasa itu. Termasuk Zio sebagi kekasih yang setiap harinya bersama Dena. Sudah keharusan tidak ada pembahasan.

“Tidak cukup waktu sebentar untuk melakukan, aku mohon kamu bisa koperatif dalam proses ini. Tetapi aku melihat kamu begitu menutupinya, ada apa dengan pelakunya? Kamu kenal dia?tanya Anggi.

Dena memutar bola mata tetapi wajahnya menganga, tidak bisa menolak pertanyaan yang selanjutnya menyudutkan, tapi sangat menyudutkan. Ia merangkai tiap kata agar tidak salah dalam berbicara, bilang ‘tidak tahu’ adalah jawaban yang baik. “Sialan, itu memberatkanku. Kakak pikir aku otak dari segalanya, rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya, gila kali banyak pertanyaan yang menyampah itu,” ucap Dena penuh kegumuran di dalam hati bercapur aduk dengan kekesalan.

Hingga akhir dari introgasi, banyak pertanyaan menggantung di isi kepalanya telah Anggi putuskan membenci adiknya. Rupanya Anggi tetap tidak tahu menahu. Ia memusatkan marahnya pada benda di kamarnya.

“Jangan berlebihan, aku sudah gede Kak. Anggap tidak ada kejadian pada diriku!” Pintu kamar didorongnya dengan kuat, suara dan getar pun terdengar keras. Selanjutnya terdiam, disambutnya pikiran kesal diambang pintu malah semakin meluapkan emosi.  Tanpa sepatah kata terlontar selain kekian. “Sialan!” ucap Dena sambil berjalan menuju kamarnya sendiri.

***

Zio dan teman-temannya berjalan cepat-cepat mengikuti Dena. Hingga sampi di dalam perpustakaan barulah tidak lagi menguntit. Ia takt saat Dena berjalan sendiri diganggu oleh cowok-cowok tidak baik. Secara garis besar kekasihnya telah dicurigai.

Sekitar jam dua belas, mereka, para sahabat Zio telah melihat Dena. Hari yang malang harus menerima musibah seberat itu. Mata berkaca-kaca tidak bisa membohongi kesetiaan seorang sahabat. Dena dan cowok lain telah bercengkrama lama di kantin.

Zio perlahan menyekat air mata yang sudah membasahi pipinya sejak tadi. Lima pemuda itu duduk tertunduk, masing-masing berpikir tapi tidak ada jawabannya. Kemudian sampai akhirnya beberapa kalimat dinyatakan salah satu dari mereka, “sampai kapan kamu cemburuan? Memang berdiam tidak akan mengubah segalanya. Kalau harus bersalah nantinya, itu sudah risiko, sekarang kita mau atau tidak untuk melakukan? Tapi sampai kapan kamu seperti ini Zio?

“Jangan bilang kamu menantangiku?”

“Ti-idak.”

***

“Maksudmu aku selingkuh? Sama siapa?” tanya Dena kesal dengan ulah Zio yang tiba-tiba menarim tangannya dengan kasar dan mengajak ke gudang belakang sekolah.

“Kamu itu milikku!Tegas Zio dengan nada meningginya.

Yang kamu maksud Yudis? Teman sekelasku yang kutemui di kantin?

“Syukur deh kalau paham.”

“Dia temanku, aku tadi hanya mengembalikan uang yang kupinjam kemarin. Lagian aku gak suka sama dia, sukaku sama kamu, kamu doang!” ucap Dena meyakinkan Zio. Ia bermaksud menengahi obrolan yang sudah tidak sehat itu.

Dena kamu memang paling benar. Ya memang kita di garis kebingungan sekarang, antara aku yang gak memahamimu atau kamunya yang terlalu murahan.

“Zio, jaga omonganmu ya!”

“Kenapa? Mau marah? Marah aja kalau mau marah!”

Dan bagaimana? Karena Zio telah kehabisan akal. ia cenderung emosi. Melupakan peristiwa itu sejenak yang menghantui pikirannya. Ia pasti akan menemukan cara, dan  dalam waktu yang cepat. “Jadi kamu sudah mulai berani sekarang, ya.Zio mendekati Dena.

Dena sadar, tubuhnya mulai lemas dan perutnya tertekan oleh dorongan benda tumpul bekas kursi rusak. Ia merasa bahwa minta maaf adalah hal cukup baik untuk mengembalikan stamina yang sempat terkuras ini. Bukan untuk bersantai dengan bernegosiasi. “Maafin aku Zio, aku gak akan ngobrol sama cowok lagi. Mundurkan benda ini. Perutku sakit, Zio aku kohon!”

“Oke, tunggu di sini, aku akan mengambil tas lalu kita pergi bersama.”

Zio mengambil konci mobilnya dan tas. Dengan cepat-cepat ia segera kembali ke gudang.

Bergegas ia meninggalakn ruang kelas. Ia mengaruk-garuk kepalanya di antara jari tengah dan telunjuknya saat lupa akan sesuatu.

“Ada apa? Oh, iya bukuku ketinggalan.” 

Hal berbeda, Dena segera menghubingi Anggi yang pada saat bersamaan Anggi sedang sibuk dengan jam pelajaran di kampusnya. Bersama Zara dan Maria sedang mendengarkan dosen menjelaskan. Mendengar ponsel berdering kencang. Maria tahu itu darimana asalnya. Sebuah meja, ponsel yang tak lain adalah kepunyaan Anggi yang berdering kencang. Anggi pun mengangkat segera, mendapati nomor Dena sedang memanggil. Semakin dekat semakin penasaran. Ia tahu tidak sopan akan mengangkat panggilan, harus melepas image sopan dari dirinya untuk pertama kalinya. “Halo! Kenapa Dik? Kakak sedang kuliah.

“Kakak, tolong aku, segera datang ke sini. Aku sudah mengirimkan lokasi. Cepat Kak!”

“Kamu ada apa. Bilang pelan-pelan!”

“Arrgggg, jangan sakiti aku. Ampun Zio, ampun!” Dena tidak membalas omongan Anggi dan malah berteriak lalu meminta ampun.

Pada saat bersamaan. Nyatanya Zio merebut ponsel Dena dan membanting dengan bergesa-gesa hingga hampir jatuh tersandung pintu. Ia harus melepas keberanian Dena, dan tidak ingin kekasih yang ia cintai cowok yang lain. Karena Dena sudah centil, maka sudah saatnya dia menerima akibatnya, sedikit memberikan pelajaran. “Kamu punyaku. Bagaimana jika punyaku diganggu. Apa lagi kelancanganmu ini bisa berakibat fatal! Ingat itu! Kamu hanay milikku!

Zio, lepaskan aku. Apa yang kamu asal jangan kasar kepadaku? Jangan berlebihan!” ucap Dena di sela-sela siksaan yang bertubi-tubi.

Zio bungkam. Ia tidak tahu bahwa kemarahan yang ia perbuat telah terjadi saling sahut dengan pikiran merasa puas melukai Dena.

Dena meminta maaf berkali-kali. Dan mengembalikan keadaan, ia tidak menghilangkan penilaian bahwa ia bersalah telah membuatnya marah “Zio sekali lagi aku minta maaf!”

Dena, sudah diam saja, nikmati saja atas perbuatanmu ini. Lagian kamu tahu aku sangat sangat sayang padamu, tapi kamu malah mengecewakanku.

“Zio. Kalau tidak aku bungkam kemarin, mungkin kamu sudah di penjara karena Kakakku akan melaporkan. Tapi aku melindungimu, aku sayang sama kamu dan aku gak mau kamu masuk penjara.”

“Jangan banyak bicara!”

Keadaan semakin menduga-duga. Anggi berpikir posti saja. Ia tidak menduga yang macam-macam tentang adiknya yang penuh tanya, bawasannya ia sudah berlebihan. Tetapiada kalanya penasaran muncul di saat-saat seperti ini.

Anggi mendatangi sekolah Dena bersama sahabatnya. Saat diarahkan oleh satpam, barulah ia menemukan titik di mana Dena berada. Alhasil, ia dibuat tercengang dan penuh kemarahan melihat sang adik diperlakukan tidak selayaknya manusia. Tangan dijerat dan di tapar berkali-kali.

Rio dan Benni spontanitas melakukan pertolongan terhadap Dena dengan meringkus Zio dan mebawanya pergi, tak lain adalah ke pihak yang berwajib. Lalu, hari itu pun menjadi histeris dan berita viral di sekolah.

“Maafkan Kakak terlambat, Dik. Maafin Kakak,” ucap Anggi sembari menangis dan mendekap adiknya.

“Maafin Dena, Kak. Harusnya Dena bilang sejak awal, kalau Zio yang melakukan.

“Kamu aman sekarang, Kakak tidak akan membiarkan kamu diperlakukan lagi seperti ini. Kakak janji!”

“Terima kasih.”

-o0o-

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!