MARINE'S LOVE
183.25
68
1330

Dalam perjumpaannya dengan Profesor Michael di Swedia, Carla (Tenaga Ahli Pelabuhan Rotterdam) menceritakan kisah asmaranya dengan Arez zaman kuliah Teknik Sistem Perkapalan di Surabaya. Ada dua pelajaran penting yang dia dapat: Perempuan mampu bertahan di industri perkapalan & Jangan pernah menggadaikan mimpi demi hubungan yang toxic!

  • Tulisannya menarik kak, jalan cerita yg berbeda dari tulisan umum bikin pengen baca sekali duduk. Kk nulis di pf mn aja? Oh ya klo berkenan silakan mampir ke tulisanku ya, judul : Kandang Untuk Istriku, smoga ada krisarnya, makasih.

  •  

    MARINE’S LOVE

    Oleh: Ardian Yudha

    Sejauh mata memandang, hamparan salju menutupi hampir seluruh area ini. Warna putih kapas itu menghiasi setiap blok jalanan, atap gedung, ranting-ranting pepohonan, hingga sela jendela kaca. Dinginnya hampir dipastikan di bawah nol derajat Celsius. Hawa dingin selalu merebut jatah panjang musim di wilayah ini. Jangan kaget kalau semua yang tinggal di sini sudah kebal akan dingin yang menusuk.

    Malmo, kota terbesar ke tiga di Negara Swedia ini masih juga menyimpan daya tarik tersendiri untukku. Kenangan menuntut ilmu beberapa tahun lalu menyisakan rasa kagum pada kota di tepi laut ini. Kurang lebih dua tahun sampai aku mendapatkan gelar master dari salah satu kampus maritim yang terbaik di dunia, World Maritime University.

    Aku merapatkan jaket musim dingin berwarna krem dan menarik penutup kepala agar sepenuhnya menutupi kuping. Meski sudah terbiasa dengan musim dingin Eropa, nyatanya kulit Asia Tenggara masih juga sensitif jika itu terlewat dingin. Aku menyeberangi jembatan yang air sungai di bawahnya sudah hampir membeku. Di sisi sebelah kanan terpampang nyata tugu propeller, khas sekali dengan kampusku ini.

    Aku mempercepat langkahku agar hawa dingin ternetralisir. Di depan ada gedung kampus khas bangunan Eropa, di sampingnya ada gedung berarsitektur modern dengan sudut tidak beraturan tengah menungguku. Berdiri gagah bak seorang pangeran berdiri menanti putri cantik jelita dambaannya. Mantan dosen pembimbingku pasti juga sudah menanti di ruang kerja favoritnya itu.

    Setelah menhentak-hentakkan kaki di pintu gedung, agar bekas salju rontok dan tidak mengotori lantai, aku masuk dan menaiki tangga. Ruangan yang kutuju terletak di lantai lima. Dengan sopan, aku mengetuk ruangan kaca dan seorang lelaki tua dengan rambut beruban membukanya.

    God morgon, Carla! I was right, it must be you knocking my door in this beautiful weekend,” sapanya dengan nada riang. Selamat pagi! Aku benar, itu pasti dirimu yang mengetuk pintuku di hari libur begini.

    God dag, Profesor!” Aku menyapanya dalam Bahasa Swedia ringan.

    “Kau sudah sarapan, Carla?” Profesor Michael berjalan santai ke meja teh dan hendak membuatkan secangkir teh hangat, “Mau minum teh? Kau pasti kedinginan setelah berjalan santai di luar sana.”

    Aku tersenyum menimpalinya. Lelaki yang mendekati usia pensiun ini tidak banyak berubah. Sangat ramah kepada tamu-tamunya. Termasuk anak didiknya yang bahkan jarang sekali berkunjung. “Boleh kalau itu tidak merepotkanmu, Prof.”

    Professor Michael mengajakku duduk di sebuah sofa putih gading. Dia meletakkan cangkir tehku di atas meja kaca, sedikit mendorongnya ke arahku. Aku mengangkatnya, kemudian menyeruput teh yang masih mengepul itu. Professor Michael masih saja melempar senyum padaku.

    “Kapan terakhir kau mengunjungiku ke sini, Carla? Seingatku kau tidak banyak berubah sejak terakhir kita bertemu. Masih gadis Asia yang cantik. Well, bagaimana pekerjaanmu di Rotterdam?”

    Aku menegakkan tubuh kembali, menatapnya. “Prof jangan membuatku merasa bersalah karena jarang berkunjung ke Malmo. Bukankah terakhir kali kita masih bertemu di Konferensi Internasional Maritim di Jerman tahun lalu?”

    “Ah, iya di Jerman. Tentu aku ingat. Hasil risetmu terkait isu lingkungan pelabuhan akibat pembuangan air balas sangat menarik. Kau memang membanggakan, Carla.”

    “Pelabuhan Rotterdam sejauh ini sangat baik, meskipun setahun terakhir banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan. Prof pasti paham betapa padatnya pelabuhan itu. Jadwal mengajarku di beberapa kelas tambahan di Netherland Maritime University juga lancar. Hanya saja, inilah tujuanku menemuimu di sini, Prof. Aku mengundurkan diri dari keduanya.”

    Profesor Michael menaikkan alisnya. “Jangan bilang kau ingin pamit padaku?”

    Aku terkejut dengan tebakannya, nyaris sempurna. “Itulah. Kupikir sudah waktunya kembali ke Indonesia. Jasamu membimbingku selama dua tahun dan merekomendasikan aku bekerja di Rotterdam hingga tiga tahun rasanya tak bisa kubalas. Aku sangat berterima kasih, makanya aku menyempatkan mampir ke Malmo.”

    “Sayang sekali. Ilmu dan pengalamanmu pasti akan jauh lebih banyak jika tetap di Eropa. Atau kau ingin pindah pelabuhan di Negara lain? Aku bisa merekomendasikan.” Profesor Michael berusaha membujukku. Dia tahu betapa berartinya pekerjaan ini untukku.

    Tack sa mycket, Herrn! Terima kasih banyak. Kau tetap bisa merekomendasikanku untuk kuliah doktor, tapi mungkin nanti setelah urusanku di Indonesia selesai. Kalau kau tidak keberatan merekomendasikan aku ke Asutralia sana. Selebihnya aku ingin mengajar di Indonesia. Ada tawaran dari kampusku di Surabaya. Sepertinya mereka butuh tenaga ahli pelabuhan.”

    Profersor Michael menghela napas panjang. Raut mukanya berubah muram. “Well, dengan senang hati kalau soal itu. Namun, urusan apa yang menyebabkanmu buru-buru pulang?”

    “Prof tahu usiaku sudah tidak muda lagi sebagai perempuan. Hampir dua puluh sembilan. Sudah waktunya menikah,” kataku ragu-ragu.

    “Wow, jadi kau akan menikah? Ini berita gembira,” Profesor Michael kembali ceria, “Tunggu dulu! Aku pikir selama lebih dari lima tahun kenal, kau tidak pernah terlihat berpacaran.  Atau ada bule Belanda yang sudah membuatmu tergila-gila?”

    Aku tertawa mendengar leluconnya. Profesor Michael bangkit dari kursinya. Menuju jendela kaca dan menatap ke luar. Dia memang seperti bapakku sendiri. Sangat perhatian.

    “Kau lucu, Prof. Sebetulnya ada hal yang membuatku ingin terbang ke Indonesia sesegera mungkin. Seseorang lebih tepatnya. Dia menghubungiku bulan lalu, setelah bertahun-tahun kami tidak berjumpa. Kau ingin mendengar ceritaku, Prof?”

    Profesor Michael berbalik badan, bersandar di tepian jendela. “Ini hari libur, Carla. Kau tahu kakek tua ini sangat suka mendengarkan dongeng. Ayo ceritakan!”

    “Baiklah. Anggap saja aku seorang anak yang sedang bercerita kisah asmara zaman kuliah pada bapaknya. Dia adalah Arez, bekas pacarku selama kuliah di Surabaya …,” ceritaku dan mengalirlah kisah zaman di kampus perjuangan itu.

     

    ***

     

    Kampus Perjuangan, sepuluh tahun sebelumnya.

    Hari ini adalah hari pertama orientasi mahasiswa baru. Aku dan lebih dari seratus dua puluh anak lainnya diminta berjajar di sebuah lapangan fakultas. Kewajiban kami sebagai seorang mahasiswa baru jurusan Teknik Sistem Perkapalan adalah memakai kemeja marun. Maka, segerombolan marun berkepala gundul berbaris. Di bagian tengah berdiri pula segelintir gadis berkemeja sama, namun tidak gundul. Total perempuan kala itu tidak sampai dua puluh orang.

    Seorang kakak Pembina berdiri dengan mata melotot di depan patung propeller. Dengan tegas, dia menerangkan beberapa hal yang harus dituruti mahasiswa baru selama orientasi. “Dalam satu angkatan, kita akan memilih satu komandan tingkat. Siapa yang bersedia? Maju!”

    Di situlah aku pertama kali mengenalnya. Arez, komandan tingkat angkatan kami. Anak Jakarta dengan perawakan putih, tinggi sekitar 175 sentimeter, berbadan atletis, dan memiliki aura seorang pemimpin. Tidak, aku tidak langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

    Kami berproses seperti biasa. Pengenalan mahasiswa baru, memasuki perkuliahan semester awal, mengerjakan tugas, membuat yel-yel, ikut seminar wajib, dan juga unit kegiatan mahasiswa. Bisa dibilang, kegiatan orientasi dan mata kuliah desain kapal-lah yang mendekatkan kami.

    Bukannya sombong, untuk ukuran perempuan di penjurusan teknik yang berhubungan dengan kapal, aku termasuk salah satu yang cukup dipertimbangkan secara fisik. Kata seorang senior berdarah batak, “Siapa nama kau? Apa tujuan kau bergabung dengan jurusan ini?”

    “Carla, Kak. Saya sangat tertarik untuk mencoba karena prospek keilmuan di bidang sistem perkapalan ini cukup bagus,” kataku.

    “Bah, macam mana pula kau mau coba-coba. Kampus kita ini tidak butuh mahasiswa tidak siap macam kau. Ini pekerjaan laki-laki. Memangnya kau mau kerja panas-panasan di galangan kapal?”

    “Memanganya ini bukan pekerjaan perempuan, Kak?” tanyaku polos.

    “Berani kau membantah, ya?” Senior batak itu menghardikku tanpa tahu letak salahku di mana. Tidak ada satu pun teman yang berani berpendapat lagi, kecuali Arez.

    Arez mengangkat tangannya. “Saya bantu menjawab, Kak. Justru dengan adanya mahasiswi, jurusan kita menjadi berwarna. Walaupun perkapalan sangat identik dengan laki-laki, tapi saya yakin perempuan juga layak. Bukannya sudah banyak contohnya engineer perempuan yang hebat? Makanya, hari ini kami ikut orientasi agar bisa belajar dari para senior.”

    “Menurut kau dia bisa bekerja di bidang ini? Lihat penampilannya,” kata senior batak.

    Seorang senior perempuan, yang mendapat peran antagonis juga dalam acara orientasi ini, mencibirku. “Badan kurus, rambut lurus, kulit lembut, tinggi semampai, kaki jenjang, terkena panas sedikit berlindung di balik telapak tangan. Itu sih ciri-ciri model, bukan anak teknik. Hahaha.”

    Ini nyata terjadi. Kampus teknik di mana saja seharusnya sama. Apalagi penjurusan yang sangat manly membuat keberadaan seorang wanita dipertanyakan. Untuk pertama kalinya aku merasa disepelekan dan dianggap sebelah mata sebagai perempuan. Di satu sisi, aku berterima kasih kepada Arez yang berusaha membantuku.

    Lupakan soal stereotip negatif anak teknik terhadap perempuan. Setidaknya aku bukan perempuan satu-satunya, dan beberapa temanku justru prestasinya sangat luar biasa.

    Kisah berlanjut, beberapa kegiatan dan kuliah bersama membuat aku dan Arez semakin dekat. Di mata kami, Arez adalah sosok pemimpin tegas dan bertanggung jawab. Dia juga anak pintar. Terbukti dia juga salah satu jagoan di kelas. Nilainya juga bersaing dengan para kutu buku di kampusku.

    Hal paling heroik yang pernah dia lakukan untuk teman-teman perempuan adalah saat diadakannya orientasi kampus serentak. Arogansi jurusan biasa terjadi untuk mempertahankan citra masing-masing. Dengan gagah, Arez berteriak memberi komando, “Perempuan di angkatan kita boleh sedikit jumlahnya, tapi mereka aman bersama kita. Ayo lindungi para perempuan, letakkan mereka di tengah barisan, jangan biarkan jurusan lain menyenggol satu pun dari mereka.”

    Sampai suatu hari …

    “Carla, kamu mau tidak jadi pacarku?”

    Di sana, duduk di pelataran perpustakaan, dekat dengan monumen mesin kapal, Arez menyatakan cintanya. Setelah menimbang-nimbang, rasanya aku juga menyimpan kekaguman sendiri pasa anak laki-laki itu. “Iya, aku mau,” kataku.

    Asal kau tahu, anak itu penuh perhatian. Tidak ada pacaran biasa dalam kamus kami. Hampir semua orang di jurusan tahu kami menjalin hubungan. Tidak segan-segan, kedekatan itu juga kami pertontonkan selayaknya dua sejoli sedang dimabuk cinta. Lama-lama, perasaan itu tumbuh meranggas. Aku bagai seorang budak cinta untuknya. Dia pun begitu.

    Apa yang membuatku tergila-gila pada Arez? Bukan sekadar pertanyaan klise sepasang kekasih seperti “Kamu sudah makan?” atau “Jangan lupa mimpikan aku!” atau kado bunga dan boneka seperti anak SMA. Tidak, Arez tidak sereceh itu.

    Dia akan berkata, “Honey, tugas desain kamu sudah? Kalau belum, ayo kita kerjakan bersama.”

    Dan juga, “Honey, kalau ada mata kuliah sulit dimengerti, beri tahu aku! Kalau bisa, aku akan mengajarimu. Kalau tidak, setidaknya kita bisa belajar bersama dengan yang lainnya.”

    Atau begini, “Honey, semangat ujiannya! Semangat presentasinya! Aku yakin kamu bisa menaklukkannya.”

    Entah mengapa, hal-hal seperti itu justru terdengar romantis di telingaku. Sepak terjang kami sebagai sepasang kekasih juga tercium oleh para dosen. Seorang dosen pengampu mata kuliah Bisnis Maritim bahkan memberikan gelar resmi kepada kami, “Marine Used!”

    Kau tahu apa maksudnya itu? Marine used adalah istilah yang dipakai untuk menyebut klasifikasi barang seperti mesin, pompa, pipa, atau furnitur yang didesain untuk ramah digunakan di laut. Misalnya properti untuk kapal. Istilah sebaliknya adalah land used. Nah, mahasiswi perkapalan yang dipacari atau dinikahi oleh mahasiswa satu jurusan itu juga marine used. Masih saling bersinggungan di satu bidang yang sama. Saling melengkapi dan tentunya serasi.

    Meski begitu, tidak pernah sekalipun aku mampu menandingi prestasi Arez dalam bidang akademik. Kalau tidak di bawahnya, pasti sama rata. Sampai suatu hari, Arez marah-marah di depanku.

    Di sebuah pendopo yang dikelilingi taman bunga dan pohon anggur di fakultas kami, Arez mendatangiku dengan muka masam. Dia memegang sebuah kertas.

    “Sial, kenapa bisa nilaiku hanya B di mata kuliah ini?” katanya dengan nada keras.

    Aku tahu, bagi Arez, nilai adalah segalanya. Dia sudah terbiasa dianggap sebagai anak pintar sejak dari SD. Ambisinya terhadap pelajaran sangat kuat. Kalau bisa, dia adalah orang yang nilainya paling tinggi. Aku sebetulnya tidak paham, di mana letak permasalahannya. Satu nilai B tidak akan membuat keseluruhan nilainya hancur. Indeks prestasi kumulatifnya bahkan masih menempati posisi tiga teratas.

    “Kau tidak paham, nilai B hanya akan membuat aku sakit mata. Padahal aku sudah rajin mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, dan aku rasa jawabanku di ujian lalu sudah tepat. Menyesal aku mengambil mata kuliah dosen ini.”

    “Bersabarlah! Setidaknya nilaimu yang lain A,” kataku berusaha menenangkan.

    “Kau tidak paham juga pentinganya ini? Ini bekal untuk nanti, kau akan lebih mudah mendapat kerja atau lanjut kuliah. Paham?”

    Calm down, Arez. Nilai tidak menjamin seratus persen kita akan sukses. Justru pengalamanlah yang berbicara,” kataku lagi.

    BIG NO! Boleh saja aku menerima nilai terkutuk ini andai saja yang lain juga mendapat hal setimpal. Aku tidak merasa lebih jelek dari mereka. Lihat nilaimu! Kau bahkan mendapatkan AB. Bagaimana bisa padahal aku yang selalu mengajarimu.”

    Telingaku panah mendengarnya. Ini sudah keterlaluan. Arez tidak seharusnya mencurigaiku hanya karena satu nilai itu. Apalagi aku ini pacarnya. Aku tak menanggapinya lagi. Kutarik tasku dan bergegas pergi meninggalkannya. Lalu kami putus.

    Kau tahu apa yang terjadi berikutnya?

    Arez mengirimkan pesan, “Maafkan aku. Tolong jangan putuskan aku. Kau tahu aku sangat mencintaimu. Tadi hanya emosi sesaat. Tolong Carla, kau tahu aku tidak bisa hidup tanpamu?”

    Kata-kata penyesalan yang manis itu menyadarkanku. Bukankah aku memutuskannya hanya karena tidak terima dengan perkataannya? Itu juga bentuk emosi sesaat. Lalu aku memaafkannya dan menerimanya kembali.

    Kami berpacaran lagi, lebih mesrah dari biasanya. Permasalah nilai sudah sepenuhnya kami lupakan. Arez mulai sibuk dengan organisasi. Aku justru tertaik bergabung dengan International Office kampus sebagai volunteer.

    Suatu hari, organisasiku itu membuka kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar selama dua minggu di Bangkok. Aku terpilih. Arez juga mendapatkan posisi penting di organisasi kampus. Kami berdua disibukkan dengan kegiatan masing-masing, walaupun masih seperti amplop dan perangko.

    Sepulang dari Bangkok kesempatan itu mulai terbuka lebar. Kemampuan berbahasa Inggrisku meningkat, termasuk cara berkomunikasi, negosiasi, dan mengurus kegiatan mahasiswa asing. Jangan ditanya sudah berapa kali aku dan Arez putus kemudian kembali berpacaran lagi hanya karena masalah sepele. Aku dianggap terlalu superior dibanding Arez.

    Itu tidak bertahan terlalu lama. Di tahun ketiga aku sempat memutuskan berhenti dari semua kegiatan organisasiku. Bahkan, terang-terangan aku menolak kesempatan untuk mengikuti seleksi pemilihan Mahasiswa Berprestasi kampus. Dibujuk untuk ikut pertukaran pelajar lagi pun aku abaikan. Semua itu kulakukan karena Arez.

    Suatu kali kami bertengkar hebat, dia menangis hebat. Meminta maaf padaku. Dia pun melibatkan ibunya untuk ikut-ikutan meminta maaf padaku. Bahkan kata ibunya, Arez selama di rumah lebih banyak mengurung diri. Jadwal makan berantakan. Ibunya takut kalau anaknya berbuat nekat hanya karena putus cinta. Maka, dia membujukku agar mau kembali.

    Aku setuju.

    Kami lagi-lagi berpacaran untuk ke sekian kalinya.

     

    ***

     

    Profesor Michael menatapku lurus. Kemudian ia bergerak menuju sofa, mengambil tehnya dan menyesapnya.

    “Carla, ini sungguh menggelikan. Aku ini seorang guru besar, tapi harus mendengarkan cerita cinta anak muda yang bodoh dan tidak masuk akal. Bagaimana bisa pacarmu itu berperilaku demikian? Apa kau tidak merasa kelakukannya itu berlebihan? Toxic!”

    “Aku tahu. Betapa bodohnya aku terlibat toxic relationship seperti itu. Aku penah menyesal, dan sampai saat ini juga menyesal, karena tidak pernah memanfaatkan masa kuliahku sebaik-baiknya. Seandainya berpacaran dengan Arez itu terhindarkan, mungkin aku sudah keliling beberapa Negara untuk pertukaran pelajar dan mengurus perjanjian kerja sama, atau berdiri tegak menerima medali dan beasiswa sebagai mahasiswa berprestasi.” Kini giliranku menyesap teh yang sudah dingin itu.

    “Tidak apa, itu pelajaran hidup. Jangan kau kira kisah asmaraku juga tidak penuh liku. Kau belum pernah merasakan cinta tanpa restu, kan? Tapi cerita itu nanti saja kau dengarkan. Sekarang lanjutkan ceritamu. Bagaimana akhirnya kau terlepas dari masalah itu dan berakhir di sini?”

     

    ***

     

    Tahun ke empat kami kerja praktik di sebuah galangan kapal berdua. Sebuah galangan kapal milik pemerintah di Tanjung Perak, Surabaya.

    Pagi-pagi sekali, kami sudah dipanggil menuju ruangan engineering oleh seorang pembimbing yang ditunjuk untuk membimbing kami selama kerja praktik sebulan di sana. Sebut saja Pak Dimas. Beliau membentangkan sebuah coretan gambar di depan kami.

    “Ada masalah di lapangan. Kalian pelajari dulu gambar ini!” kata Pak Dimas. Mukanya serius sambil berkacak pinggang.

    “Ini gambar apa, Pak?” tanya Arez.

    Setelah kuamat-amati, sepertinya aku familiar dengan bentuknya. “Itu tempat docking kapal, kan, Pak? Masalahnya apa?”

    “Ayo ikut saya ke lapangan!” kata Pak Dimas sambil berlalu keluar ruangan. Kami mengekor. Aku tidak menyadari perubahan wajah Arez saat itu.

    Di dekat dermaga, ada sebuah tempat docking yang terendam sebagian. Bentuknya aneh, dia miring. Kami bergerak mendekat. Ada beberapa teknisi dan engineer lain di sana sedang mengatasi permasalahan itu. Sebuah kapal yang sepertinya baru dimasukkan ke dock yard terguling sehingga sebagian lambungnya menabrak dinding dock yard.

    “Astaga, itu kenapa miring, Pak?” tanya Arez sekadar berbasa-basi.

    Pak Dimas memperhatikan Arez dan aku secara bergantian. Dia mengernyit. Tangannya menggosok dagunya seperti sedang berpikir. “Menurutmu kenapa?”

    Lagi-lagi kami berpikir. Mencoba memahami apa yang ada di hadapan kami.

    “Ah, kalau dilihat lagi sepertinya ada masalah di air balas tempat docking-nya, Pak. Kalau begitu, apakah masalahnya ada di pompa? Ketidakseimbangan proses kerja kedua sisi pompa menyebabkan air balas berat sebelah. Saat dock di angkat, kapal yang tertumpu di atasnya menjadi tidak seimbang dan terguling. Benar begitu, Pak?”

    “Kalau begitu siapa yang salah kira-kira?” Pak Dimas melanjutkan menguji kami.

    “Tergantung, harus dicek lagi kinerja pompanya, dan dicek ke petugas apakah dia melakukan kesalahan. Masalah ini bisa timbul karena kesalakan teknis mesin atau murni kecelakaan akibat kelalaian manusia,” jawabku.

    “Kau benar, Carla. Kurang lebih begitu penjelasannya.” Pak Dimas kemudian menoleh ke arah Arez, “Kau sudah paham, Arez? Kalau belum paham kau bisa meminta Carla mengulangi penjelasannya untukmu.

    Arez hanya diam menyimak. Aku masih tidak sadar dengan perubahan wajahnya yang semakin masam. Sepertinya aku melakukan kesalahan. Setidaknya di mata Arez itu adalah kesalahan mutlak.

    Sifat kekanak-kanakannya terlihat menjelang siang. Tidak banyak percakapan yang terjadi di antara kami. Aku sibuk mengamati pekerjaan di galangan. Kami melanjutkan observasi ke bagian pengelasan lambung kapal. Di depan kami, sebuah bangunan kapal baru sedang dikerjakan. Tingginya sekitar sepuluh meter di atas permukaan tanah, mengharuskan kami menaiki tangga dan menyeberangi jembatan buatan untuk menuju ke deck paling atas.

    Di situ aku sedikit kesulitan. Perasaan takut muncul sedikit. Beberapa teknisi yang menyadari, sedikit menertawakanku. “Wah, cantik-cantik mau naik. Hati-hati berbahaya!” kata mereka sambil terkekeh.

    Di luar dugaanku, Arez menimpali dengan ketus sambil berlalu menaiki tangga terlebih dahulu. “Iya, memang dunia kapal ini seharusnya pekerjaan laki-laki.”

    “Apa kau bilang?” Aku menyelanya.

    “Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa. Lekas naik atau kau tidak akan tahu proses pengelasan di atas.”

    Saat itu aku merasa sebal sekali dengan perlakuan Arez. Sikapnya sungguh tidak mencerminkan sosok kepemimpinannya yang selama ini aku kenal dan idam-idamkan.

    Setelah itu, kejadian memuakkan kembali terjadi sepulang dari galangan. Hujan turun sedikit lebat. Dengan jas hujan, kami menerobos menggunakan motor. Berboncengan berdua. Tiba-tiba saja Arez bertingkah saat kami sedang terjebak lampu merah.

    “Kau tidak seharusnya mempermalukanku di depan Pak Dimas tadi. Jangan sok pintar dengan menjawab semua pertanyaannya itu.”

    “Apa maksudmu? Salahku di mana? Dia hanya bertanya dan aku menjawab, murni sebagai anak bimbingannya,” belaku.

    “Tetap saja, kau merasa superior di bandingkan aku.”

    “Oh Tuhan, Arez, sudah berapa kali kita membahas soal superior yang sebenarnya hanya ada di pikiranmu itu. Selama ini aku sudah banyak mengalah, menghentikan seluruh kegiatan dan kesempatanku untuk berkembang demi hubungan ini.”

    “Jadi kau menyesal berpacaran denganku?”

    “Siapa sih yang bilang begitu? Aku hanya ingin kau menyudahi pertengkaran ini!” Tak sadar, aku mulai menitikkan air mata. Kenapa sampai hati Arez berpikiran sedemikian kejam tentangku. Pacarnya.

    “Oh, jadi kau ingin menyudahi ini? Kau memutuskan aku lagi?”

    “Arez, please … hentikan omong kosong ini!” pintaku setengah meraung. “Hentikan atau aku turun dari motor sekarang juga.”

    “Silakan saja kalau itu memang maumu!”

    Bagaimana bisa Arez berbicara begitu. Karena sesaknya dadaku, dan aku sudah tidak ingin lagi mendengar ocehannya, aku memutuskan turun dari motor. Di bawah hujan yang semakin lebat. Aku pikir, Arez akan berubah pikiran. Begitu lampu lalu lintas berubah hijau, dia menancap gas dan benar-benar meninggalkanku sendirian.

    Beruntung ada seorang engineer galangan tempatku kerja praktik lewat dan melihatku di pinggi jalan. Dia menepikan motornya dan menyapaku. Tak perlu menanyakan kenapa aku hujan-hujanan, dia menawarkan untuk mengantarkanku.

    Malam harinya, Arez mendatangi rumahku. Kebetulan orang tuaku sedang tidak ada. Lagi-lagi Arez menyesali perbuatannya.

    “Aku minta maaf karena meninggalkanmu di jalan. Aku benar-benar brengsek. Aku hanya cemburu padamu karena kau mendapat pujian lebih dari pada aku. Benar, itu jelas-jelas salah. Kau boleh memarahiku, memukulku, tapi jangan memutuskanku. Please!”

    Aku bergeming. Sudah kebas dengan semua drama yang dilakukan Arez. Aku pun tak berusaha mengeluarkan sepatah kata pun. Tak kusangka, Arez tiba-tiba menampar wajahnya sendiri.

    “Kalau kau tidak mau menghukumku, biar aku yang lakukan.” Dia menampar lagi pipi satunya. Berkali-kali sambil menangis.

    “Arez, apa-apan kau ini? Hentikan!”

    “Tidak, selama kau tidak mau memaafkan aku, aku pantas menerima hukuman ini.” Arez kemudian beranjak ke dinding kosong yang ada di samping pagar. Dia menjedot-jedotkan kepalanya sendiri ke tembok sambil terus meraung.

    “Oke, aku sudah memaafkanmu. Sekarang pulanglah dulu. Kau butuh istirahat, aku pun butuh karena sudah kehujanan sore tadi. Tolong pulanglah sebelum tetangga ramai karena mengira aku berbuat jahat padamu. Bukannya kau menyayangiku?”

    Setelah beberapa saat meyakinkan Arez, dia mengangguk dan pergi dari rumahku. Aku benar-benar kesal dibuatnya. Aku menangis semalaman meratapi nasibku sendiri.

    Hampir tengah malah ibunya menelepon. Menangis tersedu-sedu meminta aku berbaikan dengan anaknya. Katanya Arez mengancam melukai pergelangan tangannya karena sudah tidak ada harapan lagi bersamaku. Dia menyesal dan pantas mati. Aku sudah tidak tahan lagi, ini sudah keterlaluan.

    “Bu, terima kasih sudah memohon padaku. Tapi, Ibu tentu paham apa yang terjadi selama ini karena kita terus berkomunikasi. Masalah mental Arez yang seperti itu, aku sudah tidak sanggup mengatasinya lagi. Dia tidak butuh aku. Dia bukan tanggung jawabku. Ibu sebagai orangtualah yang tahu apa yang terbaik untuk Arez. Beri dia pemahaman agar tidak merusak hidupnya sendiri.” Aku memberi jeda, ibunya hanya terisak dan tidak menyela.

    “Bu, justru karena saya sayang dengan Arez, saya ingin yang terbaik untuknya. Bukan berarti saya harus terus merelakan nasib dan masa depan saya. Ibu percaya kan Arez itu anak pintar? Tolong beri Arez pengertian. Tidak ada yang bisa mengubahnya selain dia sendiri dan keluarganya. Kalau pun harus melibatkan psikolog, lakukanlah! Bukan saya menggurui ibu, saya hanya ingin terlepas dari ini semua.”

    Masih tidak ada jawaban dari ibunya Arez, maka aku melanjutkan dengan nada yang lebih tenang. “Bu, Arez pernah bilang ke saya, dia ingin ke Angkatan Laut. Kalau pun itu yang terbaik, dukung dia! Saya akan mencoba membantu dengan menjauh dari Arez. Saya akan menerima tawaran untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Saya percaya, kami berdua akan baik-baik saja dan menemukan jalan terang di depan saja.”

    Aku menyudahi. Ibunya masih terisak, kemudian mulai merespons dengan membenarkan semua perkataanku. Sejak saat itu, entah bagaimana caranya, Arez tidak pernah lagi menghubungiku. Di kampus pun kami berusaha untuk tidak bertemu satu sama lain. Dengan bantuan dosen, kerja praktik kami pun dipisah. Arez tetap di galangan, sedangkan aku pindah ke kantor badan riset milik kampus yang juga dikelola dosenku. Beruntungnya, lepas dari kerja praktik hanya tersisa skripsi yang bisa kami lakukan terpisah.

    Singkat cerita, kami benar-benar putuh hubungan sejak saat itu. Aku fokus mengejar beasiswaku ke Swedia dan setahuku Arez pulang ke Jakarta dan mempersiapkan diri masuk sekolah Angkatan Laut. Jangan ditanya apakah tidak berat melakukannya. Berat, tentu saja. Tahu sendiri kalau aku sudah jadi budak cinta. Tapi, saat itu ternyata logikalah yang menang dalam pertempuran. Maka di sinilah aku sekarang bersamamu.

     

    ***

     

    Profesor Michael bertepuk tangan. Wajahnya berubah cerah dan dia menyalamiku.

    “Selamat, Carla. Kau sungguh hebat. Bisa membuktikan dua hal. Pertama, kau buktikan bahwa perempuan juga bisa bersaing di industri ini. Lihatlah dirimu sekarang. Bahkan aku yakin, sepulangnya kau ke Indoensia, pasti banyak pihak atau institusi yang membutuhkan jasamu. Kedua, kau sudah melewati fase jenuh yang peling jenuh dalam asmara. Seharusnya kau sudah belajar banyak hal. Tidak selamanya cinta seindah Jack dan Rose dalam Titanic. Betul, kan?”

    Aku tertawa mendengar lelucon Profesor Michel. “Absolutely true, Prof. Aku tidak kebagian cinta sejatinya Jack dan Rose. Hanya kebagian tenggelamnya hubungan asmara seperti Titanic, meninggalkan kenangan yang bisa menjadi pelajaran. Anggap saja masa lalu itu seperti bongkahan es di Samudera Atlantik itu.”

    “Jadi, tadi kau bilang pulang ke Indonesia karena seseorang dari masa lalu. Kau bukan pulang untuk berbaikan dengan si brengsek itu, kan?” kata Profesor Michael terkekeh.

    “Well, aku pulang sekaligus untuk menghadiri pernikahannya. Dia meminta maaf dengan sungguh-sungguh dan meminta restu agar pernikahannya lancar. Hahaha. Memangnya aku ini ibunya sampai harus dimintai restu?”

    Profesor Michael mengerling ke arahku, tubuhnya rileks, tangannya menyambar secangkir teh yang sudah semakin dingin itu.

    “Aku juga akan merestui kepulanganmu ke Indonesia. Kabarkan kapan saja jika kau sudah butuh rekomendasiku untuk gelar doktor di Australia. Pastikan kau akan mengundangku ke pernikahanmu.

    Satu lagi, mungkin aku tidak akan datang mengingat badanku sering sakit-sakitan kalau perjalanan jauh. Jadi, lebih baik ajak suamimu berbulan madu di Eropa sekaligus mengunjungiku. Atau kita bertemu di Denmark. Kau tahu kan, aku tinggal menyeberangi Jembatan Oresund untuk sampai ke Kopenhagen. Kau bisa mengambil hadiah pernikahanmu nanti di sana. Hahaha.”

     

     

    Contact Us

    error: Eitsss Tidak Boleh!!!