Meleset
12.75
3
96

Hanya potongan harian Arabela Yuanita, seorang remaja SMA. Tentang cinta pertamanya yang sepertinya tak berbalas kepada Zaidan Haqi Janitra.

No comments found.

03 Agustus 2015

Sudah seminggu berlalu sejak masa orientasi siswa, itu artinya sudah seminggu pula aku berhasil mengendalikan diri. It’s okay. Masih ada waktu kurang lebih setahun. Kamu bisa bertahan selama ini, pasti bisa bertahan di sisa tahun ajaran ini. Setelah itu? Lari!

 

04 Agustus 2015

Maaf atas tulisan tanpa konteks di halaman pertama kemarin. Seharusnya halaman pertama diary ini diawali dengan ini:

Alhamdulillah, senang sekali aku diterima jadi salah satu siswi di salah satu SMA favorit kota ini, SMA Nusa Bangsa. Di tengah lautan anak-anak dari SMP Nusa Bangsa, rasanya murid dari sekolah lain bisa dihitung jari. Di kelasku saja hanya ada aku yang beda sekolah dari murid-murid lain. Sisanya? Anak-anak SMP Nusa Bangsa–yang mendapat prioritas bisa melanjutkan di sekolah ini dibanding murid-murid sekolah lainnya. Aku ingin marah saat mereka semua dengan mudah punya teman sebangku, sedangkan aku ditinggal sendirian tanpa teman. Gila. Belum apa-apa, tapi rasanya aku seperti di-bully.

Ah. Harusnya aku nggak boleh marah begitu cepat. Karena yang selanjutnya terjadi adalah hal yang lebih besar dari kemarahan: PANIK. Sip, dengan huruf kapital.

Panik, karena mau tidak mau aku harus sebangku dengan seseorang yang datang terlambat di hari pertama masa orientasi siswa. Panik, karena kalau dia berani telat di hari pertama sekolah begini, itu artinya dia punya nyali.  Berarti siap-siap saja tamat pula riwayatku sebagai teman sebangkunya. Panik, karena sosok yang telat dan terpaksa jadi teman sebangkuku itu ganteng. Iya. Ganteng. GANTENG BANGET BUSET. Lebih tepatnya begitu. Panik, karena kupikir dengan wajah gantengnya itu, dia akan sombong, tapi ternyata ramah banget.

“Nama kamu siapa?” “Seragamnya kok beda, dari SMP mana?” “Rumah kamu di mana, tadi naik apa?” “Temen satu sekolah kamu ada di kelas mana lagi?” dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang dia lemparkan saat ada kesempatan. Nggak peduli dia baru saja dihukum menyanyikan Indonesia Raya di depan kelas–suaranya nggak buruk, by the way–dan menarikan yel-yel masa orientasi siswa. 

Aku? Aku menolak ini adalah cinta pada pandangan yang pertama. Mustahil banget, jantung jadi berdebar-debar begini hanya karena disenyumin teman sebangku. Meskipun teman sebangku itu orangnya… ya itu tadi, ganteng-banget-buset.

Aku berusaha nggak menghitung ini sudah hari ke berapa sejak pertemuan pertama kami, yang jelas rasanya udah lama banget. Aku ingin cepat-cepat naik kelas. Zaidan Haqi Janitra ini nggak sehat banget buat kesehatan jantungku.

 

14 Agustus 2015

Si jangkung yang ganteng-banget-buset ini, ternyata anak paskib. Wah, semuanya diborong sama dia. Pantesan sewaktu masa orientasi siswa dulu dia populer banget. Udah ganteng, ramah, pinter, suaranya bagus, eeeh dia juga jadi anggota pasukan pengibar bendera kota ini.

“Ra, pinjem catetan dong!” adalah kalimat yang sering banget aku dengar sejak pertama kali kami duduk sebangku. Aku sih, nggak keberatan memberikan pinjaman buku catatan, tapi bisa nggak sih si Haqi ini kalau ngembaliin  catatannya biasa aja, nggak usah sambil senyum cerah begitu? Tolong aku….

 

17 Agustus 2015

Zaidan Haqi Janitra. Kalau pakai seragam paskibraka, statusnya berubah jadi: GANTENG BANGET BUSET GILAAAAAA!! Minggir kalian semuaaaa! Buminya mau aku lipat-lipat biar cuma cukup untuk aku sama dia!

 

8 September 2015

Ara kamu kok bisa sih nggak naksir Haqi?”

“Dingin banget deh kamu, Ra. Tahan banget deket Haqi.”

“Mirip ratu salju banget Ara kalo sama Haqi bisa lempeng banget.”

Ha. Ha. Ha.

Rasanya ingin menertawakan ucapan-ucapan mereka. Ini bukan lempeng. Ini bukan dingin. Belum tau aja mereka kalau setiap dekat sama Haqi, semua syarafku rasanya malfungsi.

 

8 Oktober 2015

Hari ini aku remedial ujian Matematika. Nggak begitu kesal karena memang aku nggak begitu jago Matematika. Tapi aku malu banget karena Haqi, si pinter anak kesayangan guru-guru ini, nilai ujian kemarin juara satu paralel. Kenapa kamu sempurna banget sih, Haq? Meski kamu tawarin aku untuk belajar bareng, aku nggak berani. Aku takut kamu jadi ilfeel sama aku yang bodoh ini karena otak kamu terlalu tinggi untuk disejajari.

 

20 Oktober 2015

Nggak cukup dengan kelebihan-kelebihan kamu yang udah aku sebutin di halaman-halaman sebelumnya, kamu harus juga ya, Haq, jadi Putra Nusa Bangsa? Harus juga gitu ya, Haq, bakal selalu berdiri bareng mbak Kalina yang cantik luar biasa itu setiap sekolah kita ada event karena kalian terpilih jadi icon sekolah ini selama setahun ke depan sebagai Putra dan Putri Nusa Bangsa? Cukup dong, Haq. Jangan bikin diri kamu sendiri semakin nggak tergapai. Aku nggak sanggup ngejarnya….

 

11 November 2015

Nyerah, yuk. Haqi banyak yang naksir. Termasuk mbak Kalina. Aku dibanding mbak Kalina, ya nggak ada apa-apanya. Belum juga mulai pendekatan, udah patah hati duluan melihat banyaknya saingan. Hahaha. Konyol, kayak punya kesempatan sejak awal aja. 

By the way, aku beli buku agenda ini kan untuk nyatet evaluasi harian dan mingguan, kok isinya jadi Haqi melulu dah? PERGI KAMU HAQI. AKU MAU BENCI SAMA KAMU.

 

14 November 2015

Jangan lupa ambil fotokopi rangkuman biologi di toko Handayani. Beli stabilo baru, jangan yang warna kuning biar nggak sama kayak punya Haqi.

 

17 November 2015

Terkutuklah semua guru Kimia yang memaksa muridnya untuk ujian ulang karena data yang kemarin nggak disimpan!

 

17 November 2015

Hari ini kacau sekali. Seneng dan rame karena ulang tahun Friska heboh banget, teman sekelas ngerjain Friska sampai nangis, tapi setelah itu dia ketawa-tawa. Sedih banget, karena kami semua dihukum memungut sampah di seluruh penjuru sekolah sepulang sekolah sampai sore. Mana besok ujian Sejarah. Ini sih, menangis dalam tawa namanya.

Ditawarin Haqi pulang bareng. Aku nggak mau. Aku masih mau benci sama Haqi. Mending jaga jarak aja.

 

28 November 2015

Ingin nangis! Dibantuin Haqi bikin catatan Sosiologi dan Geografi. Dicontekin catatan rumus Matematika dia (dan akhirnya dia ngajarin aku juga) yang ternyata caranya lebih gampang. Kenapa nggak dari dulu ya, aku setuju diajarin Haqi? Ingin nangis karena Haqi baik banget. Ingin nangis karena aku pengin benci sama Haqi, tapi ini bocah kayak nggak rela banget dibenci. Jangan gini lah, Haq. Kasihani aku.

 

7 Desember 2015

Musim ujian dimulai. Nggak usah mikirin Haqi. Fokus dengan ujianmu, Arabela Yuanita!

 

15 Desember 2015

Siapa yang hari ini terpesona ngelihat Haqi main futsal dan berkali-kali mencetak skor waktu classmeet tadi? Seluruh kaum hawa Nusa Bangsa, tentu saja. Nggak peduli kakak-kakak senior meski udah punya pacar pun, tetep semangat menyoraki nama Haqi.

Kamu pakai pelet atau gimana, Haq? Kenapa yang naksir kamu banyak banget, deh?!

 

18 Desember 2015

Siapa yang kaget Zaidan Haqi Janitra juara 2 paralel? Nggak ada. Juara satu dipegang anak XD yang emang terkenal pinter banget, Rafassya Danendra. Kelas XE kami cukup bangga dengan prestasi Haqi yang berjilid-jilid seperti nggak habis-habis ini. Dengan diterimanya rapor kami, maka dimulailah dua pekan tanpa Haqi. Nggak tau harus senang atau sedih.

Oh, dan aku ranking 10 di kelas ini. Bukan paralel. Alhamdulillah. Lumayan, lah.

 

20 Desember 2015

Udah kangen Haqi. 🙁

Masuk sekolah kapan, sih? Masih lama, ya?

 

1 Januari 2016

Selamat tahun baru, Haqi, di manapun kamu berada. Aku tau sih, kamu di mana sekarang, karena aku lihat unggahan terbaru facebook kamu dan kamu sedang liburan ke rumah nenek kamu di Mojokerto. Sampai ketemu besok Senin, Haq!

 

7 Januari 2016

Sedih banget hari ini ngobrol lama sama Haqi, dan kami jadi berdebat nggak penting. Awalnya Haqi tanya, aku akan meneruskan ke jurusan apa di kelas XI? Aku jawab Ilmu Sosial, karena aku tau dia akan ke MIPA. Dia kaget dong, dan kelihatan agak marah? Haqi bilang, sayang banget masuk IS karena dia merasa aku bisa bertahan di MIPA. Ya, masa aku harus bilang aku nggak ingin ke MIPA karena takut sekelas lagi sama dia? Lagipula aku lemah banget di Matematika, dan dia tau itu karena dia yang selama ini banyak ngajarin aku.

Setelah itu Haqi jadi diam, nyuekin aku. Aku salah apa, sih, Haq. Jangan bikin aku sedih gini, dong.

 

14 Februari 2016

Cie yang ulang tahunnya bareng dengan hari kasih sayang, tapi sampai sekarang masih jomblo. Semangat, Arabela!

 

15 Februari 2016

(MASIH PAGI. DITULIS KARENA KAGET BACA PESAN DI FACEBOOK)

Haqi kirim pesan, memberi ucapan selamat ulang tahun. Terima kasih, Haqi. Seandainya hari ini ada ujian Kimia mendadak, aku akan tetap bahagia karena kamu menyelamatkan hari ini dengan mengirim pesan buat aku pagi-pagi begini. Kamu pasti baru bangun tidur, terus mengecek notifikasi pengingat di facebook, terus jadi tau kalau kemarin ulang tahunku, terus langsung kirim pesan buat aku? Gemasnyaaaa! Telat sehari nggak apa-apa, yang penting diucapin kamu. Hehehe.

 

15 Maret 2016

UTS sudah usai, tapi kok rasanya PR nggak selesai-selesai, ya? Rasanya kok nambah terus tiap hari. 

 

5 Juni 2016

Selamat ulang tahun, Haqi. Aku bersyukur sekarang hari Minggu (dan libur beberapa hari awal bulan Ramadan). Karena kalau hari sekolah, aku pasti terpaksa harus terus menerus melihat kamu. Dan aku pasti nggak bisa menahan senyum bodohku karena seneng banget memandang kamu.

 

6 Juni 2016

Baru juga bersyukur kemarin nggak harus terus ngelihatin kamu. Eh. Kamu hari ini ngajakin buka bersama bareng. Pakai jemput aku ke rumah, pula? Ini gimana, Haq? Katanya kamu mau traktir karena kamu ulang tahun, tapi nggak ngajak yang lain karena kamu sedang bokek. Jadi cuma aku yang diajak sebagai perwakilan. Ini gimana, Haq? Katanya kamu ulang tahun, harusnya aku memberi kado, tapi kamu nggak mau waktu aku janjiin untuk belikan sesuatu. Ini gimana, Haq?

Kamu mau tanggung jawab nggak? Hati aku kayaknya nggak bisa diisi sama orang lain.

 

18 Juni 2016

Sesungguhnya, kami semua bisa menyelesaikan ujian kenaikan kelas di bulan Ramadan ini tidak lain dan tidak bukan karena KebaikanMu, Ya Allah. Maaf Ya Allah, kami sekelas mengumpat dan protes duluan sebelum berperang jauh-jauh hari kemarin. Ternyata ujiannya nggak sesulit yang kami pikirkan.

Terima kasih Haqi, Firda, Geo, Adit, Icha, dan Tanti, para jagoan kelas yang bersedia mengajari kami.

Bakal kangen kelas ini, deeeeh. Aduh, kok jadi nggak ingin naik kelas dan terpisah, ya?

 

25 Juni 2016

Kayaknya cuma kelas kami yang pada nangis karena naik kelas. Bukan hanya tangisan haru dan bahagia, tapi juga sedih karena harus berpisah.

Aku akan abadikan ucapan Haqi di sini: “Aku selalu ada buat kamu kalau kamu mau minta ajarin Matematika, Ra.”

Wah. Orang gila. Nggak dipikir dulu omongannya bakal punya efek apa. Untung kita PASTI pisah kelas, Haq. Kalau kita satu jurusan dan satu kelas lagi, rasanya aku siap memohon-mohon sama kamu untuk jadi pacarku, bukan cuma jadi guru les dadakan doang.

 

27 Juli 2016

Sudah setahun sejak pertemuan pertama dengan Haqi si teman sebangku yang ganteng-banget-buset (aku baca ulang halaman pertama diary ini hahaha, tapi impresiku tentang dia nggak berubah sih). Sekarang teman sebangkuku bukan lagi Haqi, tapi Winda yang dulu juga sekelas di XE. Haqi yang datang terlambat, Haqi yang menyanyikan Indonesia Raya dan menari yel-yel MOS, Haqi yang kepo banget karena seragamku berbeda dengan teman-teman yang lain. Sudah setahun aku kenal Haqi.

Sekarang jadi kangen karena nggak bisa ketemu setiap pagi. Ternyata aku kurang bersyukur, ya. Dulu ingin menjauh, sekarang merasa kehilangan. Duh. Mana kelas kami jauh banget, pula. Kelas MIPA2 di bagian selatan sekolah, dekat greenhouse, sedangkan IS3 dekat dengan ruang guru di bagian utara sekolah.

Mau chat kirim pesan…. Tapi mau bahas apa?! PR? Ya nggak mungkin, karena jurusan kami aja beda. Organisasi? Nggak juga karena kami beda organisasi. Dia di Pecinta Alam, aku di Majalah Sekolah. Nanya kabar? Aduh, kok kesannya basi banget nanya remeh begini.

Yah. Kangen, Haq.

14 September 2016

Saking jarangnya ketemu Haqi, jadi nggak bisa ngisi buku ini setiap saat seperti dulu. Kalaupun ketemu, paling cuma papasan di kantin, atau di musala, atau di ruang guru. Beneran sejarang itu ketemu Haqi. Setiap papasan cuma nyapa, senyum, terus ya udah. Kalaupun ngobrol, Haqi kayak bingung mau bicara apa. Sama sih, Haq. Aku juga bingung mau ngobrol apa. 

Harusnya aku seneng kan, Haq, bisa sedikit lepas dari kamu? Tapi aku malah galau, jadi sering nyariin kamu diam-diam. Kayak penguntit aja.

 

20 Oktober 2016

Hari ini Haqi memberiku buket bunga. Buket bunga hadiah untuk dia. Setelah lomba debat hari ini–dan tentu saja dia juara satu, DUH–dia mendatangiku yang sedang berdiri dengan Listia dan Dena, menunggu antrian parkir motor setelah menonton lomba debat antar SMA tingkat kota. Aku bisa melihat Listia dan Dena sikut-sikutan dari sudut mataku.

“Tolong dijagain bunganya, ya, Ra. Kamu kan pinter bikin buket bunga, pasti bisa lah jagain bunga ini lebih awet?”

Maksudnya dia nyuruh-nyuruh aku atau gimana, sih?

 

28 Oktober 2016

Oke fix, buku ini resmi menjadi catatan percakapan aku dan Haqi yang sangat amat jarang terjadi setelah kami kelas XI.

Kemarin Haqi memberiku novel 5cm, katanya bagus. Sebenarnya aku sudah baca, pernah pinjam di perpustakaan sekolah. Waktu topik ini nggak sengaja kami bahas ketika ngantri bakso di kantin, dia menawarkan membelikan novel ini untukku. Katanya bentuk terima kasih karena sudah jagain bunganya jadi awet sampai lima hari (padahal aku cuma memotong ujung tangkai bunganya dan mengganti air di vas doang setiap hari).

Hari ini, aku bawa buku itu kembali untuk Haqi karena ada yang aneh di novel ini.

“Haq,”

“Heh?”

“Kayaknya bukunya ini salah, deh. Kamu ngasih aku buku bekas?”

“Gimana, Ra?”

“Ada catetannya di depan,” aku menunjukkan deretan tulisan rapi–seperti tulisan Haqi–yang tersemat di halaman pertama novel. Bisakah kita semakin dekat sehingga jarak kita hanya berjarak 5cm saja?

Haqi tampak gelagapan, lalu terkekeh salah tingkah. “Wah iya, kayaknya salah, besok punya kamu aku bawain ya, yang bersih nggak ada catatan,”

 

4 November 2016

Zaidan Haqi Janitra.

Zaidan Haqi Janitra.

Zaidan Haqi Janitra.

Sudah aku sebut namamu tiga kali, kamu kok nggak muncul, Haq?

Hahaha. Dikira jelangkung apa si Haqi.

 

8 November 2016

Haqi kenapa kamu bonceng Tania hari ini? Aku sedih lihatnya….

 

9 November 2016

Dari sekian banyak siswa seangkatan yang belum pulang, kenapa harus Haqi sih yang ada di parkiran motor?

“Aku antar aja, Ra,”

Haqi yang baik hati. Haqi yang ganteng-banget-buset. Haqi yang masih bikin aku galau setelah berbulan-bulan. Dan semakin bikin aku galau karena kemarin aku lihat dia bonceng Tania. Haqi, Haqi, Haqi.

“Besok aku boncengin lagi aja nggak apa-apa kok, Ra,”

“Nggak, nggak usah. Bulan depan aku boleh bawa motor,”

“Oh…”

Harusnya aku iyain aja, kan? Arabela Yuanita, kamu kok bodoh siiiiiiiih!

 

14 Desember 2016

Aku baru sadar waktu classmeet tadi, ternyata yang memanggil Haqi dengan panggilan ‘Haq’ cuma aku. Teman-teman yang lain, memanggilnya, ‘Ki’.

“Kamu mau aku panggil ‘Ki’ juga?”

“Nggak, nggak usah. Aku suka panggilan kamu. Aneh, beda, tapi lucu. Hahaha.”

Terserah deh, Haq. Kamu anggap aku lelucon dan badut pun nggak apa-apa. Asal kamu bahagia aja, bisa tertawa meski untuk hal kecil begini.

 

22 Desember 2016

Lagi libur sekolah. Udah jarang banget ketemu Haqi, tapi masih aja kepikiran.

Haqi, ini aku kamu apain, sih? 🙁

 

23 Desember 2016

Haqi, bapak kamu tukang tambal ban, ya? Kok kamu jago banget menambal hatiku yang bocor.

Haqi, bapak kamu tukang galon ya? Soalnya kamu selalu bisa menghilangkan dahagaku akan cinta.

Haqi, bapak kamu apa sering pergi bertamasya keliling kota? Karena aku jadi ingin mengitari duniamu.

(IYA, AKU TAU NGGAK ADA KORELASINYA SAMA BAPAKNYA HAQI. TAPI BIARIN, AKU LAGI GALAU!)

 

31 Desember 2016

Mau nulis puisi di diary ini, buat Haqi. Tapi kok malu ya? Padahal bukunya aku baca sendiri. Takut kalau aku baca ulang, jadi gatel banget pengen nonjok diri sendiri karena kasian ngelihat diri ini saking galaunya mikirin Haqi.

 

16 Januari 2017

Tiap denger lagu cinta, yang terbayang wajahnya Haqi. Udah dong, Haaaaq. Kita udah mau kelas 12, masih nongkrong aja di kepala aku, apa kamu nggak bosen?

 

14 Februari 2017

Kesal banget karena badanku bau telur dan tepung karena teman-teman sekelasku tadi melempariku dengan telur, air, dan tepung. Lengket banget!

Mana diketawain sama Haqi yang lewat dan ngelihat dari jauh. Kesal, kesal, kesal!

 

2 Maret 2017

Sebuah percakapan dan kebahagiaan karena Haqi hari ini:

“Bawa motor, Ra?”

“Nggak, motornya dipakai kakakku,”

“Terus pulang naik apa?”

“Naik angkot, lah.”

“Aku anter aja ya, Ra. Mau, nggak?”

Aduh Haqiiii. Kamu ajak aku nikah besok kayaknya juga bakal aku iyain aja.

“Tapi mampir beli mie ayam dulu ya, Ra. Laper. Hehehe. Eh mau, kan? Kalau kamu keburu, aku anterin kamu pulang dulu,”

Ini…. terdengar seperti orang lagi pcrn (aku nggak ingin memperjelas dengan memberi huruf vokal, karena aku nggak mau kegeeran). Eh iya, kan? Orang kncn itu biasanya makan berdua begini kan?

Tiba-tiba aku ingat Tania. Dulu Tania juga diajak makan bareng nggak, Haq?

“Kamu laper banget?” Haqi mengangguk-angguk dengan semangat. Aku bisa apa kalau begini, masa aku mau biarkan anak orang kelaparan? “Ya udah, makan dulu,”

Dan Haqi tersenyum. Lemes banget liat Haqi senyum. Tapi harus tahan, karena maluuuu!

 

5 Juni 2017

Selamat ulang tahun Zaidan Haqi Janitra. Aku lihat kamu bawa pulang satu tas isinya hadiah-hadiah dari teman-teman kamu (baik banget ya teman-teman kamu, nggak usil ngelempar pakai adonan donat kayak teman-temanku yang terkutuk itu!). Ada yang bungkusnya warna merah jambu dan gambar hati? Wah. Anak jaman sekarang sungguh straightforward. Aku bantu robekin dan buangin, mau?

 

27 Juli 2017

Selamat dua tahun pertemuan pertama, Haqi!

Kangen banget jadi teman sebangkumu yang sering kamu tanya-tanyain nggak penting, yang kita saling pinjam catatan pelajaran, yang kamu ajarin Matematika dengan sabar.

Selamat berjuang di babak final dunia sekolah menengah atas ini, Haq.

Jadi galau karena mikirin kemungkinan kita nggak satu sekolah/universitas lagi.

 

9 Agustus 2017

Percakapan Haqi dan Arabela saat ngantri bakso di kantin:

“Kamu bimbel di luar juga nggak, Ra?”

“Iya, di Oregano,”

“Bagus nggak Ra, di situ?”

“Yaaa… bagus-bagus aja, sih. Aku pilih di situ karena deket rumahku,”

“Kalau bagus aku mau ambil di Oregano juga, deh,”

“Lah? Ngapain? Yang bagus buat anak MIPA kan di Deltagama? 3 tahun berturut-turut kemarin lulusan terbaik kota ini dari anak Deltagama, Haq.”

“Males, ah. Temen-temenku anak MIPA banyak yang ke Deltagama. Aku mau cari suasana baru, biar nggak bosen ketemunya mereka terus,”

Lalu Varrel, sahabat sekelas Haqi, memeluk Haqi kencang, memberi efek dramatis, “kamu tega, mas, mau pisah sama aku?!”

Haqi menoyor kepala Varrel, sementara aku, Winda, dan Lana yang berdiri di belakang mereka hanya bisa tertawa.

Ah. Kapan kita bisa gini lagi, Haq? Kita bisa gini terus nggak, Haq?

 

7 Oktober 2017

Kalau boleh milih theme song buat aku dan Haqi, aku mau milih lagunya Jamrud yang judulnya Pelangi di Matamu. Kepalaku langsung pusing karena banyak bunga-bunga berwarna pink membayangkan aku dan Haqi gandengan tangan. Konyol. Kamu apakan aku Haqi?!

Arabela Yuanita, sudah kelas XII, masih aja galauin Zaidan Haqi Janitra.

 

11 Desember 2017

Haqi kenapa kamu nggak pacaran aja, sih? Biar aku bisa benci kamu dan cewek pilihanmu. Biar aku bisa move on, cari objek lain yang jomblo–yang bukan kamu.

 

5 Juni 2018

Selamat ulang tahun, Zaidan Haqi Janitra. Selamat tinggal buku diary.

Aku sayang kamu, Haq. Tapi kamunya nggak, dan kita akan pisah kota. Terima kasih atas 3 tahun ini, Haq. Aku jadi punya cerita untuk dikenang. Biar saja aku simpan di hati, bukti ini akan aku bakar sampai nggak bersisa.

 

******

23 Juni 2018, Perpisahan dan Wisuda Kelulusan Siswa SMA Nusa Bangsa tahun ajaran 2017/2018.

 

“Ini, Ra,”

“Ini apa?”

Haqi menggaruk tengkuknya, salah tingkah. “Buka aja, Ra,”

Ara membuka bungkus kado tipis yang melapisi sebuah kotak kecil. Ia lalu menyimpan bungkus kado itu, memasukkannya ke dalam tas. Kotak itu berwarna putih, dengan sebuah logo brand elektronik di luarnya. Ara bisa menebak isi kotak ini. Bluetooth earphone.

“Buat kamu,” kata Haqi, singkat. Ara membelalakkan matanya.

“Ini?!” tanya Ara, tidak percaya. Haqi hanya mengangguk-angguk. Ara langsung dihinggapi perasaan bersalah karena dia sama sekali tidak menyiapkan kado apa-apa untuk siapapun, termasuk untuk Haqi.

“Aku nggak nyiapin kado apa-apa, Haq,” sesal Ara. Haqi menggelengkan kepalanya.

“Nggak apa-apa, Ra. Aku aja yang pengin ngasih kamu kado ini,”

“Tapi kenapa? Kamu punya salah apa sama aku?” tuduh Ara, membuat Haqi tertawa.

“Kayaknya malah kamu deh yang punya salah sama aku, Ra,”

Ara jadi panik. Selama tiga tahun ini, dia memang bersikap dingin pada Haqi. Apa karena itu? Apa kado ini pertanda Haqi ingin dia minta maaf? Atau bagaimana?

“Ah, aku salah apa, ya? Kalau ada salah-salah, tolong dimaafin, Haq. Aku kembaliin aja kadonya, aku jadi nggak enak kalau aku punya salah tapi kamu tetep ngasih kado semahal ini. Aku dijajanin cilok aja udah seneng kok, Haq,” Ara mengangsurkan earbuds itu pada Haqi, tapi langsung ditolak dengan tawa.

“Bukan, bukan salah yang kamu sengaja, kok. Aduh gimana ya, Ra, ngomongnya?” Haqi terlihat salah tingkah. Ia menggaruk rambutnya yang legam. “Uhm, jadi aku sebenernya suka sama kamu sejak kita sebangku jaman masa orientasi siswa dulu, Ra. Salahnya, kamu kan cuek dan cool banget, jadi aku sering nggak berani dan mundur terus tiap mau bilang. Sekarang kita mau pisah karena aku kuliah di Bandung, kamu di Surabaya. Jadi, ya…. Sebenernya aku sih yang salah. Kamu nggak salah kok, Ra,”

Ara terkesiap. Haqi….. Suka padanya sejak MOS? Ini lelucon macam apa? Ada kamera yang mengintai kah? Haruskah Ara melambaikan tangan tanda menyerah?

“Kado ini dipakai ya, Ra. Kalau kamu lagi dengerin podcast kesukaan kamu. Atau nonton film. Atau mungkin untuk teleponan… sama aku?” 

Ara mengeluarkan ponselnya, memencet beberapa tombol yang mengarahkannya pada sebuah aplikasi. Haqi jadi semakin ciut dibuatnya.

“Nih,” Ara menyodorkan ponselnya ke arah Haqi. Haqi menerimanya dengan dahi berkerut, bingung. Ponsel itu menunjukkan sebuah aplikasi rekaman suara.

“Pencet rekam, terus rekam suara kamu lagi nyanyi,” titah Ara, menahan senyum. Tidak ingin persona cuek dan cool-nya runtuh di depan Haqi saat ini. Haqi masih tampak bingung, dan wajah Ara sudah merah padam. “Biar kalau kangen bisa aku dengerin kapan aja pakai hadiah kamu ini tanpa harus gangguin kamu kalau kamu lagi sibuk,”

Kalau tadi Haqi bingung karena tidak tau apa yang diinginkan Ara darinya, kali ini dia bingung karena dia ikut salah tingkah, tidak tau harus melakukan apa. Wajah mereka berdua sama merah padam.

“Kok belum direkam?” tanya Ara, tidak sabar, tidak ingin berlama-lama malu-malu kucing begini.

Refleks, tanpa berpikir panjang di tengah kepanikannya, Haqi menekan tombol rekam, dan….

“Indonesia tanah airku. Tanah tumpah darahku. Di sanalah, aku berdiri, jadi pandu ibuku,”

Tawa Ara lolos begitu saja. Runtuh sudah semua pertahanannya untuk tetap jadi Ara yang cuek dan cool, seperti yang diucapkan Haqi tadi. Senyum Haqi ikut mengembang, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi.

“Indonesia Raya, Haq? Serius?” bisik Ara, tidak ingin mengganggu sesi rekaman Haqi. Haqi tidak peduli, ia meneruskan nyanyiannya sampai selesai, memandang lekat-lekat wajah Ara yang terlihat bahagia. Menyimpannya dalam memori untuk ia bawa ke perantauan.

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!