Melodi Mimpi
9.13
2
69

"Melodi darinya menyadarkanku bahwa rasa sakit ini bukan milikku sendiri." -Gadis dibawah senja.

No comments found.

Melodi Mimpi

.

.

“Suara yang lembut namun tegas. Melodi lembut penuh kerinduan kembali mengisi sanubari yang kosong.”

 

“Hah ….”

“Kenapa lagi?”

“Tidak ada. Hanya ….”

“Hanya apa?”

“Aku hanya rindu.”

Gadis itu hanya menatap mata sembab gadis di depannya. Mata dark chocolate yang sedikit mengkilat karena kilauan air mata.

“Tidak apa-apa. Rindu itu wajar,” ucapnya berusaha mejawab seadanya.

“Hei Lowi …” Gadis itu kembali memanggilnya dengan suara pelan.

“Ya Yuka?” jawab gadis yang dipanggil Lowi itu menoleh menatap meja disampingnya.

“Bagaimana caranya menghilangkan rindu?” tanya gadis bermata dark chocolate itu menoleh menatap dalam matanya.

“Kamu hanya perlu mengiklaskannya dan mulai belajar untuk fokus pada hal yang ada didekatmu.”

“Contohnya?”

Lowi menoleh menatap wajah Yuka yang menunggu jawabannya. Gadis itu hanya bisa diam dan kembali memutar otak mencari jawaban yang diinginkan. Melihat hal itu Yuka hanya diam dan kembali bergumam.

“Tidak perlu dipikirkan Lowi. Aku hanya lelah dengan semuanya.”

“Kamu bisa istirahat.”

“Aku tau. Tapi bayang-bayang orang itu selalu ada.”

“…”

“Aku hanya ingin bertemu dengannya meski satu kali. Hanya satu kali.”

“Kamu pasti akan bertemu. Aku yakin.”

“Haha … Aku telah menunggu selama 8 tahun lebih Lowi untuk mimpi yang tak pernah datang. Untuk rindu yang takkan terbalas,” jawab Yuka menatap langit-langit ruangan.

“Yuka-

“Perpisahan yang paling menyakitkan adalah perpisahan dengan seseorang yang sudah berbeda alam. Diselimuti rindu namun tak bisa menyapa, hanya bisa melepaskannya dengan menatap gundukan tanah yang menjadi simbol keberadaannya,” ucap Yuka pelan mengisi ruang kelas di pagi yang berkabut itu.

“Aku … Mungkin tidak bisa memahami seutuhnya. Tapi Yuka, luka akan tetap perih jika kamu fokus pada luka itu. Akan berbeda jika kamu mulai mengabaikan rasa sakitnya dan mencari obat yang mampu mengobati rasa perihnya,” jawab Lowi melirik Yuka yang tetap menatap langit-langit ruangan.

“Obat? Memangnya ada? Tidak ada obat untuk rindu akan perpisahan kematian Lowi,” jawab Yuka datar.

“Kamu bisa mengunjungi makam bukan?”

“Lalu setelah itu? Kembali bergelut dalam kenangan yang terus berputar seperti film?”

“Yuka! Berdamai dengan luka bukan hal yang mudah dan kadang butuh waktu yang lama. Aku tau kamu lelah tapi kamu tidak boleh menyerah dengan keadaan!”

“Tapi aku terlanjur lelah.”

“Pasti ada tujuan kenapa kamu masih diberi kesempatan untuk menatap dunia hingga hari ini. Meski dengan kubangan luka yang tak kunjung sembuh aku yakin kehadiranmu membawa makna untuk seseorang Yuka!”

Yuka kembali menatap wajah Lowi yang kini sepenuhnya menatap mata coklat gelap itu. Gadis itu bergumam tak jelas hingga membuat Lowi heran dan mulai mendekat.

“Kamu salah Lowi,” ucap Yuka menghentikan gerakan Lowi.

“Apa?”

“Tidak ada yang menginginkan kehadiranku. Aku hanya anak lemah yang tidak bisa apa-apa. Hanya anak lemah yang penakut dan terlalu malu untuk maju. Kamu setuju kan dengan itu?” tanya Yuka dengan wajah yang mulai pucat.

“Yuka kamu-

“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan semua itu jadi jangan khawatir.”

“Tidak bukan itu! Kamu-

“Aku hanya ingin istirahat dan tertidur … Lelap,” ucap Yuka dengan suara yang mulai terputus.

“Yuka?”

“Tidur tanpa … Perlu merasa … Sakit … Lagi.”

Mata coklat gelap itu tertutup dan tubuh kecil itu jatuh menuju dinginnya lantai. Membuat Lowi berseru panik dan segera menghampirinya berusaha kembali menarik kesadaran gadis didepannya.

“Yuka! Yuka! Kamu kenapa?” Lowi melirik ruangan sekitarnya yang sepi.

“Yuka! Tunggu! Aku akan mencari bantuan!” Lowi yang sudah panik segera berlari keluar kelas mencari seseorang yang bisa membantunya.

.

Yuka ayo bangun!” Suara lembut dan tegas menggema di ruangan yang luas dan tanpa warna itu.

“Hah?” Mata coklat gelap itu kembali terbuka menatap warna putih yang memenuhi matanya.

“Dimana?” gumam gadis itu menatap sekitarnya dan kemudian mata itu jatuh pada sosok tinggi di depannya. Yang menatapnya dengan senyum yang menyejukkan.

“Aaa ….”

Jangan menangis!” ucap sosok itu mendekat dan menghapus air mata dari wajah yang sedikit tirus itu. Tangan kecil itu menggenggam tangan sosok didepannya.

“Ini nyata? Ini nyatakan?!” seru Yuka dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti.

Ya.

“Aku … Huhuhu … Aku rindu,” ucap Yuka dengan banjir air mata memegang erat tangan di depannya.

Tidak apa-apa. Menangislah!” Sosok itu berkata lembut sambil memeluk tubuh kecil Yuka. Dalam kehangatan yang amat dirindukannya gadis itu terus menangi sambil memeluk dengan erat sosok di depannya.

Tangis samar-samar terus menggema di ruangan putih tanpa batas itu. Sosok itu tetap dengan tenang dan menepuk pelan punggung kecil Yuka sambil mulai bersenandung kecil.

Yuka.

“Ya?” jawab Yuka di sela tangis yang mulai memudar.

Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja, kamu hanya perlu waktu,” ucap sosok itu kembali menepuk pelan punggung Yuka.

Waktu akan menyembuhkan semuanya.

“Kapan? Sampai kapan?”

Sudah saatnya kamu melangkah maju Yuka. Berhentilah berdiam diri di tengah kubangan luka masa lalu dan fokuslah pada jalannya masa depan,” ucap sosok itu kembali membuat Yuka mendongak menatapnya.

“Aku lelah,” gumam Yuka kembali menunduk.

Kamu bisa istirahat sejenak Yuka tapi jangan menyerah. Berjanjilah kamu akan kembali melangkah setelah semua ini,” ucap sosok itu memegang lembut pundak Yuka.

Gadis itu diam sejenak dan kembali berlinang air mata.

Jangan menahan semuanya sendirian. Berbagilah dengan yang lain masih banyak yang sayang dan khawatir padamu!

“Tidak! Mereka hanya ingin menjatuhkanku!” ucap gadis itu menundukkan kepalanya.

Sosok di depannya melonggarkan pelukan hangat itu membuat Yuka mendongak berusaha memandang wajah di depannya.

Anakku. Jika kamu hanya berfokus pada secuil kotoran yang ada di dunia ini maka kamu akan menemukannya dimana saja. Tapi jika kamu fokus untuk mencari cahaya demi ketenangan jiwamu, jalannya akan mencapaimu dengan cara yang tak disangka-sangka.

Yuka hanya diam sedangkan sosok di depannya mulai menghapus air mata yang kembali mengalir menuruni pipi gadis itu.

Rindu itu tidak akan hilang dengan mudah. Aku selalu memperhatikanmu dan selalu bersamamu, hadir dari memori yang kamu ciptakan untuk mengenangku.

“Benarkah?” tanya Yuka dan gadis itu melihat sosok di depannya tersenyum.

Tentu saja anakku yang baik hati. Kenangan indah akan selalu tersimpan dan terjaga jika kamu mengingatnya dengan hati yang lapang.

Yuka hanya diam menunggu sosok itu kembali berbicara.

Namun kenangan itu akan menyakitkan jika kamu mengingatnya dalam hati yang gelap dan penuh duri. Seberapa berharga dan manispun kenangan itu rasanya akan tetap sakit jika hatimu tidak bersih saat mengingatnya.

Yuka mencerna dengan tenang perkataan sosok di depannya dan kembali mendongak menatap wajah yang terang penuh cahaya itu.

“Bagaimana jika aku kembali rindu denganmu?”

Kamu bisa mengunjungi rumah terakhirku bukan bercerita segalanya disana. Aku akan selalu ada dan menunggumu disana anakku,” ucap sosok itu menepuk pelan kepala Yuka.

Berjanjilah!” ucap sosok itu pada Yuka membuat Yuka kembali memandang wajahnya.

Berjanjilah setelah ini bahwa kamu akan bangkit. Bahwa kamu akan mengejar cita-cita berhargamu dan kamu akan bahagia dan tersenyum.

“Itu … Sangat susah,” gumam Yuka pelan.

Tidak. Kamu bisa melakukan itu anakku, kamu pasti bisa.

“Aku tidak yakin.”

Kamu harus yakin dan ubahlah keraguan itu menjadi semangat untuk maju. Setiap hal yang terjadi pasti ada hikmah dan tujuannya, tetaplah fokus di jalan terbaikmu dan semuanya akan membuahkan hasil nantinya.

“Lowi juga mengatakan itu,” gumam Yuka pelan.

Berhentilah fokus pada sesuatu yang tidak akan kembali Yuka.” Gadis itu kembali tersentak dan menundukkan kepala.

Ayo anakku! Kami pasti bisa. Ingat! Aku akan selalu ada disisimu dan melihat semua yang kamu lakukan. Tetap melihatmu meski dari dunia yang berbeda.” Yuka kembali memeluk sosok itu erat sedangkan sosok itu tetap tersenyum tenang menepuk puncak kepala gadis itu.

Sudah saatnya kamu kembali! Dan biarkan melodi ini menjadi pengantar perpisahan kita.

Suara yang ringan dan hangat itu menggema di ruangan putih tak terbatas itu membuat Yuka kembali terbuai dalam alunan nada yang indah dan mulai menutup mata yang sembab itu.

Selamat tinggal anakku.

Gelap

Hanya itu yang menyambut pandangan gadis itu sebelum sekitarnya berubah menjadi buram.

“Dimana?” gumam gadis itu serak dan menahan sakit di kepala saat kembali mencoba memfokuskan pandangannya.

“Yuka? Kamu sudah bangun?” Suara penuh khawatir itu membuat gadis yang berbaring itu menoleh menuju sumber suara.

Sosok itu terdiam sejenak sebelum berlinang air mata dan berlari memeluk Yuka yang menatapnya tanpa ekspresi.

“Bodoh! Bodoh! Yuka bodoh!” Sosok itu terus berseru kesal meski air matanya tak henti mengalir.

“Lowi?”

“Bodoh! Kenapa kamu seperti itu?!”

Yuka hanya diam dan menatap Lowi yang banjir air mata dan memeluknya erat. Melihat tidak ada tanggapan dari Yuka gadis itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Yuka dalam.

“Kenapa?” tanya Lowi membuat Yuka heran.

“Kenapa kamu melakukan itu?” tanya Lowi. Yuka terdiam dan hanya mengalihkan pandangannya pada putihnya ruangan disekitarnya dan pada alat-alat yang terhubung dengan tubuhnya.

“Aku … hanya lelah Lowi. Aku hanya ingin bertemu dengannya,” jawab Yuka pelan.

“Tapi tidak dengan cara seperti itu Yuka!” bentak Lowi. Yuka berbalik dan menatap wajah Lowi yang berubah kesal dan marah. Mata coklat gadis itu beralih ke tangan Lowi yang memegang tabung kecil berisi obat-obatan yang akrab baginya.

“Obat ini! Kamu minum obat ini untuk apa?!”

“Itu hanya obat biasa-

“Jangan berbohong denganku Yuka! Kamu pikir dokter tidak menjelaskan itu obat apa?!” teriak Lowi.

“Kalau sudah tau kenapa kamu masih bertanya? Bukankah kamu tau apa tujuannya?” tanya Yuka tenang. Lowi terdiam dan mulutnya terbuka hendak berbicara namun tak ada kata yang keluar, gadis itu menundukkan kepalanya menahan air mata yang kembali turun.

“Bukan salahmu. Jangan sedih karena hal sepele seperti ini,” ucap Yuka pelan.

“Hal sepele? Ini bukan hal sepele Yuka! Berhentilah menganggap dirimu tidak berguna!”

“Memang itu kenyataannya,” jawab Yuka tenang.

“Yuka-

“Aku tidak seperti dirimu yang pintar dan hebat, yang selalu menang dalam setiap lomba. Tidak seperti kamu yang selalu disambut pulang oleh keluarganya dengan hangat. Tidak seperti kamu yang kehadirannya selalu dinanti.”

“Tidak! Itu tidak benar!”

“Aku hanya kegelapan yang kehadirannya bahkan tak pernah disadari orang-orang. Jadi kalau aku tidak ada di dunia ini pun tidak ada yang akan menyadarinya.”

Lowi terdiam mendengar kalimat terakhir Yuka. Tabung yang berada di tangannya jatuh dan berserakan di dinginnya lantai rumah sakit.

“Lowi?”

“Hei Yuka! Menurutmu aku ini apa? Siapa aku bagimu?” tanya Lowi pelan tidak menatap wajah Yuka didepannya. Yuka hanya diam dan menatap keraguan yang tampak di wajah Lowi.

“Tentu saja kamu orang yang penting dalam hidupku,” jawab Yuka.

“Lalu kenapa? Kenapa kamu berpikir tidak ada yang akan bersedih atas kehilanganmu. Aku! Ada aku yang akan terluka jika terjadi sesuatu kepadamu!”

Ingatlah anakku!

Ruangan itu hanya diisi dengan isak tangis Lowi. Sedangkan Yuka hanya diam dan memandang selang-selang yang terhubung dengannya.

Selalu ada yang bersyukur atas kehadiranmu. Selalu ada yang merasa beruntung dan tersenyum atas setiap hal sepele yang kamu lakukan.”

Mata coklat gelap itu kembali memandang Lowi yang berusaha menghapus air matanya.

Bukalah matamu!

“Yuka bodoh! Bodoh!”

“Maafkan aku,” ucap Yuka membuat Lowi mendongak dan menatap wajahnya. Mata yang awalnya kosong itu mulai banjir air mata. Lowi kembali menarik Yuka ke dalam pelukannya dan merasakan tangan Yuka yang ikut menggenggam erat bajunya.

“Tidak apa-apa Yuka. Kamu bisa melepaskan semuanya tapi berjanjilah besok kamu tidak akan menangis lagi karena ini,” ucap Lowi menepuk pelan punggung Yuka.

“Maafkan aku … aku … aku membuatmu-

“Aku tau … shh … tidak apa-apa Yuka,” jawab Lowi tetap menenangkan Yuka meski air mata juga tak henti turun dari wajahnya.

“Selama kamu tetap bersamaku aku akan memaafkanmu.”

Satu bulan berlalu hari ini keduanya tengah  berada di puncak bukit yang berada di kawasan wisata kota mereka. Dibawah jingganya cahaya sore keduanya duduk dengan santai menatap keramaian kota.

“Terimakasih Lowi,” ucap Yuka mengalihkan pandangannya menatap wajah sang sahabat.

“Untuk apa?” tanya gadis itu.

“Untuk semuanya. Untuk kehadiranmu, untuk kasih sayangmu dan untuk kepedulianmu,” jawab Yuka.

“Itu bukan apa-apa.” Yuka tersenyum dan menatap wajah Lowi yang menatap kota dibawah mereka dengan damai.

“Kata-katamu waktu itu  mengingatkanku tentang pesannya,” ucap Yuka pelan.

“Pesan yang akan selalu aku jaga.”

 

 

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!