Mimpi Tujuh Malam
32.9
6
251

Setelah bersalaman dengan salah seorang gurunya di gerbang sekolah, Liana seperti masuk ke gerbang yang lain, yang membawanya pada mimpi tujuh malam. Mimpi-mimpi yang kemudian mengantarkannya ke gerbang cinta. Namun cinta itu adalah cinta yang tidak seharusnya ada. Sehingga keberadaannya justru menjadi masalah dalam hidupnya. Bagaimana kah dia mengatasinya?

No comments found.

Hujan.. Ia datang menyergap
Padahal aku belum sempat bersiap.
Maka bagaimana lah aku tertolong, sedang aku terlanjur basah kuyup?

Liana, seorang murid SMA menulis sebait puisi tersebut dalam buku hariannya. Kala itu hari tengah hujan, dan dia tidak suka pada perasaannya yang tiba-tiba tidak nyaman dengan adanya hujan tersebut. Bukan, bukan karena turunnya, melainkan karena dia merindukan seseorang yang hari itu tidak hadir di sekolah. Seseorang yang belakangan setiap malam hadir menemuinya.

Namun selain hujan, perasaan rindu itu pun menjadi hal yang menambah ketidaknyamanan di hatinya. Seolah rindu itu adalah noda yang tidak seharusnya ada dalam hatinya, sebab merindukan seseorang tersebut adalah dosa bagi dirinya. Karena itulah dia menangis. Menangis bersama langit.

Kembalilah warna biru. Singkirkan kelabu dari langit Tuhan. Aku tidak suka. Sungguh tidak suka. Sebab aku merindukannya, namun aku tak suka jika aku merindukannya..

Liana menutup bukunya setelah menyelesaikan puisinya. Sekaligus menyudahi tangisannya agar tidak diketahui teman-teman sekelasnya yang baru saja berhamburan masuk setelah bel dibunyikan, pertanda waktu istirahat sudah usai. Jam pelajaran terakhir pun dimulai ketika seorang guru memasuki ruang kelas. Dia adalah kepala sekolah, sengaja masuk untuk menggantikan guru sejarah yang hari itu tidak datang. Liana menghela nafasnya sesaat ketika melihat kursi yang harusnya diduduki guru sejarah itu diduduki guru yang lain.

“Aku harus bagaimana? Kenapa dengan hatiku ini?” Liana membatin.

Semuanya berawal dari hari dimana dia masuk ke ruang kantor guru atas panggilan seseorang. Dia disuruh oleh orang tersebut untuk membereskan meja dan mencuci gelas-gelas bekas minum para tamu yang baru saja pergi. Orang itu adalah guru sejarah, yang dengan wajah ramah dia berkata kepada Liana, “tolong ya, bereskan ini semua.”

Liana pun dengan sopan mengiyakan perintah gurunya, lalu dengan hati-hati memindahkan gelas-gelas kaca yang kotor itu ke dalam ember untuk kemudian dicucinya di luar. Setelah selesai, dia kembali ke kantor untuk menyimpan gelas-gelas yang sudah bersih ke rak yang ada di sana. Sang guru sejarah juga masih ada di ruangan itu.

“terimakasih, Liana.” ucapnya. Liana mengangguk sambil tersenyum dan hendak berjalan keluar. Tapi gurunya berucap kembali, “kamu adalah gadis yang baik. Tidak hanya perilakumu yang membuatku kagum, tapi wajahmu yang teduh itu juga membuat hatiku luluh.”

Liana terkejut mendengar ucapan gurunya yang tidak biasa itu, tapi karena dia tidak menyukai ucapan semacam itu dia pun berlalu pergi tanpa peduli sang guru menatap kepergiannya. Sejak dia masuk ke SMA itu beberapa bulan yang lalu, sedikit banyak dia sudah mendengar tentang lelaki yang menjadi guru sejarah di sekolahnya. Bahwa usianya yang masih muda dan ditambah dengan wajah menawannya, membuat lelaki itu kerap dikelilingi para siswi yang mungkin menyukainya.

Pak Ubaidillah, begitu lah lelaki itu dipanggil. Liana sudah tidak heran lagi ketika melihat gurunya itu berbaur akrab dengan beberapa siswi yang bahkan sampai berani menggandeng lengannya. Padahal lelaki itu sudah memiliki istri. Namun dia tidak pernah ingin mempedulikan apapun yang dilakukan orang lain, termasuk Pak Ubaidillah dengan para siswi, yang bagi sebagian teman-temannya hal tersebut menjadi bahan obrolan yang seru untuk dibincangkan di sekolah. Bergosip, istilahnya. Sedangkan Liana lebih suka duduk menyendiri di kursinya yang ada di pojok belakang ruang kelasnya. Meski terkadang, suara-suara penggosip itu sampai juga ke telinganya dan membuatnya mengetahui bahwa Pak Ubaidillah sedang main api dengan salah satu siswi kelas 12.

Karena itulah Liana tidak menanggapi sama sekali pujian Pak Ubaidillah itu kepadanya. Pujian yang tak seharusnya diucapkan oleh seorang lelaki berstatus menikah kepada perempuan selain istrinya. Dia berlalu begitu saja. Membiarkan pujian Pak Ubaidillah lenyap ditiup angin.

Suatu ketika, Liana tiba di gerbang sekolah dan melihat Pak Ubaidillah sedang berdiri di sana. Dia menghampirinya untuk memberi salam hormat, yang cara dalam memberi salam itu adalah dengan memegang telapak tangan kanannya kemudian mencium punggung tangannya. Begitulah adabnya dalam menghormati guru. Namun Pak Ubaidillah menahan tangan Liana agar tidak lepas, sehingga membuat Liana berkata, “Pak, maaf, tangan saya..”

Namun Pak Ubaidillah seperti sengaja menahan tangannya dan seperti tidak peduli pada Liana yang berusaha menarik tangannya agar lepas. Sampai beberapa waktu berlalu, baru lah Pak Ubaidillah melepaskannya. Liana pun pergi meninggalkannya, sementara orang yang ditinggalkan tersenyum memandanginya. Pandangan yang juga dia tahan selama yang dipandang masih terpandang oleh matanya.

Sementara Liana, walau dia berjalan membelakangi Pak Ubaidillah, angin yang bertiup memberitahunya bahwa Sang Guru sedang memandanginya, membuatnya mempercepat langkah karena tidak ingin terus dipandang. Angin itu juga memberitahunya bahwa ada yang tidak beres dengan situasi yang ada antara dirinya dan Pak Ubaidillah. Sebab dalam pikirannya, tidak seharusnya dia diperlakukan seperti itu oleh lelaki apalagi oleh seorang guru yang bahkan sudah beristri.

“kenapa dia mengatakan kekagumannya padaku hingga mengatakan wajahku membuat hatinya luluh, padahal tidak seharusnya dia begitu? Kenapa dia memegangi tanganku dan menahannya, padahal aku adalah anak didiknya yang tidak boleh disentuhnya? Kenapa pula dia memandangiku, padahal aku sudah membelakanginya? Benar, aku membelakanginya. Mungkin ini hanya perasaanku saja. Pak Ubaidillah mungkin tidak sedang memandangiku..”

Liana pun berbalik, ingin memastikan. Dan tampaklah wajah Pak Ubaidillah tersenyum kepadanya.” ah tidak, tidak! Mungkin saja ketika aku berbalik dia baru saja melihat ke arahku! “

Liana dihampiri beragam pikiran buruk tentang Pak Ubaidillah, yang kemudian membuatnya sedikit khawatir kalau-kalau dirinya akan terkena fitnah di sekolah. Sebab, sebagaimana siswi kelas 12 yang menjadi teman bermain apinya Pak Ubaidillah itu dianggap sebagai seorang ‘penggoda’ oleh anak-anak di sekolah, maka dirinya pun kemungkinan akan dicap dengan julukan yang sama jika sampai ada yang salah faham ketika melihatnya berpegangan tangan dengan Pak Ubaidillah. Dia pun memutuskan untuk berusaha agar tidak sampai terjadi lagi sang guru melakukan itu padanya.

Namun, dalam kelamnya malam yang tengah diselimuti hawa dingin tiba-tiba dirinya ada di sekolah dan Pak Ubaidillah melangkah mendekatinya. Dia sadar bahwa dirinya harus menghindar, tapi dirinya entah mengapa hanya duduk membatu di atas kursi sehingga Pak Ubaidillah pun berada di hadapannya tanpa bisa ia hindari. “Assalamualaikum, Liana..” sapa sang guru, dengan wajah yang bersinar. Membuat Liana menunduk karena malu terlalu dekat dengan wajahnya. “wa alaikumsalam..” balasnya. Dia pun terlonjak kaget saat membuka mata ternyata dia sedang berada di atas kasurnya, bukan di sekolahnya.

“hanya mimpi, rupanya..” Diapun kembali tidur. Tidur yang tanpa dia ketahui akan menjadi tidur tenangnya terakhir kali setidaknya dalam seminggu ke depan. Karena setelah dia bangun dari tidur itu, tidurnya bukan lagi tidur, melainkan perjalanan aneh yang akan mengantarkannya ke musim hujan. Musim hujan yang membuat langit selalu kelabu sekaligus membuat hatinya disergap rindu. Rindu yang akan dibencinya.

Seperti malam yang kedua itu, dirinya kembali secara tiba-tiba ada di ruang kelasnya lagi, bersama sang guru sejarah, Pak Ubaidillah. Di sana sedang siang hari. Pak Ubaidillah membuka percakapan, “Liana, jika sekolah ini adalah taman, maka kau adalah satu-satunya bunga melati yang ada di taman ini. Melati yang mewangi.”

Liana hanya diam dan menunduk. Di sana, di alam itu, Liana seperti tidak memiliki daya apapun untuk bergerak maupun berucap. Sehingga dia seperti bukan dirinya karena mengkhianati keputusannya sendiri untuk menghindari Pak Ubaidillah, sementara di sana dia bahkan tak bergerak untuk pergi maupun berucap untuk menolaknya. Dia di alam sana, hanya duduk dan mendengarkan gurunya berucap. Meski ucapannya itu hanya beberapa kalimat, karena setelah itu dia langsung terbangun dan membuka matanya di alam realitas.

Dimalam ketiga, Liana berada di suatu tempat yang tampak seperti taman. Ada bunga melati di sampingnya, yang kemudian dihirupnya aroma harum yang mengelilingi dirinya itu, yang bersumber dari sang bunga melati tersebut. Membuatnya merasakan ketenangan.

“itulah dirimu bagiku, Liana. Berada di dekatmu adalah  sama seperti kau berada di dekat melati itu sekarang..”

Liana terbangun dengan perasaan yang tak bisa diuraikan apa persisnya. Tapi dia dihinggapi kecemasan karena Pak Ubaidillah telah mendatangi mimpinya tiga kali berturut-turut.

Malam keempat, kali ini dia berada di perpustakaan tapi bukan perpustakaan sekolahnya. Dia tengah melihat-lihat deretan buku hingga kemudian Pak Ubaidillah kembali menghampirinya, berdiri berdampingan dengannya di samping rak.

“katanya buku adalah jendela dunia,” ucap guru itu. “sedangkan dirimu adalah jendela cintaku, Liana.” lanjutnya kemudian, yang seketika membuat Liana kembali ke alam sadarnya dengan jantung yang berdebar.

Dia tidak mengerti bagaimana bisa sampai empat malam memimpikan Pak Ubaidillah terus menerus, dimana dalam tiap mimpinya itu hanya Pak Ubaidillah yang berucap, itu pun tak lebih dari dua kalimat. Namun, meski yang diucapkannya itu selalu singkat, tapi tiap katanya entah bagaimana tidak bisa pergi dari pikirannya. Seolah tiap suku kata itu adalah kupu-kupu, dan tiap kupu-kupu itu terjebak dalam benaknya. Beterbangan dalam ingatannya. Sehingga entah bagaimana pula ketika dia melihat wajah Pak Ubaidillah di sekolah, semua kupu-kupu itu berputar mengelilinginya sampai membuat hatinya bergetar.

Malam kelima, Liana sengaja begadang karena takut kalau-kalau Pak Ubaidillah akan datang lagi ke dalam tidurnya. Karena meski hanya datang dan berbicara padanya di alam mimpi, namun perkataan yang sejak malam pertama sampai malam keempat itu berembuskan aroma cinta lelaki kepada perempuan, telah membuatnya diam-diam khawatir pada dirinya sendiri. Terlebih mimpi-mimpinya tersebut terlalu aneh jika hanya dianggap bunga tidur semata.

“apakah wajar memimpikan satu orang yang sama empat malam berturut-turut? Tetapi jika tak wajar, apakah yang ada dibaliknya? Apakah Pak Ubaidillah memang sengaja menyampaikan perasaannya padaku lewat mimpi? Tetapi bagaimana itu bisa terjadi? Dengan cara apa dia merekayasa alam mimpiku? Mimpi disebut bunga tidur karena mimpi adalah citra yang tersimpan di alam bawah sadar manusia dan tercitrakan saat manusia memasuki alam bawah sadarnya tersebut. Yaitu kala dia tidur. Citra itu pun hadir dari kedalaman jiwanya sebagaimana bunga hadir dari kedalaman setangkai pohon. Namun, apakah seorang Pak Ubaidillah ada dalam kedalaman jiwaku hingga tiap aku tertidur citranya muncul menjadi bunga ditidurku?”

Liana yang begadang demi menghindari kemunculan Pak Ubaidillah, malah menyibukkan diri dengan lamunannya tentang Pak Ubaidillah. Seolah dia menutup pintu, tetapi yang dihindari justru telah berada di ruang pikirnya. Meski tanpa disadarinya. Dan, meski dia sudah meminum kopi agar tetap terjaga, pada akhirnya dia tidak bisa bertahan dari dorongan tubuhnya sendiri yang ingin tidur. Sehingga pintu yang sedari tadi ditutupnya pun terbuka, membuat sang guru kembali memasuki mimpinya.

Liana dan Pak Ubaidillah berjalan kaki berdampingan di jalan yang dikenalinya sebagai jalan menuju rumah kakek dan neneknya, yang setibanya mereka di rumah itu, Pak Ubaidillah menyalami kedua orang tua itu dan bercengkrama bersama mereka. Sementara dirinya hanya diam menyaksikan. Dia selalu diam. Kecuali pada mimpi yang pertama, ketika dia membalas ucapan salam itu. Dan jika pada mimpi-mimpi sebelumnya dirasa durasinya selalu singkat, pada mimpi kelima itu Pak Ubaidillah seperti ingin berlama-lama menjadi bunga tidur sang murid. Jika pada keempat mimpi sebelumnya Pak Ubaidillah selalu mengatakan beberapa patah kata kepada Liana, pada mimpi kelima itu dia tidak mengatakan satu kata pun. Dia hanya mengajak Liana berjalan bersama, mengunjungi rumah kakek neneknya dan menunjukan sebanyak mungkin senyuman. Senyum yang indah karena berasal dari wajah yang indah pula.

Hingga ketika adzan subuh mengumandang, Liana membuka matanya. Dilihatnya sang ibu sudah ada di dekatnya.

“bangun, sudah adzan..” ucap ibunya dengan lembut. Membuat Liana yang baru kembali dari alam mimpi itu merasa ingin mengadukan hal aneh yang belakangan menghampirinya itu kepada sang ibu. Namun dia ternyata tidak memiliki cukup keberanian untuk menceritakannya, sebab mungkin saja ibunya malah akan mengira bahwa dirinya menyukai Pak Ubaidillah sampai terus memimpikannya.

Sedangkan di sekolah, setiap tiba jadwal pelajaran sejarah dan Pak Ubaidillah hadir, Liana menjadi gusar. Disatu sisi, dia senang karena bisa melihat wajah sang guru, namun disisi lainnya dia gelisah pada kesenangannya itu. Apalagi pada hari itu sang guru datang menghampirinya saat dia tengah sendirian di kelasnya, dia seketika salah tingkah.

“tidakkah kamu ingin keluar sebagaimana teman-temanmu itu keluar mencari kesenangan untuk menghabiskan waktu istirahat?” tanya sang guru.

“tidak..” jawab Liana dengan tersenyum, berusaha mengendalikan dirinya yang tiba-tiba gugup tak karuan. Pak Ubaidillah lalu menyandarkan dirinya pada dinding yang ada di belakang Liana, membuat Liana semakin gugup karena merasa sang guru tengah memerhatikannya.

“maaf jika beberapa hari yang lalu aku telah berlaku tidak pantas dengan memegangi tanganmu, juga atas ucapanku tentang kekagumanku padamu. Namun, seandainya kamu masuk ke sekolah ini tiga tahun yang lalu, mungkin saat ini aku tidak akan berada dalam dilema.”

Liana hanya mendengarkan kata-kata itu berbunyi di belakangnya tanpa berani membalikkan badannya. Namun kata-kata itu seperti membenarkan pikiran buruknya selama ini terhadap sang guru, yang memang ingin mendekatinya. Tapi, dilema apa gerangan yang dimaksud Pak Ubaidillah?

“memang kenapa jika saya masuk ke sekolah ini tiga tahun yang lalu?” tanya Liana, masih tak berani berbalik.

“karena tahun itu aku belum menikah. Dan jika saja aku bertemu denganmu di tahun itu, mungkin sekarang aku adalah pemuda yang sedang menunggumu lulus sekolah untuk kunikahi.”

Betapa terkejutnya Liana mendengar ucapan gurunya yang demikian tak disangkanya itu, seakan dirinya terkena aliran listrik yang cukup besar hingga membuatnya terkejut dan tegang seketika. Apa maksud ucapannya itu?

” apakah ini artinya Pak Ubaidillah menyukaiku? Tidakkah dia patut untuk mengatakan hal itu kepadaku sedangkan ada seorang wanita yang pasti takkan senang bila mendengar Pak Ubaidillah mengatakannya padaku? Oh atau bukan hanya satu, melainkan dua wanita. Yaitu istrinya dan kakak kelasku dikelas 12. Oh atau ini pula yang dilakukan Pak Ubaidillah kepada kakak kelasku itu hingga dia bersedia memainkan api asmara bersamanya padahal sudah jelas asmara itu terlarang? Dan apakah ini artinya Pak Ubaidillah ingin menjadikanku teman bermain apinya yang kedua?”

Ditengah-tengah Liana membatin itu, sang guru berkata lagi, “jujur saja, sejak melihatmu pertama kali masuk ke sekolah ini, sosokmu selalu saja menarik perhatianku. Tapi yang lebih menarikku bukanlah kecantikan wajahmu ataupun keanggunan penampilanmu, melainkan kelembutan dan kehalusanmu. Perilakumu yang mencerminkan keadaan hatimu yang bersih, adalah perilaku seorang gadis yang layak untuk dijadikan seorang istri. Ucapanmu yang mencerminkan keadaan pikiranmu yang jernih, adalah ucapan seorang perempuan yang diidamkan para lelaki karena kelembutan suara dan tuturkata perempuan akan menenangkan hati lelaki. Diammu pun sekarang begitu membuatku kagum, karena seorang gadis pintar sepertimu ini tidak akan berucap kecuali setelah memikirkannya.”

Apa yang diucapkan sang guru itu, yang disebutnya sebagai kejujuran itu, tiap katanya masuk ke telinga Liana dan mengalir ke dalam sarap-sarapnya, lalu menggetarkan jantungnya lebih cepat sehingga dia semakin tegang. Tubuhnya memang tegang, tetapi pikirannya tidak. Dia malah semakin berpikir buruk terhadap gurunya itu.

Hingga kemudian Pak Ubaidillah berkata lagi, “melihat punggungmu seperti ini saja telah mendebarkan jantungku, Liana.”

“mohon maaf, Pak Ubaidillah, saya ingin ke keluar dulu..” Liana berdiri dan dengan cepat menyeret kedua kakinya, melangkah terburu-buru meninggalkan orang yang sedang berbicara padanya. Karena mendengar perkataannya yang tak seharusnya diucapkannya itu telah membuatnya semakin yakin bahwa sang guru memang ingin mempermainkan dirinya. Meski setelah itu Pak Ubaidillah mungkin akan menganggapnya tidak sopan, namun itu bukanlah masalah dibanding membiarkan dirinya sendiri termainkan oleh kata-katanya yang bersifat rayuan itu.

Pak Ubaidillah yang melihat Liana beranjak pergi darinya juga bergerak untuk menghentikan langkah sang gadis, yang dengan cepat pula disadari oleh Liana sehingga dia pun berlari. Berlari ke arah orang-orang yang sedang berkerumun di depan lapangan hingga sang guru tak bisa melakukan apa-apa lagi untuk mendekatinya. Pak Ubaidillah pun menghilang dari pandangannya.

Namun, hilang dari pandangan bukan berarti lenyap. Matahari akan hilang dari pandangan mata saat malam menyelimuti bumi, sedangkan ketika malam telah usai sang matahari pun akan kembali ke hadapan mata yang memandang. Hilangnya Pak Ubaidillah dari pandangan Liana juga bukan berarti dia takkan melihatnya lagi, karena ketika dirinya lelap dalam tidur, Pak Ubaidillah kembali menemuinya di alam mimpi.

Tetapi di alam itu Liana seperti lupa pada kejadian tadi siang dimana Pak Ubaidillah menyatakan cinta padanya dan mengejarnya. Sehingga dia entah bagaimana bisa berpegangan tangan dengan sang guru dan tersenyum bersamanya. Meski tidak ada kata yang diucapkan dalam mimpi itu, baik oleh Pak Ubaidillah maupun dirinya sendiri, tetapi berpegangan tangan, sungguh, itu bahkan jauh lebih membuat Liana cemas saat bangun dan menyadari mimpinya. Inilah mimpinya yang keenam. Mimpi yang membuatnya menangis saat terbangun, tetapi juga membuat jantungnya berdebar sehingga mengingatkannya pada perkataan Pak Ubaidillah tentang jantungnya yang berdebar saat melihat punggung Liana tadi siang.

Hingga malam yang ketujuh, mimpi Liana sampai pada puncaknya. Puncak dari segala keanehan malam yang seminggu ini menimpanya dan mungkin puncak dari tujuan akhir perjalanan mimpinya bersama Pak Ubaidillah.

Itulah mimpi yang paling mengerikan yang seumur hidup Liana alami. Itulah mimpi yang membuatnya berlari seperti orang dikejar pembunuh. Itulah mimpi yang membuatnya ketakutan sampai tak sadar teriakannya juga menggema ke alam realitasnya. Itulah mimpi, mimpi yang membuatnya tidak ingin melihat kehadiran Pak Ubaidillah tapi tidak melihatnya juga membuatnya ingin melihat kehadirannya. Sungguh aneh. Namun begitulah adanya.

Benci dan cinta, dua hal yang bertolak belakang tetapi sekat yang memisahkan keduanya begitu tipis. Tipis yang bahkan begitu samar hingga Liana tidak dapat memastikan dimana dirinya berada, apakah benci ataukah cinta. Sejak mimpi ketujuhnya itu dia merasa membenci Pak Ubaidillah sampai-sampai sengaja bolos sekolah pada hari dimana pelajaran sejarah ada dalam jadwal, hanya karena tidak ingin bertemu dengannya. Namun berhari-hari tidak melihatnya juga entah kenapa membuatnya merasakan kerinduan. Sehingga dia pun pada akhirnya kembali ke sekolah, memerhatikan sosok yang dibenci sekaligus dirindukannya. Meski entah mengapa pula saat melihat sosok itu dihampiri kakak kelasnya yang menjadi kekasih terlarangnya itu, hatinya merasakan kecemburuan.

“kenapa lagi denganmu, wahai hati?”

Dia pun memutuskan untuk bercerita kepada seorang sepupunya yang juga sekolah di tempat yang sama dengannya, namun berbeda kelas. Sepupunya di kelas 11, sedangkan dirinya di kelas 10. Dia mendatangi sepupunya tersebut ketika hari sudah hampir petang dan berhujan. Dia kisahkan semuanya dari awal saat bagaimana sang guru memujinya di ruang kantor hingga tentang mimpi-mimpinya yang terjadi selama tujuh malam berturut-turut. Namun tentang mimpi di malam ketujuh itu, dia bertutur sambil menitikkan airmatanya.

“di mimpi itu, aku sedang berada di kamarku. Tiba-tiba dia membuka pintu dan hendak melakukan suatu perbuatan nista padaku, yang dalam mimpi itu aku melawan dan berlari menyelamatkan diri. Aku juga berteriak memanggil-manggil ibu dan ayahku agar menolongku. Padahal di mimpi-mimpi sebelumnya aku selalu diam, menerima apa yang dilakukannya.”

Sepupunya mendengarkan dengan perhatian penuh dan tampak wajahnya begitu serius, seperti tidak menyangka hal yang demikian bisa menimpa saudaranya.

Liana pun melanjutkan ceritanya,” yang lebih mengejutkannya adalah di mimpi tersebut aku kemudian hamil. Kehamilan yang membuatku berada dalam ruang pertemuan beberapa orang penting, yang semua orang penting itu adalah kedua orangtuaku, Ustadz Mukmin, Pak Sudrajat, dan Pak RT yang semuanya berkumpul agar aku bersedia dinikahkan dengan Pak Ubaidillah. Sebab kehamilanku itu adalah tanggungjawabnya.

“namun aku tidak ingin menikah. Aku tidak menerima situasi buruk itu, yang lantas membuatku menangis hebat di alam sana. Hingga kemudian aku terbangun, tangisanku ternyata nyata, lantaran bantal tidurku pun basah kuyup sebagaimana wajahku yang basa oleh airmata. Sejak detik itulah ada kebencian dalam hatiku terhadapnya, meski aku tahu bahwa itu hanya lah mimpi semata dan tidak seharusnya aku membawa kebencian itu sampai ke kenyataan.”

Sepupunya membalas,” memang, seseorang yang berbuat jahat kepada kita di alam mimpi kadang suasananya terbawa sampai ke alam nyata..”

Liana mengangguk, kemudian berkata, “tetapi, yang ingin kuberitahu padamu adalah, meski aku membencinya tapi aku juga merindukannya. Aku bahkan cemburu dia didekati perempuan itu. Sungguh, tamparlah aku! Aku mungkin sudah hilang akal. Tolong keluarkan aku dari keadaan ini sebelum aku menjadi gila..” ungkap Liana sembari berlinang airmata.

“kamu mencintainya?” tanya sepupunya dengan raut muka menggambarkan keterkejutan. Liana menggelengkan kepala sambil berusaha menghentikan airmatanya, “aku tidak tahu. Aku tidak tahu..” ucapnya, membuat sepupunya tiba-tiba merasa prihatin atas apa yang terjadi padanya. Dia pun merangkulnya untuk menenangkannya. Karena dia tahu, mencintai seseorang yang tidak seharusnya dicintai akan menarik kehidupannya ke dalam dukacita, sehingga mengetahui Liana mencintai Pak Ubaidillah yang telah beristri itu membuatnya berpikir bahwa Liana harus diselamatkan.

Terlebih, orang yang dicintainya itu adalah seorang Pak Ubaidillah, yang dia ketahui sendiri tidak setia kepada istrinya di rumah.

Dia lalu menceritakan pengalaman mimpinya sendiri yang saat kecil dialaminya. Bahwa dirinya juga pernah mengalami tujuh mimpi dalam tujuh malam berturut-turut, persis seperti yang Liana alami. Namun orang yang mendatanginya adalah mendiang kakeknya yang baru saja wafat, yang karenanya dia berubah menjadi anak yang sangat penakut sampai-sampai tidak mau ditinggal sendirian karena takut ada sang kakek, katanya. Ibunya lalu meminta pertolongan seorang kiayi untuk melihat keadaannya yang ternyata memang benar bahwa sang kakek selalu mengikutinya karena rasa sayang kepadanya. Meski itu hanya wujud dari jin qarinnya semata, bukan ruh asli kakeknya.

“setidaknya kamu tidak merasa terhina saat bangun dari tidur karena bukan Pak Ubaidillah yang mendatangimu..” ucap Liana yang lantas membuat sepupunya tertawa.

“memang benar. Tapi pada dasarnya kita sama-sama mengalami keadaan dimana kita seperti sengaja ditarik ke alam gaib lewat mimpi. Meski mimpimu jauh lebih mengerikan kupikir, tapi mimpiku juga tak kalah menakutkan.”

Dia pun bercerita, “malam pertama setelah kematiannya, dia datang mengetuk pintu. Tapi karena aku tahu yang datang itu adalah kakek yang baru saja dikuburkan, maka aku tidak membuka pintunya karena takut. Dia lalu datang saat aku sedang duduk depan rumah, seketika aku berlari masuk ke dalam. Di malam ketiga dia menghampiriku saat sedang bermain, seketika lagi aku pergi menjauhinya. Aku selalu sadar bahwa yang datang itu adalah arwah sehingga aku selalu berlari. Namun di malam keempat, dia muncul dari dalam kamarnya dan aku tidak bisa bergerak untuk berlari sehingga dia pun memegangi lengan kiriku. Kamu tahu apa yang terjadi saat aku terbangun setelahnya?” Liana menggeleng.

” lengan kiriku sakit, tepat di titik daging yang dipegangnya.” Liana bergidik karena merasakan sensasi horor dari cerita sepupunya, yang karenanya diapun berhenti menangis untuk sementara.

“malam kelima, kakekku datang lagi untuk meminta makanan karena katanya dia lapar. Tapi di mimpi itu aku tidak lagi merasa takut padanya meski aku tetap sadar bahwa kakekku itu sudah meninggal. Aku pun mengambilkan sepiring nasi untuknya. Lalu malam keenam, aku bersama nenekku sedang membersihkan kebun salak yang banyak rumputnya, kemudian kakekku datang yang kedatangannya itu disambut oleh nenekku sehingga kami bertiga bersama-sama membersihkan rumput. Hingga kemudian malam ketujuh, malam terakhir acara tahlilan kematiannya. Kali ini dia menuntunku mengikutinya. Coba tebak, kemana dia mengajakku?”

“kemana?” Liana tak ingin menebak. Dia tampak penasaran sehingga ingin segera mengetahui tanpa harus menebak-nebak terlebih dulu.

“ke tempat dimana dia dikuburkan. Meski takut tapi aku tetap mengikutinya karena di malam itu wajahnya begitu putih bersinar dan pakaiannya juga rapi sehingga dia tampak lebih muda. Dia lalu membelah tanah kuburannya sehingga tampak lah tempat yang indah tergelar di depan mataku. Dia bilang bahwa di sana lah dia akan tinggal dan mengajakku untuk ikut bersamanya, banyak sekali makanan enak katanya, namun nenekku tiba-tiba datang membawaku pergi dari tempat itu.”

Konon ceritanya, jika bermimpi diajak oleh orang yang sudah meninggal dunia, itu artinya sang mendiang mengajak untuk ikut dengannya meninggalkan dunia ini. Sehingga Liana pun berkata kepada sepupunya,” untung saja kamu tidak ikut dengannya.. ” sepupunya mengangguk mengiyakan.

Dia pun mengakhiri ceritanya dengan berkata, “meski setelah malam itu kakekku tidak datang lagi ke dalam mimpiku, namun kehadirannya selalu terasa ada di dekatku sampai aku tidak ingin lepas dari tangan ibuku karena takut. Hingga aku dibasuh air oleh kiayi itu, yang katanya berfungsi untuk menghijabku dari pandangannya, perlahan ketakutanku hilang dan aku bisa kembali menjalani hari-hariku tanpa bergantung kepada ibuku.”

“kamu beruntung bisa selamat dari situasi tersebut..”

“iya. Namun yang ingin kukatakan padamu adalah bahwa mungkin saja mimpi-mimpimu itu ada hubungannya dengan ulah jin yang sengaja ingin mengganggumu. Sama seperti jin qarin kakekku yang mendatangi mimpi-mimpiku.”

Liana tampak sepakat pada kemungkinan yang diucapkan sepupunya tersebut, tetapi saat diminta datang ke kiayi yang dulu menolong sepupunya itu dia enggan karena rumahnya terlalu jauh. Maka dia pun menyuruh Liana agar selalu berusaha mengingat Tuhan dan meminta perlindungan-Nya, karena jika memang benar ada peran makhluk itu dalam kejadian yang menimpanya tersebut, hanya Tuhan lah yang dapat menyelamatkannya.

Mereka pun mengakhiri pembicaraan saat lantunan adzan magrib menggema, yang kemudian juga mengakhiri pertemuan tersebut setelah Liana berpesan agar sepupunya menjaga seluruh ceritanya sebagai rahasia. Liana pergi meninggalkan sepupunya, sementara sepupunya menatap kepergiannya sambil berkata dalam hatinya, “mungkin kah Pak Ubaidillah telah melakukan sesuatu kepadanya?” Meski pertanyaannya tersebut juga sebetulnya menjadi pertanyaan Liana. Namun, mereka tetap menyimpannya dalam pikiran masing-masing karena mengutarakannya mungkin akan menjadi sebuah tuduhan tanpa dasar kepada sang guru.

Dan begitulah. Siang berganti malam, malam berganti lagi dengan siang. Hari-hari terus berganti tanpa ada yang mau membuka misteri tentang mimpi tujuh malamnya Liana. Bahkan dirinya sendiri, dia memilih untuk tidak mencoba membukanya dan memutuskan untuk membiarkannya terjadi apa adanya, sekaligus membiarkan perasaannya sendiri tanpa pernah dia sirami agar lebih cepat mati.

Maksud dari tidak menyirami perasaannya itu adalah membiarkan cintanya tidak menerima apa yang diharapkannya. Sebab cintanya itu selalu menuntut untuk melihat dan mendekat kepada Pak Ubaidillah, sedangkan jika dia melakukan itu, itu sama dengan menyerahkan diri kepada kehancuran dan kehinaan. Kehinaan karena mendekati suami perempuan lain.

Meski pada kenyataannya justru sang guru lah yang selalu mendekatinya, namun jika dia meresponnya dengan penerimaan maka tiadalah bedanya antara dirinya dengan perempuan perusak rumahtangga orang lain. Sehingga ketika suatu kali Pak Ubaidillah menghampirinya lagi dan mengatakan kembali tentang betapa dia mengagumi dirinya, dia sudah bisa mempertahankan diri dan melawan perasaannya agar tidak berbunga, sekaligus mengabaikan apapun yang diungkapkan lelaki itu.

biarlah cintaku ini mati. Sebab membiarkannya hidup adalah kesalahan, meski tiada yang salah dengan mencintai..”

 

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!