Minangkabau
39.4
4
307

Perjalanan Kiyana ke kampung halaman Jiya dan mengenal budaya Minangkabau

No comments found.
Minangkabau

.

.

 

Minangkabau. Satu kata yang khas dengan budaya yang khas juga. Bahasa dan berbagai budaya yang beranekaragam. Suku yang berada di daerah Sumatra Barat dengan kota Padang sebagai ibukotanya. Merantau adalah kebiasaan masyarakat minang. Keluar dari nagari Minangkabau, dan mengadu nasib di tempat lainnya.

Hal yang sama berlaku untuk Jiya. Merantau dan jauh dari rumah. Menemukan hal baru dan suasana baru.

“Jiya jadi pulang kampung?” Tanya Kiyana di hari terakhir kerja mereka.

“Iya jadi. Kenapa?” Tanya Jiya yang sedang merapikan mejanya.

“Hehe.. ikut boleh?” Tanya Kiyana.

“Ha?”

“Iya. Aku ikut kamu pulang kampung, sekalian mau jalan-jalan juga.” Ucap Kiyana santai.

“Yakin kamu?”

“Yakinlah.” Jawab Kiyana mantap.

Dan disinilah mereka, mendatangi bandara pada pukul setengah lima dengan Kiyana yang masih menggerutu tentang betapa ngantuknya dia keduanya berhasil sampai tepat waktu.

“Kalau ngantuk gak usah ikut.” Ucap Jiya yang sedang makan roti.

“Apanya? Aku udah sampai sini malah disuruh pulang.” Jawak Kiyana kesal.

“Sudah makan Kir?” Tanya Jiya kembali.

“Belum lapar. Nanti aja.” Jawab Kiyana sibuk dengan ponselnya.

“Nanti kapan? Kita gak bakal sempat beli makanan, bawa roti ini aja.” Ucap Jiya menyerahkan sebungkus roti pada Kiyana.

Memasuki pukul 06.00 Wib keduanya mulai memasuki pesawat.

“Udah pernah naik pesawat sebumnya kamu?” Tanya Jiya.

“Udah. Kenapa emang?” Tanya Kiyana.

“Gak ada aku cuman nanya.” Jawab Jiya kembali sibuk dengan pikirannya.

Pesawat yang ditumpangi keduanya segera lepas landas. Dari jendela pesawat keduanya bisa melihat lautan lepas dan kemudian memasuki langit pulau sumatara. Menatap hijaunya barisan pepohonan  dari atas langit. 

“Apa yang kamu pikirkan?” Tanya Kiyana menatap Jiya yang tampa hanyut dengan pikirannya.

“Sangat banyak. Aku jadi nostalgia.” Jawab Jiya tersenyum.

“Hoho.. tentang apa? Bagi-bagi dong.” Desak Kiyana.

“Semuanya. Saat perjalanan pulang kayak gini ada banyak kenangan masa kecil yang berputar di kepalaku.” Jawab Jiya.

“Jiya penuh dengan kenangan ya.” Ucap Kiyana pelan sambil menutup matanya. Jiya hanya tersenyum dan kembali menatap hamparan alam dari jendela pesawat.

Pukul 08.00 WIB keduanya sampai di bandara Internasional Minangkabau. Bandara yang terletak di kota Padang,Sumatra Barat.

“Cuacanya cerah ya.” Ucap Kiyana menatap birunya langit.

“Syukurlah kalau cuacanya cerah kita gak susah buat cari mobil.” Ucap Jiya sibuk dengan ponselnya.

“Memangnya susah kalau hujan?” Tanya Kiyana.

“Bisa saja.”

Kiyana menatap lalu lalang di bandara. Menatap anak-anak yang tertawa bersama orang tuanya. Menatap pasangan muda mudi yang sibuk bersanda gurau. Menatap orang-orang yang tengan menghabiskan waktu menunggu keluarganya datang.

Kiyana menoleh saat mendengar Jiya berbicara dengan bahasa yang tak dipahaminya. Bahasa yang terdengar khas.

“Sudah dapat mobilnya?” Tanya Kiyana saat Jiya terlihat mengakhiri panggilan.

“Sudah. Temanku bisa jemput kebetulan dia juga ada di Padang.” Jawab Jiya.

“Oke.”

Keduanya kembali menunggu sekitar setengah jam. Tak lama sebuah mobil avanza warna hitam datang dan berhenti tepat di depan keduanya. Pintu mobil terbuka dan keluarlah seorang pemuda yang mengenakan kaca mata hitam dan berseru senang memanggil Jiya.

“Jiya! Lah lamo nunggu?” Tanya pemuda itu pada Jiya dan langsung disambut riang oleh gadis itu.

“Alun lamo bana lai. Surang se?” Jawab Jiya dengan bahasa yang sama.

Sementara Kiyana yang mendegar perbualan keduanya hanya menatap bingung.

“Mereka bicara apa?” Gadis itu bergumam pelan.

“Indak. Ado si Tari gai.” Jawab pemuda itu yang bisa Kiyana artikan bahwa ada teman mereka lainnya.

Jendela samping mobil kemudian terbuka dan muncul seseorang lainnya disana. Gadis dengan rambut sepinggang dan mengenakan kaca mata hitam dengan senyum lebar menatap kearah Jiya.

“Urang jauah lah pulang.” Ucap gadis itu sambil tertawa yang ditanggapi dengan tawa balik oleh Jiya.

‘Pulang? Jauh? Apanya?’ batin Kiyana semakin heran.

“Ah iko kawan Jiya namonyo Kiyana.” Ucap Jiya memperkenalkan dirinya kepada pemuda dan gadis tadi.

Jiya yang memperhatikan wajah bingung Kiyana segera sadar bahwa gadis itu tidak paham dengan perbincanga mereka.

“Ah, aku memperkenalkanmu pada mereka. Pemuda itu namanya Wido.” Ucap Jiya pada Kiyana.

“Hai aku Wido. Salam kenal Kiyana.” Ucap Wido pada Kiyana yanga baru bisa senyum.

“Ah iya salam kenal juga.” Jawab Kiyana ramah.

“Yang didalam mobil itu Tari.” Ucap Jiya menunjuk teman perempuannya. Tari melambai pada Kiyana yang dibalas dengan lambaian oleh Kiyana.

“Kama lai?Ah maksudku kalian mau kemana lagi?” Tanya Wido membawa barang Jiya dan Kiyana kedalam mobil.

“Mau jalan-jalan dulu Kir?” Tanya Jiya menatap gadis berambut sebahu itu.

“Boleh. Aku ngikut aja. Yang tau tempat ini kan kamu.” Jawab Kiyana membenarkan rambutnya.

Jiya segera masuk kedalam mobil diikuti dengan Kiyana dibelakangnya. 

“Masih pagi, mau kemana nih?” Tanya Tari menggunakan bahasa yang bisa dimengerti Kiyana membuat gadis itu menghela nafas lega bisa memahami inti percakapan.

“Ngikut kalian aja deh.” Jawab Kiyana.

“Bukit nobita yuk.” Ucap Jiya semangat.

“Boleh.” Sahut Wido segera menghidupkan mobil. Mobil avanza itu perlahan mulai meninggalkan kawasan bandara melewati jalan by pass dan menatap ramainya kendaraan lalu lalang.

“Kenapa Kir?” Tanya Jiya saat Kiyana yang biasanya heboh mendadak diam.

“Gak ada. Cuman mau nikmatin aja.” Jawab Kiyana santai.

“Kalau ada apa-apa bilang ya. Jangan sungkan.” Ucap Tari ramah.

“Si Tari sok ramah nih.” Ejek Wido yang langsung dibalas dengan tatapan tajam dari gadis itu.

“Masih suko bacakak jo kalian.” Ucap Jiya dengan gelengan kepala.

Kiyana hanya menatap dengan senyum sebelum sebuah pertanyaan terlintas di kepalanya.

“Ah, apa kalian kenal Jiya dari kecil?” Tanya Kiyana menarik perhatian semua penghuni mobil.

“Iya benar. Kita teman Jiya dari kecil.” Jawab Wido menatap Kiyana dari kaca depan sekilas.

“Betul sekali. Kenapa Kiyana?” Tanya Tari menoleh menatap Kiyana.

“Jiya waktu kecil kayak apa?” Tanya Kiyana kembali. Tari dan Wido terdiam kemudian saling pandang dan keduanya tertawa lepas.

“Hei jangan bilang kalian-

“Maaf. Tapi.. pffftt.” 

Kiyana semakin penasaran dengan hal yang ditertawakan oleh Tari dan Wido.

“Gini Kiyana. Jiya itu waktu kecil lucu banget.” Ucao Tari disela tawanya.

“Salah satu hal yang kita ingat itu saat tim randai tampil.” Ucap Tari yang sudah tenang.

“Randai?” Tanya Kiyana heran.

Randai itu permainam tradisional dari Minangkabau. Biasanya dalam bentuk kelompok, dan menceritakan kisah sehari-hari di tengan masyarakat.” Ucap Tari.

“Dan juga ada nasehat di dalamnya. Juga pakai alat musik dendang atau gurindam.” Tambah Wido.

“Nanti randai itu ada yang nuntun gerakannya, salah satu orang yang nuntun gerakan itu namanya janang.” Tambah Jiya.

“Nah yang lucunya si Jiya ini- pfttt..” Tari kembali tertawa sementara Jiya sudah memerah karena malu.

“Waktu itu kan kita latihan untuk pementasan randai kan. Mulai dari tari, kemudian lagu, lalu drama dan silat.” Jelas Tari kembali.

“Ada silatnya juga?” Tanya Kiyana.

“Ada. Randai itu gabungan dari seni tari,musik,drama dan silat. Di sela-sela itu juga akan ada nyanyi minang nantinya.” Jelas Wido.

“Lengkap ya. Lalu habis itu?” Tanya Kiyana kembali penasaran.

“Si Jiya ini dari kecil emang udah gabia. Jadi kan-

“Gabia itu apa?” Potong Kiyana.

“Gabia itu ceroboh.” Jawab Jiya.

“Nah benar. Jadi si Jiya ini waktu yang lain sedang latihan gerakan tari. Yang mukul gendang juga harus mengimbangi penari kan. Jiya ini waktu itu kebagian bawa tambahan talempong untuk anggota lainnya.” Tari kembali tertawa.

“Saat hampir sampai Jiya ini gak sengaja jatuh terkena pembatas tali disekeliling lapangan alhasil talempong ditangannya juga terbang dan jatuh. Suaranya nyaring banget. Semua orang noleh ke Jiya yang terpeleset dan masih dalam posisi berbaring. Susah banget nahan ketawa waktu itu.” Tari kembali tertawa lepas.

“Sampai-sampai yang lagi latihan randai waktu itu juga ketawa dan latihannya ditunda selama lima belas menit.” Jelas Wido.

“Pfftt.. hahaha.. memalukan ya Jiya.” Ucap Kiyana yang sedikit banyak bisa membayangkan kejadian yang ada.

“Sudahlah. Kalian ini suka sekali membangkitkan kenangan memalukan itu.” Gerutu Jiya.

“Bahkan saat itu Jiya jadi terkenal lo.” Jelas Tari.

“Terkenal gimana?” Tanya Kiyana kembali penasaran.

“Setiap yang latihan pakai talempong mereka pasti ingat sama kejadian itu. Bahkan para guru juga.” Tambah Wido.

Kiyana kembali tertawa diikuti oleh Tari dan Wido. Mobil itu ramai oleh tawa ketiganya yang asik dengan cerita aib Jiya.

“Kita sudah sampai.” Ucap Wido memarkirkan mobil di parkiran.

“Jalannya nanjak ya.” Ucap Kiyana menatap tanjakan didepannya.

“Nanti terbayarkan kok sama pemandangan diatas. Ayo!” Ajak Tari yang semangat memimpin jalan.

Lima belas menit kemudian keempatnya sampai di puncak bukit. Pemandangan kota Padang dari ketinggian langsung menyambut mata. Didepan mereka ada kapal besar dan juga 3 kolam renang dengan kedalaman berbeda.

“Indahnya.” Seru Kiyana.

“Untunglah mataharinya tidak terlalu terik ya.” Ucap Jiya yang berdiri disamping Kiyana.

“Mau pesan minuman?” Tanya Wido.

“Traktir.” Sahut Tari.

“Boleh. Yang seger-seger.” Sahut Jiya yang juga diangguki oleh Kiyana.

“Oke. Kamu ikut Tar!” Ucap Wido menarik Tari yang kesal.

Kiyana hanya memandang geli keduanya sebelum kembali menatap pemandangan didepannya.

“Adem banget ya Jiya. Cocok banget buat hilangin galau.” Ucap Kiyana.

“Ya kamu benar. Aku juga udah lama gak kesini. Waktu terakhir pulang aku juga kesini sama mereka.” Jawab Jiya.

“Gak heran kalau pengen balik lagi kesini kan.” Ucap Kiyana.

Jiya hanya menanggapi dengan tertawa. Tak lama dari belakang keduanya Wido dan Tari datang dengan membawa es teh.

“Wah.. es teh. Segar banget. Makasih Wido.” Seru Kiyana semangat.

“Sama-sama.” Sahut Wido.

“Sudah hubungi mak mu Jiya?” Tanya Tari.

“Sudah.” Jawab Jiya.

“Jiya pasti kangen rendang mak nih.” Sahut Wido.

“Pasti dong.” Jawab Jiya semangat.

“Makannya sampai gak bersisa. Hahaha.. andaikan piringnya bisa dimakan pasti dimakan Jiya.” Tambah Tari.

“Bicara soal piring. Tari piring itu asalnya dari sini kan?” Tanya Kiyana.

“Itu benar.” Sahut Tari.

“Maksud memecahkan piring diakhir tarian itu apa? Semua tari pasti ada maknanya kan?” Tanya Kiyana.

“Tari piring ya? Tari piring itu maknanya sebagai bentuk rasa syukur atas panen.” Jawab Tari.

“Gerakan tari piring juga banyak seperti gerakan mencangkul,gerakan menyemai,gerakan menyiang,gerakan membuang sampah satu lagi apa Jiya?” Tanya Wido.

“Gerakan siganjuo lalai.” Jawab Jiya.

“Artinya?” Tanya Kiyana.

“Gerakan itu menunjukan sisi feminimnya perempuan dan juga menyimbolkan suasana pagi yang menyejukkan mata.” Tambah Jiya.

“Kalian pernah ikut tari piring?” Tanya Kiyana kembali.

“Pernah. Aku dan Jiya pernah ikut waktu pembukaan acara di sekolah.” Jawab Tari.

“Kalau aku ikutnya di bagian musik. Tari Piring sama Tari Pasambahan.” Ucap Wido menghabiskan minumannya.

“Kalau tari pasambahan apa pula?” Tanya Kiyana.

“Jadi nostalgia di kelas BAM ya.” Ucap Jiya terkekeh.

“Haha.. benar. Jadi kangen belajar BAM.” Tambah Tari.

“BAM itu pelajaran Budaya Alam Minangkabau.” Tambah Wido.

“Nah balik ke tari pasambahan tadi. Pasambahan artinya persembahan. Biasanya digunakan untuk menyambut tamu kehormatan dan diawali dengan atraksi penari laki-laki dulu yang melambangkan gerakan silat. Biasanya sih disebut Parik paga dalam nagari.” Ucap Jiya.

“Artinya penjaga nagari.” Tambah Tari.

“Nanti habis itu baru masuk penari wanita dengan gerakan yang gemulai tapi tetap tegas. Diiringi musik talempong sama gandang. Nah aku bertugas di bagian gandang.” Ucap Wido santai.

“Kalau Jiya?” Tanya Kiyana.

“Oh Jiya waktu itu bawa Carano kan?” Tanya Tari.

“Iya.” 

“Carano itu apa?” Tanya Kiyana kembali.

Carano itu isinya sirih,pinang, sadah dan kelengkapan lainnya. Biasanya ditutup bagian luarnya sama kain merah gitu. Nanti kita bakal mempersilahkan tamu kehormatan makan sirih.” Ucap Jiya.

“Pembawa carano itu biasanya diiringi dua orang lainnya. Jalannya harus anggun dan ada musik pengiring bansi dan kato pasambahan juga.” Tambah Tari.

“Jiya bisa anggun juga ya?” Respon Kiyana sementara Jiya hanya menatap kesal gadis berambut sebahu itu.

“Tapi Jiya cantik kok waktu itu.” Gumam Wido.

“Uhuk.”

Jiya tersedak saat mendengarkan gumaman Wido. Sementara Tari dan Kiyana menatap pemuda itu dengan pandangan menggoda.

“Oh jadi begitu.”

“Acieee.. Masih belum berubah ya Wido.” Goda Tari dan akhirnya pemuda itu menyadari ucapannya dan segera menutup wajahnya yang memerah.

“Jadi ini alasan Jiya kangen pulang ya?” Goda Kiyana pada Jiya yang sudah menunduk malu.

“Kita tinggalkan yuk.” Ajak Tari pada Kiyana.

“Jangan! Tari!” 

Mendengar nada ucapan Jiya yang sarkas dan penuh tekanan membuat gadis itu kembali duduk. 

“Dari pada kena pukulan silatmu mending aku nurut deh kali ini.” Gumam Tari.

“Eh Jiya bisa silat juga?” Tanya Kiyana dibalas anggukan oleh Tari.

“Pantas Jiya gak takut pulang malam ya. Hebat kamu Jiy. Banyak banget bakatnya.” Puji Kiyana 

“Iyalah Jiya gituloh. Siapa yang gak kenal anak mak Ine yang satu ini.” Balas Tari.

“Hei.” Panggil Wido yang sedari tadi diam menarik perhatian mereka.

“Apa?”

“Gak mau makan? Lapar kan?” Tanya Wido mulai berdiri.

“Mau makan dimana? Dan makan apa?” Tanya Tari. Jiya menatap Kiyana sekilas.

“Makan ampera aja. Sekalian kenalin makanan kita sama Kiyana.” Usul Jiya.

“Oke. Yuk turun.” Ajak Wido memimpin rombongan

Mereka kembali menuju tempat parkir sambil sesekali memandangi pemandangan. Sesampai di mobil mereka segera masuk dan mencari tempat makan.

“Makan disini aja yuk. Enak.” Usul tari. Mobil segera parkir dan harum masaka langsung memasuki penciuman mereka.

“Pesan kayak biasa aja.” Ucap Tari 

“Sering kesini kalian?” Tanya Kiyana.

“Iya. Udah langganan juga.” Jawab Tari sementara Wido beralih memesan makanan.

Tak perlu menunggu waktu lama beberapa lauk makanan segera tersaji di depan mereka. Mulai dari rendang, telur dadar, sayur singkong, sambal mulai dari cabe merah hingga cabe hijau, bada, ikan gulai dan menu menggungah selera lainnya.

“Silahkan Kiyana. Jangan sungkan semua dibayar Wido kok.” Ucap Tari mulai menyendok nasi.

“Apaan? Gak lah.” Jawab Wido tak terima.

“Sisakan rendang untukku.” Seru Jiya.

“Iya maniak rendang.” Sahut Tari.

Kiyana menatap hidangan di depannya dan mulai mengambil nasi. Memilih lauk mulai dari bubuk rendang, telur dadar dan juga sayur singkong tak lupa dengan kerupuk yang disediakan.

“Enak banget.” Gumam Kiyana semangat.

“Nagih kan?” Ucap Tari.

“Banget. Eh bahasa minangnya enak apa?” Tanya Kiyana.

“Lamak bana.” Seru Wido.

“Hoo.. lamak bana.” Ulang Kiyana

“Haha.. benar. Lamak bana.” Sahut Tari.

Jiya hanya tersenyum dan lanjut makan dalam diam.

“Gimana Kir? Seru gak?” Tanya Jiya pada Kiyana setelah mereka selesai makan.

“Banget. Ini liburan yang menyenangkan, bisa belajar budaya baru juga.” Sahut Kiyana.

“Masih banyak tempat bagus lo.” Tambah Tari.

“Benar. Mau kemana lagi nih?” Tanya Wido.

“Aku pengen ke Jam Gadang, lalu ke Bukittinggi juga kulinernya juga banyak kan disana. Lalu mau ke ngarai apa?”

“Ngarai Sianok?” Tanya Jiya.

“Yaps benar. Banyak tempat lagi.” Seru Kiyana semangat.

“Oke. Baiklah mari kita menjelajah.” Seru Wido.

“Ayo!”

“Jangan lupa foto! Buat dokumentasiku nantinya. Aku mau pamer.” Ucap Kiyana kembali.

Perjalanan penuh cerita dan kenangan itu berjalan lancar. Kiyana yang semangat dengan budaya yang ada, Tari yang semanga dengan kisah aib Jiya, Wido yang semangat mengemudi dan Jiya yang kembali bernostalgia. 

Kisah indah dengan budaya yang indah.

 

 

Note:
“Jiya! Lah lamo nunggu?” = “Jiya sudah lama nunggu?
“Alun lamo bana lai. Surang se?” = “Belum terlalu lama. Sendiri aja?”
“Indak. Ado si Tari gai.” = ” Tidak. Ada Tari juga.”
“Urang jauah lah pulang.”= “Orang jauh sudah pulang.”
“Ah iko kawan Jiya namonyo Kiyana.” = ” Ini teman Jiya namanya Kiyana.”
“Masih suko bacakak jo kalian.” = ” Masih suka bertengkar juga kalian.”
“Kama wak lai?” = “Kemana kita lagi?/ Sekarang mau kemana?”
“Gabia.” = “Ceroboh”
“Lamak bana” = ” Enak sekali.”
=>Pict in PDIKM Padang Panjang
 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!