Monolog Dua Musim
56.6
4
445

Teman? Pacar? Atau kenalan? Tidak ada kata yang pas bagi Nara, siswi terpintar seangkatannya namun tidak ada yang menarik dari hidupnya. Sampai pertemuan pertamanya dengan Danar, membuat hidup suramnya lebih berwarna.

  • Ahhh sedih kak, kayak pengen baca lanjutannya lagi huhuuu, terbawa emosi bacanya

  • huhuhu… kenapa yah, kok relate banget dengan masa sma dulu. suka sekali dengan penulisan yang light dan nggak bertele-tele. ceritanya ngena di hati. membuat saya membayangkan lagi jaman sma. keep up the good work, author. love it

  • Ogta Maleunilli abi ( Okta Marnili Abi ) ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

  • Kalau ada yang bilang cinta pertama tidak sepenuhnya berhasil, bawa orangnya ke hadapanku sekarang juga. Mengapa dia berkata seperti itu? Karena ucapan seperti mantra, kalimat itu secara ajaib berpengaruh pada kisahku sekarang. Walaupun sudah lima tahun berlalu, setumpuk memori itu terus mengalir, ikut berhembus di setiap helaan napasku.

    Bodoh? Tentu saja aku sudah merutuk diri berkali-kali. Bagaimana mungkin aku bisa terus hidup di sebuah kenangan? Terlebih jika itu kenangan manis yang memiliki ujung tragis. Ya tapi itulah aku. Aku hanya orang biasa, tidak populer, tidak rupawan, bahkan seumur hidup aku bukan orang yang menonjol. Kalau ada penggambaran yang sesuai, aku seperti bayangan tanpa tuan. Terlihat gelap, tersembunyi di antara sekian manusia yang nyata di dunia ini.

    Mungkin berlebihan, tetapi itulah sebenarnya aku. Tetapi semua hal dari diriku yang kubenci, bisa-bisanya ada seseorang yang berkata lain. Dulu dia berkata aku seseorang yang unik dan menarik. Itu pertama kalinya aku mulai melihat diriku sendiri. Berkat orang itu, berkat kenangan indah di waktu paling romantis. Dan benar sekali lagi kata orang-orang, hidup paling bahagia paling terasa saat masih menjadi murid SMA.

     

    ***

     

    Kita putar memori kembali di enam tahun yang lalu. Waktu itu aku masih kelas dua SMA. Nara Maheswari. Orang-orang sering kali memanggilku Nara. Hidup biasa saja, hanya memang tahun lalu aku ranking satu satu sekolah, selebihnya tidak ada yang menarik.

    Jika kata orang, kehidupan SMA itu paling menyenangkan, well itu tidak berlaku padaku. Bisa dibilang, aku hidup di rutinitas siswa yang membosankan. Berangkat sekolah, belajar di kelas, pulang sekolah, les malam, besoknya berangkat lagi, dan begitu seterusnya. Hobi? Hmm, kurasa tidak ada. Ikut ekskul? Apalagi itu, aku malas mengikutinya. Aku cenderung suka sendiri, tidak banyak bicara, dan mendengarkan musik. Benar-benar tidak ada yang spesial.

    Akan tetapi, hari itu berbeda. Tepat pukul tiga sore, bel sekolah berdering tiga kali. Sebentar lagi siswa siswi berhamburan keluar sekolah, karena sudah jamnya pulang. Ada yang pulang bawa motor, ada yang naik ojek, dan ada pula yang menunggu jemputan orang tuanya. Ramainya sekolah ditambah para pedagang jajanan berjejer di depan pintu gerbang serta mobil-mobil mewah yang terparkir di tepi jalan.

    “Halo? Ayah, aku sudah selesai.” Aku mengabari Ayah melalui ponsel begitu berjalan mendekati bangku di pojokan dalam, samping pintu gerbang.

    “Iya. Tapi Ayah belum selesai di kantor. Hari ini kerjaan Ayah lagi numpuk. Bagaimana, Nak? Mau nunggu Ayah atau naik ojek saja?”

    Jarak antara sekolah dan rumahku ada sekitar 20 km, lumayan jauh juga. Kalau naik ojek tentu mahal ongkosnya. Lebih baik tidak usah.

    “Nara tunggu aja, Yah. Di bangku samping gerbang sekolah ya.”

    “Ayah baru keluar kantor sejam lagi. Belum nanti perjalanan macet. Yakin nggak kelamaan nunggunya?” Ayah bertanya sekali lagi, memastikan.

    “Nggak masalah. Orang sejam doang kok, Yah.”

    “Ya sudah kalau begitu. Nanti Ayah telepon lagi.” 

    Sembari menunggu jemputan, aku meraih novel yang baru kupinjam dari perpustakaan. Sekalipun dalam suasana ramai maupun sepi, kalau ada waktu senggang, novel satu-satunya penyelamatku agar aku tidak mati kebosanan. Seluruh genre novel kecuali horor sebab aku orangnya penakut. Tanpa butuh waktu lama, aku terlarut dalam bacaanku sampai-sampai tidak mendengar derap langkah kaki mendekat.

    “Halo. Kok belum pulang? Nunggu jemputan ya?” 

    Aku terperanjat mendengar suara cowok asing yang tiba-tiba menegurku. Kepalaku mengada ke atas, mendapati pemuda itu menatapku ramah. Dari warna name tag seragamnya, rupanya dia kakak tingkatku. Disitu tertera nama ‘Ahmad Danar S’. Dengan balutan jaket navy, tas ransel coklat, dan kacamata, dia menatapku dengan senyum cerah.

    “Maaf, aku membuatmu terkejut ya?” Sopan sekali suaranya. Tipikal suara laki-laki yang ada di dalam drama, yang pasti hati para wanita luluh dibuatnya.

    “Boleh aku duduk di sini?” Cowok itu menunjuk bangku yang kutempati.

    Sebagai balasannya, aku hanya mengangguk setuju.

    Cowok itu kemudian duduk di ujung bangku. Begitu juga aku refleks menggeser posisi ke ujung berlawanan. Aku memperhatikan sekitar, halaman sekolah sudah sepi. Tinggal kami berdua dan beberapa murid yang bergerombol di dekat parkiran seberang jalan. Suasana kental dengan kecanggungan di antara kami.

    “Masih lama ya jemputannya? Soalnya sekolah udah sepi banget.” Kak Danar bertanya, memecah keheningan di antara kami.

    Kenapa senior ini basa-basi sih, mana duduk di sampingku pula, keluhku cemas. Wajar saja demikian, murid senior kelas tiga memang terkenal orangnya ketus dan garang. Kalau istilah sekarang, senior killer.

    “Novel bagus. Lagi booming buku itu.” celetuknya sambil melirik novel yang ada di pangkuanku. “Suka baca buku ya?”

    “Iya, Kak.” Sekali lagi, aku hanya menjawab pendek pertanyaan basa-basi darinya.

    Danar mengangguk. Dia tidak bertanya lagi, membuat suasana lengang beberapa saat.

    “Kakak nunggu dijemput juga?” Aku memberanikan diri untuk mengajaknya berbicara.

    “Panggil Danar saja.” Ia mengulurkan tangannya sambil menatapku“Boleh kenalan?”

    Aku menatap uluran tangannya beberapa detik, lalu menatap balik matanya segan. 

    “Aku membuatmu tidak nyaman ya?”

    “Bukan begitu, Kak.” Buru-buru aku menjawab agar dia tidak salah paham. “Aku hanya ehmm.. hanya..”

    “Nggak usah takut. Aku bukan senior yang galak.”

    Kak Danar berusaha melucu, membuat kecanggungan di antara kami perlahan mencair.

    “Lagian orang cakep gini mana ada tampang-tampang garang coba.” imbuhnya sambil terkekeh.

    Berkatnya, aku menjadi lebih rileks dan bisa sedikit tersenyum.

    “Namamu siapa?” Kak Danar mengulang pertanyaan yang belum terjawab.

    “Namaku Nara, Kak.”

    “Danar saja.” Kak Danar mengoreksi ucapanku. Ia tidak mau dipanggil ‘kakak’ sepertinya.

    “Aku panggil Kak Danar saja ya. Kan kamu kakak tingkatku.

    Kak Danar mengalah, tapi yang lucu raut mukanya dibuat seolah merajuk. Dikira dia menggemaskan, huh?

    “Kalau senior lain tahu, yang ada aku disidang beramai-ramai di lapangan upacara. Sukur kalau nggak dicincang.

    Aku bergidik ngeri membayangkannya. Disetrap guru di luar kelas saja belum pernah, apalagi dikeroyok senior ganas.

    Kak Danar terpingkal-pingkal mendengar ucapanku.

    Aku menaikkan alis. “Kenapa kakak tertawa? Apa yang lucu coba?”

    Kau, Nara. Kau lucu sekali.” Ketawa Kak Danar sudah berhenti, berganti menyeka air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

    “Apanya yang lucu?”

    Jawabannya belum memuaskan rasa penasaranku.

    “Sejenak kupikir kau itu orangnya gugup, takut-takut. Rupanya aku salah. Kau bisa membuat lelucon. Lihat saja ekspresimu sekarang. Jangan-jangan kamu ada bakat pelawak, Nara.”

    Baru ada satu orang yang menganggapku receh. Dan orang itu ada di sampingku. Mungkin tampangku yang lempeng begini dikira lucu mungkin.

    Mana ada seperti itu?” jawabku tidak terima dengan godaannya. “Wajah cantik begini dikata pelawak.”

    Lah, kok kamu malah narsis, Nara, rutukku dalam hati.

    Kak Danar terbahak sekali lagi.

    “Tuh kan. Barusan aku bilang bener. Aku saja tertawa mendengar celotehanmu.”

    Kami larut berbincang cukup lama sesekali diiringi gelak tawa Kak Danar. Beruntung suasana tidak lagi kaku seperti awal kami bercakap tadi. Semakin lama berkenalan, perasaan senangku membuncah. Menyenangkan sekali berteman dengan Kak Danar. Saking serunya mengobrol, satu jam lebih berlalu tanpa kami sadari hingga ponselku berdering, memecah percakapan.

    “Halo, Nak. Ayah sudah sampai di depan gerbang sekolah.” Ayah menelponku, mengabari agar aku segera keluar menemuinya.

    “Sudah dijemput ya?” Kak Danar bertanya, melirikku yang sedang menutup telepon.

    Aku menganggukโ€•mengiyakan tebakannya.

    “Kakak masih belum dijemput? Nggak coba dihubungi?” Aku menengok sekeliling. “Sekolah udah sepi banget lho, Kak.”

    Danar melihat jam tangannya sejenak. “Mungkin sebentar lagi aku pulang.” 

    “Kalau begitu aku duluan ya, Kak.” Aku meraih ransel yang tergeletak asal di sampingku. “Makasih udah nemenin ngobrol sampai-sampai nggak sadar udah sejam lebih terlewat.”

    “Syukurlah kalau kau senang. Itu berarti tandanya kita berteman sekarang?” Kak Danar mengedipkan matanya dengan senyum lebar.

    Kalau ada murid yang berkata Kak Danar itu playboy, aku bisa langsung setuju. Lihat saja tingkahnya. Dipikir kedipannya tidak membuat hatiku berdesir?

    “Kalau orang lain tahu bagaimana, Kak?”

    “Memang kenapa kok nggak boleh tahu? Apa aku membuatmu malu?”

    Bagaimana aku menjelaskannya? Aku malu jika murid lain melihat kami dekat. Malah kalau dilihat dari penampilan Kak Danar saja ketahuan dia pasti terkenal di sekolah. Aku hanya ingin menghindari tatapan sangsi dari orang-orang.

    “Astaga, Kak. Tentu saja tidak.” Aku membantah prasangka buruknya.

    “Lalu?”

    Aku menghembuskan napas panjang. “Aku belum terbiasa berteman dengan senior keren seperti Kak Danar. Salah-salah jika kita akrab di depan mereka, yang ada semua tatapan iri mengarah padaku.”

    Tuh kan, dia terpingkal-pingkal lagi.

    “Nara…Nara…” Kak Danar mengacak rambutku gemas. “Jadi bagimu aku bukan lagi senior galak, tetapi senior keren, hmm? Memang sih aku cukup terkenal di kalangan siswi dan guru perempuan.”

    Aku jadi menyesal karena menyebutnya keren. Lihat saja, sifat narsisnya makin menjadi-jadi.

    “Ya sudah. Jika kau keberatan, kita bertemu di sini saja. Sehabis pulang sekolah. Anggap bangku ini menjadi area kita bisa ngobrol nyaman layaknya teman. Bagaimana, Nara?”

    Aku mengernyitkan dahi. “Memang ada teman seperti itu?”

    Danar terkekeh melihat ekspresi kebingunganku. “Tentu saja, Nara. Kita buat sendiri perteman kita seperti ini. Jika kau merasa canggung berteman denganku di dalam sekolah, maka di sini kita bisa mengobrol dengan bebas.”

    Walau terdengar aneh, bagi aku, seorang pemalu dan takut akan perhatian banyak orang, mungkin usulan Kak Danar patut dicoba. Lagipula sejauh ini aku nyaman mengobrol lama dengannya meski ini pertemuan pertama kami.

    “Jadi gimana? Cepatlah setuju agar ayahmu tidak menunggu terlalu lama.” 

    “Aku ikut saja katamu, Kak.”

    Mendengar ucapanku, senyum Kak Danar merekah. “Oke kalau begitu. Sampai jumpa besok, Nara. Tak sabar rasanya menunggu hari esok. Kalau perlu, kuputar matahari agar cepat bergulir dan terangkat kembali.”

    Lagi-lagi, pipiku bersemu merah. Pintar sekali dia bermain kata, bak pujangga yang hidup di jaman Siti Nurbaya. Aku membalas senyumannya seraya melambaikan tangan saat berjalan keluar pagar jeruji yang catnya sudah terkelupas. Mungkin ini salah satu hari terindah yang pernah kualami.

     

    ***

     

    “Maaf ya, Nak. Tadi nunggu lama ya?” Ayah bertanya.

    Mobil kami melaju, membelah kemacetan jalanan di waktu petang.

    “Nggak kok, Yah. Satu setengah jam doang mah nggak kerasa.

    “Tapi, Nak, Ayah seterusnya akan pulang jam segitu. Apalagi Ayah sekarang lagi ada proyek audit ke beberapa pabrik dalam setahun, tentu pekerjaan Ayah banyak dan kadang bisa aja pulang malem.”

    “Nanti yang jemput Nara siapa dong?” tanyaku.

    Ayah diam sebentar, mencari jalan keluar untuk permasalahan ini.

    “Kalau Nara naik motor sendiri gimana, Yah?” usulku pelan. 

    Sudah sejak tiga bulan yang lalu, aku ingin sekali berkendara sendiri. Apa daya, tentunya Ayah dan Ibu menolak kemauanku sebab aku belum mengurus surat izin mengemudi.

    “Tidak boleh, Nak. Kamu belum punya SIM. Lagian jaraknya dari rumah jauh.” tolak Ayah tegas.

    Aku merenggut saat mendengarnya. Kapan aku bisa mendapatkan SIM dan segera naik motor sendiri? Aku bertaruh, kalaupun SIM sudah kuperoleh, Ayah tetap akan melarangku.

    “Gini aja, Nak.” Ayah mencoba memberi solusi. “Kan ada ojek di dekat perumahan kita. Nanti biar Ayah tanya ke ojek langganan ibumu ke pasar. Abangnya mau apa tidak kalau antar jemput kamu sekolah tiap hari. Bagaimana, Nak?”

    Aku tidak menyahut saat Ayah menanyai pendapatku karena masih merajuk tentang larangan Ayah tadi. Mau sampai kapan aku tidak boleh berkendara sendiri? Aku juga iri dengan teman-teman yang berlalu lalang memarkirkan motornya di halaman sekolah. 

    “Nak?” panggil Ayah.

    “Hmm?” 

    Ayah hanya tersenyum saat mendengar jawabanku seperti itu.

    “Rupanya anak Ayah lagi ngambek, huh? Udah besar, ngambeknya belum hilang ya?” goda Ayah sembari melirik ke arahku. Aku melengos, tidak ingin termakan godaan Ayah karena aku paling tidak bisa betah merajuk padanya.

    “Bagaimana, Nak? Mau ya dianter ojek?” tanya Ayah sekali lagi.

    “Nara nunggu Ayah jemput saja. Nanti kalau misal Ayah mau lembur malam, baru naik ojek.” jawabku menyerah.

    Ayah mengelus rambutku dengan tangan kirinya dengan tatapan lurus ke jalan. “Nanti Ayah kasih kontak ojeknya ke kamu. Biar kalau mau pulang, kamu tinggal menghubungi bapak ojek. Tapi Nara nggak apa-apa nunggu Ayah sampai sore? Yakin, Nak?”

    Aku mengangguk, “Iya, Yah.”

    “Nggak bosen nanti kalau kelamaan?”

    “Nggak kok. Justru tadi Nara dapat teman baru.” ujarku antusias.

    “Pasti cowok ya kan?” Ayah tersenyum usil padaku.

    “Apaan sih Ayah. Kok tahu kalau teman Nara cowok?” tanyaku balik. Entah sudah semerah apa pipiku ini. Mungkin Ayah bisa melihatnya dengan jelas.

    Ayah terkekeh, melirik sekilas. “Tadi pas kamu keluar gerbang, selang beberapa menit ada anak cowok yang juga keluar, pake motor. Padahal Ayah tengok sekolahmu sudah sepi.”

    Kak Danar naik motor? Kupikir tadi dia menunggu jemputan? Kenapa dia tidak segera pulang jika memang membawa kendaraan? Berbagai pertanyaan melintas di benakku. Besok sajalah aku tanyakan langsung.

     

    ***

     

    Aku lupa meminta kontak Kak Danar kemarin. Hah, lama sekali rasanya jam sekolah hari ini. Di depan, guru perempuan, masih muda tengah mengajarkan pelajaran Fisika. Tanganku memainkan pensil dengan cepat, kaki terantuk gelisah. Aku benar-benar tidak bisa fokus pada materi. Mau tidak mau, aku harus menunggu empat jam lagi agar bisa bertemu dengannya usai pulang sekolah.

    Hahhh, berkali-kali aku menghembuskan napas. Tampaknya Mita, teman sebangkuku terusik dengan tingkahku yang seperti orang gila.

    “Kau kenapa sih, Nara?” Mita berbisik, lalu menatap ke depan, jaga-jaga bila guru menoleh ke arah kami.

    Lagi mikirin rencana buat bolos jam pelajaran berikutnya.” Aku menjawab asal.

    “Mentang-mentang kemarin ranking satu terus seenaknya bolos, huh?” kata Mita dengan seringai usil di wajahnya. “Ajakin aku juga dong.”

    “Ishh, ogah. Belajar sana, biar nggak remidi ulangan Fisika mulu.”

    Baru saja selesai ngomong, aku ditimpuk penghapus sama si Mita.

    “Dasar nyebelin. Awas aja kalau ngajakin ke kantin, aku juga ogah nemenin.” Mita menjulurkan lidahโ€•ngambek rupanya.

    “Apaan sih, Mit. Gitu aja ngambek. Sakit tahu ditimpuk.”

    “Masih mending ditimpuk penghapus. Belum aja ditimpuk buku pelajaran.” Mita tidak mau mengalah.

    “Mita, Nara, daripada ribut di belakang, mending gantiin saya ngajar aja gimana?”

    Benar saja, gara-gara Mita berisik, sang guru akhirnya menegur kami. Tidak lupa sorot mata tajam menembus jajaran bangku, tepat mengarah pada kami. Spontan seluruh mata siswa mengarah ke bangku kami. Ada yang menatap iba, ada yang cekikikan, dan ada juga yang menatap datar, biasa saja.

    “Maafkan kami, Bu.” Mita meminta maaf dengan takut. Aku juga melakukan hal yang sama. Jangan sampai kami dihukum, terlebih disetrap di luar kelas.

    Pelajaran kembali di lanjutkan. Aku dan Mita kembali menatap buku tebal di hadapan kami.

    “Mit.” Aku berbisik, memanggil Mita.

    Dia tidak menoleh. Kusenggol sikunya.

    “Apa sih, Nara?” jawabnya, ikutan berbisikโ€•takut kena marah guru lagi.

    “Tahu senior kita yang namanya Danar?”

    “Danar siapa? Di sekolah kita nama Danar pasaran.” jawab Mita sekenanya. “Coba kalau namaku nggak mungkin pasaran. Soalnya satu sekolah, yang namanya Mita cantik cuma aku doang.”

    Mendengar kenarsisan Mita, aku tidak bisa berkata-kata. Bisa-bisanya ada orang narsis, pede tingkat dewa jadi murid di kelasku. Bahkan sebangku denganku.

    “Mit, aku serius. Kamu kenal nggak?”

    “Nama lengkapnya siapa?”

    “Ahmad Danar kalau nggak salah.” tuturku sambil mengingat-ingat kembali nametag Danar kemarin.

    “Oh, kak Danar yang itu.” Mita hanya ber-oh saja. “Ngapain nanyain dia?”

    “Udah jawab saja.” paksaku meminta jawaban.

    “Masa kamu nggak tahu sih, Nara? Dia ketua OSIS kita tahun lalu lho.”

    “Oh, rupanya ketua OSIS.”

    “Kamu cuma ‘oh’ aja? Kak Danar juga kemarin ranking satu olimpiade matematika nasional. Udah pinter, ketua OSIS, ganteng, ramah pula. Duh, coba aja aku bisa kenalan sama dia.” ujar Mita panjang lebar.

    Aku hanya mengangguk malas saat mendengar celotehan temannya itu. Ternyata sebegitu terkenalnya kak Danar di sekolah.

    “Ngapain nanyain Kak Danar segala? Kau naksir dia ya?” Mita menyipitkan matanya penuh selidik.

    “Sok tahu kamu, Mit. Kita aja baru berteman kemarin. Ada-ada aja kamu.”

    Seketika aku membelalakkan mata. Aduh, aku keceplosan di depan Mita, si tukang kepo.

    “Kau barusan ngomong apa, Nara? Temenan? Sama Kak Danar?”

    “Sstt… Pelankan suaramu.” Aku memperingatkan Mita, takut jika guru menghampiri kami.

    “Bukan main, keren kali temanku ini. Ceritakan semua padaku bagaimana kau bisa dekat dengan dia.”

    Kumat deh sifat kepo Mita. Mending kuabaikan saja pertanyaannya.

    “Nara…” bisik Mita, gemas tak kunjung mendapat sahutan dariku. Ia menoel lenganku pelanโ€•makin lama malah bikin sakit.

    “Sakit tahu, Mit.” Aku bersungut, menyerah dengan kegigihannya. “Nanti saja saat jam istirahat siang.”

    “Oke, awas aja kalau kau bohong.”

    Akhirnya Mita berhenti menggangguku. Dengan malas, aku kembali menatap buku pelajaran, entah sampai mana guru tadi menjelaskan materi.

     

    ***

     

    “Kenapa wajahmu begitu?” 

    Seperti familiar dengan suara itu, buru-buru aku mendongakkan kepala, mendapati Kak Danar berdiri di sampingku. Tubuhnya menjulang dengan senyum menawan seperti tempo kemarin. Kali ini dia menggunakan kacamata dan cardigan berwarna olive. Tuhan, kenapa dia lebih ganteng dari pertama kali kami bertemuSedangkan aku? Sudahlah, mungkin kalau disamakan dengan dongeng, lebih mirip pangeran salju dan kurcaci.

    “Sekarang kamu malah bengong. Ada apa, hmm?” tanya Kak Danar sekali lagi sembari duduk di sampingku. 

    Kali ini jarakku dengan dia hanya sejengkal saja. Begitu dekatnya, aku sampai takut jika dia bisa mendengar jantungku berdegup tidak keruan.

    “Nggak kok, Kak.” aku menggelengkan kepala dengan kaku.

    “Kau sakit, Nara? Kok pipimu merah padam?” 

    “Ah, nggak.. Eh, iya, Kak. Sedikit nggak enak badan. Nggak nafsu makan juga.” tukasku berbohong.

    “Sebentar..” Kulihat Danar merogoh sesuatu dari tasnya. Ia menyodorkan sekotak susu coklat padaku. “Minumlah, biar perutmu nggak kosong.”

    Lucu sekali. Kak Danar polos banget. Aku meraih kotak susu dari tangannya sambil mesem.

    “Ngapain senyum-senyum? Ada yang lucu?”

    “Oh, nggak. Hehehe.”

    Kamu nunggu jemputan lagi ya?”

    Aku hanya menganggukkan kepala, masih sibuk meminum susu.

    “Kakak sendiri kok belum pulang? Nunggu dijemput juga kayak kemarin?” tanyaku.

    Aku ingin memastikan ucapan Ayah kemarin saat melihat kak Danar mengendarai motor.

    “Aku tidak dijemput, Nara. Aku bawa motor.” jawabnya enteng.

    Ucapannya membuatku tersedak. Lah, beneran Kak Danar bawa motor?

    “Lalu kenapa kemarin nggak pulang duluan?”

    Sebenarnya kemarin aku memang sudah bersiap pulang, lalu aku melihatmu sendirian di sini. Mana kayak bocah hilang gitu wajahnya.” Kak Danar tergelak.

    “Mulai deh usilnya.” Aku memanyunkan bibir, merajuk.

    “Iya deh, iya. Toh kalau aku pulang cepat, yang ada aku nggak bisa kenalan sama kamu dong. Terus aku nggak bisa ketemu kamu seperti sekarang.”

    Tuh kan, Kak Danar senyum-senyum lagi. Entah berapa kali jantungku berpacu cepat gara-gara gombalan mautnya. Dia sadar nggak sih, betapa bahayanya perkataan dia tadi? Kalau cewek lain, mungkin langsung beringas, mengajaknya berpacaran saat itu juga.

    “Kak Danar sering gombalin cewek-cewek di sekolah ya?”

    “Eh, kenapa kamu ngomong begitu?” Dia bertanya heran.

    “Habisnya, kayak tadi yang barusan kakak lakuin apa kalau bukan menggombal?”

    Kak Danar hanya mesem saja. “Kayaknya rayuanku mempan padamu, hmm?”

    Skakmat sudah. Mau kusembunyikan kemana wajahku yang sudah memerah seperti kepiting rebus ini?

    “Kenapa nggak jawab? Berarti mempan ya?”

    Sama sekali nggak. Kakak kira aku seperti cewek-cewek norak itu, yang digombalin dikit langsung meleyot? Hishh.

    Kak Danar sudah tidak kuat lagi membendung tawanya. Apa-apaan dia?

    “Kak, kok ketawa sih?” tanyaku sewot.

    “Habisnya kau lucu, Nara.” Danar menyeka air matanya, efek kebablasan ketawa. 

    Aku memanyunkan bibir, kesal melihat Danar masih terkikik.

    “Bodo amatlah, Kak. Udah pulang sana.” usirku sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.

    “Yah, jangan ngambek dong, Nara. Kita baru ketemu dua kali, kamu udah ngambek aja.”

    Kak Danar mencoba menyenggol pundakku, tapi itu semua tidak mempan. Aku mengalihkan pandangan darinya, berlagak keki.

    “Bentar lagi kan masuk minggu ujian semester. Kau mau pinjam rangkuman materi dan soal tahun lalu punyaku tidak?”

    Sogokan Kak Danar kali ini berhasil membuatku berbalik badan.

    “Serius, Kak?” Mataku berbinar saat mendengar kata ‘rangkuman materi’.

    Kak Danar memutar bola matanya. “Giliran gini aja kamu langsung cepat menyahut.”

    “Beneran dipinjamin ke aku, ya?” Aku mendekatkan posisi dudukku padanya seraya memasang muka memelas.

    Kak Danar mendesah, lalu mengacak rambutku gemas, “Tentu saja boleh. Kau minta aku untuk mengajarimu pun, aku mau.”

     

    ***

     

    Memasuki waktu-waktu ujian tidak menurunkan intensitas pertemuan kami. Bahkan lebh sering, karena aku memintanya untuk mengajariku. Tidak terasa, hampir setahun berlanjut saat kak Danar wisuda hingga hari terakhir dia berada di sekolah, mengurus ijazah.

    Tetap di bangku yang sama, Kak Danar menemaniku menghabiskan waktu menunggu jemputan. Sesekali dia membawa beberapa bungkus jajan dan minuman kaleng untuk teman kami berbincang.

    Anehnya, baik aku maupun Kak Danar tidak saling berjumpa dan bertegur sapa saat jam-jam pelajaran, sekalipun saat jam istirahat. Walau tanpa ada pernyataan verbal, aku dan dia seolah sepakat bahwa pertemanan ini lebih baik saat kami bertemu di samping gerbang saja.

    Tapi tetap saja, seberapa keras usahaku untuk menganggap hubungan ini hanyalah pertemanan biasa, aku tidak menyangkal bahwa aku juga menginginkan sesuatu yang egois. Hubungan lebih dari sekedar teman.

    Tut..tut..tut.. Bunyi ponsel membuyarkan lamunanku yang semakin ngasal. Ada sebuah pesan masuk. Panjang umur sekali dia. Baru saja aku memikirkan Kak Danar, tahu-tahu dia sudah menghubungiku.

     

    Nara, ketemuan yuk di bangku samping pagar sekolah. Sekarang ya.

     

    Tumben, kak Danar mengajakku bertemu di hari Minggu, tanyaku heran dalam hati. Setelah menjawab singkat pesannya, aku meraih jaket denim dan berdandan simpel. Bapak ojek langgananku juga sudah siap menungguku di luar rumah. Rampung bersiap, aku pamit dan bergegas menuju sekolah.

    Mendekati pagar sekolah, kulihat motor gede berwarna merah dengan helm hitam nangkring di atas spion. Kelihatannya Kak Danar sudah datang lebih dulu. Dan benar saja, ketika aku masuk melewati pagar, ia sudah duduk di bangku kami. Seolah menyadari kedatanganku, Kak Danar tersenyum hangat seolah berkata ‘kemarilah’.

    “Lama ya nunggunya? Rumahku lumayan jauh. Lagian kenapa mendadak minta ketemu, huh?” 

    Alih-alih menjawab, Kak Danar menarik lengan jaketku hingga aku terduduk di sampingnya.

    “Duduk dulu, Nara. Perasaan kamu tambah hari tambah cerewet.” tuturnya jahil, tapi tidak dengan sorot matanya. Seperti ada yang mengganjal di pikirannya. Ah, entahlah, aku tidak mau overthinking.

    “Mulai deh jahilnya kak Danar.” gerutuku kesal. 

    Jika bagi kak Danar, aku semakin cerewet, maka bagiku dia semakin sering menjahiliku. Sesekali rayuan juga keluar dari mulutnya.

    “Oh iya, Kak, rencana kapan berangkat ke Jakarta?” tanyaku. “Biar aku bikin kejutan dulu buat kakak.”

    Tiga minggu yang lalu, pengumuman seleksi masuk perguruan tinggi diumumkan serentak se-Indonesia. Malam itu, Kak Danar langsung mengabariku. Ia berhasil masuk ke fakultas kedokteran UI. Mana beasiswa pula, bikin aku semakin geleng-geleng kepala. Salut, bangga, dan termotivasi. Itu semua yang kurasakan ketika mendengar keberhasilannya.

    “Kak..” panggilku. Yang dipanggil hanya menatap kosong, lurus ke depan.

    “Kak.. Woi, Kak.” panggilku sekali lagi. Kali ini dengan suara lebih keras.

    Kesal karena tak kunjung mendengar jawaban, aku mencubit tangannya.

    “Aduh! Sakit, Lana. Ngapain sih cubit-cubit?” Kak Danar mengusap tangannya, tepat di area bekas cubitanku tadi.

    “Orang ditanyain malah bengong mulu. Kakak ngelamunin apa sih?”

    “Kamu tadi nanya apa? Kan bisa panggil dengan lembut, kalau perlu pake nada manis gitu. Panggil kayak tercinta atau kakak sayang. Jangan main asal cubit aja.” gerutunya.

    “Orang tadi udah manggil berkali-kali, situ aja yang keasikan bengong.” balasku sewot.

    “Ishh, kau ini ya. Makin hari makin bar-bar aja sih.” Saking gemasnya, Kak Danar menggelitik pinggangku sampai aku terpingkal-pingkal. “Dulu aja malu-malu kucing. Sekarang udah jadi kucing garong.”

    Kalau urusan gelitik, aku gampang menyerah. “Ampun, Kak. Ampun.”

    Lebih dari 30 detik, ia menggelitik, tapi bagiku itu seperti 30 menit. Kak Danar paling tahu kelemahanku. Ia tahu cara ampuh meredakanku saat merajuk atau bad mood adalah dengan cara ini.

    Puas menjahiliku, Kak Danar mengambil sebotol air mineral dari motornya dan menyerahkannya padaku. Aku menatapnya lamat-lamat. Memang dia tersenyum sekarang, tapi entah seperti dipaksakan. Lama-lama aku juga terusik, gatal ingin bertanya ada apa dengannya.

    “Kau tadi mau nanya apa?” Kali ini Kak Danar yang bertanya.

    “Kakak rencana mau ke Jakarta kapan?”

    “Besok sore, Nara.”

    Saat jawaban singkat itu keluar dari mulutnya, seluruh sisa tawa dan keriangan di antara kami seketika meluap hingga tak berbekas. Membuat suasana menjadi hening dan serius.

    “Besok?” Aku mengulang jawaban Kak Danar. Tidak ada intonasi senang yang keluar dari bibirku.

    “Iya. Besok sore.” 

    Aku masih bingung menyusun kalimat, tidak siap dengan kabar mendadak dari Kak Danar.

    “Nara..” panggil Kak Danar. Ada sedikit sendu saat ia memanggil namaku.

    “Kenapa, Kak? Kenapa mendadak sekali perginya? Kupikir masih seminggu atau dua minggu lagi. Atau kakak memang baru mengabariku sekarang?”

    Aku berusaha tenang, menarik napas sebanyak mungkin. Kalau dipikir-pikir, bukan hakku untuk marah padanya

    Bukan begitu, Nara. Tadinya aku ingin memberitahumu lebih awal, tetapi banyak berkas yang harus kuurus untuk pendaftaran ulang.” Kak Danar terlihat panik saat menjelaskan.

    “Kak Danar bisa memberitahuku lewat pesan atau saat pengumuman tiga minggu yang lalu. Bagaimana..bagaimana bisa…”

    Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku saat dadaku terasa sesak. Tanpa aku sadari, air mataku mengalir, membasahi pipi kanan.

    Bagaimana mungkin dada seseorang tidak merasa sesak jika rasa kesal, kecewa, marah, dan sedih bertumpuk jadi satu di dalamnya?  Karena itu yang kualami saat ini. Aku ingin meluapkan marah padanya, tapi lidahku kelu saat ini. Sadar, Nara. Memangnya hubunganmu dengan dia apa? Toh kami hanya sebatas teman. 

    “Maafkan aku, Nara. Maaf membuatmu terkejut dan kecewa.”

    “Tapi kita bisa terus berkontak, kan? Walaupun kakak berada di luar kota.” Aku berusaha menghibur. Aku saja bingung, siapa yang kuhibur sekarang? Dia atau diriku sendiri?

    Dia tidak membalas perkataanku, hanya menatap kosong ke depan. Seakan mengerti diamnya, aku tentunduk lemas. Jadi seperti ini ujung pertemananku dengannya.

    Bak bianglala, pertemuan kali ini yang semula penuh canda kini malah heningโ€•membuat suasana menjadi tidak nyaman. Di saat-saat seperti ini, keresahanku akan hubungan kami menguar bersama angin yang berhembus.

    “Aku yang harusnya minta maaf, Kak Danar.” ujarku memecah kesunyian.

    Kak Danar terkejut dan menoleh padaku. Tatapannya seakan bertanya mengapa aku yang justru minta maaf.

    Aku balik menatapnya, “Aku harusnya sadar, hubungan kita memang sebatas berteman di sini saja. Dan betapa bodohnya aku karena melewati batas.”

    “Kau ngomong apa sih, Nara?” 

     “Kau tahu, Kak, apa yang kupikirkan saat ini?” tanyaku pada Kak Danar.

    Kulirik dia yang bungkam, masih setia mendengarkan pertanyaanku.

    “Kakak dari awal sudah tahu kalau aku suka sama Kak Danar, kan?”

    Mati-matian aku menelan malu untuk bisa mengucapkan kalimat itu di hadapannya. Dan seperti yang kuduga, Kak Danar kaget mendengarnya. Dia sudah tahu dari dulu, tetapi dia tidak menyangka aku blak-blakan mengatakannya.

    “Aku juga sayang sama kamu, Nara.” jawab Kak Danar lirih.

    Aku hanya tersenyum pilu mendengar pengakuannya. “Tapi kita tahu saat ini hubungan kita tidak bisa lebih dari hanya berteman, bukan?”

    Untuk kesekian kali, Kak Danar hanya membisu. Kepalanya tertunduk lemas.

    “Maafkan aku, Nara. Aku belum bisa memberikan itu kepadamu.” tutur Kak Danar dengan suara bergetar.

    Dari suaranya, terdengar jelas bahwa ia menahan tangis. “Maaf jika aku belum bisa sepenuhnya menjadikanmu prioritas saat ini.”

    Nyutt.. Kenapa dadaku semakin sakit? Terlebih setelah dia meminta maaf yang terakhir.

    Dengan perasaan berantakan, kuseka air mataku dan merogoh ponsel di saku. Aku mengirimkan pesan ke pak ojek yang sedari tadi menungguku di luar gerbang. Aku harus segera pulang. Jika tidak, entah aku bisa mempertahankan kesadaranku atau tidak.

    “Nggak perlu minta maaf, Kak, karena ini bukan salahmu.” Aku menegakkan bahunya, membuatnya duduk lebih tegak sembari menatap matanya.

    “Kejarlah apa yang menjadi prioritasmu sekarang, Kak. Sampai kapanpun aku akan selalu menyemangatimu.”

    Untuk pertama kali, Kak Danar meraih tanganku, membungkus tanganku dalam genggamannya. Aku hanya bisa menatap miris melihatnya.

    “Kau selamanya menjadi orang yang berarti bagiku, Nara. Walaupun pertemuan kita singkat, percayalah, aku tidak pernah menyesal berteman denganmu.”

    Genggamannya mengerat seiring dengan ucapannya barusan.

    “Aku harus pulang, Kak. Aku tidak bisa berlama-lama lagi. Nanti orang tuaku khawatir.” Aku berusaha membuat suaraku tidak terdengar parau.

    Kak Danar mengangguk. Dia merenggangkan tangkupan tangannya agar aku lekas bangkit dari bangku.

    “Aku pulang dulu, Kak. Aku cuma bisa ngucapin semoga kuliah kakak lancar. Pokoknya selamat buat Kak Danar.” Aku tersenyum getir disela ucapan selamatku.

    “Kau pulang naik apa, Nara? Biar aku antar saja.” Dia berdiri, merogoh kunci motor dari saku celana.

    “Tidak, Kak. Tidak usah.” Secepat kilat aku menghentikannya. “Aku naik ojek. Itu di depan udah ditungguin. Aku duluan.”

    Aku berjalan cepat, menjauh tanpa memalingkan badan untuk sekedar melihat Kak Danar yang menatap sendu ke arahku. Aku sendiri berantakan setelah berkata tadi. Kugigit bibirku sepanjang perjalan agar isak tangis tidak keluar.

    Aku dan Kak Danar merasa sama-sama tersakiti di hari terakhir pertemuan kami. Seharusnya aku bisa menduga kejadian ini sejak awal. Tentu saja hubungan kami tidak akan berhasil. Dari asing menjadi teman, dari teman kembali menjadi dua orang asing seperti awal. 

     

    ***

     

    Seminggu tidak ada kabar dari Kak Danar. Aku pun tidak mencoba untuk menghubungi dia. Seperti yang kukatakan sebelumnya, seperti ada sekat pemisah di antara kami, seperti orang asing yang tidak pernah saling kenal.

    Aku berjalan gontai memasuki kelas. Minggu ini, sekolah sudah kembali masuk seperti biasa. Di tempat yang sama, kelas baru, dan aku sekarang murid kelas tiga. Yang mana aku juga akan sibuk belajar dan persiapan masuk universitas.

    Sepanjang hari guru mengajar, aku sama sekali gagal fokus pada materi di papan tulis.

    Bodoh kau, Nara. Kenapa kau masih terus saja terbayang Kak Danar sih? Kau dan dia sudah selesai. Bahkan dulu kalian bukan berstatus pacaran, kenapa galaumu seperti kekasih yang ditinggal pergi? Aku memarahi diriku sendiri dalam hati. Aku harus bisa melepasnya, kalau perlu sudah lupakan saja.

    Ah, hari ini benar-benar hari yang berat. Begitu waktunya pulang, aku langsung ngacir keluar gerbang. Segera mungkin menghindari bangku samping pagar. Tapi sebelum sempat keluar, ada pak satpam sekolah mencegatku.

    “Mbak?” panggil Pak Wirman, nama satpam itu. “Mbak Nara, bukan?”

    Aku kaget, “Iya, Pak. Ada apa ya, Pak?”

    “Ini, ada surat buat Nak Nara.” Pak Wirman menyerahkan sepucuk amplop cream kepadaku. “Mas Danar nitipin ini ke saya.”

    Bagai palu menghujam, tubuhku terasa lemas. Surat dari Kak Danar? Baru saja aku bertekad untuk bisa melupakannya, sekarang dia mengirim sepotong dirinya dalam surat ini. Haruskah aku membacanya?

     

    ***

     

    Dear Nara,

     

    Maaf, jika yang bisa kulakukan hanya bercerita di dalam tulisan jelek ini. Karena jujur saja, bukan dengan sengaja aku bungkam saat kejadian itu. Hanya saja, aku kehilangan menata kata-kata yang tepat sesaat, dan berakhir kau marah padaku.

    Nara, maafkan aku yang bodoh ini. Jika kau berpikir pertemanan ini sia-sia, maka kau salah. Aku sama sekali tidak menganggapnya demikian. Perlu kau tahu, Nara, di saat aku jenuh dengan sekolah dan tuntutan masuk di kedokteran, aku begitu senang bisa melupakan itu semua saat berbincang denganmu. Di bangku itu. Ah, aku merindukan momen itu sekarang. Kini siapa yang akan menemanimu duduk di situ?

    Nara, maafkan aku yang harus menjauh. Mungkin kali ini aku harus jujur. Aku sangat menyukaimu. Kentara sekali, bukan? Tapi itu saja tidak bisa menjadi alasan bila ingin menjadikan hubungan kita lebih dari sekedar teman. Masih banyak kekurangan yang harus kututupi, masih banyak mimpi dan kesiapan yang harus aku capai. 

    Nara, maafkan aku yang belum bisa berjanji padamu. Aku takut berjanji akan kembali padamu. Tidak ada yang tahu masa depan seperti apa. Semoga kita memang ditakdirkan untuk kembali bertemu, Nara. Dan semoga pada saat itu terjadi, aku sudah sangat siap untuk memintamu untuk bersanding di sisiku. 

    Kejarlah mimpimu dulu, Nara. Buat dirimu menjulang tinggi, merengkuh kesuksesan. Kau selalu tahu, kan? Aku selalu mendukungmu. Bahkan jika kau jauh, tenang saja, aku akan mengirimkan semangatku untukmu.

    Aku sering meminta maaf ya, Nara. Hehehe. Karena hanya itu yang bisa kuucapkan. Kita sama-sama berjuang mendaki bukit sekarang, Nara. Kelak aku menunggumu di puncak bukit itu.

     

    Temanmu, Danar.

    ***

     

     

    Contact Us

    error: Eitsss Tidak Boleh!!!