My Geraldi
21.4
0
171

Kasih sayang Geraldi hanya untuk Violet.

No comments found.

     Langit biru menghampar sempurna di kala siang. Indahnya dia tak tertandingkan. Namun, gumpalan awan hitam mulai merampas indahnya sang siang. Langit biru perlahan digantikan awan hitam yang semakin pekat. Sedikit demi sedikit semua tertutup tak tersisa. Jatuh satu tetesan air menapak bumi. Satu demi satu mulai jatuh mengikuti, hingga ribuan lainnya datang menyusul tak kalah deras menghujam bumi. Tapi, siang masih punya matahari, sang pencipta kebahagiaan. Matahari tak mau langit semakin redup, dia datang menghapus gelapnya awan dan meredakan derasnya hujan. Begitupun dengan cinta. Dia indah tak ternoda, tapi ada kalanya akan datang masalah yang diibaratkan awan hitam, kemudian muncul tangisan layaknya hujan, setelah itu akan ada pencipta kebahagiaan layaknya matahari.

    Violet Arunika, gadis cantik yang tak pernah lelah untuk ceria. Semua hal yang mematahkan hidupnya ia hadapi dengan senyum indah di bibirnya. Kisah cinta juga yang semakin menambah warna di hidupnya. Dengan Geraldi Satya Purnama dia menjalin kisah asmara SMA.

    “Ge, kamu ngapain ngajak aku ke sini?” tanya gadis dengan rambut yang ia kuncir kuda. Dia terheran-heran, menggapa pacarnya mengajak dia ke toko boneka yang pasti harganya sangat mahal. Pantang dia untuk membelinya, uang saja hanya cukup untuk makan.

    “Beli boneka buat Naya,” jawab cowok itu, dia memilih boneka di rak. Sedangkan Violet, gadis itu mengikuti kemana saja Geraldi melangkah. Tapi perasaannya begitu tak tenang bisa dibilang cemburu. Geraldi mengajak Violet ke toko boneka, tapi dia malah membelikan boneka untuk perempuan lain, bagaimana Violet tidak cemburu.

    “Yaudah aku bantu cari mau?” tawar Violet.

    “Hmm boleh.” Geraldi masih fokus pada rak boneka.

    Violet berjalan melawan arah dengan Geraldi. Dia memilih boneka yang cocok untuk Naya. Dan akhirnya dia sudah menemukan apa yang dia cari. Boneka beruang berwarna pink pasti akan sangat pas untuk Naya.

    Violet berjalan ke arah Geraldi sambil membawa boneka itu dengan sangat ceria. “Aku udah nemu, gimana?” Gadis itu menyerahkan bonekanya pada Geraldi.

    Garaldi menerimanya dan nampak meneliti boneka pilihan kekasihnya. “Bagus.”

    “Ini aja aku ke kasir dulu,” ucap Geraldi. Cowok itu segera pergi ke kasir, sedangkan Violet dia masih berada di tempat itu. Di depan rak boneka kelinci berwarna putih yang sepertinya sangat ia dambakan. Tapi ya sudahlah uang saja tidak cukup. Tidak mungkin dia merengek pada Geraldi.

    “Tunggu aku yaa kelinci, besok deh kalau aku punya uang aku ke sini lagi jemput kamu. Tapi kalau bukan aku yang jemput kamu berarti kita bukan jodoh.” Cewek itu meletakkan boneka di tempatnya seperti semula. Dia menatap dambaannya sejenak kemudian memutuskan untuk keluar menunggu Geraldi di kursi depan toko.

    Jalan yang sangat ramai sangat Violet nikamti. Gadis itu nampak tenang di wajahnya, namun hatinya sudah bermain kemana-mana. Sebenarnya hubungan Geraldi dan Naya itu lebih dari apa? Mengapa cowok itu perhatian pada Naya?

    Violet menumpukan dagunya pada kedua tangannya yang ia bentuk V.

    “Hay Vio kesayangannya Geraldi,” ucap seorang cowok datang membawa boneka kelinci yang sengaja ia ciumkan di pipi Violet dari samping. Jadi seolah-olah boneka kelinci itu mencium pipi Violet.

    Sontak Violet terkejut mendapatkan sesuatu yang tiba-tiba seperti ini. Dia menatap Geraldi dengan heran, sedangkan cowok itu tersenyum lebar menunduk di samping Violet.

    “Buat Violet.” Geraldi memberikan boneka kelinci yang sangat-sangat gadis itu inginkan. Kemudian Geraldi duduk di depan Violet.

    “Ge, ini apa?” tanya Violet gugup sambil membawa boneka kelinci yang sangat ia inginkan tadi.

    Geraldi berpindah tempat duduk menjadi di samping Violet. Cowok itu menatap ke dua netra gadis di sampingnya ini. Kemudian mengelus pipi Violet dengan pelan. “Buat kamu, suka kan?”

     “Suka banget Ge, tapi ini mahal banget.” Violet menatap boneka itu kemudian mengalihkan tatapannya pada Geraldi. Cowok itu memang kaya raya beda dengan Violet yang hanya hidup apa adanya. Boneka seharga ratusan ribu ini tidak ada artinya di mata Geraldi.

    “Vio, apapun itu dan berapapun harganya kalau itu buat kamu aku nggak akan perhitungan.”

    “Dan satu lagi, aku minta maaf soal Naya. Aku sama dia nggak ada apa-apa Vi. Aku cuma nurutin kemauan orang tua Naya aja buat jagain Naya.”

    “I’m only for you.” Senyuman terpatri disetiap sudut bibir mereka. Saling tatap menyalurkan rasa kasih sayangnya.

    Rasa bahagia Violet semakin melambung tinggi. Dia menerima satu fakta kalau Geraldi tidak ada apa-apa dengan Naya dan pacarannya ternyata peka terhadap apa yang ia inginkan. Walaupun sejak tadi cowok itu sibuk dengan boneka Naya, tapi dia tak pernah lupa untuk memperhatikan prioritasnya yaitu Violet.

****

    “Vi, mau makan apa?” tanya Geraldi. Dia dan Violet sedang menikmati jalanan ramai dengan bunyi-bunyian klakson sebagai backsound mereka.

    “Aku nggak laper Ge,” ucap Vio. Dia menumpukan dagunya di bahu Geraldi tak lupa tangannya juga sudah merangkul mesra pinggang cowoknya dengan boneka kelinci di tengah-tengah mereka.

    “Yaudah nasi goreng.” Vio membulatkan matanya mendengar Geraldi.

    “Aku nggak laper Ge, langsung pulang aja.”

    “Iya, Nasi goreng kan?” Cowok itu tertawa dibalik helmnya. Sebenarnya dia mendengar ucapan Violet untuk pulang saja. Tapi, dia lebih peka. Violet belum makan sejak pagi hingga sore ini. Cewek itu sering menyimpan uangnya untuk ditabung membayar kontrakannya. Untuk makan dia hanya mengandalkan uang seadanya. Dia hanya mengonsumsi mie instan dan juga lauk-pauk murah untuk makan.

    Sejak dia SMA, Violet sudah hidup sendiri. Orang tuanya berpisah tanpa mau mengurus Violet. Hingga akhirnya dia sendiri tidak memiliki siapapun. Untuk menyambung hidupnya dia bekerja di salah satu rumah makan. Gajinya lima ratus ribu per bulan. Empat ratus ribu untuk kontrakan dan seratus ribunya ia cukup-cukupkan untuk makan. Kadang kalau dia libur bekerja, dia menjual koran-koran dan tissue atau makanan ringan apalah itu di pinggir jalan agar dia bisa makan.

    Tapi kali ini dia merasa spesial, karena tepat satu tahun yang lalu Geraldi datang di hidupnya. Cowok itu selalu menjadi tempatnya bercerita dan berkeluh kesah. Tapi, Violet tidak pernah mau menerima bantuan Geraldi untuk membayar kontrakannya. Cewek itu selalu menolak karena alasan itu belum tanggung jawab Geraldi. Namun, Geraldi si cowok peka itu setiap hari selalu mengajak Violet jajan entah itu di kantin atau ditempat manapun agar gadis itu tetap bisa makan dan tidak sakit.

    Motor sport merah berhenti di sebuah rumah makan nasi goreng spesial. Walaupun di pinggir jalan tapi itu terasa nikmat. Warung itu terkenal di wilayah ini dengan sebutan Nasi Goreng Pak Wawan.

    Violet turun diikuti Geraldi. Cowok itu meletakkan boneka beruang milik Naya tadi di motornya. Sedangkan boneka kelinci milik Violet ia bawa dengan mengandeng pujaan hati di sampingnya.

    “Kamu duduk sini, aku pesan dulu. Jangan kabur.” Geraldi terkekeh lalu menoel hidung mancung kepunyaan Violet. Cowok itu langsung beranjak menghampiri si tukang nasi goreng untuk memesan.

    Senyum Violet tidak luntur memperhatikan pacarnya sedang berinteraksi dengan penjual yang posisinya lumayan jauh dari dia. Tempat ini sangat ramai pengunjung, sehingga mereka mendapatkan tempat duduk di bagain agak belakang.

    Violet tersenyum menatap Geraldi yang tengah berjalan menghampiri dia. Kemudian cowok itu duduk di sampingnya. Wagi Geraldi menyebar di indra penciuman Violet. Dia kagum, walaupun beraktivitas sejak pagi, wangi Geraldi tidak pernah pudar.

    “Kamu wangi Ge,” puji Violet. Tatapannya memuja dan penuh arti.

    Cowok itu lantas mencium bau kedua ketiaknya. “Bau kaya terasi,” jawab Geraldi.

    “Enggak beneran deh.”

    “Kamu tu sama kaya bunga Violet. Sama-sama wangi.”

    Geraldi tersenyum menatap Violet. Begitu juga Violet. Melihat tangan Geraldi yang tergeletak di atas meja. Tangan Violet terulur untuk memegang tangan kekar itu.

    “Makasih ya Ge,” ucap cewek itu lembut.

    “Buat?”

    “Semuanya. Kamu itu selalu ada buat aku dan jadi satu-satunya orang yang perhatian juga sayang sama aku.”

    “Itu udah tugas aku Vi.”

    Namum interaksi keduanya terpecah karena suara ponsel dari Geraldi. Cowok itu mengambilnya dari saku jaket. Ada rasa ragu untuk menerima panggilan itu. Selain karena ada Violet, dia juga tidak mau kalau harus di perintah ini itu oleh Naya.

    Violet melirik layar ponsel di tangan Geraldi. Kemudian cewek itu tersenyum. “Angkat aja Ge, nggak papa.”

    “Boleh?”

    “Boleh.” Violet mengangguk.

    “Iya hallo?”

*****

    Violet menatap uang seratus ribu dan juga dua bungkus nasi goreng di meja depannya. Nasi goreng yang mereka pesan tadi, tidak disentuh sama sekali oleh Geraldi karena buru-buru untuk menghampiri Naya. Gadis itu merengek karena sendirian di rumah. Lantas bagaimana dengan Violet yang hampir tiga tahun ini dia selalu sendiri di rumah. Naya memang berlebihan.

    Violet menyimpan uang seratus ribu yang diberikan Geraldi untuk ongkos dia pulang di dompet. Besok ketika sekolah dia akan mengembalikannya. Violet butuh Geraldi bukan uangnya.

    Violet memutuskan untuk pulang, walaupun berjalan kaki itu bukan masalah. Kebetulan memang jarak rumahnya dekat dengan warung nasi goreng tadi.

    Boneka kelinci pemberian Geraldi ia pegang erat-erat. Sambil satu tangannya membawa satu buah kresek berisi nasi goreng. Cewek itu berjalan di atas trotoar.

    “Maaf Ge, aku cuma ngrepotin kamu terus. Kamu emang lebih cocok sama Naya, dari pada sama aku.” Pegangan di boneka kelinci itu semakin erat. Saat dia sedang sendirian, overthingking miliknya pasti akan kambuh. Cemburu dan sadar diri, menyatu menjadi satu buah perasaan hampa yang mengendap di hatinya.

*****

    Hari ini Geraldi akan menjemput Violet, namun jam sudah menunjukkan pukul tujuh tapi cowok itu tak kunjung datang. Violet sudah menghubungi pacarnya beberapakali tapi tidak ada balasan. Lima belas menit lagi bel masuk akan berbunyi tapi Violet masih menunggu cowok itu hadir, namun nyatanya tidak ada sama sekali.

    Sebenarnya cowok itu kemana. Kalaupun dia tidak bisa menjemput setidaknya dia harus mengabari suapaya Violet tidak menunggu seperti ini.

    Jalan satu-satunya adalah Violet berangkat sendiri, menggunakan sisa-sisa uangnya. Ada sekitar dua puluh ribu uang di dompetnya. Cukup untuk ongkos dia. Itu juga masih ada kembalian, jadi cewek itu tidak usah khawatir tentang makanan. Dia masih bisa membeli satu mangkuk mie.

    Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit. Itu artinya Violet terlambat. Dia harus melakukan negosiasi dengan satpam sekolah kalau begitu.

    “Pak, bisa tolong buka gerbangnya Pak. Tadi nggak ada angkutan umum Pak,” ucap Violet sambil memegang bilah-bilah gerbang itu.

    “Yaudah masuk sana, tapi keliling lampangan dulu 5 putaran. Sanggup kan?” Pak Satpam ini diberi perintah oleh guru piket agar memberikan hukuman kepada siapa saja yang terlambat dengan berlari mengelilingi lapangan.

    “Sanggup Pak.” Violet mengangguk mengiyakan, dari pada ia tidak boleh masuk.

    Di sisi lain Geraldi sedang menikmati jam kosong bersama teman-temannya di kelas. Pagi ini dia lupa untuk mengabari Violet karena saking asiknya bercerita dengan mereka. Termasuk Naya juga ada di dalam kelas itu.

    “Ral, Violet dihukum tuh,” ucap Bima. Saat Violet dihukum, cowok itu tidak sengaja melihat karena dia dari kantin.

    “Kenapa?” tanya Geraldi. Dia masih duduk di kursinya.

    “Telat kayaknya,” jawab Bima.

    Geraldi menepuk jidatnya, dia benar-benar merasa bodoh. Kenapa bisa dia lupa dengan pacarnya sendiri. Apa yang dia pikirkan sebenarnya sejak tadi? Ada yang lebih pentingkah dari Violet?

    Cowok itu langsung berlari keluar kelas tak luput dari pandangan Naya yang sepertinya cemburu.

    “Bangsat bener kenapa bisa gini sih!!” Geraldi mengumpati dirinya sendiri.

    “Vi,” ucap cowok itu ketika melihat Violet yang tengah kelelahan. Larian Violet sudah tiga putaran itu artinya kurang dua lagi.

    Geraldi mencegah Violet agar tidak melanjutkan lagi, karena takut pacar kesayangannya lelah.

    Dia menarik tangan Violet agar berhadapan dengannya. “Udah nggak usah di lanjutin, maaf yaa tadi aku lupa ngabarin kamu kalau nggak bisa jemput.Tadi aku njemput Naya.” Geraldi mengusap dahi Violet yang basah karena keringat. Hawa yang lumayan panas dan juga dia sudah berlari tiga putaran di lapangan yang luas ini.

    “Nggak papa Ge, Naya lebih penting.  Tapi besok kabarin yaa kalau nggak bisa jemput.” Bukannya marah, Violet malah tersenyum mengerti bagaimana keadaan pacarnya ini. Pasti cowok itu tertekan dan juga terpaksa.

    “Nggak Vi kamu lebih penting dari apa pun.”

    “Nggak usah di lanjut, langsung ke kantin aja beli minum, kebetulan jamkos.” Cowok mengandeng tangan Violet sambil mengajaknya berjalan menuju kantin.

    “Emang nggak papa?” tanya Violet. Rajin dan juga bertanggung jawab melekat sempurna di jiwa Violet, jadi mana mungkin dia tidak menuntaskan hukuman. Baru kali ini dia berbuat tidak bertanggung jawab.

    “Gini nih murid nggak pernah bandel,” ucap Geraldi. Cowok itu merangkul pundak Violet mesra. “Tapi cewek gue nggak boleh bandel. Okee.”

    “Okee.” Violet tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.

*****

    Kantin tidak dipenuhi oleh banyak murid pada jam ini, mereka pasti sedang sibuk belajar di kelas. Untuk jam kosong hanya kelas-kelas tertentu saja tidak semuanya.

    Geraldi dan Violet mengambil tempat duduk di pinggir kantin. Di meja sudah ada satu piring bubur ayam dan juga teh panas.

    “Aaaaa, pesawatnya mau pergi ke goaa.” Aktivitas Geraldi kali ini menyuapi Violet. Walaupun menolak, Geraldi tidak mungkin menyerah begitu saja sampai Violet mau ia suapi dan menerima suapan dari cowok di sampingnya itu dengan gembira.

    Geraldi menghapus makanan yang masih tertinggal di bibir Violet. Setelah itu dia menatap pacarnya dengan lekat. “Makan yang banyak, jangan sakit yaa.”

    “Makanya suapin terus biar makannya banyak.” Cewek itu berucap sambil tertawa. Mendengar celotehan Violet, senyum di bibir Geraldi terpapar jelas. Tangannya mengelus pucuk kepala Violet.

    “Pasti, aku sayang kamu Vi,” ucap Geraldi sangat tulus. Di lubuk hatinya yang paling dalam, ketika ia meninggalkan Violet demi Naya dia sangat menyesal, banyak hal yang sering Geraldi lakukan dengan Naya yang membuat Violet cemburu. Dia tau betul Violet cemburu walaupun pacarnya sama sekali tidak menunjukkan perasaan kekecewaannya di depan Geraldi langsung.

    Dan yang semakin membuat Geraldi merasa bersalah adalah Violet sering sekali mengatakan bahwa Naya itu lebih penting daripada Violet sendiri.

    “Geraldi apaan sih malah berduaan sama dia!!” Sentak Naya yang entah dari mana dia tau kalau Geraldi berada di sini.

    “Emang kenapa? Dia pacar gue Nay!”

    “Tapi aku lebih penting dari dia, kamu inget kan apa pesan ayah aku?”

    “Jangan paksa gue dengan itu Nay!”

    “Terserah deh Ral, aku cuma nggak mau kamu deket-deket sama cewek miskin kaya dia!”

    “Kalau aku miskin kenapa? Kamu nggak ngasih makan aku kan? Jadi nggak usah ngehina orang lain, kalau kamu aja nggak sama sekali berkontribusi dalam hidupnya!” Geraldi semakin bangga ternyata ceweknya ini semakin berani.

    “Awas aja lo Vi, gue bakal rebut Geraldi.” Cicit Naya sambil berjalan menjauhi pasangan itu.

*****

    Pulang sekolah ini, Violet tidak langsung pulang. Dia jalan-jalan ditemani Geraldi mumpung besok hari libur. Keduanya memilih danau sebagai tempat kencan.

    Banyak sekali bunga-bunga yang tumbuh dipinggiran danau itu sehingga menambah kesan indah.

    Violet asik dengan kegiatannya bermain air danau. Sedangkan Geraldi, memilih duduk untuk menikmati spot dan juga objek yang sangat menarik baginya sejak dua tahun yang lalu, siapa lagi kalau bukan Violet.

    “Sini Ge, main!” ajak Violet melambaikan tangan.

    Geraldi menggelengkan kepalanya. “Kamu aja, aku tunggu di sini.”

    Tapi rintikan air hujan membuat konsentrasi Geraldi terpecah. Dia berjalan menghampiri Violet yang sedang sibuk dengan air sampai tidak sadar kalau hujan deras akan datang.

    “Ayo cari tempat teduh mau hujan!” Geraldi memasangkan jaketnya di atas kepala Violet agar cewek itu tidak terkena air hujan.

    “Nggak mau, mau hujan-hujanan aja. Boleh kan?”

    “Sakit nanti kamu. Ayo neduh!”

    “Nggak mau Ge, kalau kamu mau neduh, neduh aja sana!”

    “Hujannya deres Violet, jangan bandel!”

    “Biarin!” Cewek itu berlari menjauh dari Geraldi sambil merentangkan tangannya menikmati air hujan. Jaket Geradli jatuh entah di mana. Sragam putih abu-abu yang ia kenakan sudah habis basah termasuk punya Geraldi.

    Cowok bernama Geraldi itu mengejar Violet yang semakin jauh darinya. Tidak ada salahnya main hujan-hujanan sebentar pikirnya. Ternyata tidak buruk.

    Melihat Geraldi mengejarnya Violet semakin berlari menjauh, tapi langkah kecilnya tidak sebanding dengan langkah Geraldi. Cowok itu menarik pinggang Violet hingga berhadapan dengannya.

    Di bawah guyuran hujan ini, Geraldi menatap lekat kedua bola mata hitam milik gadis itu. Tangannya merengkuh pinggang kecil dengan posesive. “Kamu bandel ya Vi, kalau sakit gimana?”

    “Kan ada kamu yang jaga aku,”

     Cowok itu menunduk menyatukan keningnya dan kening Violet.

    “Aku sayang kamu.” Satu tangannya setia berada di pinggang Violet dan untuk satu tangannya lagi berada di pipi sebelah kanan Violet.

    “Aku juga.”

****

    “Dingin Bun,” ucap seseorang sambil mengeratkan selimutnya. Nampaknya dia sedang sekit. Sejak tadi merengek entah yang kepalanya pusing, badannya pegal-pegal dan hidungnya meler ingus.

     “Makanya ke rumah sakit ya.” Bundanya membujuk namun terus menerus mendapatkan gelengan dari orang sekarat itu.

    “Sebentar yaa, Bunda ambil kompresan dulu.” Wanita berumur 40 tahunan itu beranjak. Beliau turun dari kamar anaknya menuju dapur menggunakan tangga.

    Bunda Rara di kejutkan oleh kehadiran satu gadis lagi setelah tadi datang juga satu gadis utnuk menjenguk Geraldi. Cowok sekarat itu Geraldi. Karena hujan-hujanan kemarin dia sakit.

    “Violet yaa?” tanya Bunda Rara. Gadis yang datang baru saja ini adalah Violet sedangkan yang datang tadi adalah Naya. Cewek itu tidak pulang melainkan hanya duduk di ruang tamu sambil memakan camilan seperti di rumah sendiri. Dia diusir oleh Geraldi dari kamar cowok itu. Bahkan tadi yang membukakan pintu untuk Violet juga Naya.

    “Iya bunda, tuh yang bikin Gerald sakit,” sinis Naya. Merasa disudutkan, Violet diam sejenak di posisi berdirinya. Ini memang salah dirinya mengajak Geraldi hujan-hujanan.

    “Maafin Vio ya Tante, Geraldi jadi sakit gara-gara Vio ajak hujan-hujanan,” ujar Violet. Melihat Violet seperti itu, Naya memutar bola matanya jengah sambil tetap mengunyah makanannya.

    “Nggak papa, Vi. Jangan merasa bersalah, bunda selalu bilang sama Geraldi untuk membahagiakan kamu sebagai pacar anak Bunda.” Rara berjalan menghampiri Violet kemudian memegang pundak gadis itu.

    “Makasih Tante.”

    “Iya sama-sama, kalau mau jenguk Geraldi sekalian ya bunda minta tolong kompres dia.”

     “Iya Tante.”

    Setelah mengambil alat kompresan dari bunda Rara. Violet segera masuk ke kamar Geraldi atas izin Bunda Rara. Dia berusaha pelan-pelan dalam membuka pintu agar tidak menunggu istirahat pacarnya.

    Namun cowok itu ternyata tidak tidur. Sesekali dia membuka matanya sambil mengeratkan pelukannya pada diri sendiri karena kedinginan.

    “Geraldi.” Violet duduk di tepi ranjang milik Geraldi. Dia mengecek dahi, pipi, dan juga leher cowok itu, dan ternyata panas.

     “Aku sakit Yang,” rengeknya. Cowok itu meringkuk miring menghadap Violet.

     “Maaf ya, gara-gara Vio kamu jadi sakit,” ucap Violet sambil mengelus-elus lembut rambut berantakan cowoknya.

    “Bukan karena kamu,” celetuknya dengan sedikit gemetar.

    “Aku kompres dulu, biar panas kamu turun.” Dengan segera, Violet memeras kain kompresan di baskom kemudian menempelkan di dahi Geraldi.

    “Aku pengen dipeluk kamu Vi,”

    Tak menunggu persetujuan dari Violet, Geraldi menarik cewek itu untuk ia peluk. Sontak tubuh gadis itu berada di atas  dada bidang Geraldi. Pelukan kekasihnya sangat erat, tubuh Geraldi yang panas bisa ia rasakan. Perasaan Violet tidak nyaman, jantungnya berdegup kencang.

    “Wangi,” celetuk Geraldi. Harum wangi rambut Violet memang tidak terkalahkan.

    “Kamu bau nggak mandi,” ucap Violet diakhiri dengan kekehan di mulutnya.

    “Biarinn!!”

    Tanpa mereka sadari, ada seorang gadis yang tengah cemburu menyaksikan mereka berdua.

    Gadis itu semakin kesal, bahkan saat ia pulang pun tidak berpamitan dengan penghuni rumah. Inilah yang membuat orangtua Geraldi kurang menyukai Naya, selain manja, anak ini juga kurang sopan santun.

    Setelah dia sampai di rumah, cewek itu senang karena ada ayahnya sehingga dia bisa bercerita bebas dan mengadu pada beliau.

    “Mah, Pah aku nggak mau tau ya, Geraldi harus pacaran sama Naya!” Sejak kejadian di rumah Geraldi tadi, Naya sudah sangat kesal. Apalagi melihat Geraldi yang sangat lengket dengan Violet. Naya semakin terbakar cemburu, menggapa tidak dia yang bersama Geraldi?

    “Naya sayang, perasaan itu nggak bisa dipaksakan. Coba kalau kamu dipaksa pacaran sama orang yang enggak kamu cinta, apa kamu mau?” Naya semakin kesal mendengar ucapan mamanya. Dia sebal kenapa tidak ada yang membelanya.

    Naya berdiri dari sofa tempat ia duduk bersama kedua orangtuanya. Papanya sejak tadi sibuk dengan laptopnya sedangkan mamanya malah tidak membela dirinya.

    “Nggak mau tau Mah!” Pekik gadis itu. Dia langsung berlari menuju kamarnya. Kedua orangtua itu menghela nafasnya kasar. Salah sejak awal mereka memanjakan anak semata wayangnya ini.

    “Pah, gimana ini?” Orangtua Naya kalang kabut melihat anaknya marah, apalagi Sang Mama.

    “Udah tenang aja, Papa ada rencana.”

    Rencana itu sudah memutar sejak tadi di otak pria berkumis itu.

*****

    Dua hari berlalu, tak ada Geraldi yang menjemput Violet, tak ada Geraldi yang menyuapi Violet makan di kantin. Semuanya cewek itu lakukan sendirian tanpa teman, sahabat, dan keluarga di sampingnya. Menjadi cewek pendiam memang membuat dirinya dijauhi oleh teman-temannya. Walaupun dia sudah berperilaku baik pada mereka, tanggapan yang Violet dapatkan hanyalah penolakan dari semuanya. Tapi, entah mengapa cowok bernama Geraldi itu mau bersamanya, padahal kalau dibandingkan dengan cewek-cewek di sekolah ini, Violet masih di bawah dari kebanyakan gadis-gadis cantik di sini.

    Violet menunggu kekasihnya di depan gerbang, siapa tau cowok itu sudah sembuh. Sejak dia pulang dari rumah Geraldi waktu itu, Violet sama sekali tidak mendapat kabar apapun dari Geraldi. Chat dan juga panggilannya tidak pernah ada balasan. Itulah yang membuat cewek itu khawatir.

    Netranya menatap jalan yang di sana ada satu mobil hitam melaju. Violet tau betul dan hafal itu milik siapa. Mobil itu adalah kendaraan yang sering digunakan Geraldi untuk mengajak jalan-jalan Violet selain motor sport merah itu.

    Senyumnya mengembang, setelah mobil itu masuk di pekarangan sekolah, Violet langsung berlari ke arah parkiran untuk menjemput. Namun, Geraldi turun lalu berjalan membukakan pintu untuk Naya. Tak menolak seperti biasa, Geraldi malah santai tangannya digandeng oleh Naya padahal cowok itu tau kalau ada Violet di sini.

    “Gee?” Violet berjalan menghampiri.    Kalau biasanya Geraldi akan langsung memeluk atau mengandeng Violet, cowok itu kali ini lebih diam dan seperti tidak peduli pada Violet.

    “Kenapa? Gue sama Geraldi pacaran. Jadi lo nggak usah ganggu,” ujar Naya.

    Tatapan Violet terkejut, dia melihat Geraldi tetap diam tanpa pembelaan.

    “Bener Ge?”

    “Iya, udah ayo Nay!” Ketus Geraldi.

    “Nggak mungkin kan Ge? Kita belum putus. Kamu bohong kan?”

    “Untuk apa gue bohong. Mulai hari ini lo jauhin gue, jangan pernah deket-deket gue, dan satu lagi, gue nggak akan ngeluarin uang sepeserpun buat lo. Jadi jangan harap gue kasih makan lo kaya biasa.”

   Violet tidak bisa berkata apa-apa, tangannya mengepal kuat. Dia menunduk merasakan perasaan yang tidak seperti biasa. Air matanya semakin deras mengalir membasahi pipi putih chubby itu. Ucapan Geraldi tadi membuat dia tidak percaya diri. Apa selama ini dia merepotkan Geraldi.

    Waktu hari ini Violet lewati dengan lesu, jam juga sepertinya berputar sangat lambat. Di kelas dia hanya memainkan pensil dan juga buku. Violet membuat coretan-coretan tidak jelas sebagai luapan rasa di hatinya.

    Hingga bel istirahat berbunyi, cewek itu tidak pergi ke kantin seperti yang lainnya. Dia duduk di kelas, uangnya tidak akan cukup untuk makan di kantin. Uang itu ia simpan untuk nanti menaikki kendaraan umum walaupun perutnya sudah berbunyi tidak karuan, ia tahan itu.

    “Vio, nih makanan buat lo. Tadi guru-guru bagiin gratis. Kebetulan gue inget lo, jadi yaudah Gue ambilin.” Teman sekelas Violet bernama Rita memberikan satu bungkus nasi kepada Violet. Awalnya, cewek kelaparan itu tidak percaya, namun dia juga melihat Rita membawa nasi bungkus membuat cewek itu percaya.

    “Makasih Ri.”

    “Iya, gue boleh gabung kan? Makan bareng lo?”

    “Jangan Ri, nanti kamu dijauhin temen-temen lagi.” Dulu Rita memang pernah mencoba untuk mendekati atau bersahabat dengan Violet namun berkahir di musuhi oleh teman-temannya.

    “Dahlah biarin gue nggak perduli, gue duduk samping lo ya?” Rita langsung menjatuhkan bokongnya di kursi samping Violet kemudian membuka bungkusan nasi itu. Semuanya mendapatkan nasi bungkus tapi bukan dari guru, tetapi dari seseorang.

    “Iya Ri, makasih ya udah mau duduk bareng gue.” Violet tersenyum bahagia. Walaupun tidak sebahagia ketika ada Geraldi di sampingnya.

    “Sama-sama.” Rita tersenyum. Dari sekian banyak murid di sini, memang hanya Rita yang peduli demgan Violet, tapi memang Rita lebih sering menghabiskan waktunya bersama teman-temannya.

    Selain Violet yang bahagia, di balik pintu kelas itu adalah seseorang yang tengah tersenyum juga melihat Violet memiliki teman dan juga cewek itu tidak kelaparan lagi.

*****

    “Geraldi!! Aku mau ngobrol!” Teriak Violet melihat Geraldi yang sedang berdiri di lapangan basket sambil memantulkan bola oren itu. Seketika Geraldi menatap Violet, tidak antusias. Cowok itu biasa saja.

    “Aku mau ngomong.” Violet berdiri di depan Geraldi menghalangi cowok itu untuk melemparkan bola ke ring.

    “Apa? Gue nggak ada banyak waktu!”

    “Kenapa kamu berubah? Mana Geraldi yang dulu? Yang selalu ada buat Vio.”

    Geraldi mengacak-acak rambutnya gusar. “Gue capek lo porotin!”

    “Ge, apa aku kaya gitu?”

    “Lo nggak sadar? Secara nggak langsung lo itu porotin Gue!”

    “Aku minta maaf Ge, aku nggak akan kaya gitu, tapi aku mohon jadi Geraldi yang dulu ya!” Seharusnya Violet tidak perlu minta maaf. Sejak mereka berpacaran, Violet tidak pernah meminta apa-apa pada Geraldi. Cowok itu yang mau membelikan Violet ini itu.

    “Gue udah punya pacar!” Ketus Geraldi.

    “Kenapa nggak putusan aku?” Sebenarnya Violet tidak mau berkata seperti ini, tapi demi kejelasan hubungannya dia memberanikan diri.

     “Lo mau kita putus?”

     “Jangan Ge, kamu terlalu berharga buat aku.”

     “Tapi lo udah ngga ada harganya di mata gue!! Pergi lo!”

    “Gue nggak butuh lo lagi! Sekarang lo pergi jauhin gue, jangan deket gue atau nyamperin gue! Gue benci lo!”

    “Satu lagi, mulai hari ini Gue mau kita putus. Lo cari cowok lain sana yang bisa nafkahin lo, kalau bisa langsung ajak nikah aja! Kalau ada yang mau sama cewek matre kaya lo!”

    Ada sedikit rasa nyeri di hati Violet mendengar ucapan itu, cewek itu merasa direndahkan oleh pacarnya sendiri.

    “Maaf Ge, aku sadar selama ini aku cuma jadi beban buat kamu. Maafin nyusahin kamu terus, sebelum aku pergi dari kamu. Aku cuma mau bilang, kalau aku bener-bener jatuh cinta dan sayang sama Geraldi tanpa melihat apa yang dia punya. I love you.”

    Violet pergi dari hadapan Geraldi diikuti oleh satu suara petir di langit. Sebentar lagi pasti akan hujan. Kenapa suasana ini sangat mirip dengan Violet. Hujan akan datang sama dengan mata Violet yang tengah basah dan selalu menetes air mata layaknya hujan.

    Geraldi tak mampu mengejar, mungkin ini sudah keputusannya untuk mengakhiri hubungannya dengan Violet. Selama ini mungkin dia tertekan karena terus saja mengurus cewek itu.

*****

    “Jalan tu pakek mata!” Cetus seorang cowok dengan jaket hitam dan juga topi yang menutupi rambutnya. Suasana rumah makan yang lumayan ramai membuat seorang pelayan tidak sengaja menabraknya.

    “Geraldi?” Ucap pelayan itu kaget. Mengapa cowok kaya itu mau di tempat rumah makan seperti ini. Biasanya orang kaya akan mencari tempat yang aestetik dan juga mahal untuk menghabiskan waktunya.

    “Ada apa Vi?” Sebelum Geraldi berucap, datang seorang pelayan lagi. Dia panik menghampiri Violet, temannya.

    “Siapa lo?” tanya Geraldi melihat cowok mendekati Violet. Entah dia cemburu atau bagaimana melihat ada orang lain yang perhatian dengan Violet. Yang penting Violet tidak selingkuh. Hubungan mereka sudah berakhir.

    “Temennya Violet, emang kenapa?” Cowok itu menjawab masih santai. Diketahui dia bernama Arthur.

    “Jangan deket sama dia deh, matre. Habis ntar duit lo!” Geraldi terkekeh. Namun pukulan di pipinya membuat dia terhuyung ke belakang. Untung saja tidak jatuh. Teman cowok Violet tadi tidak terima Violet dikata-katai oleh Geraldi.

    “Maksud lo apa ngatain Vio gitu, gue udah kenal lama sama Vio. Dia nggak pernah yang namanya minta-minta ke gue asal lo tau!” Arthur dan Violet memang sudah saling mengenal semenjak mereka berdua bekerja di tempat ini.

    “Mungkin dia belum ngeluarin aslinya ke elo?” Bukannya melawan, cowok itu masih santai menjawab sambil melirik sengit seorang Violet.

    Teman Violet tadi hampir menjotos Geraldi, tapi terhenti karena teriakan Violet.

    “CUKUP!! Udah!! Iya emang aku matre, aku cewek miskin yang cuma ngincar harta cowok yang dekat sama aku. Aku cuma manfaatin orang lain, aku matre, aku menjijikkan, aku miskin!!”

    “Puas Ge?” Setelah mengatakan itu, Violet pergi meninggalkan mereka berdua. Biarkan dia hari ini pergi, padahal kerjaannya masih banyak. Yang Violet mau sekarang hanya ketenangan jiwanya.

   Violet berlari di gelapnya malam. Tujuannya adalah pulang. Di kontrakan sempit itu, Violet bebas untuk menangis, mendekap gulingnya menyalurkan segala kesedihan di hatinya.

    Di tengah-tengah perjalanannya, tangannya seperti ada yang menarik dari belakang. Sontak dia berbalik, sebelum ia protes, cowok bertopi itu langsung memeluk erat tubuh mungil nan ringkih itu.

    Entahlah, perasaannya tiba-tiba kacau. Di sisi lain dia ingin mengejar Violet karena takut terjadi apa-apa pada gadis itu. Tapi, ada suatu hal juga yang membuat dia berpikir dua kali untuk mengejar Violet. Setelah mendapatkan dorongan dan dukungan dari Arthur tadi, akhirnya dia memilih mengejar Violet. Dia tidak peduli dengan Naya lagi, terserah dia ingin berbuat apa padanya yang terpenting sssekara adalah Violet baik-baik saja.

    “Gue jahat Vio, maafin gue,” ucapnya. Namun Violet malah berdecih.

    “Lepasin!! Aku mau sendiri!”

    “Lo boleh kecewa tapi jangan pergi dari gue!” Pinta cowok itu.

    “Lepasin, aku mau pulang. Aku cuma cewek matre dan miskin. Nggak pantes buat kamu.” Cowok itu labil, kemarin dia mengatai ini itu pada Violet tapi kenapa sekarang dia malah merasa bersalah.

     “Lupain itu Gue mohon!”

     “Aku kecewa kamu tega ngomong sama aku kaya gitu. Aku tau aku miskin Ge. Aku kadang bingung gimana aku bisa nempatin posisi yang beberapa hari lalu posisi itu berakhir. Aku emang nggak pantes buat kamu. Masih banyak gadis cantik yang bisa kamu dapetin. Dari pada sama aku, kamu nggak akan beruntung. Kamu malah rugi pacaran sama aku. Keputusan kamu mengakhiri hubungan ini bener Ge.”

    “Nggak mau Vi, jangan! Gue ada alasan kaya gitu kemarin, dengerin gue dulu ya!”

   “Aku mau pulang!”

   Cewek itu melepaskan pelukannya kasar. Tak mau berlama-lama dengan Geraldi, dia langsung berlari untuk kembali pulang dan mengistirahatkan pikiran dan juga hatinya.

*****

    Keesokan harinya matahari bersinar begitu terang. Dia seperti tak mau kalau tanah pada hari ini basah oleh guyuran hujan. Sejak kemarin langit sedang sedih, maka matahari akan menghibur langit agar tidak membasahi bumi untuk hari ini.

    Perasaan Violet saat ini lebih tenang walaupun semalam dia menangis karena Geraldi.

    Di kelasnya nampak ramai tidak seperti biasanya. Bahkan ada kelas lain yang datang ke sana. Violet melihat itu hanya menghela nafasnya berat. Jangan sampai ada masalah yang menyangkut dirinya kali ini. Pikirannya sedang pusing dan tidak mau diganggu atau dicampur adukan dengan masalah lain.

    Saat dia masuk, tatapan langsung mengarah ke cewek itu. Violet berusaha bodo amat sampai dia di tempat duduknya. Ada banyak bunga mawar merah di mejanya. Dia sudah bisa menebak siapa pelakunya. Geraldi, siapa lagi memang. Cowok mana yang mau mengeluarkan uang demi Violet selain Geraldi.

    Setelah itu orang-orang di sana langsung mengeluarkan tulisan besar. Tertulis permintaan maaf dan juga ajakan untuk balikan.

    Kemudian datang, cowok tinggi berseragam putih abu-abu sangat rapi sambil membawa buket bunga dan satu kotak kado.

    Dia berjalan mendekat, semakin mendekat kepada Violet. Di sana, cewek itu terpaku. Kakinya kaku tidak mau diajak pergi, matanya menatap wajah Geraldi berjalan mendekatinya.

    Sepatu hitam itu berhenti melangkah di depan sepatu hitam namun lebih mungil. “Maaf untuk kemarin-kemarin Violet. Kata-kata aku buat kamu sakit hati. Perlakuan aku buat kamu kecewa, tapi itu semua aku lakuin demi kamu Vi. Orang tua Naya ngancem bakal sakitin kamu kalau aku nggak mau sama Naya. Untuk itu aku kemarin kaya gitu sama kamu. Maafin aku ya!”

    “Dan kemarin yang nyuruh gue nganterin makanan ke elo itu Geraldi Vi. Dia rela bagi-bagiin nasi bungkus ke satu sekolah dengan atas nama guru supaya lo nggak curiga kalau Geraldi yang ngasih lo makan.” Rita mengungkapkan apa yang dia alami kemarin. Dan memang benar kejadian itu yang terjadi.

    “Bener Ge?” Violet mendongak menatap Geraldi.

    “Apapun buat kamu Vi.”

    Violet terharu, banyak pengorbanan yang mantan pacarnya ini lakukan untuknya. Sebentar lagi mungkin akan menjadi pacarnya lagi. Dia tersenyum sambil menangis.

     Tak mau terlihat banyak orang, Violet langsung memeluk Geraldi sekaligus sebagai luapan rasa sayang dan terima kasihnya untuk cowok ini. Geraldi menyerahkan buket bunga dan juga kotak tadi kepada temannya untuk dibawakan setelah itu membalas pelukan Violet tak kalah erat.

    “Miss you Girl.”

    “Miss you too Boy.”

    “Aku udah putus sama Naya, dia udah pergi dan nggak akan ganggu kita lagi.” Ayah Geraldi mengurus semuanya, keluarga Naya sudah tidak berurusan lagi dengan keluarga Geraldi. Demi anak semata wayangnya, orang tua Geraldi rela kehilangan partner perusahaannya. Orang tua Naya juga salah karena mengancam Geraldi, jadi mereka berpikir mempertahankan teman yang seperti itu tidak akan benar.

    “Aku cuma milik kamu Vi.”

    “Dan aku juga cuma milik kamu Ge.”

    Pelukan itu terlepas, dengan penuh perasaan, Geraldi mencium kening Violet singkat. Kemudian menyerahkan satu buah kotak hadiah itu dan juga buket bunga.

    Violet membuka kotaknya. Dari luar saja sudah sangat menarik dengan  warna pink juga pita sebagai hiasannya. Surat dengan tulisan tangan dari Geraldi menyambutnya.

“Violet Arunika, aku Geraldi cowok bad ini sangat mencintai dan menyayangi kamu. Dua tahun ini kita lalui sama-sama, banyak hal yang nggak akan pernah aku lupain. Maaf untuk segala kesalahan yang aku buat. Semoga setelah kamu nerima ini aku bakal lihat senyum manis kaya biasanya. Aku nggak bisa lama-lama jauh dari kamu. Miss you and love you My Girl.”

    Violet gadis beruntung yang selalu mendapat kasih sayang dari seorang Geraldi. Layaknya bunga Violet yang menyiratkan arti kasih sayang dan juga cinta. Nama Violet membawa keberuntungan untuknya, dia benar-benar sama seperti bunga Violet.

    “My Geraldi,” ucap Violet.

 

~• TAMAT •~

 

 

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!