NERINE
12.88
1
101

Demi mengejar impiannya menjadi Idola, Tamami rela berpisah dengan kekasihnya, Ishikawa. Ishikawa berusaha memahami keputusan yang diambil Tamami. Mendukung impian Tamami adalah salah satu cara Ishikawa menunjukkan rasa cintanya. Ini adalah kisah tentang hari terakhir keduanya, sebelum mereka berpisah jauh dan mungkin tak bisa lagi berjumpa seperti biasa.

No comments found.

Pintu kelas bergeser terbuka. Tamami masuk sembari memeluk setumpuk kertas di dadanya. Cahaya temaram matahari yang mulai terbenam menyelinap masuk melalui jendela. Tamami memejamkan mata dan menarik napasnya perlahan. Ini akan menjadi hari terakhirnya berada di kelas ini. Dalam satu tarikan napas itu, semua kenangan seolah terlintas di dalam kepalanya.

“Ah, Tamami. Urusanmu sudah selesai?” sebuah suara yang memanggilnya membuat tubuh Tamami membeku. Dengan perlahan Tamami menoleh ke arah suara tersebut. Hatinya langsung mencelos begitu melihat siapa yang sudah menantinya.

“Ishikawa-kun[1]… kukira kamu sudah pulang duluan,” jawab Tamami sambil tersenyum kecil. Tadinya dia mengira kalau semua teman sekelasnya sudah pulang sehingga dia bisa menikmati jam-jam terakhirnya di kelas sendirian. Tapi ternyata, di antara seluruh teman di kelasnya, malah Ishikawa—orang yang paling tak ingin dia temui saat ini sudah menunggunya. Tamami melirik ke atas. Lagi-lagi hatinya mencelos ketika melihat mata Ishikawa yang terlihat sedikit sembab dan memerah. Rambut pemuda itu juga terlihat lebih berantakan dari biasanya. Tamami menghela napasnya. Dia tahu penyebab kenapa Ishikawa berpenampilan seperti itu. Jam makan siang, di atap sekolah. Tamamilah yang memulainya. Dia mengakhiri hubungan mereka yang sudah berjalan dua tahun. Alasannya sederhana. Dia harus pergi ke tempat yang jauh. Tempat di mana dia tak bisa lagi melanjutkan hubungannya dengan Ishikawa.

Sebuah kebohongan besar jika Tamami bilang tak lagi mencintai pemuda itu. Ishikawa adalah cinta pertamanya. Dia adalah penyangga dunia Tamami yang sederhana, selalu berada di sisinya, memberikan rasa hangat dan nyaman setiap kali Tamami memeluknya. Tamami tak akan pernah lupa hari di mana Ishikawa menyatakan perasaannya. Perasaan yang dipendam Tamami selama ini meledak keluar dalam bentuk air mata bahagia. Dia masih ingat bagaimana paniknya Ishikawa melihat dirinya menangis. Dia juga masih bisa merasakan hangatnya tubuh Ishikawa ketika dia memeluknya dan membenamkan wajahnya pada dada bidang si pemuda.

“Tamami? Urusanmu sudah selesai?” Ishikawa kembali bertanya. Suaranya terdengar lembut seperti beledu di telinga Tamami.

“Nggak adil,” bisik Tamami pelan. Dia sudah berusaha untuk tegar dan tidak menyesali keputusannya. Tapi, kalau Ishikawa terus bersikap seperti ini, Tamami tak yakin bendungan yang dia dirikan di dalam hatinya bisa kuat menahan arus emosinya.

“Tamami?” Ishikawa memanggil namanya, membuat Tamami tersadar dari lamunannya.

“Ah, iya. Baru saja. Semuanya sudah beres. Ishikawa-kun sendiri, kenapa masih di sini? Bukannya kamu ada latihan baseball hari ini?”

Ishikawa tak langsung menjawab. Pemuda itu hanya meringis pelan sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya. “Karena ini merupakan hari terakhir Tamami, aku ingin sekali pulang bersama untuk terakhir kalinya. Kau tahu, sebagai teman masa kecil,” ujar si pemuda.

Teman masa kecil.

Kata itu terasa magis untuk Tamami. Dia dan Ishikawa sudah tumbuh bersama sejak kecil. Pertama kali bertemu di taman kanak-kanak, mereka tak pernah terpisah hingga saat ini. Tamami sendiri baru menyadari kalau perasaannya pada Ishikawa lebih dari seorang teman masa kecil ketika mereka masuk SMP. Saat itu, Tamami benar-benar seperti orang lain. Dia akan merasa cemburu jika ada gadis lain yang dekat dengan Ishikawa. Biasanya dia akan merajuk, dan membuat Ishikawa setengah mati menebak kesalahan apa yang baru dia perbuat. Tapi, sedikit demi sedikit sifat kekanak-kanakan itu berubah. Tamami mulai bisa menerima kalau sekarang, dunia mereka bukan lagi antara Tamami dan Ishikawa. Apalagi setelah Ishikawa bergabung dengan tim baseball dan langsung menjadi pemain reguler dalam pertandingan. Tamami juga tak ingin menyatakan perasaannya meski dia tahu itu akan meringankan sedikit bebannya. Dia takut jika hasilnya tak sesuai dengan apa yang dia harapkan, hubungan yang selama ini mereka bangun akan rusak begitu saja. Makanya, gadis itu meletakkan perasaannya jauh di lubuk hatinya yang paling dalam. Menunggu apakah perasaan itu akan mekar seperti sakura di musim semi, atau justru layu dan mati.

“Tidak bisa ya?” Ishikawa bertanya, ada sedikit rasa pahit dalam suaranya. Tamami buru-buru menggeleng.

“Bukan begitu. Hanya saja… apa tidak masalah kalau kamu bolos latihan? Sebentar lagi, kualifikasi untuk Turnamen Musim Panas akan dimulai, kan?”

“Bolos sehari nggak akan menjadi masalah,” jawab Ishikawa sambil menyunggingkan sebuah cengiran lebar.

“Haa… baiklah. Tapi, aku nggak mau tanggungjawab jika Pelatih Ariyoshi memarahimu, ya!”

Ishikawa mengangguk. Dia segera mengambil dokumen-dokumen yang dipeluk Tamami, lalu memasukkannya ke dalam tas Tamami yang sejak tadi teronggok begitu saja di atas meja, menyaksikan keduanya. “Ayo pulang,” seru Ishikawa sambil menyodorkan tas itu pada Tamami. Gadis itu mengangguk pelan, lalu berjalan beberapa langkah di belakang Ishikawa dan keluar dari kelas mereka. Selama perjalanan menuju halte bus yang berada tak jauh dari sekolah, keduanya tak banyak bertukar kata. Meski begitu, mereka secara bergantian saling mencuri pandang satu sama lain.

Nee, Ishikawa-kun.” Akhirnya Tamami jadi yang pertama membuka suara. Sekarang keduanya tengah berdiri di halte, menunggu bus yang biasa membawa mereka pulang datang. Ishikawa menoleh. Dia menatap gadis di sebelahnya dengan lembut.

“Hm? Ada apa?”

“Apa setelah ini kamu masih punya waktu?”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu, temani aku sebentar ya. Ada tempat yang ingin kukunjungi,” ujar Tamami. Ishikawa tersenyum.

“Baiklah. Ngomong-ngomong, kita mau ke mana? Taman Bermain? Akuarium Raksasa? Atau hanya duduk di kafe sambil makan pancake?”

Tamami menggeleng. “Bukan. Pokoknya tempat yang mungkin belum pernah dikunjungi Ishikawa-kun sama sekali. Ini tempat rahasiaku,” katanya. Ishikawa tersenyum, lalu mengangguk kecil. Keduanya kemudian melangkah ke dalam bus yang baru saja berhenti dan membukakan pintunya. Jantung Tamami berdegup lebih cepat daripada seharusnya ketika mereka duduk bersebelahan. Sementara Ishikawa memalingkan wajahnya dan melempar tatapan keluar jendela, tangan Tamami bergerak perlahan mendekati tangan Ishikawa. Tapi, gadis itu mengurungkan niatnya di detik terakhir. Dia menarik kembali tangannya, lalu menelan ludah sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Setelah satu jam berada di dalam bus, akhirnya mereka turun di sebuah halte. Tak jauh dari sana, terdapat jalan setapak yang mengarah ke sebuah bukit. Ishikawa terlihat berjengit ketika Tamami tanpa sadar meraih tangan si pemuda. “Ayo, cepat, Ishikawa-kun! Kita harus tiba di sana sebelum gelap!” Tamami berseru sambil menarik Ishikawa.

“Ta-Tamami, pelan-pelan!” sahut Ishikawa ketika gadis itu mulai mempercepat langkahnya. Di dalam hati si pemuda, terselip perasaan kalau dia pasti akan merindukan sifat Tamami yang kekanak-kanakkan seperti ini. Ishikawa menyunggingkan senyumnya sembari menatap punggung Tamami. Pemuda itu kemudian mempererat genggamannya pada tangan Tamami. Keduanya terus berlari menyusuri jalan setapak itu sampai akhirnya mereka tiba di puncak bukit.

“Wah! Indahnya!” Ishikawa berseru. Padang bunga terhampar di hadapan mereka. Ratusan bunga dari berbagai jenis dan warna bertebaran di sana-sini, menciptakan karpet megah penuh warna berlatar langit berwarna oranye. Tamami memandang Ishikawa dengan wajah puas.

“Indah, kan? Ini tempat rahasiaku. Aku menemukannya bulan lalu waktu pulang sekolah. Aku tertidur dan bangun ketika busnya tiba di pemberhentian tadi. Ishikawa-kun, ayo ke sini!” Tamami kembali menarik Ishikawa. Mereka berjalan sambil berpegangan tangan melintasi padang bunga itu. Keduanya kemudian berhenti di depan serumpun bunga berwarna-warni. Ishikawa baru pertama kali melihat bunga itu meski bentuknya mirip dengan bunga lili yang sering dia lihat di toko bunga tempat Tamami bekerja paruh waktu.

“Ini bunga lili?” tanya Ishikawa. Tamami mengangguk.

“Iya, tapi bukan lili biasa. Namanya nerine, tapi orang lebih sering menyebutnya lili berlian. Ini bunga favoritku,” jelas Tamami. Jemarinya yang lentik menyentuh salah satu kelopak nerine dengan lembut. “Nee, Ishikawa-kun….”

“Hm? Ada apa?” tanya Ishikawa. Matanya tak bisa lepas dari sosok mungil yang ada di sebelahnya.

“Kamu tahu nggak, hanakotoba[2] dari bunga nerine?”

Ishikawa menggeleng. Tamami tersenyum kecut padanya sembari mempererat genggaman tangannya. Ishikawa tak tahan lagi. Pemuda itu mengulurkan tangannya yang bebas, lalu meletakkannya di puncak kepala Tamami.

“Eh… Ishikawa-kun?”

“Tamami,” ujar si pemuda, “kau tahu, saat ini aku benar-benar berharap kalau waktu akan berhenti. Tak ada hari esok yang akan datang dan membawa Tamami pergi. Aku nggak mau ini berakhir. Aku… aku….”

Ishikawa tak berhasil menyelesaikan kalimatnya. Sebagai gantinya, dia memeluk Tamami sekuat yang dia bisa. Tubuh besar itu bergetar hebat. Begitu lengan Ishikawa melingkar di punggungnya, pertahanan emosi Tamami langsung jebol. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang Ishikawa sambil menjerit sekeras yang dia bisa.  “Curang! Ishikawa-kun nggak adil! Padahal aku sudah berusaha untuk kuat! Aku sudah berusaha untuk nggak menyesali pilihanku! Tapi kenapa… kenapa….” jerit Tamami dalam pelukan Ishikawa.

Ishikawa yang hendak mengatakan sesuatu langsung menutup mulutnya. Dia menelan kembali kata-kata yang hendak keluar dari mulutnya. Dia membiarkan Tamami menumpahkan semua hal yang sejak tadi dia pendam. Pemuda itu merasa sangat bodoh. Yang terluka bukan hanya dia. Tamami juga pasti terluka. Perasaan ini bukan hanya tentang dirinya, tapi juga tentang Tamami. Padahal, jauh sebelum mereka menjalin hubungan kekasih, dia sudah bersumpah untuk mendukung mimpi-mimpi Tamami. Tapi, ketika jalan menuju mimpi gadis itu sudah terbuka lebar, yang dia lakukan malah berusaha menutup jalan itu dengan paksa. “Tamami, gomen[3]gomenne… aku harusnya juga tahu seberapa besar pengorbanan Tamami… maaf sudah bersikap egois,” bisik Ishikawa lirih sambil mengelus punggung Tamami dengan lembut. Tamami tak menjawab, hanya remasan tangannya di punggung Ishikawa terasa semakin kuat.

 

Keduanya kini duduk di tanah, tak mempedulikan noda yang bisa muncul di seragam mereka. Ishikawa duduk di belakang, melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Tamami sementara gadis itu menyandarkan kepalanya di dada Ishikawa. Di hadapan mereka, bunga-bunga nerine menari lembut tertiup angin. Matahari sudah terbenam beberapa saat yang lalu. Sekarang, di atas kepala mereka bertaburan bintang-bintang yang berkilau seperti berlian yang ditebar para Dewa di langit yang gelap.

“Ternyata aku memang tidak bisa merelakan Tamami,” bisik Ishikawa. Dia menempelkan dagunya di puncak kepala Tamami, mencoba menghirup aroma manis rambut hitam gadis itu. “Tapi, aku akan mendukung jalan apapun yang dipilih Tamami,” lanjutnya. Tamami meletakkan tangannya di atas punggung tangan Ishikawa.

“Makasih,” ujar gadis itu tanpa menoleh.

“Besok, Tamami yang kukenal akan pergi dari sisiku. Tapi, di tempat yang dituju Tamami nanti, Tamami yang baru akan lahir. Tamami yang memberikan kebahagiaan pada semua orang, Tamami yang meraih mimpinya. Tamami yang berdiri di atas panggung gemerlap. Tamami yang bisa kubanggakan pada semua orang,” ujar Ishikawa.

“Iya.”

“Aku… aku akan selalu mencintai Tamami. Tamami yang dulu, yang sekarang, maupun Tamami yang baru nanti. Aku akan jadi penggemar nomor satu Tamami, meneriakkan nama Tamami paling keras ketika Tamami berada di atas panggung. Makanya, berjanjilah untuk berusaha keras, oke?”

Tamami hanya menggangguk. Tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. “Itu baru Tamami-ku,” ujar Ishikawa sambil tersenyum. Pemuda itu mengangkat kepalanya. “Sepertinya sudah cukup lama kita di sini. Sebaiknya kita segera pulang sebelum kehabisan bus terakhir. Lagipula, pesawat yang Tamami tumpangi untuk ke Tokyo juga berangkat pagi hari, kan?” lanjut si pemuda. Belum sempat dia berdiri, Tamami dengan cepat menarik tangan Ishikawa. Wajah mereka kini tak berjarak. Bibir keduanya berpagutan.

Ciuman pertama mereka.

Dan mungkin, juga jadi ciuman terakhir untuk keduanya. Meski begitu, Tamami tak menyesalinya. “Ishikawa-kun, zutto… zutto… daisuki dayo[4],” ujar Tamami ketika wajah mereka kembali berjarak. Pipi keduanya merah padam, tapi mereka masih bisa memasang cengiran lebar di wajah masing-masing.

“Aku juga, Tamami,” ujar Ishikawa.

“Ah, Ishikawa-kun, ngomong-ngomong, hanakotoba untuk bunga nerine itu….”

Tamami membisikkannya di telinga Ishikawa sebelum mereka beranjak pergi dari tempat itu.

***

TUJUH TAHUN KEMUDIAN

 

“Tama-chan[5], otsukare[6]!”

“Tama-senpai[7], otsukaresama desu[8]!”

Ruang ganti Grup Idola Snow Faeries dipenuhi seruan dan tangis haru. Hari ini, mereka baru saja menyelesaikan konser terakhir dalam rangkaian tur keliling negeri mereka. Ini juga menjadi konser terakhir untuk Tamami sebagai anggota Snow Faeries. Setelah tujuh tahun bekerja sebagai anggota Generasi Pertama dan Center Snow Faeries, Tamami memutuskan untuk lulus dan meninggalkan grup yang sudah membesarkan namanya. Mereka yang sudah berjuang bersamanya kini memeluknya dengan erat.

“Kamu sudah berjuang dengan luar biasa, Tama-chan.” Reina, kapten Snow Faeries menepuk-nepuk pundaknya dengan penuh sayang. Wajah gadis itu dipenuhi keringat dan air mata.

“Dilepas di Tokyo Dome. Buatku, itu artinya Tamami sudah menjadi idol yang luar biasa! Aku bangga menyebut Tamami sebagai teman satu generasiku.” Kali ini Hisako yang bicara. Dia mengacak-acak rambut Tamami sambil tersenyum puas.

“Aku nggak mau kalau Hisako menyebutku teman satu generasi. ‘Teman’ saja sudah cukup buatku,” kata Tamami.

“Kau mau membuatku menangis, hah?” seru Hisako sambil menyentil ujung hidung Tamami dengan pelan. Meski begitu, matanya menatap Tamami dengan hangat.

“A-aku juga akan jadi idol yang hebat seperti Tama-san supaya Hisako-nee[9] bangga!” seorang junior berseru. Matanya basah karena menangis, tapi itu tak memadamkan kilat penuh semangat di sana. Hisako tertawa.

“Wah, junior kita bisa diandalkan. Ya, kan, Reina?” tanya Hisako. Reina tertawa sambil mengangguk.

“Tapi, itu artinya anggota Generasi Pertama hanya tinggal kita berdua. Kita harus berjuang lebih keras lagi, Hisako. Supaya Tama-chan dan kawan-kawan kita yang sudah lulus juga bangga pada kita!”

Di tengah hiruk-pikuk ruang ganti, Tamami menyelinap keluar. Kakinya membawa tubuhnya kembali ke atas panggung. Baru satu jam yang lalu tempat ini dipenuhi kelip-kelip lightstick berwarna biru laut dan merah muda. Kini, tempat luas itu gelap dan tenang. Tak ada dentum musik ataupun teriakan dari para penggemar yang memanggil nama mereka. Hanya ada dirinya. Tamami duduk di pinggir panggung. Matanya menerawang jauh ke deretan bangku penonton.

Dulu, dia bermimpi menjadi idola yang disukai banyak orang. Seperti Shiraishi Mai[10], idola yang selalu dia kagumi. Sekarang, dia bisa berdiri di tempat yang sama, memandang pemandangan yang sama. Tamami menarik napas panjang. Dia mencoba meresapi aroma Tokyo Dome yang mungkin akan dia rindukan setelah ini. Ya, di antara semua anggota Generasi Pertama yang sudah lulus sebelum dia, Tamami adalah yang pertama mengumumkan kalau dirinya akan hiatus untuk sementara waktu dari dunia hiburan, mungkin juga pensiun, entahlah dia sendiri belum terlalu menentukan. Yang jelas dia ingin istirahat. Tamami kemudian bangkit dari tempat duduknya. Dia menoleh sekali lagi untuk menatap kursi penonton yang kosong. “Selamat tinggal. Terima kasih untuk tujuh tahun terbaik dalam hidupku,” bisiknya sebelum berlalu.

Tamami kemudian menyusuri lorong Tokyo Dome yang dipenuhi karangan bunga dari para penggemar, perusahaan yang pernah mengontraknya menjadi bintang iklan, beberapa artis yang pernah bekerja bersamanya dan Snow Faeries, juga beberapa aktor dan aktris yang pernah menjadi lawan mainnya dalam film maupun sinetron. Dia menyentuh karangan bunga itu satu persatu sambil membisikkan rasa terima kasihnya. Gadis itu kemudian berhenti di satu karangan bunga.

Tak seperti yang lain, karangan itu hanya terdiri dari beberapa batang nerine yang disusun rapi dan cantik. Tak ada nama pengirimnya. Hanya ada sebuah papan yang mengucapkan selamat atas kelulusan Tamami dari Snow Faeries. Karangan nerine itu selalu ada di setiap event Snow Faeries. Konser, event handshake[11], dan acara ulang tahun Tamami. Karena tak ada yang tahu siapa yang mengirim karangan itu, staf dan anggota Snow Faeries memanggil si pengirim dengan sebutan Nerine-san. Meski begitu, Tamami tentu tahu siapa yang mengirimkan bunga-bunga nerine itu untuknya. Dia kemudian menyentuh karangan itu dengan penuh kasih sayang.

“Terima kasih sudah menungguku selama ini,” bisik Tamami pelan, “mohon tunggu aku sebentar lagi ya. Seperti makna nerinenerine ini, aku juga menantikan pertemuan kembali denganmu, Ishikawa-kun.” Gadis itu kemudian mengecup salah satu nerine sebelum berlalu kembali ke ruang ganti, tempat semua orang yang berjasa padanya selama ini sudah menunggu untuk memulai pesta perpisahan mereka.

ー完ー

 


[1] -kun, honorifik panggilan dalam bahasa Jepang yang biasa digunakan untuk laki-laki, orang yang lebih rendah kedudukannya, maupun pada orang yang lebih muda.

[2] Hanakotoba : Di Jepang, setiap bunga memiliki maknanya masing-masing. Makna tersebut yang dikenal dengan istilah hanakotoba.

[3] “Maaf… maaf….”

[4] “Aku selalu dan selalu mencintaimu.”

[5] -chan, honorifik untuk perempuan dan orang yang usianya lebih muda, biasanya dipakai untuk anak kecil.

[6] ‘Terima kasih atas kerja kerasnya’

[7] -senpai, honorifik untuk senior.

[8] Bentuk sopan dari otsukare

[9] Dari kata ‘Ane’ yang berarti kakak perempuan. Banyak orang Jepang, terutama yang memiliki hubungan senior dan junior, menyelipkan honorifik seperti –nee untuk perempuan dan –nii, yang berasal dari kata ‘Ani’ yang berarti kakak laki-laki, untuk laki-laki.

[10] Mantan anggota Grup Idola Nogizaka46.

[11] Seperti namanya, merupakan acara yang biasa dilakukan idol di Jepang. Penggemar yang membeli CD biasanya mendapat tiket untuk melakukan jabat tangan dengan idola yang dia suka. 1 tiket untuk 10 detik. Biasanya penggemar membeli lebih dari 1 CD untuk tiket jabat tangan ini.

Contact Us

error: Eitsss Tidak Boleh!!!